Histeria

Histeria

Negara macam apa yang melarang palu arit dan membolehkan swastika? Pemerintah macam apa yang melarang “Manifest der Kommunistischen Partei” dan membolehkan “Mein Kampf”? Negara dan pemerintah reaksioner tentu. Memang ada pengecualian dari negara dan pemerintah demokratis (borjuis) macam Amerika Serikat dan Australia tapi hak itu bukan hadiah kebaikan hati penguasa melainkan diperjuangkan rakyat pekerja. Dengan berdarah-darah. Malah dalam berbagai periode sering dirampas juga.

Nah, soal NAZI, seragam Heinrich Himmler, Ahmad Dhani, dan histeria bahaya fasisme, kita harus melihat lebih cermat. Pertama, Indonesia adalah negeri yang mayoritas bapak bangsanya adalah kolaborator rezim fasis Jepang. Diakui atau tidak tangannya berlumur darah Romusha dan Jugun Ianfu. Proses pengadilan bagi para kolaborator fasis ini tidak pernah terjadi. Tidak ada pengadilan Nuremberg ala Indonesia. Apakah ini berarti rakyat Indonesia permisif terhadap penindasan fasisme Jepang? Tidak juga. Dalam revolusi nasional 1945-1949, banyak sekali pergolakan yang mendekati revolusi sosial. Banyak bermunculan swaorganisasi-swaorganisasi rakyat seperti Dewan Rakyat yang menuntut agar para pejabat lama—kaum priyayi yang menduduki posisi sebagai birokrat kolonial fasis Jepang, yang menduduki jabatan sama sebagai Ambtenaar saat rezim kolonial Hindia Belanda berdiri—agar diadili dan dihukum. Berikut juga tuntutan pembagian kekayaan, pembagian tanah, pendudukan pabrik dan perkebunan serta diselenggarakan sendiri oleh rakyat pekerja, pembubaran monarki, dan sebagainya. Fakta ini yang muncul dalam banyak peristiwa sejarah seperti Pemberontakan Tiga Daerah misalnya, jarang dibahas (kalau bukan disembunyikan). Kenyataannya adalah pergolakan menuju revolusi sosial tersebut diberangus oleh Republik, oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) beserta semua aparatusnya. Alhasil kita alih-alih menemui pengadilan dan penghukuman bagi para kolaborator fasis Jepang, apa yang kita temukan malah para pejabat, birokrat, priyayi tersebut sebagian besar masih bertahan di kursi kekuasaannya.

Kedua, rakyat Indonesia pernah hidup selama 32 tahun di bawah rezim kediktatoran militer Orde Baru. Secara sistematis, Orde Baru tidak hanya melakukan pembantaian terhadap kaum komunis, buruh, dan rakyat pekerja, namun juga mempropagandakan ‘setanisasi’ komunisme sebagai ideologi dan gerakan yang harus dibasmi berikut semua pengikutnya. Kesadaran semua yang dicokolkan ke kepala orang Indonesia inilah yang masih bertahan di banyak orang. (Kecuali sebagian generasi yang lahir di tahun 90an akhir dan 2000an awal yang tidak punya memori tentang kehidupan di bawah rezim Orde Baru). Karena bukan militerisme dan fasisme (dua entitas tak terpisah dari kapitalisme) yang telah membawa kehancuran bagi rakyat Indonesia, yang dibedah, dipahami, dan dilawan, maka mindset atau pola pikir anti militerisme dan fasisme jarang pernah ada di banyak kepala rakyat Indonesia. Setidaknya tidak pernah menjadi pola pikir atau wacana dominan.

Ketiga, pasca tumbangnya Soeharto dan rezim kediktatoran militer Orde Baru, tatanan masyarakat di Indonesia hanya sekedar mengalami perubahan penguasa namun sistem penindasan masih berjalan. Perubahannya pun sekedar perubahan minor berupa hak-hak demokratik yang berkembang walau masih relatif sedikit. Sedangkan sistem komando teritorial masih bertahan, perusahaan-perusahaan yang dimiliki militer masih banyak dan masih beroperasi, dan sebagainya. Partai Golkar juga masih tegap berdiri. Bahkan masih masuk tiga besar partai pemenang Pemilu. Banyak sekali para politikus Orde Baru yang masih menguasai berbagai jabatan. Masuk akal pula kalau tidak ada pendidikan sistematis anti militerisme dan anti fasisme di Indonesia.

Inilah mengapa tidak ada pola pikir atau wacana anti militerisme dan anti fasisme yang dominan di masyarakat Indonesia. Kemudian karena corak produksi Indonesia adalah kapitalisme (meskipun variannya adalah kapitalisme terbelakang dengan elemen-elemen feodal masih banyak tersisa), maka banyak sekali simbol-simbol atau ikonografi fasisme turut jadi komoditas atau barang jualan. Kita harus memahami bahwa kapitalisme membuat segala sesuatu sebagai komoditas. Ini adalah hal dasar bagi kaum Marxis untuk dipahami. Karena itu kita banyak menemui gerai-gerai di mall dan butik yang memajang kaos Che Guevara (termasuk dengan berbagai variasinya, seperti Che Mickey Mouse, Che Tengkorak, Che Benjamin Sueb, dan Che Cak Cuk—Ini Bung Tomo Bukan Che Guevara). Selain itu di berbagai emperan atau pinggiran jalan di Indonesia, banyak juga para penjual poster yang menjual poster Nirvana, Marilyn Monroe, Soekarno, Che Guevara, dan Adolf Hitler. Belum lagi kalau kita mengambil contoh majalah Angkasa yang sering juga mengangkat tema tentang NAZI, bahkan dalam salah satu edisinya pernah memberikan bonus “Iron Cross” pada para pembelinya. Ditambah dengan kasus Soldaten Kafe, kafe yang memajang berbagai poster NAZI dan ikonografinya yang sempat ditutup namun sudah dibuka kembali dengan pretensi berganti tema menjadi tema perang dunia kedua (jadi selain lambang swastika dan salut NAZI ada foto-foto Churchill pula).

Pertanyaannya dari sini adalah apakah dengan demikian kita bisa menganggap semua yang pakai kaos Che Guevara adalah komunis? Apakah pedagang kaki lima yang berjualan poster Hitler merupakan kaum fasis? Tidak. Semua ini sebenarnya adalah komoditas. Mungkin bisa pinjam kata-kata Otong Koil, “Semua ini adalah fashion”. Berkali-kali Ahmad Dhani memakai berbagai simbol secara sekenanya (yang kemudian dijadikan mangsa para pakar teori konspirasi bahwa Ahmad Dhani adalah Yahudi, Zionis, Illuminati, Freemason, Satanis, dan sebagainya) termasuk simbol-simbol dan ikonografi fasis NAZI akhir-akhir ini. Ini semua kepandiran. Banyak yang tak habis pikir mengapa Dhani yang pernah punya kakek Yahudi malah memakai simbol dan atribut NAZI? Sederhana. Ahmad Dhani tidak pernah hidup di bawah warisan wacana yang membedah Holocaust dan penindasan fasisme NAZI serta tidak mau tahu dan tidak mau mempelajari itu.

Lantas dari sinilah komedi saling serang dalam kampanye pemilu 2014 semakin lucu. Pihak pendukung Prabowo merasa kian tersudut karena terus dicap fasis dan tidak bisa mengenyahkan cap tersebut kemudian balik menuding Jokowi dengan menyatakan revolusi mental itu gagasan komunis. Jokowi dan para pendukungnya merasa terhina-dina dengan tuduhan itu tak cukup untuk sekedar membantah namun juga melawan balik dengan cara menyebarluaskan foto Fadli Zon yang berpose di kuburan Marx. Pesannya adalah “bukan Jokowi yang komunis tapi Fadli Zon!”. Mungkin sebentar lagi komedi ini semakin bertambah lucu kalau ada yang mulai mensejajarkan foto Musso dengan Prabowo serta menarik kemiripan di antara keduanya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tentu saja kelucuan ini akan hilang kalau para aktivis kiri, entah dari organisasi politik kiri, serikat buruh, gerakan mahasiswa, dan sebagainya, mulai ikut serta dalam histeria kali ini. Ya, histeria, gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali, juga terjadi dalam Pilpres 2014 ini. Ada yang sejajarkan foto Prabowo dengan Hugo Chavez, ada yang membuat poster Jokowi dan Jusuf Kalla dengan gaya realisme sosialis dan romantik revolusioner, ada yang menyerang Ahmad Dhani sebagai fasis, dan sebagainya, dan sebagainya, yang intinya bertengkar adu borjuasi. Padahal borjuasi, walaupun berbeda-beda tetapi kapitalis juga. Bhineka tunggal kapital.

Tepat sekali menutup catatan mengenai Histeria kali ini dengan pernyataan kawan Sprague dari Militan Indonesia, “Kalau Ahmad Dhani fasis, maka sungguh fasisme Indonesia tidak perlu ditakuti, karena ia hanya bisa menyanyikan lagu-lagu pop lembek. Tapi kaum liberal kita ini suka latah, fasisme ini fasisme itu, membebek media internasional yang hanya mencari sensasi dan mengaburkan apa arti fasisme yang sesungguhnya. Media internasional kita, TIME dan Spielger, diam saja ketika ada bahaya fasisme yang benar-benar mengancam di Venezuela, yakni ketika kaum oposisi memobilisasi kelas borjuis kecil berdemo dengan menggunakan kekerasan, dan membunuhi aktivis-aktivis Kiri. Inilah bahaya fasisme yang sesungguhnya mulai hadir di Venezuela, di tengah revolusi yang mengalami kemandegan. Terlebih lagi, media internasional ini diam saja ketika kekuatan militer digunakan untuk menghantam gerakan rakyat di Rembang. Kita harus belajar mengenai bahaya fasisme, tetapi tidak dari media internasional, tidak dari akademisi borjuis di universitas-universitas, tidak dari kaum liberal, tetapi dari sejarah perjuangan kelas buruh dan dari Marxisme.

Comments
One Response to “Histeria”
  1. wisnudavinci mengatakan:

    Say no to fascist + Prabowo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: