FIFA – Juara Piala Dunia Korupsi

TOPSHOTS
A demonstrator disguised as FIFA President Sepp Blatter takes part in a protest against the condition of workers in Qatar, on the sidelines of the 65th FIFA Congress on May 28, 2015 in Zurich. The FIFA presidential election should be postponed after football's world governing body became embroiled in two corruption storms, the European confederation UEFA said. FIFA and the world of football were rocked on its heels early on May 27, 2015 morning when Swiss police detained several leading FIFA officials.  AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI

Kita hidup di masa dimana seluruh institusi bukan hanya korup dan membusuk ke akar-akarnya namun juga disaksikan oleh sebagian besar kelas buruh, baik di Britania maupun di seluruh dunia. Para bankir dan pemodal memanipulasi pasar demi keuntungan jangka pendek; para politisi mengantongi apapun yang mereka bisa dapatkan sementara di sisi lain mereka menuntut agar kaum miskin menerima pemotongan upah dan penurunan layanan-layanan; individu-individu kaya dan berkuasa terekspos menjalankan tindakan-tindakan yang bejat dengan bebas tak tersentuh; para majikan menerapkan intimidasi dan represi dengan bantuan negara, dan berbagai tindak penindasan lainnya. Bagaimanapun juga kalau kita ajukan pertanyaan mana institusi yang paling penuh dengan korupsi, suap, dan penuh tipu-tipu? Banyak orang akan menjawab: FIFA.

FIFA Sepp Blatter

FIFA bukanlah suatu organisasi rahasia pemerintah dan bukan juga kartel kriminal, melainkan suatu otoritas internasioal yang mengelola olahraga—dalam hal ini sepakbola. Selama lebih dari satu dasawarsa, badan ini telah menjadi pusat skandal. Buku-buku telah ditulis, para jurnalis telah menggali data, bahkan investigasi-investigasi resmi telah dimulai…lalu dikubur. Semua berujung pada kesimpulan sama: FIFA penuh dengan kecurangan, rekayasa, suap-menyuap, dan sebagainya. Namun sampai sekarang tidak ada satupun penyelewengan yang ditindak, disanksi, dihukum, atau permasalahan tersebut yang dipecahkan. Para pimpinan FIFA dan anggotanya mampu terus beroperasi dengan kekebalan ekstrim dan aman dari tindakan.

Mafia Olahraga Internasional

Seiring dengan bertemunya para delegasi FIFA pada Mei ini, terjadi sesuatu yang parah. Operasi gabungan FBI AS dan Swiss berujung pada penangkapan dan pendakwaan terhadap tujuh pejabat FIFA yang diseret dari kamar-kamar hotel bintang lima oleh penyerbuan polisi dini hari. Seiring dengan diringkusnya mereka ke dalam mobil-mobil polisi, mereka pasti bertanya-tanya: apa yang berubah? Mengapa mereka melakukan hal ini pada kita sekarang?

Hal itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Setelah berpuluh-puluh tahun tak tersentuh, mereka pasti mengira bahwa mereka kebal dari tindakan apapun. Namun sekarang kita menyaksikan pembicaraan mengenai investigasi-investigasi lebih lanjut dan dakwaan-dakwaan lainnya. Jaksa umum AS telah muncul di TV di hadapan organisasi FIFA yang mencerminkan adegan investigasi senat di film mafia The Godfather II. Para delegasi FIFA pada pertemuan mereka di Swiss – suatu organisasi yang terpilih untuk menjadi markas FIFA karena undang-undang kerahasiaan finansial mereka – telah terpaksa bersembunyi di balik pintu-pintu tertutup, menghindari kejaran para wartawan. Kemiripan mereka dengan mafia sangatlah banyak. Ini merupakan prestasi langka bagi badan olahraga!

FIFA telah banyak berubah dalam lima puluh tahun terakhir. Dari organisasi olahraga resmi, dengan laki-laki berjas dan berdasi berbasa-basi, menjadi operasi multi-miliar dolar. Perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan telah dibuat dengan para konglomerat sedunia, “rekan-rekan” bisnis, perusahaan-perusahaan TV, dan pihak-pihak lainnya yang berakibat pendapatan FIFA meningkat berkali-kali lipat. Dalam teori, mayoritas uang ini harusnya didaur ulang ke berbagai badan persepakbolaan di seluruh dunia. Sampai mana ini benar-benar terjadi dan dalam bentuk apa, kita hanya bisa bertanya-tanya. Namun yang jelas, sepakbola telah menjadi bisnis raksasa.

Kemana Uang Mengalir

Pusat semua ini adalah Presiden FIFA, Sepp Blatter. (Menyatakan akan mengundurkan diri pada kongres luar biasa FIFA). Ia terus mempertahankan posisi privilesenya selama berpuluh tahun dengan mengeksploitasi peraturan voting di FIFA. Tiap badan nasional seharusnya punya hanya satu suara. Jadi Kepulaian Kenari punya kekuatan voting yang sama dengan Jerman, misalnya. Kini Blatter menyadari bahwa akan sulit untuk secara finansial mempengaruhi asosiasi-asosiasi nasional yang besar dan relatif mudah untuk mempengaruhi yang kecil. Badan-badan kecil ini, seringkali hanya punya pendapatan kecil, bisa dengan mudah dimenangkan dengan janji-janji pendanaan tambahan tanpa memecahkan bank FIFA. Mudah saja untuk mengalihkan kecurigaan bahwa badan-badan nasional besar akan meraup semua uang dan membiarkan asosiasi-asosiasi kecil membusuk. Sebagai tambahan, banyak badan ini, yang penuh dengan saudara-saudari dan keluarga yang berkuasa ini, bebas bepergian keliling dunia, tidur di hotel-hotel mewah, menikmati jamuan makan mahal, dan tentu saja, menerima hadiah-hadiah tak terhitung banyaknya.

Ini semua masuk akal kalau kita mengingat bahwa para delegasi FIFA juga berwewenang membahas dan menentukan tawar-menawar soal penyelenggaraan Piala Dunia tiap empat tahun sekali. Godaan untuk “membantu” orang-orang ini agar mengambil keputusan yang “tepat” sangatlah kentara. Begitupula saat mereka memilih tuan rumah penyelenggara Piala Dunia 2018 dan 2012, mereka memilih Rusia dan kemudian Qatar!

Seketika hasil voting diumumkan pertanyaan-pertanyaan langsung dilontarkan. Bagaimana suatu negara seperti Qatar bisa dipilih untuk menggelar kompetisi musim panas dalam temperatur yang begitu panas sampai tak ada seorangpun yang bisa tahan bertanding dalam 90 menit? Ini jelas tidak mungkin dan secara tergopoh-gopoh rencana kemudian diumumkan bahwa waktu penyelenggaraan dipindah dari musim panas menjadi musim dingin. Ini telah membuat marah para pejabat sepakbola Eropa dan AS, yang sudah menggendong kesepakatan-kesepakatan sponsor dan TV dan akan rugi bila terjadi gangguan macam demikian. Tak heran banyak orang bertanya: mengapa para delegasi tidak memikirkan hal ini sebelum memvoting? Jelas sebagian dari mereka telah dibayar untuk tidak berpikir. Mereka telah dibantu oleh para pejabat senior FIFA yang berkolusi dalam pengaturan-pengaturan ini. Tak heran saat hasilnya diumumkan, delegasi Qatar tidak bisa menyembunyikan kurang terkejutnya mereka terhadap pengumuman ini.

Bau Busuk Kemunafikan

Semenjak penangkapan FIFA dan penyangkalan Blatter, Blatter memenangkan pemilihan kembalinya sebagai presiden FIFA, suatu hasil yang diterimanya dengan pidato sangat aneh dan mengherankan. Dakwaan dan investigasi akan bertambah. Sponsor-sponsor, yang memulai pembusukan pertama kali dengan uang mereka, jelas tidak senang. Terdapat pembicaraan mengenai tindakan keluar dan boikot. Bahkan tokoh-tokoh seperti Platini telah pecah formasi dan menyerang status quo.

Ini tidak akan berlalu begitu saja. FIFA penuh dengan orang-orang yang tidak punya hubungan riil dengan sepakbola aktual—sangat sedikit dari kroni-kroni FIFA yang pernah bermain, melatih, atau memanajeri tim sepak bola—dan berada disana hanya untuk uang. Mereka tidak berkeberatan sama sekali meraup uang dan memilih negara seperti Qatar untuk menggelar Piala Dunia. Laporan-laporan mengenai buruh berupah murah yang digunakan untuk membangun stadion-stadion hanya mereka anggap angin lalu. Angkara massa di Brazil sebelum Piala Dunia terakhir lalu di 2014 juga tidak mereka anggap isu. Bagi mereka semuanya adalah tentang uang. Begitupula FIFA, yang kepentingannya hanyalah untuk kapitalisme.

US attorney general Loretta Lynch announces the arrest of senior members of Fifa

Mari Kita Tendang Kapitalisme Keluar dari Sepakbola

Ironi terbesar adalah perubahan nasib kroni-kroni FIFA bukan akibat penyalahgunaan suara untuk memenangkan Qatar namun karena dimenangkannya Rusia sebagai penyelenggara piala dunia setelah Qatar. Meskipun Rusia, seperti negara-negara sebelumnya telah memenangkan hak penyelenggaraan, dan jelas-jelas sangatlah “dermawan” terhadap para delegasi, serta kemenangan Rusia atas hak penyelenggara tidaklah kurang dipertanyakan, apalagi sebagai satu-satunya negara besar selain Australia dan Tiongkok yang belum menyelenggarakan Piala Dunia, namun saat ini perpolitikan dunia telah berubah. Rusia sekali lagi dipandang sebagai musuh oleh AS dan sekutu-sekutunya di Eropa. Amerika semakin mencari cara untuk membalas Rusia karena berani melawan mereka dalam berbagai isu, khususnya Ukraina. Apalagi karena dalam Olimpiade Musim Dingin sebelumnya di Sochi, Rusia mulai berani menggesek AS (dimana para wartawan TV sempat dipaksa menyampaikan reportase di hadapan patung raksasa Lenin), jelas ini membuat penyelenggaraan Piala Dunia 201 di Rusia merupakan sasaran yang sayang dilewatkan. Maka dimulailah penangkapan-penangkapan dan mereka yang menganggap dirinya aman kini merasa tidak aman.

Skandal yang tengah berlangsung ini tidak akan berhenti hanya pada Blatter dan FIFA. Pengaturan busuk yang kita saksikan disini tercermin di semua tingkatan sepakbola. Mereka semua beroperasi untuk mengeruk uang dan keuntungan tak peduli kalau itu sampai merusak sepak bola itu sendiri. Naiknya harga karcis stadion; berubahnya waktu pertandingan untuk menyesuaikan dengan TV; badan-badan sepakbola yang memperlakukan para suporter dengan semena-mena. Inilah bagaimana para suporter menyaksikan pertandingan saat ini. Skandal FIFA adalah contoh paling kentara dan busuk.

Semua kroni ini harus ditendang dan diganti dengan para perwakilan dari suporter, pelatih, dan komunitas-komunitas lokal. Kita perlu merebut sepak bola dari tangan para konglomerat dan kroni-kroninya agar sepak bola berjalan untuk keuntungan semua rakyat. Klub-klub sepak bola harus dinasionalisasi dan digunakan untuk keuntungan rakyat setempat. Secara internasional, demokrasi riil harus dibawa masuk ke badan-badan seperti FIFA agar mereka bertindak sebagaimana seharusnya, dan bukannya menjadi mesin pemerah uang yang dijalankan para pemeras dan gangster. Apa yang kita butuhkan adalah revolusi total!

*ditulis oleh Steve Jones dengan judul asli “FIFA: Winner of the World Cup of Corruption” sebagaimana diterbitkan In Defence of Marxism. Diterjemahkan dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: