Pemilu di Yunani dan Krisis di Eropa

Tsipras

Tanggal 25 Januari Yunani akan mengadakan Pemilu. Partai Koalisi Radikal Kiri atau (SYRIZA) kemungkinan besar akan menang. Ini menimbulkan dilema bagi para kapitalis Eropa, karena salah satu mesin mereka: demokrasi borjuis, berisiko bertabrakan dengan program pemotongan anggaran mereka, yang telah melanda rakyat Yunani selama lima tahun belakangan ini. Hal ini dipandang sebagai ancaman serius bagi rencana-rencana para penguasa Eropa dalam memecahkan krisis ekonomi dengan cara serangan besar-besaran terhadap hajat hidup kelas buruh.

Ketakutan kaum borjuasi diekspresikan jelas oleh Financial Times, corong utama para ahli strategi kapitalisme Britania pada 29 Desember dalam suatu artikel berjudul “Voters are the Eurozone’s weakest link”atau “Para pemilih merupakan mata rantai terlemah zona Eropa”

“Mata rantai lemah…merupakan risiko bahwasanya para pemilih akan berontak melawan pengetatan anggaran dan menyalurkan suara mereka untuk partai-partai ‘anti-sistem’ yang menolak konsensus Eropa mengenai bagaimana menjaga mata uang tunggal bersama. Bila konsensus itu dipatahkan maka seluruh rumah kartu hutang, dana talangan, dan pengetatan anggaran akan mulai goncang. Itulah yang sekarang kita lihat di Yunani.”
Judul artikel ini signifikan dari dua sudut pandang. Pertama, ia menggaungkan pernyataan terkenal Lenin bahwa kapitalisme akan patah di mata rantai terlemahnya. Saat itu mata rantai terlemah kapitalisme Eropa adalah Rusia di bawah rezim Tsar. Hari ini mata rantai terlemah kapitalisme di Eropa adalah Yunani. Bukan kebetulan kalau lima tahun lalu krisis Eropa terjadi di Yunani, dan bukan kebetulan pula kalau lima tahun kemudian krisis kembali mencuat di Yunani. Selama enam tahun, Yunani telah menjadi episentrum krisis ekonomi yang mengancam fondasi-fondasi Eropa dan semua yang berpotensi mendatangkan gelombang baru guncangan ekonomi terhadap Amerika dan ekonomi dunia pada umumnya. Alasan inilah
yang membuat semua mata kini tertuju ke Athena, ibu kota Yunani, dengan harap-harap cemas.

Elemen kedua dalam judul artikel ini adalah gagasan tersirat bahwasanya risiko terbesar terhadap zona Eropa adalah rakyat akan memilih menolak pengetatan anggaran. Asumsi-asumsi yang tak dikatakan di media tersebut sebenarnya hendak menyatakan bahwa demokrasi itu sendiri yang patut disalahkan untuk kemalangan Euro, bahwasanya rakyat tidak bisa dipercaya untuk mengambil apa yang disebut-sebut sebagai “keputusan-keputusan ekonomi yang bertanggungjawab” dan hal ini merepresentasikan mata rantai lemah riil dalam situasi secara keseluruhan.

Frase yang tidak disengaja inilah yang mengandung pemikiran sebenarnya dari para ahli strategi Kapital yang biadab. Wajah buruk rupa reaksi yang bersembunyi di balik kedok demokrasi mulai tersingkap.

Optimisme Palsu
Saat di awal 2014, para pemimpin Eropa berkoar-koar tentang apa yang disebut-sebut sebagai pemulihan ekonomi. Mereka mempublikasikan laporan-laporan optimis mengenai suatu kenaikan yang diprediksikan terjadi di ekonomi Eropa dan dunia bahkan mereka memprediksikan kembalinya pertumbuhan dai Eropa Selatan, termasuk Yunani. Mata badai memang terlihat tenang, namun hal itu tidak lebih dari sekedar ilusi semata. Saat akhir tahun tiba semua optimisme ini telah sirna. Jauh dari mengalami pemulihan ekonomi, krisis di Eropa malah menyebar ke Jerman, daerah yang sebelumnya dianggap ekonomi terkuat di Eropa.
Kini para ekonom dan Bank-Bank Sentral ketar-ketir mengenai dampak kolapsnya harga minya. Saat kekhawatiran ini mencapai bursa saham, kekhawatiran ini langsung berubah menjadi kepanikan, harga-harga saham mulai dari London sampai Tokyo langsung anjlok.

Namun mengapa kejatuhan harga minyak bisa menimbulkan kepanikan? Bukankah jatuhnya harga minyak seharusnya mendorong kebangkitan ekonomi dengan cara merangsang permintaan dan investasi produktif?

Sebenarnya dalam situasi dan kondisi yang berbeda hal seperti itu mungkin terjadi. Sayangnya dalam konteks ekonomi dunia yang stagnan, jatuhnya harga minyak dan komoditas-komoditas lainnya jelas merupakan suatu ekspresi kurangnya permintaan atau lebih tepatnya overproduksi yang kronis. Kaum kapitalis tidak menemukan alasan untuk berinvestasi dalam aktivitas produktif saat tidak ada permintaan untuk barang-barang yang mereka produksi. Booming pasar saham periode lalu bukanlah refleksi investasi produktif melainkan orgi spekulasi secara massif, yang kini sudah mencapai batasan-batasannya.

Jatuhnya harga minyak dan komoditas-komoditas tidaklah dipandang sebagai pemulihan ekonomi namun sebaliknya sebagai suatu spiral penyebab deflasi yang bisa menyeret Eropa masuk ke dalam resesi baru yang semakin dalam. Adanya prospek-prospek kejatuhan harga-harga baru maka par a konsumen juga akan menunda pemesanan serta semakin menekan permintaan.
Hal ini menimbulkan iklim ketidakpastian yang membuat para kapitalis mustahil menghitung permintaan serta mengakibatkan penundaan-penundaan penanaman investasi dan pembangunan pabrik-pabrik. Akibat menjadi sebab dan sebab menjadi akibat. Hasilnya adalah akan ada semakin banyak pabrik yang ditutup, meningkatnya pengangguran, dan penyusutan lebih lanjut dari angka permintaan yang terjadi bagaikan putaran kejam terus-menerus.

Krisis ini dipertajam oleh faktor-faktor politik. Rusia membalas sanksi-sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika dan Eropa terkait krisis Ukrainia, dengan cara mengembargo impor-impor pangan dari Uni Eropa, AS, dan negara-negara Barat lainnya, termasuk Australia, Kanada, dan Norwegia.

Penutupan pasar Rusia (dan melambatnya ekonomi Tiongkok) seketika mengakibatkan anjloknya harga susu, yang langsung mengakibatkan banyak peternak Eropa bangkrut. Sedangkan di sisi lain, jatuhnya mata uang Rubel dan krisis ekonomi di Rusia juga mengakibatkan dampak pada ekspor-ekspor Barat, serta memperdalam krisis industri Jerman.

The Ecomist, pada 13 Desember, menyimpulkan “…ancaman jangka panjang terhadap mata uang tunggal telah meningkat. Zona Eropa tampaknya terjebak dalam suatu siklus pertumbuhan yang lambat, pengangguran yang tinggi, dan inflasi rendah yang berbahaya.”
Semua hal ini mengakibatkan para pimpinan Uni Eropa tergopoh-gopoh membuat rencana. Mereka membidik tingkat inflasi sebesar 2% dengan harapan hal ini bisa memakan hutang-hutang besar di neraca pemerintah. Hantu deflasi membuat kemampuan pemerintah membayar hutang semakin lemah. Yunani terkena dampak ini paling parah dibandingkan negara-negara lainnya.

Pengetatan Anggaran yang Biadab
Selama enam tahun terakhir rakyat Yunani telah menderita kejatuhan hajat hidup secara drastis. Para pimpinan Eropa menorehkan luka dalam terhadap rakyat Yunani sambil memfitnah rakyat Yunani telah melakukan pemborosan. Troika, sebutan bagi suatu komite tripartit yang terdiri dari Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional, telah menerapkan kebijakan pemotongan anggaran dan pengetatan anggaran secara kejam. Kebijakan yang berdasarkan dalih sebagai obat pahit namun bermanfaat untuk menyembuhkan gunung hutang Yunani. Akibat langsung kebijakan ini adalah resesi ekonomi parah di Yunani diiringi dengan pengangguran massal dan anjloknya hajat hidup terbesar dalam sejarah sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Apa yang sudah terjadi di periode ini? Pengangguran melambung lebih dari 26% (dari tingkat pra-krisis yang hanya sebesar 7%). Namun angka resmi ini tidak menunjukkan keseriusan riil situasi ini, khususnya pemuda, yang setengah dari mereka yang berusia 25 tahun, tidak mendapatkan pekerjaan. Bahkan banyak dari mereka yang secara formal bekerja malah tidak menerima upah atau hanya digaji setelah penundaan panjang.

Kebijakan pengetatan anggaran telah merusak ekonomi Yunani. Pembiayaan publik telah dipangkas dan dana pensiun anjlok 25%. Yunani telah kehilangan seperlima output ekonominya. Menurut perkiraan-perkiraan postif, standar hajat hidup anjlok 25% dibandingkan tahun-tahun sebelum krisis. Sedangkan menurut skenario yang lebih negatif (dan lebih realistis) hajat hidup rakyat Yunani telah anjlok 50% dibandingkan tahun-tahun kondusif yang dialami Yunani semenjak bergabung dengan zona Eropa.
Sebelum krisis, hajat hidup di Athena tidak jauh berbeda dengan London. Kini ada sekolah-sekolah tanpa buku, rumah sakit-rumah sakit tanpa obat, apotek-apotek tanpa obat, dan orang-orang yang dulunya mapan sekarang mengais-ngais sisa-sisa makanan di tempat sampah. Kemiskinan telah melonjak dari 23% sebelum krisis menjadi 40,5% sekarang dan layanan-layanan utama seperti layanan kesehatan telah musnah akibat pemotongan anggaran, justru di saat semakin banyak rakyat yang membutuhkannya. Suatu laporan dari jurnal kedokteran terkemuka, The Lancet, menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di Yunani sama dengan “tragedi kesehatan publik”.

Gr-poverty

Bertahun-tahun pemotongan anggaran yang biadab telah menorehkan luka yang sangat parah ke dalam kehidupan ekonomi. Ekonomi barter muncul lagi karena rakyat berusaha melakukan segala cara untuk bertahan hidup di tengah sistem finansial yang rusak. Banyak orang telah menarik tabungan-tabungan mereka dari bank-bank, sebagian karena mereka tidak lagi percaya dengan sistem perbankan, dan sebagian besar lainnya terutama karena mereka harus menggunakan tabungannya untuk bertahan hidup. Namun apa yang terjadi saat semua tabungan sudah habis?
Terhadap rasa tidak berdaya yang menyebar luas. Banyak rakyat yang kabur ke pedesaan untuk mendapatkan pangan atau bahkan bermigrasi ke luar negeri, sementara orang-orang lainnya memilih pilihan yang lebih tragis. Tingkat bunuh diri telah meningkat drastis sampai-sampai surat kabar tidak lagi memberitakan tindakan bunuh diri kecuali kasus bunuh diri yang paling tragis.

Namun di bawah permukaan terdapat suatu perasaan angkara murka; ada kemarahan terhadap para bankir dan kapitalis yang tidak membayar pajak sama sekali namun di sisi lain menuntut orang-orang lain berkorban untuk “menyelamatkan Yunani”, dari Brussels dan Berlin yang memainkan peran Drakula penghisap darah rakyat Yunani, dan terhadap para politisi yang membawa Yunani ke jurang kebangkrutan sementara di sisi lain mengisi kantong mereka dengan jutaan uang publik, yang sekarang ketahuan berada di rekening-rekening bank rahasia di Swiss dan London.

Homeless Greek metro station

Apa yang sudah dipecahkan?
Namun apa yang sudah dihasilkan pengorbanan-pengorbanan ini? Hutang negara Yunani bukannya berkurang malah sebaliknya melambung tinggi. Tahun 2010 hutang Yunani sebesar 125% Produk Domestik Bruto (PDB) sekarang hutang Yunani sebesar 175% PDB. Ini sebagiannya diakibatkan  sejumlah besar yang dibayarkan Yunani berupa pembayaran bunga hutang. Sebagian lainnya karena PDB Yunani telah anjlok 25% akibat pengetatan anggaran. Sia-sialah semua luka dan penderitaan yang ditanggung rakyat Yunani selama enam tahun terakhir.

Hal yang disebut-sebut sebagai “pemulihan” 2014 yang di dalamnya termasuk Yunani mendapatkan suatu surplus anggaran primer (dengan kata lain suatu surplus saat pembayaran kembali hutang sudah dimasukkan dalam perhitungan), menghilang tanpa arti saat dihadapkan pada anjloknya tenaga-tenaga produktif akibat pengetatan anggaran. Pengangguran pemuda mencapai lebih dari 60%. Kurang dari setengahnya yang memiliki pekerjaan, menurut angka-angka tingkat tenaga kerja secara keseluruhan. Setengah dekade kemudian situasi kapitalisme jadi jauh lebih buruk di Yunani dan Eropa.

Total dana talangan Yunani (277 miliar) hanya 5%nya yang digunakan pemerintah untuk membayar bujet biasanya (dana pensiun, upah, dan sebagainya) sementara sebagian besar digunakan untuk membayar para kreditur, bank-bank Yunani dan bank-bank asing serta institusi-institusi finansial internasional. Empat tahun setelah intervensi Troika, mereka inilah yang satu-satunya pihak yang diuntungkan dari dana talangan dan kebijakan pengetatan anggaran.

Krisis Pemerintahan Samaras
Bulan Desember, Perdana Menteri Yunani, Antonio Samaras, sekaligus pemimpin partai Demokrasi Baru yang kini berkuasa, mengejutkan dunia dengan mengumumkan pemilihan Presiden (Pilpres) Yunani baru. Sebenarnya dia tidak perlu melakukannya, karena sebagai presiden sebelumnya ia masih punya sisa masa jabatan dua bulan. Lagi pula ini merupakan langkah yang berisiko, sebab kegagalan untuk mengajukan capres dengan 180 kursi dari 300 kursi yang diperlukan untuk parlemen Yunani akan seketika memicu pemilu yang segar.

Saat kapitalisme berada dalam situasi-situasi normal maka pilpres Yunani (utamanya figur seremonial dengan segelintir kekuasaan) akan berlalu tanpa banyak perhatian. Namun karena ini bukanlah situasi dan kondisi yang normal maka pengumuman ini disambut dengan sesuatu yang menyerupai kepanikan. Terdapat kejatuhan tajam di Bursa Efek Athena, disusul dengan kejatuhan harga-harga saham di Bursa Efek Eropa.

Motivasi Samaras adalah persoalan spekulasi. Apakah ia meniatkan hal ini sebagai manuver untuk menggalang dukungan bagi capresnya dengan menakut-nakuti para deputi atas prospek Pemilihan Sela yang mana kebanyakan dari mereka akan kehilangan kursinya? Ataukah ini merupakan suatu jalan keluar dari kursi panas sebelum ia diwajibkan untuk menjalankan pemotongan-pemotongan anggaran yang terbaru dan lebih kejam?

Sebelum ini dia telah berupaya meyakinkan UE untuk melonggarkan tekanan yang diperlukan Yunani untuk kembali meminjam uang di pasar-pasar dunia. Namun Brussel bersikap kepala batu; bukan hanya permintaannya ditolak mentah-mentah namun Samaras juga diperintahkan untuk menerapkan pemotongan anggaran lebih lanjut; termasuk pemotongan dana pensiun, sebelum Yunani bisa menerima kucuran dana dari Brussels.
Jelas tampaknya Samaras berupaya mendapatkan mayoritas melalui kombinasi ancaman dan sogokan. Seorang deputi mengklaim kalau dia pernah ditawari tiga juta Euro kalau dia memvoting dengan benar. Bagaimanapun juga karena dia punya ‘prinsip’ maka dia hanya menjual diri dengan harga yang sangat tinggi dan tiga juta jelas tidak cukup. Akhirnya Samaras gagal mendapatkan jumlah suara yang dibutuhkan dan karenanya mengumumkan Pemilu baru untuk 25 Januari.

Kabar ini seketika memicu kepanikan baru di bursa efek Athena yang jatuh 5% dalam satu hari. Suku bunga dari surat obligasi 10 tahun naik 9,5%, angka tertinggi di tahun 2014. Ini adalah indikasi-indikasi kecemahan yang dialami kapitalisme di hadapan peristiwa-peristiwa di Yunani. Kapitalisme tidak percaya rakyat Yunani akan memvoting ‘dengan benar’.

Buruh Berbalik Melawan Penguasa
Sejak tahun 2008, pemerintah-pemerintah di Eropa tanpa terkecuali merupakan rezim-rezim yang menerapkan pengetatan anggaran. Tindakan ini sama-sama dilakukan partai-partai Sosial Demokratik (Sosdem) dan partai-partai Borjuis. Kaum Sosdem telah mengikuti logika reformisme alias memplester sistem yang penuh kanker. Namun dalam kondisi krisis kapitalis yang mendalam, tidak ada basis bagi reformisme di periode terkini. Borjuasi dengan keras kepala menentang reforma-reforma yang ‘memberatkan’ mereka. Faktanya mereka bahkan bersikap kesetanan untuk menghancurkan reforma-reforma yang sebelumnya dimenangkan kelas buruh di masa silam.

Semuanya sama dimana-mana. Kaum reformis di bawah tekanan bank-bank dan konglomerasi telah berlutut di hadapan pasar serta menjalankan perintah tuan-tuannya. Para pimpinan reformis telah meletakkan pedangnya dan membela kapitalisme. Akibatnya, partai-partai Kiri yang bertanggungjawab menjalankan pemotongan-pemotongan anggaran telah dihukum secara elektoral. Mereka menjalankan pekerjaan kotor borjuasi, dan kemudian setelah habis serta terdiskreditkan, kemudian dibuang bagaikan kain gombal yang kotor. Persis itulah peran Sosial Demokrasi: mendemoralisasi massa dan menyiapkan jalan bagi ayunan ke Kanan. Kita menyaksikan hal ini di Spanyol dan Italia serta kini hal yang sama terjadi di Prancis.

Hal yang sama juga berlaku bagi para pimpinan serikat buruh yang memenuhi panggilan untuk membela sistem kapitalis. Buruh, dengan derajat yang berbeda-beda, sebenarnya bereaksi dengan unjuk kekuatan besar sebagaimana yang terjadi di seluruh Eropa alam periode demonstrasi-demonstrasi, mogok-mogok kerja, dan pemogokan-pemogokan massa sebelumnya. Saat situasi normal, unjuk kekuatan demikian seringkali cukup untuk membuat pemerintah menyerah. Namun kali ini tidak.

Situasi ini demikian akut hari ini sehingga demonstrasi dan pemogokan massa satu hari penuh tidak bisa mendatangkan hasil yang diinginkan. Para buruh Yunani telah meluncurkan lebih dari tiga puluh pemogokan massa selama lima tahun terakhir tapi pemerintah tidak sedikitpun membatalkan atau mengubah kebijakan pemotongan anggarannya. Situasi seperti ini menuntut slogan tepat berupa pemogokan massa tanpa batas untuk menggulingkan pemerintah.  Namun hal secara langsung akan menimbulkan pertanyaan kekuasaan, dan inilah prospek yang ditakutkan para pimpinan serikat buruh reformis.

greek

Tanpa kolaborasi para pimpinan serikat buruh, kapitalisme akan tamat. Kenyataannya, mereka selama ini menggunakan taktik rangkaian demonstrasi dan pemogokan satu hari sebagai katup pengaman, yang memungkinkan buruh melampiaskan amarahnya lewat saluran-saluran yang aman. Pemogokan-pemogokan sehari tidak dibangun berdasarkan persiapan atas aksi yang lebih serius dan akhirnya malah menjelma menjadi ritual tak berarti yang bisa dengan aman diabaikan pemerintah.

Absennya kepemimpinan yang berarti telah mengakibatkan rasa skpetisisme dan kelelahan diantara para buruh. Mereka tidak menemukan alasan untuk mengorbankan upah satu hari demi tindakan-tindakan yang tidak berujung kemana-mana. Ini khususnya benar bagi para buruh di sektor swasta yang berisiko kehilangan pekerjaannya kalau mereka mogok. Bisa diduga, partisipasi mogok turun karena para buruh kecewa dengan tindakan-tindakan demikian.

Setelah dihalangi di front serikat buruh oleh para birokrat pimpinan serikat, para buruh kini mencari jalan keluar di front politik. Proses ini bukanlah fenomena yang terisolasi, namun Yunani adalah negara yang mengalami proses ini dengan paling jauh. Seluruh partai-partai anti kemapanan di Eropa tengah bangkit sebagai ekspresi kemuakan massa terhadap peran yang dimainkan para pimpinan dari organisasi-organisasi buruh tradisional.

Partai-partai seperti SYRIZA dan PODEMOS di Spanyol, serta Scotland National Party atau Partai Nasional Skotlandia di Skotlandia, gerakan Bintang-Lima di Italia, semuanya dengan cara-cara berbeda merefleksikan  kemuakan dan kemarahan yang membara di masyarakat. Mereka bagaikan buih-buih dari gelombang kemuakan rakyat.

SYRIZA
Semua jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai SYRIZA akan menjadi partai yang menguasai pemerintahan pada Pemilu 25 Januari. Ini menimbulkan dilema bagi kelas penguasa Eropa. Pemilu April dan Mei 2012, SYRIZA kalah tipis saat maju dengan program penghapusan hutang Yunani. Saat itu semua kekuatan lama Eropa bersekongkol untuk mencegah kemenangan SYRIZA dan mengerahkan segala cara untuk menakut-nakuti rakyat Yunani dengan gagasan bahwa penghapusan hutang akan berarti Yunani dikeluarkan dari UE dan menimbulkan kekacauan
Ancaman itu manjur dan Samaras kemudian terpilih sebagai presiden. Namun massa belajar dari pengalamannya. Hari ini rakyat Yunani telah menempuh sekolah tiga tahun dari pengetatan anggaran yang diperintahkan Troika dan UE serta menyaksikan konsekuensi-konsekuensi sebagaimana dituliskan di atas. Pergeseran suara ke SYRIZA karenanya mengasumsikan proporsi-proporsi yang lebih besar dari sebelumnya. Ini terjadi meskipun terdapat pergeseran mayoritas pimpinan SYRIZA ke arah kanan, yang berusaha sebisa mungkin membuktikan pada kaum borjuasi bahwa mereka merupakan orang-orang moderat dan masuk akal. Sejak 2012, kepemimpinan SYRIZA di bawah Alexis Tsipras telah beralih dari gagasan penghapusan hutang sepenuhnya menjadi “renegosiasi”.

Syriza_Sondeos

Namun orang-orang di Brussels dan Berlin jelas tidak terkesan dengan kata-kata belaka. Kelas penguasa Yunani dan Eropa sekali lagi mengeluarkan peringatan keras akan adanya bencana menimpa rakyat Yunani kalau mereka memilih SYRIZA. Tanggal 15 Desember 2014, pejabat ekonomi papan atas UE, Pierre Muscovici, dalam kunjungannya ke Athena, memperingatkan: “Gagasan memikirkan kembali hutang dan bukannya membayar hutang, dalam pandangan saya, adalah pemikiran bunuh diri yang berisiko gagal bayar. Ini bukannya melawan SYRIZA. Ini kenyataan.” The Economist ikut menimbrung “Para investor tampaknya bertaruh bahwa rakyat Italia, Spanyol, dan Prancis akan mengintip kekacauan di Athena, gemetaran—dan lantas berpegang pada pengetatan Anggaran yang telah diresepkan Angela Merkel untuk mereka.”, dan seterusnya-dan seterusnya.
Program SYRIZA memuat suatu pembalikan terhadap pemotongan upah dan pembelanjaan publik, pembatalan penjualan aset-aset, dan penghapusan sebagian hutang. Ini saja sudah menyerang kaum oligarki, sang diaplekomenoi (sang terbelit) atau davatzides (sang germo).

George Stathakis, menteri pembangunan bayangan SYRIZA, mengatakan pada Financial Times bahwa SYRIZA akan mengakhiri praktik pemerintah yang membagi-bagikan kue gratis pada para kawan politik. Suatu kabel kedutaan AS yang dibocorkan oleh Wikileaks menyatakan: “outlet-outlet media swasta Yunani dimiliki oleh sekelompok kecil orang-orang yang meraup keuntungan…yang punya hubungan darah, pernikahan, atau perzinaan dengan para pejabat politik atau pejabat pemerintah dan/atau konglomerat media dan bisnis.

Pembicaraan SYRIZA tentang satu miliar Euro bisa dikumpulkan dari “daftar Lagarde” yang berisi rincian 2.000 rekening orang Yunani di bank Swis yang diketahui pimpinan IMF namun tidak ditindaklanjuti sama sekali oleh pemerintah Yunani. Suatu perjuangan melawan korupsi dan nepotisme jelas dibutuhkan namun tidak akan berhasil tanpa dihubungkan dengan penyitaan terhadap konglomerasi, khususnya dimulai dari perbankan.
Tsipras ingin Yunani tetap di zona Eropa namun pada saat yang bersamaan ia ingin mengakhiri pemotongan pembelanjaan, peningkatan pajak, dan reforma-reforma struktural yang dipaksakan UE dan IMF sebagai imbalan dana talangan kedua. Namun dua tujuan tersebut tidaklah cocok satu sama lain. Kalau Merkel tidak siap membantu Samaras, mengapa pula dia mau membantu pemerintahan SYRIZA. Kontradiksi fundamental ini tidak bisa dipertahankan. Momen-momen menentukan tengah menjelang dan akan memaksa para pimpinan SYRIZA mengambil keputusan.

Apa yang Akan Dilakukan SYRIZA?
Alexis Tsioras, pimpinan SYRIZA, berjanji untuk mematahkan apa yang dengan tepat dijelaskannya sebagai permintaan-permintaan biadab dari UE dan IMF. Inilah yang membuatnya populer dan jelas akan menjamin kemenangan SYRIZA. Namun janji bagaikan  selembar cek: cepat atau lambat harus diuangkan. Kelas buruh dan rakyat Yunani akan menuntut janji ini untuk ditepati.
Namun mekanik-mekanik dasar mengatakan bahwa setiap aksi menimbulkan reaksi yang setara dan berlawanan. Pemerintah baru akan menghadapi tekanan keras dari Troika untuk tidak menuruti tuntutan-tuntutan massa namun meneruskan program pemotongan dan pengetatan anggaran. Tsipras mungkin berharap bahwasanya para kreditur Yunani hanya menggertak sambal, bahwa, apapun yang mereka katakan di hadapan publik, UE dan IMF tidak sanggup menanggung gagal bayarnya Yunani.

Benar bahwasanya gagal bayarnya Yunani akan berujung pada keluarnya Yunani dari zona Eropa (dan kemungkinan juga dari UE) serta akan mendatangkan bahaya yang serius. Krisis ini bisa menyebar dengan luas ke periferi zona Eropa. Masa depan mata uang tunggal itu sendiri akan berantakan. Akankah Angela Merkel siap menghadapi resiko keluarnya Yunani yang bisa jadi awal reaksi berantai yang membuyarkan zona Eropa?

Jelas ini tidak akan jadi pilihan yang dikehendaki Merkel. Namun sang Kanselir Jerman ini juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti meningkatnya sentimen anti UE di Jerman dan semakin banyaknya permusuhan terhadap dana talangan. Sungguh merupakan tindakan bodoh untuk menganggap bahwa sikap Merkel terhadap pemerintahan Syriza akan lebih dernawan dibandingkan terhadap pemerintahan Samaras. Malah sebaliknya yang akan terjadi.

Ini tidakberarti bahwa kemenangan SYRIZA akan langsung berujung pada bentrokan seketika dengan Brussels dan Berlin. Para ahli strategi Kapital adalah orang-orang yang cerdik dan licik serta mereka punya pengalaman panjang dalam menjinakkan pemerintahan-pemerintahan sayap kiri yang bandel. terlebih lagi beberapa ekonom telah menyatakan bahwa Jerman menuntut terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat dari ekonomi periferal Eropa yang terlemah. Karenanya mungkin ada ruang untuk bermanuver—namun sangat terbatas.

Para pimpinan SYRIZA akan senang meraih kesepakatan dengan Merkel—itu pun kalau mungkin. Bukan karena apa-apa kalau Tsipras berusaha menampilkan citra yang lebih moderat dan masuk akal. Untuk suatu waktu )mustahil mengatakan berapa lama), SYRIZA bisa menuntut massa memperpanjang kredit pemerintah baru. Para pimpinan akan menyatakan bahwa mereka butuh waktu “untuk membereskan kekacauan yang ditinggalkan pemerintahh sebelumnya”. Argumen ini akan bergema di kepala banyak orang yang dengan antusias berharap memercayai pemerintah baru dan akan bersedia menunggu—sedikit—agar harapan mereka dipenuhi.
Seandainya Merkel memberikan beberapa konsesi. Tak diragukan lagi ini akan merupakan konsesi-konsesi sekunder, yang utamanya hanya bertujuan pencitraan untuk membodohi massa. Namun saat kembali ke Athena, Tsipras akan berkata: “begini, kami sudah berunding dengan Jerman dan mereka memberi kami ini-dan-ini”. Banyak orang akan menghela nafas karena alternatifnya terlalu menakutkan untuk dipikirkan. Dengan begini pemerintah bisa mengulur waktu—namun untuk berapa lama?

Sangatlah naif untuk membayangkan bahwasanya para pimpinan UE akan membolehkan pemerintahan Yunani yang baru untuk mencampakkan pengetatan anggaran fiskal (dengan kata lain pemotongan anggaran) dan “reforma” (dengan kata lain kontra-reforma). Terdapat indikasi-indikasi jelas bahwasanya para anggota UE lainnya kehabisan kesabaran terhadap Yunani. Perlakuan Troika terhadap Athena ditandai dengan ketiadaan kepercayaan sama sekali. Sentimen itu, tentu saja, berlaku dua arah. Cepat atau lambat ini akan berujung pada konflik terbuka. Bodoh kalau membayangkan hal ini bisa dihindari dengan ramah tamah dan manuver-manuver diplomatik.

Akhirnya Merkel dan konco-konconya, akan menyodorkan bedil di meja perundingan dan mengatakan: “Pilih sekarang!” Kalau Tsipras tidak menurutinya, maka mereka akan memotong selang infus yang menopang apapun kehidupan yang tersisa di ekonomi Yunani dan Yunani akan mendapati diri di luar zona Eropa. Beberapa ekonom menyatakan bahwasanya akan baik bagi Yunani untuk keluar dari Euro. Devaluasi yang menyusul kembalinya mata uang Drachma akan mengembalikan daya kompetitif. Posisi yang sama juga diambil oleh Lafazanis dari sayap kiri SYRIZA dan bagian-bagian lain dari Kiri Yunani. Namun ini merupakan delusi serius.

Kembalinya mata uang Drachma akan seketika disusul oleh penurunan tajam nilai mata uang yang tidak ingin dimiliki siapapun. Anjloknya Drachma akan menyebabkan kekacauan yang mengakibatkan penderitaan yang tak terbayangkan bagi rakyat Yunani. Hal demikian juga akan mengakibatkan jatuhnya hajat hidup semakin serius dari yang pernah dialami sebelumnya. Apa yang mereka sebut “gagal bayar secara tak teratur” akan berakhir dengan ledakan sistem perbankan, dan mencekik aksesnya ke kredit internasional. Hal demikian akan menyerupai krisis yang menenggelamkan ekonomi Jerman di tahun 1923.

Saat ini, di atas basis kapitalisme, semua jalan menunju ke keruntuhan. Bagi Yunani, tidak ada masa depan di dalam ataupun di luar Euro kecuali putus hubungan dengan kapitalisme. Keluar dari Euro berarti menjemput maut di tiang gantungan namun tetap berada dalam Euro berarti menanti ajal dengan ribuan potongan anggaran.

Krisis
SYRIZA akan terlempar ke dalam krisis bilamana kelak mereka menguasai pemerintahan namun mengingkari janji-janjinya dan tidak melaksanakan perubahan-perubahan signifikan terhadap pembayaran hutang Yunani. SYRIZA yang menuntut restrukturisasi serius atas hutang berisiko dikeluarkan dari zona Eropa dan berakhir mengingkari janji-janji lainnya. Kontradiksi ini yang mengekspos watak reformis-utopis dari program SYRIZA.
“…bahkan kalau SYRIZA berkuasa, masih mungkin partai tersebut memoderasikan tuntutan-tuntutannya begitu ia memandang ke jurang gagal bayar hutang. Tak ada yang bisa mengonsentrasikan pikiran seperti peti kas negara yang kosong.” (Financial Times, 30 Desember, Voters are Eurozone’s Weakest Link)
Sebelumnya dilaporkan di majalah Der Spiegel di Jerman bahwasanya Kanselir Merkel bersiap atas keluarnya Yunani kalau SYRIZA berkuasa dan mengambil keputusan yang dianggapnya “tuntutan-tuntutan yang tidak bisa diterima”.

“Menteri keuangan mengatakan tidak mengomentari ‘laporan-laporan spekulatif’”. Hal ini mengacu pada pernyaataan Schäuble yang dipublikasikan seketika setelah Pemilu diumumkan di Yunani, dimana ia mengatakan tidak ada alternatif bagi upaya-upaya Yunani untuk merombak ekonomi, yang ‘mulai membuahkan hasil’. Jika Yunani menempuh jalan yang berbeda, ini akan menyulitkan,’ tambah Schäuble, mengatakan bahwa pemilu tidak mengubah fakta bahwa Athena harus menaati kesepakatannya.” (Financial Times, 4 Januari).

Benar bahwasanya suatu seksi borjuasi yang menyadari bahwa obat keras yang didiktekan Berlin belumlah bekerja dan malah kontraproduktif. Namun sebagian besar komentator ini dari negar-negara yang tidak harus membayar tagihan. Saat Mario Draghi membuat janji terkenal bahwasanya UE akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan Euro, ia sepenuhnya sadar bahwa demi menjaga janji ini ia tidak harus merogoh kantongnya sendiri. Sebagai patriot Italia yang baik, tentu saja, ia melemparkan tanggung jawab tersebut pada Jerman. Namun jelas Jerman punya pikiran sendiri tentang bagaiana mempertahankan Euro.
Kaum borjuasi Jerman tidak pernah suka menyerahkan uang dalam jumlah besar kepada tetangga-tetangganya yang miskin. Saat ekonomi Jerman berada dalam krisis seperti sekarang, antusiasmenya terhadap gagasan-gagasan Draghi jelas sudah redup bahkan padam. Ekonomi dan politik saling menjadi prasyarat satu sama lain. Berada di tengah kesakitan kepunahan politik, Nyonya Merkel harus terlihat kuat saat berhadapan dengan Yunani atau sebaliknya kehilangan pijakannya terhadap partai sayap kanan yang anti-Eropa: Alternative for Germany (AfD). Pilihan baginya adalah dipilih kembali sebagai kanselir dan menjaga Yunani yang dipimpin SYRIZA tetap berada di dalam UE, pilihan Merkel tidaklah sulit diprediksi.

Bahkan kalau persyaratan keringanan hutang Yunani bisa diterima Troika, namun tidak akan diterima karena akan memicu preseden berikutnya. Lagipula, Yunani hanya merepresentasikan 2% dari ekonomi Eropa. Namun dengan rakyat Italia, Spanyol, dan Portugal berada dalam posisi yang sama, maka inilah preseden yang tidak sanggup ditanggung para bos UE.

“Terdapat pula alasan-alasan eksternal bagi Jerman untuk berhati-hati dalam memberikan pijakan bagi SYRIZA. Suatu penghapusan hutang bagi Yunani mungkin bisa ditanggung—namun jelas akan membuka kesempatan munculnya tuntutan serupa dari Italia, Portugal, Irlandia, Spanyol, dan bahkan Prancis. Sangatlah mudah melihat bagaimana tabrakan berantai bisa terjadi di zona Eropa.” (Financial Times, 30 Desember).

Mengapa Borjuis Benci Tsipras
Kaum borjuis takut pada Tsipras yang mereka sebut seorang komunis dan radikal yang berbahaya. Tsipras, dengan sia-sia, berusaha meyakinkan mereka bahwa itu tidak benar. Apa yang paling ditakutkan Borjuasi dari Tsipras bukan Tsipras itu sendiri melainkan kekuatan kelas yang berdiri di balik Tsipras. Pengumuman kemenangan Kiri tak diragukan lagi akan membangkitkan perasaan harapan berjuta rakyat dan tidak hanya di Yunani. Prospek kekalahan para pembela pengetatan dan pemotongan anggaran telah memberikan harapan pada buruh di seluruh Eropa. Suatu kemenangan bagi SYRIZA akan punya dampak besar di Spanyol, dimana kebangkitan Podemos mengancam pemerintah presiden Rajoy yang semakin lemah dan semakin tidak populer. Bukan kebetulan kalau Rajoy dan sekretaris jenderal Podemos, Pablo Iglesias, sama-sama terlibat langsung dalam Pemilu Yunani.

Sedangkan di Yunani sendiri, kejatuhan pemerintahan Samaras yang dibenci akan menimbulkan dampak serupa dengan jatuhnya Monarki di Spanyol tahun 1931 atau kemenangan pemerintah Popular Front di tahun 1936. Dipacu oleh keberhasilan elektoral, para buruh akan bergerak maju. Mereka akan berjuang untuk membalikkan pemotongan anggaran dan meraih kembali semua hal yang telah dirampas dari tangan mereka di tahun-tahun kegelapan pengetatan anggaran. Mereka akan menekan pemerintah untuk menjalankan programnya.

Pilihan di hadapan pemerintah pimpinan SYRIZZA sangatlah sederhana: akankah nasib rakyat Yunani ditentukan oleh segelintir birokrat dan bankir di Brussels serta segelintir juragan kapal kaya Yunani berikut konglomerat-konglomerat sekutu mereka? Ataukah pemerintah bertindak tegas dengan mengakhiri kediktatoran bankir dan kapitalis serta berpihak pada berjuta rakyat yang memilih SYIZA?

Tahun-tahun belakangan ini merupakan pengalaman keras bagi rakyat Yunani yang belajar bersikap skeptis terhadap para politisi dan janji-janji mereka. Skeptisme ini punya dasar kuat. Mereka akan menyaksikan pemerintah baru dengan harap-harap cemas. Akankah SYRIZA bertindak sesuai janji-janjinya? Ataukah mereka akan bertingkah seperti PASOK? Itulah pertanyaannya.
Banyak anggota SYRIZA yang marah dan pantas untuk marah terhadap keputusan kandidat-kandidat yang diajukan partai, dimana diantaranya menyertakan sejumlah bekas deputi PASOK bahkan termasuk beberapa kandidat Independen Yunani yang sayap kanan. Mereka memandang ini sebagai bukti lebih lanjut dari pergeseran pimpinan SYRIZA ke sayap kanan.

Trotsky pernah menulis bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu para pimpinan reformis bisa didorong lebih jauh dari yang mereka niatkan sebelumnya. Tiap upaya untuk menyabotase pemerintah dengan capital flight atau kaburnya investasi (yang sudah dimulai) harus dibalas dengan penyitaan. Perlawanan terhaap kekuasaan para bankir dan kapitalis tidak boleh berdasarkan sikap SYRIZA bersandar pada kekuatan parlemen, yang segera akan tampak hanya sebagai bayangan kosong . Sebaliknya mereka harus bersandar pada kekuatan kelas buruh. Basis itulah yang merupakan contoh yang harus diberikan pada kelas buruh Italia, Spanyol, Portugal, dan seluruh negara di Eropa untuk mengakhiri mimpi buruh kapitalisme.

Satu-satunya cara untuk membalikkan pemotongan upah dan pembelanjaan publik, mengembalikan para pengganggur ke lapangan pekerjaan, adalah dengan merebut kekuatan ekonomi riil. Hal itu dimulai dengan menyasar davatzides, kaum Oligarki, bukan dengan memajaki mereka atau mengekang mereka, namun menyita kekuasaan mereka, termasuk juga para pemonopoli dan korporasi-korporasi besar di ekonomi Yunani. Satu-satunya cara untuk melawan tekanan borjuasi dan Troika serta menghentikan bocornya kapital adalah menyita bank-bank dan perusahaan-perusahaan besar serta meletakkannya di bawah kontrol buruh dan manajemen demokratis, menyerukan pada para buruh untuk menduduki pabrik-pabrik dan turun ke jalan untuk mendukung pemerintah serta melucuti reaksi.

Langkah-langkah keras demikian akan membangkitkan dukungan massif, tidak hanya di Yunani namun juga di seluruh Eropa. Kini dimana-mana, massa teralienasi dari penguasanya. Mereka mencari kepemimpinan tegas yang tak pernah datang. Suau pemerintah sosialis sejai di Yunani akan menjadi sumber inspirasi bagi berjuta rakyat yang putus asa akibat situasi sekarang. Ini akan menimbulkan resonansi jauh lebih besar daripada Revolusi Rusia di tahun 1917.

Namun tentu saja ini bukanlah satu-satunya skenario. Bila pemerintah SYRIZA menyerah pada tekanan para bankir dan kapitalis serta mengecewakan rakyat, maka mood publik bisa berayun tajam ke arah yang berbeda. Pemerintah akan mendapati dirinya terjepit. Saat itu, ia akan memasuki krisis dan mulai terdisintegrasi karena basis elektoralnya buyar. Kondisi-kondisi demikian akan menimbulkan polarisasi tajam antara kiri dan kanan, kemungkinan tercermin dalam meningkatnya dukungan bagi KKE (Partai Komunis Yunani) di sayap kiri dan tumbuhnya sayap kanan termasuk Golden Dawn (yang kemungkinan bangkit dengan nama baru).

“Para pemilih adalah mata rantai terlemah zona Eropa”
Bilamana SYRIZA berkuasa tapi tidak memenuhi harapan yang dititipkan rakyat padanya, maka ia tidak akan bertahan lama. Maka apa perspektif untuk saat itu? Pemilu berikutnya akan mendatangkan pemerintahan yang bahkan lebih sayap kanan, kemungkinan dengan partisipasi Golden Dawn. Namun pemerintan  demikian juga akan impoten dalam memecahkan persoalan kapitalisme Yunani. Hal itu akan membuka suatu periode instabilitas politik dan sosial baru bahkan dengan gelombang mogok kerja, pemogokan massa, dan bahkan insureksi.

Demokrasi parlementer adalah suatu kemewahan yang bisa bersemi hanya saat borjuasi punya cukup sumberdaya untuk membuat massa tetap puas dengan konsesi-konsesi dan reforma-reforma. Namun krisis sistem ekonomi yang dalam setiap hari menggerus basis material demokrasi parlementer. Satu demi satu partai-partai yang bersandar pada demokrasi parlementer telah hancur: PASOK telah kolaps dan Demokrasi Baru kini siap menyusul.
Lenin menulis dalam Negara dan Revolusi:

“Dalam masyarakat kapitalis, yang berkembang dalam kondisi-kondisi paling menguntungkan, kita punya demokrasi yang relatif sempurna dalam republik demokratis. Namun demokrasi ini selalu dikepung dalam batasan-batasan sempit yang diterapkan oleh eksploitasi kapitalis, dan sebagai konsekuensinya selalu menjadi suatu demokrasi bagi minoritas elit, demokrasi hanya bagi kelas-kelas berada, demokrasi hanya bagi kaum kaya. Kebebasan dalam masyarakat kapitalis selalu sama halnya dengan kemerdekaan di republik Yunani kuno: kebebasan bagi para tuan budak. Akibat kondisi-kondisi eksploitasi kapitalis, budak-budak upahan modern digilas oleh kekurangan dan kemiskinan sehingga ‘mereka tidak bisa diganggu oleh demokrasi’, ‘tidak bisa urus campur dengan politik’; di masa biasanya yang damai, mayoritas populasi diasingkan dari partisipasi publik dan kehidupan politik.”
Sejak Perang Dunia II (PD II), periode panjang melambungnya kapitalisme diiringi dengan perkembangan industri dan bertumbuhnya kelas buruh berarti gagasan demokrasi telah menancap dalam di kesadaran massa hingga memiliki ciri prasangka. Ini khususnya benar di Eropa. Bagaimanapun, hari ini kita tidak lagi hidup dalam apa yang disebut-sebut sebagai masa “biasa, damai”, apalagi di Yunani.

Permasalahan borjuasi Eropa adalah korelasi kekuatan-kekuatan kelas tidak memungkinkan mereka bergerak seketika ke arah reaksi sebagaimana terjadi sebelum PD II, dan yang dilakukan borjuis di tahun 1967. Kebangkitan Golden Dawn jelas merupakan suatu peringatan. Namun kaum borjuis terpaksa mengambil langkah mengekang anjing-anjing gilanya karena provokasi keras akan memicu reaksi sama dan berlawanan dari kelas buruh Yunani yang belum lupa kediktatoran Junta di Yunani. Borjuasi Yunani tidak bisa menyingkirkan demokrasi tanpa menghadapi perlawanan, yang bisa pecah menjadi perang sipil. Mereka tidak mau menempuh jalan itu–bukan karena mereka seorang pasifis cinta damai yang sentimengil, namun karena mereka tidak yakin menang. Inilah mengapa mereka terpaksa bertindak terhadap Golden Dawn. Saat ini para pimpinan utama Golden Dawn mengikuti kampanye pemilu dari belakang penjara. Namun dalam periode berikutnya semua bisa berubah.

Mari kita ingatkan diri bahwasanya demokrasi pernah ditindas sebelumnya di Yunani semenjak krisis. Saat itu menyusul pengunduran diri Perdana Menteri Papandreou dari PASOK di November 2011, demokrasi parlementer secara de facto ditunda untuk enam bulan. Suatu pemerintahan “teknokratis”, campuran aneh pemerintah imperialis UE dikombinasikan dengan bentuk ringan Bonapartisme, dipasang oleh Troika di bawah pimpinan Papademos dengan tujuan memaksakan pengetatan anggaran yang dituntut sebagai syarat dana talangan bagi Yunani.

Bagaimanapun tidak akan mungkin bagi kelas penguasa Yunani untuk secara terbuka mendirikan rezim Bonapartis atau fasis dalam jangka waktu pendek atau menengah. Namun bila kelas buruh tidak merebut kekuasaan, maka cepat atau lambat borjuasi akan berkata: “Situasi sudah tidak bisa ditoleransi: terlalu banyak pemogokan, terlalu banyak demonstrasi, terlalu banyak kekacauan. Kita perlu Ketertiban. Kami menuntut Ketertiban”.

Akhirnya pilihan yang ada di hadapan Yunani, serta seluruh negara di Eropa dan di dunia adalah: Sosialisme atau barbarisme. Kini saatnya memilih.

*diterjemahkan dari “Greek Elections and Crisis in Europe” yang ditulis Alan Woods dan Ben Peck dalam marxist.com dan dipublikasikan ulang dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: