AS Mengaku Gagal dan Membuka Kembali Hubungan Diplomatik dengan Kuba – Pergantian Taktik untuk Mencapai Tujuan yang Sama

Obama Castro

Obama Castro

Rabu, 17 Desember 2014, Amerika Serikat (AS) mengakui upayanya untuk menundukkan Kuba telah gagal. Ini harus kita pandang sebagai kemenangan bagi Revolusi Kuba dan daya tahannya melawan serangan tanpa henti dari negara imperialis terkuat di dunia yang terletak hanya sekitar 144 Kilometer dari pesisir Kuba. Bagaimanapun juga Imperialisme AS belum meninggalkan tujuan utamanya: restorasi kekuasaan kepemilikan pribadi dan penghancuran capaian-capaian revolusi. Imperialisme hanya mengganti cara untuk mencapai hasil yang sama.

Pengumuman pembukaan kembali hubungan-hubungan diplomatik antara kedua negara setelah berbulan-bulan perundingan rahasia akhirnya dikonfirmasikan dalam perbincangan antara Raul Castro dan Barack Obama via telepon pada Senin 15 Desember 2014. Sebagai bagian dari kesepakatan, Kuba membebaskan Alan Grossman, mata-mata AS, dengan alasan kemanusiaan, beserta seorang mata-mata AS lainnya sedangkan AS membebaskan tiga orang lainnya dari “Cuban 5”, orang-orang yang dipenjara di AS karena melapor pada FBI mengenai tindakan-tindakan teroris para imigran reaksioner Kuba yang direncanakan dari wilayah AS.

Pernyataan dari Gedung Putih mengumumkan perubahan kebijakan diulai dengan pengakuan jelas tentang kegagalannya: “Suatu Pendekatan yang Gagal. Puluhan tahun blokade AS terhadap Kuba telah gagal mewujudkan tujuan kita untuk memberdayakan rakyat Kuba untuk membangun negeri yang terbuka dan demokratis.” Tentu saja saat ia mengatakan “negeri terbuka dan demokratis” maksud sebenarnya adalah suatu negara kapitalis yang mana “demokrasi” hanyalah kedok kekuasaan perusahaan-perusahaan raksasa.

Pernyataan itu dilanjutkan dengan penjelasan apa tujuan-tujuan AS selama hampir 55 tahun belakangan ini dan bagaimana kegagalannya: “Meskipun kebijakan ini telah ditanamkan dengan niatan-niatan terbaik, namun hanya kecil dampak yang ditimbulkannya—hari ini, sebagaimana di tahun 1961, Kuba dikuasai oleh Castro bersaudara dan partai Komunis.”

Ini tidak boleh diremehkan Washington telah menerapkan kebijakan jahat terhadap revolsi Kuba semenjak revolusi Kuba menggulingkan diktator Batista yang disokong AS. Serangan-serangan AS diantaranya adalah pensponsoran invasi-invasi, embargo komersial, ekonomi, dan finansial, tindakan-tindakan percobaan pembunuhan, pendanaan “kaum disiden”, propaganda yang ditembakkan secara terus menerus, upaya-upaya destabilisasi, dan sebagainya. Ongkos yang harus ditanggung kebijakan-kebijakan agresi imperialis demikian sangatlah besar. Menurut pemerintah Kuba, biaya embargo terhadap pulau kecil tersebut sebesar US$685 juta per tahun.

Bahkan akhir-akhir ini di bulan September 2014, beberapa bank Eropa didenda ratusan ribu dolar AS karena melanggar embargo AS terhadap Kuba. Commerzbank, bank dari Jerman, didenda sebesar US$1 milyar dalam dua putusan terpisah, dan BNP Paribas, bank dari Prancis didenda sebesar US$9 milyar (meskipun denda ini juga termasuk melanggar sanksi yang dikenakan pada Sudan dan Iran).

Hubungan-hubungan diplomatik antara kedua negara telah diputus AS pada Januari 1961 saat rakyat AS menuntut memperkecil misi diplomatik AS, yang termasuk di dalamnya adalah tindakan-tindakan teroris terhadap pemerintah revolusioner baru. Embargo, yang belum dihapuskan, sebagaimana yang ditunjukkan Raul Castro, sudah dimulai pada 1960 untuk merespon penyitaan revolusi terhadap properti-properti AS. Sebelum revolusi, perusahaan-perusahaan AS menguasai 70% tanah dan tiga perempat industri pokok di Kuba.

Selama tiga dekade, kombinasi kemajuan besar revolusi di lapangan layanan kesehatan, perumahan, pendidikan, dan lainnya, di samping hubungan dagang dengan Uni Soviet yang sangat menguntungkan, memungkinkan revolusi Kuba selamat dari serbuan dan serangan imperialis ini. Namun harus ditambahkan pula bahwasanya hubungan demikian juga berarti birokratisasi revolusi Kuba.

Bagaimanapun juga setelah runtuhnya Uni Soviet, pulau kecil tersebut terpaksa mengandalkan alat-alatnya sendiri untuk bertahan. Periode Khusus (1991-1994) menyaksikan keanjlokan ekonomi tanpa tanding dan nasib Kuba bergantung pada pasar dunia. Kenyataan bahwa terlepas dari semua kesulitan revolusi Kuba tidak runtuh dan kapitalisme belum dikembalikan merupakan indikasi jelas bahwa revolusi Kuba masih hidup dan mendapatkan dukungan besar dari massa. Masih terdapat generasi yang ingat bagaimana hidup sebelum revolusi, bagaimana hidup di bawah sepatu lars diktator-diktator boneka AS, dan apa yang dimenangkan melalui penghapusan kepemilikan pribadi. Perlawanan bukan hanya terjadi dalam bentuk perlawanan ekonomi namun juga perlawanan politik melawan kampanye propaganda masif kelas penguasa yang secara internasional mengatakan bahwa sosialisme sudah mati dan tidak ada alternatif untuk kapitalisme.

Berkuasanya revolusi Bolivarian pada 1998 menyuntikkan hidup baru pada Kuba. Ini di satu sisi berarti pertukaran minyak Venezuela dengan layanan-layanan medis Kuba dengan persyaratan yang menguntungkan. Sedangkan di sisi lain, ini mematahkan isolasi terhadap revolusi Kuba dan memberikan harapan bahwa revolusi bisa makin menyebarluas.

Runtuhnya Uni Soviet juga secara tajam memperparah persoalan mendasar yang dihadapi revolusi Kuba: isolasi. Ekonomi Kuba, terlepas dari batasan-batasan yang dipaksakan embargo, masuk dalam pasar dunia dengan persyaratan yang sangat tidak menguntungkan. Ekonomi Kuba susah mendapatkan uang dengan menjual nikel dan layanan-layanan kesehatan, melalui turisme dan remitensi yang kemudianharus digunakan untuk membeli hampir segalanya (mulai dari mesin-mesin berat sampai pangan) dengan harga pasar skala penuh. Sebagaimana yang terhadi dengan ekonomi terbelakang lainnya, rendahnya produktivitas buruh dan mesin-mesin tua di mayoritas sektor, membuat persyaratan perdagangan mengakibatkan kerugian berat.

50 years after Revolution in Cuba

Dalam konteks inilah banyak seksi pimpinan di Kuba mulai bermain-main dengan gagasan “Model Tiongkok” (yaitu, memperkenalkan hubungan-hubungan pasar dalam berbagai aspek ekonomi, sembari mempertahankan kontrol menyeluruh terhadap negara) sebagai jalan ke depan. Bukankah akhirnya, Tiongkok merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia? Permasalahan dengan rencana ini adalah di Tiongkok, mekanisme-mekanisme pasar di berbagai sektor secara pesat berujung pada restorasi kapitalisme sepenuhnya di Tiongkok dan penghancuran banyak capaian revolusi. Kuba, pulau kecil dengan sumber daya-sumber daya terbatas, berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dibandingkan Tiongkok saat memasuki pasar dunia.

Kelas Penguasa AS Mengubah Taktik dalam Melawan Revolusi Kuba

Selama bertahun-tahun, suatu seksi kelas penguasa di AS telah menunjukkan kegagalan pendekatan Washington yang berupaya menggulingkan revolusi Kuba dengan kekuatan brutal. Mereka juga sadar bahwa Kuba membuka sektor-sektor tertentu untuk modal asing, perusahaan-perusahaan AS kalah cepat dengan kapitalis-kapitalis Kanada dan Eropa dan merasa kehilangan peluang-peluang bisnis yang berpotensi mendatangkan keuntungan. Mereka menyatakan bahwa di atas segalanya, tujuan-tujuan AS (restorasi kapitalisme di Kuba) akan paling baik diusahakan dengan mengubah taktik, yang mana inilah maksud sebenarnya pengumuman ini.

Pernyataan dari Gedung Putih memperjelas hal ini: “Kami tahu dari pelajaran keras yang diajarkan pengalaman bahwa lebih baik mendorong dan mendukung reforma daripada memaksakan kebijakan-kebijakan yang membuat suatu negeri menjadi negara gagal…Hari ini, Presiden mengumumkan langkah-langkah tambahan untuk mengakhiri pendekatan usang kami, dan mempromosikan perubahan secara lebih efektif di Kuba yang konsisten dengan dukungan AS terhadap rakyat Kuba dan segaris dengan kepentingan-kepentingan nasional AS.”

Ini artinya pemerintah AS masih memandang dirinya berhak menentukan masa depan Kuba “segaris dengan kepentingan keamanan nasional AS.” Jelas “perubahan” yang ingin dilihat kelas penguasa AS di Kuba adalah restorasi penuh kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi (dan dengannya penghancuran capaian-capaian revolusi) serta pendirian “demokrasi” borjuis yang bisa mereka kendalikan.

Jika kita melihat rincian langkah yang diambil Obama, jelas bahwa langkah-langkah tersebut ditujukan untuk mempromosikan, mendorong, dan membantu perkembangan kelas kapitalis swasta. Pernyataan Obama, diantara banyak hal lainnya, menjelaskan: “Perubahan-perubahan kebijakan membuat orang-orang Amerika lebih mudah menyediakan pelatihan bisnis bagi bisnis-bisnis swasta Kuba dan petani-petani kecil serta menyediakan dukungan lain bagi pertumbuhan sektor swasta baru di Kuba. Opsi-opsi tambahan juga akan diberikan untuk mempromosikan pertumbahan kewirausahaan dan sektor swasta di Kuba.” Kebijakan baru juga memungkinkan remitensi-remitensi lebih luas (meningkatkan batasan dari $500 ke $2000) dan fakta bahwa “dukungan bagi perkembangan bisnis-bisnis swasta di Kuba tidak lagi memerlukan izin khusus”. Ini diikuti oleh serangkaian langkah lainnya yang diarah untuk melonggarkan embargo (memungkinkan penggunaan kartu kredit AS di pulau; memungkinkan bank-bank AS membuka cabang di Kuba; menghapus sebagian batasan impor/ekspor; dan sebagainya).

Persis inilah kebijakan yang didorong sekian lama oleh suatu seksi kelas penguasa AS: Mengalahkan revolusi melalui “artileri berat harga-harga komoditas murah” sebagaimana yang dikatakan Marx. Misalnya, sepuluh tahun lalu, salah satu direktur think tank kapitalis konservatif, Cato Institute, menyatakan ingin mengakhiri embargo dan serangkaian langkah lainnya, yang hampir sepenuhnya persis, dengan apa yang dikatakan Obama kemarin. Artikel tersebut ditutup dengan kesimpulan: “Kekuatan terbesar untuk perubahan di Kuba bukan berupa sanksi-sanksi yang lebih banyak namun interaksi harian dengan orang-orang bebas yang membawa dolar dan gagasan-gagasan baru.” (“Four Decades of Failure: The U.S. Embargo against Cuba“).

Opini publik kapitalis disiapkan untuk pengumuman melalui suatu artikel editorial di New York Times pada Senin (Cuba’s Economy at a Crossroads), yang menarik karena mengungkapkan apa yang dipikirkan di balik langkah-langkah ini. Artikel itu menunjukkan bahwa terdapat perpecahan di antara para pimpinan Kuba. Perpecahan antara mereka yang disebut sebagai “para pimpinan Garda Lama” yang “memperingatkan bahwasanya ekonomi pasar liberal bisa mengubah Kuba menjadi masyarakat yang kurang egaliter dan memberikan celah bagi AS untuk mendestabilisasi pemerintah Kuba melalui banjir investasi swasta” di satu sisi, dan “kaum reformis, di sisi lain, yang di dalamnya termasuk ekonom-ekonom terkemuka Kuba, yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi Kuba saat ini tidak dapat dipertahankan”. Lantas bagaimana nasihat New York Times? “Washington bisa memberdayakan kubu reformis dengan mepermudah pengusaha-pengusaha Kuba mendapatkan pendanaan eksternal dan pelatihan bisnis”.

Modernisasi Sosialisme atau Bergerak ke Ekonomi Pasar?

Terbelahnya pandangan para pimpinan Kuba bukanlah khayalan yang direka-reka para penulis editorial NY Times, bukan juga angan-angan kelas penguasa AS, Kami sudah memperingatkan sebelumnya bahwasanya terdapat arus pendapat kuat diantara para ekonom terkemuka yang mengajukan jalan ke serangkaian reforma-reforma pasar sebagaimana yang memulai proses restorasi kapitalis di Tiongkok. Sebagian kebijakan ini bahkan sudah diterapkan. (Lihat disini http://www.marxist.com/where-is-cuba-going-capitalism-or-socialism.htm).

Salah satu ekonom yang paling lantang dari kalangan ini adalah Omar Everleny dari Pusat Studi Ekonomi Kuba (CEEC). Dalam suatu wawancara dengan Havana Times mengenai undang-undang investasi baru, ia merangkum pendekatannya: “Tak ada negara yang bisa bertahan dengan sumberdayanya sendiri dalam dunia yang terglobalisasi hari ini-dengan satu cara atau lainnya, mereka butuh sumber daya-sumber daya asing untuk mencapai pembangunan. Tiongkok dan Vietnam telah menunjukkan bahwasanya suatu negara bisa memanfaatkan secara massif investasi asing dan mencapai hasil-hasil ekonomi yang baik tanpa kehilangan kontrol politik di dalam negeri.”

Pavel Vidal Alejandro dan Omar Everleny - Beberapa Orang dari Kaum Reformis Kuba

Pavel Vidal Alejandro dan Omar Everleny – Beberapa Orang dari Kaum Reformis Kuba

Dua ekonom terkemuka dari CEEC lainnya, Juan Triana Cordoví dan Ricardo Torres Pérez dalam menganalisis tantangan-tantangan “kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi”, sampai pada kesimpulan bahwa, “meskipun beberapa syarat tidak dipakai, jelas Kuba bergerak menuju suatu model yang menyerupai suatu ekonomi pasar, meskipun tujuan finalnya bukanlah transisi ke negara kapitalis umum.” Kemudian mereka mendaftar langkah-langkah yang akan diambil untuk mendukung penegasan tersebut: “Ini bisa kita lihat di serangkaian ruang dimana bobot sektor non-negeri (swasta dan koperasi) yang semakin berat, desentralisasi yang semakin besar dalam pengambilan keputusan bagi agen-agen eonomi secara keseluruhan…peran yang lebih besar bagi sistem harga dala alokasi sumber daya-sumber daya produktif, bertumbuhnya peran pemajakan langsung (akibat aktivitas produktif) dalam pendanaan negara, dan lainnya.”

Permasalahannya, sebagaimana kami nyatakan sebelumnya, langkah-langkah demikian punya dinamikanya sendiri dan, sebagaimana tampak di Tiongkok, langsung berujung pada restorasi kapitalisme. Restorasi ini akan menghancurkan capaian-capaian revolusi, khususnya di lapangan layanan kesehatan, pendidikan, dan perumahan.

Campur Tangan Imperialis AS akan Terus Berlanjut

Selain rentetan langkah ekonomi yang diumumkan Washington, terdapat juga janji untuk menghapus Kuba dari daftar negara yang “mensponsori terorisme”. Keberadaan Kuba dalam daftar itu merupakan skandal tersendiri karena faktanya justru AS yang membantuk, melindungi, dan mendanai para teroris untuk melawan revolusi Kuba.

Bagaimanapun juga, AS secara terbuka mengatakan bahwa ia akan terus campur tangan dalam urusan dalam negeri di Kuba, semua dengan mengatasnamakan “Hak Asasi Manusia” dan “demokrasi”. Inilah yang dikatakan pernyataan sikapnya: “Suatu fokus kritis dari peningkatan keterlibatan kita akan menyertakan kelanjutan dukungan kuat oleh AS untuk meningkatkan kondisi-kondisi HAM dan reforma-reforma demokratik di Kuba. Promosi atas demokrasi mendukung HAM universal dengan memberdayakan masyarakat sipil dan hak kebebasan berpendapat, berkumpul secara damai, dan berhimpun, serta dengan mendukung kemampuan rakyat untuk menentukan masa depan mereka secara bebas. Upaya-upaya kami diarahkan untuk mempromosikan kemerdekaan rakyat Kuba sehingga mereka tidak perlu bergantung pada negara Kuba.”

Dasar munafik! Pemerintah yang terlibat dalam pemata-mataan massal terhadap warga negaranya sendiri, penyiksaan, pembunuhan warga-warga sipil tak bersenjata di tangan polisinya, represi terhadap warga negaranya sendiri, invasi terhadap tiap negara yang tidak patuh untuk didikte, kini bicara soal hak-hak demokratis dan kemerdekaan!

Perubahan-perubahan yang terjadi di antara komunitas Kuba di Florida juga merupakan merupakan suatu faktor dalam perhitungan Obama. Generasi mereka yang beremigrasi pada tahun 1960an lari dari revolusi kini telah banyak digantikan oleh anak cucunya, yang meskipun secara fundamental menentang revolusi, namun lebih terbuka terhadap perubahan taktik. Terdapat juga masuknya lapisan baru migran-migran ekonomi dari Kuba, yang ingin menyaksikan dihapusnya pembatasan bepergian dan remitensi. Pertama kalinya, opini publik di Florida kini mendukung penghapusan embargo dan dalam hal ini Partai Demokrat sudah melangkahi Partai Republiken di depan. Namun tetap saja Obama masih akan kesulitan mengesahkan penghapusan embargo melalui Kongres, yang mana mayoritasnya dikuasai kaum Republiken. Atas alasan inilah sejauh ini Obama bersandar pada kekuatan eksekutifnya sendiri.

Bagaimana Revolusi Kuba Menghadapi Tantangan-Tantangan Baru?

Situasi dunia terkini, dengan krisis ekonomi keras menerpa kapitalisme dan menghasilkan meningkatnya pertanyaan dan gugatan terhadap sistem ini, sebenarnya menguntungkan revolusi Kuba. Bagaimanapun juga situasi di pulau tidak memberikan banyak ruang untuk bermanuver. Persoalan ekonomi akibat masuknya Kuba secara tidak setara dalam pasar dunia dicampur dengan mismanajemen dan birokrasi. Status quo tidak bisa dipertahankan.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahaya utama yang dihadapi revolusi Kuba datang dari kenyataan bahwasanya revolusi masih terisolasi di pulau kecil yang dikepung pasar kapitalis. Ini adalah fakta tak terbantahkan. Seluruh sejarah hubungan antara Kuba dan Uni Soviet, serta kemudian dengan Venezuela, menggarisbawahi poin penting bahwasanya revolusi Kuba, kalau ingin selamat, tidak boleh terus terisolasi. Nasibnya pada akhirnya akan ditentukan dalam arena perjuangan kelas skala dunia.

Ini akhirnya akan mengakibatkan hubungan dialektis dengan perimbangan kekuatan dalam pulau, antara mereka yang menyatakan bahwa jalan maju adalah menempuh jalan pasar bebas dengan mereka yang menyatakan untuk mempertahankan capaian-capaian revolusi yang terkait dengan mempertahakan bentuk-bentuk properti yang sudah dinasionalisasi yang memungkinkan capaian-capaian revolusi untuk eksis.

Pertahankan revolusi Kuba!

Tolak campur tangan imperialis!

Tolak restorasi kapitalis!

*ditulis oleh Jorge Martin pada Kamis, 18 Desember 2014 untuk In Defence of Marxism. Diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: