Mendorong Gerakan Mahasiswa Mendobrak Kepungan Komersialisasi Pendidikan dan Hegemoni Borjuasi

wpid-mendorong-gerakan-mahasiswa-melawan-kepungan-komersialisasi-pendidikan.jpg.jpeg

image

Lebih dari 45 pemuda mahasiswa menghadiri sekolah ideologi gerakan mahasiswa pada Kamis, 26 Maret 2015, di Kali Metro, Kota Malang. Diskusi yang diselenggarkan InTrans Institute ini menghadirkan Eko Prasetyo, penulis dan peneliti di Resist Book, sekaligus Direktur Social Movement Institute (SMI) atau Institut Gerakan Sosial, Yogyakarta, dengan tema “Kritik Gerakan Mahasiswa”.

Eko Prasetyo menjelaskan komersialisasi pendidikan, yang berjalan seiring gelombang neoliberalisme di segala bidang di Indonesia, tidak hanya mengakibatkan semakin mahalnya biaya kuliah dan tak terjangkaunya pendidikan tinggi. Melainkan juga semakin mengganasnya pemberangusan demokrasi serta menguatnya hegemoni borjuasi di kampus.

Penulis “Orang Miskin Dilarang Sekolah” ini mencontohkan maraknya pelarangan dan pembubaran pemutaran/bedah film “Senyap/The Look of Silence” di berbagai tempat menandakan diberangusnya kebebasan berkumpul dan berpendapat. “Lihat rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang demikian ngotot melarang pemutaran Senyap. Mewanti-wanti mahasiswa dan bilang kalau diskusi diperbolehkan tapi tidak boleh memutar film Senyap. Sampai-sampai Rektor mendatangi mahasiswa bersama rombongan Forum Anti Komunis Indonesia (FAKI). Ini Rektor atau ajudannya FAKI?”

Rektor dan pejabat kampus memang tidak bisa diharapkan untuk membela demokrasi dan hak-hak kebebasan berpendapat. Eko menjelaskan, keberhasilan mahasiswa menggagalkan upaya pembubaran pemutaran/bedah film Senyap oleh FAKI dan Forum Umat Islam (FUI) adalah hasil konsolidasi kekuatan mahasiswa sendiri.

“Semua (organ) mahasiswa yang sepakat melawan pembubaran Senyap berkumpul, mengadakan pemutaran Senyap, dan mempertahankannya dengan segala cara. Banyak mahasiswa Yogyakarta sebenarnya sudah menonton film Senyap, tapi sembunyi-sembunyi. Budaya takut ini tidak boleh dibiarkan. Karena itu sesungguhnya pemutaran Senyap di UIN Yogyakarta kemarin bukan sekedar untuk menonton. Melainkan untuk mengajak mahasiswa berani berhadap-hadapan dengan rezim penindasan hari ini. Jadi bukan hanya soal film Senyap, tapi semua hal yang dianggap tema-tema berbahaya itu bisa kita gelar untuk mengukur seberapa jauh kebebasan berpendapat diperbolehkan sekaligus menggalang kekuatan mahasiswa.”, tekannya.

“Karena itu kemarin mahasiswa Papua ada yang bawa pedang, mahasiswa Madura bawa bambu berpaku, bahkan ada yang bawa pedang samurai (katana, pen.). Semua dilakukan mahasiswa untuk mempertahankan diri dari serangan preman-preman itu. Masa preman-preman berani bawa pentungan, berani represi, kita tidak berani membela diri?” lontarnya.

Eko melanjutkan, “Kampus yang semakin mahal membuat dominasi borjuis makin ekspansif. Spanduk-spanduk, baliho-baliho di kampus bukan lagi soal keilmiahan apalagi soal gerakan.”

“Apa yang ada adalah baliho dan billboard penerimaan mahasiswa. Semuanya saling menyembul di jalan raya, di perempatan, di gerbang, maupun di berbagai sudut dalam kampus. Lengkap dipasang foto mahasiswa membaca buku sambil tersenyum. Ini kan gak masuk akal? Masa mahasiswa membaca sambil cengengesan? Baliho-baliho macam itu persis iklan yang berlomba-lomba menawarkan kuliah seperti produk dengan berbagai jalur. Bahkan ditambahi berbagai iming-iming misalkan seratus mahasiswa pendaftar pertama dapat ini, itu, dan sebagainya. Tidak ada bedanya dengan bisnis.”

“Kita tidak banyak menemui spanduk dan baliho forum diskusi atau acara/kegiatannya organisasi mahasiswa macam GMNI, HMI, LMND, FMN, dan sebagainya. Sebaliknya yang kita banyak temui adalah spanduk dan baliho Entrepeneurship, PKM, dan berbagai Job Fair atau bursa kerja di kampus yang menghadirkan perusahaan-perusahaan secara langsung, mulai dari Freeport, BCA, Suzuki, Carrefour, macam-macamlah. Mungkin cuma kurang badan PJTKI (Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia) saja. Integrasi kampus dengan kapitalis tidak pernah setinggi ini.”, tegasnya.

Meningkatnya komersialisasi kampus dan menguatnya hegemoni kapitalisme membuat pergeseran kampus semakin ke arah kanan. “Kegiatan-kegiatan di kampus semakin bersifat borjuis. Panggung-panggung rakyat atau mimbar bebas yang dulu di sekitar tahun 98 dan 2000 awal sering ditemui di kampus sudah tidak ada lagi. Sebaliknya kita menyaksikan semakin banyak konser-konser Jazz, ajang putra-putri kampus, dan sebagainya. Bahkan ada salah satu rektor yang memasang baliho di kampus menginstruksikan kirim dukungan pada mahasiswanya yang ikut KDI (Kontes Dangdut Indonesia).”, ungkapnya.

“Kaum borjuis mengubah selera publik. Akibatnya sangat buruk bagi gerakan mahasiswa. Lihatlah pertemuan BEM SI, BEM Nusantara isinya didatangi menteri dan pejabat. Siklusnya berubah. Padahal dulunya organ-organ mahasiswa itu kalau mengadakan pertemuan, ya, mendatangkan aktivis. Baik itu aktivis 98 atau aktivis-aktivis lainnya. Bagaimana bisa kritis dan melawan rezim pemerintah kalau bukan saja acara mahasiswa digawangi oleh menteri-menteri tapi dosen-dosennya juga banyak yang jadi staf ahlinya Jokowi? Karena itu gerakan mahasiswa menghadapi pertanyaan besar: Masihkah gerakan mahasiswa bisa menjadi motor perubahan sosial?”, lontarnya.

“Sekarang kasus proletarisasi dan pemiskinan semakin luar biasa. Buruh sering melakukan aksi mogok, grebeg pabrik, tutup kawasan, demonstrasi, dan sebagainya. Begitu pula petani yang bergolak melawan seperti di Karawang, Mesuji, Rembang, dan sebagainya. Ada proses radikalisasi di kalangan rakyat jelata.”, jelasnya.

Sayangnya gerakan mahasiswa mengalami penurunan. “Memang masih ada mahasiswa-mahasiswa yang turun ke bawah, berjuang bersama rakyat, tapi semakin lama mereka semakin terkekang jeruji-jeruji yang sengaja ditanam dalam kampus. Kuliah diperpadat, tugas diperbanyak, jam malam di kampus diberlakukan, bahkan berbagai kampus menerapkan jumlah tahun maksimal kuliah. Alasannya efektifitas, efisiensi, dan segala macam. Ini kan bahasa pasar.”, tunjuknya.

“Tugas kita sekarang sederhana: Jadikan kampus wilayah gerakan itu hidup kembali.”, serunya. “SMI disini adalah eksperimen untuk menyapa para mahasiswa dan untuk menghancurkan elitisme kampus. Kita tidak bisa membuat gerakan tanpa merusak habitus kapitalis di kampus.”

“Melalui SMI kita adakan diskusi tiap minggu tentang tema-tema gerakan. Juga ada pemutaran film tiap minggu. Tidak peduli berapapun yang hadir, pemutaran film tetap jalan. Ada tempat makannya, mahasiswa yang lapar bisa makan disitu. Ada spanduk-spanduk aksi juga. Mau aksi anti-militerisme, ada. Mau aksi tolak kenaikan harga BBM, ada. Mahasiswa yang tertarik seni, termasuk teater juga ada wadahnya.”

“Beginilah seharusnya organ itu. Terbuka, tidak di bawah tanah, dan harus massif. Gerakan mahasiswa butuh kerja-kerja korektif kemanusiaan. Kerja-kerja untuk melawan setiap bentuk penindasan. Mulai dari melawan komersialisasi pendidikan sampai melawan korupsi. Tidak usah berkecil hati kalau sedikit yang aksi anti-korupsi.
KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Tim Sembilan sendiri masalahnya juga gak pernah datangi mahasiswa.”

“Jadi ayo kita hidupkan kembali gerakan mahasiswa. Kampus harus diprogresifkan terlebih dahulu. Komunikasikan gagasan-gagasan pergerakan sesederhana tapi sekreatif mungkin. Perluas propaganda dan bangun kembali perlawanan. Jangan sampai kejadian pasca 98 kembali terulang dimana reformasi dibajak oleh para penindas.”, tekannya.

Bagaimanapun juga terdapat beberapa poin yang perlu ditambahkan terkait persoalan gerakan mahasiswa di Indonesia. Baik itu dari segi persoalan keorganisasian, persoalan pengaruh komersialisasi pendidikan, maupun persoalan perspektif gerakan mahasiswa itu sendiri.

Pertama, organ-organ mahasiswa, tidak hanya Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK) macam GMNI, HMI, PMII, dan sebagainya, namun juga Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) macam BEM, DPM, dan sebagainya mengalami kerugian besar akibat masih kuatnya senioritas serta elitisme dalam organisasi. Seorang tokoh organisasi mahasiswa yang dianggap senior, lebih tua, lebih berwibawa, memiliki intervensi sangat tinggi. Bahkan termasuk senior yang sudah lulus dan menjabat di perhimpunan alumni organ bersangkutan. Alih-alih menjalankan kepemimpinan kolektif berdasarkan program dan konsensus demokratik, paternalisme sangatlah kuat mendominasi organ. Ini sangat tidak sehat. Pendiskusian jadi tidak dinamis, kesalahan susah diperbaiki kalau itu dilakukan senior, banyak konflik yang muncul bukan karena perbedaan garis perjuangan, politik, programatik, namun karena sentimen paternalisme.

Kedua, sektarianisme organisasi. 32 tahun kekuasaan Orde Baru beserta seluruh instrumennya termasuk Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) sangatlah berhasil dalam mengotak-kotakkan atau menyekat-sekat mahasiswa. Omek cenderung hanya mengundang Omek, Pers Mahasiswa (Persma) hanya mengundang Persma, dan seterusnya. Menyebut nama organisasi secara terang-terangan saja tabunya masih luar biasa. GMNI disebut dengan kata ganti Merah, HMI disebut dengan kata ganti Hijau, PMII disebut dengan kata ganti Kuning. KAMMI disebut dengan kata ganti Putih, dan seterusnya. Ini tidak kita temukan di era sebelum Orde Baru berkuasa. Tahun 50an dan 60an, gerakan mahasiswa terang-terangan mengaku GMNI, CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), Gema 45 (Gerakan Mahasiswa 45), Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), dan sebagainya. Isu yang diangkat jelas dan terang-terangan. Soal imperialisme, soal kapitalisme, perjuangan pembebasan nasional, pemberantasan buta huruf, dan sebagainya.

Sedangkan saat ini, dari tahun ke tahun Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira), mahasiswa saling bersaing jadi Presiden BEM atau anggota DPM tanpa membawa isu-isu yang mengkritik komersialisasi pendidikan, kenaikan biaya kuliah, kurangnya fasilitas mahasiswa, apalagi soal kapitalisme dan imperialisme.

Kondisi ini berbeda jauh dengan Pemira di Britania ataupun Australia dimana gerakan mahasiswa macam Marxist Student Federation (MSF) atau Federasi Mahasiswa Marxis yang maju dengan platform menolak pemotongan anggaran pendidikan dan sistem kerja kontrak serta para mahasiswa anggota Socialist Alternative (SA) di Australia yang maju menolak penghapusan ruang Musholla bagi mahasiswa muslim di RMIT, melawan deregulasi pendidikan, serta menolak kenaikan biaya kuliah.

Ketiga, kultur organisasi mahasiswa di Indonesia banyak yang masih lemah. Banyak organ mahasiswa yang masih kurang disiplin. Rapat dan diskusi jam dimulainya bisa molor berjam-jam tanpa sanksi sama sekali bagi yang terlambat. Kebiasaan ngopi dan merokok sambil bergadang berdiskusi sampai pagi tidak hanya merusak kesehatan secara pelan-pelan tapi juga berkontribusi pada minimnya kemampuan partisipasi para perempuan. Harus kita akui, para perempuan Indonesia menanggung stigma sangat berat. Bila perempuan sering pulang malam dan juga terlihat merokok akan dicap perempuan nakal dan asusila sementara acara-acara rapat dan diskusi mahasiswa mayoritas berlangsung malam hari dan penuh perokok. Tidak heran dalam sebagian besar acara diskusi dan rapat, khususnya malam hari, jumlah partisipan perempuan sangatlah jarang (untuk tidak dibilang tidak pernah) mencapai setengah atau bahkan seperempat total partisipan.

Keempat, sekarang sudah hampir tidak ada organ gerakan mahasiswa yang menerbitkan koran pergerakan. FMN pernah punya Gelora Mahasiswa dan PEMBEBASAN pernah punya Koran Pembebasan tapi keduanya sudah lama tidak terbit dan didistribusikan serta didiskusikan secara teratur, malah sekarang hanya ada dalam bentuk digital, format PDF. Ini sering jadi guyonan getir, organ mahasiswa punya terbitan berkala. Kala-kala terbit, kala-kala nggak.

Padahal koran masih memegang peran sentral dalam pergerakan. Sayap mahasiswa dari Socialist Workers Party (SWP) atau Partai Buruh Sosialis di Inggris dan Revolutionary Socialists di Mesir tiap minggu membuka stan dan menjanjakan koran untuk menggalang kontak serta mempropagandakan pemikiran-pemikiran mereka. Kemampuan individu untuk berpropaganda dan merekrut (calon) anggota seringkali terbatas pada wawasan pribadi mereka. Jarang seseorang bisa merekrut orang lain yang punya wawasan lebih luas dari yang merekrut. Kelemahan inilah yang bisa ditutupi dengan koran pergerakan.

Kelima, persoalan cengkeraman komersialisasi pendidikan yang membatasi gerakan mahasiswa harus segera dianalisis dan dipecahkan. CGMI dulu pernah membuat kelompok-kelompok belajar bagi para anggotanya dimana anggota yang lebih berprestasi membantu yang kurang mampu. Mitos heroisme yang menggambarkan mahasiswa yang radikal adalah yang berani molor kuliahnya atau bahkan Drop Out adalah mitos yang harus dihapus. Mahasiswa tidak boleh hanya jago turun ke jalan namun juga berprestasi di pendidikan. Tentunya tanpa mengurangi daya kritisnya.

Keenam, gerakan mahasiswa harus beralih dari gerakan moral menjadi gerakan ideologis. Gerakan moral yang mengusung mahasiswa sebagai agent of change, agent of control, agent of iron stock, yang banyak diusung aktivis angkatan 66 macam Soe Hok Gie dan Arief Budiman serta Cosmas Batu Bara, dan sebagainya harus ditinggalkan. Karena membuat gerakan mahasiswa bersifat elitis, maunya memperjuangkan tapi tidak mau bergerak bersama satu barisan dengan buruh, tani, dan kaum miskin kota, maupun lapisan rakyat tertindas lainnya. Perspektif agen ini seakan-akan mahasiswa menjadi layaknya James Bond yang bisa mengubah segalanya. Padahal sebagaimana dikatakan Marx, hanya massa yang bisa membebaskan massa.

Perspektif moral juga tidak memadai karena hanya memahami penindasan sebagai soal baik vs jahat.

Gerakan mahasiswa perlu mengambil perspektif gerakan ideologis yang menggunakan teori-teori revolusioner sehingga bisa memahami apa itu kapitalisme, bagaimana Imperialisme masih menjajah Indonesia dan membuatnya tidak merdeka 100%, sistem pendidikan macam apa untuk menggantikan komersialisasi pendidikan yang hanya melayani kepentingan pejabat, konglomerat, dan pemodal internasional ini, dan sebagainya.

Gerakan mahasiswa yang masih memakai perspektif gerakan moral masih gelagapan dalam membaca kondisi pasca 98 dengan mengeluh tidak adanya musuh bersama yang kelihatan untuk dilawan. Ini sesuatu yang tidak perlu terjadi kalau kita memakai perspektif gerakan mahasiswa Ideologis yang menggunakan pisau bedah Marxisme yang sangat tajam. Sehingga kita tidak hanya sekedar melawan penindasan namun juga bersatu dalam perjuangan kelas membangun masyarakat sosialis yang bebas tirani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: