ISIS – Anak Didik Imperialisme yang Kini Membangkang

ISIS - Anak Didik Imperialisme yang Kini Membangkang

Selasa 10 Juni, ISIS (Islamic State of Iraq and Syria atau Negara Islam Irak dan Suriah), kelompok fundamentalis Islam merebut kota Mosul, salah satu kota kunci di Irak utara. Mereka kemudian bergerak ke Selatan menuju Baghdad dan merebut beberapa kota penting dalam perjalanannya. Ratusan ribu orang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman kekuasaan kelompok reaksioner ini. Hantu barbarisme bangkit sebagai akibat langsung petualangan Imperialisme Amerika.

Selasa awal, kaum fundamentalis Islam datang dari padang pasir dan merebut bandara Mosul, stasiun-stasiun TV, dan kantor gubernuran. Ribuan tawanan dilepaskan saat para pemberontak mengonsolidasikan posisi-posisinya di kota.

Angkatan Darat memiliki lebih dari 30.000 pasukan yang ditempatkan di kota. Namun pasukan ini kabur tanpa perlawanan dan meninggalkan persenjataannya. Para anggota laskar merebut tempat mereka di jalan raya dan gedung-gedung. Dilaporkan juga bahwa kaum Islamis telah merampas $ 480 miliar dari bank-bank di kota selain juga merebut persenjataan, mulai dari senapan-senapan dan rompi anti peluru sampai humvee, artileri berat, pesawat-pesawat kargo, bahkan helikopter-helikopter black hawk.

Sedikitnya 500.000 orang dikabarkan telah melarikan diri dari kota karena ketakutan. ISIS telah mendeklarasikan bahwa dalam dua hari, ISIS akan menerapkan hukum syariah secara ketat disana. Padahal Mosul adalah kota yang terdiri dari banyak suku bangsa yang hidup bersama turun-temurun. Selain mayoritas Sunni Arab, ribuan etnis Assyiria, Kurdi, Turki, Shabak, dan Armenia juga tinggal disana. Kini mereka yang bukan Sunni dilanda ketakutan terbesar.

Di samping menjadi salah satu kota terbesar Irak dengan penduduk sampai dua juta, Mosul juga merupakan pusat perdagangan. Perebutan kota tersebut merupakan pergeseran besar dalam perang saudara yang telah berkobar di Suriah dan Irak yang kini mengancam seluruh kawasan.

Setelah jatuhnya Mosul ke tangan ISIS, kaum fundamentalis Islam berhasil merebut kota Tikrit dan kota penting Baiji yang mengandung penyulingan minyak penting di Irak. Perebutan kota tersebut bahkan lebih gampang dibandingkan Mosul karena ada laporan yang mengindikasikan bahwa menyerangnya para polisi dan tentara terjadi setelah suatu panggilan telepon.

Angkatan Darat Irak, yang secara formal terdiri dari 800.000 orang (dimana 300.000nya ada dalam masa tugas aktif), benar-benar rontok di hadapan hanya beberapa ribu Islamis. Angkatan bersenjata yang terdemoralisasi dan kelaparan tidak punya niatan bertempur melawan ISIS yang bersenjata lengkap dan penuh tekad. New York Times melaporkan hal berikut dari provinsi:

“Seiring dengan pasukan-pasukan Irak yang rontok terceraiberai sebelum penyerbuan, terdapat spekulasi bahwa mereka mungkin diperintahkan oleh para atasannya untuk menyerah tanpa perlawanan. Seorang komandan setempat di provinsi Salahuddin, dimana Tikrit berada, mengatakan dalam wawancara hari Rabu: ‘Kami menerima panggilan telepon dari komandan-komandan pangkat atas yang meminta kami menyerah. Saya menanyakan keputusan itu, dan mereka menjawab, ‘’Ini adalah perintah.’”

Serangan demikian telah mengakibatkan lebih dari separuh wilayah Irak berada di tangan kaum Islamis.

Barbarisme

ISIS berakar di laskar-laskar yang membentuk Al-Qaeda cabang Irak. Sebelumnya mereka merupakan kelompok marjinal dalam gerakan Islamis yang dipandang sebagai kelompok yang terlalu ekstrem. Mereka terkenal karena metode-metode penyaliban dan pemotongan anggota tubuh yang brutal dan barbar. Kelompok tersebut utamanya terisolasi di daerah-daerah gurun pasir dan wilayah suku-suku di barat Irak, dimana disintegrasi negara Irak dan keterbelakangan area-area ini memungkinkan ISIS memperoleh tumpuannya.

Kelompok ini mengadopsi suatu metode penyerangan penjara (total 24 penjara telah disasar) dimana para anggotanya diperintahkan untuk membebaskan dan merekrut para tawanan dalam penjara tersebut. Tahun lalu, mereka menyerang penjara Abu Ghraib dan melepaskan 1.000 tawanan. Selain itu akhir-akhir ini mereka juga melepaskan 2.400 tawanan di Mosul, termasuk para preman dan pembunuh yang kemudian bergabung dengan ISIS agar bisa ikut menjarah. Dus, beberapa elemen paling busuk dari masyarakat Irak—kecuali mereka yang di pemerintah tentu saja—telah dimasukkan ke dalamnya.

Dua Warga Suriah Disalib ISIS

Selama tahun lalu mereka mencoba semakin campur tangan dalam perang saudara Suriah. Awalnya mereka ingin berfusi dengan Jabhat Al-Nusra, yang merupakan pasukan resmi Al-Qaeda di Suriah. Namun karena mereka tidak bisa mencapai kesepakatan maka mereka bersilang jalan. Akibat posisi-posisi ekstremnya, mereka berhasil memperoleh topangan dalam perang oleh kaum Islamis yang telah tergembleng perang di Suriah. Beberapa pihak memperkirakan, meskipun perkiraan ini terlihat dibesar-besarkan, bahwasanya separuh dari prajurit Jabhat Al-Nusra bergabung ke ISIS, yang memang lebih tertarik mendirikan Kekhalifahan di sepanjang perbatasan antara Irak dan Suriah daripada memerangi Assad.

Di Suriah, mereka mendapat nama dan dibenci akibat kekejamannya dan pengendalian terhadap wilayah perbatasan pedesaan dengan Irak. Selama tahun lalu mereka sibuk memerangi para pemberontak lain di Suriah, sementara Assad membiarkannya. Gencatan senjata sepihak ini membantu Assad menggalang dukungan dan menekan imperialisme AS, Israel, dan negara-negara teluk. Sebuah lelucon menyebar di antara para jurnalis di Suriah bahwa tempat teraman dari serangan udara di Suriah adalah di markas-markas ISIS.

Hal ini memungkinkan ISIS mengonsolidasikan cengkeramannya terhadap sebagian besar Suriah timur. Disana mereka berhasil merebut banyak landang minyak. Menurut suatu laporan, satu sumur minyak yang dikontrol oleh ISIS di selatan Raqqa mendatangkan pemasukan sampai $ 1,3 juta per hari, sementara ladang-ladang lainnya di dalam dan sekitar Raqqa mendatangkan $500.000 per hari. Kelompok ini juga didanai melalui penculikan dan penebusan terhadap warga lokal maupun orang asing, termasuk para jurnalis, serta juga perampokan dan perampasan terhadap daerah-daerah yang direbut, termasuk penjarahan pabrik-pabrik dan situs-situs arkeologis. Bahkan ISIS juga merebut kendali atas produksi gandum dan katun di wilayah-wilayah timur serta menjarah silo-silo gandum, yang salah satunya dilaporkan bernilai lebih dari $25 juta.

Konflik di Suriah juga memungkinkan ISIS menguasai jumlah persenjataan yang sangat besar, dimana selain senjata-senjata yang direbut dalam pertempuran juga terdapat senjata-senjata yang dipesan langsung dari para pedagang senjata.

Mereka tumbuh pesat selama tahun lalu. Hal ini ditambah meningkatnya pendapatan mereka, memungkinkan mereka mengambil inisiatif-inisiatif yang lebih tegas. Di atas landasan demikianlah penyerbuan ISIS bisa menyebar dan mengembangkan momentumnya. Mulai dari memerangi tentara Irak di padang pasir dan wilayah-wilayah suku, kelompok ini masuk ke kota-kota. Keberhasilannya mengejutkan karena berkeliaran di perang saudara di Suriah dan berperang di Irak adalah dua hal yang sangat berbeda, apalagi dengan jumlah pasukan yang sangat banyak.

Alasan sebenarnya dari mengapa mereka bisa melakukan hal ini adalah karakter busuk dari rezim gangster Nouri-Al-Maliki yang mengipas-kipasi konflik sektarian selama bertahun-tahun. Metode-metode gangster dan korupsi yang menyebarluas telah mengasingkan masyarakat selapis demi lapis. Saat yang bersamaan kemiskinan dan pengangguran merajalela. Menurut Bank Dunia, 28% keluarga Irak hidup di bawah garis kemiskinan. Menjelang krisis besar di Irak, seperti konflik-konflik bersenjata tahun lalu, Bank Dunia memperkirakan bahwa angka ini bisa naik jadi 70%. Ribuan keluarga makan dengan mengais sampah dan hidup di pemukiman kumuh.

Demi mengalihkan perhatian dari situasi ini Maliki secara khusus menyasar populasi Sunni yang mana para tokohnya disingkirkan dari negara dan pemerintahan secar sistematis. Banyak pemimpin Sunni yang menghilang dan dicurigai telah diculik dan dibunuh. Gelombang teror juga dikobarkan oleh para laskar Syiah yang dibina oleh Maliki dan sekutu-sekutunya. Dengan bersandarkan superioritas jumlah dan militer, Maliki berupaya menindas lawan-lawan Sunninya dengan kekuatan militer.

Perang melawan ISIS telah dicap sebagai perang melawan “terorisme” dan sering digunakan untuk menarget rival-rival Maliki dan bahkan juga warga sipil. Hal ini semakin mendorong banyak orang ke pihak ISIS karena mereka lebih memilih kaum reaksioner Islamis daripada teror Maliki. Bulan Januari saat ISIS mengerahkan pasukannya ke kota-kota, khususnya Falluja dan Ramadi, pemerintah Maliki memperlakukan seluruh kota tersebut sebagai zona perang musuh.

Tindakan-tindakan pemerintah telah membuka jalan bagi kaum fundamentalis untuk memobilasi lebih banyak pemuda yang terbakar semangat. Berbulan-bulan penembakan membabibuta terhadap lingkungan pemikuman di provinsi Anbar telah membakar semangat dendam dari keluarga-keluarga korban.

Februari 2014, sekelompok orang memulai kampanye rekonsiliasi antara pemerintah dan suku-suku lokal provinsi Anbar. Meskipun kampanye tersebut menuai dukungan luas namun pemerintah tidak mundur sama sekali. Hal ini malah menyiram bensin ke api. Pemerintah secara sengaja menyabotase pemilihan-pemilihan umum parlementer terkini di daerah-daerah Sunni.

Semua ini berarti pemerintah telah kehilangan legitimasi di daerah-daerah Sunni di Irak. Sehingga ISIS, yang merupakan kekuatan paling penuh tekad dan terorganisir, berhasil mengambil inisiatif dan mencapai momentum, memasukkan laskar-laskar Sunni lainnya, para perwira tinggi dari tentara rezim Saddam Hussein yang lama, banyak kepala suku, bahkan juga menuai banyak dukungan populasi kota secara aktif maupun pasif. Inilah basis serangan ISIS.

Kaum Kurdi

Di utara, tindakan-tindakan otoriter Maliki yang berlangsung terus-menerus juga mengakibatkan alienasi terhadap populasi wilayah otonom Kurdi. Maliki selama ini terus-terusan menuntut kepatuhan Kaum Kurdi, yang, bagaimanapun juga, telah mencapai keseimbangan antara pemerintah Irak dan Turki. Kenyataannya, dalam kurun waktu yang cukup lama, kaum Kurdi di Irak telah mendirikan negara yang independen secara de facto. Bulan lalu, kaum Kurdi bahkan mulai mengekspor minyak dengan menghindari pemerintah pusat. Saat yang bersamaan pemerintah juga memblok dana-dana anggaran yang dialokasikan untuk wilayah tersebut. Padahal baru beberapa pekan lalu pemerintah Kurdi memperingatkan pemerintah pusat mengenai serangan terhadap Mosul yang akan terjadi dalam waktu dekat namun Maliki tidak merespon sama sekali.

Kaum Kurdi juga punya pasukannya sendiri, namun akibat memburuknya hubungan antara mereka dengan pemerintah pusat, mereka hanya melakukan sedikit atau bahkan tidak melakukan apa-apa untuk melawan ISIS di Mosul. Karena tentara Irak tengah kacaubalau, pasukan Peshmerga Kurdi telah bergerak masuk dan mengonsolidasikan kontrol terhadap beberapa area Kurdi Irak yang secara resmi belum berada di bawah kontrol Pemerintahan Regional Kurdi. Diantara kota-kota tersebut, terdapat kota Kirkuk yang kaya minyak. Sekarang terdapat bentrokan-bentrokan yang tak terhindarkan antara kaum Islamis dan pasukan Kurdi. Hal ini, bagaimanapun juga, akan memberikan tantangan yang jauh lebih besar bagi ISIS daripada tentara Irak yang sebelumnya dihadapinya.

Tentara yang terdemoralisasi

Kecepatan buyarnya tentara Irak bahkan juga mengagetkan beberapa Islamis. Dalam beberapa hari mereka telah mengambilalih sedikitnya lima instalasi tentara dan bandara Mosul. Militer Irak yang putus asa memutuskan membom markas-markasnya sendiri untuk mencegah lebih banyak persenjataan direbut musuh. Kenyataannya Imperialisme AS telah menghabiskan $14 miliar untuk pasukan-pasukan keamanan Irak demi menyiapkannya untuk memelihara kestabilan Irak setelah pasukan-pasukan AS keluar, dan beberapa dari persenjataan ini kini telah jatuh ke tangan pasukan-pasukan ISIS.

Investasi besar dalam persenjataan berbanding sangat kontras dengan minimnya dan kronisnya pendanaan tentara itu sendiri. Hal ini mengakibatkan desersi massal. Para prajurit sering kelaparan dan kekurangan peralatan dan amunisi dasar. Para komentator militer AS memperkirakan bahwa sekitar 40% hingga 50% prajurit telah membelot. Sebelum pasukan Irak buyar di Mosul, angkatan darat Irak telah kehilangan sebanyak 300 prajurit sehari, baik karena desersi, mati, maupun cidera.

Taktik ISIS hingga kini adalah meluncurkan serangkaian serangan keras terhadap posisi-posisi tertentu dimana mereka kemudian mundur dalam waktu singkat. Dengan begini mereka bertujuan untuk menguras semangat pasukan Irak yang sudah rendah dengan tingkat kerugian minimal.

New York Times melaporkan:

“Seorang bekas prajurit yang hanya mau menyebutkan nama pertamanya, Mohamed, karena desersi itu ilegal, mengatakan bahwa dia telah bekerja di Ramadi dan rekan-rekannya mulai membelot berbulan-bulan sebelumnya karena angka kematian mulai menggunung. ‘Aku merasa aku tidak melawan satu pasukan, namun banyak sekali pasukan,’ kata Mohamed, 24 tahun.

“Kaum Militan datang bergelombang-gelombang, mengirim para pengebom bunuh diri saat amunisi mereka mulai habis. Mohamed mengatakan bahwa delapan temannya telah tewas dan dia juga hampir tewas, juga, saat proyektil mortir menghantam Humveenya. Saat para militan mengecualikannya dari daftar sasaran eksekusi, dan memaksanya melarikan diri, ia sangat lega.

“’Aku lelah’, katanya. ‘Semua orang lelah.’

“Pemerintah telah mengecil-kecilkan skala krisis, salah satunya dengan menyatakan bahwa para prajurit ‘hilang’ alih-alih melakukan desersi. Pihak-pihak yang berwenang juga menyalahkan masalah dengan mengambinghitamkan isu-isu yang tidak ada hubungannya—mengatakan misalnya, bahwa para prajurit tidak pulang, karena jalanan ke pertempuran tidak aman.”

Di atas itu, rezim penguasa Irak sepenuhnya dibenci karena korupsi dan brutalitasnya. Inilah mengapa sebanyak 4.000 hingga 5.000 prajurit bisa mengalahkan pasukan dengan jumlah yang jauh lebih besar. Tak ada yang siap mengorbankan nyawa mereka untuk Maliki. Banyak prajurit, khususnya Sunni tidak melihat perbedaan antara kekuasaan satu kelompok gangster dengan kelompok lainnya. Sejumlah besar peralatan militer canggih tidak bisa menutup kenyataan ini.

“Misi tercapai”

Setelah invasi 2003, George W. Bush dengan bangga menyatakan “misi tercapai”. Bagaimanapun juga sebagaimana yang bisa kita lihat konsekuensi-konsekuensi blunder imperialisme AS kini mengancam menyeret seluruh kawasan ke dalam perang saudara.

Rezim Saddam Hussein adalah kediktatoran yang keji namun memainkan peran berguna dari sudut pandang Imperialisme AS. Rezimnya menjaga Irak tetap bersatu (tentu saja di bawah tangan besi) dan kaum Islamis tetap kecil. Penggulingan Saddam dan, di atas segalanya, penjinakan kekuatan bersenjata negara Irak oleh Imperialisme AS mengakibatkan semua tegangan nasional, kesukuan, dan sektarian, mencuat ke permukaan.

Alih-alih menghimpun bangsa bersama, AS mendasarkan dominasinya di Irak berdasarkan rivalitas dan pembagian-pembagian sektarian yang ada di negeri itu. Ini merupakan taktik klasik pecah belah lalu kuasai, mencegah kelompok-kelompok yang berbeda untuk bersatu melawan kehadiran AS.

Dengan membubarkan pasukan Saddam, AS telah menghancurkan perimbangan militer seluruh kawasan, menaruh Arab Saudi dan Israel pada jalur tubrukan dengan Iran yang sebelumnya tidak bisa banyak bergerak karena pasukan-pasukan Saddam.

Karena Iran secara tak terelakkan berakhir mendominasi Irak, negara-negara teluk mulai mendanai kelompok-kelompok fundamentalis Islam di seluruh kawasan untuk menandingi pengaruh Iran. Bagaimanapun juga, Arab Saudi yang reaksioner tidak bisa sepenuhnya mengendalikan proses yang mereka mulai itu. Radikalisasi gerakan fundamentalis Islam Sunni terkini malah sekarang menjelma jadi ancaman langsung bagi rezim Saudi.

Semakin lama AS tetap di Irak, semakin dalam tegangan-tegangan sektarian. Di atas segalanya, AS juga memasang Maliki yang berkuasa dengan pemerintahannya yang semakin korup dan sektarian. Sejak dari awal, Perdana Menteri Nouri Al-Maliki menjabat sebagai kompromi antara Iran dan AS. Bagaimanapun juga kelemahannya berarti bahwa ia hanya bisa bertahan dengan semakin memecah belah Irak secara sektarian.

Sekarang para pakar pintar yang menghabiskan dekade lalu membela Maliki dan perang di Irak, kini menyalahkannya atas kekacauan in. Tentusaja Maliki khususnya sangat tidak cocok dalam suatu rezim gangster. Namun persis karena invasi dan pendudukan Irak, lah, yang memaksa AS membeking orang macam itu. Memang dia adalah makhluk yang sangat menyerupai Karzai di Afghanistan. Makhluk reaksioner ini telah menjadi mudarat bagi setiap orang, namun menyingkirkannya membuat mereka sadar bahwa mereka akan menghadapi skenario yang lebih buruk. Partainya, meskipun yang terbesar di parlemen, hanya meraih 92 dari 328 kursi, dimana partai terbesar kedua memenangkan 34. Ini menunjukkan derajat sejauh apa Irak terfragmentasi.

Tragedi terkini adalah akibat langsung dari hal ini. Permainan yang ceroboh terhadap politik-politik sektarian yang diperkenalkan oleh kaum Imperialis AS sekedar berkembang mencapai akhir logisnya oleh Maliki. Hasilnya adalah apa yang kita saksikan saat ini, permulaan dari pecahnya Irak dan rontok totalnya rezim yang bahkan tidak bisa mencapai kuorum yang diperlukan di parlemen untuk menerapkan keadaan darurat negara.

ISIS – Ciptaan Imperialisme

Bagaikan banteng di toko Tionghoa, kaum Imperialis AS telah memorakporandakan semua yang mereka sentuh. Setiap gerakan yang dibuat pemerintah AS seakan-akan merupakan gerakan yang salah. Mereka menyingkirkan Saddam Hussein agar mendapatkan Irak yang lebih lentur. Namun AS malah harus membayar mahal dan menghadapi perang saudara. Sedangkan Al Qaeda secara tiba-tiba mendapatkan tumpuan di negara yang sebelumnya mereka diusir.

Lalu setelah Arab Spring, kaum Imperialis AS mencoba menggulingkan Gaddafi dan Assad. Mereka mengandalkan sekutu-sekutunya di Arab Saudi dan Qatar untuk melakukan kerja kotornya. Namun bagaimanapun juga mereka segera menghadapi tumpah ruahnya kaum fundamentalis Islam dari Libya hingga Mali yang dipersenjatai dengan persenjataan dan dana dari Qatar.

Kaum Imperialis AS, tidak belajar sama sekali dari pengalaman mereka di Afghanitas. Mereka mencoba bersandar ke kaum Islamis di Suriah, yang mana mereka merupakan pasukan-pasukan yang paling bisa diandalkan dalam memerangi perang yang dimenangkan Assad. Faktanya, pemerintah AS, secara tidak langsung namun sadar, bersama CIA secara langsung mendukung kelompok-kelompok yang terhubung dengan Al-Qaeda di Suriah dan telah memfasilitasi gerakan-gerakan mereka di kawasan. ISIS semata-mata memberikan pasukan-pasukan ini suatu rumah bagi mereka yang telah teradikalisasi dalam neraka perang saudara.

Inilah salah satu alasannya mengapa AS mundur dari kapanye pengeboman di Agustus 2013. Kini kaum Islamis telah mendirikan benteng-benteng di Libya, Suriah, dan Irak, padahal sebelumnya mereka Cuma di Afghanistan dan Pakistan. “Misi tercapai” memang!

Menyadari apa yakini kentara bagi seluruh dunia—yaitu, betapa kacaunya situasi mereka—selama tahun lalu pemerintah AS telah memasuki persekutuan de facto namun diam-diam dengan Iran dan Assad menyangkut persoalan menggulung kaum Islamis yang kini mendominasi kubu anti-Assad di perang saudara Suriah. Bagaimanapun juga, masih belum jelas apakah CIA sendiri mengikuti garis ini ataukah terus mendukung kaum Islamis.

Hal yang sama bisa dikatakan tentang kelas penguasa Turki yang sejak awal perang saudara Suriah telah mempertaruhkan segalanya demi jatuhnya rezim Assad. Tampaknya Erdogan tidak tahu apa yang tengah dia lakukan. Setelah bertahun-tahun menampung ribuan pejuang oposisi dan menutup mata atas komposisinya yang semakin didominasi kaum fundamentalis Islam, rezim Erdogan telah sadar atas apa yang menjadi ancaman serius bagi stabilitas Turki sendiri. ISIS telah menyandera sekitar 80 warga Turki sebagai sanderanya. Diantara mereka ada tiga anak-anak dan 28 sopir lori. Tak diragukan lagi hal ini tidak akan populer di Turki dimana petualangan-petualangan imperialis Erdogan telah menjadi suatu sumber ketidakpuasan. Baru-baru saja negara tersebut menyatakan Jabhat-Al-Nusra sebagai organisasi teroris. Namun terlambat. Unit-unit Islamis telah berkembang melalui pengetahuannya atas perbatasan-perbatasan keropos Turki. Turki akan membayar mahal pengekangan terhadap mereka.

Sedangkan Iran di sisi lain, bersekutu dengan Bashar Assad, dan membiarkan ISIS berkeliaran di Suriah timur sebagai langkah untuk menekan barat dan menggunakannya untuk menakut-nakuti warga Suriah. Bagaimanapun juga, kini seluruh wilayah yang mereka klaim sedang tidak stabil dan rute-rute suplai Iran ke Suriah dan Lebanon telah terblok secara efektif. Mereka terpaksa mengambil langkah yang lebih berat dan mahal untuk mendukung proxy mereka di Lebanon dan sekutunya di Suriah, Situasi ini terancam menyeret mereka ke dalam perang saudara yang akan berlangsung bertahun-tahun.

ISIS bukan apa-apa selain akibat kumpulan tindakan berbagai kekuatan yang bermain. Hari ini mereka meneteskan air mata buaya, namun selama ini menggunakan sektarianisme untuk memajukan kepentingan-kepentingan sempitnya sendiri. Mereka telah menciptakan monster yang kini mengancam mengguncang seluruh kawasan. Dan kini mereka kini saling melihat satu sama lain tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Terdapat tekanan yang semakin besar agar AS melakukan campur tangan militer lagi, yang merupakan hal terakhir yang diinginkan Obama. Washington sedang tidak berselera apalagi publik AS yang tidak menghendaki petualangan lain yang mahal. Kaum Republiken memang ingin melompat dan menuntut tindakan militer, namun secara realistis pemerintah akan berupaya membatasi keterlibatan mereka sebisa mungkin.

Kini lampu sorot menerangi Iran, kekuatan baru yang bangkit di kawasan. Dikabarkan bahwa Garda Revolusioner Iran telah dimobilisasi dan pasukan-pasukan dikerahkan di perbatasan dengan Irak. Diklaim bahwa Iran akan bergerak masuk dengan pasukan darat bersama serangan-serangan udara AS dan serangan-serangan drone. Ini adalah kelanjutan dari pengenduran ketegangan antara AS dan Iran tahun lalu.

AS telah membuat marah sekutu-sekutunya di Arab Saudi dan Qatar, bahkan juga Israel, akibat kebimbangan terus-menerusnya. Sebaliknya AS terpaksa semakin bergantung ke Iran, yang sejak kemunduran Irak semakin menjadi kekuatan regional dominan. Kesepakatan yang dirundingkan dengan Iran hanyalah pengakuan atas kenyataan.

Iran bisa jadi akan bergerak masuk demi mempertahankan kepentingan mereka. Bagaimanapun juga mereka ragu masuk pasir hisap yang menjebak Amerika selama puluhan tahun dan menguras trilyunan dolar. Jelas bahwa tidak ada pasukan di Timur Tengah yang bisa mempertahankan Irak barat melawan kehendaknya. Kaum Sunni Irak jelas tidak akan menyambut pasukan-pasukan Syiah dari Iran. Suatu serbuan militer oleh Iran dan AS di Irak hanya akan menambah krisis.

Pemerintah Turki telah memberi lammpu hijau pada tentaranya untuk melancarkan operasi-operasi yang lebih luas dengan dalih menyelamatkan para sandera Turki. Bagaimanapun juga baik Turki maupun Arab Saudi tidak bisa campur tangan secara tegas tanpa mengakibatkan kekacauan yang lebih luaas. Kenyataannya, tiap intervensi hanya akan semakin menguatkan ISIS. Mereka memang inferior secara militer selama hidupnya namun serangan-serangan tanpa ampun dari klik Maliki terhadap populasi Sunni adalah yang mendorong populasi ke pihak ISIS.

Tidak jelas apa yang akan terjadi kini. Apa yang jelas adalah dorongan moral dan finansial yang diperoleh ISIS akan menguatkannya di periode berikutnya dan membuatnya bisa mengonsolidasikan kekuatannya. ISIS kini menuju Baghdad dari utara namun semakin mereka mendekati ibu kota kelihatannya mereka semakin tidak menghadapi perlawanan sepenuhnya. Mungkin mereka akan berusaha menyerang dan mendestabilisasi pemerintahan pusat, setelah itu mereka akan mundur dan mengonsolidasikan posisi-posisi mereka lebih jauh dari ibu kota.

Dalam tiap kasus, proses disintegrasi Irak sebagai suatu bangsa telah dipercepat secara dramatis. Daerah-daerah suku di barat akan lepas kontrol dari pemerintah pusat dan kesepakatan apapun dengan kelompok-kelompok ini hanya akan bersifat sementara. Sedangkan daerah-daerah Kurdi akan semakin bertindak sebagai suatu negeri independen.

Pemecahan sektarian Irak akan berujung pada pembantaian, pogrom, serangan-serangan teroris, dan perang berdarah yang menguras tenaga antar berbagai kelompok etnis yang sebelumnya menyusun rakyat Irak yang selama berabad-abad hidup bersama dengan damai. Apa yang awalnya merupakakan buaian peradaban kini terperosok ke dalam barbarisme. Inilah akibat permainan kaum imperialis yang selalu mengeksploitasi perbedaan etnis demi kepentingan-kepentingan rakusnya sendiri.

Di atas basis kurangnya gerakan buruh independen untuk melawannya dan sistem korup mereka, mereka mampu mendapatkan topangan dalam negeri dengan bersandarkan pada elemen-elemen paling reaksioner. Sehingga selama seluruh periode, solusi terhadap krisis di Irak, seperti Suriah, akan terletak di luar batas-batasnya. Suatu gerakan revolusioner di negara-negara yang bertetangga, dimana kelas buruh harus memainkan peran menentukan, bisa mengubah situasi di Irak.

Revolusi Arab menunjukkan potensi kebangkitan regional rakyat di kawasan. Di Mesir kita telah meyaksikan mobilisasi jutaan orang, menggulingkan rezim Mubarak dan kemudian Mursi. Di Turki, kita menyaksikan mobilisasi massa tahun lalu dan yang terkini berupa demonstrasi massa terkait kematian para buruh tambang di Soma. Di Iran gerakan revolusioner tahun 2009 memberikan kita gambaran mengenai apa yang akan datang di masa depan. Bahkan di Arab Saudi terdapat gemuruh massa oposisi.

Di Irak, sebagaimana di Suriah dan Libya, bagaimanapun juga kita menyaksikan reaksi hitam mencuatkan kepalanya. Massa tidak menginginkan kekuatan fundamentalis Islam berkuasa. Hanya kekagalan kapitalisme untuk menawarkan solusi atas permasalahan membara rakyat pekerja, yang membuka ruang bagi elemen-elemen ini untuk memenangkan basis.

Satu-satunya kelas yang bisa menawarkan jalan keluar dan solusi sejati adalah kelas buruh. Berbagai borjuasi nasional di kawasan telah membusuk. Mereka harus digulingkan. Kebusukan kapitalisme dan imperialisme di Irak adalah akibat impasse saat ini. Barbarisme adalah satu-satunya yang bisa mereka tawarkan. Hanya dengan menyingkirkan mereka dan sistem busuk kali dan seterusnya maka keberadaan beradab bisa dijamin demi kepentingan mayoritas.

*Ditulis oleh Niklas Albin Svensson and Hamid Alizadeh dengan judul “Civil war and black reaction in Iraq: a Frankenstein’s monster of imperialism raises its head” sebagaimana dimuat In Defence of Marxism. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: