Peristiwa Tiananmen 1989 – Aksi atau Reaksi?

wpid-peristiwa-tiananmen-1989-–-aksi-atau-reaksi.jpg.jpeg

image

Sudah merupakan suatu kenyataan bahwa pada tahun 1989 mayoritas massa rakyat dari Beijing sampai Berlin menghendaki penciptaan suatu demokrasi sosialis baru yang sepenuhnya diawasi dan dikontrol oleh massa. Ini bukan impian utopis. Pemikiran ini masih ada, suatu kekuatan yang kadang tersembunyi, kadang muncul, mampu meraih hati dan pikiran massa serta membentuk masa depan bumi manusia.

Saat mantan Perdana Menteri Zhou Enlai ditanya pendapatnya mengenai signifikansi historis revolusi Prancis, ia merespon dengan jawaban terkenal, ‘masih terlalu dini untuk dikisahkan’. Mungkin inilah nasib Peristiwa Tiananmen 1989.

Aksi massa para pelajar-mahasiswa menunjukkan suatu krisis mendalam pada reproduksi hubungan-hubungan kelas dan kekuasaan dalam sistem sosial birokratis di Tiongkok. Kaum birokrat dan pejabat partai yang berkuasa, terlumpuhkan hanya dalam beberapa hari setelah demonstrasi-demonstrasi, massa yang bersimpati dengan pelajar-mahasiswa menuntut diakhirinya korupsi, menuntut kontrol demokratis terhadap Partai Komunis, dan sistem hukum yang ditulis dengan jelas untuk menggantikan kekuasaan birokratis arbitrer.

image

Hampir segalanya masuk dalam cakupannya: kampanye-kampanye melawan korupsi, nepotisme, inflasi, brutalitas aparat polisi, birokrasi, privilese pejabat, penyensoran media, pelanggaran HAM, asrama-asrama mahasiswa yang penuh sesak, sampai pemberangusan demokrasi. Mengatakan bahwa demonstrasi-demonstrasi hanyalah untuk ‘menuntut demokrasi’ adalah oversimplifikasi atau penyederhanaan berlebihan.”

Kenyataannya adalah para pelajar-mahasiswa di alun-alun Tiananmen hanya punya pandangan yang samar mengenai demokrasi gaya barat. Protes mereka yang diarahkan sampai pada menentang penyalahgunaan sistem yang ada oleh para pejabat, merupakan bukti bahwa aksi-aksi tersebut lebih didorong oleh kemarahan terhadap pengkhianatan cita-cita sosialis daripada aspirasi terhadap suatu sistem baru.” (James Kynge, FT 4 Juni 2009).

Mei 1989 gerakan pelajar-mahasiswa menyebar ke massa perkotaan. Tiap respon yang diberikan oleh para pimpinan partai terhadap tuntutan-tuntutan massa semakin menunjukkan ketidakmampuan organiik dari birokrasi untuk bereaksi secara peka dan segera menangani perhatian serta kepedulian riil dari massa. Para pimpinan partai malah mengerahkan tentara untuk menggilas gerakan massa dengan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaannya yang mulai melorot dari genggaman tangannya.

image

Tanggal 4 Juni 1989, Tentara Pembebasan Rakyat membersihkan Alun-alun Tiananmen dan menggilas gerakan protes dengan tank dan peluru. Hari yang sama Solidarnosc memenangkan pemilu di Polandia. Bulan November, rezim Jerman Timur ambruk, diikuti kemudian oleh rezim Cekoslovakia beberapa hari kemudian, dan juga rezim Rumania yang jatuh pada Natal 1989. Akhir tahun 1991 Uni Soviet bubar. Bagaimana kita menilai signifikansi gerakan-gerakan demikian yang disambut dengan euforia dan berakhir dalam kekerasan, pergolakan, kekacauan, dan kehancuran?

image

Bagi mayoritas komentator borjuis yang menanggapi peristiwa-peristiwa ini, formula demokrasi sama dengan kebaikan, adalah kriteria cukup untuk menilai terlepas dari konsekuensi-konsekuensi yang dialami oleh massa rakyat. Dalam demokrasi pilihan apapun adalah pilihannya rakyat, dan tiap permasalahan dicap sebagai akibat lahirnya “kebebasan” baru atau “sisa-sisa” sistem lama.

Kaum Marxis mendukung gerakan-gerakan anti-birokrasi di semua negara ini. Kita berjuang untuk memperkuat sistem perencanaan, untuk merevitalisasinya, dan meregenerasi sosialisme. Revolusi-revolusi politik akan membebaskan masyarakat dari kekuasaan aparat birokrat korup dan menggantikannya dengan kekuasaan revolusioner dan demokratis oleh kelas buruh. Harapan kita adalah revolusi-revolusi ini akan menang dengan cita-cita komunis, merebut kekuasaan dengan kontrol langsung sekaligus dengan pemikiran, cita-cita, inisiatif, dan inspirasi dari massa rakyat. Kaum Marxis memperjuangkan perencanaan sosialis secara demokratis dan kebijakan revolusioner internasionalis.

Banyak komunis Tiongkok dan para padanannya di Soviet serta Eropa Timur mencerca gerakan 1989-1991 sebagai ‘kontra-revolusioner’ dengan menilai persoalan hanya berdasarkan hasil-hasil dasarnya. Sedangkan di Tiongkok sendiri, tidak hanya mayoritas anggota partai namun juga massa, menilai bahwa represi terhadap Musim Semi Beijing telah menyelamatkan Tiongkok dan membuka jalan pada modernisasi dan pembangunan pesat. Seksi-seksi elit penguasa bersandar pada kemajuan ekonomi ini telah mengganti ideologi resmi dari Marxisme-Leninisme dan Pemikiran Mao Tse Tung menjadi Konfusianisme dioplos dengan Adam Smith. Ini ditampilkan dalam Olimpiade Beijing dimana sejarah kuno dan mitos stabilitas dan keberjlanjutan telah menggantikan revolusi 1949 sebagai citra inti yang diproyeksikan Tiongkok ke dunia.

Meskipun demikian hantu komunisme masih menghantui para penguasa Tiongkok. Karl Marx menunjukkan kelas buruh sebagai kelas yang akan mengobarkan revolusi komunis.  Kelas ini sekarang secara objektif merupakan kekuatan sosial terkuat di Tiongkok. Buruh Tiongkok berjumlah lebih dari 456 juta jiwa adalah kelas buruh terbesar di dunia. Cita-cita Komunis atas kesetaraan, keadilan sosial, dan solidaritas adalah keyakinan utama buruh-buruh Tiongkok karena berhubungan langsung dengan kepentingan mereka. Karena bobot khusus sosial kelas buruh inilah, Partai Komunis hanya tinggal namanya saja sebagai partai yang berkomitmen pada sosialisme dan Marxisme.

Saat menengok ke belakang jelas bahwa dalam sapuan dan cakupannya, gerakan 1989 di Tiongkok dan di seluruh penjuru Eurasia, merupakan gerakan-gerakan sosial terbesar di sejarah manusia. Kegagalannya di Tiongkok mengakibatkan berkuasanya kembali kaum birokrat Tiongkok dan berlanjutnya dikuasainya massa dengan mengatasnamakan massa.

image

Cita-cita dan slogan-slogan yang ‘merengkuh benak massa’ merupakan hal yang benar dan sosialistis. Hal-hal demikian sesuai dengan cita-cita pengubahan masyarakat secara mendalam melalui revolusi politik anti-birokrasi. Kaum birokrat saat itu masih memainkan peran yang relatif progresif dalam pengembangan bangsa dan karenanya mereka mampu, tidak hanya menggilas gerakan namun juga memperkuat kekuasaan mereka selama satu generasi.

image

Sedangkan di Eropa Timur dan Uni Soviet, kaum birokrasi mengantarkan ekonomi ke gang buntu, kondisi objektif inilah yang memicu kejatuhan kaum birokrat yang lebih tajam dan lebih seketika dan di sisi lain malah memperkuat kekuatan kontra-revolusi kapitalis. Meskipun demikian disini berbagai hal tidaklah mutlak akan mengarah kesitu. Seandainya terdapat suatu kepemimpinan revolusioner maka arah berbagai peristiwa di berbagai negeri bisa dibelokkan ke arah yang berbeda. Sayangnya ini ditampilkan secara negatif, oleh kepemimpinan inkompeten dari kudeta Agustus di Uni Soviet pada 1991.

Kaum Komunis yang mencari resolusi terhadap simpul historis ini akan menemukannya dengan melihat pada konteks internasional dan merumuskan penalaran mereka dengan persyaratan objektif fundamental dari sosialisme: internasionalisme. Suatu gerakan anti-birokratis dan sosialis yang demokratis, baik di Tiongkok, Uni Soviet, maupun di negeri manapun di Eropa Timur, akan memicu percikan api yang membalikkan ‘jalan tak terhindarkan’ menuju kapitalisme. Suatu federasi negara buruh sosialis Eurasia di atas landasan pasar yang dipersatukan dan suatu ekonomi terencana demokratis, akan bisa mengembangkan ekonomi-ekonomi gabungan mereka dengan lebih cepat daripada ekonomi-ekonomi nasional yang terpisah-pisah. Itulah yang akan meletakkan landasan bagi sosialisme dunia.

Hari ini gerakan revolusioner Amerika Latin membuktikan bahwa mayoritas demokratik untuk sosialisme bisa dicapai, dipertahankan, dan disebarluaskan. Saat suatu kepemimpinan diberikan oleh suatu negeri, seperti yang ditunjukkan Venezuela, maka ini akan menular. (Tentu saja para komentator borjuis disini mencampakkan rumus mereka bahwa demokrasi sama dengan kebaikan).

Sekali lagi sudah merupakan suatu kenyataan bahwa pada tahun 1989 mayoritas massa rakyat dari Beijing sampai Berlin menghendaki penciptaan suatu demokrasi sosialis baru yang sepenuhnya diawasi dan dikontrol oleh massa. Ini bukan impian utopis. Pemikiran ini masih ada, suatu kekuatan yang kadang tersembunyi, kadang muncul, mampu meraih hati dan pikiran massa serta membentuk masa depan bumi manusia.

*ditulis oleh Heiko Khoo dengan judul aksi “Tiananmen Square 20th Anniversary – What is it’s place in history” sebagaimana dipublikasikan In Defence in Marxism.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: