Sócrates, Seorang Pemain Bola, Demokrat, dan Demonstran

Sócrates, Pemain Bola, Demokrat, dan Demonstran

Sócrates, seorang pemain tengah tim nasional (timnas) Brazil dan Corinthians, doktor pengobatan dan filsafat, sekaligus aktivis pengorganisir demonstrasi menentang kediktatoran militer Brazil.

Terlahir dengan nama Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, Sócrates kemudian menjadi kapten timnas Brazil pada Piala Dunia 1982 dan 1986.

Namanya yang unik merupakan pemberian dari bapaknya, seorang miskin dari Amazon yang belajar membaca secara otodidak. Meskipun bapaknya Sócrates tidak pernah menempuh pendidikan formal namun ia berhasil membangun perpustakaan besar (dimana Sócrates muda sering datang dan membaca disana). Karena ia tertarik filsafat Yunani, kemudian dinamakanlah anaknya Sócrates.

Karir Sócrates di sepakbola sangatlah subur. Selama enam tahun dia bermain di Corinthians yang secara historis terkenal sebagai klub sayap kiri. Sebagai tim sepakbola kelas buruh pertama di Brazil, Corinthians didirikan oleh para buruh imigran di São Paulo saat sepakbola masih merupakan olahraga elit di masa itu yang dimainkan hanya oleh keturunan bekas patriot Inggris atau orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan Inggris.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Namun Sócrates tidak hanya tertarik sepakbola. Ia juga tertarik dengan isu-isu sosial.

“Tahun 1964 meletuslah kudeta militer. Aku masih berumur sepuluh tahun dan aku ingat bapak membakar buku tentang Bolshevik. Itulah yang memicu ketertarikanku pada politik. Soal sepakbola itu cuma kebetulan, tapi kenyataannya aku adalah anak yang tumbuh di bawah kediktatoran. Mataku selalu melihat ketidakadilan sosial di negeri ini dan aku selalu punya rekan yang harus sembunyi dan melarikan diri. Kebetulan saja aku pintar sepakbola.”

Saat dia ditransfer ke Corinthians pada tahun 1978, Sócrates segera muak dengan cara bagaimana para pemain diperlakukan oleh manajemen, suatu rezim otoriter yang dipandangnya sebagai perpanjangan politik tak adil Brazil.

Saat Sócrates bermain untuk Corinthians itulah, ia bersama Wladimir, bek kiri Corinthians, dan kawan-kawan lainnyanya membentuk gerakan Demokrasi Cornthians yang menantang kediktatoran brutal Brazil. Tujuannya adalah mengakhiri perlakuan otoriter rezim kediktatoran militer terhadap para pemain sepakbola serta mendukung gerakan demokratisasi yang lebih luas.

Sócrates berkata, “Klub-klub ingin punya kendali penuh, sementara kami merasa bahwa para pemain harusnya diajak musyawarah dan tidak diperlakukan seperti anak-anak. Kami bukan sekedar menentang permasalahan-permasalahan sederhana, namun juga menentang situasi politik yang lebih besar.”

Bersama kawan-kawannya di Demokracia Corinthians, Sócrates mengorganisir para pemain bola untuk mendiskusikan berbagai permasalahan dan kemudian mengambil keputusan dengan voting angkat tangan terkait semua persoalan yang menimpa mereka. Mulai soal kapan mereka makan siang sampai melawan concentração, praktek umum di Brazil dimana para pemain disekap di hotel selama satu atau dua hari sebelum pertandingan, bahkan juga mendiskusikan persoalan-persoalan politik. Salah satu keputusan penting yang mereka buat adalah menyablon “DIA 15 VOTE” atau “Berikan suaramu pada tanggal 15” di punggung kaos seragam Corinthians untuk mendorong para suporter berpartisipasi dalam pemilu multi-partai pada tahun 1982. Pemilu bebas pertama di Brazil semenjak kudeta militer dan rezim kediktatoran berkuasa sejak tahun 1964.

Corinthians kemudian memenangkan kejuaraan negara pada tahun 1982 dimana mereka mengenakan seragam sepakbola dengan tulisan “Democracia”. Soal ini Sócrates berkomentar, “Itu adalah tim terbaik yang pernah kuikuti karena Corinthians selalu lebih dari sekedar olahraga. Kemenangan-kemenangan politikku lebih penting daripada kemenangan-kemenanganku sebagai seorang pemain profesional. Suatu pertandingan selesai dalam 90 menit, tapi hidup terus berlanjut.”

Dua tahun kemudian, Sócrates berorasi di hadapan satu setengah juta rakyat dalam suatu demonstrasi politik. Massa bersorak-sorai saat dia mengatakan kalau kongres mengesahkan amandemen konstitusional untuk terus mengadakan lagi pemilihan umum (pemilu) yang bebas, maka ia akan menolak tawaran main di Italia dan tetap akan bermain di liga Brazil. Slogannya yang berbunyi “Menang atau kalah, terus bersama demokrasi!”. Sayangnya voting menuntut pemilu bebas tersebut tidak diloloskan, dan calon presiden yang menang dari pemilu tersebut tidak diakui. Akhirnya Sócrates bermain di liga Italia dengan klub Fiorentina selama satu musim.

Saat Sócrates berada di Italia, dia menyatakan tanpa ragu dan tanpa bimbang, bahwa daripada rumah-rumah dan mobil-mobil mewah, ia lebih memilih untuk belajar buku-buku Italia. Saat Sócrates ditanya orang Italia mana yang paling ia hormati, Mazzola atau Rivera (pemain sepakbola Intermilan dan AC Milan), Sócrates menjawab, “Aku tidak tahu mereka. Aku disini untuk membaca Gramsci dalam bahasa aslinya dan untuk belajar sejarah gerakan buruh.”

Tahun-tahun berikutnya, tidak seperti Pele, Sócrates menolak tawaran menjadi seorang duta sepakbola karena tidak suka “komersialisme dan semua sampah itu”. Dia juga menolak tawaran Kolonel Khadaffi untuk maju sebagai presiden Brazil.

Sócrates merupakan sosok pemain bola langka dimana ia bermain bola sambil berkuliah. Ia lulus dan mendapat gelar doktor obat-obatan dari Faculdade de Medicina de Ribeirão Preto. Setelah pensiun dari sepakbola pada tahun 1989 ia kerap menulis untuk berbagai surat kabar dan majalah sebagai seorang kolomnis, tidak hanya menulis tentang sepakbola dan olahraga, namun juga ekonomi politik. Selain itu Sócrates juga mengisi hari-hari tuanya dengan belajar dan membuka praktek obat-obatan olahraga di kampung halamannya, Ribeirão Preto. Sayangnya Sócrates punya kebiasaan buruk merokok dan minum-minuman keras. Kesehatannya mulai memburuk karena keracunan makanan pada 19 Agustus 2011 dan dia akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Albert Einstein São Paulo akibat pendarahan grastrointestinal dan hipertensi portal. Pria penggemar Fidel Castro, Che Guevara, dan John Lennon ini kemudian menutup usia di umur 57 tahun pada 4 Desember 2011. Tak sempat merampungkan novel tentang Piala Dunia 2014 di Brazil yang tengah ia garap.

Demi menghormati jasa-jasanya para suporter Corinthians berdiri dan mengheningkan cipta dalam pertandingan melawan Palmeiras, dimana dalam pertandingan tersebut Corinthians berhasil memenangkan liga brazil setelah enam tahun puasa tanpa gelar. Tak hanya Corinthians, para suporter klub sepakbola Fiorentina juga mengheningkan cipta dan memakai ban lengan warna hitam sebagai tanda berbelasungkawa.

*diterjemahkan dari tulisan karya Ed bertajuk asli “Sócrates – midfielder and anti-dictatorship resister” sebagaimana yang dipublikasikan libcom.org pada 12 Juli 2007. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan ditambah dengan bahan-bahan bersumber Wikipedia serta dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: