Watak Kritik Kapitalisme dalam Lego Movie

Watak Kritik Kapitalisme dalam Lego Movie

Watak Kritik Kapitalisme dalam Lego Movie

Ideologi politik dari plot Lego Movie, yang dirilis tahun kemarin, telah menjadi sumber perdebatan di banyak lingkaran media Amerika Serikat (AS). Lego Movie mendapatkan hujan cap sebagai film yang mempromosikan pesan “anti kapitalis” dan “anti bisnis”, sementara di sisi lain juga dipromosikan sebagai suatu kisah libertarian yang mengusung kebajikan-kebajikan individualisme melawan konformitas kolektivis.

Saat Lego Movie dirilis, stasiun-stasiun TV seperti Fox Business mendatangkan para bintang tamu yang mengklaim bahwa Lego Movie mengandung pesan dan tema anti-kapitalis yang jelas, bahkan mereka mengutuknya sebagai contoh tipikal dari “politik radikal Kiri” Hollywood. Mari kita kesampingkan klaim absurd ini dan mari kita tanyakan, benarkah klaim mereka mengenai Lego Movie?

Plot film ini berkisar di “Presiden Bisnis” yang merupakan semacam penguasa sebagaimana kisah-kisah Orwellian, yang menguasai seluruh dunia Lego di dalam film. Sedangkan karakter utama film ini adalah seorang buruh konstruksi yang terlalu senang menyesuaikan diri dengan masyarakat, yang disoroti dengan lagu pop di awal film berjudul “Everything is Awesome” atau “Semuanya Hebat” yang merupakan suatu parodi dari perayaan hidup sehari-hari. Kritik atas kepuasan inilah yang merupakan fokus plot film ini, dan melalui petualangan-petualangan yang ditempuh tokoh utama, ia pelan-pelan mengembangkan suatu kesadaran yang memanggilnya untuk mempertanyakan gagasan bahwasanya “semuanya hebat”. Ia kemudian menemukan ada suatu perlawanan bawah tanah melawan status quo Presiden Bisnis.

Presiden Bisnis

Seiring dengan berjalannya film dan tokoh utama semakin terlibat dengan perlawanan, ia kemudian menyadari kepuasan yang dideritanya sebenarnya adalah alienasi dan diidap bukan hanya oleh dirinya namun juga seluruh masyarakat. Meskipun “kedataran” keperibadiannya sering dijadikan guyonan rekan-rekan pejuang perlawanannya, yang berakhir menjadi figur-figur budaya dalam bentuk lego dalam film (misalkan, Batman yang merupakan salah satu pahlawan dalam film, meskipun ia digambarkan sebagai tokoh yang tidak pintar dan beruntung tidak seperti di kebanyakan film Batman).

Seiring dengan perjalanan para pahlawan ini, mereka kemudian membantu mengobarkan pemberontakan melawan Presiden Bisnis yang kemudian berakhir sebagai klimaks film. Apa watak pemberontakan tersebut? Apakah sebagaimana yang diklaim Fox Business, suatu fantasi sayap Kiri untuk menggulingkan kapitalisme (yang direpresentasikan oleh Presiden Bisnis yang serakah) ataukah sebagaimana diklaim Glenn Beck: suatu perayaan libertarian terhadap kreativitas individual? Satu pokok plot yang jelas adalah kesimpulan yang dihasilkan dari pemberontakan bukanlah berupa tatanan baru radikal atas dunia fantasi ini, namun lebih merupakan suatu rekonsiliasi antara Presiden Bisnis dengan perlawanan. Ia kemudian setuju membolehkan massa untuk mengekspresikan kreativitas mereka sendiri dan tidak mencoba “membekukan” siapapun. Ini bisa diinterpretasikan sebagai semacam penerapan American Dream atau Impian Amerika, “kami tidak akan menghalangimu dari mewujudkan potensi ekonomimu lagi.” Jelas hal ini tidak mempertanyakan peran Presiden Bisnis sebagai penguasa kekayaan dunia yang dikuasainya. Rekonsiliasi kosong ini meninggalkan interpretasi terbuka mengenai apa yang dimaksud para penulis naskah Lego Movie mengenai pemberontakan ini.

Meskipun terdapat dialog dalam film seperti “buruh konstruksi adalah pahlawan” (saat putera “meta-cerita” merespon ke ayahnya saat mendiskusikan pentingnya mainan) mungkin membuat orang merasa ini suatu film mengenai kesadaran kelas dan penindasan, kita perlu mengingat bahwasanya pada akhirnya ini bukanlah film tentang memberdayakan kaum tertindas agar membentuk ulang masyarakat, melainkan hanya sekedar untuk membiarkan “kreativitas individualnya” tak terkekang. Film ini memang mengkritik konsumerisme dan menyiratkan kritik atas watak serakah kapitalisme dalam skala luas, namun solusi yang ditawarkan sangat jauh dari “politik kiri radikal” yang dikoar-koarkan Fox Business. Lego Movie adalah film progresif tapi tidak revolusioner.
*ditulis oleh Left Film Review dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: