Teror Israel Picu Demonstrasi yang Menyebarluas

Teror Israel Picu Demonstrasi yang Menyebarluas

Suatu gelombang kekerasan dikobarkan oleh Israel akhir-akhir ini telah meningkatkan tensi hingga mendidih di sepanjang Tepi Barat, Gaza, dan Israel itu sendiri.

Dini hari 8 Juli, Israel meluncurkan serangkaian misil terhadap lebih dari 50 target di Gaza, yang dinyatakannya ditujukan untuk menghukum Hamas. Laporan preliminer menyatakan bahwa 12 orang Palestina terluka dan empat rumah warga sipil hancur karena bom-bom tersebut.

Sementara itu rakyat Palestina di seluruh daerah pendudukan Israel kini bangkit melawan pasukan Israel yang dilengkapi dengan persenjataan berat. Kota demi kota menjadi saksi barisan rakyat Palestina berbentrokan dengan “Israel Defense Forces” (IDF) atau Pasukan Pertahanan Israel serta polisi Israel menyusul pembunuhan biadab yang dilakukan enam ekstrimis Yahudi terhadap Muhammad Abu Khdeir dan pemukulan keji terhadap keponakannya; Tarek Abu Khdeir oleh polisi Israel.

Menurut laporan organisasi hak-hak narapidana Addameer:

“Tarek adalah seorang bocah Palestina berusia 11 tahun yang dipukuli dan ditahan di Shofat malam lalu menyusul pembunuhan brutal terhadap Muhamad Abu Khdeir yang berusia 16 tahun, yang ditemukan dengan luka-luka pukul dan luka-luka bakar di puing-puing kampung Deir Yassin yang dihancurkan berjam-jam setelah dia diculik dalam aksi balas dendam. Pemerintah Israel menerapkan hukum yang luar biasa bias menyangkut kondisi-kondisi penculikan dan pembunuhan Muhammad.

Serangan-serangan misil pada 8 Juli terhadap Gaza—bertajuk “Operation Protective Edge” oleh IDF—bisa jadi merupakan awal teror yang disahkan oleh negara Israel. Senin 7 Juli, IDF mengumumkan bahwa ia memanggil 1.500 tentara cadangan dan mempersiapkan unit-unit tempur infantri di sepanjang perbatasan Gaza. “Kami siap untuk suatu eskalasi,” ungkap seorang sumber militer anonim kepada Jerusalem Post. “Kami sekarang mengambil langkah-langkah…mendahului kemungkinan meningkatnya eskalasi. Kami menyiapkan peningkatan gradual atas penggunaan kekerasan dan meningkatkan skala serangan-serangan.”

Dalam tiga minggu menyusul 12 Juni—saat tiga pemukim Israel diculik; mayatnya ditemukan dua setengah minggu kemudian—Palestina telah menanggung “(gelombang penyerangan) paling ekstensif sejak tahun 2002 dimana Tentara Israel menginvasi setiap kota Palestina di Tepi Barat,” menurut laporan awal Juli yang dirilis Pengamat Hak Asasi Manusia Eropa Tengah dan Swiss.

Pasukan-pasukan Israel melakukan 2.400 tindakan penggempuran militer, mendobrak pintu-pintu dan menciptakan malapetaka di pusat-pusat pendidikan, bisnis, institusi-institusi masyarakat sipil, serta rumah-rumah penduduk. Sekitar 600 rakyat Palestina ditahan, 130 luka-luka, dan setidaknya tujuh orang terbunuh. Menurut laporan:

“Serbuan-serbuan tersebut secara sengaja memvandalisasi rumah-rumah, menghancurkan perabotan—bahkan menduduki serta mengubah sejmlah rumah menjadi pos-pos militer. Para penghuni rumah berkali-kali dilecehkan dan dianiaya dalam prosesnya, menderita tendangan dan pukulan dari popor-popor senapan. 23 institusi sipil Palestina juga digeledah, termasuk pusat-pusat medis, kantor-kantor media, sekolah-sekolah, universitas-universitas, dan tempat pertukaran mata uang.”

Para komentator media Israel secara terbuka menyuarakan perhatian mengenai apakah perlawanan Palestina akan meluas menjadi Intifada lainnya, atau pemberontakan melawan para kekejaman Israel. Intifada pertama dimulai pada tahun 1987 dan Intifada kedua pada tahun 2000. Tanggal 7 Juli, misalnya, Avi Issacharoff, seorang analis timur tengah dari Times Israel menulis:

“Israel sangat perlu memperhatikan beberapa perkembangan selama jam-jam terakhir…Minggu (6 Juli) merupakan malam ketiga berturut-turut dari demonstrasi-demonstrasi Arab di dalam Israel dan hal itu semakin memburuk. Demonstrasi-demonstrasi yang diukur secara hati-hati, khususnya di selatan—dekat Omer, misalnya—mulai menyerupai seseuatu yang lebih dari sekedar letusan…Perhatian kedua terkait Tepi Barat. Minggu malam menyaksikan demonstrasi-demonstrasi substansial untuk pertma kalinya disana, termasuk juga di—Al-Arub, dekat Hebron, di Makam Joseph, dekat Nablus, dan dekat daerah industri di pinggiran Tulkarem…Yerusalem Timur…telah berkobar—tidak hanya di lingkungannya Abu Khdeir yaitu di Shuafat, namun juga di lingkungan-lingkungan dan pedesaan lainnya pula. Bagaimanapun juga pada minggu malam demonstrasi-demonstrasi tidak menyebar ke Tepi Barat…Ketiga dan terakhir kita sampai pada memburuknya situasi Gaza tanpa henti…”

Tidak seperti penyerbuan-penyerbuan 12 tahun lalu, angkatan militer Israel tidak puas hanya dengan meneror dan menangkapi warga sipil di rumah-rumah dan di tempat-tempat kerja mereka. Sebagai tambahan, sebanyak 2,9 juta dolar dirampas Israel selama penyerbuan—2,5 juta dolar berupa properti seperti komputer, perabotan dan mobil, serta uang tunai sebesar 370.000 dolar.

Serbuan-serbuan militer dilakukan dengan dalih mencari tiga bocah pemukim Israel yang hilang namun motif tersembunyi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebenarnya adalah untuk menciptakan ganjalan antara Hamas di Gaza dan faksi Fatah di Otoritas Palestinanya Presiden Mahmoud Abbas yang berbasis di Tepi Barat.

Bagaimanapun juga akibat kekhawatiran bahwasanya peristiwa-peristiwa ini bisa bergulir lepas kendali mendorong polisi Israel berupaya untuk menahan agar kerusuhan-kerusuhan di Yerusalem oleh gerombolan-gerombolan Yahudi sayap kanan yang menyerukan penggunaan lebih banyak kekerasan terhadap komunitas-komunitas Palestina yang sudah terkepung.

Selama akhir pekan, pasukan udara Israel menjalankan serangan-serangan udara di Jalur Gaza menarget 10 tempat di pusat dan utara Gaza, serta membunuh tujuh orang. Israel bersikeras bahwa serangan-serangan udara ini merupakan respon yang dapat dibenarkan atas serangan roket yang diarahkan pada Israel oleh para militan Palestina di Gaza. Namun bahkan Israel mengakui bahwa dari 40 roket yang ditembakkan, 30 roket diantaranya jatuh di padang pasir, dan sistem pertahanan udara Israel yang cangguh berhasil menjatuhkan 10 roket lainnya. Sementara itu pembombardiran Israel dijalankan dengan misil-misil besar yang meratakan seluruh bangunan dan secara rutin melukai serta membunuh para warga sipil.

Perdebatan mengenai betapa intensnya serbuan Israel berlangsung di saat yang bersamaan juga membuka keretakan-keretakan serius dalam pemerintah koalisi Israel. Menteri Luar Negeri Israel—sekaligus seorang rasis ekstrim kanan—Avigdor Lieberman mengumumkan pembubaran kemitraan partai Beiteinu-nya dengan partai Likud-nya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait kebengisan yang sejauh ini “terlalu ditahan-tahan” dalam perlakuannya terhadap rakyat Palestina.

Latarbelakang kerusuhan ini adalah pengepungan Israel—disusul dengan curahan kekerasan oleh para gerombolan Israel—yang menyerang orang-orang Palestina secara membabibuta sejak penculikan tiga pemukim Israel di Tepi Barat pada 12 Juni.

Saat mayat-mayat para pemuki ditemkan di lapangan dekat tempat mereka hilang, kemarahan nasionalis Israel dilepaskan. IDF menemukan dan menangkap seseorang yang diidentifikasi sebagai tersangka dan segera merobohkan rumah pria tersebut. Namun ini tidak cukup bagi arus ekstrim kanan yang dipertebal oleh rasisme nasionalistis yang dilegitimasi melalui pengunaan kekerasan tanpa henti terhadap komunitas-komunitas Palestina.

Rabu 2 Juli, enam orang Israel menculik remaja Palestina, Muhammad Abu Khudair sebagai tindakan balas dendam terhadap kematian tiga orang pemukim. Fakta bahwasanya sang pemuda Palestina tidak punya hubungan apa-apa dengan menghilangnya orang-prang Israel sama sekali tidak menghalangi para penculik Israel yang kemudian membunuh serta membakar Khudair hidup-hidup. Tubuh Muhamad 90 persen terbakar, saat ditemukan. Situs ElectronicIntifada.net menampilkan video “sejumlah besar orang mengikuti arak-arakan pemakaman dimana Muhammad dikuburkan.”

Beberapa hari kemudian, keponakan Muhammad yang berusa 15 tahun, Tarek—seorang warganegara AS dari Tampa yang mengunjungi keluarga di Yerusalem Timur—diserang oleh para polisi bertopeng dan para pemuda lainnya. Tarek dipukuli sampai pingsan dan kemudian ditahan tanpa tuduhan dan dibiarkan selama lima jam sebelum diberikan perawatan medis.

Video pemukulan tersebut beredar di internet, dan kemarahan publik mulai terbangun seiring dengan meningkatnya jumlah para penonton hingga melebihi seperempat juta kali. Di bawah tekanan, Israel melepaskan Tarek dari penjara—dan memvonisnya sebagai tahanan rumah sepanjang satu minggu setengah sebelum keluarganya kembali ke AS.

Namun Israel tidak mungkin menghapus berita yang beredar. Wajah Tarek yang babak belur dan bengkak ditampilkan di halaman depan New York Times tanggal 7 Juli dan CNN juga menampilkan liputan menyeluruh. Berita tersebut “terbukti menjadi suatu momen baru dalam peliputan konflik karena media Amerika melaporkan kisah Tarek Abu Khdeir secara terus terang untuk pertama kalinya,” menurut situs internet progresif Mondoweiss. “Laporan-laporan simpatis mereka membawa pengalaman Palestina kembali.”

Namun pemukulan dua anak Palestina tak bersalah ini hanya contoh-contoh paling kentara dari gelombang kekerasan yang diarahkan pada orang Arab Palestina. “Para pemukim Israel telah merampas harta benda dan di beberapa daerah menyerang orang-orang Palestina,” menurut Ben White. Suatu desa dekat kota Ramallah di Tepi barat digempur oleh lusinan warga Israel dari pemukiman ilegal terdekat. Para warga desa berusaha membela diri dengan melempar batu dan botol-botol kosong. “Pasukan Israel hadir di peristiwa itu dan menembak ke arah para warga desa,” menurut laporan.

Sementara Israel meratapi kematian tiga pemukim Israel, rakyat Palestina yang menerima pembalasan kolektif tanpa ampun Israel, merasa heran bagaimana mungkin kemunafikan macam demikian bisa berlangsung di dunia. Banyak yang kemudian mencurahkan kemarahannya di Facebook.

Fatima Javed dengan marah menunjukkan bahwasanya pembunuhan terhadap anak-anak di Palestina tidak dimulai dengan pembunuhan tiga pemuda Israel. Kisah tersebut harus dimulai, jelasnya, dari:

“Penghapusan secara sengaja terhadap fakta dari 66 tahun pendudukan, pemenjaraan, pengeboman, penyiksaan, pembunuhan, dan apartheid. Melalui semua ini para korban malah digambarkan sebagai para penyerang, dan terorisme penjajah dilegitimasi. Penculikan tiga penduduk Israel dianggap sebagai kriminal sementara penculikan ratusan anak Palestina dianggap sebagai keadilan. Pembunuhan terhadap tiga pemukim Israel dianggap sebagai terorisme sementara pembunuhan terhadap 1.518 anak-anak Palestina, belum termasuk yang terbunuh hari ini, dianggap sebagai tindakan bela diri dan langkah-langkah keamanan.”

“Dunia mengutuk tindakan ‘terorisme’ terhadap para penjajah Israel namun bungkam seribu bahasa terhadap penyiksaan dan pembunuhan anak-anak Palestina. Tidak ada satu kata pun yang bisa menjelaskan kekejaman kesenjangan antar nilai yang ditempatkan terhadap nyawa Israel dan nyawa Palestina di sisi lain.”

Sementara itu Nerdeen, seorang Palestina-Amerika yang hadir di Yerusalem Timur, memposting informasi-informasi terbaru mengenai kehidupan di lingkungannya.

“Baru saja “update status” karena banyak orang menanyakan keadaanku. Alhamdullilah, aku selamat namun terdapat banyak ketegangan di Yerusalem Timur. Jalanan ditutup dan tentara dimana-mana. Aku tengah berada di Issawiyeh, dan aku melewati Shuafat, Wadi Joz, dan Syekh Jarrah setiap hari ke Masjid Al-Aqsa atau bus-bus ke tempat lain. Hari ini bus harus berganti rute tiga kali akibat jalanan ditutup.”

“Rakyat Palestina muka dibunuhi berkali-kali tanpa alasan. Para pria bertopeng mulai turun ke jalan dengan batu-batu, menyalakan api, dan merusak objek-objek. Tentu saja mereka bukan tandingan bagi kebrutalan Israel. Lebih dari 150 orang di daerah dekatku mengalami cidera akibat peluru dan serpihan granat. Para pemukim Israel bersumpah akan membalas dendam. Mereka menggelar demo-demo anti-Arab dan berjanji akan ada darah Arab tertumpah. Seorang bocah berusia 15 tahun yang diculik, dibunuh, dan dibakar dari Shuafat bisa jadi bukan kasus terakhir.”

“Tentu saja semua tindakan ini diijinkan sepenuhnya dan dilindungi oleh IDF. Aku tak pernah melihat tegangan demikian di Timur Yerusalem sama sekali. Semua yang aku minta adalah agar orang-orang terus membagikan kebenaran mengenai apa yang terjadi dan mendoakan semua rakyat Palestina dari Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur, 48, dan sebagainya, karena saat ini siapapun yang ber”darah” Palestina terancam keamanannya. Terimakasih.”

Dalam posting lainnya, ia menulis:

“Kemarin para pemukim menyerbu Issawiyeh dan bersembunyi di setiap tempat yang memungkinkan persembunyian, tak ada seorangpun yang tahu mengapa mereka melakukannya. Kalau mereka mengawasi, merencanakan sesuatu, berupaya melakukan penculikan lain, kami tak tahu. Para pemukim lebih menakutkan daripada tentara karena mereka menculik dan menyiksa secara terang-terangan. Maksudku, tentara juga melakukan itu, namun tidak seterang-terangan para pemukim…Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tak ada satupun yang menghalangi para pemukim, mereka melakukan apapun yang mereka mau tanpa menghadapi konsekuensi apapun”

Apa yang dipedulikan oleh para pejabat Israel—dan patron-patronnya di AS—adalah bahwasanya rakyat Palestina mulai mengorganisir respon terhadap meningkatnya kekerasan para pemukim Israel terhadap rakyat Palestina.

Seringkali serangan-serangan para pemukim Israel disetujui oleh polisi Israel, baik secara tersirat maupun tersurat, dan membiarkan rakyat Palestina memilih antara menderita dalam diam atau membela dirinya sendiri. Dalam hari-hari terakhir, semakin banyak rakyat Palestina yang memilih opsi terakhir namun dalam jumlah sangat banyak. Minggu 6 Juli, misalnya, 400 orang turun ke jalanan Yaffa untuk menghentikan serangan pemukim terhadap rumah-rumah mereka.

Pertahanan kolektif semakin menjelma menjadi protes kolektif dan bahkan menjadi aksi kolektif. Semakin banyak lapisan masyarakat Palestina yang keluar membela diri, kemudian menggelar protes-protes dan aksi-aksi yang semakin luas dan semakin marah.

Sementara itu rakyat Palestina bukanlah satu-satunya yang berada di jalanan, karena ekstrim kanan Israel semakin nekat. Di persimpangan Bar-Ilan, polisi Israel bentrok dengan ratusan demonstran sayap kanan Israel, dan secara temporer menutup perempatan. Para demonstran meneriakkan yel-yel rasis, anti-Arab, dan menuntut kekerasan negara terhadap semua rakyat Palestina untuk membalaskan dendam kematian tiga bocah pemukim Israel.

Di Yerusalem pusat, lusinan ekstrimis sayap kanan menyerang orang Arab, mengakibatkan polisi menutup rute-rute ke Kota Lama. Sementara di tempat-tempat lain di kota, gerombolan-gerombolan fasis berkeliaran di jalanan, meneriakkan yel-yel, “Bunuh orang Arab” dan menghentikan taksi-taksi untuk memeriksa ras para pengemudinya.

Pemberontakan-pemberontakan ini—baik perjuangan rakyat Palestina yang mempertahankan diri maupun orang-orang Israel yang menyerukan lebih banyak pertumpahan darah—merupakan apa yang ingin dihindari Barack Obama. “Saya juga mendesak semua pihak untuk menahan diri dari langkah-langkah yang bisa semakin mendestabilisasi situasi,” katanya seketika mayat-mayat bocah pemukim Israel ditemukan.

Dari sudut pandang Obama, “instabilitas” lebih lanjat setidaknya akan menimbulkan dua konsekuensi yang tak diinginkan. Pertama, Israel akan semakin terkespos sebagai suatu rezim Apartheid, yang tidak membedakan kekerasan terhadap populasi tak bersalah dan mayoritas tak bersenjata, sehingga menimbulkan pertanyaan sekali lagi mengapa Israel menikmati dukungan tanpa henti dari AS. Kedua, dengan berlangsungnya kekerasan di Suriah dan memanasnya Irak, konflik lebih lanjut di Israel hanya memperumit situasi yang sudah sulit yang mana berusaha dikendalikan AS.

Namun jangan salah: perhatian Obama terhadao “stabilitas” tidak ada hubungannya dengan keadilan dan hanya berhubungan dengan manajemen wilayah. Lagipula himbauan Obama atas stabilitas baru muncul di ujung penyerbuan militer Israel seminggu lamanya. Lebihlanjut, Obama hanya menyatakan belasungkawa pada keluarga-keluarga tiga bocah Israel yang mati, mengatakan, “sebagai seorang ayah, aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan yang dirasakan oleh para orang tua tiga bocah ini.” Namun Obama sama sekali tidak menyatakan hal serupa mengenai pembunuhan anak-anak Palestina oleh Israel.

Sementara seluruh dunia mendengar mengenai tiga pemuda Israel yang dibunuh, seorang anak Palestina dibunuh tiap tiga hari oleh pasukan-pasukan militer Israel selama 13 tahun terakhir—setiap tiga hari. Dimanakah kepedulian Obama terhadap “rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan” dari semua keluarga Palestina ini?

Netanyahu berusaha mengendalikan atmosfer gerombolan pembunuh Israel, hanya demi alasan memperbaiki citra Israel di mata dunia—dengan berjanji akan memejahijaukan para tersangka penculikan dan pembakaran Muhammad Abu Khdeir. Namun partai-partai sayap kanan Israel masih terus melolong menuntut lebih banyak pengeboman, lebih banyak pemusnahan, lebih banyak pemenjaraan, dan lebih banyak pembunuhan.

Namun tak peduli betapa banyak kedongkolan yang diperagakan Netanyahu terhadap para “ekstrimis” yang keterlaluan, proyek kolonial Zionisme terus-menerus berujung pada jenis kebrutalan yang merenggut nyawa Muhammad Abu Khdeir. Dalam suatu artikel berjudul “Negara Yahudi kita yang Hina,” Gideon Levy, kolomnis Ha’aretz menulis secara blak-blakan:

“Pemuda negara Yahudi menyerang rakyat Palestina di jalanan Yerusalem, seperti pemuda gentile dulu menyerang Yahudi di jalanan Eropa. Orang-orang Israel dari negara Yahudi mengamuk di jejaring sosial, mengumbar kebencian, dan nafsu balas dendam, dalam cakupan jahat yang tak tertandingi…inilah anak-anak generasi nasionalistis dan rasis turunan Netanyahu.”

Dua pekan terakhir dari penyerbuan militer dan pembalasan kolektif kini menjelma menjadi “Operation Protective Edge” yang semata-mata hanyalah kekejaman terkini dalam daftar panjang kekejaman yang dilakukan Israel—semenjak pembantaian Deir Yassain tahun 1948, ladang-ladang pembunuhan Sabra dan Shatila tahun 1982, serta “Operation Pillar of Cloud” tahun 2012.

Impian Zionis selalu bersandar pada pembersihan Palestina dari populasi pribuminya. Namun rakyat Palestina terus melawan, dan adalah tanggungjawab rakyat bernurani di seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka dalam perjuangan pembebasan Palestina—serta pembebasan seluruh manusia.

*diterjemahkan dari “The terror state lashes out” tulisan Jason Farbman pada 8 Juli 2014 sebagaimana dipublikasikan socialist worker.org. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: