Revolusi Buruh di Dunia bag VIII – Revolusi Iran 1979

Demonstrasi Iran Persia

Peristiwa-peristiwa di Iran pada tahun 1979 jelas-jelas menunjukkan bahwa saat buruh-buruh dari negara manapun melwan majikan dan penguasanya, perjuangan mereka sangatlah mirip. Mereka juga menghadapi kesulitan-kesulitan yang sama, seperti resiko kontra-revolusi, dan kebutuhan mendesak atas suatu organisasi revolusioner yang efektif. Masalahnya di Iran pada tahun 1979, tidak ada organisasi macam itu dan kontra-revolusi mewujudkan diri dalam bentuk para pemimpin relijius yang menghancurkan organisasi-organisasi buruh demi mendirikan suatu negara Islamis yang pada dasarnya tetap merupakan negara kapitalis. Meskipun demikian Iran tetap merupakan suatu contoh kuat bagaimana perjuangan untuk kekuasaan buruh merupakan perjuangan yang universal. Sama universalnya dengan sistem kapitalisme. Kawasan timur tengah jelas bukan perkecualian terhadap hal ini.

Dari pertengahan abad ke-19, Iran dikuasai oleh keluarga bangsawan yang dikepalai oleh Shah. Secara pokok, Iran merupakan ekonomi agraris sampai penghujung abad, dimana pedagang dan kapital negara mulai memperluas ekspansi dengan rangsangan dari investasi asing. Tahun 1905 suatu Revolusi Konstitusional yang dipimpin oleh para pemimpin relijius, borjuasi, dan intelektual, berhasil mendesak pemerintah untuk berkompromi memberikan hak-hak dasar, seperti kebebasan berpendapat. Suatu parlemen kemudian didirikan sehingga kaum pedagang dan borjusi memiliki beberapa pengaruh namun Shah tetap merupakan pengendali dan penguasa utamanya.

Minyak ditemukan tahun 1908 di Iran. Akibat semakin tumbuhnya ketergantungan kapitalisme dunia terhadap minyak, permesinan modern dan program-program konstruksi kemudian diimpor dengan pesat. Produksi minyak juga memerlukan pendirian infrastruktur yang makin kompleks. Industrialisasi pesar ini berujung pada sejumlah besar buruh terkonsentrasi di industri-industri utama. Sebagai hasilnya, kaum buruh minyak dan transportasi memiliki nilai penting strategis dalam ekonomi Iran, yang juga memainkan peran penting dalam revolusi 1979.

Selama tahun 60an dan awal 70an ekonomi meluas akibat meningkatnya investasi negara dan naiknya harga minyak. Negara juga mendorong investasi asing dengan konsesi-konsesi bagi perusahaan-perusahaan asing. Antara tahun 1971 dan 1973 harga minyak naik dari $US 1,79 per barrel menjadi $US 11,65 per barrel sehingga mengakibatkan pendapatan negara naik dari $938 juta pada tahun 1969 menjadi $22 milyar di tahun 1974. Namun boom ini berujung [ada suatu krisis mendalam di masyarakat Iran. Akibat orang-orang meninggalkan pedesaan untuk mencari upah yang lebih tinggi di perkotaan, produksi pertanian anjlok sehingga menimbulkan kelangkaan makanan. Infrastruktur Iran yang relatif terbelakang tidak mampu mengatasi dan tidak mampu pula menyediakan perumahan bagi naiknya jumlah buruh di perkotaan. Harga-harga rumah di Teheran jadi berlipat tiga. Saat resesi pertengahan 70an mengakibatkan anjloknya harga-harga minyak, jumlah pengangguran meroket tinggi dan memicu meluasnya sentimen revolusioner di tengah massa rakyat.

Faktor lain yang juga menyebabkan ketidakpopuleran Shah adalah hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat (AS) yang punya bagian terbesar kepentingan minyak asing di Iran. Baik kelas menengah maupun kelas buruh sama-sama membenci dominasi AS terhadap ekonomi Iran. Akhirnya tegangan ini meledak pada Juni 1977 saat Shah memerintahkan penggusuran terhadap suatu pemukiman kumuh yang dianggapnya merusak pemandangan kapital “imperial”nya. Selama lebih dari sebulan, sekitar 50.000 kaum miskin kota berjuang melawan polisi sampai akhirnya Shah terpaksa membatalkan rencananya. Bulan Juni yang sama kaum intelektual menulis suatu surat terbuka yang menyerukan untuk mengakhiri despotisme. Artikel-artikel kritis dan pamflet-pamflet mulai muncul serta bereder meskipun menghadapi represi tingkat tinggi.

Bulan November 1977, Perhimpunan Penulis mengorgansir pembacaan puisi publik yang menjadi suatu magnet bagi pihak-pihak yang tidak setuju dengan pemerintah dan menarik sebanyak antara 10.000 hingga 20.000 orang per malam. Kemudian pada kali kesepuluh acara tersebut, polisi berusaha untuk membubarkan acara tersebut dan akibatnya memicu demonstrasi penuh kemarahan yang dihadapi dengan represi sehingga berakibat jatuhnya beberapa korban jiwa yang tewas dari pihak demonstran. Bulan Desember 1977, Ayatullah Khomeini, seorang pemimpin Islam yang diasingkan menyerukan suatu demonstrasi di bulan suci Muharram untuk menggulingkan Shah dan menerapkan kembali konstitusi 1905. Khomeini merupakan sosok oposisi kunci semenjak diasingkan pada tahun 1964 dimana dukungan utamanya didapatkan dari kapitalis kecil, bazaari, dan para tuan tanah.

Dengan semakin meningkatnya krisis di masyarakat Iran, kaum miskin dan pengangguran yang mencari kepemimpinan akhirnya menemukan sumber kepercayaan dan keamanan di kelompk relijius khususnya Khomeini untuk menyalurkan ketidakpuasan mereka. Demonstrasi-demonstrasi besar yang diadakan oleh kaum relijius muncul berkali-kali sejak akhir 1977. Namun sekeras apapun kelompok ini terhadap Shah, mereka sendiri tidak memiliki kekuatan sosial untuk menyingkirkian Shah. Hanya kelas buruh yang bisa melakukan hal ini dan mereka sama sekali jauh dari pengaruh Khomeini. Jumlah pemogokan telah semakin meningkat sepanjang tahun 1978 meskipun mayoritas diadakan untuk membela upah-upah buruh dan hak-hak normatifnya serta bukannya melawan Shah. Namun saat 8 September 1978 Shah menyatakan hukum darurat militer serta melepaskan tembakan ke arah suatu demonstrasi di Teheran maka dengan seketika buruh-buruh Iran bergerak.

Buruh Mengambil Kepemimpinan

Tanggal 9 September, 700 buruh minyak di Teheran melancaarkan aksi mogok dan dalam 48 jam pemogokan telah menjalar ke Isfahan, Abadan, Tabriz, dan Shiraz. Buruh-buruh percetakan dan buruh-buruh semen di Teheran segera ikut mogok kerja dan pada Oktober sebanyak 50 pabrik besar telah tutup. Tuntutan-tuntutan buruh mencakup kenaikan upah 100%, pembubaran Savak (polisi rahasia), akhiri hukum darurat militer dan bebaskan semua tahanan politik. Aksi-aksi mogok dan bentrokan-bentrokan jalanan dengan polisi jadi peristiwa sehari-hari, dengan pemogokan 33 hari buruh minyak yang sangat terorganisir berhasil melumpuhkan ekonomi, bahkan pada satu titik mengakibatkan kerugian pemerintah sebesar $74 juta per hari.

Upaya-upaya kekerasann Shah untuk mengekang gerakan massa jadi tidak efektif khususnya karena pembangkangan di angkatan bersenjata semakin sering terjadi. Dalam suatu upaya terakhir untuk menyelamatkan kekuasaan, Shah muncul di televisi untuk mengakui kesalahan-kesalahan di masa lalu dan menghimbau rakyat untuk tenang. Hal ini direspon dengan demonstrasi besar pada 11 Desember 1978 dimana slogan-slogan seperti “Gantung boneka Amerika” dan “Persenjatai rakyat” merupakan slogan yang paling populer. Saat pembeking paling setia Shah Iran yaitu AS, mulai menunjukkan keraguan terhadap kemampuannya berkuasa, Shah mulai merasa berada dalam masalah. Tanggal 16 Januari 1979 di kemudian melarikan diri ke Mesir dan suatu kekosongan kekuasaan muncul di masyarakat Iran.

Satu-satunya sosok yang secara terbuka mendukung pemogokan-pemogokan ini adalah Khomeini. Dia bertekad menempatkan dirinya sendiri di atas perjuangan-perjuangan meskipun dia hanya punya sedikit koneksi dengan buruh-buruh yang mogok kerja. Bagaimanapun juga dia merupakan sosok oposisi sejati terhadap rejim Shah, dengan landasan sebagaimana yang disebutkannya bahwasanya rejim Shah merupakan rejim yang korup, pro AS, dan tidak Islami. Dia juga sangat blak-blakan dan berniat menampakkan dirinya seakan-akan sebagai orang yang radikal serta merespon upaya-upaya para politisi borjuis untuk mendamaikannya dengan Shah dengan menyatakan “Kita tidak boleh kehilangan satu haripun, satu menitpun. Rakyat menuntut revolusi sekarang juga.” Di tengah kekosongan sosok alternatif sekuler maka Khomeini dengan mudah diterima sebagai pemimpin gerakan revolusioner.

Namun buruh—yang merupakan darah jantung gerakan dan kunci keberhasilannya—tidak menunjukkan tanda-tanda sama sekali bahwa mereka menganggap perjuangan mereka sebagai perjuangan relijius. Dari sebelas tuntutan yang dirumuskan dan diusung buruh-buruh minyak yang mogok, tak ada satupun yang menyinggung masalah agama sama sekali. Sebaliknya mereka menyertakan tuntutan-tuntutan seperti hak perempuan untuk bekerja, pembubaran Savak, nasionalisasi industri minyak, perumahan untuk buruh, dan jam kerja yang lebih pendek. Sebagaimana yang dijelaskan salah seorang partisipan revolusi, “di kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, pabrik-pabrik, dan kampus-kampus, di dalam suatu huru-hara demokrasi partisipatoris, kami menuntut untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan serta penunjukan wakil-wakil kami. Unit-unit tentara menolak komandan-komandan yang ditunjuk oleh pemerintahan sementara; pimpinan-pimpinan polisi yang baru dilantik ditangkap oleh komite warga; gubernur-gubernur menyaksikan jalan ke kantor-kantor mereka dibarikade oleh pemuda-pemuda revolusioner.”

Di tengah absennya para manajer, buruh-buruh mengorganisir syura (yang arti harafiahnya adalah dewan) untuk menjalankan tempat-tempat kerja. Melalui syura-syura, buruh-buruh dengan efektif mengontrol banyak industri dan memutuskan siapa yang dipekerjakan dan siapa yang dipecat, apa yang akan diproduksi dan diproduksi untuk siapa. Syura-syura merupakan ekspresi kontrol demokratis buruh yang bisa membentuk basis baru untuk menjalankan tatanan masyarakat serta menampilkan tantangan riil terhadap para pimpinan relijius di tengah revolusi. Sebagaimana dewan-dewan buruh di revolusi-revolusi lainnya, syura atau dewan buruh di Iran merupakan institusi paling demokratis yang pernah ada. Delegasi-delegasi bisa ditunjuk kapanpun dan tetap bekerja di sisi orang-orang yang mereka wakili. Mereka bukanlah para politisi profesional yang akan menjanjikan dunia dan mengkhianati para pendukungnya.

Namun agar syura-syura bisa mengonsolidasikan kekuatannya, merek butuh melebarkannya melampaui tempat-tempat kerja individual. Mereka harus menciptakan pusat kekuasaan untuk mengalahkan kontra-revolusi pimpinan Khomeini. Hal ini sebagian berlangsung di awal 1979 dengan pembentukan Dewan Pendirian Serikat Buruh SeIran. Namun pemerintahan sementara yang baru ditunjuk oleh Khomeini memerintahkan buruh untuk kembali bekerja “untuk revolusi” dan mencaci serta mencap semua oposisi dan yang menentangnya sebagai pihak kontra-revolusioner. Di titik menentukan inilah, kontrol buruh terhadap produksi harus menyebar atau kalau tidak maka para pengikut relijius Khomeini yang akan menang sebagai kelas penguasa baru. Sayangnya tidak ada organisasi kiri sekuler yang menyerukan semua kekuasaan untuk syura-syura, yang artinya Khomeini hanya menghadapi sedikit perlawanan saat dia bergerak menggilas gerakan revolusioner.

Kiri di Iran

Di saat-saat revolusi tidak ada organisasi kiri yang punya basis signifikan di kelas buruh. Dari sekian organisasi sayap kiri yang ada—organisasi yang paling besar adalah partai Tudeh yang pro-Rusia—pengaruh Stalinisme berarti bahwa tak ada satupun yang menganggap Iran siap untuk suatu revolusi sosialis karena dianggap terbelakang. Mereka menganggap bahwa semua yang bisa dilakukan adalah sekedar menyingkirkan Shah. Jadi saat kesempatan riil bagi kekuasaan buruh telah muncul mereka tidak mampu mengenalinya dan malah menganggap Khomeini sebagai sosok progresif padahal kenyataannya Khomeini merepresentasikan kontra-revolusi dan menghancurkan syura-syura.

Khomeini melakukan upaya yang terbaik untuk menyamarkan watak kontra-revolusioner dari perjuangannya merebut kekuasaan. Dia bisa menekankan isu-isu untuk meraih dukungan massa seperti isu anti imperialisme serta simpati bagi kaum tertindas sembari dengan hati-hat menghindari isu-isu seperti kesetaraan seks atau hak-hak minoritas untuk kebebasan beragama dan beribadah. Peluang Khomeini untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan akhirnya mengalahkan gerakan buruh muncul pada November 1979. Tanggal 4 November Kedutaan AS diduduki oleh mahasiswa-mahasiswa Islamis yang memprotes Imperialisme. Demonstrasi-demonstrasi besar mendukung mahasiswa diorganisir dan setiap pihak yang menentangnya dicap sebagai pro-AS.

Kaum kiri, khususnya partai Tudeh, yang sebagian percaya retorika Khomeini, tidak bisa merespon dan Khomeini memanfaatkan kebingungan mereka dengan mengumumkan rencana-rencana untuk menggelar referendum untuk mengesahkan Konstitusi Islami-nya. Konstitusi ini memangkas hak-hak mendasar seperti kebebasan berpendapat dan beragama di dalam batasan-batasan “Standar Islami”. Konstitusi ini juga memaksaakan penggunaan pakaian Islami bagi kaum perempuan serta melarang alkohol dan musik. Ketakutan yang menyebarluas, takut dicap Zionis atau pro-Amerika, menyebarluas dan menggerogoti semangat revolusioner, dan mengakibatkan konstitusi diratifikasi serta proses pendirian rezim Islami kontra-revolusioner Khomeini dimulai.

Tidak ada yang tidak terhindarkan dari akibat ini. Kaum ulama Islam hanya mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Shah karena tidak ada organisasi sekuler yang memahami situasi kekuasaan ganda dan peran pokok yang harus dimainkan kelas buruh dalam membangun suatu tatanan masyarakat baru. Selain beberapa kelompok Marxis kecil, tak ada satupun kaum kri yang mengenali pentingnya syura-syura (dewan-dewan buruh) sekuler sebagai basis tatanan masyarakat baru hingga akhirnya semua dihancurkan oleh Khomeini yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. Secara serupa pengaruh kaum Islamis di perjuangan-perjuangan timur Tengah hari ini hanyalah akibat kegagalan kiri sekuler terhadap kerentanan alami Palestina dan Irak terhadap Fundamentalisme. Peristiwa-peristiwa revolusi Iran menunjukkan bahwa buruh-buruh Iran seperti buruh-buruh dimanapun, bisa didorong untuk menentang para penguasanya dan merubut kendali tatanan masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka bisa dikalahkan dengan ongkos besar yang harus dibayar kalau mereka tidak terorganisir dan tersiapkan untuk suatu situasi revolusioner dengan mempelajari perjuangan-perjuangan mereka di masa lalu serta kawan-kawan buruhnya di seluruh dunia.

*ditulis oleh Louise O’Shea sebagai bab VII dari pamflet “Workers Revolutions of The 20th Century – A Socialist Alternative Pamphlet. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: