AS: Apa yang Ada di Balik Pembunuhan Chapel Hill?

APTOPIX Three Killed North Carolina

Apa yang Ada Di Balik Pembunuhan Chapel Hill

Dibayang-bayangi oleh permintaan Obama kepada Kongres untuk mengesahkan penggunaan kekuatan militer melawan ISIS, datanglah kabar mengerikan mengenai pembunuhan tiga mahasiswa Muslim muda di Chapel Hill, Carolina Utara, Amerika Serikat (AS). Sepanjang selasa malam hingga rabu pagi, tidak ada laporan sama sekali dari kantor-kantor berita utama mengenai pembunuhan ini—berita utama CNN berkutat pada perlu atau tidak film Spiderman di-reboot (diulang dari awal). Bahkan hingga malam hari, saluran-saluran berita berlagak seolah-olah semuanya damai-damai saja. Mereka yang ingin menemukan informasi mengenai apa yang terjadi tidak mendapati apapun di media massa umum padahal kicauan-kicauan (tweet), status-status, dan penandaan-penandaan (tags) muncul dalam jumlah ribuan di media sosial, menuntut pemberitaan media massa umum.

Laporan-laporan dan tanda pagar-tanda pagar (tagar atau hashtags) mencuat di media sosial segera setelah pembunuhan tersebut terjadi. Baru 17 jam kemudian media massa utama mulai melaporkan apa yang terjadi. Tiga mahasiswa University of North Carolina (UNC) atau Universitas Carolina Utara—Deah Shaddy Barakat (berusia 23 tahun); Yusor binti Muhammad Abu Salha (berusia 21 tahun); dan Razan binti Muhammad Abu Salha (berusia 19 tahun)—dibunuh di rumah mereka oleh Craig Stephen Hicks, yang sekarang sudah menyerahkan diri ke polisi. Ia ditahan atas pembunuhan tingkat pertama tiga kali berturut-turut. Laporan polisi menyatakan bahwa pembunuhan tersebut akibat “perselisihan antar tetangga terkait masalah parkir.” Kasusnya seakan selesai disini. Suatu kejahatan keji terjadi namun pelakunya menyerahkan diri dan keadilan akan ditegakkan. Presiden Obama menyatakan bahwa ini tindak kekerasan acak dan kemungkinan tidak akan menyerukan para pemimpin dunia untuk menyatakan duka cita dan belasungkawa terkait tragedi penghilangan nyawa-nyawa ini.

Bagaimanapun juga, banyak pos Facebook yang diposkan Hicks, mengekspresikan “ateisme militan”nya dan kebenciannya terhadap Islam, mulai disorot publik, dimana salah satu status yang diposkannya berbunyi: “Soal menghina, agamamu duluan yang mulai, bukan aku. Kalau agamamu tutup mulut dan tidak bermulut besar, maka aku juga akan melakukan hal yang sama.” Kini dengan sangat terlambat CNN mengajukan pertanyaan, “Apakah ini suatu persoalan terkait ruang parkir ataukah sesuatu yang lebih keji yang memicu penembakan terhadap tiga mahasiswa sampai tewas di suatu apartemen dekat Universitas Carolina Utara di kampus Chapel Hill?” Bagi Muhammad Abu Salha, bapak dari kedua korban, jawabannya jelas: “Ini bukan karena persoalan ruang parkir; ini adalah kejahatan yang berdasarkan kebencian. Orang ini sebelumnya telah menarget putriku dan suaminya berkali-kali sebelumnya, dan ia bicara kepada mereka dengan pistol di sabuknya. Mereka merasa sangat tidak nyaman dengannya, namun mereka tidak tahu kalau ia akan bertindak sejauh ini.”

Seluruh Eropa mengalami peningkatan serangan dan ancaman terhadap umat Muslim setelah terjadinya serangan terhadap staf editorial Charlie Hebdo. Pusat Hukum dan Kemiskinan Selatan baru-baru ini melaporkan bahwa di Arizona, suatu kelompok Neo-NAZI terlihat menyebarkan selebaran-selebaran anti-imigran yang menyertakan kartun-kartun dari sampul-sampul Charlie Hebdo. Kurang dari sebulan lalu, setelah mendapatkan banyak ancaman, Duke University atau Universitas Duke akhirnya membatalkan rencananya mengizinkan adzan sholat Jumat dari menara bel kapel kampus yang letaknya hanya satu mil dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan ini. Putera Pendeta Billy Graham adalah salah satu orang yang paling keras menentang rencana ini. Ia menyatakan, “Kami orang-orang Kristen tengah dimarjinalisasikan (oleh Islam).” Dalam konteks atmosfer kebencian inilah, pembunuhan Chapel Hill terjadi.

Meskipun gerakan protes #BlackLivesMatter (yang bisa diterjemahkan sebagai: nyawa orang kulit hitam juga ada harganya) telah menyusut dalam bulan-bulan terakhir ini, #MuslimLivesMatter (yang bisa diterjemahkan sebagai: nyawa orang muslim juga ada harganya) telah bangkit sebagai trending hashtag atau tagar populer di media-media sosial. Dalam protes-protes menentang brutalitas polisi dan menentang rasisme yang melanda negeri pada akhir tahun 2014, banyak orang yang secara instingtif sampai pada kesimpulan bahwa ini bukan sekedar persoalan rasisme terhadap kulit hitam, atau oknum-oknum polisi rasis, namun suatu persoalan mendasar terkait negara dan corak produksi ekonomi yang dibela polisi: kapitalisme.

Muslim Lives Matter 01

Kaum Marxis sejak lama menjelaskanbagaimana rasisme dan xenophobia (ketakutan, prasangka, sentimen negatif, dan kebencian terhadap orang asing) digunakan oleh kelas penguasa yang menindas untuk memecah-belah kelas buruh. Kelas kapitalis Amerika kemungkinan merupakan kelas penguasa yang paling cerdik dalam menggunakan taktik-taktik “pecah belah lalu kuasaI” baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saat berjuta-juta orang merasa ngeri melihat kejahatan-kejahatan keji yang dilakukan kelompok-kelompok reaksioner macam ISIS, Boko Haram, dan serangan fundamentalis di Paris, ini pada saat yang bersamaan dimanfaatkan oleh kaum bigot (orang yang penuh prasangka SARA dan sentimen negatif) sayap kanan macam Marine Le Pen di Prancis. Peristiwa-peristiwa ini telah digunakan sebagai pembenaran terhadap racun-racun anti-imigran dan anti Islam mereka, yang menurut analisis final kita, hanyalah kedok untuk melanjutkan dan meningkatkan penghisapan serta penindasan terhadap seluruh kelas buruh. Bahkan orang-orang yang mengaku sebagai ateis “progresif” macam Christopher Hitchens dan Richard Dawkins secara objektif telah membantu kelas penguasa dalam mendorong pecah belah kelas buruh, akibat pendekatan satu sisi mereka terkait persoalan agama.

Sementara banyak individu menuding berbagai kelompok fundamentalis Islam di seluruh dunia sebagai “bukti” dari “kejahatan-kejahatan Islam”, apa yang ada di balik kelompok-kelompok ini bukanlah agama Islam, namun krisis kapitalisme dan manuver berbagai kekuatan imperialis yang mendorong, mendanai, mempersenjatai, dan melatih mereka. Kita tidak pernah boleh melupakan bahwa imperialisme dan fundamentalisme adalah dua sisi dari uang logam reaksioner yang sama.

Pernyataan bahwa orang yang mengaku sebagai “ateis-militan” ini menembak mati tiga mahasiswa Muslim di kepala hanya karena persoalan parkir adalah pernyatan yang sangat meragukan. Karena bagaimanapun juga, dengan adanya berbagai tindak kekerasan massal terkini dan membusuknya hubungan antar manusia pada umumnya, yang merupakan cerminan masyarakat yang sakit, merupakan hal-hal yang juga harus dipertimbangkan.

Semakin parahnya krisis kapitalisme akan semakin memperuncing polarisasi masyarakat. Di satu sisi, kita akan menyaksikan individu-individu dan organisasi-organisasi yang dimanipulasi oleh kaum imperialis, rasis, anti-imigran, dan ideologi-ideologi diskriminatif lain yang berperang membela sistem kapitalisme yang tengah sekarat ini. Sedangkan di sisi lain, kita akan menyaksikan mayoritas luas bergerak secara naluriah ke arah kesatuan perjuangan kelas. Melalui perjuangan-perjuangan inilah, dimana berjuta-juta buruh dari semua ras, etnis, dan latar belakang agama yang berbeda-beda, akan menemukan kekuatan kolektif raksasa mereka sebagai suatu kelas dan mengakhiri sistem kapitalis yang rasis, sekali dan untuk selamanya.

Lukamu, luka kita semua!

Kelas Buruh sedunia, bersatulah!

Muslim Lives Matter

*ditulis oleh Matthew Porcelli dan Mark Rahman dengan judul asli “United States: What’s Behind the UNC Killings?” sebagaimana dipublikasikan marxist.com. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: