Persoalan Perjuangan Kelas dan Revolusi dalam Land and Freedom

MSDLAAN EC004

Land and Freedom atau dalam bahasa Indonesia berarti Tanah dan Kemerdekaan adalah film fiksi tahun 1995 yang disutradarai Ken Loach serta diadopsi dari Homage to Catalonia karya George Orwell, tentang pengalamannya berperang di pihak Republik Spanyol melawan kudeta Jenderal Franco.

Dave Carr, tokoh utama fillm ini, adalah seorang buruh korban Pemutusan Hubungan Sepihak (PHK) dan menderita pengangguran. Carr, yang juga seorang anggota Communist Party of Great Britain (CPGB) atau Partai Komunis Inggris Raya, memutuskan untuk meninggalkan Liverpool dan pergi ke Spanyol demi bergabung dengan Brigade Internasional, melawan kudeta Jenderal Franco beserta seluruh kekuatan fasis pendukungnya seperti rezim Mussolini dan rezim Hitler/NAZI Jerman.

Saat berada dalam perjalanan kereta, Carr bertemu dengan para gerilyawan anggota POUM, Partido Obrero de Unificacion Marxista, atau Partai Buruh Persatuan Marxis. Carr kemudian berkawan dengan berbagai sukarelawan dari berbagai negara seperti Bernard dari Prancis, Lawrence dari Amerika Serikat (AS), dan sebagainya. Selama bertempur di Spanyol, Carr berhadapan dengan banyak hal yang mengguncang keyakinannya. Mulai dari sikap rezim pemerintah Republik Spanyol yang lebih menghendaki reforma-reforma terbatas daripada revolusi, tekanan Uni Soviet serta Partai Komunis yang mendesakkan kolaborasi dengan borjuis demokratis serta melarang revolusi, dan sebagainya.

Revolusi dan Perang Sipil di Spanyol bukanlah konflik internal antar orang-orang Spanyol atau antara kaum Republiken Spanyol melawan kaum Nasionalis Spanyol, antara kaum anarkis dan sosialis melawan kaum fasis dan monarkis. Perang sipil di Spanyol menarik berbagai pihak dari luar negeri. Mulai dari berbagai sukarelawan yang datang dari berbagai negara untuk membela republik, termasuk kalangan seniman seperti Ernest Hemmingway, Pablo Picasso, bahkan termasuk George Orwell itu sendiri.

Ini semua dikarenakan revolusi dan perang sipil Spanyol adalah babakan revolusi terakhir pasca PD I dan perang pemanasan sebelum Perang Dunia II. Pertarungan antara demokrasi melawan tirani, pertarungan antara revolusi melawan reaksi, dan pertarungan antara sosialisme melawan fasisme dimulai disini.

Bumi Rakyat bekerjasama dengan kedai kopi Tjangkir 13, komunitas Tjangkiner, serta komunitas film disana, menyelenggarakan pemutaran sekaligus bedah film “Land and Freedom” pada 16 Januari 2015.Sebanyak 17 pemuda mengikuti pemutaran dan bedah film ini di tengah larutnya malam dan derasnya guyuran hujan. Dalam diskusi kecil namun akrab ini, berbagai tema perjuangan dikupas serta didiskusikan dengan antusias. Mulai dari revolusi Spanyol, perjuangan kelas dan kolaborasi kelas, front persatuan dan front popular, revolusi dua tahap dan revolusi permanen, mengapa kelas buruh yang harus memimpin revolusi, peran teori dalam perjuangan kelas, fasisme, imperialisme, watak kelas mahasiswa, sosialisme, dan sebagainya. Berikut catatan diskusi yang difasilitasi Alvin Ainul Yaqin sebagai moderator, Hari dan Syahriza Riza sebagai pemantik diskusi, serta Robbani Amal Rais sebagai notulis. Penjelasan-penjelasan tambahan di luar perdebatan banyak diberikan untuk memperjelas tema-tema serta berbagai isu yang dibahas dalam diskusi.

Poster Pemutaran dan Bedah Film Land and Freedom

 

Luki Hari—Pemantik Diskusi Pertama (Editor Bumi Rakyat):

“Berbeda dengan Revolusi Rusia tahun 1917, tidak banyak yang membahas Revolusi Spanyol 1936, padahal revolusi ini memberikan banyak pelajaran keras, baik dalam perjuangan melawan fasisme maupun perjuangan kelas. Revolusi Spanyol adalah gelombang revolusi sosial atau lebih tepatnya revolusi buruh terakhir pasca Perang Dunia I (PD I). Revolusi buruh pasca PD I meletus pertama kali tahun 1917 di Rusia, kemudian di Jerman tahun 1919-1920, dan di Tiongkok pada tahun 1925 dimana buruh-buruh Shanghai melakukan pemogokan besar-besaran. Kecuali revolusi Rusia, semua revolusi buruh di negara-negara ini mengalami kegagalan dan berkontribusi banyak pada keterisolasian serta bangkitnya kaum birokrasi di Federasi Republik Dewan Pekerja Sosialis atau Uni Soviet.”

“Pecahnya revolusi Spanyol di tahun 1936 menimbulkan harapan baru bagi kelas buruh sekaligus ancaman bagi kaum birokrat yang berkuasa di Uni Soviet. Karena itu pada saat yang bersamaan, kaum birokrat Uni Soviet menggelar pengadilan rekayasa untuk menghabisi seluruh aktivis partai Bolshevik yang masih punya hubungan dengan revolusi 1917 dan tradisi Bolshevik-Leninis. Pengadilan rekayasa yang dikenal sebagai “Moscow Show Trials” inilah sarana mengeksekusi orang-orang seperti Radek, Bukharin, Zinoviev, dan seluruh komunis yang dianggap membahayakan kekuasaan kaum birokrasi pimpinan Stalin. Segala vonis mulai dari kejahatan Trotskyisme, terorisme, plot menggulingkan kediktatoran proletar, berkonspirasi dengan musuh kelas, dijatuhkan antara tahun 1936 hingga 1938, bersamaan dengan Revolusi dan Perang Sipil Spanyol.”

 

Moscow Show Trials

Moscow Show Trials

“Karena itu revolusi dan perang sipil Spanyol tidak hanya menjadi medan perang awal antara demokrasi melawan fasisme namun juga medan perang antara tradisi Bolshevis-Leninis-Marxis sejati melawan Stalinisme. Kemenangan kubu Franco pada tahun 1939 bukan saja berakibat dimulainya perang antar Imperialis, yaitu PD II, namun juga hancurnya seluruh capaian revolusi dan terbunuhnya banyak pejuang kelas yang tak terhitung nilai dan perannya dalam teori dan praktik. Bahkan Trotsky sendiri tidak lolos dari pembunuhan ini. Ia mati akibat pukulan kapak es dari Ramon Mercader, agen Stalin, pada tahun 1940. Seluruh potensi revolusioner hancur dan gerakan buruh sedunia terpukul mundur berpuluh-puluh tahun serta selama itu rakyat pekerja menderita penjagalan perang Imperialis dan kebiadaban fasisme.”

“Sebagaimana kita saksikan dalam beberapa adegan di film ‘Land and Freedom, banyak persoalan penting yang menjadi perdebatan dalam perjuangan. Soal kolektivisme, soal perang dulu baru revolusi, atau berperang melawan fasisme sekaligus memperjuangkan revolusi. Demi menjawab persoalan ini, ada baiknya kita melihat kondisi di Spanyol pada saat itu.”

“Spanyol adalah salah satu negara paling terbelakang di Eropa, mirip dengan Rusia pada 1917, tidak punya industri maju yang mengolah bahan mentah sampai jadi barang jadi. Mayoritas populasi rakyat Spanyol adalah petani atau buruh tani. Spanyol sendiri mereupakan benteng konservatisme paling kuat. Hubungan kerajaan dan gereja sangat erat, agama secara relijius maupun secara institusional digunakan kelas penguasa sebagai instrumen kekuasaan mereka. Sebelum berdirinya Republik Kedua Spanyol, setiap pastor Katolik di Spanyol digaji oleh negara seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), para pejabat keagamaannya melayani keluarga-keluarga kaya, keluarga-keluarga kerjaan, tuan tanah, dan dan menikmati hak-hak istimewa. Mereka bagian dari kelas penguasa yang menindas.”

“Pasca PD I, sebagaimana di negara-negara Eropa lainnya, Spanyol mengalami pergolakan sosial dan politik. Tumbuhlah ketakutan akan komunisme dan revolusi sosial. Tahun 1923, Miguel Primo de Rivera melancarkan kudeta dan mendirikan kediktatoran militer namun secara perlahan-lahan ia kehilangan dukungan dan harus mundur pada Januari 1930. Tidak hanya Primo de Rivera yang turun namun juga Raja Alfonso XIII turun tahta. Monarki kemudian dihapuskan dan Republik Kedua Spanyol berdiri. Pemilu Juni 1931 dimenangkan oleh banyak kaum kiri dalam artian luas (pro perubahan dan anti status quo).”

“Batasan maksimal delapan jam hari ditetapkan, kenaikan upah disahkan, diberlakukanlah kontrak rigid terhadap buruh tani yang sebelumnya tidak punya perjanjian kerja sama sekali, diimplementasikanlah sekularisme, pelajaran agama Katolik yang diwajibkan di sekolah kemudian dihapuskan, dan reforma-reforma lainnya.”

“Semua hal ini mendapat penentangan hebat dari kelompok sayap kanan atau kelompok pro status quo seperti dari kalangan militer, bangsawan, dan gereja. Kelompok-kelompok sayap kanan yang berbeda-beda ini kemudian bersatu dan memenangkan Pemilu tahun 1933 setelah kudeta gagal setahun sebelumnya oleh General José Sanjurjo di Agustus 1932. Saat kaum sayap kanan berkuasa mereka membatalkan dan menghapus kembali semua reforma dan perubahan yang sudah dilaksanakan pemerintah sebelumnya. Upah buruh tani diturunkan sampai setengahnya dan para republiken disingkirkan dari militer. Kelas buruh dan rakyat tertindas Spanyol menghadapi penindasan balik ini dengan perlawanan di sektor ekonomi berupa aksi-aksi pemogokan serta di sektor politik dengan menggalang Front Popular yang kemudian memenangkan Pemilu 1936. Sayangnya karakter partai yang memimpin Popular Front kemudian adalah partai reformis, seperti Partai Buruhnya Tony Blair di Inggris atau Partai Buruhnya Kevin Rudd di Australia. Artinya mereka tidak tertarik untuk benar-benar memperjuangkan revolusi sosial menumbangkan kapitalisme melainkan berusaha melakukan perbaikan-perbaikan kondisi atau hajat hidup rakyat melalui reforma-reforma di dalam sistem kapitalisme. Bentuk reformisme ini bisa dilihat berupa alih-alih menyita tanah-tanah garapan yang dikuasai oleh tuan tanah-tuan tanah besar, pemerintah memilih membeli tanah-tanah tersebut untuk didistribusikan ke petani tak bertanah. Proses pembayaran ini dengan dicicil yang kalau dihitung lamanya bisa sampai puluhan tahun. Sebelum selesai menyicil petani keburu tua renta atau meninggal.”

“Saat Spanyol berada di pertentangan kiri dan kanan itulah muncul kudeta Franco. Awalnya Jenderal franco sebetulnya tidak memiliki basis kekuatan yang besar, namun ia mewakili kepentingan para pejabat, tuan tanah, bangsawan serta serta semua kelomopok konservatif dan kaum sayap kanan yang kemudian memberikan dukungan pada Franco secara utuh. Ini bisa dilihat bahwa pada 29 Juli 1936 kudeta yang dilancarkan Franco berangkat dari Mokoro (saat itu jajahan Spanyol) dan baru hari berikutnya pasukan-pasukan Franco menyeberang ke Spanyol.”

“Pemikiran Popular Front adalah pemikiran setali tiga uang dengan gagasan revolusi dua tahap dan kolaborasi kelas. Popular Front yang tidak hanya menggandeng kelompok-kelompok kiri, kelompok buruh dan tani, namun juga kaum republiken borjuis demokratis yang anti fasis, berpandangan bahwasanya Spanyol harus menempuh dua tahap. Memenangkan perang melawan fasisme terlebih dahulu baru mengadakan revolusi. Jadi Popular Front melarang pengambil alihan tanah untuk didistribusikan kembali ke kaum tani, melarang nasionalisasi pabrik-pabrik untuk diletakkan ke bawah kontrol buruh, dan sebagainya. Semua hal itu dilarang dengan alasan ditunda nanti setelah menang perang. Alasannya adalah Republik perlu menggandeng seluruh elemen anti fasis, termasuk kaum borjuis dan negara borjuis lainnya. Kebijakan Popular Front berdasarkan argumen bahwa revolusi sosial hanya akan membuat takut kaum borjuis dan membuyarkan semua kerjasama atau bantuan obat-obatan serta persenjataan yang mungkin diperoleh Republik. Apalagi saat itu Liga Bangsa-Bangsa (LBB) terbukti lumpuh dan Amerika Serikat (AS) serta Britania malah menutup mata atas bahaya fasis dengan menandatangani Pakta Non Intervensi sambil menyatakan perang sipil di Spanyol adalah urusan dalam negeri pemerintah Spanyol sendiri. Luar biasa munafiknya negara-negara imperialis ini!”

“Republik Spanyol ditinggalkan sendiri untuk menghadapi kudeta Jenderal Franco serta fasisme dan sayap kanan Spanyol yang didukung besar-besaran oleh rezim fasis Hitler-NAZI di Jerman dan rezim fasis Mussolini di Italia, dengan pasokan persenjataan canggih, kendaraan-kendaraan perang mulai dari tank sampai pesawat tempur, bahkan teknologi-teknologi perang terbaru Italia dan Jerman dilimpahkan ke Franco untuk uji coba sebelum PD II. Jerman sendiri memberi bantuan sebesar £43 juta atau $215 juta (sangat besar untuk masa itu), tentara Jerman sebanyak 16.000 orang, serta 600 pesawat dan 200 tank. Sedangkan Italia memberi bantuan tentara Italia sebanyak 50.000 orang serta 660 pesawat, 150 tank, 800 artileri, 10.000 senapan mesin, dan 240.000 bedil. Ini belum ditambah persenjataan dan obat-obatan dari rezim fasis di Portugal yang mengirimkan 20.000 sukarelawan fasis untuk Franco.”

Sementara itu Republik Spanyol hanya didukung pemerintah Meksiko, Prancis, dan Uni Soviet. Itu pun tidak seberapa karena dukungan dari Meksiko berupa bantuan finansial sebesar dua juta dolar dan 20.000 senapan serta sokongan diplomatik. Sedangkan pemerintah Front Popular Prancis hanya memberikan dukungan diplomatik.”

“Hal yang menyedihkan adalah bantuan dari Uni Soviet yang sangat tidak cukup sama sekali. Meskipun Uni Soviet memberikan bantuan militer namun mayoritas kondisinya buruk dan lama, sebagian besar malah diambil dari museum, contohnya senapan yang macet setelah beberapa kali ditembakkan. Ini disebabkan dua hal: Pertama, kaum birokrasi di Soviet ingin membikin perjanjian sekutu dengan AS dan Britania agar aman dari serangan fasis di PD II nanti. (Sayangnya karena terlalu sering diPHPin borjuasi akhirnya mereka bikin pakta Molotov-Ribbentrop sebelum akhirnya balikan dengan sekutu lagi setelah operasi Odessa). Kedua, kaum birokrasi di Soviet takut bahwasanya revolusi Spanyol bisa membangkitkan poros baru perjuangan kelas (merusak dominasi Soviet sebagai “tanah air” perjuangan kelas) dan memicu kelas buruh di Soviet untuk melawan kaum birokrasi. Karena itulah di Uni Soviet kemudian diadakan Moscow Show Trial atau Pengadilan Rekayasa untuk menyingkirkan sisa-sisa aktivis yang terlibat dalam revolusi 1917 serta lawan-lawan politik Stalin dengan tuduhan kontra-revolusi, makar terhadap Uni Soviet,dan menjadi agen fasis. Bukharin, Zinoviev, Radek, dan sebagainya dibunuh melalui pengadilan rekayasa ini. Jadi bukan kebetulan kalau Pengadilan Rekayasa ini diadakan pada 1936 hingga 1938 waktu yang sama dengan Perang Sipil dan Revolusi Spanyol. Trotksy sendiri pun mati dibunuh Ramon Mercader, agen Stalin, pada tahun 1940. Hanya selang setahun sesudah berakhirnya Perang Sipil Spanyol”

 

Trotsky meninggal di RS setelah dikapak es oleh Ramon Mercader

Trotsky meninggal di RS setelah dikapak es oleh Ramon Mercader

“Kembali lagi pada pertanyaan, memenangkan perang dulu atau revolusi? Kaum stalinis disini menggunakan kebijakan Popular Front, yaitu berkerja sama dengan selruruh masyarakat baik pengusaha, rakyat miskin, dan seluruh elemen anti fasis untuk melawan fasisme. Artinya ini merupakan kebijakan kolaborasi kelas yang menggabungkan kelas tertindas dengan kelas penindas, asalkan “anti-fasis”. Ini berbeda jauh dengan taktik United Front atau Front Persatuan nya Lenin, yang mendasarkan diri pada aliansi buruh dan tani di bawah kepemimpinan kelas buruh, yang tidak hanya melibatkan elemen-elemen buruh revolusioner namun juga buruh-buruh reformis untuk melawan kelas penindas. Bukan malah bersekutu dengannya. Taktik Front Persatuan inilah yang sukses diterapkan kaum Bolshevik di Rusia dan berhasil menghancurkan upaya kudeta Jenderal Kornilov. Seandainya Lenin dan Kaum Bolshevik menempuh kebijakan Front Popular niscaya fasisme tidak akan lahir di Spanyol, Jerman, atau Italia, melainkan di Rusia.”

“Maka ketika kebijakan Front Popular diterapkan. Seluruh capaian revolusi dan gelombang revolusioner di Spanyol diberangus. Praktik ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Republik Spanyol secara politik tapi benar-benar diterapkan secara konkret di lapangan oleh Partai Komunis Spanyol yang menjadi corong birokrasi Soviet dan Komintern serta Stalinisme di Spanyol. Ketika kolektif-kolektif industrial dan komune-komune agraria dihancurkan maka kaum miskin dan rakyat pekerja sudah tidak punya alasan lagi untuk berperang. Satu-satunya alasan bagi mereka untuk berperang dan terlibat dalam revolusi adalah menghancurkan penindasan yang selama ini menjerat hidup mereka dan memiskinkan mereka serta kemudian merebut kekuasaan dari kelas penindas tersebut dan membuat dirinya berkuasa. Sayangnya kesalahan-kesalahan politik tidak hanya dilakukan oleh kaum reformis dan kaum Stalinis Spanyol. Kalangan-kalangan pro revolusi seperti CNT FAI (Confederación Nacional del Trabajo-Federación Anarquista Ibérica atau Konfederasi Buruh Nasional dan Federasi Anarkis Iberia) serta POUM (Partido Obrero de Unification Marxista atau Partai Buruh Persatuan Marxis), partai bekas Trotskyis tidak punya perspektif untuk merebut kekuasaan negara. Ini khususnya benar di pihak kaum Anarkis yang selalu menolak merebut kekuasaan negara dan menganggap negara sebagai biang penindasan. Ironisnya keduanya kemudian bermanuver 180 derajat dengan berbalik memasuki pemerintah Front Popular. Ini adalah kesalahan fatal: tidak merebut kekuasaan politik yang sudah tampak di depan mata berarti meninggalkan kekuasaan politik ke pihak mana saja yang mau menggunakannya.”

Kuburan Massal Kaum Republiken yang Dibunuh Para Pendukung Franco

Kuburan Massal Kaum Republiken yang Dibunuh Para Pendukung Franco

 

“Indonesia sebenarnya juga sempat hampir mengalami hal yang sama, seperti di Banten dan di peristiwa Tiga Daerah. Revolusi Nasional hampir menjelma menjadi revolusi sosial. Kalangan rakyat miskin yang sebelumnya belum melek politik, akhirnya mengalami kesadaran kelas dan mendatangi kalangan ambtenaar, para priayi yang sebelumnya menjadi pejabat hindia Belanda dan kemudian mengekor ke rezim kolonial fasis Jepang. Mereka menyerbu rumah-rumah priayi tersebut, mereka menemukan tumpukan beras serta beronggok-ongok batik padahal rakyat miskin kelaparan dan tidak punya pakaian layak serta terpaksa pakai karung goni. Para musuh rakyat ini kemudian digiring menuju lapangan diiringi tabuhan-tabuhan kaleng. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “didombreng” karena berbunyi dom breng dom breng. Para individu yang didombreng digiring, dibacakan dosa-dosa politik dan sosialnya, serta diadili. Terdapat juga pembagian tanah dan pembagian beras, makanan, dan pakaian. Tetapi sebelum proses revolusi sosial ini berkembang lebih lanjut, kalangan pemerintah khususnya melalui TNI yang terdiri dari beberapa elemen KNIL menumpasnya. Bahkan Widarta, salah satu komunis yang mengorganisir perlawanan bawah tanah anti fasis Jepang sekaligus tokoh Peristiwa Tiga Daerah, berakhir tragis dengan dieksekusi oleh Laskar Pesindo dan kelompok komunis Widarta.”

“Jadi benar apa yang dikatakan oleh filmnya, bahwasanya taktik kolaborasi kelas hanya akan membuahkan kegagalan. Mereka yang berpegang pada teori revolusi dua tahap dengan kolaborasi kelas selalu berusaha menggandeng kelas borjuasi nasional yang dicap “progresif”, “anti-fasis”, atau “anti fasis”, terus-menerus beralasan: kita harus menempuh tahap demokratis nasional dengan menunda sosialisme terlebih dahulu agar tidak membuat kaum borjuis nasional ketakutan dan berpihak kepada sayap kanan, kita harus bekerjasama dengan borjuis nasional karena industri kita masih terbelakang, kita jangan melakukan revolusi sosial dulu karena akan membuat seluruh negara borjuis ketakutan dan mengembargo atau bahkan menyerang kita, dan sebagainya-dan sebagainya. Dalih-dalih macam ini dijawab dengan baik oleh salah satu anggota laskar dalam film: ‘Dalam perjuangan telinga siapa yang ingin kau gapai? Buruh atau borjuis?’”

“Revolusi tidak bisa terisolasi dalam satu negara saja. Bilamana kelas buruh berhasil memenangkan revolusi sosial dan mendirikan suatu negara buruh, biasanya revolusi ini akan pecah terlebih dahulu di mata rantai kapitalisme yang paling lemah—yaitu negara-negara kapitalis terbelakang, maka agar negara buruh tersebut selamat, kelas buruh di negara-negara industri yang lebih maju juga harus bangkit dan memenangkan revolusinya. Sama dengan Rusia di tahun 1917 yang menderita isolasi karena revolusi Jerman 1919-1920 dan revolusi-revolusi di Eropa lainnya gagal, bilamana kelak meletus revolusi di Indonesia serta kelas proletar berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan negara buruh, maka negara buruh di Indonesia tidak akan bisa selamat kecuali kelas buruh di Singapura dan atau kelas buruh di Australia juga bangkit dan memenangkan revolusi.”

“Revolusi spanyol memberikan pelajaran keras mengenai kesalahan perspektif teori revolusi dua tahap, kolaborasi kelas, dan taktik front popular. Kelak kesalahan ini akan diulangi lagi dalam wujud pembantaian 65 di Indonesia yang tidak kalah mengerikan. Siapa yang tidak mau belajar dari sejarah akan dikutuk mengulangi sejarah. Sebagaimana yang dikatakan Rosa Luxemburg, hanya ada dua pilihan: sosialisme atau barbarisme.”

 

Syahriza Riza—Pemantik Diskusi Kedua (Anggota Forum Kajian Das Kapital (FORKAPITAL))

“Film tadi menunjukkan beragam kepentingan dari perang sipil ini juga menunjukkan beragam aliran yang ada. Kita flashback tentang teori kapitalisme. Terdapat perbedaan antara kaum Marxis Strukturalis dengan Marxis Otonomis. Menurut Marxis Struturalis negara mau tidak mau menjadi instrumen kaum kapitalis, sedangkan menurut kaum Marxis Otonomis seperti Negri dalam derajat-derajat tertentu negara bisa memiliki otoritasnya sendiri sebagaimana yang terjadi dengan Keynesianisme. Namun konsep negara demikian hancur pasca Great Depression atau Depresi Besar—krisis ekonomi yang melanda dunia khususnya AS saat itu. Marx sendiri menginstrumentaliskan negara yang kemudian juga harus dipakai oleh kelas buruh untuk kepentingannya setelah merebutnya dari kelas borjuis dan kapitalisme. Kegagalan kelas buruh merebut negara ini bisa memicu bangkitnya fasisme”

“Namun dari sini muncul pertanyaan: apakah fasisme bisa disamakan dengan kapitalisme? Bila kita melihat sejarah Orde Baru, secara pemerintahan ini memang fasisme walaupun tidak dinyatakan sebagai fasis secara terang-terangan. Namun bila kita melihat kapitalisme Orde Baru sebenarnya Orde Baru juga menjalankan kebijakan kapitalis proteksionis. Jadi disini muncul lagi pertanyaan bagaimana korelasi fasisme dengan kapitalisme?”

 

Alvin–Moderator

“Demikianlah paparan yang disampaikan dari dua pemantik diskusi kita malam ini untuk mengawali bedah film Land and Freedom serta diskusi terkait isu-isu di dalamnya. Tentu ini suatu wacana, isu, dan tema lain, di tengah derasnya wacana pemilihan Kapolri dan foto-foto Abraham Samad. Disini kita membicarakan isu perjuangan kelas dan Marxisme. Sesuatu yang cukup berani kalau dibandingkan periode sebelumnya, sekarang pun kita bisa guyon tentang Marx.”

“Beberapa waktu yang lalu, tepatnya dalam momentum Pilpres 2014 terdapat pertentangan antara perspektif perjuangan kelas dan kolaborasi kelas di Indonesia. Tentu kawan-kawan mengikuti polemik antara dua kutub ini sampai dengan tulisan Militan Indonesia bertajuk “Marxisme Mereka dan Marxisme Kami – Kritik Penutup terhadap Pemilu”, yang di saat bersamaan Indoprogres kehilangan salah satu penulisnya: Martin Suryajaya. Polemik antara kedua kubu saling berdebat mengenai bagaimana strategi di susun, dengan mengelaborasikan apa yang terjadi sekarang dengan apa yang terjadi dahulu.

 

Nano (Pendiri Front Mahasiswa Universitas Brawijaya (FMUB)).

“Ada beberapa hal yang menarik ketika dua key speaker mengutarakan pendapatnya terkait revolusi spanyol. Saya Cuma ingin lebih membahas apa yang ditanyakan oleh bung Syahriza.”

“Fasisme lahir dari rahim siapa dan akhirnya mengabddi pada kepentingan siapa?. Jika bicara jerman dan jepang fasisme adalah cara, hanya suatu model untuk mempertahankan kekuasaan, siapapun itu. Kalau dulu mungkin fasis-imperialis adalah satu kesatuan. Kalau sudah fasis pasti imperialis. Jerman langsung melakukan serangan kilat ke negara-negara terdekatnya, begitupun dengan Italia. Fasisme dalam militersime adalah cara untuk melanggengkan kekuasaan.”

“Terkait persoalam militerisme dan kekuasaan, kemarin saya diskusi dengan kawan-kawan Jurusan Hubungan Internasional. Mengapa di Timur Tengah perang tidak pernah selesai? Saya pikir ini kepentingan industri internasional, mungkin salah satunya industri persenjataan. Perang adalah salah satu wadah bagi kapitalisme industri senjata untuk memasok hasil produksinya, jika tidak ada perang maka akan terjadi krisis over produksi.”

“Revolusi dengan perang saya pikir tidak relevan jika di Indonesia. Yang paling penting adalah membangun kebudayaan kolektivitas kerja.”

 

Alvin:

“Jadi saya kira berhubungan dengan apa yang dibilang Bung Luki Hari, dalam sejarah pada tahun 1945 ada momen kemerdekaan. Kemudian sosialisasi tentang kesadaran kelas belum terbangun, saya kira akhir-akhir ini budaya yang Bung Nano maksud sudah berkembang. Namun belajar kritis saja tidak cukup, lihat saja fadli zon, bacaanya sudah banyak. Dalam hal ini belajar kritis saja tidak cukup, sehingga kita perlu melihat segalanya lebih dalam.”

“Pertanyaanya adalah, dalam perspektif kelas, kita yang berkumpul hari ini, yaitu mahasiswa, bukan dari kalangan pekerja atau buruh. Pergumulan kita sehari-hari selama ini hanya berkutat di seputar kuliah, tempat wi-fi an, dan pergaulan perkotaan. Akhirnya kesadaran kita dibentuk oleh kehidupan sosialisasi kita.”

“Pertanyaan ini untuk Bung Luki, mengapa kita harus menyandarkan diri pada partai buruh atau kelas buruh?
Luki Hari:

“Dalam kalangan aktivis, kalangan “mahasiswa” memang menjadi perdebatan mengenai dimanakah letak kelasnya. Ada yang bilang dia adalah proletar, kelas menengah, borjuasi kecil. Ada yang menyatakan mahasiswa itu proletar, karena setiap saat dituntut belajar, membuat tugas, mengerjakan ujian, dalam kehidupan kampus yang termekanisasi tidak ubahnya dengan kehidupan buruh di pabrik. Pandangan ini jelas tidak benar, karena mahasiswa tidak menjual tenaga kerjanya pada kampus dan tidak terlibat dalam kerja serta diupah kapitalis.”

“Pandangan lainnya menyatakan bahwa mahasiswa adalah kelas borjuis kecil. Karena mahasiswa tidak melakukan kerja produksi dan walaupun mahasiswa tidak menguasai alat produksi, ia menerima sedikit hasil produksi berupa uang saku dari orang tua. Tapi kalau itu saja alasannya, bukankah kondisi yang sama juga berlaku pada pelajar SMA, SMP, SD, siswa TK, bahkan balita? Apakah pelajar SMA, SMP, SD, siswa TK, dan balita bisa disebut borjuis kecil? Absurd saya kira.

“Jadi sebenarnya mahasiswa masuk kelas mana? Sebenarnya untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menyadari bahwa mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang ekonomi yang berbeda-beda. Ada mahasiswa yang bapaknya adalah sopir Truk Pick Up Box, ada mahasiswa yang ibunya adalah seorang guru SD, dan jangan lupa anak-anaknya Hatta Rajasa dan Jokowi juga berstatus mahasiswa. Dengan dua latar belakang kelas yang sedemikian berbeda bisakah mahasiswa dimasukkan dalam satu kelas? Tidak. Mahasiwa bukan berasal dari golongan suatu kaum yang homogen. Karenanya mahasiswa adalah kelompok non-kelas.”

“Berbeda dengan buruh, posisi buruh punya posisi yang jelas dalam sistem produksi. Mereka bekerja menghasilkan nilai lebih namun nilai lebihnya diambil kapitalis dan buruh hanya sedikit menikmati hasil produksinya. Buruh adalah front terdepan dalam perlawanan terhadap kapitalisme, karena mereka berhadap-hadapan langsung dengan kapitalisme. Karenanya buruh juga merupakan kelas yang paling berkepentingan untuk menghapuskan kapitalisme. Kepentingan buruh adalah mengambil alih alat-alat produksi, meletakkannya di bawah kontrol buruh secara demokratis, dan menggunakannya sebagai alat-alat pemenuhan kesejahteraan umum. Kepentingan buruh adalah sosialisme.”

“Beda dengan petani yang kepentingannya adalah tanah. Bukan secara langsung sosialisme.”

“Mahasiwa ketika lulus kuliah punya banyak pilihan posisi, bisa menjadi kelas atas atau kelas bawah. Ini sekali lagi menegaskan karakter mahasiswa sebetulnya masuk kategori non-kelas. Ia bisa menjadi manajer, CEO, dan masuk bagian menjadi kelas menengah atas, ataupun membuka perusahaan dan menjadi kapitalis. Tetapi yang perlu diingat adalah posisi manajer tidak sebanyak jumlah mahasiswa yang lulus, tidak ada posisi sebanyak itu di puncak piramida kapitalisme. Sebagian besar mahasiswa justru akan terlempar masuk ke kelas pekerja. Meskipun pekerja kantoran atau buruh kerah putih. Bukan pekerja pabrikan. Walaupun tidak mustahil juga terlempar ke sektor tersebut.”

“Sekali lagi, kenapa revolusi harus dipimpin kelas buruh? Karena buruh sebagai kelas punya kemampuan besar untuk menumbangkan kapitalisme. Buruh adalah penggerak tuas ekonomi, ketika buruh mogok maka ekonomi ikut berhenti. Kapitalisme berjalan dengan menginjak-injak kelas buruh, ketika kelas buruh bangkit, kapitalisme bisa digulingkan. Kekuatan dan posisi macam ini yang tidak dipunyai kelas dan kelompok sosial lainnya, termasuk mahasiswa.”

“Namun mahasiswa punya posisi yang unik. Kehidupannya di universitas, memungkinkannya bersentuhan dengan teori-teori untuk memahami kehidupan dan kenyataan yang ada di dunia. Terlepas dari banyaknya ilmu pengetahuan sosial yang menebarkan ilusi dan melegitimasi penindasan, pergulatan dengan pendidikan dan penalaran memberi peluang bagi mahasiswa untuk mengungkap penindasan dan menyebarkan gagasan-gagasan perjuangan. Selama ini semakin banyak mahasiswa yang terlempar masuk kelas pekerja. Ini persis sebagaimana yang diprediksikan Marx dan Engels sebagai proletarisasi rakyat. Teori-teori yang mereka pelajari selama berkuliah, termasuk teori-teori berorganisasi, tentu jadi sumbangan berharga ketika mereka lulus, baik saat mereka memilih memasuki kelas buruh sebagai full-timer ataukah mengorganisir serikat di sektor pekerjaannya masing-masing.”

“Sayangnya hingga kini masih ada kesalahpahaman akibat tidak dimengertinya teori-teori perjuangan kelas. Salah satunya salah kaprah tentang definisi kapitalisme, dimana banyak orang menganggap bahwa orang serakah, ya, kapitalis. Atau kekeliruan yang menganggap bahwa setiap orang yang makan di McD dan KFC adalah kapitalis. Bahkan anggapan bahwasanya semua yang represif atau rasis dianggap fasis. Ini keliru. Kapitalis adalah kelas yang menguasai alat-alat produksi dan fasisme adalah reaksi yang bangkit saat kelas borjuis tidak bisa lagi mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara lama dan cara-cara demokratis, serta dengan bersandarkan kelas lumpen proletar dan borjuis kecil, merebut kekuasaan untuk menghabisi gerakan buruh demi menyelamatkan kapitalisme.”

“Inilah yang kemudian muncul kembali dengan wujud Golden Dawn di Yunani yang bersikap anti-imigran dan kelompok fasis di Ukraina. Yang memang, kaum Imperialis dengan munafik, tidak mengecam itu, karena tidak membahayakan kepentingannya, meskipun kaum imperialis selalu berkoar-koar pro demokrasi serta kebebasan berpendapat dan sebagainya.”

 

Kaum Fasis di Ukrainia

Kaum Fasis di Ukrainia

Partai Golden Dawn di Yunani

Partai Golden Dawn di Yunani

Brandon:

“Pembahasan yang cukup menarik dari Bung Luki, sebetulnya mahasiswa ini berada di kelas mana? Kalau membahas masalah peran mahasiswa apa itu borjuasi atau proletar, apakah pandangan ini tepat?. Bagiku hapus saja pandangan ini, karena pandangan ini menimbulkan kesenjangan, dan dalam pergaulan mahasiswapun masih ada anggapan bahwa ada mahasiwa proletar ataupun borjuis. Sebetulnya penilaian semacam ini harus kita hapuskan, berada dimanakah kelasnya. Tapi anggap saja sama, bahwa kita harus menyatukan pandangan.”

Robbani:

“Saya lihat Indoprogress sejauh ini belum merespon kritik Militan Indonesia berjudul “Marxisme Mereka dan Marxisme Kami”. Namun saya sendiri berpandangan bahwa untuk sementara teori-teori meta-narasi atau grand theory seperti Marxisme, Leninisme, Trotskyisme, dan lain-lain itu perlu dikesampingkan dulu.”

Alvin:

“Wah, kaya Martin, nih.”

 

(partisipan diskusi tertawa)

 

Robbani:

“Haha. Bukan Bung. Saya berbeda dengan Martin dan Indoprogress. Kesalahan Indoprogress atau Martin dalam hal ini, adalah mereka hanya melakukan itu melalui perenungan saja. Sedangkan saya menganjurkan menemukannya kembali melalui praktik-praktik kita di lapangan dan bergulat langsung dengan kenyataan. Dengan advokasi ke sopir angkot yang terancam keberadaan bus sekolah gratis hasil kebijakan Wali Kota, misalnya.”

“Sebab menurut saya, realitas itu penuh dengan multi-politik. Tidak bisa serta-merta dicap bahwa ‘ini borjuis’, ‘itu proletar’, dan sebagainya.”

“Saya sepakat bahwa dalam melawan kapitalisme, kita harus bersandar ke kelas buruh, namun juga harus menggandeng elemen-elemen rakyat lainnya. Seperti tukang becak, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Meskipun dalam hal ini saya masih mengalami kebingungan dan baru bisa sepakat soal perlunya perlawanan. Belum sampai sepakat pada gagasan kediktatoran proletariat, yang dalam pandangan saya juga akan berbahaya karena memunculkan kediktatoran baru. Jadi saya sepakat hanya pada perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas.”

 

Rio Maretha—Anggota komunitas kritik film “Behind The Sins”:

“Justru menimbulkan kebingungan kalau klasifikasinya Cuma dua: penindas dan tertindas. Ini harus diperjelas. Saat ini kita perlu melawan kapitalisme, karena kapitalisme jelas merupakan sistem yang berlaku saat ini. Jadi tetap penting untuk memblejeti apa itu kapitalisme dan bagaimana melawannya.”

 

Robbani:

“Menurut saya setidaknya ada tiga kategori penindas. Pertama, penindas yang terpaksa. Kedua, penindas yang tidak tahu kalau dia menindas. Ketiga, penindas yang memang menindas. Kategori satu dan dua itu juga bisa berlaku bagi para aktivis yang tidak mampu mengartikulasikan dan mentransformasikan gagasannya sehingga mereka memaksakannya kepada orang lain. Karena itulah disini menurut saya relevan, kalau kita mengesampingkan dulu hal-hal yang termasuk meta-narasi dan menemukannya kembali—bukan dengan kerja pikiran semata seperti yang dilakukan Martin namun dengan kerja-kerja praktik untuk memahami realitas.”

 

Luki

“Jadi persoalan teori dan praktik tidak perlu di pertentangkan, karena keduanya berhubungan secara dialektis. Teori pun sebenarnya hasil kesimpulan dari praktek. Mengesampingkan teori jelas berbahaya. Ini tidak hanya terjadi pada teori dan praktek perjuangan kelas, ya, tapi juga berlaku pada teori pada umumnya.”

“Ambillah contoh teori gravitasi. Bila kita mengatakan, ‘Ayo abaikan semua teori mari kita praktikkan sendiri, benar atau tidak kita bisa jatuh kalau melompat dari menara Eiffel’ maka kita tidak hanya akan ditertawakan tapi juga bisa mati konyol. Jadi sekali lagi kita perlu melihat secara utuh antara teori dan praktik serta menerapkan keduanya. Sejarah membuktikan itu, bahwa ada banyak kesalahan yang di lakukan dalam sejarah karena tidak belajar dari teori yang hanya membawa akibat pada hancurnya gerakan-gerakan sosial.”

“Kita juga tidak boleh jatuh pada prasangka-prasangka kulit luar, yang melabeli bahwa siapa saja yang ke McD adalah borjuis, buruh tidak boleh naik motor Ninja, atau komunis harus berbaju compang-camping. Analisis kelas tidak sama dengan pelabelan seseorang berdasarkan konsumsinya. Kelas buruh di abad 19 tidak ada yang punya HP, jadi apakah bisa kita menyebut kelas buruh sekarang menjadi borjuis? Jelas tidak. Itu keliru. Itu bukan analisis kelas atau analisis Marxis.”

“Kekeliruan macam ini sering dan terus terjadi di Indonesia karena maklum saja selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, gerakan kelas buruh tidak hanya dihancurkan secara fisik namun teori-teori perjuangan kelasnya, khususnya Marxisme sebagai teorinya kelas buruh diberangus habis-habisan. Buku-buku Marx, Engels, dan Lenin dilarang, karya-karya yang membahas tentang Marxisme disita, bahkan tidak sedikit yang dibakar dan para penulis atau penerbitnya ditangkap dan dipenjara.”

“Pasca Soeharto turun, memang ada sedikit ruang demokrasi sehingga memungkinkan buku-buku Marx dan Engels diterbitkan dan dijual serta baru-baru ini karya-karya Leon Trotsky diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Militan Indonesia bekerjasama dengan Resist Book. Namun tetap saja jumlahnya sangat terbatas. Bagaimana dengan kajian atau forum studi atau kelompok membaca buku-buku Marxis tersebut? Lebih sedikit lagi.”

“Namun di tengah keterbatasan tersebut ada orang-orang yang sudah mengenal dan membaca karya-karya Marxis sedemkian lama, seperti Coen Hussain Pontoh, anggota Partai Rakyat Pekerja (PRP) yang kini berkuliah di New York, dan Martin Suryajaya, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya, justru melakukan pencolengan terhadap Marxisme, menyelewengkan prinsip-prinsip dasar komunisme seperti perjuangan kelas menjadi kolaborasi kelas, gerakan kelas buruh menjadi gerakan relawan, serta menyatakan bahwa Marxisme haruslah multi-tafsir (pandangan Coen) dan menyatakan bahwa untuk merevitalisasi Marxisme harus dimulai dengan melupakan Marxisme (pandangan Martin).”

Coen Husain Pontoh dan Martin Suryajaya

Coen Husain Pontoh dan Martin Suryajaya

 

“Sikap anti-teori dari orang-orang macam ini jelas berbahaya, karena menggiring kelas buruh dan pemuda ke jalan yang salah. Buruh-buruh dan para pemuda yang jujur dan memang berniat mempelajari Marxisme dengan polosnya dan antusias mengakses Indoprogress serta membaca tulisan-tulisan di dalamnya berhiaskan ilustrasi-ilustrasi keren (seperti Jokowi di bawah bendera merah berhiaskan bintang kuning) malah berakhir terjerumus mendukung kelas penindas. Martin dan Coen jelas tidak punya pertanggungjawaban terhadap hal ini. Di saat para penulis Indoprogress sudah mencampakkan dukungan kepada Jokowi secepat membalikkan tangan, masih banyak para pembaca dan pengikut Indoprogress di luar sana yang masih termakan teori kolaborasi kelas yang disemakikan Indoprogress dan masih mendukung Jokowi dengan masih menganggap bahwa orang-orang dibalik Jokowi adalah orang kiri, Jokowi mewakili Tri Sakti, Jokowi anti-Orde Baru, dan sebagainya. Bagaikan ngengat menghampiri api, mereka terus mendukung tirani, akibat para kolaborator kelas di sayap kiri.”

“Saya pun sepakat bahwa tidak semua hal harus atau bisa menggunakan perspektif kelas. Tidak ada yang namanya bermain catur ala proletar, pacaran sesuai Marxisme Leninisme, atau berenang gaya komunis. Marxisme adalah metode dan teori perjuangan kelas. Teori tidak ubahnya seperti pisau atau alat pemotong. Satu pisau, tidak peduli betapa tajamnya, tidak selalu bisa digunakan untuk semua sasaran. Kalau kita menggunakan pisau cutter untuk menebang pohon jelas pisaunya yang akan patah. Begitu juga kalau kita mau memotong kuku menggunakan pedang atau cakar adamantium Wolverine. Bisa jadi bukan cuma kuku yang terpotong tapi juga jari, tangan, dan lengan sekalian. Sekali lagi Marxisme adalah metode dan teori perjuangan kelas. Tidak hanya yang dirumuskan oleh Marx tapi juga diperkaya oleh para penulis lainnya seperti Friedrich Engels, Rosa Luxemburg, Vladimir Lenin, Leon Trotsky, dan sebagainya, yang bukan menulis dari khayalan kosong tapi dari persentuhan dengan praktik, realitas konkret, dan perjuangan kelas. Kita tidak bisa mengabaikan teori ataupun praktik, keduanya harus saling sinambung dan berkaitan.”

“Soal kelas, masih banyak ketidak-tahuan, Posisi proletariat dan borjuasi adalah kelas yang bertentangan, dan itulah yang menentukan kelasnya. Misalkan PKL, Angkot, mereka bukan elemen terhisap, melainkan tertindas. Berbeda dengan buruh, mereka tertindas dan terhisap. Ada juga elemen kelas borjuasi kecil, atau lumpen proletariat (kelas buruh yang membusuk), misalkan pengangguran dan elemen-elemen yang terbuang dari sistem kapitalisme. Elemen tersebut kemudian menjadi bahan bagi kelompok reaksioner fasis untuk melawan perlawanan buruh.”

“Memang dalam tahapan tertentu, dalam krisis ekonomi yang parah, kelas buruh akan didorong untuk merebut kekuasaan. Revolusi akan menuntut kita untuk menghadapinya, baik siap atau tidak siap. Revolusi bukan sesuatu yang dikarang-karang dalam pikiran dan direncanakan dalam buku agenda atau diary. Revolusi pecah sebagai akibat kontradiksi kapitalisme itu sendiri. Ia bisa meletus di tempat yang tidak terduga. Apakah revolusi di Tunisia bisa diprediksi oleh aktivis disana akan pecah tanggal berapa bulan berapa? Tidak. Apakah revolusi di Mesir menunggu kesiapan organisasi kelas buruh? Tidak.”

“Hal lainnya yang perlu kita jernihkan disini adalah soal penghapusan hak milik pribadi dan kediktatoran proletar. Apa yang dimaksud dengan perjuangan kelas untuk menghapus hak milik pribadi atau dalam bahasa Inggrisnya adalah abolition of private property bukan berarti bajumu disita, kolor dan celana dalam serta BHmu dinasionalisasi, atau bantal-gulingmu diambil alih. Itu semua bukan kepemilikan pribadi. Itu kepemilikan personal atau personal property. Private property sebenarnya lebih dekat dengan kepemilikan swasta, ingat private = swasta dan privatisasi = swastanisasi, yang mana kepemilikan pribadi atau kepemilikan privat adalah penguasaan terhadap alat-alat produksi entah itu pabrik, tambang, pembangkit energi, dan lainnya, dikuasai sebagai kepemilikan pribadi para pengusaha, konglomerat, atau kapitalis.”

“Revolusi buruh adalah mengambil alih kepemilikan pribadi tersebut dan membuatnya menjadi kepemilikan bersama atau common property sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Ketika revolusi menang, kelas-kelas diluar kelas buruh, yaitu elemen-elemen rakyat tertindas, tidakdihabisi namun diubah pelan-pelan. Petani yang memiliki lahan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ditawarkan untuk bergabung dalam pertanian kolektif dimana tanah akan digarap bersama, pekerjaan lebih mudah, dan hajat hidup mereka tetap terjamin. Sosialisme dengan kata lain sebenarnya mirip dengan koperasi skala raksasa.”

“Banyak intelektual borjuis yang menyatakan sosialisme itu kejam dan revolusi sosial hanya akan menimbulkan pertumpahan darah serta melemparkan dukungan pada kapitalisme. Namun mereka tidak memaparkan bahwasanya saat kelas buruh Rusia merebut kekuasaan dalam revolusi 1917 nyaris berjalan dengan sepenuhnya damai. Hanya ada beberapa orang mati. Periode yang berdarah adalah periode setelahnya dimana Negara Buruh yang baru berdiri digempur oleh tentara putih beserta 11 negara Imperialis. Perjuangan menabrak koridor perdamaian bukan karena kelas buruh dan kaum sosialis tidak cinta damai. Sebaliknya justru kaum kapitalis yang tidak rela kepentingannya, hak-hak istimewa, dan posisi mereka di puncak piramida kapitalisme, lah, yang tidak mau menghapuskan kekuasaan, penindasan, dan penghisapannya. Dimana-mana tidak ada penindas yang dengan sukarela menghancurkan penindasannya. Sama seperti drakula tidak akan mencabut gigi taringnya sendiri.”

“Terkait hal ini, bagaimanakah posisi kaum reformis dan para kolaborator kelas? Posisi mereka adalah mencoba mendamaikan kedua kepentingan kelas yang sebenarnya tak terdamaikan ini, mencoba mendampingkan kedua kelas yang sebenarnya tidak bisa terus hidup berdampingan ini. Kita lihat mogok nasional dari tahun ke tahun selalu menurun kekuatannya bahkan di tahun 2014 mogok nasional dibatalkan. Begitu juga taktik buruh go politik FSPMI yang menitipkan caleg-caleg buruh ke partai-partai borjuis hanya berhasil memenangkan dua dari puluhan caleg buruh yang dimajukan. Bahkan Nyumarno, caleg buruh yang maju dari PDIP pun, mendapat serangan dari sesama anggota PDIP dengan fitnahan praktik politik uang dan sebagainya.”

 

Azzam—anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Daerah (Kamda) Malang:

“Saya sepakat dengan kutipan Lenin yang pernah dimuat di Bumi Rakyat, Lenin mengatakan bahwa “tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner”. Namun saya sempat diskusi dengan Bung Oky ternyata Karl Marx sendiri di masa hidupnya pernah mengatakan ‘Saya bukan Marxis’ terhadap Marxisme yang diselewengkan.”

“Kita sepatutnya mencontoh soekarno yang kemudian memunculkan gagasan marhaenisme. Saya sepakat bahwa kita harus menciptakan gerakan dan artikulasi baru, dan kita dengan disiplin ilmu masing-masing harus menjadi bagian dari gerakan revolusioner.”

 

Oky:

“Sosialisme sebenarnya suatu bentuk kritik terhadap revolusi industri pada waktu itu. Bahwa kapitalisme tidak memanusiakan manusia. Tetapi pada kalangan ortodoks, terjadi penghambaan berlebihan pada marxisme sehingga membuat Marx menyatakan bahwa “setau saya, saya bukanlah seorang marxis”, dan ini menjadi himbauan bagi kalangan kiri untuk mengartikulasikan marxisme sesuai konteks dimana dia berada. Bukan menjadi dogma-dogma kosong yang terlepas dari konteks dimana dia berada.

 

Kandung:

“Berbicara sebuah sosialisme, berarti kita melihat bahwa setiap manusia memang makhluk sosial. Saya pernah berkerja di beberapa tempat, dari situ saya mengalami dan mampu mengartikan sebuah penindasan. Saya berkerja siang-malam dengan gaji yang tidak sesuai. Para pemilik modal dalam mencari nafkah itu memeras keringat para buruh. Misalkan mereka menggunakan kehormatan untuk menekan buruh-buruhnya, misalkan mereka mengolok-olok buruhnya. Menurut saya, para pemilik modal dan buruhnya memiliki kesenjangan dan posisi yang kurang pas. Misalkan marketing, marketing adalah ujung tombak dari perusahaan, tapi berbanding terbalik dengan apa yang diterima, misalkan gaji yang tidak sesuai. Ini adalah salah satu contoh penindasan pemilik modal terhadap kelas buruh.”

“Ketika kita berbicara tentang sosialisme, saya pikir kita perlu memperjuangkan sosialisme di Indonesia. Misalkan tentang indomaret dan pasar tradisional, ini adalah contoh dimana kapitalisme dan sosialisme bertentangan. Indomaret adalah representasi dari akumulasi kapital secara pribadi dan satunya adalah dimana pembagian kapital di bagi secara merata.

“Saya tertarik dengan Marxisme. Intinya secara umum antara sosialisme dan kapitalisme, saya memilih bagaimana kita sebagai manusia hidup bersama. Di Indonesia sendiri, kita melihat bahwa kelas tidak hanya kelas borjuasi dan proletariat. Tetapi ada beberapa kelas-kelas yang lain yang masih ada, misalkan pekerja kantoran yang sudah mapan, banyak pengamen, sopir angkot. Semuanya patut kita perjuangkan, berjuang agar tidak hanya mengetahui tentang bagaimana berjalannya ekonomi suatu negara tapi bagaimana agar hidup kita bisa sejahtera.

 

Nano:

“Saya ingin memberikan pandangan,bahwasanya di alam yang iklimnya hanya satu: kapitalisme, maka kapitalisme tidak hanya menjalankan penindasan di pabrik tapi juga di pupuk petani, dan juga di ranah pendidikan, termasuk universitas. Maka mau tidak mau, mahasiwa adalah sasaran tembak dari kapitalisme.”

“Banyak mahasiswa anak petani yang ketika kuliah tidak lagi berorientasi untuk melanjutkan pertaniannya. Padahal seorang petani untuk mengkuliahkan anaknya sampai menjual sawahnya.”

“Jadi jelas karena bukan hanya kelas buruh yang ditindas kapitalisme saya pikir kita harus mengubah slogan: ‘Kelas buruh sedunia bersatulah, menjadi rakyat sedunia bersatulah’”

“Saya tidak peduli mahasiwa itu anak siapa, tetapi pendidikan harus bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, mensejahterakan bangsa, tetapi kenyataanya tidak berkata demikian. Universitas tidak lagi member manfaat, dan dari itu mahasiswa harus bergabung dalam perjuangan. Kita harus menyatukan diri dengan tegas dan sadar bahwa kapitalisme telah mencengkram setiap lini. Dan mahasiswa bergabung untuk melawan kapitalisme secara keseluruhan.”

“Namun sayangnya mahasiswa seringkali lupa bahwa ranah-ranah internal kampusnya. Misalkan masalah SPP progresif atau persoalan terdekat dalam kampusnya. Padahal dalam melawan kapitalisme kita tidak boleh melupakan ranah terdekat kita.”

 

Luki Hari

“Terkait pernyataan Marx ‘Aku bukan seorang Marxis’, sebetulnya itu adalah kritik terhadap Paul Lafargue dan kelompok-kelompok yang merasa sebagai pewaris sah dari Marxisme. Kelompok ini menyatakan bahwa gerakan serikat buruh sudah terkooptasi dan tidak revolusioner maka perjuangan kelas harus meninggalkan perjuangan reformis dan berkonsentrasi pada perebutan kekuasaan secara revolusioner. Marx mengkritik hal ini, bahwasanya perjuangan menuntut reforma-reforma, seperti pengurangan jam kerja, kenaikan upah, kondisi kerja yang lebih layak, tetap merupakan arena perjuangan kelas yang perlu diurusi. Meninggalkan kelompok atau organisasi buruh reformis karena tidak revolusioner jelas menyerahkan ratusan ribu buruh untuk disesatkan kaum reformis ini.”

“Kritik Marx ini masih relevan. Kita tidak mungkin bersikap seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) selalu berseru-seru Khilafah sekarang juga dan cume berbeda dengan menyatakan ‘Sosialisme sekarang juga’. Kaum sosialis atau pejuang kelas revolusioner juga harus mendukung dan terlibat dalam perjuangan sehari-hari untuk meningkatkan hajat hidup rakyat pekerja yang senantiasa ditindas kapitalisme. Buruh tidak mungkin bangkit kesadaran kelasnya hanya dengan kita menjejalkan slogan ‘wujudkan Sosialisme’ atau ‘Hancurkan Kapitalisme’ di pintu-pintu pabrik. Tidak mungkin juga kalau belum pecah revolusi tiba-tiba kita bicara ‘Semua kekuasaan untuk Soviet’. Ini absurd dan bahkan ngawur. Lenin pun mengkritik penyakit kekiri-kirian ini dalam karyanya “Komunisme Sayap Kiri: Sebuah Penyakit Kekanak-Kanakan”.

“Sekali lagi terkait perjuangan kelas menumbangkan kapitalisme, saya pikir kita perlu memahami, dan pemahaman ini harus terus ditekankan: kelas buruh menggandeng seluruh elemen rakyat tertindas dan memimpin mereka dalam perjuangan menumbangkan kapitalisme serta membangun sosialisme. Posisi kepemimpinan ini hanya bisa dipegang kelas buruh dengan alasan-alasan yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Jadi apakah dalam perjuangan kelas, kelas buruh bisa menggandeng elemen rakyat tertindas lainnya? Ya, dan bahkan harus. Apakah kepemimpinan perjuangan kelas bisa dipegang kelas lainnya. Tidak. Karena hanya kelas buruh yang menduduki posisi paling vital dalam masyarakat kelas kapitalisme dan karenanya posisinya paling solid dan paling berkepentingan menghapuskan kapitalisme.”

“Kelas selain buruh atau elemen rakyat tertindas lainnya, harus realistis kita akui, tidak mungkin bersatu 100% melawan kapitalisme. Kaum tani merupakan kelompok sosial yang terbagi-bagi kondisi sosial dan kepentingannya berdasarkan kepemilikan tanah. Sementara mahasiswa, karena merupakan kelompok sosial non-kelas, juga akan terbagi-bagi dan tidak mungkin bersatu 100%. Selalu akan pecah dalam momentum-momentum menentukan. Periode 66 antara Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, mahasiswa pecah ke dalam kelompok GMNI dan CGMI pro Demokrasi Terpimpin dan SOMAL serta KAMI yang pro Orde Baru. Begitu juga di Venezuela, ada mahasiswa pro sosialisme dan mahasiswa pro oposisi ‘demokrasi’ (baca: borjuasi). Ini juga tampak dalam peristiwa Occupy La Trobe University di Australia dimana para mahasiswa anggota klub liberal, yang terafiliasi dengan Liberal National Party, partainya Tony Abbott, bukannya mendukung perjuangan mahasiswa dan gerakan occupy, melainkan mencatati nama para pimpinan aktivis mahasiswa dan melaporkannya pada rektorat untuk dikenai sanksi akademik bahkan sanksi DO.”

“Kesimpulannya, benar, perjuangan kelas melawan kapitalisme harus menggandeng seluruh elemen rakyat yang ditindas kapitalisme, namun hanya kelas buruh yang mampu memimpin perjuangan tersebut sampai akhir.”

Comments
2 Responses to “Persoalan Perjuangan Kelas dan Revolusi dalam Land and Freedom”
  1. Erni Yanti mengatakan:

    hallo… kalau langganan kayak gini, berapa biayanya ya? sya udah dikirimin tulisan di bumi rakyat selama beberapa kali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: