Australia: Demonstran Anti-Rasis Gelar Demo Tandingan Hadapi Demonstran Anti-Muslim

wpid-australia-demonstran-anti-rasis-gelar-demonstrasi-tandingan-hadapi-demonstran-anti-muslim.jpg.jpeg

image

Reclaim Australia, suatu organisasi sayap kanan yang baru dibentuk menggelar demonstrasi-demonstrasi anti-Muslim di kota-kota besar Australia pada Sabtu 4 April 2015. Dalam sebagian besar tempat merek langsung dikonfrontasi oleh demonstrasi-demonstrasi tandingan menentang rasisme dan sentimen SARA mereka.

Ratusan demonstran anti-rasis turun ke jalan di Sydney, Canberra, dan Brisbane. Demonstrasi anti-rasis terbesar terjadi di Melbourne dimana Partai Sosialis turut bekerja keras untuk membangun aksi massa.

Para demonstran anti-rasis berhasil melampaui jumlah para demonstran Reclaim Australia dengan skala sepuluh banding satu dimana sekitar 4.000 orang memenuhi Federation Square (Alun-alun Federasi) di Melbourne CBD (Central Business District atau Distrik Bisnis Pusat). Tujuan massa adalah menduduki ruang tersebut dan membubarkan aksi Reclaim Australia.

Manifesto Reclaim Australia secara eksplisit menarget umat Muslim. Mereka menyebarkan teori-teori konspirasi tentang umat Muslim yang jumlahnya hanya sebesar 2% dari total populasi di Australia, kelompok-kelompok yang terlibat dalam Reclaim Australia ingin membangun kembali gerakan nasionalis kulit putih, anti-imigran, dan anti-pengungsi. Poros Reclaim Australia tersusun dari berbagai kelompok ekstrim kanan dan neo-Nazi yang mencoba mencari basis lebih luas untuk merekrut anggota.

Suatu respon kolektif untuk menghadang ekspresi pendapat rasis serta penyebar kebencian bukanlah serangan terhadap kebebasan berpendapat. Sebaliknya respon kolektif ini merupakan aksi yang menuntut pertanggungjawaban terhadap kaum ekstrim kanan atas tindakan dan perbuatan mereka. Membiarkan kaum Neo-Nazi dan sekutu-sekutu ekstrim kanannya berarak-arakan secara terbuka di jalanan kota-kota besar Australia akan mencerminkan kemunduran tajam dalam perjuangan melawan rasisme serta perlawanan terhadap fasisme.

image

Meningkatnya kejahatan-kejahatan kebencian rasis dan anti-Muslim terjadi di seluruh Australia. Sasaran-sasaran serangan ini bukan hanya umat Muslim namun juga minoritas-minoritas etnis dan agama lainnya. Suatu gerakan ekstrim kanan yang dibangun berdasarkan gagasan-gagasan Reclaim Australia akan semakin meningkatkan serangan-serangan rasis demikian. Pelajaran-pelajaran terkini dari negara-negara Eropa menunjukkan perlunya menghadapi dan memberantas gerakan-gerakan ini semenjak masih kecil, karena gerakan-gerakan esktrim kanan tersebut berpotensi menyebarluas di masa-masa ketidakpastian ekonomi.

Biang kerok utama di balik momentum Reclaim Australia lebih bersifat umum di banding mereka yang terlibat di protes Reclaim Australia itu sendiri. Selama lebih dari satu dasawarsa para politisi telah menggunakan retorika anti-Muslim secara meluas sebagai pembenaran untuk mengerahkan pasukan-pasukan militer dalam perang-perang di Timur Tengah serta untuk pembenaran atas tindakan menyekap para pengungsi dan pencari suaka yang menuju ke Australia untuk melarikan diri dari perang-perang tersebut.

Baru-baru ini Perdana Menteri Tony Abbott juga mengeluarkan pernyataan yang menyerang umat Muslim Australia dan menyiratkan bahwa para pemimpin umat Islam di Australia harus bertanggungjawab terhadap gerakan-gerakan Islam politik sayap kanan di luar negeri. Alih-alih mencari solusi terhadap permasalahan dunia, Abbott malah berniat mengalihkan perhatian rakyat Australia dari krisis politik pemerintahannya.

Penggunaan propaganda anti-Muslim sebagai pengalih perhatian memang bermanfaat bagi pemerintahan Abbott saat ini dalam menghadapi oposisi terhadap kebijakan-kebijakan neoliberalnya yang tidak merakyat. Hari yang sama dengan demonstrasi Reclaim Australia, Kantor Pajak Australia mengumumkan bahwasanya diperkirakan sebanyak $60 miliar telah dibawa kabur perusahaan-perusahaan besar utama di Australia untuk menghindar dari kewajiban pajak. Beberapa perusahaan terbesar Australia terus membayar pajak yang sangat sedikit atau bahkan tidak membayar pajak sama sekali. Tingkat pajak perusahaan di Australia tetap merupakan salah satu yang terendah di antara negara-negara OECD.

Sementara itu, anggaran federal terakhir menyatakan memotong miliaran dolar terhadap anggaran jasa dan infrastruktur—ini upaya terbaru untuk meningkatkan laba bisnis dengan mengorbankan rakyat pekerja. Tak heran kalau jurang antara kaya dan miskin semakin melebar secara masif.

Rakyat jelata merasakan tekanan biaya hidup yang semakin meningkat. Mereka sadar atas semakin menurunnya akses mereka terhadap lapangan pekerjaan layak, pendidikan, kesehatan, dan perumahan layak. Sekilas pandang terhadap situasi ekonobi global, termasuk menurunnya harga-harga komoditas, membuat betapa tidak pastinya masa depan ekonomi Australia. Banyak tabungan para pensiunan dibuat terikat erat ke pasar properti semakin membuat banyak orang khawatir mengenai masa depannya.

Skenario macam inilah yang menumbuhkan krisis politik, sosial, dan ekonomi di seluruh dunia, termasuk juga Australia. Bagi kaum kanan, situasi ini menawarkan peluang untuk dijadikan tunggangan agenda konservatif sosial ekonomi yang anti-rakyat pekerja. Termasuk di antaranya adalah mengambinghitamkan minoritas etnis dan agama untuk menutupi tindakan pemerintah menggerogoti layanan-layanan sosial seperti layanan kesehatan publik, pendidikan, perumahan, dan layanan terhadap pengangguran. Mengambinghitamkan kita yang berada di bawah dan membtuhkan dukungan sosial artinya melepas tanggung jawab mereka yang di atas—mereka yang kepentingannya diwakilu kedua partai besar saat ini.

Manifesto Reclaim Australia penuh kebingungan dan berkutat pada teori-teori konspirasi tentang Muslim dan Islam, tapi mendapatkan dukungan dari lapisan masyarakat yang mengidap pemikiran rasis dan Islamophobic. Mereka yang menghadiri aksi Reclaim Australia tanggal 4 April lebih merupakan perwakilan dari poros ekstrim kanan daripada dukungan pasif lebih luas yang muncul di forum-forum internet. Kehadirannya juga mayoritas didominasi kulit putih Australia kelas menengah ke bawah, dari berbagai daerah regional. Meskipun demikian juga ada sejumlah orang dari latar belakang etnis lainnya, sebagian terdorong melalui gereja-gereja evangelical, yang menunjukkan potensi ekstrim kanan meluaskan basis seruannya dalam iklim begini.

Sedangkan di kota Melbourne, para demonstran anti-rasis bergandengtangan di seberang penjagaan polisi dan memblokade masuknya para pendukung Reclaim Australia ke dalam area. Dengan bantuan para polisi berkuda dan polisi anti-huru-hara, beberapa pendukung Reclaim Australia berhasil masuk menerobos blokade namun ratusan lainnya terpaksa pergi tanpa bisa mengikuti aksi.

Pauline Hanson, kemungkinan besar seorang rasis Australia yang paling terkenal, berpidato di aksi Brisbane sementara para anggota partai ekstrim kanan, Australia First Party, datang di Sydney. Sedangkan di Melbourne, Danny Nalliah, pemimpin partai ultra-konservatif, evangelical Christian Rise Up Australia Party adalah tokoh paling terkenal yang hadir. Nallilah dikenal lewat pernyataannya yang mengatakan bahwa kebakaran semak-semak Black Saturday adalah akibat azab atas tindakan negara bagian Victoria mendekriminalisasikan aborsi.

Memang ada masalah di Australia dan kita patut risau dengan masa depan. Bagaimanapun juga persoalan ini bukan diakibatkan oleh umat Muslim ataupun minoritas etnis dan relijius lainnya.

Bukanlah Muslim yang bertanggungjawab atas tingginya tingkat pengangguran dan kerja kontrak di Australia. Sebaliknya para pengusaha besar, lah, yang bersalah atas hal tersebut karena berusaha “memotong biaya” dengan mengorbankan rakyat pekerja. Bukan umat Muslim yang membuat harga rumah jadi tak terjangkau, melainkan para makelar/tuan tanah yang serakah dan bank-bank besar serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih menguntungkan para pengembang perumahan dan mengorbankan para pembeli serta penyewa. Bukan umat Muslim yang menerapkan pemotongan anggaran dan langkah-langkah pengetatan anggaran, melainkan Tony Abbott dan pemerintah Liberal-nya.

Satu-satunya minoritas yang pantas disalahkan atas permasalahan ini adalah kaum 1% yang maha kaya raya, penumpuk kekayaan yang dihasilkan masyarakat untuk kepentingan pribadinya dan mengorbankan rakyat pekerja. Merekalah yang menikmati kekayaan dengan menginjak-injak punggung kita. Kita sebenarnya punya kepentingan bersama untuk melawan mereka. Reclaim Australia berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan di tengah fakta bahwa kedua partai utama melayani kaum kaya raya dan tidak ada kekuatan besar yang membela kaum 99%.

Langkah pertama yang perlu kita ambil adalah memenangkan otak dan hati rakyat agar tidak terhasut dan terjerumus kelompok-kelompok macam Reclaim Australia dan sikap pengambinghitaman yang rasis dan anti-Muslim demikian. Salah satu caranya adalah dengan memberantas ideologi cacat mereka sekaligus menghentikan mereka dari mengorganisir aksi turun ke jalan dan penyebaran pendapat-pendapat SARA mereka. Taktik-taktik seperti demonstrasi tandingan massal yang diorganisir di Melbourne pada 4 April perlu ditiru dan diadakan kembali tiap mereka berusaha turun ke jalan. Aksi-aksi demikian bisa diperkuat bila serikat-serikat buruh juga mendukung dan ikut serta secara serius melawan upaya pecah belah terhadap rakyat dan kelas pekerja.

Akhirnya, untuk mengalahkan rasis kita perlu menghancurkan basis rasisme di masyarakat ini. Kita perlu menantang sistem yang dibangun di atas perampasan dan penindasan serta penghisapan terhadap massa rakyat untuk kepentingan elit penguasa. Satu-satunya jalan untuk melakukannya adalah membangun gerakan yang menyatukan rakyat dari berbagai latar belakang dan komunitas. Hanya melalui persatuan kelas buruh kita bisa mengalahkan Reclaim Australia, dan hanya melalui gerakan massa yang dipimpin kelas buruh kita bisa membentuk kembali masyarakat untuk menyediakan pekerjaan, rumah, dan layanan untuk semua orang.

*ditulis oleh Socialist Party of Australia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: