Buruh dan Mahasiswa di Malang Serukan Persatuan Lawan Penindasan

wpid-buruh-dan-mahasiswa-di-malang-serukan-persatuan-lawan-penindasan.jpg.jpeg

Lebih dari dua ratus buruh dan mahasiswa di Malang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Melawan (ARM), turun ke jalan pada Senin 4 Mei 2015, menyerukan: “Mayday – Satu Barisan, Satu Perjuangan”. Massa aksi yang menindaklanjuti peringatan Mayday berupa panggung rakyat 1 Mei depan DRPD Kota Malang lalu dan Hardiknas ini terdiri dari sembilan organisasi dari serikat buruh dan mahasiswa. Mereka mengecam rezim penguasa: Jokowi-JK yang semakin menindas serta menyengsarakan buruh dan sembari menyerukan kepada rakyat tidak ada pilihan lain selain bersatu, berjuang bersama, melawan penindasan.

Farooq, Wakil Koordinator Lapangan (Wakorlap) aksi memimpin yel-yel menolak politik upah murah. Dalam orasinya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengecam pemerintah yang terus melanjutkan bahkan membuat perjanjian internasional dan kerjasama pasar bebas dengan menekan upah buruh serendah-rendahnya. Ini diblejeti dengan menunjukkan bahwa dalam tiap forum internasional, Jokowi-JK selalu meminta kapital-kapital asing ditanamkan di Indonesia dengan iming-iming upah buruhnya murah, tanpa menuntut peningkatan kesejahteraan rakyat pekerja.

Luki Hari, petugas Hubungan Masyarakat (Humas) dari ARM menyatakan bahwa politik upah murah mewujudkan diri dalam bentuk sistem kerja kontrak dan outsourcing, perampasan upah (PHK dengan pesangon rendah atau bahkan tanpa pesangon sama sekali, pembayaran upah yang telat berbulan-bulan, dan tidak diberikannya tunjangan). “Sistem kerja kontrak dan outsourcing merupakan pencabutan tanggung jawab pemerintah terhadap hak rakyat pekerja untuk mendapatkan jaminan lapangan pekerjaan tetap yang layak. Karena melalui sistem kerja kontrak dan outsourcing, buruh bisa dipecat sewaktu-waktu, menderita upah murah, minim tunjangan, dan sulit berserikat bahkan juga rentan diintimidasi.”

Anggota Front Mahasiswa Nasional (FMN) ini melanjutkan, “Lebih parahnya lagi, sebenarnya banyak para konglomerat melanggar aturan soal sistem kerja kontrak dan outsourcing yang harusnya hanya diberlakukan pada beberapa jenis lapangan pekerjaan yaitu petugas keamanan (security), pekerja kebersihan (cleaning service), katering, dan sopir, pada kenyataannya diberlakukan hampir ke seluruh sektor industri. Pun, banyak buruh yang seharusnya langsung diangkat sebagai pekerja tetap setelah tiga tahun masa kontrak, ternyata dikelabui pengusaha dengan terus memperpanjang atau membuat kontrak baru, bahkan dalam beberapa kasus menurunkan statusnya lebih rendah lagi menjadi freelance atau pekerja lepas yang tidak punya upah tetap dan hanya diupah berdasarkan kuota. Namun pelanggaran-pelanggaran oleh para pengusaha ini hampir tidak ada yang disikapi apalagi dihukum pemerintah, karena pemerintah selama ini lebih berpihak pada pengusaha daripada berpihak pada buruh.”, tekannya.

Faizin dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI), juga mewakili ARM menyuarakan penolakan terhadap rencana pengupahan dua atau lima tahun sekali yang didesakkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) agar disahkan rezim Jokowi-JK. “UMK yang disahkan saja sebenarnya tidak sesuai kebutuhan hidup riil, bahkan juga banyak buruh diupah di bawah UMK, dan juga harga BBM, TDL, beras, dan seluruh kebutuhan hidup pokok naiknya dalam hitungan per bulan, maka apabila RPP Pengupahan dua tahun sekali ini disahkan jelas hajat hidup buruh yang sudah buruk akan semakin memburuk lagi.”, kecamnya.

“Ini juga masih diperparah dengan SJSN dan BPJS yang semakin memeras pendapatan buruh. Pendapatan buruh yang sudah sedikit, semakin habis karena membayar iuran BPJS untuk istri dan anak-anaknya.” Menurut Bung Faizin, sistem ini juga melanggengkan kastanisasi di layanan kesehatan, dimana mereka yang membayar iuran terendah berada pada posisi paling rentan karena pelayanannya tidak diprioritaskan. Apalagi bila buruh seumur hidupnya yang telah membayar iuran namun tetap sehat atau tidak berobat ternyata tidak mendapatkan uangnya kembali. “Sistem asuransi saja masih kembalikan premi, jadi SJSN dan BPJS ini lebih parah daripada sistem asuransi.”, kritiknya. “Selain itu bagaimana dengan rakyat yang tidak punya penghasilan tetap seperti tukang becak, tukang ojek, dan pedagang kaki lima serta pedagang warung kopi, yang kadang dalam hari-hari tertentu pendapatannya sangat rendah bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali? Karena itu kami menuntut cabut UU SJSN dan BPJS serta wujudkan sistem jaminan sosial yang sejati dengan ditanggung pemerintah 100%.”, tuntutnya.

Sebagai tindak lanjut penyikapan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2015 lalu, massa aksi juga menuntut dihapuskannya liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi pendidikan yang menjadi akar semakin tidak mampunya buruh dan rakyat pekerja serta keluarganya untuk mengakses pendidikan. Mereka juga menuntut diwujudkannya sistem pendidikan nasional yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada rakyat.

Aksi tersebut juga mengajak massa aksi untuk mengenang Sebastian, buruh yang meninggal setelah membakar diri, di stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada 1 Mei 2015 lalu. Perangkat aksi mengajak seluruh massa aksi untuk mengheningkan cipta dan mendoakan Sebastian, yang selama ini telah berjuang sebagai aktivis buruh dalam garis perjuangan melawan penindasan serta meneruskan perjuangannya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: