Demonstrasi Sejuta Buruh di Roma Tandai Akhir Bulan Madu Renzi

Demonstrasi Sejuta Buruh Tandai Akhir Bulan Madu Renzi

Demonstrasi nasional pada 25 Oktober di Roma yang diserukan oleh serikat buruh CGIL menandai suatu titik balik dalam perjuangan kelas di Italia. Ini merupakan salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah serikat buruh Italia yang mana diikuti hingga satu juta orang. Kelas buruh Italia kini bergerak kembali.

Bagaimanapun juga pentingnya hari itu bukan hanya karena besarnya demonstrasi. Poin paling pentingnya adalah kelas buruh telah bangkit dari sikap diamnya dan kini mulai menyusun kekuatannya di semua tingkatan masyarakat. Setelah beberapa tahun kediaman yang menulikan, buruh-buruh Italia kini sekali lagi mengangkat suaranya dan mereka tidak akan dengan mudah dibungkam dan dipaksa kembali ke kepasifan.

Selama beberapa tahun suara itu tampaknya, dan memang, absen dari konfrontasi politik. Tiga pemerintahan yang tak dipilih (Monti, Letta, dan kini Renzi) serta pendiktean dari Brussels dan Frankfurt, oposisi pimpinan badut, para pimpinan serikat buruh yang mengatakan omong kosong tentang kebutuhan atas “solusi-solusi bersama”, sayap kiri yang terpecah belah, tak punya kekuatan dan impoten–semua itulah skenario politik Italia.

Di bawah permukaan sandiwara dangkal ini, bagaimanapun juga, terdapat jurang pengangguran yang semakin lebar, upah yang semakin jatuh, kemiskinan yang semakin meninggi, eksploitasi yang semakin parah, pemotongan anggaran, seperempat industri tutup, pabrik-pabrik tutup setiap hari, emigrasi, kemarahan dan keputusasaan.

Namun dari waktu ke waktu, secara mendadak, beberapa ledakan akan memecahkan keheningan: satu pabrik, satu kota, dalam semalam, berubah dari kepasifan menjadi medan perjuangan paling militan, kembali ke situasi sebelumnya dalam jangka beberapa hari, dan tampaknya tanpa meninggalkan jejak. Kami, IMT seksi Italia, secara harafiah merupakan satu-satunya tendensi Kiri Italia yang tidak terjerumus pada sentimen pesimisme dan frustasi yang diakibatkan situasi ini.

Tidak mengejutkan, garda depan secara khusus terpengaruh sentimen ini: suatu minoritas yang terdiri dari lapisan-lapisan termaju harus menanggung beban penuh dari serangan-serangan majikan, berupaya mengorganisir suatu perlawanan balik di bawah kondisi-kondisi paling kasar dari krisis ekonomi, dan diperparah oleh pengkhianatan birokrasi-birokrasi serikat buruh.

Dan setelah semua upaya untuk menciptakan suatu front perlawanan bersama melawan pemerintahan ini gagal atau jatuh ke dalam indiferensi bersama (baca: menyamakan pemerintah dengan rakyat pekerja), adalah pemerintah itu sendiri yang kemudian melepaskan tembakan pertama. Perdana Menteri Renzi berpikir bahwa 41 persen suara yang diraup Partai Demokratiknya dalam pemilu-pemilu Eropa Mei lalu sudah cukup sebagai lampu hijau untuk melancarkan serangan penuh terhadap kelas buruh dan serikat-serikatnya.

“Undang-undang Kerja” sesungguhnya merupakan suatu upaya–dan bukan upaya yang pertama kalinya—untuk mengembalikan zaman ke masa sebelum 1970, dengan kata lain menghapus apa yang tersisa dari Statuta Buruh (Statuto dei Lavoratori) yang dimenangkan setelah Musim Gugur Membara tahun 1969. Tujuannya adalah memungkinkan kaum majikan agar bebas mempekerjakan dan memecat buruh, dan menyediakan kaum majikan dengan metode-metode paling sewenang-wenang untuk mengendalikan tenaga kerja melalui teknologi-teknologi baru, dan sebagainya.

Terhadap semua ini kami harus menambahkan pembekuan upah selama enam tahun berturut-turut di sektor publik, berlanjutnya pemotongan-pemotongan berarti akan semakin banyak pemecatan terhadap bruuh kontrak di sektor publik dan pemerintah daerah, privatisasi terhadap sistem pendidikan, peningkatan pajak terhadap upah dan dana pensiun, serta upaya untuk memprivatisasi perangkat-perangkat daerah, dan kepasifan sepenuhnya saat perusahaan-perusahaan multinasional menutup seluruh pabrik-pabrik…

“Undang-undang Kerja” disahkan sebagai peraturan yang memungkinkan pemerintah mengeluarkan dekrit-dekrit terkait tanpa perdebatan parlementer lebih lanjut; dan bila semua ini tidak cukup, Renzi juga telah meluncurkan suatu serangan frontal terhadap aparatus serikat buruh, khususnya CGIL, tepat di jantungnya, yaitu di keuangannya, dengan memotong uang yang mereka terima atas berbagai layanan yang mereka lakukan dengan bekerjasama dengan birokrasi negara.

Inilah latar belakang bagi putaran dramatis di situasi yang kita saksikan hari-hari belakangan ini. Hanya dalam kurun beberapa minggu pidato-pidato para pimpinan serikat buruh yang mengatakan, “pemogokan tidak lagi menjadi alat perjuangan yang berguna” berubah menjadi seruan terhadap industri lokal dan regional untuk mengadakan aksi, hingga demonstrasi di Roma, serta, secara tak terelakkan, menuju pemogokan massa dalam beberapa minggu berikutnya.

Demonstrasi di Roma bagaikan suatu desahan lega yang besar: “Akhirnya kita disini, kita bicara untuk diri kita sendiri, kita melawan, kita bergerak!”. Sentimen sangat penuh suka cita dan serius pada saat yang bersamaan, karena kegembiraan dan kebanggaan atas unjuk kekuatan buruh tidak membawa mereka mengabaikan cakupan pertempuran dan tugas-tugas ke depan. Setiap orang cukup sadar bahwa tidak ada demonstrasi, tak peduli sebesar apapun, yang cukup untuk membuat pemerintah mengubah jalannya. Tidak mengejutkan, kalau alun-alun yang penuh sesak dengan massa meledak dalam keriuhan saat dalam pidato puncaknya Sekretaris Jenderal Susanna Camusso mencantumkan pemogokan massa.

Organisasi kami menyambut kesempatan itu. Dengan sekitar 200 Kamerad dan simpatisan kami berhasil mengadakan tiga stan (dua di titik pertemuan dan satu di alun-alun S.Giovanni), untuk mengorganisir suatu seksi pemuda yang tangkas dan militan di demonstrasi dengan slogan “Tak ada kerja, tak ada hak, tak ada masa depan – Jangan takut!” dimana para kamerad pelajar dan mahasiswa meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di sepanjang jalan dan selama aksi tanpa jeda; kamerad-kamerad lainnya berkeliling mengumpulkan uang, menjual buletin pemuda “Sempre in lotta” dan mendapatkan kontak-kontak. Solidaritas internasional dijunjung di garis depan barisan kami dengan spanduk besar yang menyatakan dukungan bagi gerakan mahasiswa di Meksiko.

Kamerad-kamerad lainnya terlibat dengan seksi-seksi yang diorganisir oleh federasi-federasi serikat buruh mereka atau komite-komite serikat tempat kerja, sementara sisanya menempati demonstrasi dan alun-alun. Kami juga memproduksi kaos khusus, stiker, dan selebaran yang disambut massa dengan baik. Lebih dari 600 eksemplar koran “Falce Martello” terjual dan beberapa ribu Euro terkumpul untuk dana perlawanan (termasuk dengan menjual roti dan minuman pada para demonstran dan kamerad yang lapar dan haus). Lusinan kontak juga tergalang dalam intervensi.

Pada hari yang sama dengan hari demonstrasi, Renzi mengadakan konvensi besar para pendukungnya di Florence, suatu festival reaksi borjuis yang berlagak sebagai “yang paling baru dan paling terkini” yang bisa menyelamatkan Italia dari keterpurukannya melalui privatisasi, lberalisasi, dan pembatasan hak untuk mogok–ini tidak lain dari festival para majikan yang mengalirkan kedengkian dan kebencian terhadap apapun yang terkait kelas buruh dan organisasinya.

Dua perkumpulan ini, di Florence dan di Roma, menyoroti jurang kelas yang paling kentara, suatu jurang yang semakin lebar dari hari ke hari.

Karena itu medan di Italia kini merupakan medan konfrontasi besar dan apapun hasil besarnya nanti, segala sesuatunya tidak akan kembali ke situasi sebelumnya. Pada 6 Desember hingga 8 Desember, organisasi kami akan menyelenggarakan kongres nasionalnya. Slogan-slogan utama kami adalah: “Dirikan partai kelas buruh! Perjuangkan alternatif revolusioner!” Di atas dua tapal batu inilah kami akan membangun tendensi kami di tengah situasi yang baru dan berbadai yang kini terbuka.

*diterjemahkan dari “Italy: Million strong workers’ demonstration in Rome marks the end of Renzi’s honeymoon” sebagaimana ditulis Claudio Bellotti pada 30 Oktober 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: