Gelombang Protes dan Pemogokan Menjelang Piala Dunia 2014 di Brazil

Gelombang Protes dan Pemogokan Menjelang Piala Dunia 2014 di Brazil

Pertandingan Piala Dunia 2014 segera akan digelar di 12 kota di seluruh Brazil. Diperkirakan setengah juta turis akan datang membanjiri Brazil. Bagaimanapun juga alih-alih perayaan dan sukacita yang diharapkan di negara dengan tradisi lama sepakbola yang membanggakan, malah terdapat tekanan sangat besar seiring dengan dimulainya Piala Dunia.

Seluruh negeri telah diguncang oleh gelombang pemogokan dan demonstrasi berbagai seksi kelas buruh mengusung dan mengajukan keluhannya menjelang turnamen Sepakbola. Tuntutan-tuntutan kenaikan upah telah membawa pada pemogokan-pemogokan di berbagai sektor, mulai sopir-sopir bus, polisi, operator-operator metro, hingga para pengajar, dan menyeret kota-kota besar ke dalam kekacauan dan kemacetan.

Pemuda, buruh-buruh tunawisma, rakyat adat, dan kaum miskin kota di favela[1] juga telah mengorganisir protes-protes. Kemacetan dan pemborosan atas Piala Dunia sangat kontras dan berbanding tajam dengan kemiskinan dan memburuknya pelayanan-pelayanan dimana massa bergantung padanya. Hal ini telah menciptakan reaksi balik di masyarakat Brazil. Massa menentang kemunafikan terang-benderang; jika ada 14 juta dolar dihabiskan untuk stadion dan pendanaan-pendanaan lainnya terkait Piala Dunia 2014, bagaimana bisa pemerintah menolak mendanai transportasi, kesehatan, pendidikan, dan upah yang lebih layak untuk para buruh?

Piala Dunia FIFA 2014 – Gelombang Protes dan Pemogokan di Brazil

Ketidakbecusan para pejabat terkait pembangunan stadion dan proyek infrastruktur yang ditunda atau dibatalkan telah mengakibatkan pembengkakan biaya sekaligus kematian-kematian para buruh konstruksi di tempat kerja, suatu hal yang semakin mendiskreditkan pemerintahan Brazil. Presiden Dilma dan koalisinya dihinggapi kepanikan yang sangat nyata menjelang turnamen ini.

Demonstrasi-demonstrasi dan pemogokan-pemogokan langsung muncul setahun setelah perjuangan yang mengguncang musim panas Brazil 2013. Demonstrasi-demonstrasi tahun lalu yang awalnya dipicu respon terhadap penaikan tarif bus sebanyak 20 cevatos merupakan gelombang demonstrasi terbesar semenjak jatuhnya kediktatoran militer di Brazil pada tahun 1985. Tahun kemarin demonstrasi-demonstrasi demikian pada 17 Juni saja telah menggiring lebih dari sejuta rakyat untuk turun ke jalan.

Gerakan-gerakan sekarang hanya bisa dipahami sebagai kelanjutan perjuangan demikian. Memang suatu demonstrasi sudah disiapkan untuk dikobarkan pada 19 Juni sebagai peringatan perjuangan setahun lalu. Banyak tuntutan yang awalnya diajukan saat itu, antara lain: danai transportasi publik, pendidikan, dan layanan kesehatan, juga diusung hari ini.

Apa yang disangka-sangka sebagai “Hari di Bawah Sinar Matahari” Brazil telah berubah menjadi kebalikannya bagi kelas penguasa Brazil dan Dilma ROusseff. Perayaan-perayaan Piala Dunia 2014 justru telah menjadi titik pusat semua kobaran kemarahan dan rasa frustasi di masyarakat Brazil.

Piala Dunia untuk Siapa?

Penyelenggaraan Piala Dunia 2014 oleh Brazil sebagai tuan rumahnya awalnya diharapkan untuk mencerminkan kebangkitan brazil sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru. Bagaimanapun juga, pertumbuhan ekonomi ini tidak dinikmati oleh semua masyarakat Brazil. Kenyataannya memang Brazil merupakan salah satu negara dengan kesenjangan paling tinggi di muka bumi. Ada dua Brazil; satu untuk kaum kaya raya yang meraup dan menikmati porsi besar pertumbuhan kekayaan di Brazil, lainnya merupakan Brazilnya kelas buruh yang sebagian besar telah ditinggalkan.

Letupan-letupan sosial merupakan cerminan kenyataan yang kontras ini. Sebagai contohnya, tiap langkah yang diambil pemerintah Brazil adalah untuk menyenangkan bos-bos FIFA. Apapun yang mereka tuntut terkait pendanaan, spesifikasi, infrastruktur, dan pengaturan-pengaturan, sepenuhnya dikabulkan. Sementara itu permasalahan-permasalahan rakyat justru diabaikan, dan hajat hidup rakyat terus-menerus merosot.

Sementara turis-turis kaya dan tokoh-tokoh politik dari seluruh dunia dilimpahi keamanan tingkat tinggi dengan ongkos sekitar 860 juta dolar, massa rakyat di sisi lain berada dalam kondisi terus menerus terancam kekerasan dan tindak kriminal. Seluruh lingkungan telah dicerabut, digusur, diusir, dan rumah-rumah diratakan dengan tanah demi pembangunan FIFA 2014.

Setiap hak demokratik rakyat tengah dirampas untuk memenuhi ekspektasi FIFA. Sebanyak 100.000 aparat polisi dan 60.000 tentara terus dimobilisasi untuk menyediakan keamanan selama Piala Dunia 2014 dan untuk merepresi para demonstran. Sebagai tambahan sebanyak 20.000 aparat keamanan swasta telah disewa untuk menjaga berbagai stadion dan fasilitas Piala Dunia.

Seluruh favela telah diduduki oleh “unit-unit perdamaian” polisi dan militer. Salah satu contohnya adalah Mare Favela yang terletak di pusat kota Rio de Janeiro yang merupakan rumah bagi 130.000 kaum miskin kota Brazil. Mare Favela telah diduduki oleh sebanyak 2.700 tentara menjelang dan selama Piala Dunia 2014.

Cukup menyoroti ongkos tiket-tiket pertandingan sepakbola dimana harganya merentang dari 300 dolar hingga enam ribu dolar. Mayoritas rakyat Brazil hidup dengan upah per bulan dibawah 215 dolar dan tidak bisa bermimpi membeli tiket-tiket itu. Fakta bahwasanya sepakbola menduduki posisi sangat penting dalam budaya Brazil membuat kenyataan ini semakin terasa melecehkan.

Suatu lukisan mural yang menggambarkan seorang bocah kurus duduk di meja makan dan menangis karena hanya bola sepak yang disajikan di atas piring, dengan cepat beredar luas di internet. Sentimen massa juga tercermin dalam slogan popular bahwasanya semua rakyat Brazil pantas hidup dalam kondisi-kondisi “sesuai standar FIFA”. Selama bulan lalu dukungan terhadap turnamen Piala Dunia 2014 telah merosot drastis. Menurut jajak pendapat Pew Research Centre, sebanyak 61 persen rakyat Brazil yakin bahwasanya menyelenggarakan Piala Dunia 2014 merupakan gagasan buruk karena menyedot sumber-sumber yang harusnya bisa dipakai untuk layanan-layanan publik, sedangkan sebanyak 72 persen tidak senang dengan situasi di Brazil. Massa rakyat bertanya: semua ini untuk siapa?

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Buruh Memasuki Gelanggang

Situasi telah mendorong para buruh untuk mendesakkan tuntutan-tuntutan mereka atas kenaikan upah dan kondisi-kondisi kerja yang lebih layak. Para buruh menolak menerima pembatasan-pembatasan legal dan larangan pengadilan terhadap hak buruh untuk mogok dan berdemonstrasi selama Piala Dunia. Uang yang dihamburkan untuk mendanai Piala Dunia sudah jelas di hadapan rakyat. Sentimen di antara buruh adalah: atas dasar apa pemerintah menolak tuntutan-tuntutan kami?

Pemogokan-pemogokan telah menyebar ke seluruh penjuru Brazil. Di Sao Paolo ada aksi mogok guru, buruh-buruh metro, dan para sopir bus. Hal ini telah menciptakan bencana kemacetan di kota terbesar Brazil, yang semakin parah karena polisi lalu lintas (polantas) Brazil juga mogok!

Para guru, insinyur, dan satpam-satpam bank juga mogok. Selain itu juga terdapat pemogokan militan oleh para sopir bus di Rio. Sedangkan di Salvador, para polisi dan sopir bus juga mogok. Kemudian di Belo Horizonte, ribuan buruh kotamadya, termasuk buruh-buruh sampah dan kebersihan juga mogok sejak bulan Mei. Tak ketinggalan di Recife, para polisi dan pemadam kebakaran juga mogok. Banyak juga protes dan demonstrasi dari para polisi militer beserta keluarganya menuntut kenaikan pensiun.

Saat ini terdapat sekitar 60 aksi buruh. Sedangkan pemogokan polisi telah mencapai 14 negara bagian, termasuk enam kota tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2014. Tak ketinggalan, sekitar empat juta buruh juga tengah berada dalam kondisi negosiasi kontrak.

Para buruh bandara dan para pilot juga mengancam akan melakukan aksi mogok selama pekan-pekan berikutnya. Para polisi federal dan negara bagian, termasuk para petugas imigrasi, juga mengancam mogok dan menyatakan menolak putusan pengadilan yang melarang mogok selama Piala Dunia 2014.

Sebagai tambahan terhadap gerakan buruh, terdapat mobilisasi-mobilisasi signifikan sektor-sektor rakyat lainnya. Di Sao Paulo terdapat demonstrasi 25.000 orang yang digelar oleh Gerakan Buruh Tunawisma yang bergerak menduduki tanah dan menuntutnya digunakan untuk perumahan rakyat. Pada 27 Mei, suatu demonstrasi yang diikuti 25.000 rakyat adat juga digelar di Brasilia.

Selain itu ada juga kerusuhan-kerusuhan di Favela sebagai respon terhadap pembunuhan oleh para polisi. Di Favela di dekat pantai-pantai Copacabana (dimana timnas Inggris akan menginap), kerusuhan-kerusuhan dan bentrokan-bentrokan dengan polisi meletus akibat pembunuhan polisi terhadap seorang penari di lingkungan itul

Kampus-kampus juga ditutup lebih awal untuk mencegah agar kampus tidak digunakan pusat pengorganisasian pemuda. Meskipun demikian, terdapat kampanye-kampanye pemuda yang signifikan di berbagai kota, meneruskan perjuangan menuntut pendidikan, kesehatan, dan trasnportasi gratis yang dimulai pada tahun 2013.

Pemogokan Metro dan Represi Negara

Mungkin pemogokan yang paling patut diperhatikan adalah pemogokan Metro di Sao Paulo. Para buruh transportasi mogok pada 5 Juni menuntut kenaikan upah. Metro adalah sarana utama transportasi ke stadion Piala Dunia di kota dimana pertandingan pembukaan akan digelar. Para buruh menolak perintah pengadilan yang menganggap mogok sebagai tindakan ilegal dengan dasar bahwa para buruh menjalankan suatu “layanan esensial”. Serikat buruh juga sudah diganjar dengan denda yang dinaikkan sebesar 220.000 dolar tiap hari berikutnya bilamana mogok terus berlanjut.

Polisi juga dikerahkan untuk membubarkan pemogokan dengan menggunakan gas air mata, granat cahaya, dan peluru karet. Seorang juru bicara serikat buruh menjelaskan bahwa tiga orang buruh telah cidera dalam serangan polisi. Sebagai responnya, serikat buruh melanjutkan aksi pemohokan “secara tak terbatas”. Altino Melo dos Prazeres, presiden serikat buruh, bahkan mengancam “kalau pemukulan terus berlanjut, kami akan bicara ke semua sektor buruh. Kalau orang-prang kami berdarah, kami akan minta bantuan dari para buruh metal, dari para pekerja bank, dan akan mengobarkan pemogokan massa pada pembukaan piala dunia”.

Pemogokan itu sendiri telah menarik dukungan signifikan dan menggalang solidaritas di Sao Paulo. Hal ini melibatkan berbagai organisasi gerakan sosial termasuk Gerakan Rakyat Tak Bertanah (MST) yang bergabung dengan para buruh metro dalam demonstrasi-demonstrasinya.

Para buruh jelas semakin berani dan tergembleng oleh sentimen umum angkara dan mobilisasi massa rakyat. Pelambatan ekonomi selama dua tahun terakhir telah menciptakan ketidakamanan secara signifikan. Pemerintahan Partai Buruh (PT) Dilma Rousseff telah menyatakan dengan jelas niatannya untuk menerapkan pemotongan anggaran. Sebagai tambahan, inflasi tahunan mencapai lebih dari enam persen dan secara terus menerus menggerogoti upah buruh.

Situasi ini mendorong radikalisasi dan tumbuhnya semangat militansi di antara buruh. Mereka dengan tepat merasakan bahwa merekalah yang dipaksa membayar krisis kapitalis dan perlamatan ekonomi di Brazil, dan karena itu merasakan kebutuhan untuk mempertahankan diri. Para buruh telah menyaksikan kemunafikan pemerintah yang menghamburkan uang untuk mendanai Piala Dunia namun menolak konsesi menaikkan upah buruh, buruh merasa bahwa mereka punya tuas tambahan dalam menjalankan aksi industrial sekarang.

Respon pemerintahan Dilma Roussef adalah memiliterisasi masyarakat secara efektif dengan pendanaan keamanan secara massif. Hal ini berarti penggunaan semua cara legal untuk melarang demonstrasi dan pemogokan. Hal ini berarti pendudukan militer terhadap berbagai favela. Perintah-perintah pengadilan terus menerus dibuat dan menyatakan berbagai pemogokan ilegal dan mengancam denda terhadap berbagai serikat buruh. Termasuk di dalamnya adalah kampanye intimidasi dan pengangguan terhadap organisasi-organisasi sayap kiri seperti kaum Marxis Brazil yang tergabung dalam Esquerda Marxista, yang menghadapi kunjungan-kunjungan dari Polisi Militer dan kantor mereka juga ditembaki.

Meskipun demikian tidak satupun dari hal ini yang bisa menahan gerakan. Langkah-langkah demikian justru malah mengekspos Dilma ROusseff dan Partai Buruh (PT) yang berkuasa serta hanya membuat marah dan memberanikan para buruh dan pemuda untuk maju. Harus diingat bahwa justru respon tindakan brutal polisi terhadap demonstrasi anti kenaikan ongkos bus pada musim panas 2013, lah, yang menyebabkan suatu gerakan yang relati kecil pada awalnya, menjadi berkembang ke dalam ukuran-ukuran yang sangat besar dan menuai dukungan rakyat.

Buruh-buruh Bergerak Melampaui Para Pimpinan Reformis

Pemerintah PT yang berkuasa semakin terdiskreditkan di mata kelas buruh. PT adalah suatu partai yang secara historis terhubungkan dengan gerakan serikat buruh. Lula da Silva, pemimpin PT sebelumnya sekaligus presiden Brazil lalu, merupakan seorang buruh metal dan aktivis serikat.

Bagaimanapun juga politik kolaborasi kelas dan kebijakan reformis para pimpinan PT berujung pada pengkhianatan satu demi satu. Pembiayaan Piala Dunia yang berlebihan dan penerapan hukum-hukum anti demokrasi serta represi pesanan gangster FIFA hanyalah merupakan pengkhianatan lain dan terbaru dari para pimpinan PT. Kebijakan PT selama tahun-tahun lalu merupakan privatisasi aset-aset negara dan pemberian kontrak-kontrak yang menguntungkan terkait sektor sumber daya untuk perusahaan-perusahaan multinasional. PT telah berkuasa selama periode ekspansi massif kesenjangan di masyarakat Brazil.

Kaum Pemuda juga banyak yang merasa marah dan kecewa terhadap para pimpinan PT. Persis karena PT, lah, yang bertanggungjawab dalam pengerahan Polisi Militer untuk memukuli dan melempari para demonstran dengan gas air mata selama gerakan massa yang dipicu oleh kenaikan ongkos bus tahun lalu. Sentimen kemarahan terhadap PT dan Presiden Dilma kini menyebar lebih luas ke kelas buruh dan gerakan buruh terorganisir.

Memang Presiden Dilma dan kepala FIFA, Sepp Blater, telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan membacakan pidato pada upacara pembukaan Piala Dunia 2014. Mereka takut akan di”huu” dan dicaci maki oleh massa (sebagaimana yang terjadi pada Piala Konfederasi setahun lalu). Ini akan menjadi yang pertama kalinya dimana upacara pembukaan Piala Dunia tidak menyertakan pidato oleh kepala negara. PT yang berkuasa mendiskreditkan dirinya sendiri dengan melindungi kepentingan kaum kaya. Hal ini berujung pada membesarnya tekad buruh untuk memasuki arena perjuangan, termasuk perjuangan melawan PT itu sendiri.

Terdapat kebutuhan mendesak untuk menyatukan perjuangan kelas buruh dan pemuda. Alih-alih demonstrasi dan pemogokan yang terpisah, terdapat suatu kebutuhan atas persatuan perjuagan yang akan membawa ratusan ribu atau bahkan jutaan rakyat untuk memperjuangkan kenaikan upah dan transportasi publik, kesehatan, serta pendidikan gratis. CUT (Sentral Persatuan Buruh) mewakili sekitar 7,5 juta buruh memiliki kekuatan sosial sangat besar yang bisa digunakan. Seruan-seruan para buruh metro di Sao Paolo sepenuhnya tepat, pemogokan massa sehari penuh dibutuhkan untuk menentang penurunan upah riil, pemotongan anggaran, dan langkah-langkah represif dan anti-demokrasi.

Bagaimanapun juga para pimpinan CUT sendiri terikat pada politik reformis PT dan saat ini hanya punya perspektif kecil selain kolaborasi dengan para majikan. Aliansi PT dan CUT dengan partai-partai dan organisasi-organisasi kapitalis adalah penghalang besar bagi majunya perjuangan buruh dan rakyat pekerja lainnya di Brazil saat ini.

Kapitalisme dalam Krisis – Brazil di Tepi Jurang

Periode booming ekonomi sebelumnya berarti bahwa pemerintahan PT dibawah Presiden Lula saat itu, bisa menawarkan konsesi-konsesi bagi para buruh. Kesepakatan-kesepakatan kolektif pada umumnya akan menghasilkan kenaikan-kenaikan upah sementara program-program kemiskinan bisa mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan. Hal ini kemudian menimbulkan stabilitas sosial dan naiknya popularitas Lula.

Dari tahun 2004 sampai 2008, tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar lima persen. Meskipun ada penurunan sedikit selama tahun 2009 sebesar 0,3 persen akibat kolapsnya sektor finansial, Brazil berhasil melambung kembali ke tingkat pertumbuhan sebesar 7,5 persen di tahun 2010. Banyak komentator aras utama menggambarkan Brazil sebagai suatu keajaiban ekonomi.

Namun sejak saat itu tingkat pertumbuhan telah anjlok dibawah dua persen di Brazil dan diperkirakan turus menurun. Keajaiban Brazil telah menjelma jadi mimpi buruk. Selain itu pasar-pasar ekspor, khususnya Tiongkok, Eropa, dan AS mengalami perlambatan, dan ini juga berdampak kepada perekonomian Brazil. Tidak hanya Brazil semua negara-negara yang digadang-gadang sebagai “ekonomi-ekonomi yang bangkit” di BRICS dan lainnya telah mengalami keanjlokan drastis dalam pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir.

Keanjlokan ekonomi berarti bahwa basis material yang memungkinkan konsesi-konsesi pada kelas buruh telah menyempit secara signifikan. Pengangguran meroket. Pertumbuhan di Brazil juga bergantung pada ekspansi kredit yang siap sedia. Hutang pemerintah dan rumah tangga jadi tinggi. Dilma, dengan demikian, telah membuat tanggungjawab fiskal terhadap kebocoran besar kebijakan-kebijakannya.

Alih-alih konsesi, PT kini terpaksa menjalankan pemotongan anggaran sekaligus memandori naiknya pengangguran dan biaya hidup karena PT menolak putus dengan kapitalisme. Inilah logika reformisme di era krisis kapitalis. Kalau kita menerima sistem kapitalis maka kita harus mengelola krisis, dengan kata lain: menyerang kelas buruh. Serangan-serangan inilah yang menjelaskan semakin membesarnya ketidakpercayaan dan kemarahan terhadap para pimpinan PT.

Suatu jajak pendapat terkini menunjukkan bahwa 84 persen rakyat Brazil memandang Lula, presiden sebelumnya, secara positif. Bagaimanapun juga Dilma yang sebentar lalu cukup menikmati popularitas serupa kini dipandang positif hanya oleh 48 persen responden. Krisis kapitalis menunjukkan ketidakmampuan reformisme untuk melindungi kelas buruh dan malah mendorong para pimpinan reformis berbentrokan dengan para buruh. Penggunaan represi negara oleh PT selama beberapa hari terakhir (dan di musim panas lalu) terhadap serikat-serikat buruh dan pemuda merupakan ekspresi yang tak terbantahkan.

Peristiwa-peristiwa demikian menimbulkan dampak mendalam terhadap kesadaran massa rakyat Brazil. Pemuda dan semakin banyak lapisan dari buruh semakin teradikalisasi. Protes ini bila dibandingkan dengan protes tahun lalu punya perbedaan kunci yaitu masuknya kelas buruh ke gelanggang perjuangan. Ini adalah peringatan akan apa yang akan datang di masa depan.

Sementara para buruh pasti berpartisipasi dalam gerakan di tahun 2013, kelas buruh tidak memasuki perjuangan saat itu dengan cara yang terorganisir. Keterlibatan serikat-serikat buruh yang kuat, menjalankan aksi mogok kolektif, kini memberikan watak kelas buruh yang jelas pada gerakan ini. Ini menciptakan kemungkinan bagi gerakan untuk semakin bertambah kuat dan semakin maju lebih lanjut. Perjuangan historis yang dimulai pada tahun 2013 kini bergerak ke suatu tingkat baru.

Pendidikan, Transportasi, dan Layanan Kesehatan Gratis!

Buruh layak hidup sesuai standar FIFA!

Perjuangkan Pemogokan Massa Sehari Penuh melawan Represi Negara

NB: Para buruh Metro di Sao Paolo menunda mogok mereka hari ini untuk memberi kesempatan pada negosiasi-negosiasi. Serikat telah mengumumkan bahwa aksi mogok akan dilanjutkan pada Kamis jika tuntutan kenaikan upah tidak dipenuhi.

*diterjemahkan dari tulisan Farshad Azadian sebagaimana yang dipublikasikan di situs In Defence of Marxism dengan judul “FIFA World Cup – Protests and Strikes in Brazil” pada 10 Juni 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

 

[1] Favela adalah istilah untuk pemukiman kumuh atau lingkungan kaum miskin kota di Brazil. Favela-favela pertama muncul pada akhir abad 19 dan dibangun oleh para prajurit yang tidak punya tempat tinggal. Beberapa pemukiman pendatang pertama di Brazil (bukan kaum pribumi) disebut sebagai bairros africanos (lingkungan Afrika) karena merupakan tempat dimana para bekas budak yang tidak punya tanah dan tidak punya pilihan kerja. Selama bertahun-tahun banyak bekas budak juga pindah dan bermukim disana. Namun pada kenyataannya sebelum berdirinya Favela pertama, kaum miskin sudah disingkirkan dari kota dan terpaksa hidup di pinggiran kota yang jauh. Bagaimanapun juga favela-favela modern muncul pada 1970 akibat urbanisasi dimana banyak rakyat meninggalkan daerah-daerah pedesaan Brazil dan menuju ke kota-kota. Akibat tidak menemukan tempat tinggal banyak orang akhirnya bermukim di favela. Data sensus yang dirilis pada Desember 2011 oleh Institut Geografi dan Statistik Brazil menunjukkan bahwa pada tahun 2010 sebanyak enam persen atau 11,4 juta jiwa dari 190 juta jiwa populasi rakyat Brazil tinggal di pemukiman kumuh. (Sumber: Favela, Wikipedia The Free Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Favela).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: