Agitasi-Propaganda 9 Juli 2014

Agitasi-Propaganda Golput 9 Juli 2014

Pemilihan umum telah menipu kita…seluruh rakyat dipaksa gembira…hak demokrasi dikantongi…rakyat kita belum merdeka…” (Plesetan mars Pemilu oleh Kepal SPI).

Pagi 9 Juli ini kita sekalian akan menghadapi hari pemilihan umum (pemilu) atau tepatnya pemilihan presiden (pilpres). Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pilpres kali ini adalah pertarungan diantara dua faksi borjuasi, dua kubu konglomerat, atau dengan kata lain pertarungan antar dua kubu kapitalisme. Tidak ada yang bisa diharapkan rakyat pekerja dari Pilpres kali ini. Tidak ada pilihan lain selain memilih nol, bukan pilih nomer satu, bukan pilih nomer dua. Memilih golput. Karena memilih yang terbaik dari terbusuk jelas merupakan oportunisme. Tentu saja golput disini bukan golput pasif melainkan golput aktif yaitu golput sekaligus membangun gerakan rakyat pekerja di atas garis perjuangan kelas. Karenanya sebagai aktivis perjuangan kelas, momentum ini bisa kita gunakan untuk melakukan kerja agitas dan propaganda di lingkungan sekitar Tempat Pemungutan Suara (TPS) kali ini. Berikut tutorial golput aktif yang dihimpun Bumi Rakyat.

Pertama, pelajari lingkungan TPS. Bagaimanakah kondisi dan watak kelas dari lingkungan tempat TPS tersebut berada? Apakah disana merupakan lingkungan buruh, pemukiman pekerja kantoran, ataukah lingkungan perumahan elit? Perbedaan ini jelas menentukan bagaimana pendekatan mana yang paling cocok untuk diterapkan. Saat berada di lingkungan buruh, usahakan menggunakan kata-kata yang lugas, mudah dimengerti, jangan ndakik-ndakik, jangan bersikap pedantik, jangan keminggris, jangan sok menggunakan istilah-istilah bahasa asing kalau ada istilah yang lebih umum baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Misalkan sebagai ganti “kapitalis” bisa pakai kata “pengusaha” atau bahkan lebih jitu lagi pakai kata “konglomerat”. Sebaliknya bila kita berada di pemukiman pekerja kantoran tentu kita bisa memakai istilah-istilah khusus, istilah-istilah akademik, maupun kosakata berbahasa Inggris secara lebih sering. Sedangkan bila kita di lingkungan perumahan elit…emm…sepertinya kita salah tempat, deh.

Photo2804c copy

Kedua, pelajari materi-materi yang bisa digunakan untuk bahan agitasi dan propaganda. Mulai dari bacaan-bacaan dasar seperti “Sosialisme dan Parlementarisme”, “Reforma atau Revolusi”nya Rosa Luxemburg, “Militerisme dan Anti-Militerisme”nya Karl Liebknecht, “Apa itu Fasisme dan Bagaimana Melawannya” karya Leon Trotsky, sampai “Negara dan Revolusi” karya Lenin. Selain itu tentu saja penting membaca ulasan-ulasan mengenai watak kelas kedua kubu Capres-Cawapres, baik Jokowi-Jusuf Kalla di satu sisi maupun Prabowo-Hatta di sisi lain. Beberapa artikel yang sangat direkomendasikan antara lain; “Perspektif Marxis untuk Pemilu 2014 Kritik, Analisa, dan Tugas Kita” sebagaimana yang dipublikasikan Militan Indonesia. Serta “Pilpres 2014 Perang Elit Pemodal Bukan Perangnya Rakyat!” yang ditulis Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP) sebagaimana yang dipublikasikan di Arah Juang.

Ketiga, siapkan peralatan. Mulai dari “Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara kepada Pemilih”, kostum, sampai alat tulis. Ada beberapa pilihan kostum dengan berbagai pertimbangan. Misalkan kostum “ala kadarnya” yaitu memakai kaos oblong yang lusuh, celana jeans belel atau celana pendek maupun celana “training” atau “jogging”, serta sepasang sandal jepit. Kostum ini selain secara implisit mengungkapkan “merakyatnya” dirimu juga menyampaikan pesan bahwa Pilpres 2014 adalah hajat hidup kaum konglomerat yang tidak mengubah nasib rakyat. Kemudian alternatif kostum lainnya adalah memakai kaos-kaos perlawanan, yaitu kaos-kaos dengan desain-desain dan atau kata-kata bernada kritik sosial. Lebih bagus lagi kritik terhadap kapitalisme dan pemilu. Hindari kaos Che Guevara karena itu terlalu “mainstream”. Tetapi jangan pakai kaos Marx atau kaos Lenin apalagi Aidit. Kalau dikenali aparat bisa-bisa kita masuk daftar hitam atau malah diinterogasi. Lebih baik pakai kaos Engels atau Trotsky karena tidak banyak diketahui oleh aparat dan hanya diketahui oleh aktivis. Kaos Tan Malaka termasuk pilihan yang aman, netral, dan sedang-sedang saja. Ingat target kita adalah untuk mendekati massa rakyat (khususnya yang kesadarannya tinggi) dan bukannya didekati aparat.

Jangan lupa menyiapkan peralatan untuk golput. Umumnya ada berbagai alat tulis yang bisa dipakai untuk mencorat-coret kertas suara. Corat-coret ini penting, lho, selain juga sebentuk protes juga bentuk agitasi dan propaganda. Lantas dari sekian banyak alat tulis, manakah yang ideal dipakai? Mari kita bahas satu persatu

Pulpen. Pulpen punya keuntungan gampang dibawa kemana-mana dan bisa diselipkan ke kantong jenis apapun. Namun untuk mencorat-coret kertas suara, pulpen punya kelemahan serius karena garis yang dihasilkannya terlampau tipis. Sehingga tidak begitu terlihat apalagi dari mata para pengawas Pemilu.

Spidol. Spidol sama ringkasnya dengan pulpen walaupun punya resiko kebocoran tinta lebih tinggi. Dalam Pilpres kali ini lebih baik menggunakan spidol papan tulis putih (“whiteboard”) yang lebih tebal daripada spidol buku gambar. Namun di antara spidol papan tulis putih, usahakan menggunakan spidol yang lama daripada yang baru. Karena spidol lama bisa membuat garis yang lebih tebal akibat ujungnya yang semakin aus. Tentu saja dengan catatan bahwa tintanya sudah diisi.

Stabilo. Stabilo bisa dikatakan pilihan terbaik karena goresannya tebal serta warnanya mencolok. Sehingga pesan-pesan yang ditulis terlihat lebih jelas baik dari dekat maupun dari jauh. Usahakan gunakan warna yang gelap (seperti oranye) daripada warna yang terang (seperti kuning).

Tentu saja selain tiga pilihan alat tulis diatas ada banyak pilihan lain yang bisa dipakai. Mulai dari pensil, kapur tulis, crayon, pensil warna, kuas, cat semprot (pilox), bahkan type x, dan sebagainya. Sayangnya pilihan-pilihan demikian kurang sesuai untuk kesempatan kali ini. Memilih alat tulis serupa dengan memilih pisau. Kita harus mengerti apa yang akan kita potong dan mana pisau yang paling tajam serta paling cocok untuk memotongnya. Tidak mungkin kita memotong sampul amplop dengan golok atau membelah daging dengan pisau cutter.

Setelah peralatan siap semua. Saatnya kita bergerak ke TPS. Lebih baik lagi kalau dilakukan secara bersama-sama dengan kawan-kawan seorganisasi ataupun handai taulan seperjuangan. Banyak percakapan yang menarik yang bisa digali dengan memperkenalkan satu sama lain maupun menggiring basa-basi menuju cacat-cacat sistem dan latar belakang kedua kubu borjuasi yang bisa dikritisi. Tentu saja jangan lupa mendaftar antrian untuk mencoblos ke para panitia.

Photo2803c

Nah, selagi menunggu dipanggil, ajaklah bicara orang di dekatmu. Tentu pendekatannya harus menyesuaikan dengan menilai sudah kenal sebelumnya atau tidak, akrab atau tidak, sebaya atau beda usia, dan sebagainya. Bisa kita awali dengan basa-basi tanya kabar, sibuk apa, dan sebagainya, atau bisa juga langsung tembak sasaran, “pilih siapa kali ini?” dan dari sana kita bisa kembangkan agitasi dan propaganda kita sesuai kebutuhan. Tentu ada beberapa jawab tanya tipikal yang biasa muncul:

  1. Saya pilih Prabowo Hatta karena tegas. Tegas seperti apa? Masa setelah Orde Baru jatuh, kabur ke Yordania itu tegas?
  2. Saya pilih Prabowo Hatta karena mau nasionalisasi. Sebenarnya nggak juga, Prabowo Hatta cuma bilang mau renegosiasi. Soal renegosiasi ini sudah jadi omongan pemerintah atau menteri-menteri sebelumnya tapi tidak ada realisasi yang berguna. Lagipula nasionalisasi kalau dikontrol pejabat yang korup juga sama aja bo’ong, kan?
  3. Saya pilih Prabowo Hatta karena bisa jaga keutuhan NKRI. Sebenarnya, sih, NKRI gak utuh-utuh banget. Liat deh pulau Papua dibagi tepat ditengah. Satu Papua Barat satu Papua Nugini. Liat juga Kalimantan yang dibagi atas bawah. Lagipula masyarakat kita ini bukan kesatuan tunggal. Ada yang kaya ada yang miskin dan ada yang konglomerat dan ada yang melarat. Dan ini kesenjangan ini semakin lebar.
  4. Saya pilih Prabowo Hatta karena mau tanda-tangani kontrak dengan buruh. Yah, gimana, yaa. Kontrak itu kan janji, sih, ya. Kita kan harus ngeliat latar belakang orangnya gimana, suka janji dan suka nepatin apa, nggak? Jangan-jangan suka janji dan suka ngingkarin lagi. Lagian ada kasus buruhnya gak dibayar berbulan-bulan. Masa janji orang kaya gitu dipercaya? Kalau antara perkataan dan perbuatan berlainan, ya, jelas jangan.

Serta banyak lagi contoh percakapan yang bisa kita kembangkan.

  1. Saya pilih Jokowi-JK karena sering blusukan. Iya, sih, tapi blusukannya kan justru melanggengkan posisi sosial atas bawah. Hubungannya mirip antara penyumbang dan yang disumbang. Sementara kita tiap hari tetap tinggal blusukan Jokowi (dan kemudian JK) selalu pulang ke rumah mewahnya masing-masing.
  2. Saya pilih Jokowi-JK untuk menghadang Orde Baru. Ya, elah, bro/sis. JK itu kan orang orde baru juga. Surya Paloh juga bekas Golkar. Lagian emangnya Jokowi sendiri bilang mau ngehadang Orde Baru? Nggak, kan?
  3. Saya pilih Jokowi-JK untuk menghadang militer. Ya, elah, bro/sis. (bekas) Jenderal-jenderal kan juga banyak di Jokowi. Ada Wiranto yang kena kasus penembakan semanggi 1 dan semanggi 2, ada Sutiyoso yang kesandung kasus Timor Timur, ada juga tuh yang dulunya jadi kepala BIN pas Munir dibunuh. (Coba deh baca Wikileaks, ada bocoran kabel CIA yang bilang “High Level Involvement” alias Keterlibatan Tingkat Tinggi alias keterlibatan pemerintah).

Serta banyak lagi contoh percakapan yang bisa kita kembangkan.

Dalam melakukan percakapan seperti ini, usahakan jangan bernada permusuhan. Melainkan lakukan dengan nada persahabatan. Mild in manner, bold in content, kata Trotsky, atau dengan kata lain, “Lembut dalam tata krama, tegas dalam muatan.” Usahakan fokus hanya pada dua atau tiga orang saja. Jangan sampai memancing perhatian khalayak ramai atau kita bisa dianggap “provokator” atau tukang “black campaign”

Photo2805c

Setelah kita dipanggil untuk mencoblos, ambil surat suara. Lalu cek langsung di depan panitia untuk melihat ada cacat suara atau tidak. Kemudian masuklah ke bilik pemungutan suara. Nah, disinilah saatnya beraksi. Keluarkan alat tulismu untuk mencorat-coret kertas suara sesuai pesan yang ingin kau sebar luaskan. Usahakan pesannya padat, ringkas, dan lugas. Berikut contoh-contoh pesan yang bisa dipakai:

  1. Dua-duanya penindas
  2. Dua-duanya konglomerat
  3. Dua-duanya pejabat
  4. Dua-duanya antek Amerika.
  5. Dua-duanya kapitalis
  6. Wakil konglomerat bukan wakil rakyat
  7. Demokrasi tipu-tipu
  8. Demokrasi konglomerat
  9. Terbaik dari yang terbusuk
  10. Pemilunya Konglomerat. Bukan pemilu rakyat.
  11. Kedaulatan konglomerat. Bukan kedaulatan rakyat
  12. Konglomerat berkuasa, rakyat sengsara..
  13. Buruh berkuasa, rakyat sejahtera.
  14. Bangun partai buruh revolusioner.
  15. Dan sebagainya

Setelah selesai, jangan lupa pakai ponsel berkamera untuk foto surat suara untuk disebarluaskan via media sosial. Setelah itu keluar dari bilik suara lalu masukkan surat suara ke kotak suara. Kemudian celup jari ke tinta. Kalau mau menggunakan pencelupan untuk membuat pernyataan simbolis, bisa kita celupkan jari tengah (fuck you, bourgeoisie), jari tengah dan jari manis (metal), atau kelima jari sekaligus (untuk menolak salam satu jari atau salam dua jari).

Photo2806c

Bagi yang punya waktu dan tenaga, jangan langsung pulang, sebaiknya amati dan awasi proses penghitungan suara. Meskipun kita Golput, aktivis perjuangan kelas harus berada di barisan terdepan untuk memperjuangkan demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: