Mengapa Para Buruh Pabrik Tiongkok Mulai Pelan Tapi Pasti Memenangkan Pertempuran Mereka Menuntut Hak-Hak Perburuhan yang Lebih Kuat

wpid-female-worker-final.jpg

image

Meningkatnya kesejahteraan di Tiongkok daratan dan berubahnya demografi memberi kekuatan pada para buruh pabrik seiring meningkatnya perselisihan industrial.

Saat para buruh berkumpul di sekeliling meja warung untuk mendiskusikan aksi mogok melawan para majikan pabrik sepatu mereka, aparat polisi merangsek masuk dan menyeret para pimpinan buruh.

Lebih dari 2.000 buruh di pabrik, yang memproduksi merk-merk luar negeri termasuk Coach, telah menghentikan mesin, mogok kerja, dan mendirikan kemah untuk menuntut tunjangan-tunjangan yang selama ini tidak dibayarkan majikan.

“Mereka mendobrak pintu dan melarang kami bergerak,” kata seorang buruh perempuan. Beberapa mengatakan bahwa polisi juga memukuli mereka dan seorang buruh perempuan memakai bandana besar menutupi luka-lukanya di punggung.

Para organisatoris ditahan tidak lebih dari satu hari, namun aksi walk out para buruh telah melumpuhkan produksi bulan lalu dan berminggu-minggu kemudian para buruh berhasil meraih kemenangan.

Demonstrasi di pabrik yang dimiliki pengusaha Taiwan yang dulunya terkenal akan upah murah dan kepatuhannya, telah menunjukkan bagaimana para buruh di dunia semakin lama semakin bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya.

“Sepuluh tahun lalu kami tidak paham sama sekali soal hukum atau membela hak-hak kami”, kata seorang buruh laki-laki, yang seperti kawan-kawannya tidak mau disebutkan namana karena takut diincar.

Buruh upah murah sudah sekian lama menjadi kunci bagi booming ekonomi Tiongkok berpuluh tahun lamanya dan aktivisme baru yang mulai bangkit ini telah mengkhawatirkan para pejabat pemerintah.

Pabrik di kota Panyu ini merupakan salah satu dari puluhan ribu pabrik di provinsi selatan Guangdong yang memproduksi segala hal mulai dari jeans denim hingga smart phone atau ponsel pintar.

Menteri Keuangan Lou Jiwei bulan lalu memperingatkan bahwa Tiongkok berisiko jatuh ke “jebakan pendapatan menengah” bila upah-upah tinggi membuat industri manufaktur berkurang labanya sebelum negeri ini bisa bergeser ke industri-industri yang kurang padat buruh, menjadi lebih padat nilai.

Ia menyebut perundang-undangan yang mempromosikan perundingan antara para buruh dan majikan sebagai “menakutkan”, dan menyalahkan “kekuatan serikat” yang berlebihan bagi kebangkrutan jamak di industri otomotif AS.

Terdapat 1.379 protes buruh di Tiongkok tahun lalu, jumlah ini berlipat tiga hanya dalam kurun tiga tahun, menurut Buletin Buruh Tiongkok yang bermarkas di Hongkong.

Itu termasuk pemogokan-pemogokan terbesar di Tiongkok selama puluhan tahun, dimana puluhan ribu buruh di Yue Yuen, pabrik lain di Guangdong yang membuat sepatu untuk Nike dan Adidas, memenangkan konsesi-konsesi meskipun terdapat penangkapan-penangkapan terhadap beberapa buruh.

Partai Komunis Tiongkok takut terhadap gerakan buruh independen dan hanya membolehkan satu federasi serikat buruh milik pemerintah yang mengklaim berkeanggotaan 290 juta pada akhir 2013, namun federasi serikat tersebut cenderung berpihak pada para majikan.

Namun para aktivis menyatakan bahwa para buruh semakin terberdayakan oleh kekurangan tenaga kerja dan hukum-hukum terbaru yang memberikan hak-hak lebih besar.

“Mereka bukan hanya sadar atas hak-haknya, namun juga paham bahwa mereka bagian dari kelas buruh, suatu kelas yang semakin lama semakin punya kekuatan dan kemampuan untuk menempa takdirnya sendiri,” kata Buletin Buruh Tiongkok.

Saat aktivis Wu Guijun tiba di pusat manufaktur Shenzhen 13 tahun lalu, hampir tidak ada pemogokan sama sekali, padahal upah bulanan sangatlah kecil hanya beberapa ratus yuan.

“Para buruh dulunya berjuang sendiri-sendiri dan jarang bicara soal membela hak-hak mereka,” katanya.

Sekarang para migran dari pedesaan ke kota-kota Tiongkok yang menjadi bagian besar buruh pabrik, telah berhasil mencapai pendapatan bulanannya sebesar 2.864 yuan atau 3.600 dolar hongkong atau 5.625.797 rupiah. (Terdapat kesenjangan pendapatan yang tinggi di Tiongkok dimana rata-rata gaji CEO di Tiongkok sebesar 355.150 yuan per bulan atau 703.968.921 rupiah per bulan. Berlipat-lipat dari gaji buruh biasa. Ini diperparah dengan biaya hidup tinggi dimana rata-rata rakyat miskin perkotaan di Tiongkok menghabiskan 46 persen upah mereka untuk makanan. Ini disebabkan naiknya harga akomodasi dan inflasi sejak 2013.ed)

Peningkatan ini didorong baik oleh meningkatnya kemakmuran dan penawaran dan permintaan: populasi usia kerja Tiongkok menyusut.

Para buruh sudah tergembleng, kata Wu. “Seiring dengan meningkatnya hajat hidup mereka, mereka mulai memperjuangkan penghormatan dan status yang pantas mereka dapatkan dari masyarakat.”

Wu terlibat aktivisme setela memimpin rekan-rekan kerjanya dalam protes saat pabrik mebel tempatnya bekerja ditutup mendadak tahun 2013.

Meskipun aksi mogok atau mengorganisir aksi walk-out seharusnya tidak ilegal, namun kenyataannya Wu ditangkap dan ditahan aparat polisi selama lebih dari satu tahun sampai jaksa mencabut dakwaan “menghimpun kerumuman untuk mengganggu ketertiban umum”.

Dengan ganti rugi yang diterimanya sebesar lebih dari 70.000 yuan atau 138.752.145 rupiah, Wu kemudian mendirikan organisasi hak-hak perburuhannya, yaitu 100 Million New Labourers Centre atau Pusat Baru Beratus Juta Buruh.

Dalam kantor sewaan yang penuh dengan pamflet hukum-hukum perburuhan Tiongkok, Wu mengadvokasi buruh-buruh muda tentang taktik-taktik pemogokan dan bagaimana menggunakan media sosial, meskipun terdapat ancaman terus-menerus berupa penganiayaan dan penangkapan oleh polisi.

“Pemerintah masih sangat khawatir terhadap aktivisme buruh,” kata Wu.

Para pejabat menghadapi dilema menaikkan hajat hidup rakyat jelata, sebagai bagian agar kekuasaannya didukung, namun di sisi lain harus menjamin laba-laba sehat bagi industri-industri setempat, seringkali dengan koneksi-koneksi resmi yang erat.

Pemerintah di satu sisi juga mengutuki pergolakan sosial dan menghendaki pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain Tiongkok menghadapi kompetisi upah buruh dari negara-negara lain di Asia.

Maka di hadapan naiknya kesenjangan, pemerintah Tiongkok selama satu dasawarsa lalu telah mengesahkan hukum-hukum bersejarah yang akhirnya membolehkan hak-hak buruh termasuk pembayaran jaminan sosial dari para pengusaha dan kompensasi saat pabrik dipindahkan.

Namun para buruh sepatu Lide tidak punya keraguan sedikitpun dimana keberpihakan para pejabat negara.

“Pemerintah disini cuma menekan kami para buruh. Mereka bicara mewakili kepentingan para majikan,” kata salah satu buruh selama lebih dari satu dasawarsa.

Saat artikel ini ditulis tidak ada perusahaan maupun polisi terkait yang mau dimintai komentar.

Setelah enam hari mogok kerja, para buruh akhirnya kembali kerja, mereka mengatakan mereka telah memenangkan konsesi-konsesi yang cukup.

“Pada dasarnya kami telah mendapatkan apa yang kami inginkan,” kata seorang buruh perempuan. “Namun upah kami masih rendah, ya, bagaimana kami bisa puas?”

*diterjemahkan Dipublikasikan 27 Mei 2015 di South China Morning Post  dengan judul “Why China’s factory workers are slowly winning their battle for stronger labour rights”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan

Comments
One Response to “Mengapa Para Buruh Pabrik Tiongkok Mulai Pelan Tapi Pasti Memenangkan Pertempuran Mereka Menuntut Hak-Hak Perburuhan yang Lebih Kuat”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] walaupun belakangan kaum buruh Tiongkok bangkit dan terus melakukan perlawanan balik. (Baca: Mengapa Para Buruh Pabrik Tiongkok Mulai Pelan Tapi Pasti Memenangkan Pertempuran Mereka Menuntut Ha…). Kaum kapitalis sangat diuntungkan dari kondisi demikian, apalagi mereka sangat menikmati […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: