Pancasila, Manipol USDEK, dan Sosialisme Indonesia dalam Tinjauan Marxisme

wpid-pancasila-dan-marxisme.jpg.jpeg

image

Marxisme dan MANIPOL USDEK

oleh Ibnu Parna

Kita berjuang untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Masyarakat yang adil dan makmur ini belum menjadi kenyataan di Indonesia. Gambaran orang mengenai susunan masyarakat adil dan makmur ini berbeda-beda. Dengan segala kejujuran yang ada pada kita semua, sudah barang tentu gambaran tersebut harus berbeda dengan:

  1. Susunan masyarakat kapitalis, baik yang berhaluan kapitalis liberal maupun yang menempuh jalan kolaborasi kelas-kapitalisme negara (fasisme).

  2. Susunan masyarakat feodal yang berlandaskan produksi dan distribusi yang serba kuno.

  3. Susunan birokrasi dan korupsi yang main coba-coba menghidupkan kapitalisme nasional yang sudah ketinggalan zaman.

Presiden Soekarno menegaskan cita-cita masyarakat adil dan makmur hanya dapat dicapai dalam rangka sistem sosialisme. Orang bertanya sosialisme yang bagaimanakah yang hendak dicapai oleh Presiden Soekarno? Untuk ini Presiden telah menyediakan jawabannya, tiada lain ialah “sosialisme ala Indonesia”. Jalan manakah yang hendak ditempuh oleh Presiden Soekarno untuk mencapai “sosialisme ala Indonesia” ini? Presiden Soekarno menyempuh jalan USDEK. (U) Undang-undang Dasar 1945. (S) Sosialisme ala Indonesia. (D) Demokrasi Terpimpin. (E) Ekonomi terpimpin. (K) Kepribadian bangsa Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU) menerima “sosialisme ala Indonesia” dengan pengertian bahwa “sosialisme ala Indonesia” ialah “sosialisme yang anti Marxisme Leninisme”. Partai Nasional Indonesia (PNI) menafsirkan “sosialisme ala Indonesia” sebagai “sosialisme Pancasila”. Partai Sosialis Indonesia (PSI) mengartikan “sosialisme ala Indonesia” ini sebagai “sosialisme kerakyatan”. Kalau tiga pengertian ini saja dihubungkan dengan USDEK, maka masyarakat dihadapkan dengan masalah USDEK yang anti Marxisme-Leninisme, USDEK Pancasila, dan USDEK Kerakyatan.

Menurut Manifesto Politik Soekarno yang telah diumumkan oleh pemerintah sebagai Manifesto Politik Republik Indonesia, yang dimaksud dengan “sosialisme ala Indonesia” ialah sosialisme yang disesuaikan dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan rakyat Indonesia. Dengan ini menurut NU “disesuaikan dengan keadaan Indonesia” itu harus diartikan anti Marxisme-Leninisme. Bagi PNI tidak kurang dan tidak lebih daripada Pancasila dan begitulah PSI akan berkata bahwa sosialisme kerakyatan itulah kepribadian bangsa Indonesia. Dari segi ini dapatlah disimpulkan bahwa “sosialisme ala Indonesia” dengan USDEKnya yang telah diketengahkan oleh Presiden Soekarno itu pada hakikatnya belum lagi berkata apa-apa, karena masih dapat ditafsirkan kemana orang suka.

Dalam antara itu, baiklah diperhatikan bahwa mempelajari dan menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar sudahlah menjadi kewajiban dan menjadi ciri yang utama bagi kaum Bolshevik-Leninis. Ini adalah konsekuensi daripada filsafat yang dianutnya, yaitu Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis. Dengan senjata filsafatnya ini kaum Bolshevik-Leninis memperhatikan pertumbuhan di satu pihak dan keruntuhan di lain pihak. Kaum Bolshevik-Leninis mengorganisasi pertumbuhan yang ada dalam masyarakat dan dari dalam pertumbuhan ini diketemukan kekuatan sosial dan politik untuk membangun sosialisme. Dari segi ini “sosialisme ala Indonesia” dan USDEK yang diketengahkan Presiden Soekarno hanya dapat dijadikan susunan dan landasan ke arah masyarakat adil dan makmur bila justru Bolshevisme-Leninisme diindahkan sebagaimana mestinya.

PKI sebagai Partai Stalinis-Maois menitikberatkan dalam masalah Indonesia kepada perlawanan terhadap Imperialisme dan Feodalisme. Dalam perlawanan ini PKI bersedia memberi konsesi kepada borjuis nasional untuk secara de facto memimpin perjuangan ini, walaupun PKI tahu bahwa borjuis nasional merupakan borjuis gurem yang tidak dapat diharapkan untuk berjuang secara konsekuen melawan imperialisme dan feodalisme ini. PKI sangat berhati-hati dan lebih banyak memaafkan keraguan dan kesalahan borjuis nasional ini dengan alasan kalau-kalau sikap yang terlalu keras dari pihak PKI akan membikin lari borjuis nasional ke pihak Imperialis. Ringkasnya daripada mereka ini lari ke pihak Imperialis, PKI lebih suka membiarkan borjuis nasional ini secara terus-menerus mencairkan dan melemahkan susunan perlawanan rakyat. Dari segi ini PKI sebagai Partai buruh berada dalam rangka USDEK-borjuis.

Partai ACOMA sebagai Partai Marxis beraliran Lenin-Trotsky berpendapat lain. Demi memperkokoh perlawanan terhadap imperialisme dan feodalisme, perlawanan rakyat harus dibebaskan dari pengaruh keraguan borjuis. Karenanya USDEK dari tangan borjuis harus dipindahkan ke tangan buruh. Dari segi ini Partai ACOMA sebagai partai buruh berada dalam rangka USDEK-buruh. Di tengah-tengah gerakan USDEK – pekerja partai ACOMA memajukan sebuah Program Transisional antara lain:

  1. Meningkatkan demokrasi terpimpin yang berlandaskan pengaruh pribadi Presiden Soekarno menjadi demokrasi yang berlandaskan massa rakyat.

  2. Mengalihkan ekonomi terpimpin di tangan kaum birokrat menjadi ekonomi tersusun dan berencana dalam susunan Dewan Produksi, dimana pengertian teknis dan politik buruh ditumbuhkan dan dikombinasikan dalam perkembangan yang wajar.

  3. Mengakhiri kebiasaan para penguasa untuk mengatasi pertentangan sosial melalui penyelesaian administratif belaka.

  4. Menghidupkan inisiatif revolusi dengan memberantas benih-benih kultus pribadi, membuang segala ciri-ciri “sok kuasa”, “main paksa”, “raja perang”, dan membasmi “paternalisme”.

  5. Mengusahakan adanya satu Konfederasi Buruh dalam susunan yang berdaulat dan bebas dari birokrasi negara, yang dapat bertindak korektif dan kritis terhadap para penguasa (dan petugas) dalam lingkungan kebangunan masyarakat sosialis.

  6. Memperluas kata-serta kaum pekerja dalam politik, ekonomi, dan pertahanan.

  7. Menghubungkan milisi dengan keselamatan produksi untuk melindungi objek-objek ekonomi di kota dan desa dengan memupuk dan meningkatkan daya beli kaum buruh yang bersangkutan.

Ibnu Parna

Marxisme dan Sosialisme ala Indonesia

oleh Ibnu Parna

Semenjak tanggal 5 Juli 1959 kaum pekerja Indonesia berhadapan dengan apa yang disebut “sosialisme ala Indonesia”. Tanggal 5 Juli tersebut orang dibawa kembali ke Undang-undang Dasar 1945 dan dalam rangkaian dekrit Presiden kembali ke Undang-undang Dasar 1945 ini ditetapkan Pidato Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959, pidato mana telah diperinci menjadi Manifesto Politik Republik Indonesia yang mengandung persoalan-persoalan pokok dan program umum revolusi Indonesia. Manifesto ini disusun menurut cara berpikir dan keyakinan Presiden Soekarno yang kemudian disahkan oleh Kabinet Kerja yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno itu sebagai haluan negara.

Menurut Undang-undang Dasar 1945 haluan negara ditentukan oleh MPR. Bila MPR ini sudah dibentuk, dengan sendirinya mengenai haluan negara ini akan diadakan pembicaraan secara khusus. Sementara Manifesto Politik pemerintah Soekarno dinyatakan berlaku sebagai haluan negara. Pada hari Pahlawan tahun 1959 Presiden/Panglima Tertinggi/Perdana Menteri/Ketua Dewan Pertimbangan Agung Soekarno mengharapkan agar Manifesto Politik pemerintah yang sudah dinyatakan sebagai haluan negara itu dipelajari dan dipahami oleh tiap warga negara Indonesia, dan supaya seluruh lapisan masyarakat bersama-sama dengan alat negara, baik sipil maupun militer, mencurahkan segala tenaga dan pikirannya guna melaksanakan Manifesto Politik tersebut.

Dalam membahas Manifesto Politik ini kaum pekerja berpegangan kepada bunyi dari Manifesto tersebut mengenai “USAHA-USAHA POKOK” (PROGRAM UMUM) bidang mental dan kebudayaan ayat 3:

Revolusi kita tidak hanya meminta sumbangan keringat atau disiplin, tetapi juga tidak kurang penting ialah kebutuhan untuk menciptakan pikiran-pikiran dan konsepsi-konsepsi baru”.

Di bawah teropong Marxisme Revolusioner, Manifesto Politik pemerintah Soekarno mengandung beberapa kelemahan pokok. Kelemahan tersebut bersumber kepada penilaian yang salah mengenai revolusi Indonesia. Dalam hubungan ini baiklah diketengahkan disini, bahwa menjelang habisnya perang dunia II, berlaku perkembangan tingkat peralihan internasional dari perang imperialis (antara kapitalis internasional liberal dan fasis) ke perang pekerja melawan kapitalis, pada dewasa mana muncul perebutan kekuasaan dari tangan kaum yang punya, dalam rangka pertumbuhan revolusi sosialis seluruh dunia. Dari segi ini revolusi Indonesia pada bulan Agustus 1945 adalah bagian dari pada revolusi dunia dan harus disambut sebagai suatu kesempatan dan usaha memobilisasi rakyat dalam suatu revolusi kemerdekaan yang secara langsung menyerang perut kapitalisme internasional (imperialis) dalam rangkaian kebangkitan pekerja seluruh dunia. Kemerdekaan nasional yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah wadah bagi realisasi perubahan sosial di daerah kepulauan Indonesia. Begitu revolusi Indonesia pada bulan Agustus 1945 melahirkan wadah nasional yang demokratik dan menggelorakan perubahan sosial yang bersifat internasional. Revolusi Indonesia bersifat nasional menurut wadahnya dan internasional menurut isinya.

Menurut Manifesto Politik pemerintah, revolusi Indonesia bersifat nasional dan demokratik. Penilaian ini menurut pandangan Marxis Revolusioner adalah tidak lengkap, karena hanya menyinggung wada dari pada perkembangan revolusi. Kalau ada anggapan dari pihak pemerintah bahwa penilaiannya itu sudah lengkap, maka perlu diketengahkan disini, bahwa penilaian semacam itu adalah salah, tidak benar, karena penilaian tersebut secara subjektif menolak sifat internasional yang objektif daripada perubahan sosial yang menjadi tuntutan revolusi Agustus 1945. Dengan penilaian yang salah ini dapat dimengerti timbulnya gagasan yang, yang menginginkan perwujudan perubahan sosial dari kapitalisme kolonial ke kapitalisme nasional, gagasan mana yang bertentangan dengan perkembangan objektif yang menjurus ke sosialisme dunia.

Dalam Manifestonya pemerintah memahami adanya penyelewengan-penyelewengan dari masa yang lalu dan menegaskan bahwa revolusi Indonesia bukanlah menuju ke kapitalisme dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme. Dalam Manifesto dikemukakan bahwa hari depan revolusi adalah masyarakat yang adil dan makmur atau sebagai sering dikatakan oleh Presiden Soekarno “Sosialisme ala Indonesia”, yaitu sosialisme yang menurut formulasinya yang resmi adalah sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan rakyat Indonesia.

Karena Manifesto tidak memberi uraian mendalam mengenai hal-hal yang disebut khusus itu dalam rangkaian dan pengaruhnya terhadap apa yang disebut sosialisme ala Indonesia, maka dari segi perjuangan Marxisme Revolusioner pernyataan di atas masih mengandung banyak spekulasi bonapartisme, lebih-lebih kalau diingat, bahwa Manifesto yang dimaksud bersumber kepada kelompok borjuis kiri dan pada hakekatnya dapat diperkirakan sebagai kombinasi antara sosialisme reaksioner dan konservatif yang telah disinyalir oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Manifesto Komunis tahun 1848.

Dalam hubungan sinyalemen ini dalam bab “Tentang kekuatan-kekuatan sosial dari pada revolusi Indonesia disinggung sekedarnya mengenai peranan kaum pekerja seperti di bawah ini:

Dengan tidak mengurangi arti dari kasta-kasta dan golongan-golongan lain sebagaimana sudah sering ditekan-tekankan oleh Presiden Soekarno, kaum buruh dan kaum tani, baik karena vitalnya maupun karena sangat banyak jumlahnya harus menjadi kekuatan pokok dalam revolusi dan harus menjadi soko-guru masyarakat adil dan makmur di Indonesia”.

Mengingat sifat revolusi Indonesia yang nasional dan demokratik maka revolusi Indonesia adalah revolusi bersama dari semua kasta dan golongan yang menentang imperialisme-kolonialisme. Pendeknya revolusi Indonesia harus mendirikan kekuasaan gotong-royong, kekuasaan demokratik yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang menjamin terkonsentrasinya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat.”

Penilaian yang salah mengenai sifat revolusi yang sudah dibentangkan di atas dalam iklim “sosialisme ala Indonesia” melahirkan revisionisme yang tidak kurang berbahayanya dari pada “gagasan kapitalisme nasional”. Revisionisme dalam kalimat-kalimat yang menarik di atas telah mencoba menyembunyikan pertentangan kasta yang berlaku selama ini. Memang benar revolusi kita pada hari pertama dapat menarik semua kasta, karena memang semua kasta itu yang dilukai oleh fasisme Jepang. Tetapi setelah revolusi berkembang lebih jauh, masing-masing kasta kembali pada pangkalnya dan tinggal kasta pekerjalah yang dengan segala kesungguhan berkepentingan akan terwujudnya tujuan revolusi yang semula.

Dalam 14 tahun perjuangan kemerdekaan ini kaum pekerja Indonesia telah jauh meningkat kesadaran sosial dan politiknya dan kaum pekerja ini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kaum borjuis nasional bukan sahabat dan pimpinan yang baik dalam revolusi. Memandang pertumbuhan revolusi sekarang sebagai revolusi dari semua kasta adalah utopia, lamunan kosong.

Kembali Undang-undang Dasar 1945 tidak boleh diartikan mengajak kaum pekerja mundur kembali kepada status 14 tahun yang lalu. Kaum pekerja dengan pengalaman dan kemampuannya yang lebih meningkat sudah barang tentu menuntut status yang lebih meningkat dan tanggung jawab dan kata serta yang lebih besar dalam pertahanan, ekonomi, dan politik. Usaha untuk mengatasi keruwetan sekarang dengan menghidupkan kembali kolaborasi dengan borjuis nasional dalam suatu Front Nasional tidak akan dapat melahirkan efisiensi yang diharapkan.

Apa yang diperlukan sekarang ialah menghimpun kesadaran sosial dan politik kaum pekerja dalam susunan Front Pekerja yang merealisasi POLITIK PEKERJA YANG BERDAULAT untuk menyusun kekuasaan gotong-royong di antara kaum pekerja (bebas dari kolaborasi dengan borjuis) sebagai kekuasaan peralihan ke arah pemerintah rakyat tanpa kapitalis. Bagi kalangan yang berpengaruh tetapi karena kedangkalan politik, tidak mau mengerti dan menyesuaikan diri, serta cemburu dan mencurigai selalu perkembangan pekerja yang sudah maju, mereka ini di alam kesadaran sosial dan politik pada hakikatnya dapat diibaratkan “raksasa yang berjiwa gurem”. Pengaruh raksasa yang berjiwa gurem ini harus disapu.

Mengenai usaha dan cara untuk mencapai tujuan revolusi dalam Manifesto Politik antara lain disebut kalimat-kalimat di bawah ini.

Caranya harus revolusioner. Cara-cara yang reformis dan kompromistis harus ditinggalkan. Sistem liberalisme harus diganti dengan sistem Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi Indonesia asli dari zaman purbakala. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi kekeluargaan tanpa anarkisnya liberalisme dan tanpa otokrasinya diktator. Dalam melaksanakan Demokrasi Terpimpin harus dilakukan retooling dan herordening serta koordinasi di segala bidang. Syarat mutlak untuk berhasilnya revolusi seperti kita idam-idamkan ialah: bantuan seluruh rakyat. Tanpa bantuan seluruh rakyat Kabinet tidak akan mampu mencapai hasil sedikitpun juga.”

Apa yang disebut meninggalkan cara-cara revolusioner yang menghukum reformisme dan kompromis ini sesungguhnya banyak menimbulkan prihatin di antara kaum pekerja. Apa yang terang dimaksud dengan revolusioner itu bukan Marxisme Revolusioner. Apa yang jelas Manifesto Politik pemerintah adalah manifesto berdasarkan revisionisme dan kolaborasi dengan borjuis nasional. Bayangkan saja cara-cara revolusioner dalam rangka revisionisme dan kolaborasi dengan borjuis nasional. Di bawah teropong Marxisme Revolusioner, itu bukan revolusioner melainkan bendera belaka penutup muatan reformisme dan kompromis. “Revolusionerisme” semacam itu dalam perkembangannya pasti mengebiri serikat, partai, dan perwakilan, menolak koreksi massa dan lebih mengutamakan penyelesaian secara administratif daripada memobilisasi pendapat umum dan mengikutsertakan massa pekerja secara aktif dalam usaha perbaikan di segala bidang. Jelaslah untuk mengatasi persoalan Indonesia dibutuhkan pula obor dan petunjuk Marxisme Revolusioner, yaitu Marxisme aliran Lenin dan Trotsky hingga ada jaminan terlaksananya program di bidang politik, ekonomi, sosial, mental dan kebudayaan, keamanan, dan pembentukan badan-badan baru secara menguntungkan berjuta kaum pekerja.

Jakarta, 31 Desember 1959

*disalin dari tulisan-tulisan Ibnu Parna dalam Pamflet ACOMA berjudul “Di Bawah Panji Marxisme Aliran Lenin dan Trotsky” yang diterbitkan Yayasan Pekerdja.

Di Bawah Panji Marxisme Aliran Lenin dan Trotsky

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: