Sosialisme Star Trek

Sosialisme Star Trek

Beberapa orang yang cukup radikal berasumsi bahwa setiap kreasi budaya populer di masyarakat ini pasti merupakan sampah ideologis beracun. Gagasan bahwasanya terdapat elemen-elemen sosialis yang bersaing dalam suprastruktur kapitalis (dan seringkali secara sangat mencolok dan bahkan secara komersial!) sering dibantah (dengan cibiran).

Lenin pernah mengemukakan salah satu poin penting bahwasanya dalam kapitalisme, “Komunisme mekar dari setiap ruang hidup publik secara positif”. Salah satu yang menarik untuk diperbincangkan adalah tema-tema sosialis dalam acara televisi sains fiksi Star Trek. Star Trek khususnya Star Trek: The Next Generation (ST:TNG) sangat berjalinan dengan visi sosialis utopis Gene Roddenberry, sang kreatornya. (Sayangnya inkarnasi lanjutnya, “Star Trek: Enterprise”, dibuat pasca kematian Roddenberry, mencampakkan semua tema sosialis dan anti kapitalis, serta lebih banyak memakai atmosfer koboisme Amerika).

Dari Star Trek versi-versi awal yang dipandu oleh Roddenbery kita melihat bahwasanya melalui sains fiksi kita bisa membayangkan dunia dengan cara yang berbeda dengan dunia saat ini. Salah satu dari banyak adegan (dimana politik sangatlah kentara) ada di episoode ST:TNG, “The Neutral Zone”, dimana terdapat sekelompok yang terdiri dari tiga orang dimana salah satunya adalah seorang investor kaya (Kemungkinan seorang kapitalis Texas. Lengkap dengan topi koboi) yang dibangkitkan lagi di masa depan jauh. Terlepas dari persoalan akibat kenyataan dimana semua orang yang mereka kenal telah tiada, mereka perlahan-lahan mendapati bahwa kekayaan dan kekuasaan yang mereka miliki di abad 20 tidak punya arti di abad 24. Kapten Picard kemudian menjelaskan bahwa uang sudah tidak ada lagi. Begitupula posisi atau jabatan dengan hak-hak istimewa.

Dalam film Star Trek, First Contact, (bukan serial tv), Kapten Jean Luc Picard berusaha menenangkan Lily, seorang penumpang dari abad 21 yang ketakutan. Picard menjelaskan, “ekonomi masa depan berbeda. Jadi, uang tidak ada di abad 24. Pengerukan kekayaan bukan lagi tenaga pendorong di kehidupan kita. Kita bekerja untuk membuat diri kita lebih baik dan bekerja untuk umat manusia.” Gagasan ini sangat mirip dengan sosialisme.

Jean Luc Picard

Karl Marx sendiri meramalkan bahwa setelah kelas buruh mencapai kesadaran kelas dan memenangkan semua revolusi melawan kapitalis, sosialisme, sebagai tahapan kelima, sebagaimana diuraikan dalam materialisme historis, akan tercapai. Vladimir Lenin sendiri dalam Negara dan Revolusi memandang bahwa sosialisme adalah fase pertama menuju komunisme.

Sosialisme setidaknya secara garis besar memiliki karakteristik-karakteristik berikut: Pertama, ekonomi terencana terdesentralisasi. Alih-alih tenaga pendorong berupa pasar yang sebelumnya mendatangkan krisis-krisis kapitalisme, produksi kini berdasarkan perencanaan ilmiah dan konsensus demokratik para buruh, melalui komune-komune atau dewan-dewan buruh. Kedua, hak milik bersama. Alat-alat produksi direbut dari tangan segelintir kapitalis dan diletakkan di tangan para buruh. Ini kemudian menjadi transformasi ekonomi di bawah kontrol komune-komune demokratis atas alat-alat produksi. Ketiga, demokrasi buruh. Marx melakukan studi menyeluruh terhadap Komune Paris, sebagaimana yang ditulisnya dalam Perang Sipil di Prancis, ia meyakini bahwa para burh akan memerintah melalui sistem komune-komune. Ia menyebutnya kediktatoran proletariat, yang, setelah menggulingkan (pemerintahan) kapital, akan merencanakan produksi dab mengelola sumber daya alam secara demokratis. Keempat, voucher buruh. Marx menjelaskan bahwa karena sosialisme bangkit dari puing kapitalisme, maka ia akan “distempel oleh tanda lahinya”. Hal ini secara ekonomis berarti bahwa para buruh secara individual akan diberi imbalan sesuai kontribusi jumlah kerja yang ia sumbangkan bagi masyarakat. Tiap buruh akan diberi sejumlah imbalan yang terstandarkan untuk memverifikasi kontribusinya terhadap masyarakat dimana dengannya ia bisa menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan.

Hal yang kurang lebih serupa terlihat di Star Trek. Di Voyager, setiap awak kapal menerima kredit energi yang bisa dipertukarkan dengan barang-barang. Berbeda dengan uang kredit energi ini tidak bisa diwariskan (atau diwarisi dari), tidak bisa dibuat berjudi, tidak bisa diinvestasikan, tidak bisa diperdagangkan di pasar saham, tidak bisa dicuri atau dirampok, bahkan tidak bisa ditumpuk sebagai kekayaan pribadi. Tatanan masyarakat yang menjadi latar Star Trek, bisa memproduksi hampir segala hal dengan suatu replikator. Setiap kebutuhan dasar bisa dipenuhi dan tidak ada kelangkaan. Melalui The United Federation of Planets (UFP) atau Federasi Persatuan Planet-Planet yang strukturnya demokratis egalitarian, antar daerah, atau antar planet, saling bekerjasama bertukar sumber daya. Bukan menjadi negara-negara atau pemerintahan yang saling bersaing menumpuk kekayaan atau aset-aset material.

Patrick Stewart sebagai Picard dan sebagai Lenin

Patrick Stewart selain pernah berperan sebagai Jean Luc Picard juga pernah berperan sebagai Vladimir Ilyich Lenin dalam miniseri The Fall of The Eagles.

Mark Hidup Kembali—Mark Twain, Bukan Karl Marx.

Selain itu ada juga episode ST:TNG, “Time’s Arrow” dimana Deanna Troi, kanselir kapal, bercakap-cakap dengan Mark Twain sembari menyusuri koridor The Enterprise. Adegan ini merupakan kejutan yang menyenangkan. Tidak setiap hari kita bisa menemui visi positif mengenai masyarakat komunis dalam budaya populer arus utama ditampilkan di TV.

Mark Twain yang asli sendiri merupakan seseorang yang cukup radikal untuk masanya. Ia merupakan tokoh anti-imperialis terkemuka, secara aktif menentang Amerika Serikat yang membangun imperium di luar negeri sebagaimana yang dilakukan oleh imperium-imperium Eropa. Selain itu Mark Twain juga terkenal sebagai penulis yang membela Komune Paris, revolusi kelas buruh pertama. Jadi ketika Star Trek yang bersetting di masa depan, tepatnya di abad 24, membangkitkan sosok Mark Twain, turut bangkit juga hasrat politiknya dan keraguannya. Simak percakapannya berikut:

Deanna Troi dan Mark Twain

Mark Twain: Tempat apapun yang tidak punya stok cerutu yang bagik tidak layak menduduki ranking tinggi di bukuku.

Deanna Troi: Kalau kau mau, saya yakin kami bisa membuatkanmu replikanya.

Mark Twain: Ohhh, kau pikir salah satu dari sekian imitasi tersebut bisa menggantikan cerutu konvensional yang dibuat dengan tangan seperti cerutu Havana?

Deanna Troi: Aku tak akan tahu.

Mark Twain: Nah, itulah masalahnya disini: Semua teknologi ini malah hanya menghilangkan kenikmatan-kenikmatan hidup yang sederhana. Bahkan kalian tidak membiarkan seorang pria membuka pintu untuk seorang perempuan.

Deanna Troi: Kupikir apa yang telah kami capai jauh melebihi segala sesuatu yang mungkin hilang dari kami.

Mark Twain: Oh, ya? Hmm, aku tidak terlalu terkesan dengan masa depan ini. Pesawat luar angkasa raksasa dan senjata-senjata yang tak diragukan lagi bisa menghancurkan seluruh kota…apakah penaklukan militer adalah suatu gaya hidup?

Deanna Troi (berpaling ke Mark Twain dengan raut muka terkejut): Jadi itukah yang kau lihat disini?

Mark Twain: Ya, aku tahu yang akan kau katakan. Bahwa ini adalah kapal untuk penjelajahan dan misi kalian adalah untuk menemukan dunia baru (tergelak). Itulah yang kaum Spanyol katakan, juga kaum Belanda dan Portugis. Semua penjajah bicara dalih yang sama. Aku yakin itulah yang kau katakan pada kawan berkulit birumu yang barusan kulihat kalian membawanya kesini untuk melayani kalian.

Deanna Troi: Dia adalah salah satu dari ribuan spesies yang kami temui. Kami hidup dalam suatu federasi damai dengan kebanyakan mereka. Orang-orang yang kau temui disini berada disini karena pilihannya sendiri.

Mark Twain, masih tidak yakin, dan kembali mendebat: Jadi tidak ada segelintir orang kaya di kapal ini yang hidup mewah dan dilayani. Lalu bagaimana dengan orang-orang lainnya? Bagaimana dengan kaum miskin? Apa kalian mengabaikannya?

Deanna Troi menjelaskan dengan sabar: Kemiskinan sudah dihapuskan di Bumi, jauh-jauh sekali di masa lalu. Serta segala sesuatu yang melekat padanya seperti keputusasaan, kekejaman, dan sebagainya.

Mark Twain (menginterupsi): Anak muda, aku datang dari masa dimana manusia meraih kekuasaan dan kekayaan dengan menginjak-injak punggung kaum miskin, dimana prasangka dan intoleransi kerap jamak terjadi. Bahkan kekuasaan jadi tujuan akhir itu sendiri. Dan kini kau ceritakan bahwa hal itu tidak ada lagi?

Deanna Troi: Benar.

Mark Twain (dengan datar): Hmmm. Yah…mengorbankan cerutu layak saja kalau kemudian itu yang tercapai.

*Diterjemahkan dari tulisan Johanna Connors bertajuk “Star Trek: Communism even in commercial popular culture” sebagaimana dimuat di kasamaproject.org, ditambah dengan sumber Is the Federation a communist society? dari Star Trek Answers serta Marx Theory of History dari Wikipedia The Free Encyclopedia. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: