Arab Saudi Memerangi Yemen – Krisis Imperialisme dan Makin Meningkatnya Tegangan di Timur Tengah

ee9946cf-91bb-4005-bdaf-18041b61dfe8

Sejak Kamis pagi ratusan pesawat tempur Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab telah membombardir sasaran-sasaran di Yemen, membunuh banyak orang, menghancurkan jalan-jalan utama, dan sebagian besar infrastruktur penting negeri tersebut. Namun Yemen, yang merupakan negara Arab termiskin, telah menjadi target serangan-serangan biadab rezim Saudi.

Yemen-map

Ratusan warga sipil, banyak diantaranya anak-anak, telah terbunuh namun jelas bahwa angka ini semakin meningkat drastis karena sasaran-sasaran serangan diarahkan ke daerah-daerah padat penduduk sipil di Sana’a dan di desa-desa Houthi utara yang akan dibombardir. Pagi ini kamp pengungsi bagi warga negara Yemen juga dibom, mengakibatkan sekitar 40 orang terbunuh dan 30 orang luka-luka.

Selain Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, Moroko, dan Sudan juga mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya, sementara Mesir dan Yordania bersiap ambil bagian dalam serbuan-serbuan darat. Oman adalah satu-satunya negara Arab di Teluk yang tidak berpartisipasi. Selain 100 pesawat tempur, Arab Saudi juga telah mengerahkan 150.000 tentaranya di kampanye militer ini, menggerakkannya di perbatasan Yemen dan mengancam dengan invasi yang lebih berdarah-darah.
Amerika Serikat (AS) dan Britania telah mengatakan mereka tidak akan ikut langsung dalam kampanye militer ini, namun mereka akan menyediakan dukungan “logistik” dan “intelijen”. Israel juga mendukung kampanye militer secara terbuka. Bagaimanapun juga, Uni Eropa (EU) sedang bimbang, meskipun sebelumnya EU mengecam pergerakan pasukan Houthi, EU kemudian mengatakan bahwa pembombardiran oleh Saudi telah “memperparah situasi rawan di negeri tersebut dan berisiko mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi regional yang serius”.

houthi-damages

Duta besar Saudi untuk AS mengatakan pada hari Minggu “perang ini adalah untuk melindungi rakyat Yemen dan pemerintahannya yang sah dari kelompok yang bersekutu dan didukung oleh Iran dan Hizbullah,” sambil kemudian mengatakan: “kami melakukannya untuk melindungi Yemen.”
Tingkat kemunafikan ini sangatlah memuakkan. Rezim Saudi membunuhi ribuan orang dan menghancurkan infrastruktur-infrastruktur utama negeri yang sangat miskini ini demi…”melindunginya”!

Perlindungan terhadap Yemen dan rakyatnya tidak ada hubungannya dengan petualangan imperialis yang punya satu tujuan utama: melindungi kelas penguasa Saudi dan kepentingan sempitnya di Timur Tengah, yang secara langsung bertentangan dengan rakyat miskin dan kaum tertindas di kawasan.

Selama bertahun-tahun Arab Saudi melindungi bekas diktator Yemen, Ali Abdullah Saleh, yang dibenci rakyatnya sendiri dan digulingkan revolusi Arab. Lalu Saudi bersama sisa diktator-diktator lainnya di negara-negara Teluk, bermanuver untuk memasang Abdrabbuh Mansour Hadi sebagai presiden, yang mana sebelumnya telah menjadi wakil presiden selama 17 tahun sebelum revolusi.
Bagaimanapun juga setelah berkuasa, dukungan Hadi dengan cepat menguap saat massa sadar bahwa korupsi, nepotisme, dan tribalisme masih berlaku, dan kemiskinan serta kesengsaraan malah semakin parah. Hadi juga menerapkan pemotongan anggaran yang keras terhadap warga Yemen yang 60%nya sudah menderita kemiskinan akut. Karenanya, demi berkuasa, Hadi semakin bersandar pada faksi-faksi berbeda yang mendominasi berbagai daerah di Yemen. Khususnya dia bersandar pada Partai Islah Islami, sedangkan gerakan suku Houthi dan rakyat Zaydi, yang menyusun 40% populasi Yemen telah dimarjinalisasikan selama 60 tahun.

Hadi dan Menteri Pertahanan Saudi

Hadi dan Menteri Pertahanan Saudi

Dalam konteks inilah, para pemberontak Houthi meraih kekuatan dan merebut sebagian besar wilayah utara. Slogan-slogan mereka melawan imperialisme AS, melawan korupsi, dan melawan kemiskinan, serta pemotongan anggaran bergema di banyak pemuda miskin, khususnya di utara yang mayoritasnya adalah Syiah. Saat kaum Houthi merebut Sana’a, Hadi sang “presiden yang sah” tidak punya basis dukungan yang tersisa sama sekali dan dia disingkirkan dengan gampang tanpa banyak perlawanan.

Sedangkan di Selatan Hadi juga tidak berada dalam posisi yang lebih baik. Meskipun demikian dia berhasil memanas-manasi gerakan separatis dan mendorong lapisan elemen ke dalam pelukan kelompok-kelompok Islamis melalui kolaborasi terbukanya dengan imperialisme AS serta izin yang diberikannya untuk menjalankan program drone di Yemen. Akhirnya pelarian Hadi terakhir adalah ke kota selatan Aden, yang mana sekarang pasukan-pasukan Houthi tengah merangsek kesana.

Arab Saudi dan Iran
Saudi tidak bisa menerima disintegrasi Yemen dan jatuhnya Yemen ke tangan pasukan-pasukan yang didukung Iran, yang terjadi di selatan perbatasannya.

Semenjak perang Irak, Iran telah berkembang menjadi ancaman terbesar bagi posisi Arab Saudi di kawasan. Konflik ini telah berkembang dengan meningkatnya tegangan-tegangan antara wakil-wakil (proxy) Saudi dan Iran di kawasan – tegangan-tegangan yang telah mendorong karakter yang semakin sektarian.

Meskipun kaum Houthi tidak sepenuhnya sinkron dengan Iran, jelas bahwasanya Garda Revolusioner Iran telah mendukung mereka baik secara finansial maupun militer, termasuk memberikan nasihat kepada Houth mengenai bagaimana mengembangkan suatu gerakan politik di sepanjang garis-garis Hizbullah di Lebanon. Garda tersebut sendiri mengklaim memiliki 300 – 400 personel di Yemen yang bekerjasama dengan Houthi. Namun bagi Saudi, ekspansi dan pengaruh Houthi merepersentasikan suatu bahaya dan mereka memutuskan untuk bertindak.

Selama bertahun-tahun persaingan antara rezim Saudi dan Iran telah berlangsung di koridor-koridor dan melalui wakil-wakilnya di Irak, Suriah, Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Bahrain, dan sebagainya – namun serangan terhadap Yemen ini adalah titik baliknya. Untuk pertama kalinya konflik ini melibatkan pertarungan terbuka—setidaknya di pihak Arab Saudi. Ini adalah tanda kontradiksi-kontradiksi besar yang menumpuk di kawasan.

Pembombardiran terhadap Yemen adalah sinyal yang diberikan Saudi terhadap Teheran mengenai kemampuan Saudi.

islamic-state-in-iraq-and-the-levant

Riak-riak antara Saudi – AS
Pemerintah-pemerintah AS dan Britania juga secara resmi mendukung kampanye. Ini menunjukkan watak sinis dan munafik sebenarnya dari imperialisme AS. Dengan mudahnya AS berganti sekutu di Yemen seperti ganti kaos. Pertama mereka mendukung Saleh selama lebih dari 30 tahun, lalu mereka mendukung Hadi, lalu mereka cari cara bekerjasama dengan Houthi (khususnya untuk melawan Al-Qaeda) dan kini mereka sekarang ganti sekutu lagi, karena rekan-rekannya di Arab Saudi memerangi Yemen dan Houthi. (Jelas tak ragu lagi bahwa ini akan sangatlah menguntungkan Al-Qaeda juga).

Bagaimanapun juga, hal ini tidak mengubah kenyataan bahwasanya AS—yang secara historis dekat dengan Saudi—tidak diberitahu serangan yang diputuskan dan direncanakan di balik punggung AS bersama mereka yang dulunya dianggap sekutu-sekutu dekat imperialisme AS seperti Mesir, Yordania, Pakistan, dan Kuwait.
Faktanya, bagi Saudi serangan tersebut juga merupakan unjuk kekuatan terhadap AS. Ini yang dengan jelas diekspresikan Perdana Menteri Israel: Benjamin Netanyahu, yang mengatakan bahwa “poros Iran-Lausanne (baca: AS)-Yemen harus dihentikan”.

Ini menunjukkan ketidakpercayaan mendalam yang mekar di antara sekutu-sekutu lama AS di Timur tengah sejak perang Irak, dengan anggapan bahwa AS tidak melakukan upaya yang cukup untuk memerangi bangkitnya pengaruh Iran. Bukan kebetulan kalau serangan terhadap Yemen terjadi beberapa hari sebelum tenggat waktu yang ditetapkan AS untuk perundingan dengan Iran terkait isu nuklir.

Menteri Luar Negeri Iran, Muhammad Javad Zarif, mengatakan bahwa perang di Yemen tidak akan mempengaruhi perundingan. Namun akan kekanak-kanakan kalau percaya pada pernyataan ini. Jelas ini akan mempengaruhi perundingan, karena perundingan ini berputar secara pokok mengenai peran Iran di Timur Tengah dan hubungannya dengan imperialisme AS.

AS-Iran Detente
Persaingan antara Arab Saudi dan Iran bukanlah fenomena baru. Bagaimanapun juga semenjak invasi AS ke Irak, tegangan-tegangan telah naik hari demi hari. Pendudukan, dengan penghancuran angkatan bersenjata dan rezim Saddam, telah menyingkirkan halangan terbesar bagi Iran dan militernya yang kemudian bebas untuk berintervensi di kawasan. Ini menimbulkan ancaman besar bagi Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang sangatlah lemah di hadapan merangseknya militer Iran.

Bahkan secara lebih krusialnya, ruang untuk manuver bagi imperialisme AS sangatlah dilemahkan dengan kekalahan di Rak bersama dengan krisis ekonomi yang itu sendiri telah membuat perang-perang semakin berlarut-larut dan menimbulkan demoralisasi serta oposisi massal terhadap perang di dalam negeri AS. Revolusi Arab dan berubahnya sentimen massa telah menimbulkan penghalang-penghalang yang lebih besar bagi jalan aktivitas militer AS di kawasan. Tak mampu campur tangan militer secara bebas, imperialisme AS akhirnya semakin harus bergantung ke kekuatan-kekuatan lain—termasuk Iran—untuk mempertahankan kepentingannya di kawasan.

Di Irak, ketergantungan AS terhadap Iran telah jelas selama bertahun-tahun. Bagaimanapun juga bangkitnya Islamic State (IS) dan kolapsnya negara Irak telah semakin mendorong Amerika lebih dekat ke Iran. Sementara kaum Kurdi di utara telah berhasil mengusir IS keluar dari teritorinya, sangatlah jelas bahwa satu-satunya pasukan yang bisa diandalkan untuk memerangi IS di seluruh penjuru negeri adalah Iran.

Skenarionya serupa di Suriah. Selama dua tahun belakangan ini, khususnya sejak musim panas lalu, AS secara de facto telah bertempur di pihak rezim Assad melawan berbagai kelompok Islamis yang berbeda, termasuk khususnya IS. Negara-negara Teluk, Turki, Yordania, dan Yemen, di sisi lain, telah terpecah, mereka mendukung berbagai kelompok sektarian yang berbeda-beda dalam perangnya melawan Assad, yang lebih dekat ke Iran.

Selama tahun kemarin, Israel telah bekerjasama secara aktif dengan Al-Qaeda cabang Suriah, Jabhat Al-Nusra, kelompok yang sebelumnya di tahun ini telah menghancurkan sisa-sisa Gerakan HAZM, yang merupakan salah satu kelompok yang secara resmi didukung AS. Israel telah memasok persenjataan dan mengerahkan perlindungan angkatan udara bagi prajurit-prajurit Jabhat Al-Nusra yang selama ini dirawat di rumah sakit-rumah sakit Israel.
Turki juga selama ini telah mendukung Jabhat Al-Nusra dan pada tingkatan tertentu juga mendukung IS, memasok mereka dengan persenjataan serta membiarkan mereka berlindung di perbatasannya. Tentu saja dukungan terbesar bagi kelompok-kelompok Islamis di Suriah datang dari Teluk dimana dana-dana swasta dan negeri telah dikucurkan ke berbagai kelompok dan milisi. Bagi AS bagaimanapun juga, rezim Assad sekarang malah menjadi satu-satunya pilihan untuk menegakkan suatu jenis stabilitas di kawasan.

Lebanon juga mengalami situasi serupa. Negeri itu semakin terdesak bersandar pada pasukan-pasukan Hizbullah dalam perangnya melawan fundamentalisme Sunni di utara dimana ratusan ribu orang Suriah mengungsi.

Jurnalis New York Times, Roger Cohen, menulis: “Namun Republik Islam sekali lagi telah menunjukkan kebencian mendalam. Bagi standar Suriah, Irak, Afghan, dan Mesir, ia adalah pulau stabilitas.”

Sedangkan di Yemen, proses yang sama juga tengah berlangsung. Seiring dengan ambruknya pemerintahan Hadi serta terbukanya ruang bagi instabilitas masif dan bangkitnya Al-Qaidah, pasukan-pasukan yang didukung Iran malah terbukti menjadi faktor yang paling stabil. Foreign Affairs, mencerminkan sentimen yang muncul di lapisan dominan kelas penguasa AS:

AS perlu memandang melampaui peringatan-peringatan darurat dan pembakaran bendera untuk membuka gariis komunikasi langsung dengan kepemimpinan Houthi. Pemerintahan Hadi tidak berdaya dan telah kabur dari konfrontasi politik dengan pemerintahan Houthi yang baru karena tahu bahwa ia kurang punya dukungan publik dan tribal untuk mengobarkan kampanye melawan Houthi. Mereka yang loyal pada keluarga Houthi telah bangkit sebagai pasukan-pasukan militer paling efektif dalam memerangi ekspansi Al-Qaeda dan ISIS di Arab. Kalau Barat berpaling dari kepemimpinan Houthi gara-gara slogan-slogan, bantuan oportunis dari Iran, atau protes Hadi, AS akan berakhir kehilangan suatu partner serius di Timur Tengah.

Ini jelas menimbulkan permasalahan bagi imperialisme AS. AS tidak punya pilihan selain mengakomodasi Iran. Itulah diskusi yang sebenarnya di balik perundingan nuklir.

the-us-and-iran-are-going-to-miss-a-key-deadline-in-their-nuclear-negotiations

Peristiwa-peristiwa yang terjadi telah mengubah perimbangan kekuatan di kawasan sehingga menguntingkan Iran, dan tidak satupun angan-angan yang bisa mengubahnya. Perundingan-perundingan adalah cara untuk formalisasi situasi baru. Persoalannya bukan apakah akan ada kesepakatan namun kesepakatan macam apa yang akan terjalin dan bagaimana penerapannya.

Saudi Arabia – Bangsa dalam Krisis
Bagaimanapun juga, persoalannya tidaklah sederhana bagi Saudi. Iran dianggap ancaman eksistensial bagi Arab Saudi. Meskipun dinasti Saudi berlimpah kekayaan, berbeda dengan Iran, Saudi merupakan bangsa yang sangatlah lemah. Kaum buruh dan pemuda sama sekali tidak merasa loyal pada negara ataupun rezim yang mereka anggap tidak sah sama sekali dalam berbagai hal.

Mereka terpinggirkan oleh dinasti penguasa yang hidup dalam kemewahan serta dekadensi ekstrim yang mencekik mayoritas rakyat. Kemunafikan ini semakin menjadi-jadi bagi rakyat Muslim di Arab Saudi yang dihadapkan pada kelas penguasa yang mengaku-aku sebagai “para pelindung Mekah”.

Minoritas Syiah di Saudi yang sebagian besar hidup di daerah-daerah kaya minyak, selama ini sangatlah ditindas selama puluhan tahun dan dicap sebagai ancaman dalam negeri. Sedangkan di sisi lain, di antara populasi Sunni terdapat lapisan signifikan orang yang tidak menyukai sistem kerajaan, yang mereka anggap seharusnya digantikan dengan Kekhalifahan. Selama bertahun-tahun Saudi telah mengirim para fundamentalis Sunni ke Afghanistan, Pakistan, dan sebagainya. Bagaimanapun juga pada perkembangannya malah terdapat ribuan simpatisan Al-Qaeda dan IS, yang menentang keras kerajaan Saudi.

Ini menjelaskan mengapa Militer Saudi, yang merupakan militer paling boros keempat sedunia, tidak pernah berperang. Saat Saudi bergerak untuk menggilas revolusi di Bahrain tahun 2011 mereka sangat bersandar pada para prajurit dan tentara bayaran Pakistan. Dinasti Saud bahkan juga meminta bantuan militer pada tentara Pakistan untuk dikerahkan pada perbatasan Saudi-Irak untuk mempertahankan negeri dari serangan IS. Jelas bahwa kerajaan tidak percaya pada pasukan-pasukannya sendiri yang bisa saja berbalik menggunakan persenjataan mahalnya untuk melawan kerajaan itu sendiri. Ini menempatkan rezim Saudi berada dalam posisi lemah saat berhadapan dengan ancaman eksternal.

Kediktatoran Saudi sangatlah terguncang oleh revolusi Arab yang mereka anggap sebagai ancaman langsung terhadap kekuasaan mereka. Mereka takut bahwasanya revolusi akan mendorong kaum miskin dan kaum tertindas—yang jumlahnya sangat banyak di Arab Saudi—serta pemuda untuk bangkit dan melawan.

Karenanya, kegagalan Obama untuk membeking sekutu bersama mereka, Husni Mubarak, saat revolusi Mesir semakin memperumit hubungan-hubungan AS dengan kerajaan yang kehilangan kepercayaan dalam kemampuan AS untuk menyelamatkan kelas penguasa Saudi bilamana massa rakyat Saudi bergerak. Dari titik ini Saudi kemudian mengambil posisi yang semakin independen serta secara gradual semakin menjauh dari kepentingan AS di Timur Tengah.

Situasi Mendesak untuk Langkah Mendesak
Resiko berkuasanya Syiah, di negara yang akan didukung Iran di perbatasannya, adalah resiko yang terlalu besar bagi Saudi. Meskipun ini akan dipandang sebagai kelambanan bagi beberapa seksi Islamis Sunni di rezim Saudi, namun ini juga akan menjadi sinyal bagi umat Syiah yang tertindas di kerajaan untuk memberontak. Ini akan berarti hilangnya poros pengaruhnya “sendiri” terhadap Iran yang akan menggunakannya sebagai basis untuk semakin menekan Saudi.

Saudi semakin khawatir mengenai betapa mudahnya Amerika jatuh ke dalam situasi baru. Baru beberpa bulan lalu, saat ditanya mengenai hubungan dengan Houthi yang merebut kekuasaan di Sana’a, seorang pejabat AS mengatakan: “Mereka bukan sasaran militer kami. Sasaran militer kami adalah AQAP dan kami harus tetap fokus pada itu.

Bagi Saudi ini adalah garis merah. Mustafa Alani dari Pusat Penelitian Teluk berbasis di Dubai, mengatakan pada Washington Post: “Ini dimulai dengan Lebanon, lalu Suriah, kemudian Irak dan sekarang Yemen. Ini seperti domino, dan Yemen adalah upaya pertama untuk menghentikan domino..Sekarang terdapat kebangkitan dalam kawasan, suatu strategi balasan, dan Yemen adalah medan percobaan. Ini bukan semata tentang Yemen, ini tentang mengubah perimbangan kekuatan di kawasan.” Alani kemudian menyalahkan AS dan perundingannya dengan Iran yang dianggapnya mengakibatkan perluasan pengaruh Iran yang memicu intervensi Saudi. “Ini bukan semata bom nuklir Iran yang menjadi isu, tapi kelakuan Iran yang setara dengan bom nuklir.”

Para diktator di negara-negara Teluk ketakutan kehilangan jabatan, kekuasaan, dan hak-hak istimewa mereka. Ketakutan ini adalah kekuatan pendorong di balik tindakan-tindakan mereka. Bagaikan binatang terluka yang terpojok, rezim kediktatoran yang membusuk semakin menggila dalam pertarungan yang mana cepat atau lambat mereka akan kalah. Inilah juga mengapa mereka mengumukan pendirian angkatan bersenjata gabungan Arab untuk campur tangan di kawasan, serta menelikung imperialisme AS dan Eropa. Apakah hal ini akan terwujud, itu merupakan pertanyaan lain, karena para penguasa Arab sudah punya banyak kontradiksi satu sama lain, sama banyaknya dengan di dalam negeri masing-masing.

Pengerahan pasukan-pasukan darat ke dalam Yemen, bagaimapun juga merupakan tindakan yang gegabah dan mencerminkan manuver frustasi. Di samping kelemahan angkatan darat Saudi, Yemen punya dataran keras serta kau, Houthi adalah orang-orang yang sudah tergembleng dengan perang. Abdullah Saleh, presiden sebelumnya yang kini bekerjasama dengan Houthi, pernah melancarkan enam perang melawan Houthi, namun kaum Houthi tidak pernah sepenuhnya terkalahkan di daerah-daerah keras yang mereka diami di pegunungan utara. Rakyat Yemen juga bangsa kuat yang membenci imperialisme Saudi. Dengan demikian suatu pendudukan akan malah memperkuat pasukan-pasukan Houthi dan Al-Qaeda karena berhasil meraup dukungan di lapisan orang yang sebelumnya tidak mendukung mereka sebelumnya. Pada akhirnya, satu-satunya hasil hanyalah kekalahan bagi Saudi dan menguatnya wibawa Houthi di antara rakyat Yemen.

Shi'ite Muslim rebels hold up their weapons during a rally against air strikes in Sanaa

Laskar Houthi bersiap berperang

Saat yang bersamaan, Saudi meningkatkan kesempatan serangan di dalam wilayah Arab Saudi sendiri, dimana kaum Houthi menunjukkan bahwa mereka mampu beroperasi sebelumnya. Dalam perang Saudi terhadap kaum Houthi sebelumnya di tahun 2009, para pemberontak berhasil merebut daerah pegunungan dalam Arab Saudi, di wilayah perbatasan Jabal al-Dukhan dan menduduki dua desa dalam wilayah Saudi selama lebih dari sepekan. Daerah-daerah perbatasan Asir, Najran, dan Jizan yang aslinya merupakan wilayah-wilayah Yemen, telah dicaplok oleh Arab Saudi setelah kalahnya kerajaan Yemen pada tahun 1934. Terdapat suku-suku Syiah Zaydi di daerah tersebut yang punya kecenderungan lebih mendukung gerakan Houthi daripada pemerintah Saudi.

Karenanya, Saudi mungkin saja mampu menggulingkan kaum Houthi dari kekuasaan, namun Saudi tidak akan mampu memusnahkan mereka dan hanya akan mampu menggantinya dengan pemerintah lemah yang akan membutuhkan dukungan permanen. Ini akan berarti menyerap sumber daya Saudi dalam jangka panjang serta mengakibatkan instabilitas dalam negeri semakin parah, suatu hal yang akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Iran. Kemungkinan bubarnya Arab Saudi dalam jangka panjang merupakan kemungkinan implisit dalam keseluruhan situasi ini.

Lebih banyak tegangan
Tentu saja bagi Iran, perang Saudi dan koalisinya terhadap Yemen adalah provokasi besar. Tak diragukan lagi mereka akan semakin meningkatkan dukungan bagi para wakilnya di kawasan. Khususnya Bahrain, dengan populasi Syiahnya yang besar, akan menjadi sasaran Iran. Dalam pidato terkini, Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah di Lebanon mentakan: “Bahrain seperti negara lain di dunia dan terdapat kemungkinan untuk mengirimkan persenjataan dan pejuang bahkan ke negara-negara dengan kontrol paling ketat di dunia.

Mereka mungkin juga akan berintervensi semakin langsung di Irak dan Suriah. Namun apa yang lebih mengancam kepentingan Saudi adalah Iran akan menjalankan aktivitas-aktivitas mereka di daerah-daerah yang didominasi Syiah dalam Arab Saudi sendiri. Seiring dengan rezim-rezim boneka Arab memasuki krisis, iran tetap menjadi salah satu dari segelintir negara dengan militer yang kuat di kawasan. Ini akan berarti bahwa ketergantungan AS terhadap Republik Islam Iran akan semakin meningkat.

Akhirnya jelas Iran akan menjadi kekuatan dominan di kawasan. Ini akan membuatnya menjadi ancaman semakin besar bagi kelas penguasa Saudi yang akan meningkatkan konflik. Bagi Saudi ini adalah persoalan hidup mati, yang artinya tidak ada pilihan yang bisa dikesampingkan.

Krisis Imperialisme AS
Dalam analisis final, kekacauan, anarki, dan barbarisme yang menyebar di seluruh Timur Tengah bisa dikaitkan dengan imperialisme AS dan arogansi tanpa batasnya. Semenjak akhir Perang Dunia II (PD II), Imperialisme AS telah menyebar sektarianisme, fundamentalisme, serta menjadi pembeking kekuatan-kekuatan reaksioner di Timur Tengah yang begitu banyaknya. Bagaimanapun juga kini imperialisme AS tengah memasuki krisis yang membatasi jangkauannya. Dengan demikian kekuatan-kekuatan reaksioner yang dulu dibiakkannya sekarang tengah lepas dari kendalinya.

Saudi menuntut perubahan kebijakan AS namun ini tidak ditentukan oleh individu-individu namun oleh kepentingan-kepentingan material. Hubungan dengan Saudi telah berubah karena kondisi-kondisi material juga telah berubah.
Dalam tahun 1980an peran minyak Saudi di pasar dunia bagi AS begitu penting sampai-sampai AS bisa berperang untuk membela kelas penguasa Saudi untuk menggilas revolusi atau gerakan rakyat lainnya. Bagaimanapun juga hari ini hal itu tidak lagi berlaku. AS telah berubah dari pembeli terbesar minyak Saudi menjadi pesaing utamanya. Ini bukan hanya mencerminkan ancaman bagi laba/keuntungan kelas penguasa Saudi namun juga ancaman terhadap peran mereka dalam perpolitikan dunia. Akibatnya terjadi perang harga minyak yang dimulai Saudi di satu sisi untuk melawan industri minyak serpih atau “Shale Oil” dan di sisi lain untuk melawan Iran.

Jadi dalam hal harga minyak Saudi telah menjadi sumber instabilitas, bukan stabilitas. Perang harga Saudi melawan perusahaan-perusahaan shale AS mengancam satu juta pekerjaan AS. Sedangkan pada saat yang bersamaan Tiongkok juga telah menjadi pembeli minyak Saudi yang terbesar.

Saat ini, imperialisme AS tidak bisa dan tidak akan memotong hubungannya dengan Saudi yang krusial untuk mengamankan harga-harga energi dunia dan juga mengamankan operasi-operasi militer AS di Timur Tengah. Namun jelas hubungan itu kini berada di posisi paling lemah dalam sejarah Arab Saudi dan kini terdapat kesenjangan yang semakin melebar antara kepentingan kelas penguasa Arab Saudi dan kelas penguasa AS.

Jelas terdapat krisis imperialisme AS di Timur Tengah. Saudi (dan antek-antek Arabnya) membangun militernya sendiri di luar kendali imperialisme AS.
Israel secara terbuka berkonflik dengan Pemerintah AS, bahkan sampai menyadap perundingan AS dengan Iran dan memutar rekamannya dengan partai Republiken di AS. Israel secara terang-terangan juga bekerjasama dengan Al-Qaeda di Suriah. Hubungan antara AS dan Israel tidak pernah setegang saat ini. Setelah kemenangan Netanyahu di pemilu Israel, pemerintah AS tidak memberikan ucapan selamat. Sebaliknya, John Kerry, Menteri Luar Negeri AS, malah melayangkan surat mengkritik retorika Netanyahu selama Pemilu.

Sementara itu, ketergantungan Israel terhadap bantuan AS telah menurun secara relatif. Dari 20-30% PDB di masa lalu, banguan AS ke Israel kini tinggal sebesar 2% PDB. Israel juga dengan terbuka mempermalukan AS setiap hari dan bahkan Netanyahu mulai lebih memilih menemui Presiden Rusia Vladimir Putin daripada AS.

F120625FFMS06-e1368725473353

Turki juga dengan terbuka menentang AS di Suriah dan Irak, bahkan Turki bekerjasama dengan IS dan Al-Qaeda. Saat yang bersamaan Turki juga meningkatkan hubungannya dengan Rusia, mengizinkan Rusia membangun jalur pipa gas melalui Turki yang akan melangkahi Ukraina ke Eropa. Mesir, yang merupakan penikmat terbesar kedua atas bantuan militer AS, secara terbuka telah membangkang pada AS dan menjadi pemain kunci dalam kampanye militer terkini.

Sebagaimana yang terhadi dengan tiap imperium yang merosot, adalah koloni-koloni terjauhnya yang memimpin kekuatan untuk melakukan proses disintegrasi. Dalam akhir kekuasaan Kekaisaran Ottoman adalah Mesir yang memberontak dan mebangun militernya sendiri serta menjalin hubungan-hubungan bilateralnya sendiri dengan musuh-musuh dari Eropa. Bahkan mereka sampai bertindak mencaplok daerah-daerah Ottoman lainnya. Sultan Turki berperang melawan Mesir dan kaum Wahabi di kawasan namun pada akhirnya di tidak punya pilihan lain selain mengakomodasi mereka untuk mempertahankan kesatuan imperiumnya, namun semuanya sudah terlambat. Mesir merupakan cerminan kemerosotan umum Kekaisaran Ottoman, dan hal yang sama juga berlaku pada pembangkangan para sekutu AS di Timur Tengah yang menjadi tanda krisis kapitalisme dan semakin merosotnya imperialisme AS yang berujung semakin meningkatnya instabilitas di antara negara-negara di dunia.

Saat ini, AS tidak bisa memotong ikatannya dengan sekutu-sekutu lamanya, namun sekarang akhirnya AS terpaksa membutuhkan musuh bebuyutannya: Iran. Tanah yang dipijak para penguasa tengah bergolak dan kontradiksi-kontradiksi semakin menumpuk. Ini harus dipecahkan dengan satu atau cara lain.

Beberapa ahli strategi “pintar” menyebut hal ini sebagai “Paradigma Baru” suatu “Timur Tengah yang multi-polar” suatu perubahan strategi, dan sebagainya. Mereka mencoba mengutak-atik teori dan menyajikan situasi baru ini sebagai pilihan kelas penguasa, namun sebenarnya ini hanyalah kedok bagi inkompetensi imperialisme AS dan sekutu-sekutunya. Faktanya peristiwa-peristiwa hari ini justru paling menyoroti lepasnya kontrol kelas penguasa AS terhadap situas ini.

AS adalah raksasa berkaki lempung. Ia sudah terperosok oleh krisis mendalam yang menyeret semua aspek kehidupannya termasuk kekalahan-kekalahan militernya, demoralisasi dan membusuknya tentaranya, krisis ekonomi yang memolarisasi kelas penguasa dan massa yang membuatnya kesulitan mengobarkan perang-perang ofensif serta krisis politik yang merusak legitimasi sistem politiknya sepenuhnya. Semua faktor ini berarti bahwa AS tengah menurun sebagai kekuatan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dalam kekosongan ini, kekuatan-kekuatan yang lebih kecil berusaha masuk, suatu fakta yang makin memperdalam krisis dan meningkatkan tegangan-tegangan.

Situasinya sama bagi antek-antek AS di Timur Tengah. Saudi, Israel, dan Turki, semuanya adalah rezim yang terus-menerus berusaha menyelesaikan krisis dengan cara menyiapkan krisis lainnya. Ancaman terbesar bagi rezim-rezim ini adalah massa rakyat yang teradikalisasi oleh krisis kapitalisme dan revolusi Arab. Karenanya tiap rezim penguasa bersusah-payah mencari solusi jangka pendek untuk mempertahankan kekuasaan kejam mereka. Inilah kekuatan pendorong utama kelas penguasa dan dari sini muncullah semua barbarisme dan reaksi yang kini mendominasi Timur Tengah.

Bagaimanapun juga terdapat kekuatan yang jauh lebih penting yang tengah menyiapkan diri. Revolusi Arab yang mulai di tahun 2011 kini surut untuk sementara, namun persoalan yang menimbulkan revolusi masih ada. Kemiskinan, pengangguran, pemberangusan demokrasi justru semakin meningkat dan kelas penguasa tidak pernah selemah ini dihadapan massa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kediktatoran Al-Sisi di Mesir sangatlah lemah, dan hanya bisa berdiri karena massa tengah letih dan disorientasi setelah perjuangan bertahun-tahun. Namun revolusi Mesir tidak pernah dikalahkan dalam perjuangan terbuka. Massa ingat betul bahwa merekalah yang menggulingkan empat pemerintah hanya dalam tiga tahun. Faktanya, sebagai peringatan mereka telah menurunkan pemerintahan Al-Sisi yang pertama—pemerintahan Biblawi—pada musim semi 2014. Cepat atau lambat, kekuatan yang sama akan berhadap-hadapan melawan Sisi.

Di Turki pula masyarakat sepenuhnya terpolarisasi dan popularitas Erdogan semakin tergerogoti oleh naiknya pengangguran dan skandal korupsi setiap hari di sekeliling Erdogan dan kroni-kroninya.

Iran juga tidak ketinggalan. Di antara generasi yang lebih muda, legitimasi Republik Islam sangatlah rendah. Bagi mereka, Revolusi Islamis tidak mengandung muatan progresif namun hanya sekedar simbol kediktatoran, keterbelakangan, dan kemerosotan. Kebusukan dan korupsi di balik layar jauh dari idealisme kesalehan yang dikhotbahkan para mullah secara hipokrit. Saat ini massa mengamati perundingan dengan harapan hal tersebut akan mendatangkan pelonggaran sanksi-sanksi yang dipaksakan AS, namun cepat atau lambat mereka akan mulai bergerak lagi.

Tidak ada satupun rezim stabil di seluruh kawasan, dan bahkan Arab Saudi bisa melihat ledakan revolusioner sewaktu-waktu. Setelah puluhan tahun berkuasa, kapitalisme tidak mampu memecahkan persoalan massa rakyat Arab dan Timur Tengah. Sebaliknya, hari ini kita menyaksikan bangkitnya tribalisme dan wabah fundamentalisme serta barbarisme dengan skala yang tidak pernah sebesar ini.

Di tengah-tengah ini, rakyat Yemen, seperti juga di Irak dan Suriah, yang selama ini menderita kemiskinan dan penindasan selama puluhan tahun, hanya dianggap sebagai pion-pion di mata kelas penguasa. Bangsa besar yang memiliki banyak harta kebudayaan ini terjerumus ke dalam barbarisme dan tribalisme. Inilah yang terbaik yang bisa ditawarkan kapitalisme kepada massa.

Revolusi Arab telah menunjukkan bahwa saat massa bergerak semua kaum reaksioner bisa disingkirkan dengan mudah. Bagaimanapun tugasnya bukan hanya untuk menggulingkan para penguasa reaksioner namun juga menghapuskan negara reaksioner dan sistem kapitalis yang melahirkannya.

Tolak Perang Imperialis terhadap Rakyat Yemen!
Gulingkan Kapitalisme dan Imperialisme!

*Diterjemahkan dari tulisan Hamid Alizadeh sebagaimana diterbitkan situs In Defence of Marxism dan dipublikasikan ulang dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: