Ekonomi Dunia Kacau Karena Harga Minyak Jatuh (bag. 2—Akhir)

Ekonomi Dunia Kacau Karena Harga Minyak Jatuh bag. 1

Ekonomi Dunia Kacau Karena Harga Minyak Jatuh bag. 1

Tekanan-Tekanan dalam Ekonomi Dunia

Selain industri minyak shale dan minyak pada umumnya secara lebih luas, jatuhnya harga-harga minyak juga mendatangkan tekanan-tekanan dalam ekonomi dunia. Dampaknya di Tiongkok sendiri memiliki hasil-hasil campuran. Sementara Tiongkok merupakan produsen minyak terbesar keempat di dunia, kebutuhan energinya begitu besar sehingga Tiongkok juga merupakan importir minyak. Dekade silam, produksi telah ditingkatkan 750.000 barrel per hari namun konsumsi telah naik menjadi 3,7 juta barrel per hari, menggarisbawahi perkembangan raksasa kapitalisme Tiongkok dalam periode terkini.

Kontradiksi-kontradiksi internal Tiongkok kini semakin parah. Area-area penghasil sumberdaya yang jauh dari pusat kini kalah dengan harga-harga minyak yang lebih rendah, sementara area-area pengolah lepas pantai yang mengonsumsi energi Tiongkok tengah meraup untung. Ini merupakan polarisasi yang semakin menajam dan menekan beberapa anggaran pemerintah daerah di Tiongkok.

Bahkan sudah terdapat beberapa pemogokan guru di provinsi di timur laut provinsi Heilongjiang, yang berbatasan dengan Siberia, rumah ladang minyak terbesar dalam negeri. Jatuhnya neraca hutang piutang pemerintah daerah berarti mereka tidak mampu lagi meningkatkan gaji dan berujung pada naiknya perjuangan kelas.

Sedangkan di Rusia, minyak dan gas sebesar lebih dari 75% ekspor negeri dan setengah dari anggaran pendapatannya. Krisis kapitalisme Rusia telah membuat pemerintah memajaki kapital lepas pantainya, menghantam suatu seksi borjuasinya sendiri yang ingin menarik uangnya keluar dari ekonomi Rusia yang tidak stabil. “Kampanye itu telah menjadi semakin urgen seiring dengan jatuhnya sanksi-sanksi barat, anjloknya harga-harga minyak, dan merosotnya mata uang yang mengakibatkan capital flight atau larinya kapital mencapai bobot baru dan menguras kas negara.” (FT, 19 November)

Bank sentral Rusia memprediksikan capital flight sebesar $128 miliar tahun ini, dua kali dari di tahun 2013. Mulai Juni sampai akhir November rubel Rusia kehilangan 27% nilainya. Tanggal 16 Desember rubel Rusia mengalami keanjlokan sehari terbesar semenjak tahun 1998, anjlok 20% terhadap dolar.

Devaluasi-devaluasi mata uang di anatara negara-negara dengan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor minyak adalah ciri dari jatuhnya harga minyak terkini. Kejatuhan ini berarti rubel kehilangan setengah nilainya terhadap dolar, membuatnya menjadi mata uang mayor dengan performa terburuk, di atas hryvnia Ukrainia.

Merespon hal itu pemerintah Rusia menggenjot suku bunga sebesar 17% sebagai upaya untuk menangani inflasi dan devaluasi. Bank sentral Rusia memperingatkan bahwa Rusia bisa mengalami 4,5% hingga 4,7% kontraksi dalam PDB tahun 2015 bila harga minyak tetap di $60.

Jatuhnya Rubel meningkatkan beban hutang sebesar $600 miliar yang ditanggung bank-bank dan perusahaan-perusahaan Rusia ke kreditur-kreditur asing. Sanksi-sanksi Barat yang dijatuhkan pada Rusia karena konflik dengan Ukrainia bearti bahwasanya kesulitan pendanaan ulang hutang ini telah meningkat. Inflasi diperkirakan mencapai 10% pada akhir tahun.

Krisis di Eropa

Kejatuhan ini juga berdampak pada Ukrainia, dimana Chevron menarik proyek gas shale yang sebelumnya sudah diajukan. “Dengan jatuhnya harga-harga minyak, penemuan-penemuan geologis yang tidak begitu besar di negara-negara terdekat dan Ukrainia menjadi negara yang berisiko tinggi akibat perang dan instabilitas ekonomi, kini jelas bahwa booming gas shale yang banyak diharapkan dan dikaitkan dengan investasi-investasi multimiliar dolar tidak akan terwujud,”, kata Dmytro Marunich, seorang analis energi Ukrainia.

Ini merupakan bagian dari capital flight yang terjadi di Rusia, yang merupakan respon terhadap krisis dan memperparahnya. Lebih awal di bulan Desember, IMF mengatakan bahwa terdapat defisit sebesar $15 miliar dalam dana talangan sebesar $17 miliar terhadap Ukrainia. Demi menutupi defisit ini, pemerintah-pemerintah Barat akan menuntut lebih banyak “reforma-reforma”, dengan kata lain pemangkasan biaya tenaga kerja di Ukrainia.

Sebagai konsumen minyak, jatuhnya harga-harga minyak berarti jatuhnya inflasi di zona Eropa. Bagaimanapun juga para pimpinan Uni Eropa (UE) mengharapkan inflasi lebih tinggi untuk mengikis hutang-hutang nasional besar yang melekati ekonomi-ekonomi mereka. Momok deflasi juga menghantui Eropa, sebagaimana yang dicatat FT pada 16 Desember: “Ekonomi-ekonomi Oxford memperkirakan bahwa dengan harga minyak sebesar $60 per barrel, 13 negara Eropa akan menyaksikan tingkat inflasi mereka di bawah nol, setidaknya untuk sementara, di tahun 2015…UE mengimpor 88 persen minyaknya namun sunyi perayaannya terhadap jatuhnya harga.”

Kemudian lagi:

“Namun Mr Draghi (Presiden Bank Sentral Eropa) juga cepat mengidentifikasi risiko saat UE sudah takut bahwa rendahnya inflasi mengkhawatirkan dan bisa berbelok menjadi deflasi. Banyak negara memandang inflasi bisa mengangkat beban hutang yang membebani kemampuan pembiayaan mereka. Mr Draghi memperingatkan bahwa harga-harga minyak yang rendah bisa “menancapkan” upah-upah rendah.”

Sementara itu di Britania, perusahaan-perusahaan minyak menuntut reforma-reforma pajak untuk mendorong investasi atau kalau tidak mereka mengancam akan pergi ke tempat lain. Malcom Webb, Chief Executive Oil&Gas UK, memperingatkan pemerintah Britania bahwa tanpa pemotongan pajak “berpetak-petak landas kontinen Inggris akan terdesak ke penurunan akhir.” Ia menuntut pembalikan dari peningkatan poin 12 persen dalam biaya suplementer di Anggaran 2011, yang menaikkan tingkat pajak marjinal perusahaan-perusahaan terbesar menjadi 81 persen. Turunnya cadangan dari minyak Laut Utara telah mendorong hutang pemerintah Britania. Kapitalisme Britania berusaha meyubsidi industri minyaknya dengan menambah pembiayaan melalui pemotongan anggaran putaran berikutnya.

Sedangkan di Libya, perang sipil telah mengurangi produksi minyak sampai setengahnya menjadi 800.000 barrel per hari namun ini hanya sedikit membendung jatuhnya harga-harga. Anjloknya harga-harga minyak telah mengakibatkan defisit melambung sampai setengah PDB. Mohammed El Qorchi, dari IMF mengatakan bahwa Libya di tingkat produksi seperti sekarang, Libya butuh harga minyak sebesar $135 untuk menyeimbangkan anggarannya, yang mana jumlah itu di atas harga minyak sekarang. Tanggal 15 Desember pertempuran berat telah berakibat penutupan 350.000 barrel per hari di terminal Es Sider dan semakin menyulitkan ekonomi Libya.

Nigeria, di sisi lain, bergantung pada minyak yang mendatangkan 80% pendapatan negara. Nigeria menetapkan bujet sebesar $78 barrel per hari untuk anggaran 2015, dan akan mengadakan pemilu di Februari 2015. Akhir Oktober Nigeria mengumumkan, seiring dengan jatuhnya minyak, Nigeria hanya bisa mengandalkan tabungannya tidak lebih dari tiga bulan. Tanggal 8 Desember, Naira, mata uang Nigeria, anjlok ke tinggak 187 per dollar Amerika, mendatangkan potensi inflasi yang akan menghantam paling keras kepada kaum miskin Nigeria.

Dampak terhadap Amerika Latin

Pemerintah Meksiko berencana menjual 160 blok minyak dan gas (migas) di tahun 2015. Suatu ciri kebangkrutan negara, menyusul krisis 2008, adalah ketidakmampuan untuk mendanai investasi. Ciri lainnya adalah meningkatnya tekanan kapital finansial terhadap pemerintah untuk memprivatisasi aset-aset.

Besarnya jumlah kapital yang menganggur akibat kurangnya area-area yang menguntungkan di sektor swasta, kapitalisme melirikkan matanya yang serakah dan moncongnya yang berlumuran liur ke negara. Minyak Meksiko sudah menjadi milik negara selama 80 tahun, ini buah capaian periode revolusioner. Namun sekali lagi bentuk khusus perampasan aset—di tingkat negara—ini membongkar watak kanibalistis kapitalisme yang tengah merosot. Kapitalisme tidak bisa lagi menanggung konsesi-konsesi masa lalu dan sebaliknya harus merampasnya kembali.

Bagaimanapun juga proses ini sekarang tengah terjadi di Meksiko. Rencana-rencana privatisasi Presiden Peña Nieto, yang didaulat majalah Time pada awal 2014 sebagai “Pria yang Menyelamatkan Meksiko”, telah macet “…perusahaan-perusahaan minyak, dengan anggaran yang sempit, mungkin akan mencoba lebih selektif mengenai untuk apa tawaran mereka dan apa yang akan mengganjal tawaran mereka, dan mengakibatkan peerintah berada di bawah tekanan untuk melunakkan persyaratan-persyaratan.” (FT 9 Desember).

Sedangkan bagi Ukrainia, ‘melunakkan persyaratan-persyaratan’ berarti bahwa kapitalisme ingin menarik investasi dengan membuat para buruh Meksiko yang menanggungnya: dengan penurunan upah dan pemotongan kesejahteraan, termasuk menggunakan pendapatan pajak yang dipungut dari rakyat jelata Meksiko untuk menyubsidi investasi-investasi perusahaan minyak.

Bagaimanapun juga gerakan massa yang meledak di bulan-bulan terakhir ini menunjukkan bahwa para buruh Meksiko tidak akan mudah dijinakkan demi “melunakkan persyaratan-persyaratan” untuk perusahaan-perusahaan minyak. Peso juga turun 10% selama empat minggu terakhir yang mana hal ini hanya akan semakin mengobarkan gerakan massa Meksiko.

Menurut British Petroleum (BP), Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia. Minyak mereka mencapai 95% pendapatan ekspor sementara inflasi sebesar 60%. IMF menduga ekonomi Venezuela susut 3% tahun ini. Para analis mengatakan bahwa negeri itu bisa bertahan selama mungkin asalkan minyak tidak jatuh di bawah $80 per barrel. Tanggal 11 Desember hutang Venezuela telah melampaui Argentina yang gagal bayar lebih awal tahun ini, sehingga membuatnya paling mahal di dunia. Ongkos tanggungan hutang Venezuela naik empat kali lipat semenjak Juni.

“Kolapsnya Bolívar yang turun lebih dari 120% selama empat bulan terakhir menjadi 178 per dolar di pasar gelap, dikombinasikan dengan meroketnya inflasi dan imbal hasil obligasi, menunjukkan bahwa Venezuela tengah berada dalam krisis ekonomi”, kata Capital Economics. Para analis di Ecoanalítica, suatu konsultansi berbasis di Caracas, memperkirakan bahwa negeri itu butuh harga Brent di atas $130 untuk menyeimbangkan anggaran—lebih dari dua kali harga pasar saat ini.

Tanggal 8 Desember, dolar AS mencapai titik tertinggi sejak krisis finansial 2008. Sementara industri shale AS terhantam, harga-harga minyak yang jatuh menghasilkan US$ 75 miliar ke dalam pasar. Ini setara dengan 0,7% dari total konsumsi AS. The Economist memperkirakan bahwa rata-rata pengguna kendaraan bermotor AS akan menabung $800 per tahun, setara dengan kenaikan upah 2%.

AS sementara menarik diri dari dunia. Bagaimanapun juga ini tidak akan selamanya karena AS terikat pada pasar dunia dan tidak bisa melarikan diri keluar dari orbit lubang hitam kapitalisme. “Bahkan di AS, terdapat sensitivitas terhadap kelesuan ekonomi tingkat global. Tidak cukup untuk tumbuh cepat sementara negara lainnya di dunia tidak melakukan hal yang sama”, kata Gilles Moec, Ekonom Eropa di Bank of America Merrill Lynch.

Sistem Perbankan

Dalam suatu tanda mengenai bagaimana kemerosotan harga minyak mengancam menginfeksi sistem perbankan dan finansial, Barclays dan Wells Fargo kini menghadapi kerugian berat atas pinjaman $850 juta yang diberikan pada dua grup minyak AS, Sabine dan Forrest. Mereka tidak bisa menemukan pembeli pinjaman, yang kemudian menjadi beban berat terhadap neraca perbankan.

Bank-bank telah mendanai ekspansi industri energi. Sebagai hasilnya Marty Fridson, kepala petugas investasi di LLF Advisors, mengatakan bahwa 30% dari “obligasi tertekan” dikeluarkan oleh sektor energi. Menurut Barclays, obligasi-obligasi energi mencapai 15% dari pasar obligasi sampah, dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu yang hanya sebesar 4,3%.

Akibat lemahnya permintaan di Tiongkok dan Eropa, beberapa pihak memprediksikan bahwa harga minyak $60 (atau bahkan lebih rendah) per barrel akan terus disini. Pihak-pihak lainnya bahkan memandang merosotnya harga minyak dan menarik persamaannya dengan krisis 2008.

“Terdapat persamaan mencolok dengan kolapsnya pasar properti AS yang menandai awal krisis finansial global 2008—dan menyeret bank-bank seluruhnya. Para rentenir itu dengan paparan minyak di buku-buku mereka memang terjebak dengan kerugian-kerugian besar. Namun bank-bank dengan saham-saham terbesar di pasar berisiko tinggi ini merupakan salah satu yang paling berharga bagi para investor. Well Fargo adalah salah satu dari bank-bank bernilai tertinggi di dunia, meraup kenaikan harga saham sebesar 23% tahun ini. Sangatlah menggoda untuk berpikir bahwa—seperti para kekasih dari pasar perbankan pasca krisis, khususnya Standard Chartered dan BNP Paribas—waktu kejayaan mereka habis.” (FT, 16 Desember)

Jatuhnya harga minyak telah mengagetkan para ahli strategi borjuis, yang kalau ada, telah mengira akan ada penurunan dalam harga minyak akibat konflik-konflik politik dan tekanan-tekanan di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Ukrainia.

Siapa yang Untung?

Biasanya jatuhnya harga minyak akan menguntungkan para konsumen minyak, seperti zona Eropa dan Jepang. Kejatuhan $40 dalam harga minyak merepresentasikan pergeseran $1,3 triliun dalam ekonomi dunia dari produsen ke konsumen.

Bagaimanapun juga gambarannya tidak sesederhana itu. Bagi para konsumen, minyak yang lebih murah meredam inflasi. Prediksi-prediksi UE sudah menunjukkan bahwa mereka tidak akan mencapai target inflasi 2%. Saat negara-negara seperti UE dan Jepang menanggung hutang raksasa dalam neraca mereka, inflasi dipandang para ahli strategi kapital sebagai kejahatan yang dipelukan untuk mengikis habis nilai hutang.

Dalam jangka pendek, naiknya dolar dengan ongkos merusak apa yang disebut-sebut sebagai “pasar-pasar yang tengah bangkit”, yang punya banyak hutang dalam dolar. Bagi ekonomi-ekonomi demikian harga hutang mereka justru makin mahal.

Ekonomi-ekonmi hampir sepenuhnya bergantung pada ekspor-ekspor minyak, seperti Rusia, Venezuela, dan Iran, yang terikat pada nasib harga minyak. Rezim-rezim ini yang terhantam paling keras dan kondisi ini sangat disukai dan menguntngkan imperialisme AS. Seiring dengan nilai ekonomi-ekonomi ini jatuh bersama harga minyak, maka mata uang mereka mengalami devaluasi, mengakibatkan naiknya harga-harga impor dan menimpa kalangan yang hidup di tapal batas ekonomi dengan paling parah.

Sekarang Rusia pada khususnya tampak bagaikan raksasa berkaki lempung, karena ekonominya terjun bebas. Sergey Shvestov, deputi Gubernur Bank Sentral Rusia, mengatakan bahwa situasinya kritis: “Setahun lalu bahkan dalam mimpi buruk paling buruk pun saya tidak bisa membayangkan bahwa hal demikian akan terjadi.” (FT, 17 Desember)

Masa Badai dan Pergolakan Telah Menjelang

Terlepas banyaknya pergolakan dalam ekonomi dunia, dan apa yang telah menjadi reaksi gila khas dari borjuasi seiring mereka terlempar ke alam lautan krisis kapitalis, Financial Times edisi 16 Desember menyimpulkan situasi ini dengan sangat baik:

“40% kejatuhan harga minyak menjadi sekitar $60 per barrel sejak Juni sejauh ini merupakan syok terbesar bagi ekonomi global tahun ini. Babakan-babakan serupa di masa lalu mengabarkan kita bahwa konsekuensi-konsekuensinya mungkin akan dalam sekaligus berkepanjangan. Normalnya, para ekonom akan menambahkan “positif” pada daftar ini, namun keraguan tengah mencuat lebih besar daripada sebelumnya. Skala syok minyak terkini sulit untuk dilebih-lebihkan.”

Bagi kaum Marxis, pembacaan ekonomi hanya bermanfaat karena membantu kita memahami dampak-dampak apa dari perkembangan-perkembangan demikian terhadap perjuangan kelas. Babakan baru dalam krisis ini telah mebuka periode perjuangan baru. Periode 2008-2014 telah merontokkan banyak ilusi yang dulu disematkan pada kapitalisme. Periode yang akan datang, yang menjanjikan lebih banyak badai pergolakan, akan mengarahkan kelas buruh secara internasional ke jalan revolusi.

*diterjemahkan dari tulisan Ben Peck berjudul “World economy in turmoil as oil price plunges” sebagaimana dipublikasikan In Defence of Marxism pada 19 Desember 2014.

Comments
One Response to “Ekonomi Dunia Kacau Karena Harga Minyak Jatuh (bag. 2—Akhir)”
  1. Mrs Angela mengatakan:

    PENAWARAN PINJAMAN UNTUK SEMUA (DAFTAR SEKARANG)

    Apakah Anda seorang pengusaha atau wanita? Apakah Anda dalam stres keuangan? Anda perlu Uang untuk memulai bisnis Anda sendiri? Apakah Anda memiliki pendapatan rendah dan merasa sulit untuk mendapatkan pinjaman dari bank lokal dan lembaga keuangan lainnya? Jawabannya ada di sini, Christiana Anderson Badan Kredit adalah jawabannya. Kami menawarkan;

    a) pinjaman pribadi, ekspansi bisnis.
    b) Business Start-up dan pendidikan.
    c) konsolidasi utang.
    d) pinjaman Keras Uang.

    Namun, metode kami menawarkan kemungkinan untuk menunjukkan jumlah pinjaman yang dibutuhkan dan juga durasi Anda mampu untuk menyelesaikan pembayaran pinjaman dengan tingkat bunga 2%. Ini memberi Anda kesempatan nyata untuk mengumpulkan uang yang Anda butuhkan. Kandidat yang tertarik harus menghubungi kami melalui: angeladavidsloan@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: