Penerbangan MH17 – Imperialisme dan Seni Kemunafikan

flightmh17

Kematian dari hampir 300 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah di penerbangan Malaysia airline telah mengagetkan dunia. Saat menghilang dari radar, penerbangan MH17 dari Amsterdam ke Kuala Lumpur sedang melintasi daerah yang terkena konflik. Total 283 penumpang, termasuk 80 anak-anak, dan 15 awak pesawat tengah berada di dalamnya.

Para penduduk desa Ukraina dari Rassypnoye, yang merupakan wilayah jatuhnya Malaysia Airline, melihat “orang-orang jatuh dari langit”. Salah satunya, Nikolai, mengatakan pada Reuters: “Saat itu sekitar pukul 17.00. Terdengar gemuruh pesawat yang sangat kuat, kemudian ada sejenis ledakan atau kibasan, lalu kemudian orang-orang mulai jatuh dari langit. Orang-orang muncul persis dari balik awan. Lalu muncul badan pesawat dan jatuh disana, 50 meter dari sini.

Alla, warga Rassypnoye lainnya, mengingat: “Kami mendengar bunyi-bunyi, kedengarannya seperti ledakan-ledakan. Kami pikir kami sedang dibombardir. Namun saat kami keluar kami melihat suatu bagian dari pesawat jatuh di atas rumah kami.”

Keterangan saksi mata ini memuat komentar sangat relevan: “Kami pikir kami sedang dibombardir”. Rakyat dari daerah yang bermasalah ini sudah membiasakan diri akibat terlalu sering ditembaki dan dibombardir oleh pasukan-pasukan yang dikerahkan oleh pemerintah Kiev untuk menghancurkan mereka. Namun aspek kisah tersebut diredam dengan sangat hati-hati di semua liputan media barat mengenai kasus ini.

Main Menyalahkan

Tindakan saling melempar kesalahan langsung dimulai. Tanpa menunggu suatu investigasi atau informasi akurat sama sekali, mesin propaganda langsung bergegas beraksi dengan ketergopohan yang tidak senonoh. Washington tidak membuang waktu sama sekali, langsung menuding Moskow. Sekretaris Negara, John Kerry mengatakan dia “ngeri” mendengar berita. “Tak ada kata-kata yang mampu mengekspresikan duka cita kami bagi para keluarga korban yang jumlahnya hampir 300 orang”. Joe Biden, Wakil Presiden AS mengatakan ia yakin bahwa insiden tersebut bukanlah suau kecelakaan, dan pesawat tersebut sesungguhnya “diledakkan di udara”. Para pejabat intelijen AS mengatakan peluru kendali (rudal) darat ke udara telah menjatuhkan pesawat “namun belum jelas siapa yang menembakkannya”.

Tony Abbott, Perdana Menteri Australia tidak begitu berhati-hati. Dia mengatakan hal berikut di Parlemen: “Ini adalah hari yang suram bagi negeri kita dan ini adalah hari yang suram bagi dunia kita.” Ia mengatakan MH17 ditembak jatuh, “tampaknya oleh para pemberontak yang didukung Rusia”.

Gedung Putih menyeru pada Rusia untuk menurunkan krisis dan mendukung suatu jalan menuju perdamaian. Bagaimanapun juga tidak ada tuntutan terhadap pemerintahan Kiev untuk menghentikan serbuannya atau menghentikan pengebomannya terhadap kota-kota yang dikuasai oleh para pemberontak.

Beberapa jam kemudian para pejabat AS mengatakan bahwa mereka mencurigai rudal buatan Rusia telah menembak jatuh MH17. “Kecurigaan” ini didikte dari Kiev. Seorang penasehat kementerian dalam negeri Ukraina sebeumnya menuduh bahwa rudal ditembakkan oleh peluncur Buk buatan Rusia. Tidak ada bukti yang mendasari dibuatnya tuduhan ini namun seketika hal ini diterima di Washington dan segera disiarkan ke seluruh dunia sebagai suatu fakta.

Semua “informasi” datang langsung dari Kiev. Namun Ukraina belum merilis informasi sama sekali yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, mengapa mereka tidak menyiarkan pada publik pembicaraan antara kontrol udara Ukraina dengan pilot pesawat? AS mengatakan, “Kami yakin tidak ada rudal yang ditembakkan dari pihak Ukraina.” Mengapa mereka yakin sekali?

Karena pemerintah Kiev sendiri juga memiliki rudal-rudal Buk maka gampang saja untuk mengambil gambarnya dan menunjukkannya pada dunia seakan-akan sebagai “bukti pasti” dari tuduhan Poroshenko. Kita masih ingat jelas atas “bukti pasti” Colin Powell mengenai Senjata Pemusnah Massal di Irak. Validitas “bukti” ini kurang lebih berada di tingkat yang sama.

Pakar kebijakan luar negeri AS, Damon Wilson, mengatakan pada BBC bahwa Presiden Rusia, Putin, nampaknya menggunakan taktik-taktik biasanya terkait malapetaka terkini—“Mengalihkan sesuatu yang sangat besar merupakan kesalahannya dan mengambinghitamkan Ukraina”.

Suatu “analisis intelijen AS preliminer” telah menyimpulkan bahwa MH17 kemungkinan ditembak oleh suatu rudal yang ditembakkan oleh para pemberontak pro-Rusia di Ukraina timr, lapor siaran CNN dengan mengutip pejabat pertahanan AS yang tidak disebutkan namanya. Namun bagaimana bisa ada analisis sebelum reruntuhan pesawat ditemukan? Jenis “analisis” demikian tidak lebih dari spekulasi dan tidak kurang dari propaganda.

Akhirnya saat Obama memutuskan untuk mengatakan sesuatu dia lebih berhati-hati daripada pihak-pihak lainnya: “Terlalu awal untuk menebak apa niatan-niatan mereka yang mungkin meluncurkan rudal darat ke udara. Investigasi akan dijalankan.” Namun dalam tarikan nafas berikutnya ia menambahkan bahwa pesawat tersebut ditembak oleh rudal darat ke udara. “Tembakan dilakukan dari teritori yang dikuasai oleh para separatis Rusia”. Jadi memang tidak terlalu dini sama sekali!

Ada suatu piringan hitam lama yang diproduksi dengan judul Suara Tuannya dengan cap merah bergambar anjing mendengarkan pemutar piringan hitam. Ini adalah gambaran sempurna mengenai apa yang dikenal sebagai “hubungan istimewa” antara Inggris Raya dan AS. Bos besar di Washington membuka mulutnya dan anjing kecil di London mulai menggonggong. David Cameron telah mendengari Suara Tuannya dan dengan patuh menggaungkannya di House of Commons. David Cameron mencoba sebaik mungkin meniru Winston Churchill, menuntut sanksi tegas, termasuk larangan-larangan terhadap bank-bank Rusia dan maskapai-maskapai Rusia serta membekukan aset “kroni-kroni dan oligarki” yang mendukung Putin.

Cameron memperingatkan bahwa Inggris mungkin akan terpaksa “merubah pendekatan kita terhadap Rusia secara fundamental”. Ia mengatakan, “Kalau dia (Presiden Putin) tidak merubah pendekatannya terhadap Ukraina dalam hal ini maka Eropa dan Barat harus secara fundamental merubah pendekatan kita terhadap Rusia. Kita yang berada di Eropa tidak perlu diingatkan mengenai konsekuensi menutup mata saat negara-negara besar menindas negara-negara kecil.”

Seseorang mungkin ragu akankah upaya Cameron untuk menggertak Rusia akan menyebabkan Presiden Rusia kurang tidur. Gonggongan anjing kecil memang selalu mengganggu namun jarang mengancam nyawa. Seseorang juga meragukan akankah “kroni-kroni dan oligarki” di kota London yang mendukung Cameron tapi juga meraup laba sangat banyak dari jual beli dengan “kroni-kroni dan oligarki” yang mendukung Putin, akan menyetujui sanksi serius terhadap Rusia. Sementara itu, Angela Merkel pura-pura tidak mendengar, sedangkan di sisi lain Hollande menandatangani jual beli senjata dengan Moskow yang sangat menguntungkan. Tidak ada tanda-tanda tindakan tegas disini!

Ke(tidak)pastian Absolut

Bahkan dalam semua riwayat propaganda bohong dan pemutarbalikan fakta, akan sulit menemui suatu kasus yang dengan terang-terangan merekayasa fakta menjadi prasangka dan menampilkan opini publik yang sangat sepihak hanya berdasarkan histeria spekulasi kosong. Acuan-acuan terus menerus dibuat dengan klaim “analisis” oleh “para pakar”. Bagaimanapun juga tidak ada analisis yang dimungkinkan kecuali para personel yang punya kualifikasi sudah memeriksa puing-puing pesawat, suatu proses yang bisa makan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Namun “para pakar” di Washington dan London sudah sampai kesimpulan padahal tidak ada orang yang sudah melihat reruntuhannya, apalagi menganalisisnya. Pokoknya salahkan Putin dan hukumlah Rusia!

Saat itu, bila kita mengesampingkan kemungkinan kegagalan dan kerusakan mesin, ada beberapa kemungkinan penjelasan. Pertama ini bisa jadi tindakan teroris dalam pesawat itu sendiri. Kemungkinan ini semakin tinggi mengingat fakta hilangnya pesawat Malaysia di Pasifik akhir-akhir ini, yang keberadaannya tetap tidak diketahui. Kemungkinan kedua—yang dengan seketika diterima oleh media barat—adalah pesawat tersebut ditembak jatuh oleh rudal dari daerah yang dikuasai pemberontak di dalam Ukraina. Ketiga, bisa jadi pesawat tersebut ditembak jatuh oleh rudal yang diluncurkan dari dalam Rusia atau pesawat tempur Rusia. Terakhir, bisa jadi pesawat tersebut ditembak jatuh oleh tentara Ukraina. Semua kemungkinan demikian harus diinvestigasi dan kebenaran hanya bisa ditegakkan saat para investigator kecelakaan penerbangan yang mahir punya akses langsung terhadap reruntuhan psawat dan perekam-perekam penerbangannya (kotak-kotak hitam).

Ketiadaan bukti konkret sama sekali telah diperparah dengan rekaan-rekaan sangat khayal dan pernyataan-pernyataan yang sangat percaya diri, semuanya bersumber dari pemerintah Kiev dan para juru bicaranya. Mereka mengatakan suatu rudal ditembakkan “dari area yang dikuasai kaum separatis di Ukraina tenggara”. Ukraina tenggara adalah area yang sangat luas. Sebagian dikuasai para pemberontak, sebagian dikuasai pemerintah, dan sebagian berada di tengah-tengah pemerintah dan pemberontak. Darimana sebenarnya rudal tersebut ditembakkan? Kalau mereka memang punya bukti (seperti klaim mereka) bahwa rudal tersebut benar-benar ditembakkan dari teritori yang dikuasai pemberontak, mereka seharusnya mampu menggunakan informasi elektronik untuk mendeteksi tempat pasti darimana rudal tersebut ditembakkan. Di masa lalu kita telah dijejali dengan gambar-gambar detail dari satelit yang menuduh pasukan-pasukan Rusia bergerak mendekati atau menjauhi perbatasan. Namun tidak, tidak ada informasi konkret kali ini, hanya pernyataan-pernyataan kosong dan tuduhan-tuduhan liar, yang tujuannya bukan untuk menginformasikan tapi memanas-manasi.

Klaim bahwa pesawat ditembak oleh rudal yang dilontarkan dari peluncur Buk – sistem rudal darat ke udara jarak menengah buatan Rusia – pertama kali dilontarkan oleh Anton Herashchenko, seorang penasihat pemerintah Kiev, jelas bukan sumber yang independen. Satu-satunya bukti klaim ini dan bahwa rudal ditembakkan oleh “kaum separatis pro-Rusia” hanyalah suatu video pendek dan buram yang muncul secara misteris beberapa jam setelah jatuhnya pesawat dan yang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu konvoi para militan pro-Rusia mengangkut sistem darat ke udara Buk kembali ke Rusia. Ini dirilis Herashchenko di Facebook.

Menurut layanan BBC Monitoring, foto-foto ini diedarkan oleh Dmytro Tymchuk, jurnalis pro-Kiev, yang digambarkan sebagai “seorang reporter militer otoritatif di Ukraina” (yang mana kenyataannya dia menjalankan kios propaganda dan berkali-kali tertangkap basah membuat prediksi-prediksi salah dan menyebarkan informasi salah). Namun foto-foto ini lebih menimbulkan pertanyaan daripada memberikan jawaban. Darimana Tymchuk mendapatkan foto-foto ini dengan begitu gampang dan cepat? Siapa yang mengambilnya, dimana, dan kapan? Seseorang mungkin menduga bahwa kalau foto-foto itu asli pastinya diambil di tengah zona perang yang dikuasai pemberontak. Namun tidak ada informasi tentang ini sama sekali.

Seseorang telah menunjukkan bahwa terdapat suatu baliho yang tampak di video (rupanya baliho penjualan mobil) dari perusahaan di Krasnoarmeysk—suatu kota yang dikuasai pasukan-pasukan Kiev selama dua bulan terakhir. Apakah ini benar atau salah kita tidak tahu. Namun tampak sangat aneh bahwa semua pernyataan dari Washington berdasarkan “bukti” dan desas-desus yang meragukan.

CIA memiliki teknologi sangat canggih untuk memata-matai dan mengumpulkan intelijen. Area tersebut sangat menarik bagi imperialisme AS. Penembakan rudal Buk Rusia memerlukan penggunaan radar. Apakah CIA tidak mampu mendeteksi ini? Tidak mungkin CIA tidak mampu. Namun alih-alih demikian, CIA cuma bisa menyajikan foto-foto buram dengan asal-usul meragukan yang dipublikasikan di media sosial.

Para pemberontak mengklaim telah menangkap sistem pertahanan udara SA-11 dari tentara Ukraina. Ini adalah sesuatu yang dibantah tentara Ukraina dengan susah payah. Suatu bantahan yang diulangi oleh Jaksa Agung setelah jatuhnya penerbangan MH17. Dikatakan bahwa Igor Strelkov, salah satu pimpinan pemberontak…mengirim kicauan (tweet) yang menyatakan dia telah menjatuhkan pesawat transportasi Rusia Antonov 26, dan bahwasanya kicauan tersebut kemudian dihapus. Bahkan kalaupun ini benar, ini masih hanyalah bukti insidental atau tidak langsung. Seorang kriptologis (ahli sandi) Rusia menganalisis salah satu rekaman yang ditudingkan sebagai “bukti” atas keterlibatan Rusia dalam menjatuhkan pesawat. Nyatanya rekaman tersebut terbukti palsu. Rekaman itu terdiri dari fragmen-fragmen percakapan-percakapan yang berbeda dari waktu yang berbeda-beda yang digabungkan seseorang untuk menghasilkan efek yang diinginkan.

Para “pakar” luar negeri menangkap sinyal yang dikirimkan Kiev dan ikut-ikutan dengan antusias. Dalam suatu artikel di Daily Telegraph, Shashank Joshi dari Royal United Services Institute menyatakan bahwa “Ini sangat buruk bagi Moskow”. Dia mengatakan bahwa setelah berbulan-bulan mensponsori perang rahasia di perbatasan Ukraina, “Tampaknya semakin masuk akal – meskipun jauh dari kepastian – bahwa salah satu antek mereka mungkin bertanggung jawab atas tindak teror terbesar dalam sejarah Eropa modern (bahkan pengeboman kereta Madrid di tahun 2004 menewaskan sedikit orang, dengan 191 korban jiwa)”.

Kita mencatat bahasanya, dimana “Tampaknya (jadi kemungkinan) semakin masuk akal (sehingga bisa dipercaya), dibubuhi syarat “jauh dari kepastian”. Namun dalam kalimat berikutnya kurangnya kepastian ini diubah menjadi kepastian sepenuhnya. Tidak hanya itu, namun kita sekarang sepenuhnya diyakinkan bahwa Moskow (atau dalam skala apapun, salah satu anteknya) “mungkin bertanggung jawab atas tindak teror terbesar dalam sejarah Eropa modern (bahkan pengeboman kereta Madrid di tahun 2004 menewaskan sedikit orang, dengan 191 korban jiwa)”.

Disinilah sinisme politis digabungkan dengan kebodohan gramatikal dan logika absurd. Pengeboman Madrid merupakan tindakan teror yang disengaja, dan didesain untuk membunuh sebanyak mungkin korban sipil. Namun tak seorangpun—tidak juga Shashank Joshi—yang berani menyarankan bahwa kalau ini memang rudal yang ditembakkan oleh para pemberontak (sesuatu yang kita tidak boleh lupa, jauh dari kepastian) maka hal itu hanya merupakan suatu kecelakaan, karena pemberontak sepenuhnya tidak akan diuntungkan dari hal itu sama sekali, malah merugikan mereka sepenuhnya.

Namun Samantha Power, duta AS untuk PBB, mengklaim, “Kita tidak bisa mengesampingkan pendampingan teknis dari personel Rusia…Ini (serangan terhadap pesawat) mengikuti pola tindakan-tindakan kaum separatis yang didukung Rusia”.

“Kita tidak bisa mengesampingkan”; serangan “mengikuti pola tindakan-tindakan kaum separatis yang didukung Rusia” dan sebagainya, dan sebagainya. Ketidakjelasan bahasa ini menunjukkan kurangnya bukti konkret sama sekali sekaligus hasrat untuk membuat penegasan umum dan klaim-klaim tidak berdasar yang meskipun demikian cenderung mengarahkan tudingan untuk menyalahkan ke pihak tertentu.

“Mengutak-atik Bukti”

Dalam kasus apapun, semestinya mungkin menentukan isu secara ilmiah. Menurut para pakar seharusnya para investigator kehancuran penerbangan mampu menentukan apa yang mengakibatkan kehancuran dari bekas-bekas reruntuhan pesawat. Kalau itu masalahnya, maka seharusnya merupakan urusan gampang untuk menemukan siapa yang meluncurkan tembakan mematikan. Namun sementra buktinya belum tentu mengonfirmasikan kebenaran dari “bukti pasti” dari pemerintah Kiev, Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional Ukraina telah menuduh para militan pro Rusia merintangi investigasi mengenai penyebab kehancuran pesawat.

Baik para pemberontak maupun Putih telah menyerukan suatu “investigasi menyeluruh dan objektif terhadap kehancuran pesawat”. Ini tidak menyarankan bahwa mereka punya sesuatu untuk disembunyikan. Putin juga menyerukan akses penuh terhadap tempat kejatuhan pesawat sekaligus juga menyerukan untuk mengakhiri perseteruan dan mengatakan bahwa pemerintah Kiev yang harusnya disalahkan atas tragedi ini. Banyak orang heran mengapa investigasi belum dimulai dengan sungguh-sungguh. Meskipun Barat dengan keras menuntut penyelidikan internasional untuk mengungkap fakta-fakta namun Barat juga langsung memulai kampanye media yang menuduh bahwa para pemberontak menolak akses ke tempat kejadian jatuhnya pesawat, menuduh para pemberontak mengutak-atik bukti dan menyingkirkan jenazah-jenazah, yang, kata mereka, telah “menghilang”. Ini adalah kebohongan dari awal sampai akhir.

Pihak otoritas di daerah yang dikuasai pemberontak dari hari pertama telah menyatakan bahwa mereka akan membuka akses bagi para investigator dan sepenuhnya menghendaki investigasi indepenen. Apa yang mereka minta adalah membuka koridor kemanusiaan dan menuntut gencatan senjata untuk memfasilitasi investigasi. Suatu permintaan yang masuk akal, menurut siapapun, namun ini ditolak sepenuhnya oleh pemerintah Kiev, yang terus berusaha mengerahkan serbuan untuk menggempur rakyat Timur.

Para pekerja gawat darurat telah menyisir reruntuhan di tempat kejatuhan pesawat sejak hari pertama. Meskipun menderita kekurangan sumber daya yang sangat akut, rakyat di kawasan tersebut telah menempuh segala upaya untuk membantu pengambilan jenazah-jenazah. Associate Press (AP) melaporkan bahwa diantara banyak pekerja keselamatan sukarelawan yang menelusuri tempat kejatuhan pesawat merupakan para polisi “dan juga para buruh tambang yang sedang tidak bertugas”. Memang buruh tambang sedunia selalu cepat tanggap dalam memberikan pertolongan dalam situasi gawat darurat demikian. Mereka sudah terbiasa dengan mala petaka pertambangan yang mereka hadapi sendiri dan karenanya mengerti penderitaan orang lain. Kita bisa lihat foto-foto buruh tambang batu bara Ukraina yang melintasi ladang bunga matahari saat mereka mencari jenazah-jenazah para penumpang pesawat Malaysia yang jatuh di dekat desa Rozsypne.

Berkat kerja tanpa henti para pekerja keselamatan inilah, rekaman penerbangan telah berhasil ditemukan dari tempat kejatuhan pesawat. Rekaman-rekaman demikian kini telah diserahkan ke pihak otoritas Malaysia. Namun karena kebenciannya terhadap para pemberontak, pemerintah Kiev menuduh para pemberontak berusaha menghancurkan bukti “kejahatan-kejahatan internasional” di tempat kejatuhan pesawat. Pemerintah Kiev mengatakan bahwa para pemberontak yang dipimpin Rusia mencegah para perwakilan internasional dan pakar-pakarnya agar tidak bisa memulai investigasinya. Ini semua dusta juga. Justru pemerintah Kiev yang tidak melakukan apapun untuk membantu operasi penyelamatan dan pemulihan. Sebaliknya, pemerintah Kiev malah menyabotasenya secara aktif dengan menolak gencatan senjata dan mengintensifkan serbuannya di area tempat kejatuhan pesawat.

Alexander Borodai, pemimpin Republik Rakyat Donetsk yang memisahkan diri, mengatakan dia akan membolehkan jenazah-jenazah yang tewas dalam kejatuhan pesawar untuk dibawa ke kota terdekat Kharkiv, yang dikuasai oleh pemerintah Kiev, karena “kami tidak punya cukup refrigator untuk menyimpan jenazah-jenazah.” Laporan hari ini oleh BBC mengatakan bahwa semua jenazah kini telah diambil dan dikirim ke Kharkiv, sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya. Mengapa ada yang ingin membuat jenazah “dihilangkan”, sebagaimana yang dituduhkan, tetap misteri bagi kebanyakan orang. Padahal kenyataannya, kepala tim pakar forensik dari Belanda mengatakan bahwa dia “sangat terkesan” dengan kerja yang dilakukan di tempat jatuhnya pesawat dan menganggap kondisi kerja yang dihadapi mereka yang mengurusinya merupakan “pekerjaan yang luar biasa susah”.

Wawancara dengan warga setempat menunjukkan bahwa mereka benar-benar kaget dan sedih sampai menangisi nasib tragis para korban. Namun pemerintah Kiev dan sekutu baratnya tidak punya kepentingan untuk menampilkan wajah manusiawi ini. Sebaliknya, mereka gatal untuk menggambarkan rakyat Ukraina tenggara sebagai monster-monster tidak berperikemanusiaan, teroris-teroris haus darah, dan menurut kata-kata Arseniy Yatsenyuk, Perdana Menteri Ukraina sendiri, “bajingan-bajingan”; pendek kata, orang-orang yang mereka anggap pantas dibombardir dan dibantai seperti binatang—yang mana merupakan hal yang dilakukannya untuk beberapa waktu dengan dorongan dari Washington dan sekutu-sekutunya.

Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa mengirimkan tim pengawas internasional ke tempat kejatuhan pesawat dan terkonfirmasi bahwa mereka diberikan akses aman pada hari Jumat (dengan kata lain, seketika). Organisasi mengatakan bahwa “separatis-separatis” juga bekerjasama dengan pihak otoritas Ukraina sepanjang operasi penyelamatan. Meskipun demikian, media barat mempublikasikan laporan-laporan mengenai tempat kejatuhan pesawat dipatroli oleh anggota-anggota laskar “setengah mabuk”. Bahkan untuk membuat berita ini makin menarik, mereka melaporkan bahwa para penjaga menembaki para anggota OSCE yang datang ke tempat kejatuhan pesawat untuk melakukan investigasi.

Ada dua masalah dengan kisah ini. Pertama, para anggota OSCE bukanlah investigator penerbangan. Misi mereka adalah untuk menengahi gencatan senjata antara pemerintah Kiev dan para pemberontak—yang disabotase Kiev. Kedua, mereka telah mengatakan bahwa mereka tidak ditembak oleh siapapun. Namun media barat tidak menggubrisnya! Laporan mengenai para pemberontak menembaki OSCE sudah beredar di seluruh dunia berkali-kali, dan tidak ada yang mempublikasikan bantahan OSCE.

Laporan-laporan di media barat pada prakteknya mengontradiksikan kebohohan bahwasanya para pemberontak menolak akses terhadap tempat kejatuhan pesawat. Kita bisa melihat para jurnalis BBC berjalan menyusuri tempat jatuhnya pesawat tanpa masalah sama sekali; mereka merekam, mengomentari, bahkan memungut kepingan-kepingan reruntuhan pesawat (bisakah ini juga dianggap “mengutak-atik barang bukti?”)

Banyak penginspeksi internasional di Kiev. Jadi mengapa investigasi internasional begitu tertuda? Alasan mereka belum pergi ke tempat kejatuhan pesawat adalah mereka tidak diperbolehkan oleh pemerintah Kiev. Pemerintah Kiev memang tidak tertarik dengan investigasi internasional. Pemerintah Kiev lebih tertarik meningkatkan kampanye militer melawan Donetsk. Karena orang-orang di Kiev yakin mereka tengah menang mereka tidak mau menyetujui gencatan senjata, yang mereka anggap hanya memberikan ruang bernafas bagi para pemberontak. Sementara itu nasib tragis 300 orang malah dijadikan mesin propraganda Kiev.

“Pemeriksaan” dan Provokasi Pemerintah Kiev

Petro Poroshenko, Presiden Ukraina mengatakan: “Menembak jatuh pesawat terbng sipil adalah tindakan terorisme internasional, yang diarahkan terhadap seluruh dunia. Ini merupakan panggilan bagi seluruh dunia. Kami meminta respon layak dari komunitas internasional. Kami menawarkan simpati sepenuh hati kami bagi para keluarga dan kerabat para penumpang serta awak pesawat yang tidak lagi bisa menemui orang-orang yang mereka sayangi. Selama berminggu-minggu kami meneteskan air mata atas kematian kawan dan keluarga kami sendiri. Kini kami juga menangisi korban-korban yang tidak bersalah dari kejahatan ini. Hari ini Ukraina berduka bersama kalian.”

Reaksi media Ukraina terhadap malapetaka hampir sama sepenuhnya dan tampak dipaksakan oleh berbagai surat kabar termasuk harian populer, Segodnya. Menurut Segodnya, kejatuhan pesawat telah menjadi suatu “titik balik” dalam konflik bersenjata antara pasukan-pasukan Ukraina dan para separatis pro-Rusia dan bahwasanya perang ini bukan lagi konflik lokal.

Pemerintah Kiev ingin bertindak sebagai jaksa, hakim, dan juri dalam hal ini. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengatakan telah meluncurkan pemeriksaan ke jatuhnya pesawat Malaysia, dan mencapnya sebagai “tindakan teror”. Namun kalau sudah tahu “tindakan teror”, dan kalau pelaku “tindakan teror” ini sudah “terbukti pasti” adalah Vladimir Putin dan para pemberontak, lantas buat apa perlu “pemeriksaan”?

“Pemeriksaan” berjalan dengan kecepatan cahaya. Persis dua menit setelah pernyataan di atas, pemerintah Kiev langsung merilis apa yang mereka klaim sebagai bocoran percakapan telepon antara separatis pro-Rusia dan “apa yang tampaknya merupakan para perwira militer Rusia” mengatakan bahwa para separatis menembak jatuh penerbangan MH17. Kecepatan dinas rahasia Ukraina yang luar biasa berbanding terbalik dengan intelijen Rusia, demikian kita disuruh mempercayai, yang dengan janggal mendiskusikan masalah tersebut via telepon. Inilah misteri lain bagi orang yang berpikir dan bertanya-tanya.

Yatsenyuk menyerukan bahwa jatuhnya MH17 merupakan “kejahatan internasional” dan “perang melawan dunia”. Dia menuntut pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. “Semua garis telah dilanggar,” tekannya, meperingatkan orang-orang untuk bersiap atas embargo sepenuhnya pada perdagangan dengan Rusia dalam format bilateral. “Berikut perkiraan saya: kita perlu bersiap atas embargo penuh terhadap perdagangan dengan Rusia dalam format bilateral,” kata Yatsenyuk, penuh harap. (Dari laporan Interfax-Ukraina.)

Semua orang tahu bahwa Yatsenyuk adalah antek Imperialisme AS dan ketundukannya dengan setia mencerminkan garis Washington. Namun sebenarnya hal ini hanya mengandung substansi sangat kecil dibalik semua ini. Mengutip kata-kata Macbeth karya Shakespeare: “Inilah kisah yang diceritakan oleh orang dungu, penuh busa dan angkara, tapi tidak ada artinya.” Semua ini diperhitungkan untuk menghasilkan atmosfer ketakutan dan kebencian terhadap Rusia dan para pemberontak serta memenangkan dukungan internasional atas kampanye berdarah yang dikobarkan pemerintah Kiev terhadap rakyat Ukraina tenggara.

Contoh paling menjijikkan dari kampanye kebencian Kiev terhadap para pemberontak adalah foto yang menampilkan anggota laskar bersenjata berdiri di tempat jatuhnya pesawat dan memegang boneka anak-anak. Foto ini dengan seketika diposkan di Internet serta direproduksi di halaman-halaman depan pers sedunia sebagai “bukti” bahwa para pemberontak merupakan monster-monster tidak berperikemanusiaan yang siap mengolok-olok matinya anak kecil. Perdana Menteri Belanda yang mencoba meraup publisitas murahan untuk dirinya sendiri dengan menyerang Rusia, menyampaikan pidato histeris dimana ia mencaci hal ini sebagai skandal menjijikkan. Namun konten video saat diputar malah menunjukkan citra yang sepenuhnya berbeda. Pria tersebut, jelas berempati saat melihat sisa-sisa barang penumpang, dan membuat tanda salib di dada, berdoa, dan menunduk. (Lihat rekaman video di bawah).

Inilah bagaimana pemerintah Kiev menggunakan tragedi kemanusiaan untuk mendesak pemerintah-pemerintah Barat agar memberikan bantuan militer lebih banyak ke Ukraina, atau setidaknya mengetatkan sanksi-sanksi terhadap Rusia. Namun ada masalah kecil di sini. Obama, yang sadar betul bahwa kebanyakan rakyat Amerika sudah letih dengan perang dan petualangan-petualangan luar negeri, tidak ingin diseret ke dalam tindakan militer di Ukraina. Ia tidak mau campur tangan, namun ia ingin agar Eropa mengambil pendirian yang lebih agresif terhadap Rusia. Sejauh ini ia tidak berhasil.

AS tidak sabar terhadap Merkel dan Uni Eropa serta keengganannya merespon krisis Ukraina. Ini diekspresikan oleh Paul Wolfowitz, seorang tokoh Neo-Konservatif terkemuka AS, dalam wawancara dengan BBC Newsnight Jumat lalu. Dalam keseleo lidahnya, ia menuduh Putih “menyiram minyak ke api krisis”, sebelum mengoreksi dirinya sendiri dan menyadari bahwa jauh dari menyiram minyak ke Eropa dan Ukraina, orang di Kremlin malah akan terpancing untuk menutup kran sepenuhnya.

Cui bono?

Dalam setiap penyelidikan pembunuhan pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: Cui bono: siapa yang diuntungkan? Jelas bagi setiap orang bahwa Putin tidak diuntungkan dari penembakan terhadap pesawat sipil di Ukraina Timur. Sebaliknya, pers barat kini dengan senang gembira menunjukkan, bahwa dia bisa kehilangan segalanya. Hal yang sama berlaku juga bagi para pemberontak yang, sudah diserang oleh pasukan-pasukan pemerintah Kiev, kini juga mendapati diri dicap sebagai “pembunuh” dan “teroris” oleh pers dunia.

Apakah Rusia diuntungkan dari menembak jatuh pesawat sipil dan membunuh 300 orang? Tidak. Apa pemberontak diuntungkan? Tidak. Bukankah justru mereka akan sangat dirugikan? Lantas siapa yang diuntungkan? Alexander Borodai, pemimpin pemberontak, menuduh pemerintah Ukraina menyerang pesawat itu sendiri. “Tampaknya, memang pesawat penumpang itu ditembak jatuh oleh angkatan udara Ukraina,” katanya pada siaran TV Rossiya 24 milik pemerintah Rusia. Apakah klaim ini seabsurd yang diklaim media barat? Entah benar atau salah, namun tidak absurd.

Orang-orang di Kiev sebenarnya satu-satunya yang memiliki motif jelas dan kentara atas kejahatan ini. Apakah mereka punya kesempatan? Ya, karena meskipun tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan bahwa para pemberontak memiliki rudal-rudal Buk yang dikatakan telah menjatuhkan pesawat, namun tentara Ukraina diketahui memilikinya. Menurut BBC Monitoring service, militer Rusia pada hari kamis mendeteksi radar yang diaktifkan merupakan milik baterai Ukraina dari rudal darat ke udara. Kalau ini benar, maka tudingan harusnya bukan diarahkan pada para pemberontak melainkan pada tentara Ukraina sendiri.

Ukraina telah berkali-kali mengeluh mengenai dugaan pelanggaran Rusia atas ruang udara Ukraina. Mungkin saja Ukraina menembak jatuh pesawat tersebut karena menganggapnya sebagai pesawat perang Rusia. Bagaimanapun juga hal ini agak mustahil karena terdapat sinyal elektronik yang secara otomatis mengidentifikasi suatu pesawat sipil. Alternatifnya adalah mereka sengaja menembak pesawat tersebut. Awalnya ini tampak sebagai tindakan yang begitu kejam dan tak masuk akal. Memang kejam tapi bukan tak masuk akal.

Kementerian pertahanan Rusia telah merilis foto-foto yang mengindikasikan keberadaan pesawattempur Ukraina di sekitar pesawat Malaysia beberapa saat sebelum kejatuhannya. Apa yang mereka lakukan disana? Selain itu Kementerian pertahanan Rusia juga punya bukti pergerakan rudal-rudal Buk oleh tentara Ukraina pada saat yang bersamaan di area dekat jatuhnya pesawat. Moskow telah menantang Kiev untuk menunjukkan rincian apa yang dilakukan sistem-sistem anti pesawat tempur Ukraina saat kejatuhan pesawat.

Sejauh ini tidak ada balasan dari Kiev selain hanya bantahan-bantahan marah. Namun terdapat kontradiksi-kontradiksi lain yang belum dijelaskan. Sebelum jatuh, Penerbangan MH17 terbang di jalur yang berbeda dari jalur biasanya. Perubahan jalur ini pasti telah diputuskan dengan kesepakatan dengan kontrol udara Ukraina. Mengapa percakapan antara kontrol udara dan Penerbangan MH17 tidak dipublikasikan?

Namun akankah pemerintah Kiev dan pasukan-pasukannya tega melakukan perbuatan sekeji itu? Bukan hanya mampu. Mereka bahkan telah melakukannya. Sejak para pemberontak mendeklarasikan kemerdekaan di bagian timur Ukraina Donetsk dan Luhansk pada bulan April, lebih dari seribu warga sipil dan kombatan diyakini terbunuh dalam serbuan ganas yang dikerahkan oleh pemerintah di Kiev. Bahkan Selasa sebelum tragedi ini, suatu pesawat perang pemerintah Kiev embombardir kota Spizhne yang dikuasai pemberontak, meluluhlantakkan gedung dan rumah-rumah susun, menewaskan sebelas orang. Para pejabat Ukraina membantah pesawat-pesawat mereka terlihat. Sebaliknya mereka malah menyalahkan Rusia. Dusta ini begitu kentara bahkan para jurnal-jurnal barat pro-Kiev sampai mengoloknya. Ini artinya rezim Kiev sudah membombardir target sipil dan menyalahkan Rusia.

Saat itu mereka tidak berhasil, jadi apakah bukan tidak mungkin mereka mencoba lagi, kali ini mereka bermain dengan taruhan lebih tinggi? Ini merupakan kemungkinan yang tidak bisa dikesampingkan. Apa motif mereka? Sudah jelas. Meskipun pasukan-pasukan Ukraina maju dalam pertempuran, perang di Timur berjalan begitu lamban dan menyakitkan. Para pemberontak berjuang mempertahankan tiap meter daerah mereka dan ini membuat orang-orang di Kiev frustasi. Mereka ingin lebih banyak bantuan dari Amerika dan Eropa serta kecewa karen tidak dituruti. Yatsenyuk tahu benar bahwa dia tidak bisa menghadapi Rusia secara militer. Karenanya dia dan klik di Kiev ingin menyeret pihak-pihak lainnya dalam konflik mereka. Penjatuhan pesawat Malaysia memberikan kesempatan sempurna bagi mereka.

Sejarah perang punya banyak contoh kecelakaan yang didesain atau diprovokasi untuk menciptakan atmosfer histeria perang dan tindakan pembenaran agresi: pengeboman The Maine, Pearl Harbour, Teluk Tonkin…Penjatuhan Penerbangan MH17 bisa jadi salah satu kasus serupa. Poroshenko dan pemerintah Kiev jelas tidak membuang-buang waktu dalam menggunakan tragedi kemanusiaan ini untuk mengobarkan sentimen anti Rusia dengan bahasa paling histeris dan agresif: “Habis sudah Rusia,” seru Arseniy Yatsenyuk, Perdana Menteri Ukraina dengan pongah. “Ini merupakan kejahatan internasional yang harus diinvestigasi oleh pengadilan internasional di Hague.” Berbicara pada pertemuan di Kiev, ia juga mengatakan bahwa Ukraina harus menyiapkan “larangan penuh” terhadap perdagangan dengan Rusia (dengan kata lain, perang) dan dia menuntut kepala “para bajingan yang melakukan hal ini”. Pertanyaannya: siapa “para bajingan” yang sebenarnya?

Apakah para pemberontak melakukan kesalahan?

Mungkinkah pesawat ditembak jatuh akibat kesalahan pasukan pemberontak? Setelah berbulan-bulan dibombardir dan diberondong pasukan-pasukan pro-Kiev, mungkin saja orang-orang yang tidak berpengalaman mengira bahwa pesawat Malaysia adalah pesawat perang lain yang datang untuk mengebom mereka dan salah menembak jatuhnya. Ini adalah satu kemungkinan namun bukan kemungkinan satu-satunya.

Sergey Kavtaradze, perwakilan pemberontak, dikutip Interfax menyalahkan “pihak Ukraina” atas kejatuhan pesawat Malaysia. “Kami tidak punya sistem pertahanan udara seperti itu,” katanya. Lantas tentara Ukraina menegaskan bahwa pesawat Malaysia dijatuhkan oleh Rusia. Bukan oleh pemberontak Ukraina.

Jelas dalam kekacuan berdarah di Ukraina Timur tidak ada yang sepenuhnya mengendalikan situasi. Itulah mengapa absurd untuk menuntut Putin menyelesaikan masalah. Asumsi yang dibuat di Barat bahwa para pemberontak membuat kesalahan karena kurang pengalaman dalam menangani sistem rudal canggil serta keliru melihat pesawat Malaysia sebagai pesawat perang Ukraina yang akan mengebom mereka. Karena ini adalah peristiwa sehari-hari maka dugaan ini cukup masuk akal. Sistem Buk memiliki perangkat radar canggih yang memungkinkannya membedkan antara pesawat sipil dan pesawat perang. Namun kalau kru yang mengoperasikan tidak mampu menangani sistem demikian, pesawat tersebut hanya akan muncul sebagai tidak lebih dari titik di langit. Kalau interpetasi salah terhadap titik tersebut terjadi, akibatnya akan fatal.

Alexander Nekrasov, mantan penasihat Kremlin, menunjukkan: sistem Buk terdiri dari empat kendaraan (dan) dua radar. Untuk mengoperasikannya harus benar-benar profesional. Jadi kecurigannya adalah bisa jadi unit pembelot dalam pasukan Ukraina, atau unit pembelot dari pihak yang disebut sebagai separatis.” Nekrasov mngatakan bahwa terhadap persepsi di Barat bahwa Rusia mengendalikan semua separatis Ukraina. “Ini tidak sesederhana itu,” katanya. “Terdapat banyak pengelompokan disana dengan suplai-suplai persenjataan dan agenda-agendanya sendiri.” Beberapa pasukan Ukraina telah berpindah pihak dan bertempur di pihak pemberontak.

Meskipun media Barat bicara “menahan” pihak otoritas Kiev, pasukan-pasukan Ukraina secara agresif menyasar warga sipil di timur. Dibalik pekatnya kabut propaganda, pemerintah Kiev meneruskan serbuan berdarahnya di Ukraina timur. Pasokan air dan listrik telah diputus di sebagian besar kota Luhansk yang dikuasai pemberontak di Ukraina timur. Kilang minyak disana juga terbakar sebagaimana diberitakan media Rusia dan Ukraina.

Para pemberontak melawan dengan sengit. Tentara reguler Ukraina butuh berminggu-minggu untuk merebut kembali Sloviansk. Pasukan-pasukan Ukraina kehilangan beberapa pesawat dan helikopter di operasi tersebut. Pusat perlawanan pemberontak bergeser ke Donetsk dan Luhansk. Sekarang tentara Ukraina menghadapi prospek kehilangan lebih banyak saat ia mencoba menyerbu pusat-pusat regional ini, dimana tiap distrik bisa diubah menjadi pusat perlawanan bersenjata.

Meskipun penampilannya terlihat sebaliknya, tentara Ukraina merupakan kekuatan tempur yang tidak seefektif pada awal bermulanya konflik. Sederhana saja. Karena rezim Kiev mengutus komandan-komandan yang tidak akan ragu-ragu menggunakan persenjataan berat, artileri, dan pesawat tempur terhadap sasaran-sasaran sipil. Pasukan-pasukan kejut pertama rezim Kiev yaitu apa yang disebut sebagai Garda Nasional Ukraina, adalah unit-unit yang pada pokoknya terdiri dari para sukarelawan fasis dan NAZI. Para fasis ini termotivasi secara ideologis dan dibayar lebih tinggi daripada tentara. Merekalah yang mengancam warga Timur dengan pedang dan senjata api. Inilah yang coba disembunyikan propaganda media dari opini publik dunia.

Sedangkan di sisi lain, para pemberontak tahu bahwa mereka tidak bisa terus bertempur tanpa dukungan dari luar. Benar atau tidak Donetsk bisa direbut tanpa kerusakan skala besar sepenuhnya bergantung secara langsung dari kekuatan bertahannya pemberontak. Amunisi mereka mulai habis dan mereka butuh persenjataan baru secara terus-menerus. Mereka butuh aliran sukarelawan dari Rusia dan para pejuang ini juga butuh pelatihan serta tempat berlatih.

Tuntutan utama pemerintah Kiev dan sekutu-sekutunya di Washington dan London adalah Rusia harus menutup perbatasan dan berhenti menyuplai para pemberontak dengan peralatan militer. Dengan kata lain mereka ingin menghalangi para pemberontak dari hal-hal yang mereka butuhkan untuk mempertahankan diri, untuk membuatnya tidak berdaya, dan menempatkan mereka pada belas kasihan Garda Nazional, yaitu, NAZI Ukraina. Itulah makna mendasar dari kepentingan Kiev dan Barat di balik isu Penerbangan MH17.

Sikap Rusia jelas krusial dalam situasi ini. Putin tampaknya menolak gagasan intervensi militer langsung—setidaknya untuk saat ini. Opini publik di Rusia mendoronganya tetap secara diam-diam mendukung para pemberontak dengan pasokan persenjataan dan sukarelawan. Namn Kremlin tengah mengejar kepentingan sendiri di Ukraina. Putin punya niatan untuk menjaga para pemberontak dengan mengirimkan persenjataan secukupnya agar mereka tidak dikalahkan untuk melemahkan pemerintah Kiev dan memaksanya berunding dengan Moskow. Barat menuduh Putin menyokong para pemberontak, namun fakta terbatasnya bantuan yang diberikannya memicu kekecewaan para pejuang yang meminta pertolongan Rusia dalam perjuangan pemberontak melawan pembantaian fasis.

Tentara Ukraina mungkin akan mencoba menggunakan superiotas jumlahnya untuk menggilas para pemberontak. Para pakar menganggap bahwa 30.000 tentara reguler hanya akan menghadapi paling banyak 10.000 pemberontak. Dalam kondisi ini, respon logis para pemberontak mungkin adalah dengan menciptakan kelompok-kelompok “mobile” (yang dapat berpindah tempat dengan mudah) terdiri dari 200 hingga 300 pejuang, dilengkapi dengan peluncur roket “mobile” dan persenjataan anti-tank dan memotong jaringan komunikasi ke Donetsk, untuk menghalangi pengerahan pasukan-pasuukan Ukraina yang diperbebas oleh perebutan Sloviansk. Mereka telah meledakkan tiga jembatan di jalan menuju Donetsk, dan pasukan-pasukan Ukraina akan menghadapi resiko sergapan-sergapan oleh pemberontak di jalan-jalan utama.

Bukan tidak mungkin untuk mengatakan dengan persis berapa banyak dan peralatan macam apa yang dimiliki dan dipusatkan para pemberontak di Donetsk. Namun bertarung di suatu kota modern adalah mimpi buruk bagi tentara Ukraina. Setiap jalan akan jadi medan pertempuran, setiap rumah jadi pusat perlawanan. Para pemberontak akan bertempur sampai mati dan angka jatuhnya korban jiwa akan sangat banyak. Bahkan bila Donetsk jatuh ke tangan Ukraina, pemerintah Kiev akan menghadapi perang gerilya jangka panjang, tindak-tindak teroris, dan kebencian dari warga yang ditaklukkan yang hanya bisa diredam dengan represi.

Di Ukraina Timur, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terus-terusan dibunuh, dimutilasi, dan diusir dari rumah-rumahnya. Banyak yang kabur ke Rusia. Setidaknya 20 warga sipil terbunuh oleh pengeboman kota Luhansk yang dikuasai pemberontak pada Jumat pagi. Palang Merah di Luhansk melaporkan bahwa 44 warga sipil telah terbunuh dalam jangka waktu 48 jam. Pemerintah kota menyebutnya “hari kelam lainnya”. Tembakan-tembakan yang diberondongkan tentara Ukraina menimpa “setiap distrik” kota berpopulasi 427.000 orang seiring mendekatnya pasukan-pasukan pemerintah Kiev ke kota. Para penduduknya hidup dalam ketakutan terus-menerus akan kehilangan nyawanya. Bagaimanapun juga, terkait hal ini, tentu saja media barat mempertahankan kebungkamannya.

Tindak Terorisme

Siapaun yang bertanggungjawab atas jatuhnya Penerbangan MH17, hal ini jelas merupakan tindak terorisme dan harus diinvestigasi, namun kita tidak yakin bahwa rezim Kiev akan menginvestigasi apapun. Pemerintah Kiev tidak melakukan apapun untuk menginvestigasi pembantaian Odessa pada 2 Mei dimana orang-orang dibakar hidup-hidup di markas-markas Serikat Buruh, dan dibunuhi saat mereka mencoba kabur dari gedung yang terbakar. Setidaknya 48 orang terbunuh dalam pogrom (kekerasan SARA yang terorganisir) tersebut namun menurut Komisi HAM PBB, rezim di Kiev tidak bekerjasama dengan investigasi. Memang Iulia Tymoshenko secara terbuka malah berterimakasih pada para pelaku kejahatan berdarah tersebut.

Ratapan dan perasan terus menerus rezim di Washington, London, dan Berlin adalah tontonan kemunafikan kaum imperialis yang menjijikkan dan paling parah. Lebih dari 500 laki-laki, perempuan, dan anak-anak terbunuh di Gaza, tapi Obama tidak menuntut kelas penguasa Israel menghentikan agresi jahatnya. Tidak ada seruan atas sanksi-sanksi terhadap rezim jahat Israel, hanya seruan-seruan munafik agar “kedua belah pihak menahan diri”—seolah-olah kedua pihak setara dalam konflik berdarah ini.

Bahkan lebih menjijikkan lagi adalah air mata buaya pemerintah Kiev, yang, dalam analisis terakhir, harus menanggung tanggungjawab atas pertumpahan darah di Ukraina Timur dan tragedi Penerbangan MH17. Valeriya Lutkovska, ombudsman Ukraina, merengek: “Sulit menerima dan lebih sulit memahami kematian ratusan orang tak bersalah termasuk 80 anak-anak. Sebelumnya, monster-monster ini, kaum separatis, dari apa yang disebut-sebut sebagai republik rakyat Donetsk dan Luhanks telah memutilasi dan menggunakan anak-anak Ukraina sebagai perisai hidup. Kini mereka telah menjamahkan tangan-tangan mereka yang berlumuran darah ke anak-anak dari seluruh dunia.”

Seharusnya dia juga meneteskan air mata juga untuk ratusan korban warga sipil akibat pengeboman dan penembakan membabi buta terhadap daerah-daerah sipil di Donetsk dan Luhansk. Palang Merah mengatakan bahwa 40 orang terbunuh di Luhanks dalam 48 jam terakhir. Argumen Kiev dan para pendukungnya bahwasanya para perempuan dan anak-anak digunakan sebagai “perisai hidup“ merupakan propaganda yang biasa dipakai Israel terhadap rakyat Palestina. Padahal maksud mereka sebenarnya adalah para warga sipil yang berani tinggal di kota-kota sasaran akan dibunuh dan dimutilasi oleh bom-bom dan peluru-peluru Ukraina. Namun semakin sedikit yang dikatakan tentang ini semakin baik.

Sedangkan tujuan Moskow sendiri tampaknya adalah untuk mempertahankan kontrol terhadap Ukraina melalui terus berlangsungnya kekacauan. Ini akan memperlemah pemerintah Kiev dan meyakinkannya bahwa tak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan izin orang-orang di Moskow. Ini juga akan menghasilkan keuntungan tambahan dengan menunjukkan pada rakyat Rusia bahwa upaya apapun, bahkan revolusi, termasuk upaya apapun untuk menggulingkan rezim Putin, hanya akan berakhir dengan kekacauan dan perang sipil. Sedangkan bagi rakyat Donetsk yang malang, mereka akan diberikan kehormatan yang meragukan untuk mati demi Ibu Pertiwi Rusia yang tidak siap menerima mereka menjadi bagiannya.

Rakyat Ukraina telah ditipu dengan kejam oleh “teman-temannya”—baik di dalam maupun luar negeri—yang berpura-pura membela kepentingan-kepentingan mereka. Banyak orang di Ukraina Barat menganggap bahwa jatuhnya Yanukovych akan menandakan peningkatan dan bahwa UE akan memberikan bantuannya. Setelah beberapa bulan mereka mulai bertanya apa yang telah berubah di Kiev dan mereka sadar bahwa tidak ada yang berubah. Bahkan tidak ada perubahan jadi lebih baik. Para politisi yang sama jahatnya duduk di pemerintah. Oligarki-oligarki yang sama jahatnya berkuasa di balik layar. “Bantuan” Barat datang dengan benang-benang yang mewajibkan pemotongan anggaran, privatisasi skala luas, dan merosotnya hajat hidup. Harga-harga barang semakin mahal. Sepert biasanya, rakyat jelata korbannya.

Bagi rakyat Ukraina Timur situasinya semakin parah. Para gangster di Kiev mencoba menyembunyikan kenyataan kekuasaan oligarki dengan menabuh genderang nasionalis dan membakar sentimen kebencian terhadap Rusia dan warga berbahasa Rusia yang mereka cap sebagai teroris, separatis, setengah manusia, dan binatang. Yatsenyuk dan Poroshenko menyandarkan dukungan mereka pada elemen-elemen kriminal dan NAZI yang mereka kerahkan menyerang Timur.

Beberapa orang yang punya pikiran sederhana menganggap bahwa Rusia bertindak demi kepentingan rakyat Ukraina Timur. Dalam kebingungannya, mereka memandang Rusianya Putin sama dengan Rusianya Lenin dan Trotsky. Ini adalah ilusi yang sia-sia. Mereka tidak memandang fakta bahwa Rusia hari ini adalah negara kapitalis yang dikuasai oleh oligarki yang korup dan rakus, sama seperti Ukraina.

Saat seorang buruh Rusia berkata: “Aku ingin membela saudara-saudari Ukrainaku dalam perjuangan melawan fasisme,” kita bisa mempercayainya. Ini merupakan perasaan sehat dari solidaritas kelas. Namun saat Vladimir Putin menyatakan hal yang sama, kita tidak percaya satu kata pun. Putin dan klik Kremlin merepresentasikan kepentingan-kepentingan oligarki Rusia. Mereka telah memainkan permainan sinis terhadap rakyat Ukraina Timur, memupuk harapan mereka hanya untuk mengkhianatinya dan menaruh mereka pada belas kasihan rezim Kiev dan tentara-tentara bayaran fasisnya. Akan fatal kalau mempercayai ilusi ini.

Buruh-buruh Ukraina! Akar penyebab permasalahanmu bukanlah pemerintah ini atau pemerintah itu namun sistem kapitalis itu sendiri. Kaum kapitalis telah menjarah, merampok, dan menipumu. Mereka memperkaya diri mereka sendiri dan memeras bangsa yang punya potensi untuk jadi sejahtera menjadi mengemis-ngemis, hancur, dan dipermalukan. Kini mereka telah menjerumuskannya ke dalam perang sipil yang berdarah. Perang ini tidak melayani kepentingan-kepentingan rakyat Ukraina sama sekali.

Di jalan nasionalisme dan sauvinisme tidak ada apapun kecuali kehancuran bagi rakyat Ukraina. Solusi satu-satunya adalah mempersatukan kelas buruh untuk menggulingkan oligarki kapitalis: demi Ukraina yang bersatu, merdeka, dan sosialis. Jangan percaya pada para politisi pembohong yang membalut diri dengan bendera nasionalisme namun sebenarnya merupakan agen-agen oligarki! Jangan percaya para pemimpin luar negeri—baik di Washington, Berlin, ataupun Moskow—yang mengklaim sebagai teman-temanmu nmun sebenarnya hanya mengejar kepentingan pribadi mereka! Percayalah pada dirimu sendiri, pada kekuatan kelas buruh dan pada tujuan sosialisme! Itulah satu-satunya jalan maju.

 

London, 22 Juli 2014

*diterjemahkan tulisan Alan Woods berjudul asli “Flight MH17 – Imperialism and the art of hypocrisy” sebagaimana diterbitkan via In Defence of Marxism. Dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: