Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 5

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 5

Rumusan Perspektif Revolusi Dunia 2014 bagian 5

Hari ini kami publikasikan bagian kelima dokumen Perspektif Dunia IMT. Dalam bagian final ini kami melihat ke dalam dampak-dampak krisis kapitalisme terhadap kesadaran massa.

Ketimpangan dan Konsentrasi Kapital

Prediksi Marx bahwasanya perkembangan kapitalisme secara tak terelakkan akan berujung pada konsentrasi semakin banyak dan semakin banyaknya kekayaan di tangan segelintir dan semakin segelintir tangan telah dibuktikan oleh berbagai peristiwa. “Akumulasi kekayaan di satu kutub, dengan kata lain, pada saat yang besamaan akumulasi penderitaan di kutub yang berlawanan.” tulisanya di jilid satu Kapital. Itulah situasi yang persis kita dapati saat ini. Dimanapun terdapat kesenjangan yang meningkat dengan tajam.

Jumlah-jumlah yang terlibat sangatlah besar sekali. Antara tahun 1993 dan 2011, di AS, pendapatan rata-rata agak meningkat sebesar 13,1% dalam jumlah totalnya. Namun pendapatan rata-rata kaum 99% yang paling meskin–dengan kata lain semua orang dan keluarga yang pendapatannya sebesar US$ 370.000 per tahun hanya naik sebesar 5,8%. Gap sebesar itu adalah suatu ukuran mengenai betapa banyak yang diraup kaum 1 persen di puncak. Jatah pekerja dalam pendapatan nasional AS sebesar 62 persen sebelum resesi. Kini sekitar 59& PDB. Pendapatan rumah tangga rata-rata lebih rendah dibandingkan sebelum resesi karena meningkatnya kesenjangan.

Hal ini merupakan suatu paradoks yang sangat mencolok bahwasanya pasar saham AS telah naik lebih dari 50 persen semenjak krisis; sementara pendapatan menengah telah menurun. Kekayaan yang melimpah ruah menghasilkan kekuasaan politik: plutokrat bisa membeli koran dan saluran-saluran televisi serta mendanai kampanye-kampanye politik, partai-partai politik, dan pelobian. Di AS, seseorang harus menjadi seorang jutawan dan harus didukung oleh banyak jutawan untuk bisa jadi Presiden. Demokrasi bisa dibeli dan dijual kepada penawar tertinggi.

Mitos mobilitas sosial telah diungkap wajah aslinya: kebohongan yang pahit. Orang tua-orang tua kaya punya anak-anak kaya. Kelas penguasa merupakan elit yang melanggengkan dirinya sendiri dan sepenuhnya terceraikan dari sisa masyarakat. Akses terhadap pendidikan tinggi kini semakin mahal. Para sarjana mendapati diri mereka terbebani dengan banyak hutang rata-rata sebesar $25.000 per mahasiswa dan sering tak mampu mendapatkan pekerjaan sesuai pilihan karir mereka–itu pun kalau mereka bisa menemukan pekerjaan. Tangga kemajuan telah disingkirkan. Ratusan ribu sarjana universitas bekerja sebagai pelayan hamburger di McDonald’s atau karyawan-karyawan supermarket. Situasi yang dihadapi pemuda AS kini secara statistik serupa dengan yang dihadapi di dunia Arab sebelum ledakan revolusi-revolusi Tunisia dan Mesir.

Impian Amerika telah berubah jadi mimpi buruk Amerika. 47 juta orang Amerika dipaksa mengantri kupon makanan agar mereka bisa dapat makanan sampai akhir bulan. Semakin tumbuhnya angkara atas ketidakadilan ini diekspresikan dengan slogan Gerakan Occupy di AS: “Kamilah kaum 99%”. Bahaya situasi ini jelas bagi para pakar strategi Kapital yang berpandangan jauh.

Jurang antar Kelas

Massa siap untuk berkoban dengan syarat bahwa tujuannya adil dan pengorbanannya sama bagi semua pihak. Namun tak ada yang mau berkorban untuk menyelamatkan para bankir, dan tidak ada pertanyaan kesetaraan pengorbanan. Para bankir mengantongi uang yang diambil dari pembayar pajak (atau katakanlah pemerintah, karena tak seorang pun yang menanyakan opini para pembayar pajak), serta menghadiahi diri mereka dengan bonus-bonus besar.

Di tengah-tengah krisis, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Credit Suisse telah mempublikasikan suatu diagram yang menunjukkan peningkatan jumlah jutawan dolar (berdasarkan total aset, pertengahan 2012 hingga pertengahan 2013).

Spanyol: 402.000 (+ 13,2%)

AS: 13.210.000 (+ 14,6%)

Perancis: 2.210.000 (+ 14.9%)

Jerman: 1.730.000 (+ 14,6%)

Inggris: 1.520.000 (+ 8,2%)

Italia: 1.440.000 (+ 9.,%)

Cina: 1.120.000 (+ 8,7%)

Kanada: 993.000 (+ 4,7%)

Laporan lain dari Credit Sussie mempublikasikan angka-angka menarik menyangkut distribusi kekayaan yang tidak setara, Hal ini menunjkkan bahwa di tingkat tertinggi, 32 juta orang menguasai $98,7 triliun. Hal ini berarti bahwa sebanyak 41 persen kekayaan dunia dikuasai 0,7% total populasi dewasa. Mereka yang memiliki kekayaan pribadi sebesar $100.000 hingga $1 juta dolar sebanyak 7,7 persen populasi, menguasai sebanyak $101,8 triliun dan merepresentasikan 42,3 persen kekayaan dunia.

Sedangkan di kutub ekstrim lainnya, sebanyak 3,2 milyar orang hanya meguasai $7,3 triliun. Ini berarti bahwa 68,7% populasi dewasa dunia menguasai hanya 3 persen kekayaan dunia. Ini berarti bahwa kaum terkaya 0,7% dari populasi dewasa dunia mempunya gabungan kekayaan pribadi sebanyak  14 kali lebih besar daripada kaum termiskin 68%. Angka-angka ini membuktikan prediksi Marx mengenai konsentrasi Kapital:

“Akumulasi kekayaan pada satu kutub, dengan demikian, pada saat yang bersamaan merupakan akumulasi penderitaan, dan kesakitan dari perbudakan kerja, keabaian, brutalitas, degradasi mental, di kutub yang berlawanan, yaitu di sisi kelas yang memproduksi produknya sendiri dalam bentuk kapital.” (Kapital jilid 1, bab 25)

“Ekonomi yang Terkonsentrasi”

Lenin menunjukkan bahwa politik adalah ekonomi yang terkonsentrasikan. Selama suatu periode keseluruhan, setidaknya di negara-negara kapitalis maju kapitalisme tampaknnya “memberikan kebaikan-kebaikan”. Generasi yang tumbuh di AS dan UE selama dekade-dekade setelah Perang Dunia II menikmati keuntungan kenaikan ekonomi yang tiada tandingannya: lapangan pekerjaan penuh, naiknya hajat hidup, serta reforma-reforma.

Ini merupakan periode klasik reformisme di Eropa. Kapitalis-kapitalis mampu mengijinkan reforma-reforma di atas landasan ekonomi yang mengembang dan laba-laba besar. Namun kini hal itu tidak lagi berlaku. Program riil kaum borjuasi adalah menghapus negara kesejahteraan sepenuhnya, memaksa para pengangguran untuk bekerja kepada para majikan yang memberikan pekerjaan apapun dan berapapun upahnya. Dengan kata lain, kembali ke zamannya Marx dan Dickens. Hanya kekuatan buruh yang terorganisir yang bisa mencegah mereka menjalankan kontra-revolusi sosial skala penuh ini.

Perspektifnya adalah satu dari tahun-tahun pemotongan, pengetatan anggaran, dan jatuhnya standar hidup. Ini merupakan resip tuntas bagi perjuangan kelas dimana-mana. Borjuasi menuntut penghapusan hutang, penyeimbangan anggaran, pemotongan anggaran-anggaran sosial yang “boros” (dengan kata lain, pembiayaan sekolah, rumah sakit dan pensiun, namun tentu saja tidak termasuk dana talangan yang diberikan pada bank-bank). Mereka menyatakan, seperti kaum sofis sejati, bahwa meskipun “di jangka pendek” langkah-langkah tersebut akan berakibat pada kontraksi ekonomi signifikan dan kejatuhan tajam dalam hajat hidup (bagi sebagian), namun di jangka panjang, akan secara ajaib, menciptakan landasan bagi “suatu pemulihan yang dapat dipertahankan”. Dimana Keynes akan menjawab: “dalam jangka panjang kita semua mati”.

Begitu rawannya situasi sehingga apapun bisa memicu krisis mayor; hal ini tidak hanya benar dan berlaku di lapangan ekonomi (lihatlah penutupan pemerintah di AS dan juga naiknya hutang di Eropa) namun juga di masyarakat secara keseluruhan. Perjuangan kelas bisa meletus melalui beberapa even atau lainnya (para pemadam kebakaran Belgia).

Pertanyaan yang diajukan pada borjuasi: bagaimana cara memerintah dalam situasi krisis demikian? Di banyak negara Eropa, kebuntuan politik mewujudkan dirinya dalam koalisi tak stabil dan parlemen yang terkatung-katung. Institusi-institusi demokrasi parlementer telah dites ke batas-batasnya.

Naiknya angka golput merupakan suatu fenomena yang menunjukkan ketidakpuasan yang semakin besar terhadap semua partai yang ada. Ini tidak terlalu mengejutkan apalagi kalau melihat perilaku para pimpinan buruh. Bahkan saat mereka berada dalam posisi oposisi, kaum Sosial Demokrat terus mendukung kebijakan umum pemotongan dan pengetatan anggaran. Hal ini ditunjukkan dengan jelas dalam kasus SDP Swedia, Partai Buruh Inggris, SPD Jerman, PSOE Spanyol, dan Pasok di Yunani. Inilah yang menimbulkan rasa kecewa dan apatisme.

Di Jerman juga terdapat tendensi golput yang menguat. Merkel menang pemilu tapi saat itu pun dia tidak memenangkan mayoritas dan membutuhkan SPD sebagai ‘koalisi besar’ pemerintah. Sebanyak 40% pemilih di Jerman tidak diwakili oleh partai manapun di parlemen; suara Die Linke jatuh dari 12% ke 9%. Namun alam membenci kevakuman, dan pembentukan koalisi SPD-CDU berarti bahwa Die Linke satu-satunya oposisi sejati dan bisa mulai menggalang dukungan.

Sebagai hasilnya, di beberapa negara kita menyaksikan bangkitnya partai-partai baru: Partai Hijau (di Swedia), populis di Islandia dan Italia (Grillo), “partai-partai bajak laut” (Swedia, Jerman, Islandia), dan bangkitnya partai-partai ekstrim kanan (Yunani, Swedia, Norwegia, Perancis) dan anti EU UKIP di Inggris. Semua ini menunjukkan pemeraman di masyarakat, kebuntuan mendalam, dan ketidakpuasan terhadap tatanan politik yang ada.

Di Eropa terdapat meningkatnya perlemahan kredibilitas institusi-institusi demokrasi borjuis khususnya di negara-negara yang paling keras dihantam krisis. Sistem dua partai yang telah mapan (sayap kanan vs. Sosial Demokrasi) tengah berada dalam krisis. Sebagian dari ketidakpuasan demikian terkapitalisasi di partai-partai yang lebih kiri daripada Sosial Demokrasi sebagaimana dengan yang kita saksikan dengan pertumbuhan Syriza, IU, dan FdG di Perancis. Sedangkan di Italia, dimana pihak semacam itu tidak ada, maka “gerakan lima bintang” Grillo (suatu gerakan protes borjuis kecil yang bingung) telah mengisi kekosongan tersebut untuk sementara.

Meskipun demikian partai-partai demikian tidak menyodorkan suatu alternatif riil terhadap krisis kapitalisme dan dengan demikian tidak tumbuh secepat yang mereka bisa kalau mereka setidak-tidaknya mencerminkan sebagian kemarahan masyarakat. Bagaimanapun juga, karena tidak ada gaung di partai-partai reformis, ketidakpuasan massa tercerminkan di arena politik dengan meningkatnya golput. Di Spanyol, pada tahun 2008, PP dan PSOE menghimpun sebanyak 83% suara dari total 75% yang memilih (tidak golput). Hai ini jajak pendapat menunjukkan bahwa hanya ada 50% orang yang akan memilih (tidak golput) sementara sekitar 50% lainnya menyatakan tidak akan memilih atau tidak tahu akan memilih siapa.

Sedangkan di Portugal kita menyaksikan situasi serupa muncul dari pemilihan daerah. Orang yang tidak datang memilih naik menjadi 550.000; jumlah golput meningkat dua kali, dengan peningkatan 170.000. Koalisi sayap kanan kehilangan 600.000 suara; PS Demokratis di pihak “oposisi” kehilangan 270.000; PCP Komunis meraih hanya 13.000 suara; sementara BE sayap kiri kehilangan 45.000 suara.

Organisasi-Organisasi Massa

Permasalahan pokoknya adalah permasalahan kepemimpinan. Para pimpinan buruh–baik di partai-partai politik maupun di serikat-serikat, semuanya hidup di masa lalu. Mereka tidak paham mengenai watak krisis terkini dan memimpikan kemungkinan kembali ke “masa lalu yang indah”. Mereka secara organis tidak mampu putus dengan borjuasi dan memimpin perjuangan serius untuk mempertahankan capaian-capaian di masa lalu, apalagi untuk berjuang mencapai peningkatan hajat hidup.

Terdapat suatu perbedaan kontras antara kemarahan membara kelas pekerja dan pasivitas serta ketidakberdayaan para pemimpinnya. Organisasi massa, pada umumnya, masihlah berada pada tingkat aktivitas rendah. Dengan demikian, tidak ada tekanan riil pada para pimpinan untuk mencegahnya semakin bergeser ke kanan. Hal ini merupakan tendensi umum di periode sebelumnya. Degenerasi para pimpinan mencapai kedalaman yang tak tertandingi. Hal ini merupakan fakta bahwa organisasi-organisasi yang diciptakan oleh kelas buruh untuk mengubah masyarakat telah menjelma menjadi halangan-halangan dahsyat di jalan transformasi sosial.

Secara historis, hal ini merupakan peran yang dijalankan oleh kaum Sosial Demokrat untuk mendemoralisasi buruh dan kelas menengah ke pelukan reaksi. Setelah sejak lama mencampakkan sikap mereka yang pura-pura memperjuangkan sosialisme, mereka kini menujukan pidato-pidato mereka untuk kaum bankir dan kapitalis dengan mengadopsi intonasi yang “moderat” dan “terhormat”. Mereka mencoba membujuk kelas penguasa bahwa mereka cocok untuk menguasai jabatan-jabatan Negara. Demi membuktikan kredibilitas mereka ke kaum borjuasi sebagai “negarawan-negarawan” yang bisa diandalkan, mereka bahkan lebih keji dari kaum Konservatif dalam melancarkan pemotongan-pemotongan dan kontra reforma (yang selalu dilancarkan di bawah panji “reforma”).

Kaum reformis kiri yang mendominasi partai-partai Sosialis di tahun 1970an, telah tereduksi jadi bayang-bayang mereka yang silam. Kurangnya landasan kuat ideologi atau teori membuat mereka mengekor sayap kanan dengan begitu menyedihkan. Kaum sayap kanan memang lebih percaya diri karena sejak lama mereka merasa mendaoatkan dukungan dari bisnis-bisnis besar. Sebaliknya, Kiri tidak punya kepercayaan baik di kelas buruh maupun di diri mereka sendiri. Kaum reformis kiri di serikat-serikat tidak lebih baik dari lawan-lawan politiknya. Mereka terhujat dan gagal bahkan di lapangan-lapangan paling mendasar untuk mempertahankan upah, kondisi kerja, dan hak-hak serikat.

Seluruh rangkaian pemerintahan “Kiri” ditolak setelah menjalankan pemotongan-pemotongan: Spanyol, Islandia, Norwegia, Yunani, dan awalnya, Italia. Lainnya menderita kemerosotan dukungan dan kemungkinan hilangnya kekuatan di pemilu berikutnya (Denmark, Perancis, Irlandia) Partai Buruh Irlandia menanjak di jajak pendapat sebelum memasuki suatu koalisi borjuis yang menjalankan pemotongan. Dukungannya kemudian ambruk, jatuh dari 24% ke 4%.

Sementara itu di Yunani, partai sosialis, Pasok, yang punya basis massa dan terkadang suara yang dimenangkannya mendekati 50%, telah menderita keambrukan suara akibat menjalankan kebijakan-kebijakan yang didiktekan oleh kelas penguasa dan UE. Ini kemudian digantikan oleh pemerintahan “nasional” Papademos, yang kemudian bergabung dengan koalisi sayap kanan Samaras. Namun faktor paling penting adalah kebangkitan pesat Syriza yang awalnya berjuang susah payah untuk mendapatkan 4% atau 5% kini pada satu titik bahkan mencapai 30% di jajak pendapat.

Sementara itu di Yunani, partai sosialis, Pasok, yang punya basis massa dan terkadang suara yang dimenangkannya mendekati 50%, telah menderita keambrukan suara akibat menjalankan kebijakan-kebijakan yang didiktekan oleh kelas penguasa dan UE. Ini kemudian digantikan oleh pemerintahan “nasional” Papademos, yang kemudian bergabung dengan koalisi sayap kanan Samaras. Namun faktor paling penting adalah kebangkitan pesat Syriza yang awalnya berjuang susah payah untuk mendapatkan 4% atau 5% kini pada satu titik bahkan mencapai 30% di jajak pendapat.

Bagaimanapun juga, organisasi-organisasi massa, bahkan yang paling terdegenerasi, pada suatu tahap tidak terelakkan lagi akan mencerminkan tekanan massa. Dalam periode mendatang akan terdapat pergeseran keras opini publik ke kiri—dan ke kanan. Kita harus siap untuk ini dan menjelaskan signifikansi riilnya. Dalam mencari suatu jalan keluar dari krisis, massa akan menguji—dan mencampakkan—partai dan pemimpin satu demi satu silih berganti. Namun suatu ciri konstan adalah penolakan siapapun yang berada di pemerintah untuk menjalankan program pengetatan anggaran.

Sementara itu di Inggris, terdapat beberapa indikasi bahwa tekanan dari bawah (khususnya dari serikat-serikat) tengah mendorong Miliband untuk menjaga jarak dari kaum Tories (Kaum Konservatif) dan Liberal. Miliband, betapa lembeknya dirinya, merefleksikan kemarahan publik yang semakin besar terhadap konglomerasi dan bank-bank. Begitu berkuasa para pemimpin akan berada di bawah tekanan ekstrim baik dari kelas penguasa di satu sisi maupun massa di sisi lain. Mereka akan tergencet di antara dua batu. Akan terdapat perpecahan ke kanan dan kiri. Dalam beberapa kasus malah bisa hancur semuanya (PRC di Italia dan kemungkinan Pasok di Yunani). Namun dalam tiap kasus mereka akan memasuki krisis.

Seiring dengan semakin dalamnya krisis, tendensi-tendensi kiri akan mulai terkristalisasi dalam partai-partai buruh massa dan serikat-serikat buruh. Tendensi Marxis harus mengikuti kehidupan internal organisasi-organisasi massa dengan dekat dan berjuang untuk menggapai dan memenangkan buruh serta pemuda yang semakin ke kiri yang mencari suatu alternatif.

Bagaimanapun juga kemampuan kita untuk mengintervensi secara efektif di masa depan akan ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membangun Tendensi Marxis hari ini. Terdapat perbedaan dalam mengintervensi di gerakan massa dengan 20 atau 50 kader dengan 500 atau 1.000 kader. Kualitas harus ditransformasikan ke dalam kuantitas, sehingga kuantitas pada gilirannya akan bertransformasi menjadi kualitatif pada tingkatan yang lebih tinggi. Demi menggerakkan massa, kita perlu memiliki suatu tuas, dan tuas tersebut hanya bisa diwujudkan dari tendensi Marxis yang kuat dan banyak.

Serikat Buruh-Serikat Buruh

Serikat-serikat merupakan organisasi yang paling mendasar dari kelas buruh. Dalam suatu krisis, kebutuhan buruh terhadap serikat lebih besar dibandingkan dengan periode-periode “normal”. Di lapangan industrial terdapat beberapa konflik dan perjuangan radikal kapanpun para pimpinan serikat buruh memberikan suatu kepemimpinan dalam wujud pemogokan massa, pemogokan daerah, dan lain sebagainya, dimana buruh-buruh merespon secara massif. Permasalahannya adalah para pimpinan serikat buruh sepenuhnya impoten saat dihadapkan dengan krisis kapitalisme karena mereka tidak punya alternatif lain (selain sejenis stimulus Keynesian yang lunak).

Terdapat pemogokan massa skala penuh dari para pengajar di kepulauan Balearic, Spanyol, yang berlangsung selama tiga minggu dan menarik dukungan massa rakyat (dimana suatu demonstrasi di Palma diikuti sekitar 100.000 orang yang terjadi di pulau dengan populasi total 800.000). Pemogokan tersebut dijalankan dengan tradisi serta metode-metode perjuangan kelas yang telah hilang dalam periode sebelumnya: majelis-majelis massa, delegasi terpilih, dukungan dari para orang tua dan siswa serta dana mogok. Bagaimanapun juga para pimpinan serikat buruh meninggalkan para pengajar Balearic sendiri, dan menolak menyebarkan perjuangan ke sektor lainnya selain sektor pengajar dan ke plau tama, sehingga gerakan tersebut harus mundur, kalah oleh kelelahan.

Dalam kondisi-kondisi demikian tidak mengejutkan bahwasanya banyak buruh mempertanyakan validitas pemogokan massa 24 jam yang diserukan dalam isolasi tanpa rencana perjuangan berkelanjutan oleh para pimpinan serikat. Kenyataannya, hal ini digunakan oleh para pimpinan serikat buruh untuk memadamkan kobaran semangat perlawanan. Di Yunani, senjata pemogokan massa satu hari sekarang telah jadi kontra-produktif. Seruan-seruan untuk aksi-aksi demikian menghadapi skeptisisme buruh yang paham bahwa diperlukan aksi yang lebih drastis. Dalam kondisi-kondisi Yunani, apa yang diperlukan adalah suatu pemogokan massa politis skala penuh untuk menjatuhkan pemerintah.

Kita menyaksikan akumulasi angkara dan ketidakpuasan baik di front politik maupun front industrial yang sejauh ini tidak menemukan saluran ekspresi yang jelas. Di Spanyol, Portugal, Yunani, Italia, ratusan ribu pemuda dipaksa beremigrasi dan menemui kenyataan situasi yang sama yang berusaha ditinggalkan orang tua mereka.

Terdapat serangan-serangan terus menerus terhadap sistem layanan kesehatan dan sistem pendidikan, skandal penggusuran dan pendudukan kembali terjadi silih berganti dan beriringan dengan sejumlah besar apartemen dan rumah-rumah yang kosong, semakin banyaknya orang yang jadi gelandangan dan tidur di jalanan, banyak yang dulunya memandang dirinya sendiri sebagai “kelas menengah”, kini terdesak ke bawah garis kemiskinan, dan sebagainya.

Di bawah kondisi-kondisi ini, lebih dari apapun juga, buruh memandang serikat-serikat mereka sebagai garis pertahanan yang sama. Semua tekanan demikian akan muncul ke permukaan, dalam suatu kombinasi gerakan protes yang spontan, ledakan-ledakan kemarahan, yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak di organisasi-organisasi massa.

Tahapan-tahapan pertama radikalisasi massa akan tercermin dalam mogok-mogok kerja, pemogokan-pemogokan massa, dan demonstrasi-demonstrasi massa. Kita telah menyaksikan hal-hal ini di Yunani, Spanyol, dan Portugal. Namun akibat kedalaman krisis, aksi-aksi itu saja tidak bisa berhasil dalam mencegah serangan-serangan baru terhadap hajat hidup rakyat pekerja.

Bahkan di Belgia dimana aksi militan para pemadam kebakaran serta pekerja rel, stasiun, dan kereta, memaksa pemerintah untuk mundur, hal ini hanya akan menjadi suatu kemenangan sementara. Apa yang diserahkan pemerintah lewat tangan kiri akan mereka ambil lagi dengan tangan kanan. Di Yunani terdapat hampir 30 pemogokan massa, namun pemerintah terus-menerus menyerang.

Secara gradual, buruh belajar melalui pengalamannya bahwa diperlukan langkah-langkah yang semakin radikal. Mereka mulai menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Trotsky menjelaskan pentingnya tuntutan-tuntutan transisional sebagai suatu alat untuk membangkitkan kesadaran buruh ke tingkat yang dituntut oleh sejarah. Namun ia juga menunjukkan bahwa dalam suatu krisis dalam, tuntutan-tuntutan demikian tidaklah cukup:

“Tentu saja skala yang bergeser dan pertahanan diri buruh tidaklah cukup. Hal-hal itu hanyalah langkah-langkah awal yang diperlukan untuk melindungi buruh dari kelaparan dan dari pisau-pisau fasis. Hal-hal itu merupakan alat pertahanan diri yang mendesak dan diperlukan. Namun itu saja tidak akan memecahkan permasalahan. Tugas utamanya adalah untuk membuka jalan menuju suatu sistem ekonomi yang lebih baik, dan penggunaan tenaga-tenaga produktif yang lebih adil, rasional, dan layak, demi kepentingan semua orang.

“Hal ini tidak bisa dicapai melalui metode-metode serikat buruh yang biasa, “normal”, dan rutin. Kalian tidak bisa tidak setuju dengan ini, karena dalam kondisi-kondisi kapitalis menurun serikat-serikat buruh yang terisolasi ternyata tidak mampu bahkan untuk menghentikan kemerosotan kondisi-kondisi buruh. Perlu metode-metode yang lebih tegas dan mendalam. Kaum borjuasi yang menguasai alat-alat produksi dan kekuasaan negara telah membawa seluruh ekonomi ke dalam kekacauan yang menyeluruh. Maka perlu untuk menyatakan bahwa borjuasi telah bangkrut dan ekonomi diserahkan ke tangan-tangan yang segar dan jujur, yaitu, tangan-tangan buruh itu sendiri”. (Trotsky, Diskusi dengan pengorganisir CIO, 29 September 1938)

Peran Pemuda

Salah satu ciri utama situasi saat ini adalah kokohnya tingkat pengangguran dan semi pengangguran yang tinggi, khususnya di kaum pemuda. Ini bukanlah tentara cadangan pengangguran yang diomongkan Marx. Ini merupakan pengangguran terstruktur permanen, pengangguran organik laksana bisul beracun yang menggerogoti organ-organ tubuh masyarakat dan merusaknya dari dalam.

Dampak terburuk pengangguran bisa ditemukan di pemuda, yang menanggung beban terberat krisis kapitalis. Harapan-harapan dan cita-cita muda muncul membentur penghalang yang tak bisa ditembus. Hal ini semakin tidak bisa diterima saat semakin banyak pengangguran yang merupakan kelompok yang sangat terpelajar. Hal ini mengakibatkan campuran yang sangat keras dan meledak-ledak.

Ini merupakan generasi pertama kaum muda yang tidak bisa menerima hajat hidup yang lebih baik dibandingkan orang tuanya. Masa depan mereka telah dirampok, seluruh generasi pemuda dikorbankan sebagai tumbal di altar Kapital. Antara Brazil dan Turki, tentu saja, ada perbedaan-perbedaan. Namun juga ada ciri-ciri umum yang membantu mengobarkan ketidakpuasan. Ciri-ciri yang sama juga akan menyulut protes-protes serupa dimana-mana. Satu faktor penting adalah pengangguran pemuda.

Fenomena ini tidak terbatas pada negara-negara paling miskin di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia. Pengangguran dan kemiskinan merupakan suatu kombinasi eksplosif yang bisa tersulut kapanpun juga dan di negara manapun juga. Pengangguran pemuda merupakan suatu faktor besar dalam apa yang disebut sebagai Arab Spring atau Revolusi Arab. Tingkat-tingkat pengangguran yang tinggi di Eropa bisa memiliki dampak serupa yang meradikalisasi. bahkan, radikalisasi pemuda sudah menjadi fenomena umum di satu atau tingkatan lain di seluruh Eropa.

Di Inggris, suatu gelombang radikalisasi diantara mahasiswa diawali oleh suatu ledakan kerusuhan oleh pemuda pengangguran di kota-kota besar yang mengguncang penguasa. Di Yunani, suatu gerakan besar dari kelas buruh juga diawali oleh gerakan besar para siswa sekolah. Di Spanyol dan AS kita menyaksikan gerakan Indignados dan Occupy, yang secara komposisi dipenuhi oleh pemuda. Terdapat banyak contoh serupa dalam sejarah terkait ini. Revolusi 1905 di Rusia diawali oleh demonstrasi mahasiswa pada tahun 1900 dan 1901. May Days di Perancis pada 1968 dipicu oleh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang direpresi polisi secara brutal.

Lenin mengatakan: “Mereka yang memiliki pemuda memiliki masa depan”. Kita harus menemukan jalan ke arah pemuda dengan segala cara dan memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir terhadap gairah instingtif mereka untuk melawan ketidakadilan dan penindasan serta memenangkan suatu dunia yang lebih baik. Keberhasilan atau kegagalan IMT bergantung banyak pada kemampuan kita untuk meraih hal ini.

Apakah Kondisi-Kondisi Sudah Matang untuk Revolusi?

Kita tengah memasuki situasi yang sepenuhnya baru di skala global. Hal ini jelas dari berbagai peristiwa dalam 12 bulan terakhir. Asap-asap dari gas air mata memenuhi jalanan Istanbul. Pentungan-pentungan polisi meretakkan tengkorak-tengkorak di Sao Paolo dan 17 juta orang menggulingkan presiden Mesir. Protes-protes telah meletus di Bulgaria. Hal ini cuma awal dari suatu gelombang ketidakpuasan yang tengah berkembang di dunia, yang hamil akan potensi-potensi revolusioner.

Dialektika mengajarkan pada kita bahwa cepat atau lambat segala sesuatu akan berubah menjadi kebalikannya. Hukum dialektis ini dengan keras telah terbukti oleh berbagai peristiwa dalam dua belas bulan terakhir. Mari kita ingatkan diri kita sendiri bahwasanya Turki dan Brazil sampai sebelum baru-baru ini merupakan dua cahaya terdepan yang menyala-nyala dari ekonomi-ekonomi yang sedang bangkit. Kemungkinan kebangkitan revolusioner di negara-negara tersebut bahkan tidak terbayang di kepala dan benak para ahli strategi kapital. Sama tidak terbayangkannya dengan kemungkinan penggulingan revolusioner Mubarak di Mesir atau Ben Ali di Tunisia.

Kaum sinis dan kaum skeptis bisa ditemukan dalam jumlah cukup banyak dimana-mana. Mereka adalah sisa-sisa kekalahan masa silam, orang-orang tua yang prematur yang telah kehilangan kepercayaannya terhadap kelas buruh, sosialisme, dan diri mereka sendiri. Dari tepi gerakan buruh (dan terkadang dari dalamnya) kaum sinis profesional berkeluh kesah atas buruknya kondisi yang ada. Tujuan prinsipil dalam hidup mereka memang untuk mengeluh dan menggerutu mengenai buruh dan pemuda, serta mengerdilkan capaian-capaian mereka, dan membesar-besarkan kesalahan-kesalahan mereka.

Spesies serupa bisa ditemukan juga di antara bekas-bekas Stalinis. Karena mereka telah sejak lama mencampakkan semua harapan atas revolusi sosialis, makhluk-makhluk hina ini hanya peduli dengan satu hal: menyebarkan pesimisme dan skeptisisme beracun mereka ke pemuda, mematahkan semangatnya dan menghalangi mereka dari partisipasi dalam gerakan revolusioner.

Orang-orang ini, yang dideskripsikan dengan tepat oleh Trotsky sebagai kaum skeptis yang membusuk, menyatakan bahwa kelas buruh tidak siap dengan sosialisme, kondisi-kondisinya belum matang, dan lain sebagainya. Tak perlu diomongkan lagi bahwa bagi orang-orang demikian kondisi-kondisi bagi sosialisme memang tidak akan pernah matang. Setelah memantapkan standar-standar mustahil mengenai “kematangan” revolusioner di kepala mereka, mereka kemudian bisa duduk santai dan tidak melakukan apapun.

Perlu menggarisbawahi gagasan fundamental bahwa ciri utama revlusi adalah masuknya massa ke panggung sejarah. Pada tahun 1938, Trotsky menulis:

“Semua pembicaraan menenai kondisi-kondisi historis belum ‘matang’ untuk sosialisme adalah produk ketidakpedulian atau tipu daya secara sadar. Prakondisi-prakondis obyektif untuk revolusi proletar tidak saja sudah ‘matang’; bahkan dalam beberapa tingkatan sudah mulai membusuk. Tanpa suatu revolusi sosialis, periode historis berikutnya adalah suatu malapetakan yang mengancam seluruh budaya dan peradaban manusia. Sekarang adalah gilirannya proletariat, yaitu, khususnya pelopor revolusionernya. Krisis historis umat manusia dirangkum menjadi krisis kepemimpinan revolusioner”. (Trotsky, Program Transisional, Mei-Juni 1938).

Garis-garis ini sepenuhnya relevan dengan situasi terkini di skala dunia. Memang kata-kata itu kelihatan seakan-akan baru ditulis kemarin!

Sekali lagi kami melawan kaum sinis dan skeptis yang membantah peran revolusioner proletariat, dengan cara memajukan potensi-potensi revolusioner buruh dan pemuda, yang secara terus-menerus terbukti oleh berbagai peristiwa. Gerakan revolusioner yang hebat di Turki, Brazil, dan Mesir, pemogokan-pemogokan massa di Yunani dan Spanyol. gerakan massa di Portugal yang hampir menggulingkan pemerintahan, pemogokan-pemogokan massa di India dan Indonesia, merupakan indikasi-indikasi jelas bahwa revolusi sosialis dunia telah dimulai.

Bagaimanapun juga fakta bahwa suatu revolusi telah dimulai tidak berarti akan berhasil dengan seketika. Hal itu bergantung pada banyak faktor, dimana faktor paling pentingnya adalah kualitas kepemimpinan. hegel menulis:

“Saat kita ingin melihat pohon ek dengan semua daya hidup tubuhnya, cabang-cabangnya yang meluas, dedaunannya yang massif, kita tidak akan puas sebelum melihat buah ek disana.” (Hegel, Fenomenologi Pikiran, Kata Pengantar)

Apa yang kita dapati disini hanyalah antisipasi awal revolusi sosial. Hal ini merupakan kebangkitan kembali massa setelah suatu periode panjang dimana perjuangan kelas telah ditumpulkan di banyak negara. Suatu atlet, setelah tidak aktif dalam periode yang cukup panjang, tentu butuh waktu untuk merenggangkan anggota badannya, untuk “pemanasan” dan mencapai kemampuan yang diperlukan untuk terjun di aktivitas-aktivitas yang lebih serius. Sama halnya dengan kelas buruh yang butuh waktu untuk meraih pengalaman yang diperlukan untuk menaikkan dirinya sendiri ke tingkat yang dituntut oleh sejarah.

Sebagai suatu aturan umum, massa belajar dari pengalaman. Terkadang hal ini berlangsung dengan menyakitkan dan selalu perlahan. Proses pembelajaran ini akan berjalan dengan lebih cepat dan kurang sakit bila ada suatu partai Marxis yang kuat dengan kepemimpinan berpandangan jauh seperti partainya Lenin dan Trotsky. Bilamana ada padanan partai Bolshevik di Mesir juni lalu, tak ada yang bisa membantah bahwa buruh dan pemuda revolusioner sudah pasti merebut kekuasaan dengan mudah.

Kaum diplomat Eropa periferal bicara dengan suram mengenai “krisis demokrasi” dan kenyataannya institusi-institusi demokrasi borjuis memang diuji hingga titik akhir. Di pemerintahan-pemerintahan Eropa, khususnya di Berlin, terhadap kekhawatiran besar bahwasanya penerapan pengetatan anggaran akan mengakibatkan konflik sosial hingga ke tingkatan yang mencerminkan suatu ancaman bagi tatanan sosial yang ada.

Alasan asli mengapa borjuasi begitu ketakutan atas penggulingan Mursi di Mesir adalah karena mereka takut bahwa hal demikian bisa terjadi di Eropa. FT telah menarik paralel yang menggelisahkan borjuasi dengan tahun 1848: “Ini […] mengingatkan saya—pada 1848. Dari jendela Metternich mencibir gerombolan irelevan sebelum penggulingannya, Guizot yang kaget bahkan tidak bisa bernafas saat dia mengundurkan diri dari kementerian, Thiers, sang perdana menteri pada suatu ketika, menderita Tourette abad 19 karena didesak terus oleh massa…”

Para ekonom borjuis mengakui bahwa perspektif kapitalisme adalah dua puluh tahun pengetatan anggaran. Ini berarti dua dekade perjuangan kelas yang berat, dengan pasang naik dan pasang surut yang tak terhindarkan. Momen-momen kebangkitan besar akan diikuti dengan periode-periode kelelahan, kekecewaan, disorientasi, kekalahan, bahkan reaksi. Namun dalam iklim saat ini, setiap keredaan hanya akan menjadi pengantar bagi perjuangan-perjuangan baru yang lebih meledak-ledak. Pertanyaannya adalah, apakah dalam momen-momen menentukan, faktor subyektif akan cukup kuat untuk memberikan kepemimpinan yang diperlukan.

Tekanan-tekanan yang tak tertahankan terus terbangun di semua tingkatan. Sumber kebuntuan umum di masyarakat bukan hanya dari faktor-faktor ekonomi: pengangguran dan merosotnya hajat hidup. Hal ini mencerminkan kemuakan terhadap semua institusi masyarakat kapitalis yang ada: para politisi, Gereja, media, bank-bank, polisi, sistem legal, dan sebagainya. Hal ini juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa di skala dunia (Irak, Afghanistan, Suriah, dan sebagainya).

Memang kondisi-kondisinya berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Misalnya, situasi di Yunani lebih maju dibandingkan Jerman. Namun dimana-mana, tidak jauh dari permukaan, terdapat ketidakpuasan yang tengah mendidih, suatu perasaan bahwasanya ada yang sangat salah di masyarakat, bahwa hal ini tidak bisa lagi ditoleransi serta bahwasanya partai-partai dan para pimpinan yang ada tidak mewakili kita. Kondisi-kondisi obyektif untuk revolusi sosialis telah matang dan mematang dengan sangat pesat. Namun faktor subyektifnya hilang. Sebagaimana yang dikatakan Trotsky jauh-jauh hari, permasalahannya adalah permasalahan kepemimpinan.

Bagi seluruh rangkaian alasan-alasan historis yang obyektif, gerakan telah terdesak mundur, kekautan-kekuatan Marxisme sejati telah tereduksi ke suatu minoritas kecil yang terisolasi dari massa. Itulah permasalahan pokok dan kontradiksi pokok yang harus dipecahkan. Perlu merekrut kader-kader yang dibutuhkan dan melatihnya serta mengintegrasikannya ke dalam organisasi dan mengarahkan mereka ke organisasi-organisasi massa buruh.

Hal ini makan waktu. Kita akan punya sebagian waktu karena tingkat lambat proses ini. Namun kita tidak punya waktu tak terbatas. Perlu menangani tugas-tugas membangun kekuatan-kekuatan Marxisme dangan rasa urgensi untuk memahami bahwa jalan menuju kemenangan besar di masa depan disiapkan oleh serangkaian keberhasilan kecil di masa kini. Kita memiliki pemikiran dan gagasan yang diperlukan. Perspektif kita secara brilian telah terbukti oleh rangkaian peristiwa. Kita harus mengusung pemikiran dan gagasan ini ke kelas buruh dan pemuda. Jalan menuju buruh dan pemuda terbuka lebar. Mari kita bergerak dengan kepercayaan diri.

Maju terus menuju pembangunan International Marxist Tendency!

Panjang umur revolusi sosialis dunia!

London, 11 Desember 2013.

*diterjemahkan dari “Perspectives for World Revolution 2014 (Draft document) – Part five” sebagaimana yang ditulis oleh International Marxist Tendency dan dipublikasikan pada 7 Februari 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: