Mahasiswa Belanda Menduduki Kampus-Kampus di Amsterdam – Awal Gelombang Baru Perjuangan Mahasiswa

Mahasiswa Amsterdam menduduki kampus

Aksi Humaniora

Perjuangan mahasiswa telah berkobar di Amsterdam. Dalam hitungan beberapa minggu, dua gedung universitas telah diduduki. Saat artikel ini ditulis, gedung badan eksekutif Universitas Amsterdam (UvA), Maagdenhuis yang terkenal, kini tengah diduduki para mahasiswa. Mereka berjuang melawan manajemen “top down” “yang berorientasi-efesiensi” yang lebih mementingkan laba dan keuntungan daripada kepentingan para mahasiswa dan dosen.

Gerakan ini berdasarkan manifesto bernama New University atau Universitas Baru. Manifesto ini menuntut diakhirinya model manajemen universitas “top-down” atau dari atas ke bawah yang ada sekarang, dimana para anggota badan-badan eksekutif ditunjuk oleh badan-badan supervisor, yang terdiri dari orang-orang yang dtunjuk Kementerian Pendidikan. Banyak anggota badan-badan eksekutif pada kenyataannya tidak punya hubungan dengan sivitas akademika dan datang dari jabatan-jabatan manajemen bisnis dimana mereka berpikir dalam kerangka “efisiensi” atau dengan kata lain: “bagaimana memaksimalkan laba atau keuntungan”. New University ingin mengganti model ini dengan suatu model demokratis, dimana para mahasiswa dan profesor, lah, yang memilih badan universitas.

Manifesto tersebut juga menuntut diakhirinya model pendanaan saat ini, diakhirinya sistem kerja kontrak terhadap staf universitas (sekitar setengah dari staf universitas dipekerjakan dengan sistem kerja kontrak “fleksibel”). Pada praktiknya model efisiensi berbasiskan alokasi ini berarti bahwa hanya program studi-program studi yang menguntungkan “pasar” akan mendapatkan pendanaan dari universitas. Akibatnya bisa dilihat dalam perencanaan UvA terkini, yang mana fakultas humaniora akan dipotong dan beberapa program studi bahasa “yang tidak menguntungkan” akan dibubarkan. Sedangkan di saat yang bersamaan, fakultas-fakultas lain dikucuri begitu banyak uang sampai tidak tahu akan diapakan dan akhirnya hanya dihabiskan untuk pemasaran demi bersaing dengan universitas-universitas lain. Efisiensi yang akhirnya tidak efisien. Akhir 2014 perkembangan-perkembangan ini memicu munculnya gerakan Humanities Rally atau Aksi Humaniora yang memobilisasi para mahasiswa dan dosen humaniora dalam demonstrasi-demonstrasi dan majelis-majelis umum.

Permasalahan ini tidak terbatas di UvA. Universitas Erasmus Rotterdam juga memiliki beberapa rencana untuk menutup fakultas filsafat. Kalau rencana ini berlanjut maka universitas yang namanya diambil dari filsuf humanis Erasmus malah akan kehilangan fakultas filsafat.

Okupasi Bungehuis

Okupasi atau pendudukan Bungehuis pada 13 Februari 2015 merupakan langkah maju yang penting. Terdapat beberapa pendudukan singkat terhadap gedung-gedung universitas lainnya pula di tahun-tahun terakhir ini, namun pendudukan kali inilah yang pertama mengusung suatu manifesto yang mengekspresikan tuntutan-tuntutan para mahasiswa secara jelas. Pendudukan ini sangatlah populer di antara para mahasiswa dan dalam hitungan hanya beberapa hari lebih dari 100 profesor menyatakan dukungannya. Gedung yang diduduki kemudian digunakan untuk menyelenggarakan semua jenis rapat dan kelompok-kelompok diskusi dengan para mahasiswa dan profesor, dimana keputusan-keputusan diambil secara demokratis melalui majelis-majelis umum.

Bukan kebetulan kalau pendudukan ini terjadi di Bungehuis. Pihak manajemen disana berencana menjual gedung universitas tua ini ke perusahaan real estate, Aedes Real Estate, yang ingin mengubahnya menjadi “Rumah Soho” suatu klub dan hotel yang sangat mahal untuk menarik kaum konglomerat kaya-raya. Amsterdam semakin lama semakin mahal tahun-tahun terakhir ini, terutama di bagian pusat kota, dan manajemen universitasnya juga berperan mendorong tren ke arah spekulasi real estate ini.

Reaksi badan eksekutif hanyalah memperparah situasi. Mereka menyatakan hanya bersedia “berdialog” dengan syarat kalau para mahasiswa meninggalkan gedung sesegera mungkin. Bahkan mereka mengancam para aktivis yang terlibat aksi pendudukan dengan ancaman denda € 100.000 per hari atau setara dengan Rp 1.526.640.609,- per hari! Mereka berdalih bahwa para mahasiswa menghalangi staf universitas bekerja. Kenyataannya, para peneliti bisa sampai ke ruangan-ruangannya tanpa masalah sama sekali; faktanya banyak diantara mereka justru mendukung tuntutan-tuntutan mahasiswa. Saat saluran siaran setempat AT5 bersedia memberikan platform dialog antara badan eksekutif dan para mahasiswa, badan eksekutif justru menolak secara sepihak. Mereka lebih memilih ke pengadilan dan pada 19 Februari hakim memutuskan bahwasanya para aktivis pendudukan harus pergi atau akan didenda € 1.000. Denda hari-hari pertama dibayar melalui sumbangan-sumbangan dari berbagai organisasi yang bersimpati dengan perjuangan ini.

Hal ini malah menimbulkan kebencian badan eksekutif, khususnya Louise Gunning, ketua badan eksekutif, yang telah menjadi simbol arogansi, neoliberalisme, dan otoritarianisme yang mengelola universitas. Kebetulan, perempuan ini juga merupakan anggota badan perusahaan Bandara Schiphol Amsterdam, yang mana taktik-taktik manajemen dan sistem kerja kontrak fleksibel juga diterapkan untuk mengeksploitasi para pekerja disana. Arogansi Gunning dan badan eksekutif juga membuat banyak komentator borjuis mengkritik penanganan konflik tersebut karena semakin lama semakin banyak simpati yang tumbuh dan diberikan pada aksi pendudukan. Dukungan juga diberikan oleh Partai Sosialis, serikat-serikat buruh yang mewakili staf dari berbagai universitas, serikat pendidikan umum dan federasi serikat utama FNV, termasuk banyak kelompok mahasiswa dan profesor. Solidaritas juga datang dari para pekerja bandara Schiphol, yang telah merasakan metode-metode Gunning. Solidaritas ini bahkan merentang secara internasional, termasuk dari profesor kiri seperti Noam Chomsky dan Judith Butler yang menyatakan dukungannya, ditambah juga dengan organisasi-organisasi mahasiswa dari negara-negara lain, bahkan termasuk serikat pekerja metal Turki: Birlesik Metal-Is.

Walikota Amsterdam telah mencoba memediasi, namun seiring gagalnya perundingan-perundingan dan gedung dijadwalkan akan digusur, pada 24 Februari massa di luar gedung bersolidaritas dan memblokir jalan untuk menghambat pengerahan polisi. Total 47 mahasiswa ditangkap dan dimasukkan dalam mobil-mobil polisi namun dielu-elukan massa sebagai para pahlawan. Bungehuis telah digusur namun gerakan masih jauh dari selesai.

Okupasi Maagdenhuis

Penggusuran Bungehuis secara administratif tidak “menyelesaikan” persoalan bagi badan eksekutif UvA. Sebaliknya, hal itu malah memperkuat citra badan eksekutif yang otoriter dan kolot, yang tidak peduli pada para mahasiswanya. Hari berikutnya, diserukan demonstrasi solidaritas, dimana sekitar seribu mahasiswa dan para simpatisan datang ikut serta. Demonstrasi di pusat Amsterdam ini berakhir di depan Maagdenhuis, gedung dimana terletak kantor badan eksekutif UvA. Ini merupakan tempat bersejarah. Tahun 1969 pernah diduduki selama empat hari oleh gerakan mahasiswa, yang pada kenyataannya juga menuntut demokratisasi dan partisipasi para mahasiswa di badan eksekutif. Sejak saat itu gedung ini telah berkali-kali diduduki dalam waktu singkat, dalam memprotes melawan kebijakan-kebijakan badan eksekutif atau pemerintah nasional.

Barikade Mahasiswa

Begitu demonstrasi mencapai Maagdenhuis, dan tak ada seorangpun dari badan eksekutif yang bersedia menunjukkan batang hidungnya, maka semakin banyak seruan dari massa untuk menduduki Maagdenhuis. Sentimen yang berkembang sangat mendukung aksi ini. Setiap demonstrasi mahasiswa yang sampai di depan gedung atau melewati gedung ini, biasanya terdapat sekelompok kecil kaum radikal yang mencoba membujuk para demonstran lainnya untuk menduduki gedung. Biasanya upaya-upaya ini gagal, karena kelompok-kelompok kecil ini tidak menyambungkan diri dengan setimen massa. Bagaimanapun juga kali ini sentimen yang berkembang berbeda. Bahkan pada waktu-waktu tertentu orang-orang mulai menaiki anak-anak tangga gedung dan meneriakkan yel-yel yang disambut oleh massa. Para aparat keamanan berusaha menghalangi hal ini namun mereka terpaksa membiarkan semakin banyak orang menaiki tangga. Setelah beberapa waktu massa kemudian memaksa masuk dan para penjaga tidak berdaya. Saluran penyiar setempat AT5 juga masuk ke dalam dan majelis umum pertama dari aksi pendudukan mahasiswa disiarkan secara langsung dan bisa diikuti secara online.

Maagdenhuis kemudian segera didatangi oleh Louise Gunning. Ia menyampaikan pesan bahwa dimungkinkan ada dialog namun dengan syarat para mahasiswa meninggalkan “gedungnya” sesegera mungkin. Taktik ini sebelumnya pernah digunaan di Bungehuis dan karenanya langsung ditolak. Tentu saja para mahasiswa bersedia bernegosiasi tapi harus di gedung Maagdenhuis itu sendiri. Selain itu Gunning juga mengatakan bahwa para mahasiswa harusnya mendatangi Kementerian Pendidikan di Hague, karena merekalah yang sebenarnya ada di balik permasalahan ini. Meskipun benar bahwa pemerintah nasional, lah, yang bertanggungjawab atas kerangka kerja yang melahirkan semua permasalahan ini namun badan eksekutif UvA tidak bisa cuci tangan karena mereka yang bertanggungjawab atas kebijakan-kebijakan paling buruk. Saat seorang mahasiswa bertanya pada Gunning apakah mereka bisa mengandalkan dukungan darinya saat mereka ke Hague, Gunning malah menolak menjawab pertanyaan tersebut. Dari sini jelas bahwa Gunning hanya mempermainkan para mahasiswa. Setelah rencana-rencana Gunning ditolak para mahasiswa, badan eksekutif UvA kembali menuntut para mahasiswa.

Sementara itu Maagdenhuis yang diokupasi kemudian juga dijalankan seperti Bungehuis di masa okupasi dulu. Digelarlah berbagai diskusi, rapat, pemutaran film, dan diskusi dengan mengundang tokoh-tokoh publik yang bersimpati dengan para mahasiswa. Freek de Honge, seorang komedian yang juga hadir pada okupasi tahun 1969, kembali mengunjungi gedung tersebut. Selain itu juga ada Emile Roemer, pemimpin Partai Sosialis di parlemen. Ini jelas membuyarkan fitnah-fitnah yang mencap para mahasiswa sebagai sekelompok kecil radikal keras yang memaksakan kehendak mereka pada mayoritas. Faktanya justru sebaliknya, okupasi atau aksi pendudukan ini berjalan damai. Misalnya, di majelis umum diputuskan bahwasanya para petugas keamanan tetap diizinkan berada di gedung, mereka bebas meminta sumbangan makan dan menimum, bahkan mereka diperbolehkan berpatisipasi di majelis kalau mau.

Dalam perkembangan terakhir, eksekutif universitas telah menawarkan konsesi pada para mahasiswa berupa satu perwakilan mahasiswa di badan eksekutif. Tawaran ini langsung ditolak dengan tepat, karena dengan demikian perwakilan hanya punya kekuatan keputusan minimal sebagai suatu minoritas dan eksekutif akan mencoba membungkusnya seakan-akan sebagai “rekan” dalam proses pengambilan keputusan.

Alih-alih menyerah, mereka mengambil langkah tepat dengan memperluas perjuangan ini di tingkat nasional. Minggu 1 Maret 2015, Maagdenhuis dikunjungi oleh para perwakilan dan kelompok-kelompok dari universitas-universitas lain untuk menggelar majelis nasional tentang memperluas gerakan ini ke seluruh negeri. Meskipun belum ada kepastian bagaimana okupasi atau pendudukan gedung akan berjalan namun ini merupakan langkah yang benar.

Perjuangan baru dimulai

Pendudukan di Amsterdam telah menyorot permasalahan para mahasiswa. Kini waktunya mengangkat perjuangan ini ke tingkat nasional. Inisiatif yang serupa dengan Humanities Rally telah dimulai di Rotterdam, dan cabang-cabang gerakan New University telah didirikan di VU University (Universitas lain yang berada di Amesterdam) dan universitas Groningen (RUG). Konferensi 1 Maret juga merupakan suatu langkah besar karena dihadiri oleh para mahasiswa dari Groningen, Nijmegen, Leiden, dan Maastricht. Para profesor dari dua universitas di Amesterdam akan bertemu dengan para perwakilan serikat buruh Kamis ini, untuk membahas aksi-aksi mogok melawan sistem kerja kontrak fleksibel.

New University

Dari sini jelas perjuangan baru dimulai. Kesadaran dari lapisan penting mahasiswa dan profesor telah mengalami lompatan maju. Tuntutan-tuntutan gerakan berada di tingkat tinggi. Orientasi yang mengarah pada aliansi dengan gerakan buruh merupakan orientasi sangat positif. Faktanya perjuangan-perjuangan mahasiswa ini dapat menimbulkan pengaruh elektrifikasi kepada gerakan buruh yang lebih luas itu sendiri, karena kepemimpinan serikat buruh bulan-bulan lalu telah menyatakan dengan hati-hati bahwa perlu menggunakan pendekatan yang semakin konfrontasional terhadap para majikan dan pemerintah setelah bertahun-tahun menahan gerakan agar berdasarkan “kesepakatan sosial” dengan para majikan.

Serikat-serikat mahasiswa resmi (badan resmi struktural yang menaungi mahasiswa di kampus-kampus Belanda) telah memainkan peran memalukan dengan mengekor gerakan padahal dalam tahun-tahun sebelumnya, serikat mahasiswa nasional LSVB memainkan peran sebagai rekan konsultatif pemerintah dan partai-partai politik, serta selalu berupaya mencari sekutu di anggota-anggota parlemen, anggota-anggota senat, dan partai-partai politik tertentu demi mendapatkan kesepakatan pintu tertutup atau proposal alih-alih memobilisasi para mahasiswa dan beraliansi dengan gerakan buruh. Tahun 2011 saat para mahasiswa bergerak melawan rencana yang akan menjatuhkan sanksi € 3.000 (setara dengan Rp 45.799.218,-) kepada para mahasiswa yang kuliah “terlalu lama”, serikat mahasiswa menabur ilusi bahwa partai liberal D66 adalah sekutu mereka, padahal partai itu hanya ingin menolak rencana itu demi menerapkan pemotongan-pemotongan lain terhadap pendanaan mahasiswa. Saat rencana pemotongan anggaran ini akhirnya dihapuskan sebagai akibat kesepakatan antara pemerintah dengan partai-partai oposisi kiri tengah, sebenarnya ini hanya diterapkan agar digantikan dengan “reforma” berbeda dimana hibah mahasiswa akan digantikan dengan hutang atau pinjaman. D66, Kiri Hijau, dan Partai Buruh yang dicap “sekutu-sekutu mahasiswa” semua menyepakati hal ini. LSVB baru memobilisasi mahasiswa pada akhir 2014 setelah proposal disahkan di parlemen. Pengerahan mahasiswa terjadi melalui seruan aksi dari atas ke bawah di menit-menit terakhir tanpa mobilisasi dari bawah. Alih-alih menaikkan tingkatan para mahasiswa justru para mahasiswa yang harus mencari tahu sendiri bagaimana rasanya dikhianati “sekutu-sekutu”nya. Mobilisasi dari bawah ke atas dari Aksi Humaniora dan New University ini merupakan langkah maju yang besar dibandingkan demonstrasi-demonstrasi nasional melawan pemotongan anggaran pendidikan tinggi sebelumnya. Sekarang kita harus menerapkan metode-metode mobilisasi ini ke tingkat nasional.

Perspektif

Meningkatnya serangan-serangan teknik manajemen kapitalis terhadap pendidikan tinggi bukanlah suatu kebetulan. Sebaliknya ini merupakan akibat dominannya ideologi neoliberal. Teknik-teknik manajemen ini merepresentasikan meningkatnya upaya mencetak semakin banyak lulusan mahasiswa untuk “pasar bebas”. Krisis kapitalisme Belanda terkini berarti bahwa pemerintah dan konglomerasi mencoba menyesuaikan “output” universitas-universitas sesuai tuntutan-tuntutan pasar tenaga kerja. Meskipun tingkat pengangguran sekarang sebesar 15%, beberapa industri teknologi tinggi malah kekurangan personel. Akibatnya universitas-universitas dan pemerintah mengalokasikan lebih banyak uang untuk program studi-program studi “yang menguntungkan” sementara “yang tidak menguntungkan” harus dilebur untuk bertahan hidup. Sementara tu melalui penggantian hibah mahasiswa dengan sistem pinjaman nasional, pemerintah menghalangi pemuda agar tidak mengambil program studi yang sedikit kesempatan lapangan pekerjaannya. Inilah langkah pemotongan anggaran pendidikan yang menghantam para mahasiswa dari latar belakang kelas pekerja dan kelas menengah ke bawah. Ini menunjukkan bahwa manajemen berbasiskan teknik-teknik efisiensi dan langkah-langkah pengetatan anggaran adalah dua sisi uang logam yang sama. Sementara New University berfokus pada kontrol demokratis dan perjuangan melawan manajemen kapitalis, perlu ada diskusi-diskusi mengenai perluasan gerakan yang menyertakan tuntutan-tuntutan seperti penghapusan biaya kuliah dan sistem pinjaman hutang.

Apa yang kita saksikan kini adalah kebangkitan kembali gerakan mahasiswa. Seruan-seruan untuk mengakhiri manajemen kapitalis dan menerapkan kontrol demokratis adalah tuntutan-tuntutan penting. Solidaritas dari personel universitas dan orientasi membangun aliansi dengan gerakan buruh adalah langkah-langkah maju yang penting. Faktanya ini cukup berbeda dengan tahun 1969 dimana terhadap sentimen permusuhan terhadap para profesional yang saat itu umumnya konservatif dan tidak pernah memandang dirinya sebagai bagian dari gerakan buruh. Kini jelas, dengan semua sistem kerja kontrak fleksibel, mereka adalah bagian dari kelas buruh dan menderita eksploitasi yang sama dengan buruh-buruh lainnya. Bila mereka mogok, ini bisa menjadi gelombang baru perjuangan buruh pula.

Sudah waktunya meneruskan perjuangan dengan menghubungkannya dengan isu-isu mahasiswa umum seperti penghapusan biaya kuliah dan sistem pinjaman hutang. Sebagaimana yang dikatakan Emile Roemer, pemimpin Partai Sosialis, dengan tepat bahwasanya perjuangan untuk kontrol demokratis tidak hanya dibatasi pada universitas tapi juga perlu terjadi di semua lapisan masyarakat. Bagaimanapun juga kontrol demokratis s sejati bukan sekedar persoalan mekanisme elektoral. Ini hanya mungkin terjadi secara riil saat kelas kapitalis kehilangan kontrolnya terhadap ekonomi dan negara. Dengan kata lain, perjuangan untuk universitas demokratis adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas yaitu perjuangan untuk masyarakat sosialis yang demokratis.

  • Demi badan universitas demokratis yang dipilih oleh para mahasiswa dan pekerja universitas yang bisa ditarik (recall)
  • Hentikan teknik-teknik manajemen kapitalis di universitas-universitas
  • Keluarkan konglomerasi dari universitas
  • Hapus sistem kerja kontrak: semua pekerja yang berada di bawah kontrak “fleksibel” harus diangkat jadi pekerja tetap
  • Demi pendidikan publik gratis: akhiri pemotongan anggaran pendidikan dan hapuskan biaya kuliah
  • Sebarkan gerakan ke semua universitas dan sekolah: demi suatu komite delegasi koordinasi demokratis nasional (yang bisa ditarik kembali dan diganti (recall)) yang dipilih dari majelis-majelis sekolah dan majelis-majelis fakultas
  • Tolak sanksi dan kriminalisasi
  • Buruh, mahasiswa, dan pelajar, bersatulah!

*Diterjemahkan dari tulisan Zowi Milanovi berjudul “Occupations mark the beginning of a new wave of Dutch student struggle” sebagaimana dipublikasikan In Defence of Marxism. Diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

picture-of-the-maagdenhuis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: