Korupsi FIFA dan Brazil 2014 – Wajah Buruk Rupa Permainan Indah

FIFA Korup

Pengungkapan mengagetkan tentang beberapa pejabat Qatar yang secara sengaja telah menyuap FIFA untuk membeli suara yang memenangkan Qatar sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022, suatu kompetisi tertinggi di dunia sepakbola, sebenarnya tidak terlalu mengagetkan bagi siapapun.

Rumor-rumor demikian sudah menyebarluas semenjak proses voting itu sendiri berlangsung karena semakin lama semakin banyak orang khawatir mengenai bagaimana mungkin para eksekutif FIFA memilih Qatar sebagai tuan rumah penyelenggara dengan marjin besar 14 banding 8. Tawaran Qatar sebelumnya telah digarismerahi sebelum pengambilan keputusan oleh para pejabat FIFA karena mengandung banyak elemen beresiko tinggi di dalamnya, setidaknya karena ini hampir tidak merupakan pembangkit tenaga sepakbola dan turnamen itu akan dilaksanakan dalam temperatur 50 derajat celcius. Memang, terlepas dari segala kekhawatiran, tampaknya tak ada satupun yang sebenarnya mampu menjelaskan mengapa begitu banyak anggota eksekutif FIFA memilih Qatar dibandingkan negara-negara lainnya yang jauh lebih baik. Dengan seketika dugaan kecurangan muncul ke permukaan. Lagipula FIFA pernah punya bentuk demikian.

Apa itu FIFA

Jadi apa itu FIFA? Federation Internationale de Football Association adalah badan tingkat dunia yang bertanggungjawab atas sepakbola dan semua kompetisinya. Bermarkaskan di Zurich, dimana ia bisa bersembunyi di balik hukum-hukum keuangan Swiss, FIFA telah menjalankan kekuasaan mahadahsyat selama bertahun-tahun. Dikatakan bahwa badan kedua yang ingin diikuti negara manapun di dunia ini, setelah PBB, adalah FIFA. Bahkan badan pengorganisasian Olimpiade tidak punya bobot sebesar FIFA, meskipun tentu saja IOC juga punya skandal-skandal serupa.

Wajarnya, FIFA mengembangkan ikatan-ikatan kuat dengan sejumlah perusahaan besar selama puluhan tahun sebagai “keluarga FIFA” sebagaimana yang mereka suka gambarkan. Dengan hubungan-hubungan konglomerasi sedekat itu tidak perlu tunggu waktu lama untuk menunggu korupsi mendongakkan kepalanya. Pada tahun 2006 skandal “cash for contracts” meledak dan menyeret para pejabat FIFA dan ISL, partner pemasaran FIFA. Mantan presiden FIFA, Havelange, berulangkali terindikasi praktek suap hingga satu juta dolar.

Sepp Blater, bekas Sekretaris Jenderal, dan kini Presiden FIFA, juga ditegarai terlibat. Namun meskipun terkena semua dakwaan selama bertahun-tahun, Blatter berhasil lolos dan menikmati pemilihan ulangnya pada tahun 2002, 2007, dan 2011. Bagaimana dia bisa melakukannya? Kongres FIFA yang bertanggungjawab terhadap pemilihan para pejabat FIFA beroperasi di atas landasan satu negara satu suara. Jadi bahan negara terkecil punya bobot suara yang sama dengan katakanlah Prancis atau Italia.

Sekilas melihat laki-laki dan perempuan yang mengisi posisi para delegasi untuk kongres bisa memberitahu orang-orang macam apa mereka. Sebagian besar diantaranya tidak punya hubungan sama sekali dengan sepakbola atau olahraga dan semacamnya, namun sebaliknya punya hubungan berdasarkan nepotisme.

Tidak mengagetkan bahwa segera jelas bahwasanya Blatter dan lainnya memanen voting federasi-federasi nasional dari federasi-federasi nasional negara-negara yang lebih kecil, dengan insentif yang layak untuk menunjukkan bagaimana keluarga FIFA sepakbola menyayangi mereka sehingga mendapatkan suara yang diperlukan dalam kongres.

Dalam suatu badan yang penuh dengan kongkalikong, hanya masalah waktu sebelum seseorang memulai proses memenangkan voting Piala Dunia dengan cara-cara yang kurang cermat. Kita berusha diyakinkan bahwa hanya sedikit negara yang lebih layak menyelenggarakannya daripada Qatar. Begitu selangkah didepannya bekas wakil presiden FIFA, Mohamed Bin Hamman dan kucuran dana tiga juta poundsterlingnya, siap untuk membentuk suara para anggota Komite Eksekutif. Hamman ditendang dari FIFA setelah tertangkap basah mencoba menyuap para pemilih agar memilihnya sebagai presiden FIFA. Namun seperti biasanya FIFA enggan menginvestigasi kasus=kasus korupsi dengan lebih lanjut dan telah mencoba menghalangi upaya-upaya Michael Garcia, investigator FIFA, untuk mendapatkan bukti konkret. Bagaimanapun juga pengungkapan terkini pasti akan meningkatkan tekanan pada FIFA untuk bertindak, inilah yang menjelaskan upaya-upaya Blatter dalam bulan-bulan terakhir ini untuk menjaga jarak dari voting Qatar.

Brazil 2014: Pemogokan dan Protes

Wajarnya hal ini tidak akan punya dampak untuk menaikkan semangat para birokrat FIFA seiring Piala Dunia 2014 yang akan digelar di Brazil menghadapi protes-protes, demonstrasi, dan kericuhan organisasional. Media masih akan menjalankan perannya sebaik mungkin untuk menampilkan gambaran turnamen yang ceria dengan banyak foto anak-anak kecil tersenyum, menendang bola di pantai, dan gadis-gadis berdansa dengan goyang samba. Kenyataannya adalah anak-anak itu tidak akan tersenyum saat mereka kesulitan menemukan akanan dan gadis-gadis yang bergoyang samba akan turun ke jalan berdemonstrasi menuntut upah yang lebih layak.

Stadion-stadion baru saja dirampungkan dengan banyak sekali buruh kehilangan nyawa mereka dalam kecelakaan di tempat kerja akibat rendahnya standar keamanan, dan hotel-hotel telah mematok tarif-tarif setinggi langit siap menyambut kedatangan para pendukung sepakbola. Pemogokan dan demonstasi adalah tema nyata bagi Brazil 2014.

Jadi sentimen apa yang sedang berlaku di Inggris, negara yang (tak pernah putus-putusnya dikatakan) “menemukan” sepakbola? Dengan banyaknya rakyat Inggris yang tidak punya keyakinan bahwa tim nasional (timnas) Inggris akan membuat kemajuan riil di Brazil, tidak mengherankan bahwasanya “demam” Piala Dunia kali ini agak malah menghilang. Tidak ada omongan “generasi emas” tahun ini. Melihat begitu banyaknya uang dikucurkan ke “keluarga” FIFA, yaitu perusahaan-perusahaan, yang semuanya mengharapkan imbal balik investasi-investasi mereka, hal ini bukanlah kabar baik bagi mereka yang ingin menghidupkan kembali dunia finansial. Berita-berita buruk yang tak kunjung putus soal ini dan itu tidak akan menceriakan perasaan mereka.

Bola Uang

Mainan Orang Kaya

Sepakbola tampaknya dibanjiri dengan uang dari atas. Para “pebisnis” Amerika dan Rusia yang berbeda-beda telah membeli klub-klub Liga Primer dengan gila-gilaan dan negara-negara kaya minyak seperti Abu Dhabi dan Qatar (lagi!) juga telah menjamah klub-klub besar Eropa.

Sedangkan masyarakat pada umumnya selalu yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Saat kita melihat melampaui lapisan-lapisan teratas kita melihat semakin banyak klub-klub liga yang lebih rendah bersusahpayah bahkan untuk sekedar tidak pailit dalam menggaji para pemain dengan upah yang paling rendah, serta sering menghadapi ancaman konstan “melepaskan” para pemainnya pada akhir musim, dan meminta sumbangan.

Sementara itu para suporter sepakbola dirampok uangnya akibat harga-harga tiket yang semakin tinggi, buah tangan yang terlalu mahal, dan biaya-biaya lainnya yang bisa mengakibatkan biaya naik pesawat untuk mendatangi pertandingan besar nilainya bisa lebih dari seratus poundsterling. Tak heran banyak pemuda tidak lagi peduli, suatu proses yang sudah dikomentari dengan kekhawatiran mengenai semakin banyaknya suporter tua dan semakin sedikit suporter muda di berbagai lapangan.

Terlepas dari semua hingar bingar dari pers, media massa, tabloid, dan media macam Sky Sports, kenyataannya adalah banyak orang kini kecewa dengan pertandingan nasional. Segala sesuatunya tampaknya hanya tentang uang, yang berputar di Liga Primer kemudian ke Liga Champion (keduanya diciptakan untuk menghasilkan lebih banyak uang untuk klub-klub besar) satu-satunya prioritas bagi klub-klub top-flight kebanyakan. Lagipula, Cardiff City “memperoleh” lebih banyak uang dengan berada di posisi terbawah Liga Primer tahun daripada Manchester United yang memenangkan liga tahun kemarin, demikianlah permainan uang di industri ini.

Kompetisi-kompetisi besar seperti FA dan Piala Liga tampak terus merosot. Memang menurunnya Piala FA bisa diakibatkan oleh semua yang salah mengenai bagaimana pertandingan dijalankan kini. Pernah pada suatu ketika, bermain di Final Piala FA merupakan sorotan besar bagi karir seorang pemain bola. Pembicaraan mengenai permainan bola bisa mendominasi pikiran rakyat selama berminggu-minggu sebelum program-program pertandingan dan majalah-majalah sepakbola dijual di kios-kios. Hari itu jalanan Inggris akan sepi karena semua orang duduk menonton pertandingan sebagai suatu peristiwa nasional bersama. Kini hari-hari itu telah berlalu jadi sekedar waktu kick off petang awal dan diperlakukan sebagai sekedar pertandingan lain yang dengan cepat terlupakan. Harapan-harapan suporter diabaikan. Satu-satunya suara yang didengarkan adalah perusahaan-perusahaan TV dan konglomerasi.

Olahraga atau Industri?

Skandal manipulasi suara Piala Dunia: kongkalikong tanpa henti di FIFA; pengaruh merusak dari para pemodal di Liga Primer; eksploitasi tanpa henti terhadap para suporter yang diperlakukan sebagai kartu kredit berjalan; semuanya merupakan bagian dari permasalahan yang sama.

Sepakbola di tingkat nasional dan dunia adalah olahraga namun ia juga merupakan suatu industri, yang mendatangkan laba sangat besar bagi para pemiliknya dan semua parasit yang melekat kepadanya. Kini waktunya sudah tiba untuk merebutkembali sepakbola.

Klub-klub kita—dan mereka memang klub kita karena kita yang mendatangkan uang sehingga bisa mereka nikmati—harus diambilalih menjadi hak milik publik dan digunakan untuk kebaikan komunitas-komunitas lokal, dengan badan para pemain, pelatih, dan suporter yang dipilih secara demokratis dan secara kolektif memutuskan apa yang akan dilakukan. Bukan para konglomerat yang berbicara dari HP di kapal mewahnya di Med.

Badan-badan administratif sepakbola, baik di tingkat nasional maupun lokal, perlu dirombak total, kroni-kroni dan “preman-preman berdasi” yang ditendang keluar dan diganti dengan para pemain, pelatih, dan suporter yang dipilih secara demokratis yang mampu menjalankan badan-badan ini dengan cara yang seharusnya dijalankan. Bukan oleh klub-klub swasta yang menjadi hamba konglomerasi.

Tentu saja para tuan besar kapitalis yang menguasai sepakbola tidak akan pernah setuju dengan hal ini. Namun sekali lagi tugas kita bukanlah sekedar mereformasi sepakbola namun untuk mengubah masyarakat secara total di atas garis-garis sosialis. Kondisi pembusukan sepakbola hanyalah gejala lain pembusukan masyarakat kelas dan menggarisbawahi kebutuhan untuk memperjuangkan suatu program sosialis dan memberi kartu merah pada kapitalisme.

Kartu Merah pada Kapitalisme

*diterjemahkan dari tulisan Steve Jones berjudul “FIFA corruption and Brazil 2014: the ugly face of the beautiful game” sebagaimana dimuat dalam In Defence of Marxism pada Senin 9 Juni 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: