Apa Arti Kemenangan Netanyahu di Israel

wpid-image.jpg

image

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di menit-menit terakhir berhasil membalikkan jajak pendapat yang tidak menguntungkannya dengan mengambil manuver sayap kanan secara keras lewat janji ancaman bahwa tidak akan ada negara Palestina selama ia berkuasa dan karenanya memenangkan kembali Pemilihan Umum (Pemilu) Israel, Selasa lalu. Seruannya diarahkan pada kaum sayap kanan yang berarak di sekeliling figur dan kepemimpinan ‘tegas’nya dengan memanas-manasi rasa takut warga negara Israel terkait ancaman luar negeri ke Israel. Apa konsekuensi kemenangan Netanyahu bagi Israel dan dunia internasional?

Kesuksesan elektoral Netanyahu mereprentasikan putaran tajam di situasi yang mengagetkan semua analis dan lawan-lawan politiknya. Kesuksesannya diakibatkan oleh beralihnya suara pemilih ke opini publik sayap kanan ke partainya Netanyahu: Likud, yang meraih perolehan Pemilu sebanyak 30 kursi dari 120 kursi di Knesset (parlemen Israel). Kemenangan ini tak diragukan lagi akan memperpanjang umur kekuasaan Netanyahu serta mengandung konsekuensi-konsekuensi internal dan internasional yang perlu dianalisis secara cermat.

Dengan sekilas memandang hasil Pemilu, orang bisa menyimpulkan bahwa Netanyahu berhasil memotong—setidaknya di ranah elektoral—suatu proses umum radikalisasi ke kiri dan sentimen anti penguasa yang meraih momentumnya menjelang Pemilu. Sentimen ini telah mempengaruhi sejumlah luas lapisan pemuda dan masyarakat Israel pada umumnya selama beberapa tahun terakhir khususnya setelah gerakan massa 2011.

image

(Protes massal tahun 2011 menuntut keadilan sosial di Israel)

Belokan tajam dalam situasi itu memang tak terduga tapi tidak mengejutkan bagi kaum Marxis pada akhirnya. Belokan dan putaran mendadak dalam situsi politik memang merupakan ciri semua periode yang terkena krisis mendalam sistem dominan, seperti yang kita alami sedunia semenjak 2008. Setiap krisis akan memolarisasi atau membelah masyarakat di arah-arah yang berbeda: ke arah menggugat sistem yang berlaku, mempertanyakannya secara radikal, serta revolusi di satu sisi, dan di sisi lain ke arah mobilisasi kekuatan-kekuatan reaksioner. Proses ini tidak terhindarkan, karena kedua kubu yang berlawanan mengerahkan kekuatannya dengan menarik lapisan masyarakat yang sebelumnya tak berdaya ke medan pertempuran-medan pertempuran menentukan di masa depan. Kebangkitan satu sisi tidak berarti menghalangi kebangkitan sisi lainnya. Sebaliknya, justru merangsang kekuatan-kekuatan tandingan.

Hiruk-pikuk politik adalah salah satu ciri epos krisis kapitalisme yang telah kita alami di skala dunia. Dalam hal ini, kita bisa melihat jelas mengapa kemenangan Netanyahu secara sementara akan membangkitkan posisinya sebagai penengah alami antar berbagai faksi dalam kelas penguasa Israel. Selain itu posisinya juga akan semakin terdongkrak di arena internasional, dengan hubungan yang semakin rumit dengan AS.

Meskipun demikian hal ini hanya akan menjadi putaran berumur singkat dari berbagai rentetan peristiwa. Kenyataannya, kebebasan relatif dari beban-beban internal dan internasional yang akan dinikmati Netanyahu dalam periode singkat setelah kemenangannya juga malah bisa mempercepat proses radikalisasi dalam masyarakat Israel, dalam situasi dimana proses-proses sosial mendalam tengah berjalan. Saat yang bersamaan Netanyahu yang ‘lebih kuat’ memperkenalkan suatu elemen tambahan ketidakpastian ke situasi yang sudah sangat tidak stabil di Israel dan hubungan luas di Timur Tengah.

Jangkauan ketidakpastian tersebut tercermin dalam komentar pasca-Pemilu oleh New York Times: “Meskipun terdapat kemenangan kembali Netanyahu setelah pernyataan-pernyataan garis keras dalam hari-hari akhir kampanye, arah yang akan diambilnya dalam periode keempatnya sama tidak jelasnya dengan ia sendiri”.

Polarisasi Sosial dan Masa Depan Meningkatnya hiruk pikuk politik berakar dalam situasi objektif. Statisik yang dirilis Pemerintah pada awal Maret tidak hanya menggarisbawahi skala permasalahan sosial yang dihadapi Israel dan semakin lebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin, namun juga betapa keras krisis kapitalisme menghantam lapisan-lapisan menengah. Menurut biro pusat statistik, 41% warga Israel berada dalam kesulitan ekonomi dimana lebih dari sepertiga menanggung hutang setidaknya 10.000 shekel ($2.500 atau Rp 303.000.000). Apa alasan di balik ini? Suatu laporan terkini dari pengawas negara menunjukkan bahwa harga-harga rumah telah melambung tinggi dalam enam tahun terakhir sebesar hampir 55% dan sewa sebesar 30%. Namun tingkat upah tetap stagnan selama periode yang sama. Akankah Netanyahu bisa—atau bahkan bersedia—menangani persoalan ini?

Retorika-retorika tentang “Negara Yahudi” yang digunakan untuk menyokong pemukiman khusus Yahudi (yang jumlahnya naik 23% antara tahun 2009 sampai 2014) dan suatu kebijakan luar negeri yang agresif tidak bisa mengganti kenyataan bahwa kebijakan-kebijakan Netanyahu selama dua tahun terakhir berkutat pada pengetatan anggaran dan pemotongan kesejahteraan sosial. Inilah yang sebenarnya membuat turunnya dukungan tidak hanya terhadap Netanyahu namun juga Yair Lapid, Menteri Keuangan, sekaligus  rekan koalisinya (dan salah satu tokoh populer di tahun 2013 diamana Partainya, Yesh Atid dan perolehan kursinya tinggal separuh dalam pemilu sekarang. Kemenangan Netanyahu mengandung satu konsekuensi yang lebih serius dibanding konsekuensi-konsekuensi lainnya. Naiknya ketidakpuasan berakar pada memburuknya kondisi-kondisi material hidup bagi lapisan luas masyarakat Israel. Bagaimanapun juga bagaimana hal tersebut muncul telah berubah selama periode sebelumnya. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa gerakan ini belum meraih cukup momentum untuk menyapu medan politik dengan cara-cara elektoral. Bagaimanapun juga kita perlu memahami bahwa dengan terhalanginya kemungkinan mengubah sesuatu melalui cara-cara elektoral selama satu periode maka mayoritas populasi Israel pada suatu titik – seperti di tahun 2011 – akan terpaksa mengekspresikan diri melalui pergolakan sosial dan perjuangan kelas. Namun kali ini gerakan akan mencapai watak anti penguasa dan sifat sadar politik—dengan cara yang lebih cepat.

image

(Ayman Odeh dari Hadash dan Daftar Gabungan)

Naiknya beberapa orang kiri dalam Partai Buruh (kekuatan pemimpin dalam front terbesar kedua, koalisi Serikat Zionis) seperti Stav Shaffir yang berusia 29 tahun dan punya hubungan dengan gerakan 2011, tidak boleh diremehkan karena gejala radikalisasi sedang terjadi. Seandainya Partai Buruh memenangkan pemilu, proses ini akan tertunda atau bahkan terhalang, namun kemungkinan besarnya Partai Buruh akan terdepak sementara sebagai “oposisi loyal” terhadap pemerintah, yang akan memberi ruang bagi perbedaan internal untuk terus berlanjut. Bagaimanapun juga gejala pokok sentimen radikal yang muncul dalam lapisan-lapisan penting kaum buruh dan pemuda di Israel, khususnya namun tidak tidak hanya di kalangan minoritas Arab, adalah bangkitnya Joint List atau Daftar Gabungan yang dipimpin oleh Hadash sayap kiri yang baru: Aymen Odeh. Kecaman Odeh terhadap negara Israel saat ini – “Ini adalah negaranya para konglomerat yang menindas rakyat yang tak terpinggirkan di seluruh negeri” – bergema di lapisan massa dan menimbulkan dukungan baru bagi koalisi kiri. Daftar Gabungan tercatat meraih lebih dari 10 persen, urutan ketiga di jajak pendapat. Hadash dan Daftar Gabungan akan muncul di Knesset sebagai kutub oposisi utama dalam periode berikutnya. Ia menarik dukungan dari para buruh dan kaum miskin baik Yahudi maupun Arab. Selain itu lapisan penting kepemimpinan Partai Buruh mungkin pada suatu titik akan memilih mendukung Netanyahu dalam koalisi, sebagaimana yang telah dilakukan Ehud Barak di pemerintahan sebelumnya.

image

(Demonstrasi Hadash (Front Demokratik untuk Keadilan dan Kesetaraan)

Hubungan yang Tegang dan Sulit dengan Imperialisme AS Kemenangan Netanyahu akan menentukan perubahan kosmetik dalam urusan Israel dengan AS demi menghaluskan hubungan. Beberapa insiden seperti kunjungan Netanyahu ke AS untuk berbicara ke Kongres pada 3 Maret atas undingan Pembicara Republiken telah membuat kesal pemerintahan Obama. Namun tegangan AS-Israel tidak ditentukan oleh benturan keperibadian antara Obama dan Netanyahu namun oleh semakin meningkatnya kepentingan strategis divergen Imperialisme AS dan apa yang sudah lama menjadi sekutu terdekatnya di Timur Tengah. “Kesampingkan pidato-pidato, tidak ada yang mempertanyakan bahwa hubungan AS-Israel telah berubah secara substansial semenjak akhir Perang Dingin, dan perubahan ini, telah tertahan sementara semenjak 9/11, telah menimbulkan jarak dan tegangan antar kedua negara. Pidato Netanyahu semata-mata hanyalah suatu gejala dari kenyataan yang mendasarinya. Banyak drama, banyak kebencian pribadi, tapi perdana menteri datang dan pergi. Apa yang penting adalah kepentingan yang mengikatkan atau memisahkan bangsa-bangsa yang berbeda dan kepentingan Israel serta AS telah berbeda dalam beberapa tingkat.” (Stratfor, Netanyahu, Obama, dan Geopolitik Pidato-pidato, 3 Maret 2015).

image

image

Tegangan-tegangan ini merupakan konsekuensi melemahnya imperialisme AS di kawasan, yang memberikan ruang lebih bagi kekuatan-kekuatan regional (utaanya Turki, Arab Saudi, dan Israel) untuk memainkan permainan mereka sendiri. Kepentingan-kepentingan AS dan Israel seringkali berbeda di masa lalu, namun apa yang kini mencuat adalah sebab tegangan yang lebih serius. Kebutuhan negara AS untuk mundur dari keterlibatan langsung di area tersebut berarti bahwa pada dasarnya ia mendapati dirinya lebih banyak di sisi barikade yang sama dengan apa yang biasanya adalah seteru lamanya, yaitu Iran, dalam perang melawan ISIS baik di Irak dan di Suriah.

Dari sudut pandang Israel meningkatnya peran Iran merepresentasikan ancaman kritis terhadap keberadaan mereka sendiri dan telah mendorong Netanyahu ke paradoks dalam hal kekuatan-kekuatan yang terhubung dengan Al-Qaeda di Suriah sebagai yang terbaik dari yang terburuk. Sifat tidak bisa diprediksinya pribadi Netanyahu masuk persamaan disini, dan telah meyakinkan pemerintah AS untuk secara signifikan menentangnya dalam kampanye di Pemilu. Namun seiring dengan berkembangnya krisis di Israel, ia bisa dan akan mengubah dirinya menjadi sumber ketidakstabilan di Timur Tengah.

Kapitalisme Israel terseok-seok dari satu krisis ke krisis lainnya dan telah menunjukkan bahwa tidak ada rezim yang stabil di Timur Tengah. Tiap putaran di situasi internal Israel akan mempengaruhi kebijakan luar negeri pemerintah dan demikian juga perubahan dalam hubungan-hubungan internasional akan mempercepat alur peristiwa-peristiwa domestik dalam spiral yang tidak bisa dikendalikan Netanyahu.

*Diterjemahkan dari “Netanyahu’s Victory – What Does it Mean” ditulis oleh Francesco Merli Kamis 19 Maret 2015 dan dipublikasikan dalam bahasa Indonesia via bumi rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: