Ada Apa dengan Ada Apa dengan Cinta?

ADA APA DENGAN ADA APA DENGAN CINTA

Saya merasa Ada Apa Dengan Cinta (AADC) kehilangan ‘ruh’nya di versi terbarunya ini. Jujur saja, pertama kali saya menemukan link AADC ini, saya memiliki ekspektasi khusus. Pertemuan dua tokoh favorit saya saat mereka menginjak kedewasaan, yang dalam bayangan saya di-isi dengan dialog-dialog cerdas yang penuh subtext. Karena memang kesan yang paling saya tangkap dari dua karakter tersebut adalah kecerdasan mereka. Sesuatu yang tidak saya rasakan ketika saya menonton drama pendek ini.

Mengapa AADC begitu populer di banyak kalangan? Selain karena AADC adalah salah satu pionir kebangkitan film komersial Indonesia, AADC juga bukanlah karya komersial berdimensi tunggal. Di tahun 2002, AADC menggunakan puisi untuk memperlihatkan dinamika dan perkembangan karakter (terutama Rangga). Sehingga puisi memang menjadi bagian integral dari kesatuan naratif film tersebut. Lucunya hal tersebut justru menjadi nilai tambahan di dalam plot standar komersil (boy-meets-girl). Kuatnya pengembangan karakter membuat film ini hampir tidak bisa dibayangkan tanpa karakter Rangga dan Cinta. Efeknya pun luar biasa. Salah satu impact yang paling terasa adalah penjualan buku “AKU” karya Sjumandjaja yang meningkat pesat pasca penyiaran AADC di Bioskop. Di titik ini, AADC sukses mengenalkan Chairil Anwar pada penontonnya yang didominasi oleh generasi muda tahun 90-an yang menginjak usia remaja di awal dekade 2000-an.

Tapi bagaimana dengan versi terbarunya? Versi yang dipersembahkan oleh jejaring sosial asal Jepang ini?

Tentu saja membandingkan keduanya tidaklah fair. Pertama, durasi keduanya berbeda, sehingga tidak mungkin menawarkan kompleksitas naratif yang sama. Dan kedua, mediumnya berbeda, yang jelas memiliki pertimbangan-pertimbangan segi kreatif dan produksi yang berbeda pula.

Sepintas bisa dilihat kalau versi terbaru lebih mewah dalam segi sinematografi. Minimalis. Sedap dipandang. Penuh dengan medium shot statis yang memperlihatkan setengah badan sang tokoh utama (baik Rangga maupun Cinta). Sejalan dengan hal tersebut, dekorasi interior ruangan yang ditinggali oleh Rangga juga tampak clean-cut dan minimalis. Dalam segi penampilan, Rangga dicitrakan sudah mengalami proses sublimasi psikologis. Tak ada lagi potongan gondrong ikal ‘rebel’ nya, sekarang potongannya rapi, simpel, modern, efisien. Tak ada kontras yang signifikan antara Rangga dengan Flat apartemen yang ditinggalinya. Rangga kini adalah manusia global yang dituntut untuk terus melakukan perjalanan bisnis transnasional (walaupun belum jelas apa pekerjaannya). Begitu pula dengan Cinta. Cinta digambarkan sebagai perempuan modern ibu kota. seorang wanita karir yang (tampaknya) bekerja di bidang kreatif. Di sela-sela waktu senggangnya, ia berkumpul dengan kawan satu geng-nya di sebuah kafe yang (lagi-lagi) minimalis, nyaman, dan modern. Di salah satu adegan, sempat diperlihatkan tempat tinggal Cinta yang sebangun dengan apartemen Rangga. Hampir tidak ada perbedaan signifikan antara New York dengan Jakarta. Perubahan karakter disini lebih diperlihatkan secara visual daripada naratif. Lebih banyak adegan diam, solilokui, dialog-dialog kasual yang minim. Di selanya diperdengarkan musik aransemen ulang lagu tema AADC untuk membangkitkan nostalgia. Baru kemudian di bagian ending ada selipan narasi puitik yang sengaja dibuat paralel dengan ending versi orisinal AADC.

Cinta dan Rangga

Jadi, unsur dominan dari versi terbaru ini ada tiga: sinematografi, musik, dan narasi puitik. Bukankah 3 hal ini juga menjadi unsur yang dominan di versi terdahulu?

Pertama kita sorot dulu dua unsur yang pertama: sinematografi dan musik. Dua unsur itu dipilih karena perbedaan durasi dan medium. Film ini berdurasi 10 menit, dan disiarkan di Youtube. Tentu saja dalam batasan itu, sulit sekali membuat penceritaan yang kompleks. Akhirnya, tim kreatif mengambil jalan tengah antara film dengan iklan. Iklan dituntut untuk dapat menangkap perhatian penonton dari frame pertama agar ‘pesan’ yang mereka kehendaki dapat masuk ke dalam aspek kognisi konsumen. Ranah itu mudah diakses ketika unsur visual (sinematografi) dikawinkan dengan unsur audio (musik). Ketika dua unsur ini menjadi yang dominan dalam film berdurasi pendek menurut saya tidak ada masalah. Sah-sah saja.

Lalu bagaimana dengan karakternya? Karakter dan plot adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena karakter ‘hidup’ dalam plot. Karakter yang tidak ditempatkan pada plot yang tepat akan terasa out of place. Terasa dipaksakan. Hal ini tentu saja mengganggu penikmat, karena karakter adalah jendela bagi penikmat untuk memahami plot dalam sebuah konteks. Intensi sebuah film (selain medium gagasan, dan ideologi) paling tidak untuk menuturkan cerita lewat plot yang terstruktur.

Tapi bagaimana dengan film yang juga mengiklankan produk sebagai intensi utamanya?

Memang harus saya akui masuknya iklan ke dalam film komersil bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Permasalahannya bukan pada penempatan produk-nya, namun di sisi integritas naratif film itu sendiri. Pesan yang ingin dikesankan adalah ‘reconnect’, dengan LINE sebagai mediumnya, dan fitur LINE sebagai elemen yang membantunya. Sehingga yang saya tangkap dari film ini adalah fitur sebuah Jejaring Sosial yang di bingkai dalam franchise AADC. Sehingga yang terjadi adalah elemen naratif disusun berdasarkan penempatan produk. Artinya, Plot, adegan, pemilihan setting dipilih berdasarkan relevansinya dengan produk yang di-iklankan, bukan relevansinya terhadap karakter. Efeknya adalah lenyapnya karakter Rangga dan Cinta dalam film tersebut. Narasi puitik yang ada di ending pun terasa out of place, dan out of character. Seperti hanya ada agar versi terbaru terkesan memiliki nafas yang sama dengan versi orisinal.

Akhirnya saya merasakan juga AADC tanpa Rangga dan Cinta. AADC yang kehilangan integritas naratif. Hampa. Hanya menawarkan nostalgia.

Sepertinya ini awal dari rangkaian penempatan produk yang memanfaatkan karya sukses semacam AADC. Mungkin setelah ini akan ada Si Doel yang dipersembahkan oleh Chevron.

*ditulis oleh Rio Maretha, anggota komunitas kritik film “Behind The Sins”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: