Rumusan Perspektif Revolusi Dunia bagian 4

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 4

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 4

Hari ini kami mempublikasikan bagian keempat dari analisis IMT mengenai situasi dunia. Bagian ini membahas mengenai revolusi-revolusi yang tengah berlangsung di Amerika Latin dan Timur Tengah, gerakan-gerakan di Brazil, Kolombia, Venezuela, Mesir, dan Iran, serta hubungan-hubungan dunia dan kemerosotan Imperialisme AS.

Amerika Latin

Ekonomi-ekonomi sejumlah negara-negara Amerika Latin (termasuk Brazil, Chile, Peru, Bolivia, Ekuador, dan Kolombia) yang untung dari mengekspor bahan-bahan mentah, komoditas-komoditas, dan sumber-sumber energi ke Tiongkok, kini tengah menderita dampak-dampak hantaman perlambatan ekonomi Tiongkok. Hal ini akan menimbukan implikasi-implikasi di periode selanjutnya, sebagaimana yang sudah kita saksikan dalam gerakan-gerakan besar melawan naiknya harga-harga di Brazil.

Setelah suatu periode kebangkitan perjuangan kelas di seluruh Amerika Latin (khususnya di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador), dimana pemerintahan-pemerintahan sayap kanan digulingkan oleh kebangkitan massa, pemilihan presiden-presiden yang mengambil langkah-langkah yang mendorong mereka berkonflik dengan imperialisme, kebangkitan-kebangkitan regional, dan lain-lain, gelombang revolusioner di benua tersebut tampaknya mencapai titik vacuum dalam beberapa derajat tertentu. Terdapat sejenis kebuntuan dalam perjuangan antar kelas, dimana kedua belah pihak belum ada yang mampu meraih kemenangan telak.

Upaya-upaya kudeta berhasil dikalahkan oleh massa di Venezuela (dalam berbagai kesempatan), Ekuador, dan Bolivia. Kekuatan-kekuatan reaksi dan imperialisme tidak mampu mengalahkan gerakan-gerakan demikian secara mutlak, namun dengan pengecualian kudeta-kudeta di Paraguay dan Honduras, yang meskipun demikian tidak mengakhiri gerakan revolusioner negara-negara demikian.

Di Kolombia, awal perundingan-perundingan perdamaian antara pemerintahan dan FARC, yang menunjukkan ketidakmampuan gerilya untuk memenangkan perang, telah membuka jalan bagi perkembangan perjuangan kels sepanjang garis-garis klasik. Popularitas Santos, presiden yang baru, telah anjlok (dari 46% turun ke 21% antara Juni dan Agustus 2013) setelah serangkaian pemogokan penanam kopi, pekerja yudisial, mahasiswa, dan yang paling baru, pemogokan agraria nasional yang membuat pemerintahannya berada di ujung tanduk. Upaya kelas penguasa Kolombia untuk “menormalisir” metode kekuasaannya (setelah bergantung dengan tinggi pada paramiliter dibawah Uribe) berbalik saat gelombang perjuangan kelas naik pasang.

Dengan kembali berkuasanya PRI, kelas penguasa Meksiko berhasil mendapatkan pemerintahan yang relatif kuat  yang memungkinkan mereka menjalankan langkah-langkah yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum Peña Nieto dilantik, mereka sudah mengesahkan reforma perburuhan. Hal ini menghapus serangkaian capaian, yang pernah dimenangkan lewat revolusi Meksiko, sehingga kelas penguasa akan semakin mudah menghisap dan menindas kelas buruh.

Langkah lainnya adalah kontra reforma energi, yang membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan multinasional untuk berinvestasi dalam sektor-sektor listrik dan perminyakan. Nasionalisasi minyak oleh pemerintahan Lazaro Cardenas di tahun 1938 berarti bahwa selama berpuluh tahun, Meksiko memiliki stabilitas ekonomi dan sosial. Kini hal itu akan berakhir. Sebelum reforma energi, perusahaan minyak Pemex menyumbang hingga 40% pendapatan negara. Kini sebagian besar sumber daya-sumber daya ini akan disalurkan masuk ke kantong-kantong pribadi para kapitalis. Hal ini akan mengakibatkan defisit anggaran, yang akan diimbangkan melalui peningkatan pajak dan pemotongan terhadap pengeluaran-pengeluaran sosial.

Membusuknya kapitalisme Meksiko dikspresikan oleh meningginya pengangguran, perkembangan ekonomi informal, dan meningkatnya penderitaan serta dekomposisi sosial. Hal ini diekspresikan paling jelas dalam perkembangan pasar-pasar narkoti dan obat-obatan berbahaya (Narkoba) serta munculnya perang terhadap Narkoba, yang berarti meningkatnya penderitaan massa. Reforma-reforma ini menandai suatu titik balik, dan akan berujung pada semakin parahnya kondisi-kondisi hidup rakyat Meksiko di tahun-tahun mendatang.

Kepemimpinan serikat-serikat dan Morena, dengan wawasan elektoral reformisnya, telah berfungsi sebagai suatu rem yang mencegah persatuan perlawanan balik berdasarkan metode-metode aksi massa revolusioner. Bagaimanapun juga terdapat semakin tumbuhnya angkara massa. Hal ini diekspresikan oleh pembentukan Morena, dalam perjungan-perjuangan serikat buruh yang militan–seperti para pengajar dan buruh-buruh kelistrikan–dengan masuknya generasi pemuda yang teradikalisasi ke dalam gerakan dan berkembangnya polisi komunitas serta kelompok-kelompok pertahanan diri.

Di negara bagian Guerrero terdapat mobilisasi-mobilisasi massa bersenjata, dan di Michoacan terdapat kotamadya-kotamadya, yang berada dalam kondisi perang sipil (perang saudara) terbuka. Meskipun proses ini penuh dengan kontradiksi-kontradiksi, hal ini merupakan gejala-gejala tekanan sangat besar sekali bahwasanya kapitalisme Meksiko yang membusuk semakin mendorong massa–yang mulai menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Pemerintahan Peña Nieto akan melanjutkan kebijakan-kebijakan serangan-serangan dan kontra-kontra reforma yang mendorong perlawanan-perlawanan balik dari buruh.

Meskipun demikian, akibat kurangnya faktor subyektif–suatu kepemimpinan revolusioner yang jelas–massa Amerika Latin tercegah dari merebut kekuasaan ke tangan mereka sendiri dan menghapus kapitalisme. Hal ini mengakibatkan impasse dan keseimbangan rawan antar kelas, suatu kondisi yang diperpanjang oleh boom ekonomi. Resesi dunia yang dimulai pada 2007-2008 hanya berdampak ke Amerika Selatan secara parsial, dan kawasan demikian pulih dengan cepat dari kondisi itu, dengan bersandar pada Tiongkok yang lapar akan sumber daya alam. Namun hal itu kini akan berakhir. Hal ini terungkap secara dramatis dalam jalannya peristiwa-peristiwa di Brazil.

Brazil

Dalam periode sebelumnya (hingga tahun 2011), Brazil menikmati pertumbuhan skala tinggi, terutama karena ekspor-ekspor ke Tiongkok. Hal ini memungkinkan kapitalis-kapitalis untuk menuruti tuntutan-tuntutan upah saat menghadapi kurangnya tenaga kerja dan pemogokan-pemogokan buruh. Upah naik rata-rata sebesar 3,5% antara 2002 dan 2013 dalam real, namun dalam dolar, kenaikan tersebut masih tinggi (Real Brazil mengalami overvalue). 95% perundingan-perundingan upah berakhir dengan peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan tingkat laju inflasi. Hal ini ditambah dengan capaian-capaian program kesejahteraan Lula “Bolsa Familia” yang ditujukan untuk menyokong hajat hidup lapisan-lapisan paling miskin (25 juta orang), sebagian menjelaskan stabilitas pemerintahan PT selama seluruh periode.

Namun kini segala sesuatunya telah berubah. Perlambatan tajam ekonomi di tahun 2011 (+2,7%) dan 2012 (+0,9%) secara tiba-tiba mengungkap frustasi meluas, yang berujung pada ledakan gerakan massa di Juni 2013. Tingkat-tingkat investasi yang relatif rendah oleh para kapitalis berarti bawah meningkatnya upah-upah belum diimbangi oleh produktivitas yang meningkat. Semenjak 2003, biaya-biaya tenaga kerja per unit di BRrzil telah berlipat bahkan tiga kali menurut ukuran dolar.

Rendahnya tingkat-tingkat investasi telah berakibat pada kejatuhan tajam produktivitas dibandingkan dengan ekonomi-ekonomi besar lainnya. Booming ekspor ke Tiongkok selama satu periode telah menutupi posisi Brazil yang berada di tengah malapetaka. Suatu laporan khusus dari Economist mengenai Brazil (28 September 2013) mengindikasikan bahwa Brazil bergerak menuju periode meningkatnya krisis dan perjuangan kelas. Inflasi, yang mendekati 6%, memperburuk hajat hidup rakyat jelata dan menjadi bahan bakar tuntutan-tuntutan ekonomis kelas buruh. Fakta ini menjelaskan hasrat suatu lapisan borjuasi Brazil untuk menyingkirkan PT. Mereka menganggap bahwa PT tidak akan mampu segera menghunus pisau dan menikam dengan cukup dalam. Sedangkan lapisan borjuasi lainnya takut terhadap prospek menghadapi naiknya perjuangan kelas tanpa bantuan dari para pimpinan PT.

Gerakan melawan naiknya harga-harga, yang menyebar dengan cepat ke seluruh negeri, merefleksikan suatu ketidakpuasan yang lebih besar yang telah menumpuk di masyarakat. Hal ini merepresentasikan tibanya gelombang revolusioner dari negara-negara Arab dan Eropa Selatan ke Brazil. Meskipun gerakan ini tidak punya pimpinan dan secara tak terelakkan mengandung elemen-elemen yang bingung, hal ini merepresentasikan suatu titik balik signifikan, dan diikuti oleh serangakian hari aksi nasional oleh gerakan serikat buruh dan mobilisasi massif di sekitar pemogokan pengajar. Dilma Roussef jelas tidak menikmati booming ekonomi panjang yang menjamin stabilitas Lula di kekuasaan. Hal ini akan menciptakan kondisi-kondisi pengecualian bagi kaum Marxis Brazil di periode berikutnya.

Venezuela

Kemenangan tipis Maduro dalam pemilihan umum (Pemilu) presiden di Venezuela, April lalu, merepresentasikan suatu peringatan serius terhadap gerakan Bolivarian. Bagaimanapun juga, upaya kaum oligarki untuk menggunakan hasil tipis untuk menggulingkan Maduro berbalik. Sekali lagi massa turun ke jalan dan mengalahkan provokasi-provokasi sayap kanan dengan mobilisasi revolusioner.

Faktor kuncinya kini adalah dislokasi ekonomi yang disebabkan oleh upaya untuk meregulasi ekonomi kapitalis, sabotase sengaja yang dilakukan oleh kelas penguasa, dan mogok investasi oleh kapitalis secara serius mengikis basis sosial dukungan untuk revolusi. Kelangkaan produk-produk dasar dikombinasikan dengan inflasi merata, yang kini telah mencapai 50%. Situasi ini tidak bisa dipertahankan untuk jangka waktu yang sangat lama. Pilihannya hanyalah revolusi mengambil langkah pasti ke arah penghapusan kapitalisme, atau kekacauan ekonomi akan menciptakan kondisi-kondisi bagi borjuasi untuk kembali berkuasa dan menghantam revolusi.

Kebijakan pemerintahan Maduro setelah pemilu April adalah menyerang oposisi di arena politik namun di sisi lain mencoba meraih kesepakatan dengan kapitalis-kapitalis di ranah ekonomi. Konsesi-konsesi yang ditawarkan ke bisnis-bisnis swasta terkait akses ke valuta keras, termasuk liberalisasi kontrol harga, dan gagasan menciptakan Zona Ekonomi Khusus dengan mengambil model Tiongkok yang diajukan. Ini merupakan kebijakan utopis yang tidak bisa memecahkan apapun. Setiap konsesi yang diberikan kepada kelas penguasa akan menggerogoti basis sosial revolusi padahal tidak ada permasalahan-permasalahan ekonomi mendasar yang terpecahkan.

Menjelang pemilihan daerah (Pilda) Desember 2013, pemerintah mengambil belokan berbeda dengan menghantarkan pukulan terhadap kapitalis-kapitalis. Langkah-langkah ini masih berada dalam logika mengatur kapitalisme namun terbukti sangat populer di antara massa pekerja serta menjalankan fungsi menyalakan kembali antusiasme revolusioner. Langkah-langkah melawan spekulasi, penimbunan, dan penggelembungan harga inilah yang menjamin kemenangan Pilda di berbagai kota. Bahkan kalaupun kaum oligarki berhasil kembali ke kekuasaan hal itu bukanlah akhir revolusi. Hal demikian bisa jadi malah memberikan efek berguna berupa radikalisasi gerakan Bolivarian sebagaimana yang terjadi pada kekalahan di Spanyol di bulan Oktober 1934 (“Bienio Negro”) yang hanya merupakan pendahuluan bagia pertempuran antar kelas yang lebih sengit. Tidak ada pimpinan gerakan Bolivarian yang memiliki otoritas yang sama yang pernah dimiliki Chavez, dan karena itu kritisisme atas kepemimpinan, birokrat, dan reformis oleh massa mendapatkan karakter yang lebih tajam dan lebih terbuka.

Tugas utama membangun kepemimpinan revolusioner dengan akar di kepeloporan kelas buruh, mampu mengendalikan energi luar biasa yang telah ditunjukkan massa selama 15 tahun lebih dan mengarahkannya ke perebutan kekuasaan dan penghapusan kapitalisme.

Hubungan-Hubungan Dunia

Lenin pernah menulis mengenai “materi yang mudah terbakar dalam politik dunia”, dan tak ada kurang-kurangnya materi demikian di dunia saat ini. Aksi-aksi agresif kekuatan-kekuatan imperialis telah menimbulkan oposisi internal dan bisa berfungsi sebagai faktor yang meradikalisasi. Perasaan-perasaan revolusioner bisa timbul tidak hanya melalui faktor-faktor ekonomi namun juga peperangan, tindak-tindak teroris, bencana alam, dan peristiwa-peristiwa berskala dunia. Kita telah melihat di masa lalu sebagaimana yang terjadi dengan Perang Vietnam, dan hal yang sama bisa terjadi lagi.

Pengungkapan Wikileaks dan Snowden telah menunjukkan opini-opini, motif, dan kepentingan-kepentingan sesungguhnya dari Imperialisme AS, serta membongkar kedok diplomasi dan menunjukkan muka buruk kepentingan pribadi Imperialis AS. Mereka juga telah menunjukkan ketidakmampuan AS untuk menjaga rahasia-rahasia rezim lainnya. Mereka telah menunjukkan sejauh mana AS memata-matai sekutu-sekutunya. Selain itu mereka telah menunjukkan ke hadapan opini publik dunia bagaimana watak asli diplomasi borjuis pada umumnya. Dengan melakukannya mereka telah memberikan layanan penting pada kelas buruh internasional.

Jatuhnya USSR (Union of Socialist Soviet Republics atau Federasi Republik Dewan Buruh Sosialis atau Uni Soviet) sekitar dua puluh tahun yang lalu telah berakibat pada pergeseran hubungan-hubungan dunia secara mayor. AS kini merupakan satu-satunya super power dunia. Dengan kekuatan besar maka datanglah arogansi besar, sebagaimana yang ditunjukkan dengan paling jelas melalui apa yang disebut sebagai Doktrin Bush. Imperialisme AS menyatakan hak-haknya untuk campur tangan di negara manapun, untuk menggulingkan pemerintahan dan mendiktekan keinginannya dimanapun. Namun dua dekade kemudian delusi besar ini kemudian hancur.

Bangkitnya Tiongkok sebagai suatu kekuatan ekonomi dan militer telah mengubah perimbangan kekuatan di Asia dan Pasifik secara fundamental. Kelas penguasa Tiongkok berambisi untuk menegaskan peran politik dan militernya seiring dengan semakin tumbuhnya kekuatan ekonominya. Hal ini semakin membuatnya bergesekan dan berkonflik dengan negara-negara lain di kawasan penting ini, khususnya Jepang. Konflik sengketa pulau-pulau hanyalah satu manifestasi dari hal ini. Washington tengah mengamati fenomena ini dengan kegelisahan yang semakin tinggi. Imperialisme AS selalu memandang Pasifik sebagai elemen krusial dalam strategi globalnya. Kebangkitan Tiongkok dengan demikian menimbulkan ancaman langsung bagi kepentingan-kepentingannya yang bisa berujung pada konflik-konflik serius di masa depan.

Rusia tengah memainkan suatu peran yang lebih independen dalam hubungan-hubungan dunia dibandingkan dengan di masa lalu. Setelah menderita penghinaan di Yugoslavia dan Irak (keduanya merupakan bekas negara yang berada di pengaruh Rusia), Rusia tidak bisa lagi menerima pemaksaan Imperialisme AS di tingkat dunia. Hal ini ditunjukkan oleh tindakan-tindakannya di Georgia, yang sebelumnya berusaha diseret As ke dalam orbitnya. Rusia menggunakan kekuatan bersenjatanya pada tahun 2008 untuk menonjok hidung Georgia sampai berdarah dan mencegahnya bergabung dengan NATO. Sedangkan di Suriah, Moskow menarik garis lain yang mana AS tidak berani melangkahinya.

Bagaimanapun juga ini bukan disebabkan kekuatan Rusia namun karena kelemahan dan kelumpuhan relatif dari Imperialisme AS. Di sepuluh tahun terakhir, Imperialis AS telah bertingkah bagaikan gajah di dalam toko. Sebagai akibatnya mereka hampir tidak punya sekutu yang bisa diandalkan dimanapun. Invasi Irak berakhir jadi malapetaka. Niatan Bush adalah untuk unjuk kekuatan AS. Namun petualangan AS di Irak berbalik melukai AS dengan buruk dan semakin mendestabilisasi apa yang sebelumnya sudah merupakan kawasan yang sangat keras dan rawan. Dengan menghancurkan pasukan Irak dia telah mengakibatkan kekacauan di Irak dan memiringkan kekuatan di kawasan ke arah Iran.

Semua hal ini telah menyebabkan lautan perubahan opini publik di AS. Setelah kegagalan yang jelas di Irak dan Afghanistan, publik Amerika telah muak terhadap petualangan-petualangan militer luar negeri, dan suatu sentimen menuntut isolasionisme Amerika lama mula mencuat kembali di Kongres dan masyarakat. Sebagai akibatnya, Obama tidak mampu mengusung niatannya mendeklarasikan pengeboman di Suriah. Dalam suatu pidato payah, dimana dia mengkontradiksikan dirinya sendiri di tiap kalimat, Obama mengatakan bahwa AS tidak bisa lagi melakukan apa yang disukainya di dunia.

Timur Tengah kini merupakan kawah mendidih instabilitas. Hal ini telah dipercepat oleh kebijakan Imperialisme AS yang canggung dan berpandangan pendek. Pertumbuhan kekuatan Iran di kawasan telah membuat bingung Arab Saudi. Riyadh harus menerima pandangan bahwa Teheran kini telah memiliki pengsruh besar di sebagian Irak. Kekacauan di Irak telah enimbulkan konflik-konflik SARA sektarian berdarah-berdarah antara Sunni dan Syiah dengan pengeboman teroris dan pembantaian tiap harinya. Bangsawan-bangsawan Saudi takut bahwa kekuasaan akan terlepas dari genggaman tangan mereka. Ketakutan-ketakutan ini digarisbawahi oleh kebangkitan massa di Bahraian pada tahun 2011.

Di Timur Tengah kita menyaksikan batas-batas kekuatan AS. Kelemahan Imperialisme AS yang tampak telah menyebabkan sekutu-sekutu tradisional AS di timur tengah akhirnya memaksa mereka memperjuangkan kepentingan mereka sendiri dengan tingkatan yang jauh lebih besar dibandingkan di masa silam. Dalam beberapa kasus hal ini telah berujung pada bentrokan kepentingan dan bahkan penentangan terhadap AS. Hal ini ditunjukkan oleh janji Saudi untuk menambal kekurangan yang diakibatkan oleh bantuan AS terhadap pasukan Miser yang dipotong. Saudi marah atas penyingkiran Mubarak di Mesir yang merupakan sekutu andal mereka. Washington di sisi lain membuat militer Mesir tersinggung melalui tindakan mengurangi bantuan militer pasca tergulingnya Mursi.

Klik penguasa Qatar telah mengucurkan $8 milyar dukungan finansial ke Mesir dan merupakan pembeking pemerintahan Mursi dari Teluk. Mereka bertaruh bahwa kevakuman yang ditinggalkan kaum aristokrat Arab akan diisi oleh kaum Islamis dan mereka berharap bisa mengendalikan mereka untuk menguatkan posisi Qatar di kawasan.

Tangan Qatar telah terbakar di Libya, Suriah, serta kehilangan milyaran dolar di Mesir. Uang itu sebenarnya dimaksudkan untuk membeli keuntungan politik namun mereka membeking kuda yang salah. Uni Emirat Arab dan Saudi akan melangkah untuk membantu menjaga agar ekonomi Mesir tidak tenggelam. Semua ini mencerminkan peperangan antara keluarga atau dinasti-dinasti Mafia, yang sebenarnya memang merupakan sosok sesungguhnya dari mereka ini, yaitu gangster-gangster bangsawan minyak.

Suriah

Apa yang bermula sebagai kebangkitan kerakyatan melawan rezim Baathis di Suriah telah terdegenerasi menjadi perang saudara yang sektarian atau berbasiskan SARA. Klik-klik penguasa Saudi dan Qatar turut campur tangan demi menghancurkan elemen-elemen revolusioner dan membelokkan perjuangan di atas garis-garis sektarian.

Washington ingin membasiskan dirinya di atas elemen-elemen borjuis “demokratis” dari apa yang disebut-sebut sebagai Tentara Suriah Merdeka atau Free Syrian Army (FSA) namun mereka telah sepenuhnya kalah manuver oleh Saudi dan Qatar yang telah dan terus mempersenjatai laskar-laskar Jihad. Bagaimanapun juga Saudi dan Qatar mendukung sayap-sayap laskar yang berbeda di Suriah. Saudi bersandar pada kaum Salafis dan elemen-elemen non jihadis untuk mencoba dan menghancurkan superioritas Jabhat Al-Nusra dan Al-Qaeda di lapangan.

Koalisi Nasional (NC) yang punya basis di Istanbul, Turki, dan dibeking Barat terbentuk pada November 2012 dan diakui oleh lebih dari 100 negara sebagai suatu perwakilan “sah” dari oposisi Suriah. AS dan Uni Eropa (UE) lebih suka mendasarkan diri mereka di atas elemen-elemen borjuis “moderat” di oposisi. Namun mereka telah menghadapi segunung permasalahan yang sulit dihadapi. NC ditampik mentah-mentah oleh sebelas laskar Islamis termasuk sebagian yang secara formal merupakan bagian FSA, dan dinyatakan tidak diakui.

Sudah jamak diketahui bahwa laskar Jihad yang melakukan mayoritas pertempuran dan mereka tidak bersedia mensubordinasikan diri mereka ke bawah NC Akibatnya adalah pertempuran-pertempuran antar kelompok oposisi dan fragmentasi di antara kaum oposisi semakin mendalam. Dengan mengambil keuntungan  dari melemahnya kekuatan pusat, Kaum Kurdi kini secara riil nyaris benar-benar merdeka di timur laut, dengan demikian terdapat dua atau lebih negara-neagra Kurdi yang merdeka di kawasan. Hal ini menambah instabilitas dan akan semakin mendorong sentimen separatis baik di Turki dan Iran.

Elemen-elemen reaksioner Islamis kini telah menguasai sepenuhnya pemberontakan bersenjata. Kini terdapat pertempuran terbuka antara kaum Jihadis dan FSA, serta antara jihadis dan Kurdi. Terdapat pula sejumlah laskar yang bertempur di pihak pemerintah yang berada di luar kendali Assad. Suriah kini mengarah ke arah malapetaka yang sama seperti Irak atau Afghanistan, dengan penguasa-penguasa perang lokal yang merebut kekuasaan daerah. Negeri Suriah mengalami disintegrasi di depan mata kepala kita. Apa yang ada di Suriah kini adalah kontrarevolusi di kedua belah pihak.

Kedua belah pihak telah memerangi satu sama lain hingga tingkatan kebuntuan berdarah namun intervensi Hisbullah dan Iran telah mengubah perimbangan kekuatan yang menguntungkan pemerintah pada musim panas 2013. Amerika mencari-cari alasan untuk mengintervensi di Suriah untuk ‘membetulkan’ situasi, namun kelemahan Imperialisme AS telah ditunjukkan dengan fakta dimana Obama bahkan tidak bisa memenangkan voting untuk mengebom Suriah melalui Kongres. Sebagai hasilnya dia sepenuhnya kalah manuver oleh Rusia yang meraih inisiatif diplomatik saat John Kerry menyatakan apa yang sebenarnya komentar spontan bahwa Suriah bisa menghindari serangan kalau menyerahkan senjata-senjata kimianya.

Isu persenjataan kimia telah menunjukkan kemunafikan kaum imperialis yang memuakkan. Mari kita tinggalkan fakta bahwa AS sendiri memiliki stok persenjataan kimia terbesar di dunia dan mereka telah menggunakan senjata-senjata kimia seperti Agent Orange secara ekstensif terhadap rakyat Vietnam, juga menggunakan Napalm. Bahkan paling terkini mereka juga menggunakan bom-bom fosfor dalam pengeboman di Fallujah, dan menyebabkan konsekuensi-konsekuensi mengerikan di populasi. Mereka tidak keberatan sama sekali saat Saddam Hussein menggunakan persenjataan kimia terhadap prajurit-prajurit Iran dalam perang antara Iran dan Irak.

Maka sudah sangatlah jelas bahwa pertanyaan mengenai persenjataan kimia tidak lebih dari sekedar dalih untuk menyerang Suriah karena pasukan-pasukan pemerintah, yang dibantu Iran dan Hizbullah, menorehkan hantaman-hantaman berat yang mengakibatkan kekalahan di pihak para pemberontak. Niatan Washington adalah menghantam angkatan bersenjata Suriah demi membantu pemberontak. Namun itu bukan didasari niatan untuk memungkinkan pemberontak mencapai kemenangan militer namun hanya untuk memulihkan keseimbgangan tertentu antara dua pihak demi memberi ruang bagi manuver-manuver diplomatis. Kepentingan-kepentingan rakyat Suriah yang malang dan pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan sangat jauh dari pikiran mereka.

Manuver ini terpotong oleh tawaran dari rezim Suriah (yang disponsori Moskow) untuk menyerahkan seluruh gudang persenjataan kimianya. Tindakan ini tidak punya efek praktis terhadap kapasitas militer rezim Suriah yang menggunakan persenjataan konvesional secara sangat efektif untuk membantai musuh-musuhnya selama perang. Dengan menangani tudingan Amerika terhadap isu persenjataan kimia secara efektif, Assad kemudian melancarkan ofensif mayor terhadap kaum pemberontak, sehingga menorehkan kekalahan parah di pihak pemberontak. Bagaimanapun juga masih meragukan apakah kedua belah pihak punya cukup kekuatan untuk meraih kemenangan militer yang telak.

Rusia dan Amerika kini tengah bermanuver dengan kekuatan-kekuatan regional lainnya untuk mengorganisir semacam “konferensi perdamaian” di Jenewa. Namun meskipun hal ini digelar, hasilnya tidak akan melayani kepentingan-kepentingan rakyat Suriah. Di sisi lain, Saudi dan Qatar membeking kekuatan reaksioner hitam kaum Jihadis. Satu-satunya kepentingan Amerika adalah mempertahankan kontrol mereka terhadap kawasan dan menangkal bangkitnya pengaruh Iran. Rusia pun sama, hanya berkepentingan untuk mempertahankan Suriah sebagai sekutu tradisionalnya. Hingga kini mereka telah mendukung Assad namun mereka pun cukup siap untuk mengorbankannya dengan syarat bahwa kepentingan-kepentingan dasar Rusia di Suriah dilindungi. Setelah keruntuhan di Irak, baik Rusia dan Amerika (serta sekutu-sekutu “demokratis” mereka di Eropa) sepakat bahwa negara Suriah harus dipertahankan untuk menjunjung tinggi hukum dan tata tertib (law and order).

Kebuntuan militer telah memberikan suatu kesempatan bagi kekuatan-kekuatan luar untuk mengintensifikasikan pecarian mereka atas “penyelesaian melalui perundingan”. Pencairan parsial dalam hubungan antara Washington dan Teheran yang sebelumnya dingin dan membeku  bisa membuka halan bagi partisipasi Iran di konferensi perdamaian di Jenewa. Prospek ini telah disambut dengan suka cita di Damaskus, Teheran, dan disambut dengan kemarahan di Israel dan Arab Saudi.

Revolusi Mesir

Revolusi Arab yang luar biasa, yang masih belum selesai, telah membangkitkan kekuatan akbar berjuta massa–yang disebut pers borjuis sebagai “Embong Arab”. Ini merupakan titik balik dalam sejarah dunia. Peristiwa-peristiwa di Timur Tengah akan memberikan dampak-dampak mendalam baik secara ekonomi maupun politik. Mesir merupakan negara kunci di dunia Arab. Apa yang terjadi di sana selalu memberikan dampak rentetan terhadap seluruh dunia Arab dan seluruh kawasan. Revolusi telah memasuki suatu tahapan baru dengan kenaikan massa yang menggulingkan Mursi dan Ikhwanul Muslimin.

Gerakan revolusioner massa yang menggulingkan Mursi telah membawa 17 juta rakyat turun ke jalanan Mesir. Suatu gerakan dengan dimensi demikian tidak punya tandingannya dalam sejarah. Kenyataannya, kekuasaan sudah berada di genggaman tangan massa pada Juni 2013, namun mereka tidak menyadari hal ini, dan tidak ada seorangpun untuk menjelaskannya pada mereka. Masalah pokoknya mudah dinyatakan: massa cukup kuat untuk menggulingkan pemerintah, namun mereka tidak cukup terorganisir dengan baik dan sadar untuk merebut kekuasaan yang secara efektif telah mereka genggam di tangan. Sebagai akibatnya, kesempatan tersebut lewat dan perwira-perwira tentara yang kemudian melangkah masuk mengisi kevakuman.

Tindakan-tindakan tentara memiliki kesamaan analogis kasar dengan tindakan-tindakan Napoleon pada 5 Oktober 1795 dimana dia membubarkan gerombolan Royalis di jalanan Paris. Kemudian, sebagaimana yang terjadi sekarang, kaum reaksioner membangkitkan suatu gerakan di jalanan, yang mana, kalau berhasil, akan menandakan suatu kemenangan kontrarevolusi. Di Mesir, massa menunjukkan dukungan antusias mereka atas represi terhadap Ikhwanul Muslimin, yang dengan tepat mereka pandang sebagai angkatan reaksi hitam. Namun analogis historis ini punya batasan-batasannya. Napoleon bisa berhasil dalam memaksakan kedikatoran kontrarevolusioner hanya karena massa revolusioner telah kelelahan. Sebaliknya, di Mesir, revolusi punya cukup cadangan kekuatan, yang menegaskan dan mendorong diri mereka ke tiap tahapan menentukan.

Kekuatan Revolusi ditunjukkan oleh kelemahan Ikhwanul Muslimin (IM) dan ketidakmampuannya untuk mengorganisir suatu respon efektif terhadap kekalahan Mursi. Hanya di Kairo dan Alexandria saja IM bisa mengorganisir demonstrasi-demonstrasi besar, bahkan disanapun mereka menghadapi oposisi sengit dari massa revolusioner, yang menendang mereka dari satu lingkungan dan pemukiman ke lingkungan dan pemukiman lain. Akhirnya, mereka dengan mudah dibubarkan dan dihantam oleh tentara.

Di tengah absensnya suatu partai Marxis revolusioner sejati, perwira-perwira militer mampu bermanuver, dengan gaya Bonapartis, besandar ke massa untuk menghantam Ikhwanul Muslimin, dan di hari berkutnya menangkapi para pimpinan buruh dan menggagalkan pemogokan-pemogokan.

Revolusi merupakan sekolah luas bagi massa yang hanya bisa belajar melalui pengalaman. Revolusi kedua merupakan suatu tingkatan yang lebih tinggi daripada yang pertama. Hilang sudah semua kelembuatan dan kenaifan yang direpresentasikan dalam slogan-slogan “Kita semua orang Mesir”, sebaliknya terdapat suatu keinginan revolusioner yang keras dan tak kenal kompromi yang berarti bahwa keseluruhan proses hanyalah suatu frasi waktu yang diperlukan bagi 18 hari revolusi di tahun 2011. Namun penyerahan kekuasaan terhadap SCAF berarti menyerahkan kekuasaan kembali kepada kelas penguasa yang lama, meskipun terdapat perbedaan dibandingkan yang diwakili oleh Mursi. Hal ini berarti bahwa massa harus menempuh pelajaran lain yang keras.

Benar bahwa Al-Sisi itu kontrarevolusioner, sama seperti Kerensky sang Bonapartis di Rusia pasca Revolusi Februari. Namun Al-Sisi jauh lebih pintar dibandingkan Mursi. Watak kontrarevolusioner Mursi jelas, namun peran Al-Sisi masih belum jelas di mata massa, yang memandangnya sebagai sekutunya. Inilah mengapa mereka siap memberi Al-Sisi waktu namun kesabaran massa tidak akan bertahan lama tak terbatas. Bahkan pemerintahan Biblawi, yang ditunjuk oleh Al-Sisi sudah semakin tidak populer.

Setelah pemilu parlemen dan presiden, kritisisme terhadap pemerintahan akan tumbuh dan kontradiksi-kontradiksi anatra revolusi dan penguasa-penguasa baru akan semakin jelas. Garis bawahnya adalah krisis ekonomi yang telah mengakibatkan pengangguran massal dan kemiskinan. Pertanyaan mengenai harga-harga dan pekerjaan-pekerjaan terus tak terpecahkan. Jika Al-Sisi maju di pemilu berikutnya, dia akan terpilih dengan mayoritas besar. Namun begitu ia berkuasa, dia akan dituntut untuk memberikan apa yang diinginkan buruh, tani, dan kaum pengangguran: kerja, roti, dan rumah. Namun di atas landasan kapitalis, hal ini tidak mungkin terjadi. Tahapan periode baru dan penuh topan badai kebangkitan revolusioner akan segera menjelang.

Lapisan-lapisan baru dan segar datang ke perjuangan sepanjang waktu. Lapisan-lapisan lama dan lelah—termasuk beberapa yang memainkan peran kepemimpinan di tahapan-tahapan lebih awal—akan cenderung turun, kecewa, dan terdisorientasi oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka duga dan tidak mereka pahami. Mereka terus-menerus mengeluh mengenai “rendahnya tingkat” massa. Namun mereka inilah yang melakukan tindak kriminal membingungkan revolusi dengan kontrarevolusi.

“Kiri-kiri” yang tersesat ini, yang membeokan propaganda borjuasi dan Imperialis, serta menampik dan menganggap gerakan massa yang mengagumkan dan telah menggulingkan Mursi sebagai suatu “kudeta”, tidak paham apapun. Gerakan Juni lalu merupakan Revolusi Mesir Kedua. Massa yang menggulingkan rezim reaksioner Ikhwanul Muslimin yang mereka benci itu, memiliki kekuatan kolektifnya sendiri, yang belum hilang, dan akan menyediakan landasan bagi onfensif revolusioner baru di masa yang akan datang. Kita harus berpaling dari elemen-elemen tua dan terdemoralisasi serta menyambut pemuda, generasi baru pejuang yang merepresentasikan masa depan revolusioner.

Iran

Pemilihan Rouhani menandai awal perubahan situasi. Pemilu tersebut merupakan suatu tanda jelas bahwa rezim tidak bisa terus berkuasa dalam alur sebelumnya. Gerakan massa 2009 ditindas secara keras dan dihajar oleh peningkatan konstan tekanan internal dan perampasan hak-hak demokratis. Krisis rezim tercermin dalam konflik terbuka antara Ahmadinejad dan Khamenei. Ekonomi terjerumus dalam krisis mendalam, yang diperparah dengan penjatuhan sanksi-sanksi oleh AS dan UE. Pengangguran, yang sudah tinggi, mencapai tingkat baru. Kemerosotan Rial berarti bahwa nilai inflasi meroket menembus 100%. Industri, produksi, dan perdagangan terancam macet.

Jutaan buruh harus bertahan dengan ledakan harga-harga, sementara mereka di sisi lain menderita pemecatan atau bahkan tidak digaji selama berbulan-bulan. Bagi kelas menengah, hal ini tidak kalah kacaunya. Keluarga-keluarga yang sebelumnya punya hidup relatif stabil mendapati dirinya bangkrut dalam semalam, tabungan mereka terdevaluasi, dan bisnis mereka hancur.

Pemilihan presiden sebelumnya diharapkan berjalan sesuai rencana dan tidak kontroversial. Namun selama kampanye capres-capres yang berbeda, yang telah disortir dengan ketat, ternyata saling menyerang satu sama lain dengan keras. Perpecahan terbuka di antara kelas penguasa memungkinkan massa mendorong diri mereka sendiri masuk.

Pertemuan-pertemuan kampanye Hassan Rouhani digubakan sebagai titik fokus mobilisasi. Masuknya massa membuat semua klik penguasa marah karena membuyarkan rencana-rencana mereka. Kaum Mullah terpaksa mengubah jalur. Rouhani merepresentasikan suatu sayap rezim yang menuntut reforma dari atas untuk mencegah revolusi dari bawah. Sebagai hasilnya, rezim terpaksa mengambil langkah-langkah terbatas untuk mengendorkan tekanan, khususnya terhadap pemuda dan kelas menengah. Inilah alasan mengepa terdapat suatu ilusi massif terhadap Rouhani. Namun dengan pelonggaran masalah-masalah demokratis, masalah-masalah ekonomi akan segera mencuat.

Rezim tengah berupaya mencapai suatu kesepakatan dengan AS, demi membuka pasar dan memenangkan beberapa konsesi, khususnya dalam infrastruktur minyak yang melemah. Kesepakatan demikian, bila berhasil dicapai, tidak akan mengubah situasi umum massa. Satu-satunya cara bagi borjuasi Iran untuk keluar dari krisis mereka adalah melalui peningkatan penghisapan terhadap buruh. Namun hal ini hanyalah menuang minyak ke dalam api. Setiap langkah pembukaan atmofsfer hanya akan mendorong swa-organisasi buruh dan pemuda yang akan menyiapkan ledakan-ledakan revolusioner besar di masa depan.

“Pembukaan-pembukaan” ini memberikan kesempatan-kesempatan baru bagi kaum oposisi dan KIri. Beberapa koran oposisi (bahkan beberapa koran kiri) telah mulai muncul. Secara gradual kekuatan oposisi mulai kembali bangkit. Pemuda Iran kini terbuka terhadap gagasan-gagasan revolusioner. Benar bahwasanya terdapat ilusi-ilusi terhadap Rouhani, namun hal ini tidak akan lolos dari tes pengalaman. Massa akan menemuph sekolah demokrasi borjuis demi menarik kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan, dan pasti mereka akan menarik kesimpulan demikian.

*Diterjemahkan dari “Perspectives for World Revolution 2014 (Draft document) – Part four” sebagaimana ditulis dan dipublikasikan International Marxist Tendency pada Kamis 5 Februari 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: