Kronologi Kekerasan Polisi dalam Kasus Penolakan Tambang Pasir Besi di Pohgading Timur dan Pringga Baya Utara

Kronologi kekerasan polisi Dalam Kasus Penolakan Tambang Pasir Besi di Pohgading Timur dan Pringga Baya Utara

Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan Lombok Timur (ALAS-Lotim).

 

Kronologi kekerasan polisi Dalam Kasus Penolakan Tambang Pasir Besi di Pohgading Timur dan Pringga Baya Utara Kecamatan Pringga Baya Kab.Lombok Timur.

 

TAMBANG PASIR BESI DI WILAYAH PANTAI KETAPANG PERINGGABAYA

KEC PERINGGABAYA KABUPATEN LOMBOK TIMUR.

 

Kronologi Kejadian Hari Jum’at tanggal 31 Januari 2014 dan Kronologis Penangkapan Warga:

Kamis pada tanggal 30-01-2014 ratusan warga aksi penghentian operasi pertambangan pasir besi, Pengerusakan kapal dan pembakaran beberapa Base Camp (BCMP) perusahaan tambang PT AMG yang berada di lokasi.

Warga menemukan langsung kapal tanker yang sedang beroperasi menyedot pasir di tengah laut kemudian kapal tersebut langsung dibawa ke pinggir pantai dan menjadi amukan massa.

Selain itu warga juga menyuarakan aktifitas pertambangan yang menutup sungai menggunakan batu sehingga menyebabkan air meluap ke permukiman dan lahan pertanian masyarakat.

Pada tanggal 31 Januari 2014 pukul tiga sore, warga kembali turun aksi mulai dari ibu, bapak pemuda-pemudi, dan anak-anak kompak dan serentak berteriak “serbu”. Barisan pertama langsung memukul dan merusak kapal pengeruk, melihat hal itu polisi mundur sambil melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa rakyat.

Massa terus bergerak merangsek masuk kedalam lokasi pertambangan lalu membakar gudang mesin serta alat-alat operasi perusahaan tambang lainnya. Situasi makin memanas sehingga aparat melepasakan gas air mata yang kesekian kalinya masa aksi kocar kacir dan mundur.

Pada saat massa sedang kocar-kacir mundur, pihak Kepolisian dan Intel menangkap salah seorang massa yang ikut dalam aksi di Base camp PT. AMG. Anggota Massa yang tertangkap tersebut adalah Haji Dewi alias Rif yang berasal dari Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur.

Haji Dewi alias Rif diculik dan dilarikan oleh dua orang anggota Kepolisian, dia dibawa mengunakan Mobil Avanza warna Putih dengan Plat Hitam (Mobil Pribadi). Karena massa mengetahui bahwa Haji Dewi ditawan oleh Aparat, maka sebagian warga melakukan pengejaran terhadap Aparat yang membawa Haji Dewi tersebut.

Pengejaran itu berahir di sekitar Pasar Pringga Baya, dimana mobil Aparat yang membawa Haji Dewi dihadang oleh gerombolan becak yang sedang rame di perempatan Pringgabaya. Setelah itu, mobil Aparat yang membawa Haji Dewi mundur dan di sebelah timur pasar Pringga Baya massa mengerumuni Mobil Aparat tersebut dengan tujuan untuk membebaskan Haji Dewi yang ditahan.

Pada saat itu sempat terjadi perlawanan dari Haji Dewi dan Amaq Bayu bersama massa aksi. Aparat Kepolisian yang mengendarai Mobil itu pun di amuk massa, untungnya Kepala Desa Pohgading Timur dan Kepala Desa Pringgabaya Utara bisa mengambil dua orang Aparat tersebut dari kerumunan massa, sehingga mereka bisa diselamatkan. Hanya saja mobil Avanza yang dikendarainya tidak dapat diselamatkan dari amukan massa.

Di tempat lain (Bascamp PT. AMG) yang berada disekitar pantai Ketapang, beberapa perwakilan massa mengadakan negosiasi dengan aparat kepolisian dan pemrintah Kecamatan Pringgabaya. Pada saat itu, sekitar pukul 16:00 Wita, Kapolres Lotim meminta beberapa warga untuk musyawarah yang diwakili oleh tokoh-tokoh, Camat Peringga yakni Rizal, Kepala Desa Peringga Utara yakni Jul, Kepala Desa Pohgading Timur atas nama Ahir Yasin, SH, serta Pemerhati Lingkungan Peringga yakni Judan.

Mereka berdiskusi panjang lebar sehingga menyepakati untuk penghentian dan pengosongan alat-alat tambang secepatnya dengan batas waktu 10 hari dan jika dalam jangka 10 hari itu (terhitung sejak tanggal 01 Januari 2014 sampai dengan tanggal 10 Januari 2014) barang milik PT. AMG yang berupa alat berat dan alat-alat produksi yang ada di Pantai Ketapang tidak habis diangkut, maka warga diperbolehkan untuk mengusirnya secara paksa.

Sementara itu dari warga Ketapang kecewa dengan Kepala desanya dan Kepala Dusun, dikarenakan mereka menghilang begitu saja dari situasi ini sehingga mereka beranggapan orang-orang tersebut seolah mendukung adanya tambang.

Dari salah satu pengakuan warga, mereka khawatir dengan keberadaan tambang pasir besi bahkan menolak kehadiran tambang tersebut dikarenakan merusak lingkungan dan mempekerjakan orang-orang setempat sebagai buruh itupun masih segelintir orang.

Adanya beberapa oknum sepakat dengan tambang tersebut malah terbukti dengan adanya kadus setempat dan kepala desa yang sampai hari ini tidak kunjung kelihatan “lanjutnya lagi”.

Hari senin 17 Februari 2014 masyarakat melakukan aksi untuk menuntut janji tanggang waktu 10 hari yang disepakati oleh kepala desa, tokoh masyarakat dan perwakilan polisi serta camat Peringgabaya sekitar pukul 14:00 WITA.

Hari itu aparat kepolisian sudah berada di lokasi Tambang sekitar pukul 08:00 WITA untuk menjaga keamanan Basecamp PT. Anugrah Mitra Geraha (AMG).

Pukul 04:30 WITA perwakilan massa aksi melakukan beberapa tawaran supaya tidak terjadi bentrokan namun dalam perkembangannya tidak ada jawaban pasti dari aparat kepolisian akhirnya massa aksi menerobos barisan polisi dan terjadilah kericuhan serta bentrokan antara kepolisian dan massa aksi lalu polisi menembakkan gas air mata hingga massa aksi terpukul mundur.

Dalam waktu bersamaan salah satu massa aksi atas nama Asiah dibawa oleh empat orang aparat kepolisian memakai mobil patroli Polsek Peringgabaya mengetahui hal itu sebagian massa aksi langsung mengejar kemudian menghadang mobil tersebut sehingga terjadi ketegangan, massa dapat menahan salah satu dari empat orang polisi yang membawa Asiyah.

Massa aksi mendengar kabar bahwa salah seorang polisi yang membawa Asiah diamankan oleh warga sedangkan yang tiga orang aparat berhasil membawa Asiah entah kemana sampai sekarang. Selanjutnya konsentrasi massa terpokus dipertigaan Bagek Atas dimana tempat polisi itu diamankan. Tujuan masyrakat mengamankan salah satu polisi tersebut untuk ditukar dengan dua orang orang anggota massa yang dibawa polisi.

Salah satu polisi itu sempat melakukan konfirmasi dengan Kapolda NTB supaya ditukar dengan dua orang warga yang dibawa polisi, sekitar 15 menit warga tetap dalam keadaan kondusif sambil mengawasi situasi.

Setelah 15 menit kemudan tiba-tiba aparat kepolisian datang sambil melepaskan tembakan dan gas air mata yang diarahkan kepada massa sehingga bebrapa orang terkena tembakan peluru nyasar sampai akhirnya massa membubarkan diri sambil menyelamatkan orang yang terkena peluru nyasar tersebut.

Bersamaan dengan itu aparat kepolisian membakar 4 (empat) unit sepeda motor milik warga sambil mengejar massa sampai ke kampung-kampung. Sekitar pukul 05:00 sore massa bubar dan polisi mengumpulkan semua sepeda motor yang ada dilokasi lalu dirusak serta diangkut menggunakan mobil polisi sampai sekarang disita oleh Polres Lotim, motor yang disita berjumlah 24 unit.

Dua minggu kemudian, warga yang terlibat dalam aksi pada tanggal 31 Januari 2014 mulai diusut oleh Kapolres Lombok Timur. Hal yang paling dibidik oleh Pihak Kepolisian adalah kejadian pemukulan Anggota Polisi di sekitar pasar Pringgabaya.

Sehingga pada tanggal 17 Februari 2014 tepatnya pada Selasa Malam, 17 Februari 2014, aparat Kepolisian datang melakukan penggerebekan di ke rumah tersangka atas nama Haji Dewi Alis Rif dan Amaq Bayu. Perlu diketahui bahwa dua orang tersebut adalah warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya.

Sekitar pukul 09.30 malam, gerombolan polisi yang dipimpin oleh Mobil Barakuda dengan puluhan sepeda motor yang masing-masing motor dikendarai oleh dua orang polisi yang diperkirakan adalah Anggota Kepolisian Polda NTB.

Gerombolan Polisi tersebut memasuki Dusun Sukamulia dan langsung menggerebek rumah Amaq Bayu. Alhasil Amaq Bayu dan Haji Dewi tidak ditemukan oleh gerombolan polisi tersebut, sehingga mereka harus memeriksa semua bagian rumah target dengan cara membabi buta, sehingga terjadi beberapa kerusakan di rumah target. Karena target tidak dapat ditemukan maka mobil barakuda bersama anggotanya pulang dengan tangan hampa.

Sementara itu, kedatangan aparat pada malam itu menyebabkan suasana mencekam. Masyarakat Dusun Sukamulia resah dan merasa ketakutan, sehingga pada malam itu hampir semua warga Dusun Sukamulia tidak bisa tidur dengan tenang.

Keeseokan harinya (Selasa, 18 Februari 2014), Haji Dewi dan Amaq Bayu menyatakan diri untuk menyerahkan diri dengan cara kooperatif. Hal ini mereka nyatakan di rumah Kepala Desa Pohgading Timur.

Setelah Kepala Desa Pohgading Timur, Kadus Sukamulia, RT. 16 Dusun Sukamulia dan kedua orang target bersama beberapa tokoh masyarakat dan pemuda yang berkumpul di Rumah Kades Pohgading Timur sepakat untuk menyerahkan kedua orang target dengan cara koopratif.

Pada pukul 11.30, masyarat Sukamulia berkumpul di Masjid Al-Ridho Sukamulia untuk membicarakan penyerahan diri Amaq Bayu dan Haji Dewi. Pertemuan itu dihadiri oleh Kepala Desa, Kadus Sukamulia, RT. Dusun Sukamulia, dan seorang anggota Kepolisian yang bernama Rifai.

Dengan berbagai pertimbangan, ahirnya masyarat sepakat untuk menyerahkan Haji Dewi dan Amaq Bayu dengan cara kooperatif. Lebih-lebih pada saat itu Kades Pohgading Timur dan Rifai (Polisi) telah mengadakan kesepakatan dengan Kapolda NTB, dimana hasil kesepakatan mereka adalah “Jika target menyerahkan diri dengan cara kooperatif maka pihak kepolisian tidak akan menyentuhnya seujung kukupun, artinya kedua orang target tersebut tidak akan menjadi bulan-bulanan aparat”.

Atas kesepakatan tersebut, maka kedua orang target bersiap-siap untuk diantar oleh Kades, Sekretaris BPD Pohgading Timur, Kadus Sukamulia, dan Ketua RT. Dusun Sukamulia, bersama anggota kepolisian yang bernama Rifai. Hanya saja, sekitar 5 menit kemudian Rombongan Polisi yang mengendarai Mobil Barakuda yang diikuti oleh ratusan anggota Kepolisian NTB yang mengendarai mobil truk patrol dan puluhan sepeda motor datang dengan garangnya.

Kedua target dimasukkan ke dalam mobil Avanza berwarna putih, mereka ditemani oleh Kepala Desa Pohgading Timur dan Kadus Dusun Sukamulia. Pada saat itu, polisi yang garang memancing keributan dengan memukuli beberapa orang warga yang sedang menyaksikan penjemputan target.

Ironisnya, Aparat kepolisian melakukan kekerasan kepada warga yang sedang menyaksikan penjemputan itu. Hal yang lebih ironis lagi polisi tersebut menembakkan Gas Air Mata kearah tengah perkampungan Dusun Sukamulia, serta menembakkan Peluru Panas ke arah kerumunan warga yang berada di dalam halaman Masjid Al-Ridho Pringgabaya.

Anggota kepolisian juga semakin senang menakut-nakuti warga dengan melakukan pengejaran terhadap warga Dusun Sukamulia yang ada pada saat itu, sedangkan masyarakat tidak ada yang melakukan perlawanan. Pada saat itu juga, aparat kepolisian menaikkan 2 orang warga secara Paksa, artinya dua orang warga tersebut ikut dibawa ke Resor Lotim secara Paksa. Warga yang ditangkap secara paksa itu adalah Abharudin dan Amaq Elsa alias Juniardi.

Hal ini menyebabkan Susana di Dusun Sukamulia semakin mencekam, sehingga pada sore harinya semua warga Dusun Sukamulia yang perempuan dan anak-anak harus mengungsi karena ketakutan yang mereka rasakan.

Sementara itu, janji Pihak Kepolisian yang meyatakan bahwa target akan dijemput dengan cara damai. Namun, dalam kenyataannya empat orang yang dibawa tersebut dipukul habis-habisan dan bahkan Sanusi selaku Sekretaris BPD Pohgading Timur dan Amaq Tantowi (Ketua RT. Dusun Sukamulia) yang ikut mengantar mereka juga ditangkap dan diperlakukan sama dengan keempat orang tersebut.

Menurut keterangan Abharudin (salah seorang warga yang dibawa secara paksa), bahwa sesampainya di Resort Lotim, mereka diperlakukan tidak sewajarnya oleh Pihak Polisi, artinya mereka dipukul oleh kerumunan Polisi. Termasuk Haji Dewi dan Amaq Bayu juga dipukul habis-habisan. Ini berarti bahwa pihak kepolisian telah mengingkari janji mereka dan inilah yang perlu kita tinjau secara hukum.

Keeseokan harinya, Rabu tanggal 19 Desember 2014 mereka ber-enam di BAP bersama 42 orang warga Dusun Ketapang yang juga ditangkap secara paksa pada hari Selasa tanggal 18 Februari 2014, tepatnya pada pagi hari. Setelah selesai di BAP, maka 4 orang warga Dusun Sukamulia atas nama (Abharudin, Amaq Elsa, Amak Tantowi dan Sanusi) beserta 36 orang warga Dusun Ketapang dipulangkan.

Sedangkan dua orang Warga Sukamulia atas nama Haji Dewi dan Amaq Bayu dipastikan ditahan beserta 6 orang Dusun Ketapang.

Hingga hari ini (Sabtu, 24 Februari 2014) mereka masih masih ditahan dan tidak ada informasi tentang keberadaan mereka, pasalnya jika ada warga Ketapang dann Dusun Sukamulia yang datang menjenguk mereka, maka mereka akan ditangkap dan di BAP, sehingga belum ada kerabat dan keluarga yang berani menjenguknya.

*disadur dari entri yang diposkan Awenk Tanama Putra di grup Front Mahasiswa Nasional. Disunting dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Comments
2 Responses to “Kronologi Kekerasan Polisi dalam Kasus Penolakan Tambang Pasir Besi di Pohgading Timur dan Pringga Baya Utara”
  1. Halilintar Gelegar mengatakan:

    Pada saat massa menghadang mobil Polisi kemudian melakukan pengrusakan terhadap mobil Avanza itu lantas menyandera seorang angorta Polisi itu kok masyarakat lakukan dengan enjoy tidak resah. Kenapa setelah Polisi melakukan penangkapan-penangkapan kok masyarakat resah ? Jangan di dramatisirlah. Kalo massa melakukan perusakan2 dan penganiayaan terhadap aparat seakan-akan itu wajar. Tapi kalo aparat yang melakukan tindakan hukum dikesankan seolah-olah meresahkan masyarakat.

    • bumirakyat1917 mengatakan:

      Pandangan Halilintar keliru karena tidak melibatkan aspek ekonomi politik. Permasalahan bukan pada pengerusakan kendaraan namun pada biasnya pemerintah (beserta aparatusnya baik polisi maupun militer) yang lebih berpihak pada kelas penguasa daripada kepada rakyat dan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: