Revolusi Buruh di Dunia bag VII – Revolusi Chile 1972-1973

Revolusi Buruh di Dunia bag. VII - Revolusi Chile 1972-1973

Semua dimulai pada tahun 1970 dengan terpilihnya pemerintahan  Unidad Popular atau Persatuan Kerakyatan yang dipimpin oleh Salvador Alldende di atas gelombang aktivitas kelas buruh. Reforma-reforma yang direncanakan Allende meliputi nasionalisasi 40 persen total produksi industri Chile, termasuk pertambangan tembaga yang dimiliki Amerika Serikat (AS) dinasionalisasi tanpa kompensasi. Dia juga menjanjkan untuk menaikkan upah demi merangsang pertumbuhan ekonomi dan menerapkan hukum reforma agraria yang ada.

Unidad Popular - Persatuan Kerakyatan

Namun terlepas dari banyaknya retorika kiri dan acuan “kekuasaan rakyat”, batas-batas reforma-reforma Allende telah ditetapkan di suatu dokumen yang disebut sebagai Statuta Jaminan yang ditandatangani sebagai syarat kepresidenannya. Perjanjian ini yang dirahasiakan bahkan dari para menteri Persatuan Kerakyatan menjamin bahwa Allende akan menghargai struktur-struktur negara dan tidak mengintervensi sistem pendidkan, Gereja, media, ataupun angkatan bersenjata. Dengan kata lain, tidak akan ada tantangan riil terhadap kekuasaan yang ada.

Biarpun demikian jaminan ini tidak meredakan penentangan kaum majikan dan konglomerat terhadap segala sesuatu yang mengancam kontrol mereka atas kekayaan Chile. Sepanjang masa pemerintahan Allende mereka menggunakan setiap kesempatan untuk merongrong pemerintah dan menghalangi reforma. Salah satu kesempatan mereka datang di November 1971 saat Fidel Castro, presiden Kuba, mengunjungi Chile. Kelompok-kelompok sayap kanan mengorganisir “Barisan Pot Kosong” yang terdiri dari para perempuan kelas menengah meminjam pot-pot pembantunya dan membantingnya berkeping-keping untuk memprotes kekurangan—suatu aksi yang ditujukan untuk mempermalukan pemerintah dan memobilisasi kelas menengah untuk melawannya. Sebelumnya di tahun itu partai-partai sayap kanan menggunakan pemogokan-pemogokan spontan dan invasi tanah oleh pekerja pedesaan sebagai dalih untuk memakzulkan Menteri Dalam Negeri dan menghalangi reforma lebih lanjut.

Respon Persatuan Kerakyatan terhadap mobilisasi-mobilisasi Kanan ini menunjukkan kelemahan yang pada akhirnya terbukti fatal saat perjuangan kelas semakin menajam. Meskipun Allende dan banyak orang dari partainya merupakan sayap kiri sejati, namun mereka berbagai asumsi fundamental dengan lawan-lawan borjuisnya: yaitu bahwasanya masyarakat harus diperintah oleh suatu kepemimpinan minoritas terhadap mayoritas. Kebijakan nasionalisasi Persatuan Rakyat yang menempatkan sektor-sektor industri vital di bawah kontrol negara tidak punya esensi sama sekali untk menghapus eksploitasi terhadap buruh. Hal ini sekedar merepresentasikan strategi alternatif untuk menjalankan kapitalisme—dimana kapital institusi negara punya lebih banyak keistimewaan dibandingkan kapital swasta (khususnya asing). Jadi sepanjang pergolakan sosial ini Persatuan Kerakyatan secara terus menerus menjaga dan menjauhkan jarak dari aktivitas kelas buruh serta berusaha menenangkan kaum majikan dan jenderal-jenderal angkatan bersenjata.

Bentrokan antara pemerintah, buruh, dan borjuasi datang di Oktober 1972. Ribuan pemilik lori, yang mayoritas diorganisir oleh Patria y Libertad (Tanah air dan Kemerdekaan), suatu organisasi neo-fasis di Chile, menggunakan berbagai kendaraan untuk memblokade jalan-jalan tol dan mencegah suplai agar tidak masuk perkotaan. Secara teori, mobilisasi ini disebabkan oleh nasionalisasi perusahaan-perusahaan transportasi namun pada kenyataannya merepresentasikan kaum borjuasi pada umumnya yang memandang bahwa waktunya sudah matang untuk menyerang pemerintah. Mereka berniat melakukan ini dengan cara mengacaukan produksi serta menggunakan kekuatan ekonominya untuk menyebabkan suatu krisis yang mereka harapkan akan berujung pada pengunduran diri Allende. Secara serentak, para dokter, pengacara, dokter gigi, pemilik toko, semuanya menghentikan aktivitas mereka dalam upayanya untuk ikut menimbulkan atmosfer kepanikan.

Namun apa yang mengagetkan para majikan dan kaum konglomerat adalah para buruh Chile menunjukkan bahwa mereka bisa mengorganisir produksi dan distribusi tanpa mereka. Sebagaimana yang dijelaskan salah seorang buruh, “kami membuka toko, mengambil bahan-bahan mentah, dan terus memproduksi…kalian (bisa lihat) bahwa orang bekerja dengan sangat antusias.” Saat perhimpunan dokter mengumumkan dukungan mereka pada para pemilik lori, maka para pekerja rumah sakit mengambil alih kerja menjalankan rumah sakit. Serupa dengan hal itu, semua transportasi yang tersedia dijalankan oleh buruh-buruh, dan komite-komite suplai dan distribusi yang sebelumnya didirikan oleh pemerintah kemudian diubah menjadi organ-organ kontrol demokratis yang mendistribusikan makanan kepada rakyat yang kelaparan.

Reforma VS Revolusi

Dalam suatu demonstrasi yang menimbulkan inspirasi atas potensi kelas buruh untuk menjalankan masyarakat tanpa kaum majikan dan konglomerat, para buruh mulai membentuk cordone, atau dewan-dewan buruh untuk mengawasi produksi dan berkoordinasi antar tempat kerja. Badan-badan ini menjamin bahwa buruh-buruh tidak kelaparan saat kaum majikan dan konglomerat memblokade jalan-jalan tol. Pabrik-pabrik dan pertokoan dibuka kembali dan buruh-buruh membentuk cordone-cordone untuk menjalankannya. Respon pemerintah Persatuan Kerakyatan terhadap inisiatif kelas buruh ini secara karakteristik berusaha mengekangnya. Prioritas utama Allende adalah berupaya memulihkan “tata tertib”, yang artinya mendemobilisasi buruh dan menenangkan para majikan dan konglomerat. Dengan seketika Allende mendeklarasikan negara berada dalam keadaan darurat dan mengundang militer untuk bergabung dengan pemerintah. Meskipun militer merepresi kaum militan di pedesaan, Allende menyatakan berterimakasih pada buruh atas dukungan mereka dan menyatakan bahwa masalah sudah selesai dan kini waktunya kembali bekerja.

Pinochet mewakili militer diundang masuk dalam kabinet Allende

Pinochet mewakili militer diundang masuk dalam kabinet Allende

Dengan memanggil militer Allende telah merebut inisiatif dari tangan buruh dan berkapitulasi ke kaum borjuasi. Secara seketika, secepat para Jenderal masuk kabinet Allende, para pemilik lori langsung menghentikan blokade mereka. Namun tidak mengejutkan bila buruh enggan menyerahkan kontrol terhadap pabrik-pabrik yang tengah mereka jalankan. Terlepas dari upaya-upaya terbaik pemerintah, banyak pabbrik tidak diserahkan kembali dan para buruh terus membuka pertokoan yang ditutup untuk mendistribusikan makanan yang ada disana kepada para buruh.

Setelah Oktober jelas sudah bahwa kaum borjuasi tidak lagi bersedia bekerjasama dengan pemerintah. Kini sekedar masalah waktu sebelum mereka melancarkan ofensif serius. Seiring dengan peristiwa yang menyelimuti aksi para pemilik lori, satu-satunya kekuatan yang mampu mengajukan alternatif adalah kelas buruh melalui kontrol langsung terhadap produksi. Terlepas dari hal ini hampir setiap organisasi kiri disibukkan berebut pengaruh dalam Persatuan Kerakyatan. Tidak ada satupun organisasi kiri yang memandang swa-organisasi buruh dalam bentuk cordone-cordone sebagai kekuatan yang bisa menggulingkan pemerintah dan memerangi kelas penguasa, bahkan buruh sendiri tidak membentuk partai demikian.

Salah satu organisasi bernama Gerakan Revolusioner Kiri (MIR), yang punya sebagian pengaruh di antara kaum miskin kota dan kaum tani, memisahkan diri dari koalisi Persatuan Kerakyatan. Sayangnya mereka hanya punya pengaruh kecil dalam cordone-cordone dan cenderung menganggap kaum revolusioer sendiri atau para gerilyawan sebagai yang lebih penting daripada buruh-buruh terorganisir. Biarpun demikian hanyalah MIR yang mengobarkan perlawanan bersenjata terorganisir melawan kudeta militer pada September 1973.

Bendera MIR

Maret 1973 pemilihan Kongresional mengembalikan suara mayoritas yang semakin tinggi untuk Persatuan Kerakyatan. Hasil ini merepresentasikan suatu tuntutan aksi oleh para buruh yang semenjak perjuangan Oktober telah mendirikan Komite Koordinasi Cordone-Cordone, yang dipimpin sebagian oleh para anggota Persatuan Kerakyatan, untuk mengawasi dan mengoordinasikan aktivitas-aktivitas dalam cordone-cordone. Hasil pemilihan menunjukkan bahwa upaya-upaya kaum borjuasi untuk mendiskreditkan pemerintah telah gagal dan dibutuhkan aksi yang lebih radikal untuk merebut kembali kendali terhadap masyarakat. Meskipun demikian tidak ada tantangan sama sekali terhadap hegemoni Persatuan Kerakyatan di sayap kiri.

Bulan April, dilema-dilema yang dihadapi Persatuan Kerakyatan semakin menajam dengan pecahnya pemogokan para buruh tambang tembaga setelah pemerintah menolak menerapkan kenaikan upah yang telah disetujui. Kekuatan sosial dan ekonomi mereka—pertambangan tembaga merupakan sektor kunci ekonomi Chile—memberikan mereka suatu kepentingan krusial dalam gerakan buruh meskipun mereka relatif terisolasi dari para buruh di perkotaan. Para buruh tambang dengan seketika dicaci oleh Persatuan Kerakyatan karena dicap memabah kekacauan anti pemerinath. Bahkan beberapa menteri sampai menyebut aksi mogok tersebut sebagai suatu plot imperialis. Sikap bermusuhan terhadap aksi industrial buruh ini jelas menunjukkan bahwa Persatuan Kerakyatan tidak mewakili kepentingan kelas buruh. Namun tidak ada organisasi kiri yang menarik kesimpulan ini dan ironisnya satu-satunya dukungan yang diterima buruh tambang adalah dukungan dari para majikan yang ingin mengeksploitasi kontradiksi dalam kebijakan pemerintah. Gerakan buruh akhirnya terbelah dengan fatal dan melemah.

Hingga Juni beberapa seksi dari sayap kanan siap memobilisasi diri untuk melawan pemerintah. Kolonel Souper yang semi fasis mencoba melakukan kudeta pada 29 Juni yang membuat buruh berada dalam badai topan pergolakan. Pabrik-pabrik sekali lagi diambil alih dan cordone-cordone dibentuk karena para buruh bersiap untuk mempertahankan pemerintah. Seruan untuk mempersenjatai diri dikeluarkan namun sekali lagi Allende berusaha menjinakkan situasi dengan mengundang seksi-seksi militer yang dianggap “loyal”. Pada saat menentukan dimana buruh bisa merebut kendali dan mempertahankan diri mereka terhadap penyerangan lebih lanjut dari sayap kanan, kaum kiri malah tunduk pada kepemimpinan Allende yang bimbang. Tak ada satupun yang tampaknya menyadari bahwa suatu tentara yang dikuasai oleh suatu negara borjuis bukanlah kawan bagi buruh. Terbukti salah satu tindakan pertamanya saat memasuki pemerintahan adalah menyingkirkan dokumen-dokumen kelas buruh dari pemberitaan serta menyensor stasiun TV negara.

Sementara kudeta Souper bisa dikalahkan, hanya masalah waktu sebelum kaum borjuasi berhasil sepanjang buruh-buruh tetap tidak dipersenjatai dan tanpa kepemimpinan. Akhirnya salah satu anggota kabinet Allende, Jenderal Augusto Pinochet, lah, yang akhirnya menjalankan kudeta berdarah-darah yang mengakhiri pertempuran di Chile. Sementara Allende sendiri mati dengan pistol di tangan mempertahankan Istana Kepresidenan, tak sekalipun dia memantabkan diri untuk mempersenjatai buruh, karena dia takut pada potensi-potensi buruh yang bisa menjungkirbalikkan tatanan masyarakat. Akibatnya kudeta Pinochet pada 11 September 1973 berakibat pada penghancuran baik pemerintah dan organ-organ kekuasaan buruh yang bisa memeranginya. Tak ada ampunan dan belas kasihan sama sekali yang ditunjukkan oleh kaum borjuasi bagi mereka yang mencoba menantang kekuasaannya.

Persatuan Kerakyatan cukup naif untuk berpikir bahwa mereka bisa merebut sumber kekayaan yang sangat besar dari tangan kapitalis Chile dan AS tanpa dukungan sama sekali kecuali dari kepercayaan buta mereka terhadap demokrasi parlementer yang ideal. Idealisme ini kemudian terbuka kedoknya dan tampaklah wajah bengis kekuasaan kelas di hari-hari berdarah kekuasaan Pinochet. Saat suatu ancaman serius terhadap kekuasaan borjuasi muncul, para kapitalis mencampakkan parlemen dan menyerahkannya ke tentara.

Tak ada organisasi di Chile di tahun 1973 yang menyatakan “Semua kekuasaan untuk cordone-cordone!” Tak ada organisasi yang menyatakan bahwasanya kelas buruh yang bersatu adalah satu-satunya kekuatan yang bisa menghentikan kediktatoran militer. Kita harus belajar dari pengalaman Chile agar kita bisa punya kesempatan keberhasilan yang lebih baik saat kesempatan berikutnya datang bagi buruh untuk menciptakan dunia baru dimana kebrutalan kediktatoran militer hanya akan ada dalam buku-buku sejarah serta katalog kejahatan kapitalisme. Hanya dengan demikian pengorbanan para buruh Chile tidak akan sia-sia.

*ditulis oleh Louise O’Shea sebagai bab VI dari pamflet “Workers Revolutions of The 20th Century – A Socialist Alternative Pamphlet. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: