Kaum Tani Bumiaji Lawan Kriminalisasi

Kaum Tani Bumiaji Lawan Kriminalisasi

Senin 18 Agustus 2014, petani, ibu rumah tangga, anak-anak, warga Bumi Aji, dan para aktivis Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) dengan jumlah total 150 orang melakukan aksi solidaritas di Markas Polisi Resor Kota (Mapolresta) Batu melawan upaya kriminalisasi terhadap sebelas warga yang dilaporkan Willy Boenardi dari The Rayja Hotel dengan alasan melakukan pengerusakan dan mengambil material bangunan. Terkait ini Salam Safitri, aktivis FMPMA, menjelaskan bahwa pemindahan batu justru dilakukan berdasarkan perintah Syamsul Bakri, Kepala Badan Penanaman Modal Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Anehnya, ujar Fifi, justru warga yang dikriminalisasi. Sedangkan Kepala Badan Penanaman Modal Pemkot Batu tidak dipanggil untuk diperiksa. Fifi, panggilan akrab perempuan ini, menjelaskan bahwa warga menduga tengah dikriminalisasi Polres kota Batu dan pihak The Rayja Hotel yang dimiliki PT. Panggon Sarkarya Sukses Mandiri (PSSM). Dugaan ini diperkuat dengan kenyataan hanya sebelas orang aktivis FMPMA yang dipanggil polisi. “Padahal 300 warga semuanya terlibat dalam pemindahan batu tersebut, semestinya semuanya diperiksa”, terang warga Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji ini.

Fifi menambahkan bahwa dalam daftar nama untuk acuan dipanggil polisi terdapat nama-nama yang tidak valid dan nama-nama dari orang yang sama. “Ini jelas-jelas ada kriminalisasi yang dilakukan. Warga hanya melindungi sumber air kenapa dikriminalisasi,” simpul salah satu pengacara warga ini.

Karena itu pada pagi hari pasca peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia, kaum tani Bumi Aji beramai-ramai mendatangi Mapolresta Batu menggunakan truk dan puluhan motor serta berdemonstrasi menuntut kawan-kawannya dibebaskan. Mereka berorasi serta mengusung plakat dan poster berbunyi, “Lindungi Sumber Air Umbul Gemulo”, “Mata Air Gemulo dalam Ancaman”, “Dukung Penyelamatan Mata Air Umbul Gemulo”, “Air untuk Generasi”, “Air Gemulo untuk 8 HIPAM dan 2 PDAM (Malang dan Batu)”. Ratusan demonstran yang berasal dari Desa Bulukerto, Desa Bumiaji, Desa Sidomulyo, Desan Pandanrejo, Desa Tulungrejo, dan Desa Sumber Brantas ini menuntut agar semuanya diperiksa kalau sebelas rekan mereka tidak segera dibebaskan oleh polisi.

Kaum tani beserta seluruh demonstran pendukungnya menyatakan siap diperiksa. Bahkan kalau harus menunggu sampai sore dan malam. Keluarga dan anak-anak para demonstran juga mendukung dengan cara memasok bekal makanan. Bahkan banyak demonstran yang membawa sarung dan jaket untuk berjaga-jaga kalau harus menginap di depan Mapolresta Batu sampai pagi.

Selain itu para aktivis FMPMA juga mengorganisir kampanye solidaritas dimana mereka tidak hanya menghimpun kaum Tani Bumi Aji namun juga rakyat pada umumnya yang bersimpati dengan perjuangan mereka agar beramai-ramai mengirimkan sms ke Kapolri Jenderal Pol Sutarman, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono dan Kapolres Batu AKBP Windiyanto Pratomo. Banyak sms yang dikirim menyuarakan tuntutan serupa, salah satunya, “Di HUT RI ke-69 ini, warga Bumiaji masih belum merdeka. Hentikan kriminalisasi warga Bumiaji. Bebaskan para pejuang mata air Umbul Gemulo.”

Mengenai ini Kapolres Batu, AKBP Windiyanto Pratomo tidak mengaku melakukan kriminalisasi terhadap warga Bumiaji. “Bukan kriminalisasi, kami menindaklanjuti aduan pihak pelapor, sehingga memerlukan pemeriksaan pemeriksaan,” terangnya. Bagaimanapun juga, kecepatan polres kota Batu merespon laporan gugatan Rayja Hotel yang menuding warga melakukan pengerusakan berbanding terbalik dengan lambannya kecepatan Polda Jatim

dalam memproses laporan WALHI yang melaporkan Wali Kota Batu Edi Rumpoko atas kejahatan lingkungan karena mengeluarkan izin pembangunan hotel di atas lokasi sumber air Umbul Gemulo yang sudah dilayangkan WALHI sejak 22 Juli 2014 lalu.

Akhirnya menghadapi perlawanan FMPMA dan simpati rakyat pada umumnya, pemeriksaan para aktivis oleh polisi dinyatakan berhenti sementara. “Polisi menyatakan tidak sanggup memeriksa sedemikian banyak saksi secara bersamaan.”, kata Rere Christanto, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur (Jatim).

Ony Mahardika, Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur mengungkapkan bahwa sebelumnya pihak The Rayja Hotel juga telah melayangkan laporan gugatan perdata terhadap warga atas tuduhan melakukan perusakan dan mengambil material bangunan. Ini ditambah gugatan perdata senilai Rp30 miliar terhadap Rudi, koordinator FMPMA, yang dituduh melakukan perbuatan melawan hukum dengan jalan melakukan provokasi dan intimidasi, serta melakukan aksi demonstrasi dan berkirim surat yang mengakibatkan terhentinya kegiatan pembangunan The Rayja. Namun Ony menegaskan, “Gugatan perdata ini di Pengadilan Negeri Malang telah dimenangkan oleh warga, dan salah satu poin keputusannya adalah ijin mendirikan bangunan milik The Rayja tidak memiliki kekuatan hukum.” Namun PT PSSM tidak menerima vonis pengadilan ini dan memutuskan naik banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Surabaya.

Kaum Tani Bumi Aji menyatakan siap menghadapi upaya banding PT PSSM. Bersama para aktivis sekaligus kuasa hukum FMPA yaitu Walhi Jawa Timur, Malang Coruption Watch, LBH Surabaya, Ecoton, Ekologi Budaya, Klub Indonesia Hijau, dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), yang juga telah menyiapkan advokasi untuk mengawal banding pihak PT. PSSM di Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Surabaya. “Secara umum (banding) sudah kami persiapkan, termasuk kami akan memastikan hakim yang memimpin sidang bersertifikasi lingkungan, seperti di Pengadilan Negeri Malang kemarin,” kata Rere Kristanto Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI JATIM sembari mengingatkan agar hakim tidak lagi bermain dalam kasus ini.

Pembangunan Hotel The Rayja Batu Resort oleh PT PSSM mendapat penolakan warga Desa Bulukerto dan Desa Bumiaji Kecamatan Bumiaji, serta Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA). Penolakan didasari karena pembangunan hotel itu berada di kawasan lindung sumber mata air Umbul Gemulo di Kota Batu. Warga khawatir sumber mata air yang menjadi sandaran kebutuhan hidup sehari-hari akan terganggu dan hilang akibat pembangunan hotel yang berada diatasnya.

Konflik warga dengan The Rayja Hotel berakar pada tindakan pembangunan Hotel The Rayja Batu Resort oleh PT PSSM yang mengancam keberlangsungan lingkungan. FMPMA yang menghimpun kaum tani dan Warga Bulukerto dan Desa Bumiaji Kecamatan Bumiaji, serta Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, menolak karena pembangunan hotel itu berada di kawasan lindung sumber mata air Umbul Gemulo di Kota Batu. Ini akan menganggu dan merusak sumber mata air. Padahal mata air tersebut selama ini tidak hanya jadi sandaran kebutuhan hidup sehari-hari kaum tani dan warga Umbul Gemulo namun juga jadi sumber air minum rakyat Batu dan Malang. Perlawanan kaum tani dan warga Umbul Gemulo ini yang digugat PT PSSM ke pengadilan dan kemudian dimenangkan warga.

Malang Raya (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu) saat ini menderita penurunan mata air. Sumber Air di di Kota Batu yang pada tahun 2008 sebanyak 111 titik sudah menurun jadi 54 titik sekarang. Sedangkan mata air di Kabupaten Malang yang berjumlah 873 titik mengalami penurunan debet produksi air. Ini disebabkan oleh penurunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dimana saat ini Malang hanya punya 1,8% RTH dari total 100% wilayahnya padahal menurut UU No. 26 th 2007 mengenai Tata Ruang Kota suatu kota atau kabupaten wajib menyediakan minimal 30% wilayahnya sebagai RTH.

Sumber: Surya Online, Mongabay, Portal KBR, Hobby, Tempo, dan WALHI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: