Pengeboman Israel terhadap Gaza dan Kemunafikan Imperialis

Pengeboman Israel terhadap Gaza dan Kemunafikan Imperialis

Pengeboman Israel terhadap Gaza dan Kemunafikan Imperialis

Badai bom dan tembakan yang disebut “Operation Protective Edge” dilancarkan pemerintahan Israel terhadap warga sipil Gaza. Selama hari-hari terakhir lebih dari 400 ton bom potensial telah jatuh ke sasaran-sasaran di Jalur Gaza yang berpopulasi padat. Membunuh setidaknya 100 warga sipil, termasuk anak-anak, dan melukai ratusan orang.

Sementara itu Gaza terpotong dari pasokan-pasokan obat-obatan dan setiap bentuk bantuan, akibat keputusan pemerintah Mesir untuk menutup semua terowongan di sepanjang perbatasan Palestina-Mesir. Terowongan-terowongan demikian memang digunakan untuk menyelundupkan persenjataan namun juga makanan, bahan bakar, obat-obatan, serta semua hal yang penting untuk bertahan hidup. Tindakan pemerintah Mesir demikian jelas mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang semakin parah. Serangan yang dilancarkan tentara Israel ini sama sekali tidak memiliki pembenaran, terlepas semua dalih yang dibuat oleh media massa internasional.

Menjijikkan melihat bagaimana media massa internasional mengumandangkan pretensi yang diajukan Israel bahwa kampanye pengeboman demikian dimaksudkan menyerang sasaran-sasaran militer dan bahwa setiap upaya ditempuh untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dari warga sipil melalui seruan agar populasi menyingkir. Ini hanyalah suatu pernyataan konyol yang penuh kemunafikan. Terlepas dari fakta bahwa apa yang disebut-sebut sebagai “bom pintar” terbukti tidak pintar sama sekali, serta membunuhi warga sipil dan apa yang disebut-sebut sebagai sasaran-sasaran “militer” tanpa pandang bulu, apalagi Gaza merupakan salah satu daerah berpenduduk terpadat di dunia (dengan kepadatan penduduk hampir dua kali daerah perkotaan Roma, misalnya), sesungguhnya “peringatan-peringatan” kepada warga sipil disuarakan kurang dari semenit sebelum serangan, sehingga mustahil siapapun dalam gedung-gedung sasaran untuk melarikan diri. Berita-berita mengenai jatuhnya korban jiwa dan video-video yang diunggah rakyat Gaza di media sosial, menunjukkan anak-anak dan warga sipil terkubur di bawah reruntuhan.

Kekuatan yang Tidak Seimbang

Pembenaran resmi atas pengeboman terhadap jalur Gaza, setelah pengeboman tahun 2012 bertajuk “Operation Pillar of Defence” dan “Operation Cast Lead” pada Desember 2008, merupakan dalih klise. Pemerintah Israel mengklaim serangan ini dibutuhkan untuk menghancurkan peralatan dan basis-basis yang digunakan untuk melontarkan roket ke arah kota-kota Israel, yang mana serangannya ditetapkan pimpinan Hamas pada Senin lalu. Namun roket-roket ini secara keseluruhan terbukti tidak efektif dan mudah saja bagi pertahanan militer Israel yang canggih untuk mendeteksi dan menghancurkannya setelah diluncurkan. Kota-kota Israel yang bisa disasar oleh roket-roket itu tidak hanya aman namun juga menyediakan tempat-tempat perlindungan aman yang bisa diandalkan dalam keadaan darurat. Bukti dari hal ini adalah sejauh ini tidak ada korban jiwa dari warga sipil di Israel sama sekali. Bandingkan ini dengan lebih dari seratus korban di antara rakyat Palestina. Angka-angka ini saja sudah berbicara mengenai siapa agresor sesungguhnya dan betapa tidak seimbangnya kekuatan diantara kedua pihak.

Eskalasi ini telah menjadi perhatian dan mengisi tajuk-tajuk berita internasional. Namun hal ini sesungguhnya hanyalah kelanjutan tingkatan lebih tinggi dari kenyataan kekerasan keji sehari-hari negara Israel yang mencekik warga Palestina. Rakyat Palestina selama bertahun-tahun telah menderita penganiayaan harian oleh angkatan bersenjata Israel, dimana rumah-rumah mereka digusur dan dihancurkan, pemudanya ditangkapi, dan banyak lainnya yang terbunuh, sementara yang hidup menderita pengangguran tingkat tinggi dan hajat hidup yang buruk pada umumnya. B’Tselem, organisasi hak asasi manusia (HAM) Israel telah menghitung bahwa 565 warga Palestina dibunuh oleh aparat keamanan Israel semenjak tahun 2009 (artinya, sejak berakhirnya pembantaian Gaza yang disebut sebagai “Operation Cast Lead”, yang merenggut nyawa 1.400 rakyat Palestina dan 13 orang Israel), sementara 28 warga sipil Israel dan 10 personel keamanan Isrel telah terbunuh dalam periode yang sama. Sekali lagi, angka ini menunjukkan siapa penindas dan siapa yang ditindas.

Penculikan dan Pembunuhan Tiga Pemukim Remaja

Apa yang ditampilkan sebagai rangkaian peristiwa yang berujung pada langkah-langkah pembalasan dendam di kedua belah pihak kini telh meletus menjadi suatu krisis yang lepas kendali. Tentara Israel kini tengah memobilisasi 40.000 tentara cadangan dan Netanyahu mengancam mengerahkan pasukan ke Gaza, meskipun sejauh ini hanya beberapa ribu yang dimobilisasi. Kalau hal itu yang terjadi, maka jumlah jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak akan meningkat secara berlipat-lipat. Namun apapun yang dilakukan pemerintah Israel, ini tidak ada hubungannya dengan keamanan warganya. Menumpahkan lebih banyak darah rakyat Palestina dan bahkan mengembalikan pendudukan Israel terhadap Jalur Gaza, sebagaimana yang dituntut beberapa pihak, hanya akan meningkatkan tekad generasi baru pemuda Arab untuk melawan pendudukan dengan segala cara.

Penculikan dan pembunuhan terhadap tiga pemukim remaja pada 12 Juni oleh kelompok berandalan di Tepi barat yang diduga dekat dengan Hamas, telah mengakhiri gencatan senjata alot yang dibuat pada tahun 2012. Hal ini sekedar insiden yang dieksploitasi untuk meningkatkan tegangan. Dalam kondisi lain, hal ini akan dipandang sebagai peristiwa tragis dalam konflik puluhan tahun lamanya. Namun kali ini, hal ini digunakan sebagai dalih untuk meluncurkan kampanye media yang histeris mengenai penculikan dan pencarian terhadap para remaja korban penculikan. Terlepas dari fakta bahwa terdapat indikasi-indikasi jelas bahwa aparat-aparat keamanan Israel tahu dalam hitungan jam bahwa ketiganya telah dibunuh, kampanye bertajuk “Bring Back Our Boys” terus berlangsungsung selama berminggu-minggu, demi menyokong seruan serangan pembalasan dendam dan bergerak mendukung negara Zionis serta memanfaatkan sentimen kemarahan yang berkembang untuk membenarkan serangan terkini terhadap Gaza.

Jelas bahwasanya rencana untuk menyerang Gaza sudah dibuat jauh sebelum penculikan dan pembunuhan tiga pemukim remaja. Pembunuhan para remaja hanya membuatnya lebih mudah bagi pemerintah Israel untuk meyakinkan “opini publik” di Israel bahwa serangan demikian diperlukan…untuk “alasan-alasan keamanan”.

Tanpa bukti konkret sama sekali, dalam waktu singkat, tanggungjawab terhadap pembunuhan-pembunuhan demikian diletakkan di pundak kepemimpinan Hamas oleh para pejabat Israel. Banyak keraguan yang muncul mengenai berapa besar kontrol Hamas sebenarnya terhaadp tindakan-tindakan kelompok-kelompok bersenjata tersebut. Banyak komentator bahkan menyoroti bagaimana operasi penculikan tersebut dijalankan dengan cara amatir, penuh dengan kesalahan yang akhirnya berujung pada pembunuhan. Hamas telah membatah keterlibatannya namun pemerintah Netanyahu tidak ragu-ragu untuk mencap Hamas bertanggungjawab dan membalasnya dengan kampanye biadab berupa penangkapan ratusan rakyat Palestina di Tepi Barat, yang secara keseluruhan tidak ada hubungannya dengan pembunuhan para remaja.

Kelakuan brutal aparat-aparat keamanan Israel tampak di depan semua mata, dengan pemukulan sistematis dan kasus-kasus penyiksaan tawanan tak bersenjata yang terdokumentasikan. Bahkan “Human Rights Watch” telah mengecam tindakan penggunaan kekerasan yang melanggar hukum, penangkapan-penangkapan tidak sah, dan penggusuran serta penghancuran rumah-rumah. Amnesty International juga mengecam pelanggaran berat terhadap hukum-hukum HAM dan kemanusiaan internasional oleh aparat-aparat keamanan Israel.

Balasan Hamas adalah peluncuran serangan-serangan roket, yang kemudian digunakan Israel sebagai dalih untuk pengeboman Gaza yang benar-benar tidak proporsional. Bagaimanapun juga mendeskripsikan rangkaian peristiwa demikian saja tidak menjelaskan alasan-alasan dari krisis ini, yang terletak lebih dalam pada hubungan-hubungan kekuatan di kawasan, serta konsekuensi-konsekuensi yang tidak terkira dari intervensi imperialis.

Pergeseran Perimbangan Kekuatan di Timur Tengah

Seluruh Timur Tengah sedang tidak stabil dan penuh dengan krisis akibat pergolakan revolusioner selama tahun-tahun belakangan dan kaum Imperialis berusaha campur tangan untuk mencoba memotong dan mengacau proses ini.

Satu pergeseran penting dalam perimbangan kekuasaan di kawasan menciptakan instabilitas yang semakin besar. Perkembangan perang saudara Suriah telah memperkuat posisi sekutu-sekutu Iran di kawasan (rezim Assad di Suriah, Hizbullah di Lebanon), dimana Iran muncul semakin kuat sebagai kekuatan regional. Rezim Iran telah memainkan peran di masa lalu untuk mengisolasi Hamas di Gaza dengan cara memberikan dukungan namun juga mendukung rival-rival Hamas berbentuk Jihad Islamis dan beribu kelompok yang tidak di bawah kontrol Hamas yang mulai mendapatkan medannya.

Situasi ekonomi di Jalur Gaza telah memburuk secara signifikan akibat pengawasan keras pemerintah Mesir terhadap penyelundupan pasca tergulingnya pemerintahan Ikhwanul Muslimin musim panas lalu, sehingga Hamas kini berada di posisi yang semakin sulit.

Sedangkan di sisi lain, kelemahan imperialisme AS semakin tampak setelah kegagalannya di Suriah dan pemberontakan Sunni di Irak, Kaum imperialis AS kini menengok ke Iran untuk membantu mereka keluar dari kekacauan yang mereka masuki sendiri. AS tidak bisa mempercayai sekutu-sekutu tradisionalnya di Timur Tengah seperti negara-negara Teluk dan Arab Saudi untuk melaksanakannya.

Hal ini juga mempengaruhi Israel, yang merasa terancam oleh meningkatnya pengaruh Iran dan karenanya merasa perlu menegaskan kembali posisinya di kawasan. Sedangkan di sisi lain Israel menikmati kenaikan posisi yang lebih tinggi serta bisa bertindak lebih bebas karena pada kenyataannya AS telah melemah. Israel jelas tengah mengirimkan suatu pesan pada pemerintahan AS. Karena AS tidak bisa mengandalkan sekutu-sekutu Arabnya seperti Arab Saudi, yang membeking kaum Jihadis di Irak dan Suriah, maka Israel mengingatkan mereka bahwa mereka masih punya titik dukungan terkuat di kawasan dan AS tidak boleh terlalu jauh dalam mempromosikan Iran.

Terakhir namun tidak kalah pentingnya, terdapat suatu krisis sosial yang menandakan meningkatnya bahkan meletusnya ketidakpuasan dalam bentuk kerusuhan massa di Israel pada tahun 2011 serta tercerminkan dalam suatu krisis permanen di tingkat pemerintahan (yang kini telah meletus dengan pecahnya koalisi dan perpecahan Israel Beitenu dengan Netanyahu). Sentimen serupa tengah berkembang dalam Otoritas Palestima selama tahun-tahun terakhir dengan ketidakpuasan terbuka disuarakan dan demonstrasi-demonstrasi dilakukan melawan kepemimpinan Fatah yang korup. Semua faktor ini mendorong menuju suatu goncangan terhadap penyelesaian perundingan mengenai persoalan Palestina dan berbagai pelaku yang berbeda berupaya menemukan landasan untuk meradikalisasi konflik.

Radikalisasi konflik untuk mengatasi permasalahan internal

Kelas penguasa Zionis perlu situasi tegangan di perbatasan untuk terus mengendalikan rakyatnya. Pemerintahannya telah kehilangan dukungan, sebagaimana yang tampak dengan demonstrasi besar pada tahun 2011, dan karenanya perlu mengipas-kipasi sentimen nasionalis untuk mengekang perbedaan kelas yang terjadi dalam masyarakat Israel.

Gambaran serupa juga tercermin dalam situasi yang Hamas alami. Pertama kalinya, Hamas berkuasa di Jalur Gaza, Hamas menggambarkan disi sebagai pihak yang melawan pemerintah Fatah yang korup, namun kini rakyat Gaza telah menyaksikan bahwa kedua belah pihak tidak ada bedanya.

Lantas mengapa para pimpinan Hamas menggunakan taktik yang bisa dianggap taktik bunuh diri dengan meluncurkan roket-roket ke Israel? Selama bertahun-tahun Otoritas Palestina, dan bahkan kepemimpinan Hamas di Gaza, telah berkolaborasi dengan aparat keamanan Israel dalam menjaga “keamanan dan ketertiban” serta merepresi warga Palestina, dengan menggunakan alasan menangkap serta membongkar jaringan-jaringan “ekstrimis” seperti Jihadi Islamis dan menerapkan kesepakatan “perdamaian” sebagai cara menjaga kekuasaan serta menyerang lawan-lawan internalnya, demi mengonsolidasikan posisi kekuasaan mereka sendiri.

Selama bertahun-tahun hal ini telah berakibat hilangnya kredibilitas kepemimpinan Palestina, termasuk Hamas, yang sampai sekarang melakukan negosiasi-negosiasi untuk masuk pemerintahan solidaritas dengan Fatah.

Omongan “perdamaian” konyol yang mengekspos pengkhianatan Abu Mazen

Kepemimpinan Palestina semakin terekspos oleh omongan “perdamaian” terkini yang digelar di bawah pengawasan AS. Abu Mazen, presiden Palestina, telah mencampakkan pretensi membela hak kembalinya para pengungsi Palestina dan siap menerima teritori Otoritas Palestina dikurangi 22 persen dari teritori asli Palestina, serta dipecah-pecah menjadi daerah-daerah pedalaman yang tidak terkomunikasi antara satu dengan lainnya.

Konsesi-konsesi yang tiada bandingannya telah diberikan pada Israel. Misalnya bahwa negara Palestina akan didemiliterisasi dan laskar-laskar harus dibubarkan, dimana tentara-tentara Israel dan pasukan-pasukan Internasional bisa menjaga perbatasan, dan Yerusalem dijadikan ibukota bersama, dimana 80 persen pemukim Israel di Tepi Barat dan Yerusalem akan diperbolehkan tinggal di pemukiman-pemukiman ilegalnya, serta rakyat Palestina yang menjadi pengungsi akibat terusir dari rumah dan kampung halamannya pada tahun 1947-1949 akan ditolak hak pulangnya.

Ini artinya menerima status quo secara de facto, tapi bahkan itu pun tidak cukup bagi Israel yang menolak memberikan konsesi apapun.

Baik Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Gaza telah menderita akibat kehilangan kredibilitas secara serius. Keputusan untuk meluncurkan roket-roket Hams merepresentasikan upaya skeptis untuk meraih kembali kredibilitas mereka yang telah hilang.

Keputusan untuk menembakkan roket-roket ke sasaran-sasaran sipil di Israel, sebagaimana yang kami tunjukkan berkali-kali, tidak bisa mencapai apapun dalam memajukan gerakan dan perjuangan keadilan bagi hak-hak rakyat Palestina. Kenyataannya hal itu justru kontraproduktif dan malah memperkuat pengepungan mentalitas kebanyakan warga Israel secara sementara, yang mana hal itu adalah sumber riil dukungan terhadap Zionisme dan Netanyahu. Namun kepemimpinan Hamas perlu menggunakan taktik-taktik ini demi meraih kembali kredibilitasnya setelah bertahun-tahun berkolaborasi secara de facto, berkolaborasi dengan kekuatan pendudukan dan memburuknya kondisi-kondisi hidup di Jalur Gaza telah mengikis dukungan rakyat yang awalnya mereka peroleh.

Pergolakan menyebar di antara orang-orang Arab Israel

Namun tidak semuanya berlangsung mulus dari sudut pandang kelas penguasa Israel. Sentimen dan histeria anti-Palestina yang dikipas-kipasi oleh kampanye media massa telah mengakibatkan reaksi mendalam di antara warga Arab Israel. Khususnya standar ganda yang diterapkan negara Zionis terkait pembunuhan Muhammad Abu Khdeir, pria berusia 16 tahun, yang diculik di Yerusalem Timur dan dibunuh segerombolan preman, telah memicu reaksi kuat di antara orang-orang Arab Israel, rakyat Palestina yang hidup dalam perbatasan Israel sendiri.

Seminggu silam telah menjadi saksi demonstrasi-demonstrasi oleh minoritas Palestina yang tak tertandingi, yang menyusun hingga 20 persen populasi. Demonstrasi-demonstrasi dimulai di Yerusalem Timur dan kemudian menyebar ke kota-kota lain di Israel tengah dan utara. Demonstrasi-demonstrasi tersebut seketika membangkitkan oposisi kuat melawan serangan terhadap Gaza. Demonstrasi-demonstrasi yang digelar pada Selasa malam di Ramallah, Hebron, Bethlehem, dan kota-kota lain yang diduduki di Tepi Barat. Permasalahan utama yang kini menghadapi kelas penguasa Israel adalah bahwasanya serangan terhadap Gaza telah membangkitkan kembali suatu sentimen solidaritas antar rakyat Palestina di Tepi Barat, Israel, dan Gaza, yang mana berusaha dipecah Israel secara hati-hati.

Rencana-rencana Israel pecah berkeping-keping

Runtuhnya omongan “perdamaian” meningkatnya konflik dalam waktu singkat gara-gara Israel telah merontokkan rencana penyelesaian masalah yang direka oleh pemerintah AS. Haaretz, koran Israel, menulis bahwa Presiden Obama mengeluarkan seruan payah bahwasanya “semua pihak harus melindungi orang-orang yang tidak bersalah dan bertindak dengan akal serta penguasaan diri, bukannya dendam dan pembalasan”. Bagaimana nasehat itu diterapkan oleh Israel dengan membombardir Gaza bisa disaksikan seluruh dunia.

Dalam semua manuver tersebut, rakyat Palestina yang sekali lagi harus membayar ongkos besar. Mereka telah dikhianati lagi dan lagi oleh Otoritas Palestina dan kini dihantam lagi oleh peralatan dan persenjataan militer superior. Apakah peristiwa-peristiwa ini akan berkontribusi dalam memicu suatu intifadah baru, dampaknya tidak hanya akan berdampak pada rakyat Palestina di Tepi Barat atau Jalur Gaza saja melainkan berdampak pada orang-orang Arab Israel juga.

Solidaritas dengan Rakyat Palestina

Dalam konflik ini, adalah rakyat Palestina yang menjadi korban. Mereka diusir secara brutal dari tanah air historis mereka dan selama ini terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsian atau bahkan mengalami penderitaan yang setara dengan perbudakan nasional, tanpa negara sejati milik mereka sendiri, tanpa hak menentukan masa depan mereka. Serangan saat ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian panjang dimana kelas penguasa Zionis Israel mempertahankan cengkeramannya terhadap rakyat Palestina. Solidaritas kita terhadap rakyat Palestina dalam hal ini adalah solidaritas sepenuhnya.

Perlawanan heroik rakyat Palestina merentang selama puluhan tahun. Bagaimanapun juga kemenangan akhir tidak akan tercapai melalui penembakan beberapa roket oleh Hamas. Sejarah massa Palestina menemukan momentum-momentumnya saat perjuangan mereka berdampak pula terhadap mereka yang berada di dalam Israel. Salah satu momen tersebut adalah Intifadah pertama, yang menjadi saksi massa bangkit melawan pendudukan. Perjuangan massa demikian adalah hal yang diperlukan hari ini. Apa yang menambah kekuatan pada perjuangan rakyat Palestina adalah situasi baru yang muncul semenjak revolusi-revolusi di Mesir dan Tunisia di tahun 2011. Seluruh dunia Arab berada dalam pergolakan dan revolusi. Krisis kapitalisme dunia adalah akar penyebat pergolakan revolusioner ini dan hal ini telah berdampak pada masyarakat Israel, dimana disana juga kita saksikan gerakan besar.

Manuver-manuver mereka yang ada di atas, baik kelas penguasa Zionis maupun rezim-rezim Arab yang despotik, ditujukan untuk mempertahankan sistem mereka dan menemukan cara untuk mengalihkan revolusi menjadi kontra-revolusi. Serangan terkini terhadap Gaza adalah bagian dari hal ini.

Apa yang diperlukan adalah suatu posisi berdasarkan kelas buruh. Belum lama sebelumnya, banyak yang memandang bahwasanya mustahil rezim Mubarak di Mesir atau rezim Ben Ali di Tunisia bisa jatuh, namun itulah kenyatannya, mereka semua jatuh. Suatu perjuangan buruh Israel dan melawan pemerintah mereka sendiri juga memungkinkan, sebagaimana yang kita saksikan dalam demonstrasi-demonstrasi massa pada bulan Agustus 2011.

Dengan memahami hal ini, maka memungkinkan untuk mengembangkan suatu perspektif berdasarkan perjuangan kelas di seluruh kawasan. Perjuangan buruh dan pemuda Mesir, Iran, dan Tunisia, yang menyebar ke seluruh negara, pada akhirnya akan menjatuhkan elit penguasa di semua negara tersebut. Dalam perspektif itu pula, memungkinkan untuk mengembangkan visi suatu solusi sejati dan selamanya bagi persoalan Palestina, dalam bentuk suatu Federasi Sosialis Timur Tengah yang bisa menjamin hak-hak, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri nasional (“national self determination) dari semua rakyat yang menempati kawasan.

Hentikan pengeboman terhadap Gaza!

Akhiri pendudukan!

Demi hak rakyat Palestina atas tanah air dalam Federasi Sosialis Timur Tengah

*diterjemahkan dari tulisan Francesco Merli bertanggal 12 Juli 2014 bertajuk “Israel’s criminal shelling of Gaza and imperialist hypocrisy” sebagaimana yang dimuat dalam In Defence of Marxism. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: