Marxisme dan Intelektual

Marxisme dan Intelektual copy

Lebih dari lima puluh orang hadiri peluncuran Jurnal IndoProgress edisi III pada Senin 2 Juni 2014 di Sports Club, UB, Malang. Setelah dua kali mengalami penolakan peminjaman tempat oleh birokrasi dan pejabat kampus UB baik di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) maupun Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) dengan alasan larangan penyebaran ajaran Marxisme-Leninisme dan alasan-alasan teknis lainnya, tidak bisa dipungkiri antusiasme terhadap gagasan-gagasan Marxis terus tumbuh membesar.

Acara yang diselenggarakan IndoProgress bekerjasama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dianns dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB), Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) atau Pusat Studi Budaya dan Garis Depan, Jurusan Sosiologi UB, dan Jurusan Antropologi UB ini menghadirkan Windu Jusuf dan Berto Tukan selaku editor IndoProgress serta Danny S. Soetopo selaku para pembicara dalam peluncuran jurnal sekaligus diskusi bertemakan “Potret Pemikiran Kritis di Ruang Akademik Indonesia”.

Windu Jusuf mengawali diskusi dengan menjelaskan sejarah lahirnya IndoProgress. “IndoProgress awalnya didirikan Coen Hussain Pontoh, mantan anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD), ketika PRD pecah, ia kemudian termasuk orang-orang yang kemudian mendirikan Perhimpunan Rakyat Pekerja—yang dikemudian hari menjadi Partai Rakyat Pekerja (PRP), ia kemudian berkuliah di Amerika, dan selanjutnya dari sana terbersit gagasan untuk mendirikan IndoProgress.”

Windu melanjutkan, “Berdirinya IndoProgress didasari oleh adanya beberapa problem dalam gerakan kiri. Mengapa gerakan kiri yang tumbuh di Indonesia pasca 98, tidak mengalami kemajuan teori. Selama ini selalu bicara praksis namun tanpa teori yang jelas. Padahal tanpa adanya teori yang jelas saja saja melakukan praktek tanpa melihat realitas yang harus diatasi sebagai problem. Meskipun tentu saja selain itu juga ada problem lain. Perpecahan, misalnya. Gerakan kiri di Indonesia terpecah-pecah.[1] Sudah begitu massanya kecil pula. Jadi kami membuat IndoProgress untuk menjembatani antara kalangan akademisi kritis dengan kalangan gerakan. Bagaimana akademisi yang sering dipandang di balik meja bisa berhubungan dengan aktivis yang berorientasi praktek. Kesimpulannya IndoProgress adalah ajang belajar bahkan tidak satupun penulisnya yang dibayar.”, ungkapnya. “Mungkin dari sini kita bisa tanya-jawab dan diskusi.”, tawarnya.

Menanggapi hal tersebut, Lucky Harry, salah satu peserta diskusi melontarkan pertanyaan pada Windu. “Disini kita bicara soal hubungan antara Intelektual dan gerakan perjuangan kelas. Bagaimana para penulis atau katakanlah kaum intelektual yang berkumpul di IndoProgress memosisikan dirinya dalam perjuangan kelas? Apakah seperti para intelektual Institut untuk Penelitian Sosial (Madzhab Frankfurt) yang mana terus berkutat dan berfokus sepenuhnya pada kerja-kerja intelektual seperti riset, penelitian, analisis, menulis esai, artikel, jurnal, mengadakan seminar dan simposium, ataukah seperti para ahli teori sekaligus pimpinan partai atau organisasi revolusioner, ambillah contoh seperti Socialist Alternative di Australia atau Socialist Workers Party di Inggris, yang mana mereka tidak hanya rutin menulis ulasan dan analisis dalam terbitan-terbitan organisasi seperti koran atau majalah, menulis dan menerbitkan jurnal Marxis enam bulan sekali, namun juga terlibat dalam kerja-kerja praktek seperti mengumpulkan petisi, menjaga stan-membagi-bagikan selebaran, mengadakan forum diskusi, mengorganisir kelompok baca, ikut dalam demonstrasi, bahkan juga mendatangi buruh-buruh yang mogok sambil menawarkan koran, mengajak mereka diskusi, bahkan mengajak bergabung jadi anggota, dan sebagainya. Bagaimana posisi IndoProgress dan apa penjelasannya?”

Windu menjawab, “Secara normatif, pembagian kerja selalu ada: pembagian kerja dengan otak dan kerja dengan otot. Memang Gramsci mengatakan bahwa kaum intelektual itu bisa dibagi dua: ntelektual organik (yang turun ke jalan) dengan intelektual tradisional (hanya tinggal di balik meja atau di kampus). Namun kita harus bertanya jangan-jangan selama ini justru praktek atau turun ke jalan itu yang jadi comfort zone kita. Jangan-jangan selama ini orang takut dicap sebagai intelektual organik. Lagi-lagi disini definisi praksis dan turun ke jalan jadi perbedaan penting.”, tegasnya.

Dari sini sebenarnya pandangan Windu yang mengkritik praktek berlebihan dan mengabaikan pendalaman teori senada dengan kritik Militan Indonesia terhadap Tendensi Super Aktivisme. Militan menulis, “Usaha belajar dan mendalami teori sering dicemooh sebagai aktivitas intelektual, dan para Kiri kita lebih suka beraktivis-ria turun ke jalan, berorasi, mengorganisir massa, untuk “merakyat” katanya. Alhasil teori Marxis di Indonesia bukannya dikembangkan oleh para pejuang revolusioner itu sendiri…”[2] Namun ini segera berujung pada perbedaan tajam di antara IndoProgress dengan Militan dimana Windu mengonfirmasikan posisinya dan IndoProgress sebagai himpunan intelektual Marxis yang berfokus sepenuhnya di balik meja.

Tentang ini Windu menjelaskan, “Sekarang melihat kaum intelektual kiri kita harus mengingat Marx. Marx dalam Kapital menulis, cara terbaik perhatikan evolusi adalah melihat spesies yang paling maju dengan spesies paling rendah. Sama halnya dengan gerakan, ibaratnya kaum kapitalis itu evolusinya sudah jadi manusia, gerakan kiri itu masih dalam bentuk monyet. Kelompok-kelompok kanan, atau kelompok-kelompok kanan misalnya. Apakah mereka punya intelektual yang fokus di balik meja? Apakah mereka punya intelektual yang tidak terlibat dalam praktek atau demonstrasi misalnya. Ya. Mereka punya ideolog dan intelektual seperti itu. Pertanyaannya mengapa di gerakan kanan itu tidak pernah dikritik sebagaimana kritik yang dialamatkan kepada intelektual gerakan kiri. Tanpa adanya intelektual kiri, gerakan kiri tidak benar-benar tahu mengenai planning ke depan. Bagaimana selanjutnya setelah demo selesai? Bagaimana selanjutnya setelah menduduki pabrik? Hal ini jadi problem di gerakan kiri kita yang akhirnya hanya tahu soal demonstrasi, gerebek pabrik, dan semacamnya. Padahal justru intelektual kiri yang diam di belakang meja yang kita perlukan. Pembagian intelektual dan aktivis apakah harus kita amini? Kalau intelektual harus kita amini sebagai “mind labour”. Dikotonomi intelektual-aktivis/orang lapangan telah terjadi dan mapan di organ-organ gerakan kanan seperti PKS, HTI, dan Freedom Institute. Kenapa ide-ide kanan gampang diterima di kanan sementara ide-ide kiri susah diterima. Sederhana: karena kita gagal membangun perjuangan akademis. Kanan memang tidak perlu berjuang untuk itu karena sudah mapan.”, ujarnya.

Windu melanjutkan, “Sedangkan sebaliknya saya tidak melihat perjuangan di ranah akademik atau di ruang-ruang kelas. Bagaimana para pemikir sayap kanan begitu mapan sementara kiri sulit berkembang. Memang peristiwa 65 ada pengaruhnya namun tidak mutlak karena itu. Kita bandingkan di Rusia pada saat Lenin hidup dan bergerak, Marxisme selalu dilarang tapi lantas kenapa Marxisme bisa berkembang? Karena itu saya pikir tidak ada gunanya telalu menyalahkan peristiwa 65. Sekarang pertanyannya bagaimana bisa mengartikulasikan pemikiran Marxis tanpa membawa jargon-jargon praxis?”, lontarnya.

Pandangan dan kesimpulan Windu demikian bertolak dari permasalahan mengenai rendahnya pemahaman teori-teori Marxis di antara kaum aktivis yang berbanding terbalik dengan tingginya intensitas praktek. Namun sayangnya Windu tidak mengangkat pertanyaan mendasar: mengapa pemahaman Marxisme di antara kaum aktivis kiri begitu rendah? Apakah karena bacaan-bacaan Marxis sulit didapat? Apakah karena teori-teori yang ditulis dari Marx sampai Lenin jarang ada dalam bahasa Indonesia? Apakah karena Resist Book, Ultimus, Marjin Kiri, Bintang Nusantara, dan penerbit-penerbit kiri lainnya tidak punya jangkauan luas? Apakah karena para aktivis kiri malas membaca? Ataukah karena kelompok-kelompok kiri di Indonesia pasca Orde Baru tidak intensif mengorganisir kelompok bacaan Marx-Lenin? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, termasuk pertanyaan berapa banyak dan berapa sering anggota-anggota kelompok kiri membaca “Kritik terhadap Ekonomi Politik”nya Marx, “Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah”nya Engels, “Ideologi Jerman” tulisan Marx dan Engels, “Manifesto Komunis” karya bersama Marx dan Engels, “Asal Usul keluarga, Hak Milik Pribadi, dan Negara”nya Engels, “Kapital”nya Marx, “Pemogokan Massa”nya Rosa Luxemburg, “Reformasi atau Revolusi”nya Luxemburg, “Apa yang Harus Dilakukan”nya Vladimir Lenin, “Negara dan Revolusi”nya Lenin, “Imperialisme Tahapan Tertinggi Kapitalisme”nya Lenin, “Tesis April”nya Lenin, serta bacaan-bacaan Marxisme lainnya, termasuk sejauh mana memahaminya dan mampu menjelaskannya, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang di awal sekali harus dijawab sebelum mengambil kesimpulan dan menawarkan usulan-usulan pemecahan.

Diakui atau tidak tradisi membaca dan mendiskusikan teori Marxis masih sangatlah kurang. Tradisi ini yang sebenarnya harus dibangun secara kokoh sebagai landasan terlebih dahulu. Lenin sendiri menyampaikan, “tidak ada praktek revolusioner tanpa teori revolusioner.” Kita harus menggaris bawahi dua kali bahkan tiga atau empat kali pernyataan Lenin demikian dengan pemahaman bahwasanya teori (revolusioner) merupakan analisis-analisis dan kesimpulan-kesimpulan dari praktek juga. Intinya terdapat hubungan dialektis antara teori dan praktek. Banyak sekali kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang sudah dikritik, diblejeti habis-habisan, dan dibantah dalam teori-teori Marxis sejak puluhan dan ratusan tahun lalu bahkan sejak Marx masih hidup. Mempelajari teori-teori tersebut tidak hanya diperlukan agar tidak mengulang kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan di masa lalu namun sepenuhnya dibutuhkan sebagai kompas perjuangan kelas. Bahkan Partai Komunis Uni Soviet (PKUS), sebagai transformasi dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR) faksi Bolshevik prosesnya juga dimulai dari kelompok Emansipasi Buruh[3] serta Liga Emansipasi Perjuangan Kelas Buruh[4] yang menerjemahkan dan mengorganisir lingkaran-lingkaran diskusi Marxisme.

Dengan demikian secara garis besar, sebenarnya proses pertumbuhan organisasi politik revolusioner, berawal dari kelompok diskusi, grup propaganda, kemudian partai. Kelompok diskusi berperan penting untuk membangun pemahaman teori-teori Marxis di antara para aktivis (serta rekrutan-rekrutannya). Saat forum diskusi ini berkembang dengan stabil bahkan pesat, dengan berhasil membangun kader-kader yang paham sepenuhnya dan menguasai teori-teori Marxisme serta keanggotaannya meningkat banyak dan berhasil merekrut anggota-anggota yang tersebar dalam berbagai serikat buruh maka forum diskusi bertransformasi menjadi grup propaganda dimana fungsinya secara lebih luas dan massif melakukan analisis-analisis terhadap perkembangan situasi internasional-nasional-lokal, menyebarluaskannya dalam bentuk agitasi dan propaganda ke rakyat pada umumnya (baik melalui terbitan organisasi maupun intervensi dalam demonstrasi dan diskusi), serta mengerahkan anggota-anggota dari kelas buruh yang tersebar ke berbagai serikat buruh dan mendorong mereka untuk mengemukakan dan memenangkan perspektif revolusioner tersebut. Bilamana perkembangan ini berjalan baik dengan kuantitas-kuantitas yang semakin meningkat akan mengantarkan pada perubahan kualitatif berupa transformasi dari grup propaganda menjadi partai kelas buruh yang bukan sekedar nama namun benar-benar memiliki basis kuat di kelas buruh. Pada tahapan partai kelas buruh revolusioner ini, organisasi sudah memiliki anggota-anggota yang tidak hanya cakap dan menguasai Marxisme namun juga sudah tergembleng dalam perjuangan teori, perjuangan ekonomi, dan perjuangan politik, yang tersebar ke berbagai sektor industri kelas buruh, dan secara organisasional memainkan peran kepemimpinan dalam perjuangan kelas. Tentu saja hal ini berkembang secara dialektis sesuai dinamika yang dihadapi organisasi tersebut.

Kembali pada soal Intelektual dan Aktivis perjuangan kelas, hubungan keduanya adalah hubungan dialektis. Bukan hubungan yang sepenuhnya dan selamanya terpisah. Tentu tendensi super aktivisme harus dikikis dan dihapus serta kita harus membangun tradisi membaca teori dengan kokoh baik itu mewajibkan membaca minimal dua jam per hari maupun sampai mengurangi kegiatan untuk dialokasikan untuk memahami teori. Namun di sisi lain, membangun lingkaran intelektual Marxis yang sepenuhnya dan selamanya terpisah secara eksklusif dari praktek perjuangan kelas juga berbahaya.

Mengapa pemisahan mutlak antara intelektual di balik meja dan aktivis yang berpraktek di sayap kanan tidak dikritik sekeras di sayap kiri? Untuk menjawab ini kita harus memahami bahwa gerakan sayap kanan mulai dari politik agama, liberalisme, fasisme, dan sebagainya, berdasarkan ideologi yang menjadi selubung palsu yang mengaburkan dan menghalangi pandangan terhadap kenyataan yang sesungguhnya. Contoh berikut sangatlah terlalu menyederhanakan dan kurang memadai namun setidaknya bisa dijadikan gambaran sekilas. Ambillah politik agama yang memandang permsalahan dunia disebabkan oleh kontradiksi pokok adalah antara kesalehan dan dosa serta penganut agamanya dengan kaum kafir (the infidels), nasionalisme dan sauvinisme yang memandang kontradiksi pokok adalah antara bangsa sendiri dengan bangsa asing, atau fasisme yang memandang kontradiksi pokok ada pada ras sendiri dan ras musuh, dan seterusnya. Dengan kata lain, Ideologinya, sebagaimana dikatakan Marx, adalah pandangan terbalik terhadap kenyataan. Persis seperti kamera obscura dimana bayangan kenyataan yang masuk kamera jatuh terbalik.

Mengatakan bahwa pemisahan kerja teori dan praktek di sayap kanan sebagai sesuatu yang tidak pernah dikritik juga tidak tepat. Jauh-jauh hari, Ted Grant dan Alan Woods, menulis dalam Reason and Revolt “Perceraian antara teori dan –praktek di masyarakat masa kini telah menjadi sangat berbahaya. Watak yang semakin lama semakin fantastik dari “teori-teori” yang diedarkan oleh beberapa kosmolog dan fisikawan teoretik jelas merupakan sebuah konsekuens dari fakta ini. Setelah dibebaskan dari keharusan untuk memperlengkapi teori mereka dengan bukti konkret, dan semakin bersandar pada persamaan yang rumit dan interpretasi yang ajaib dari teori relativitas, hasil dari pemikiran yang sepenuhnya spekulatif ini semakin hari semakin mengejutkan.”, papar mereka.

Untuk memahami lebih terperinci, kita terpaksa mengutip Woods dan Grant dengan agak panjang:

Untuk waktu yang cukup lama orang dengan diam-diam beranggapan bahwa kaum ilmuwan – khususnya para ilmuwan fisika teoretik – adalah jenis manusia unik, yang berdiri di luar persoalan-persoalan kemanusiaan sehari-hari, dan dianugerahi keistimewaan agar dapat mengorek misteri alam semesta…Para ilmuwan dan para intelektual lainnya tidaklah kebal dari kecenderungan umum yang bekerja di tengah masyarakat. Fakta bahwa kebanyakan dari mereka tidaklah mengambil kepedulian dalam politik dan filsafat hanya berarti bahwa mereka akab lebih mudah jatuh dalam perangkap prasangka-prasangka yang mengepung mereka. Sudah terlalu sering ide-ide para ilmuwan ini ditunggangi untuk mendukung posisi politik yang paling reaksioner. Ini sangat jelas terjadi dalam bidang genetika dimana satu kontra-revolusi yang ganas telah terjadi di Amerika Serikat. Teori-teori yang disebut ilmiah telah digunakan untuk “membuktikan” bahwa kriminalitas disebabkan, bukan oleh kondisi sosial, bukan karena adanya diskriminasi, melainkan oleh karena adanya “gen kriminal”. Kaum kulit hitam disebut tidak beruntung, bukan karena mereka mengalami diskriminasi, melainkan karena kekurangan genetik mereka. Argumen yang sama digunakan juga untuk orang-orang miskin, perempuan-perempuan yang mengasuh sendiri anaknya, kaum perempuan secar umum, kaum homoseksual, dan lain-lain. Tentu saja, “ilmu” semacam itu sangatlah berguna bagi Kongres yang didominasi oleh orang-orang Republik, yang sangat bergairah untuk memotong anggaran kesejahteraan rakyat.”[5]

Tentu saja Marxisme berbeda dengan ideologi dan gerakan sayap kanan. Marx menyatakan bahwasanya Marxisme atau Komunisme merupakan teori kelas buruh, teori yang sepenuhnya ilmiah. Banyak ahli teori borjuasi menentang pandangan ini. salah satunya Karl Mannheim, yang menyatakan bahwasanya hubungan suatu teori dengan satu golongan sosial tersebut berujung pada kesimpulan bahwa Marxisme bukan ilmu karena tidak obyektif. Ini tentu tidak benar mengapa Marxisme sebagai teori kelas buruh memiliki hakikat ilmiah secara inheren? Karena kelas buruh, sebagai kelas yang ditindas berkepentingan untuk memahami bagaimana dunia dan kenyataan itu sebenarnya, bagaimana penindasan itu beroperasi, serta bagaimana mengubah dan menghapuskan penindasan demikian. Tentu dalam proses sepenuhnya memahami dunia dan kenyataannya demikian bisa berbahaya kalau dilakukan oleh kaum intelektual Marxis yang sepenuhnya dan seterusnya memisahkan diri dari praktek dan aktivis perjuangan kelas. Bahkan menggarisbawahi tak terpisahkannya hubungan teori dan praktek, Lenin sendiri mengatakan, “bobot satu ons pengalaman bisa sama dengan satu ton teori.”

Alvin, salah seorang peserta diskusi sekaligus anggota Komunitas Kembang Kertas (KOBAR), menambahkan tanggapan terhadap isu teori, praktek, dan posisi intelektual. “Saya teringat dengan kata-kata Ucok Homicide mengenai generasi yang hanya berkutat dalam internet. Turun ke jalan itu penting. Gerakan kiri sangat kecil memang. Namun kalau kita amini tadi akhirnya basis massa malah menjelma jadi basis intelektual. Jadi pekerjaan akademik, bacaan, dan tulisan saja. Untuk menerjemahkannya, tentu harus turun ke jalan.”, tekannya. “Hari ini kita ribut propagandakan intelektual namun kenyataannya kini media sosial, laman internet, lini masa, menjadi kemudahan yang pada akhirnya membuat terlalu nyaman.”, lanjut mahasiswa Teknik UB ini.

Windu Jusuf membalas pertanyaan ini dengan mengambil contoh perbandingan Jurnal Prisma pra breidel Orde Baru dengan Jurnal Prisma yang diterbitkan kembali. Windu memaparkan, “Jurnal Primsa terbit sejak tahun 70an sampai dibreidel saat menjelang reformasi. Terbit lagi antara tahun 2008 – 2009. Tapi sekarang gaungnya mana? Kenyataannya tulisan-tulisan Prisma susah ditemukan dalam internet. Harus beli kalau mau baca tulisannya. Karena basisnya cetak. Prisma hilang dari perdebatan publik. Gerakan kiri atau gerakan mana yang tidak memanfaatkan internet? Internet bermanfaat untuk rutin turunkan tulisan, analisis, dan sebagainya. Apakah kemudian kemunculan HTI di dunia Internet menyurutkan militansi anggotanya? Tidak. Sekarang kita harus bertanya jangan-jangan justru zona nyaman itu praksis itu sendiri.”, lontarnya.

Windu melanjutkan, “Fungsi kerja-kerja intelektual itu sederhana: riset-kerja-riset. Itu yang dilakukan PKI di tahun 50an, 60an, untuk mendukung program reforma agraria. Sangat kuat datanya. Sampai kemudian melahirkan dokumen MIRI (Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia). Meskipun dalam banyak hal MIRI itu sangat lemah (misalkan pola kepemilikan tanah di Jawa disamakan dengan di Bali). Selama ini kita terjebak dalam ilusi-ilusi heroik. Sangat 90an, sangat Seattle. Meskipun ada juga akademisi ngehek, kerja intelektual juga merupakan kerja penting yang tidak bisa dihindari. Pembagian kerja intelektual dan aktivis itu merupakan keniscayaan pembagian kerja otak dan kerja badan. Kita tinggal meneruskannya . Kalau latar belakang lu sekarang akademisi, ya, kerja akademisi itu wilayah kerja lu, kalau lu aktivis, ya, praktek itu wilayah kerja lu, begitu.”, pungkasnya.

Terkait ini, Bunga, moderator diskusi kemudian melontarkan pertanyaan sekaligus kekhawatiran senada dengan yang disuarakan Alvin, “Namun bagaimana kalau misalnya gerakan sosial akhirnya malah murni berbasis internet, sekedar isi petisi change.org, ramaikan hashtag atau tanda pagar di Twitter? Apakah ini memang penyakit kelas menengah ngehe?

Menanggapi ini Berto Tukan mengatakan, “Kami memang tidak bermaksud menyarankan gerakan itu cuma di internet. Saya lebih melihat internet itu menawarkan kelebihan dalam hal-hal tertentu. Di jaman Lenin, koran Iskra itu terbit satu kali tidak cukup untuk ketahui perkembangan, dengan internet itu justru tidak jadi masalah. Kita malah bisa meng-update perkembangan setiap saat. Kesimpulannya internet punya sisi baik. Saya lebih melihat internet menawarkan kemudahan. Memang dalam hal-hal tertentu butuh kerja nyata. Itu tidak bisa dipungkiri. Selain juga ada kecenderungan orang jadi sendirian secara bersama-sama tinggal namun itu tinggal kita menyiasatinya bagaimana.”, ujarnya pria kelahiran Larantuka ini.

Danny Sutopo turut urun bicara. “Sepakat dengan Windu dan Jusuf, kritis tidak harus turun ke jalan. Kalau saat ada di dunia akademik selalu harus dituntut teriak-teriak, dan turun ke jalan, kapan belajarnya?”, tanyanya. Danny juga menekankan pentingnya kerja-kerja intelektual. Namun menurutnya tidak hanya dalam perumusan analisis atau tulisan melainkan sebagai suatu proses dialektis, dari meningkatkan pemahaman dengan bersumber pada teori kritis, merumuskannya dalam kerja intelektual, serta kemudian menerjemahkannya dalam bentuk sikap kritis.

Lebih rinci Danny menjelaskan, “Program akademis kita mulai saat jadikan bacaan sebagai referensi intelektualitas agar bersikap kritis sehingga kita tidak berakhir dalam kondisi kritis…Berangkat dari gejolak-gejolak keprihatinan, kita tuangkan dalam argumen-argumen ilmiah yang kritis dan kemudian kita terbitkan, salah satunya melalui IndoProgress” Selanjutnya ia menegaskan, “Kita menunjukkan karya buah pemikiran kritis itu tidak harus turun ke jalan tapi kalau tidak turun ke jalan juga akan terjebak dunia akademik. Jadi tidak harus jadi demonstran untuk berpikir kritis tapi kalau tidak tahu apa itu demonstran tidak akan bisa menerjemahkan sikap kritisnya itu tadi.”, imbuhnya. Titik ini adalah dimana Danny berbeda pandangan dengan Windu dan Berto.

Menanggapi hal ini Bunga menyatakan bahwasanya hambatan berpikir dan bersikap kritis di dunia akademis malah datang dari kampus, khususnya pejabat/birokrasi kampus itu sendiri. “Kita diancam DO, lah, kena SPP Progresif, lah, dan sebagainya. Bagaimana tanggapannya soal masalah ini?”

Danny menjawab bahwa kita harus mempertanyakan sistem pendidikan kita selama ini, apa orientasi kampus mendidik mahasiswa, mau jadi apa mahasiswa kelak ketika diluluskan. “Jangan-jangan mahasiswa malah jadi ternak untuk dikonsumsi pasar?” ujarnya. Ia kemudian melanjutkan dengan menegaskan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa saat kita berpikir dan bersikap kritis kita akan terbentur kondisi kampus dan tekanan birokrasi. “Namun kalau mengamini hal ini, ya, tidak akan ada perubahan.” Disini menurut Danny justru kita harus mempercepat progresi dengan menggunakan setiap kesempatan, termasuk kelas dan tugas perkuliahan. “Bikin paper yang kritis.Bikin skripsi yang kritis. Memang ada saja para pembimbing yang kemudian menyatakan Marxisme sudah usang, kenapa pakai, dan semacamnya tapi perlu dihadapi saja.”, tekannya.

Salah seorang peserta diskusi, Vindy, kemudian menanggapi. “Saat ini masalahnya di antara para akademisi di Indonesia tidak ada akademisi yang berpraksis. Akademisi terlalu angkuh untuk turun ke jalan sementara di sisi lain aktivis lemah dalam hal literasi.”, keluhnya.

Dua hal ini sebenarnya berkaitan dengan soal bagaimana memulai perjuangan dengan berdasarkan sektor masing-masing, dalam hal ini termasuk sektor pendidikan, dan tak bisa dilepaskan dari soal membangun serta menggunakan organisasi massa sebagai instrumen perjuangan[6] baik berupa serikat pekerja pendidikan maupun organ-organ mahasiswa. Disini kita harus menggarisbawahi sebelum melancarkan perlawanan di sektor pendidikan, kita harus menyadari bahwa perlawanan tersebut tidak bisa bersandar sepenuhnya pada individu-individu tak teorganisir maupun pada spontanitas revolusioner. Jauh-jauh sebelumnya kita harus mengorganisir forum-forum diskusi, kelompok-kelompok bacaan kritis, mengenai apa itu kapitalisme dan bagaimana kapitalisme beroperasi di dunia pendidikan, menggunakan teori-teori Marxis dan analisis kelas sebagai pisau bedah untuk mengurai permasalahan, menyebarluaskan wacana, membangun kesadaran, kemudian merekrut lebih banyak anggota sembari melakukan kerja-kerja investigasi di sektor pendidikan, membaca hak-hak di sektor pendidikan dan bagaimana kondisi nyatanya, dan seterusnya. Sampai pada titik kemajuan bisa berubah menjadi organisasi massa, baik berupa serikat buruh pendidikan maupun organisasi massa mahasiswa, yang siap menempuh praktek perjuangan dengan tuntutan dan skala perjuangan sesuai kapasitas dan kemampuannya saat itu.

Mudah saja bagi pejabat dan birokrasi kampus menghadapi segelintir mahasiswa yang berdemo atau sejumlah kecil pekerja kampus dianggap membangkang. Mengintimidasi satu dua orang dengan ancaman DO atau PHK memang mudah namun tidak akan mudah bila puluhan atau bahkan ratusan pekerja kampus dan mahasiswa yang bergerak. Patut diakui bahwa memang sampai saat ini belum ada serikat bagi pekerja di sektor pendidikan, baik itu serikat pekerja administrasi, serikat buruh di kampus, maupun serikat pengajar dan dosen. Berbeda dengan di negara-negara kapitalis maju atau negara Imperialis seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, yang mana mulai tingkat sekolah sampai kampus, semuanya memiliki serikat yang mengorganisir dan memperjuangkan para pekerja di sektor pendidikan. Nah, di dalam serikat-serikat ini jugalah, kaum intelektual atau kaum akademisi, harus berada. Bukan hanya di balik meja saja.

Banyak contoh dari para intelektual Marxis yang juga terlibat dalam praktek. Baik sebagai anggota serikat, anggota organisasi revolusioner, dan atau terlibat dalam berbagai kampanye-kampanye melawan penindasan. Ada Rick Kuhn seorang dosen di Universitas Nasional Australia, anggota National Tertiary Education Union (Serikat Pendidikan Tinggi Nasional), sekaligus anggota Socialist Alternative. Stuart Hall, seorang dosen sekaligus profesor di Open University di Inggris tidak hanya mengembangkan teori-teori Marxis di dunia pendidikan, seperti analisisnya mengenai Imperialisme Linguistik, namun juga terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi, terlepas kita setuju atau tidak dengan pandangannya. Tak lupa juga ada Max Lane salah seorang anggota penting Democratic Socialist Perspective (DSP) dan Revolutionary Socialist Party (RSP) sekaligus dosen Universitas Victoria yang juga mengajar secara reguler di Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Gajah Mada. Serta sederet contoh lainnya, yang menegaskan bahwa dikotomi sepenuhnya dan seterusnya dari kaum intelektual dengan aktivis merupakan gagasan yang tidak tepat.

*disarikan dari transkrip diskusi Peluncuran Jurnal IndoProgress serta Diskusi Potret Pemikiran Kritis di Ruang Akademik Indonesia yang diadakan pada Senin 2 Juni 2014 di Universitas Brawijaya, Malang.

 

[1] Gerakan Kiri di Indonesia secara garis besar terbagi setidaknya ke dalam delapan organisasi berbeda. Pertama, Partai Rakyat Demokratik (PRD), satu-satunya partai kiri yang muncul di bawah rezim Orde Baru pasca Pembantaian 65 dan kini mengalami degenerasi parah serta semakin bergeser jauh ke kanan. Kedua, Partai Pembebasan Rakyat (PPR) semula bernama Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD) berperan sebagai oposisi terhadap degenerasi, oportunisme, dan pergeseran PRD ke kanan, kemudian memisahkan diri sepenuhnya dari PRD. PPR memiliki hubungan dekat dengan PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional), organ mahasiswa yang dulunya bernama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM). Ketiga, Politik Rakyat, pecahan dari PPR, memiliki hubungan politik dan banyak aktivisnya merupakan anggota Perempuan Mahardhika. Keempat, Partai Rakyat Pekerja (PRP), awalnya bernama Perhimpunan Rakyat Pekerja, suatu organisasi yang didirikan oleh bekas-bekas anggota PRD . Kelima, Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP), awalnya bernama Komite Penyelamat Organisasi Perhimpunan Rakyat Pekerja, pecahan dari PRP. Keenam, Front Perjuangan Rakyat (FPR) aliansi programatik berdasarkan garis Demokratis Nasional (Demnas) dengan Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) dari sektor buruh, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dari sektor tani, Front Mahasiswa Nasional (FMN) dari sektor mahasiswa, Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI) dari sektor perempuan, dan ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia) dari sektor buruh migran. Ketujuh, Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), organisasi aliansi yang banyak menarik teori-teori dari Tan Malaka, banyak pimpinannya merupakan mantan-mantan anggota sekaligus memiliki kedekatan ideologis dengan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI). Kedelapan, Militan Indonesia, seksi Indonesia dari organisasi Trotskyis: International Militan Tendency (IMT), penggagas Hands Off Venezuela dan Toko Buku Buruh Membaca, serta memiliki hubungan kedekatan politik dengan Serikat Perjuangan Pemuda Kristen untuk Sosialisme Indonesia (SPARTAKUS INDONESIA).

[2] Lih. Hal 11 dari Perspektif Marxis Pemilu 2014—Kritik, Analisa, dan Tugas Kita (Seri Pendidikan Militan Indonesia), April 2014.

[3] Kelompok Emansipasi Buruh merupakan kelompok Marxis yang pertama di Rusia. Kelompok ini dibentuk oleg Georgi Plekhanov, Vera Zasulich, Paul Axelrod, dan Leo Deutsch pada tahun 1883. Kelompok ini mengerjakan penerjemahan teks-teks Marx, Engels, serta karya-karya Marxis lainnya dalam jumlah sangat massif dan mendistribusikannya ke Rusia. Hal ini kemudian tidak hanya membuat Marxisme menjadi saingan sengit ideologi Narodisme namun juga memberikan sumbangsih besar bagi landasan tumbuhnya gerakan perjuangan kelas revolusioner di Rusia. Lenin sendiri menulis bahwa kelompok ini, “meletakkan fondasi-fondasi teoretis bagi gerakan Sosial Demokratis dan mengambil langkah pertama menuju gerakan kelas buruh di Rusia.” Kelompok ini kemudian disusul oleh Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh yang didirikan Lenin.

[4] Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh dibentuk oleh Lenin pada musim gugur tahun 1895 dengan mempersatukan sekitar dua puluh lingkar studi buruh Marxis di St. Petersburg. Kerja-kerha Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh diorganisasikan berdasarkan prinsip-prinsip sentralisme dan disiplin ketat. Kelompok-kelompok ini dikepalai oleh Kelompok Sentral di bawah arahan Lenin. Desember 1895, pemerintahan Tsar melayangkan pukulan keras dimana pada malam 8 Desember 1895 sejumlah anggota Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh, termasuk Lenin, ditangkap. Edisi pertama koran Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh yang berjudul Rabocheye Dyelo (Harian Buruh) yang siap dicetak disita aparat Tsar. Selama dalam penjara Lenin terus memandu kerja Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh. Dia mengirim surat-surat dan leaflet-leaflet dari penjara yang ditulis dengan sandi. Salah satunya “Tentang Pemogokan” dan “Rumusan dan Penjelasan Program Partai Sosial-Demokratis”. Signifikansi Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh menurut Lenin adalah sebagai embryo partai revolusioner yang berbasiskan dukungan dari kelas buruh serta memimpin perjuangan kelas proletar. Anggota-anggota lama Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh yang berhasil melarikan diri dari penangkapan, di kemudian hari berpartisipasi dalam persiapan dan penyelenggaraan Kongres Pertama Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR) serta menulis Manifesto untuk Kongres. Bagaimanapun juga absennya para anggota pendiri Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh, khususnya Lenin yang sedang dalam pengasingan di Siberia, dalam jangka waktu lama, memberi celah bagi munculnya penyimpangan internal. Dalam paruh akhir 1898 kontrol terhadap Liga Perjuangan Emansipasi Kelas Buruh jatuh ke tangan kaum Ekonomis.

[5] Alan Woods dan Ted Grant, Reason in Revolt, Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern. Penerbit IRE Press. Penerjemah: Rafiq N., Cetakan I Januari 2006, Yogyakarta.

[6] Dalam “Apa yang Harus Dikerjakan”, Lenin mengutip Friedrich Engels yang pernah mengatakan bahwa perjuangan kelas tidak berlangsung di medan ekonomi dan medan politik saja namun juga di medan teori. Dengan demikian Engels menggarisbawahi bahwasanya salah atau bahkan mustahil untuk menceraiberaikan tiga medan perjuangan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: