Komunis Kartunis

wpid-kartun-dan-komunis.jpg.jpeg

image

Sepanjang ada kaum komunis, selama itu juga telah ada para kartunis. Terkadang, para kartunis dan komunis adalah orang yang sama. Friedrich Engels mengamati hal ini dalam sepucuk surat yang ditulisnya untuk kawannya Karl Marx di Oktober 1844:

“Saya sedang di Elberfeld, dimana sekali lagi saya bertemu dengan beberapa komunis yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Datanglah kesana kalau engkau mau, pergilah kemanapun, engkau pasti berjumpa dengan seorang komunis. Seorang komunis yang sangat berapi-api, seorang kartunis, dan seorang pelukis sejarah bercita-cita tinggi yang akan ke Paris dalam kurun waktu dua bulan. Akan kuhubungkan dia kepadamu…ia juga pasti sangat berguna sebagai seorang kartunis.

Engels sendiri adalah seorang kartunis. Karikaturnya tentang Kaum Hegelian Muda di “Die Berliner Freien” dan karikatur tentang Max Stirner sang Anarkis telah direproduksi hingga kini. Sedangkan di balik surat E. Voswinkel kepada Marx pada Januari 1849, Engels menggambar karikatur Frederick William IV dan sang borjuis Prussia terkait Pemilu Parlemen Prusia dengan sangat jitu. Marx mencoba menerbitkannya di “Brüsseler-Zeitung”.

image

image

image

Lenin pun mengpresiasi karikatur disana-sini. Yelena Stasova mengiriminya karikatur dalam peringatan ulang tahun 50 tahunnya, yang menggambarkan kaum Marxis sebagai anak-anak yang datang memberikan selamat kepada Narodnik Mikhailovsky pada ulang tahun ke-50 nya di tahun 1900. Stasova menulis bahwa pada saat ulang tahun Mikhailovsky, Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR) sedang berada di masa kanak-kanak, sedangkan kini telah dewasa. “Ini adalah hasil kerja, pikiran, dan bakatmu,” jelasnya.

Saat menerimanya, sang pemimpin Bolshevik tersebut memutuskan membagikannya dengan para tamu dan rekan-rekannya.

“Kamerad-kamerad, secara alamiah saya mulai dengan berterimakasih pada kalian untuk dua hal: Pertama, untuk ucapan-ucapan selamat yang disampaikan kepadaku hari ini, dan Kedua, terlebih karena membolehkan saya berpidato (Tepuk tangan). Saya pikir bahwa mungkin dengan cara ini kita bisa secara bertahap, tidak secara sekaligus, tentu saja, menemukan suatu metode yang lebih cocok daripada yang selama ini sering dilakukan, yang terkadang menghasilkan subjek karikatur-karikatur yang sangat luar biasa. Ini salah satu karikatur yang digambar hari ini oleh seorang seniman terkemuka dalam suatu perayaan terhadap ulang tahun demikian. Saya menerimanya hari ini dengan surat yang sangatlah ramah dan bersahabat. Maka karena kamerad-kamerad sekalian telah cukup berbaik hati untuk memberikan saya waktu dan tempat untuk berpidato, saya tunjukkan karikatur ini agar kawan-kawan semuanya bisa satu persatu memegang dan melihatnya, agar menyelamatkan kita semua dari perayaan-perayaan ulang tahun demikian.

Nikolai Bukharin – ekonom terkemuka partai – juga merupakan kartunis yang cukup berbeakat. Zinoviev, Lenin, dan Dzerzhinsky, semua pernah jadi corat-coretnya. Bukharin juga membuat beberapa gambar Stalin, laki-laki yang kemudian mengirimnya untuk dieksekusi, selama aliansi singkat mereka di tahun 1920an. Krzhizhanovsky dan Mezhiauk juga memberikan beberapa corat-coret. Silakan dilihat.

image

image

image

Karikatur pada dasarnya bersifat ilustratif. Dengan kata lain, mereka menyampaikan makna melalui sarana gambar-gambar dan bukan kata-kata. Namun teks juga seringkali menyertai karikatur-karikatur dan komik strip, baik sebagai deskripsi mengenai apa yang digambar maupun sebagai dialog (balon kata-kata yang berdialog antar karakter atau balon kata-kata berupa pemikiran bagi monolog internal).

Roland Barthes menjelaskan struktur yang menandai karikatur-karikatur dalam esainya “The Linguistic Message” atau “Pesan Linguistik”

“Apakah pesan linguistik bersifat konstan? Apakah selalu ada sesuatu yang tekstual di dalam, di antara, atau di sekeliling gambar? Demi menemukan gambar-gambar tanpa kata-kata, tak diragukan lagi kita harus kembali mengunjungi masyarakat-masyarakat tanpa alfabet, yaitu, semacam piktografik gambar; sebenarnya, sejak penemuan buku, hubungan antara teks dan gambar bersifat saling timbal balik; hubungan ini tampaknya selama ini baru sedikit dipelajari dari sudut pandang struktural. Apa struktur yang menandai “ilustrasi”? Apakah gambar yang menduplikasi beberapa benda informasi dalam teks, melalui fenomena pengulangan, ataukah teks yang menambahkan suatu benda baru berupa informasi kepada gambar? Permasalahan yang diajukan secara historis dari periode klasik, yang menyukai buku-buku bergambar (buku macam ini belum terbayangkan pada abad ke-18 sehingga fabel-fabel La Fontaine belum dilengkapi ilustrasi sama sekali), dan selama dimana beberapa penulis seperti Bapa Menestrier mengeksplorasi relasi-relasi antara yang figuratif dan diskursif. Hari ini, di tingkatan komunikasi massa, tampaknya pesan linguistik hadir dalam semua gambar: sebagai “caption”, sebagai kepala berita, sebagai artikel pers, sebagai dialog film, sebagai balon kata-kata komik strip; dimana kita melihat tidaklah cukup akurat untuk menyebutnya sebagai peradagan gambar: kita masilah peradaban tulis, karena menulis dan bertutur masih merupakan syarat struktur informasional “penuh”. Kenyataannya, hanya keberadaan pesan linguistik, bukan karena posisinya maupun panjangnya yang tampat berhubungan (suatu teks panjang hanya bisa menghimpun petanda total, berkat konotasi, dan petanda inilah yang berhubungan dengan gambar). Apa fungsi-fungsi pesan linguistik terkait pesan ikonis (ganda)? Tampaknya ada dua: menahan dan menyampaikan.

Sebagai mana bisa kita lihat dengan lebih jelas dalam suatu momen, setiap gambar bersifat polisemous; ia menyiratkan, yang terletak di bawah penanda-penandanya, suatu “rantai terapung” dari petanda-petanda dimana pembaca bisa memilih sebagian dan mengabaikan yang lainnya. Permasalahan polisemi berarti, dan permasalahan ini selalu muncul sebagai suatu disfungsi, bahkan bila disfungsi ini dipulihkan oleh masyarakat sebagai suatu pentas tragedi (seorang Dewa yang bungkam tidak bisa memilih tanda-tanda) atau pentas puitis (“kengerian makna” yang mendatangkan kepanikan di antara masyarakat Yunani kuno); bahkan di sinema, gambar-gambar traumatis berhubungan dengan ketidakpastian (atau kecemasan) kepada makna objek-objek atau sikap dan perilaku. Dengan demikian, dalam tiap masyarakat sejumlah teknik tertentu dikembangkan demi memperbaiki makna terapung petanda-petanda, untuk memerangi teror dari tanda-tanda tak tentu: pesan linguistik adalah salah satu dari teknik-teknik tersebut. Di tataran pesan literal, bahasa menjawab, kurang lebih secara langsung, kurang lebih secara parsial, pertanyaan Apa Ini? Bahasa membantu mengidentifikasi secara murni dan sederhana, elemen-elemen adegan dan adegan itu sendiri: ini merupakan persoalan deskripsi denotatif dari gambar(suatu deskripsi yang seringkali bersifat parsial), atau, dalam istilah Hjelmslev, suatu operasi (yang bertentangan dengan konotasi). Fungsi denominatif berhubungan dengan baik pada penahan di setiap makna objek yang dimungkinkan (didenotasikan), melalui jalan lain ke suatu nomenklatur; di hadapan sajian sesuatu (dalam Amieux ad), saya mungkin ragu mengindentifikasi bentuk-bentuk dan volume-volume; “caption” (“Nasi dan tuna dengan jamur”) membuat saya memilih tingkat persepsi yang tepat; membuat saya mengakomodasi tidak hanya pandangan saya namun juga inteleksi saya. Di tingkatan pesan “simbolis”, pesan linguistik tidak lagi memandu identifikasi namun interpretasi; hal ini menyusun suatu visum yang menjaga makna-makna denotasi untuk berkembang biak baik ke arah ranah-ranah yang terlalu individual (yaitu, batas-batas kekuatan proyektif gambar tersebut) atau ke nilai-nilai disporis; suatu iklan (d’Arcy) menunjukkan beberapa buah berserakan di sekeliling tangga; “caption”nya berbunyi (“Seakan-akan kalian petik dari taman sendiri”) membuat jarak suatu petanda yang mungkin (kekikiran, panen buruk) karena hal tersebut akan jadi iklan yang tidak menyenangkan dan mengarahkan pembacaan ke arah petanda yang menyanjung (watak alami dan personal dari buah-buah taman pribadi); “caption” disini bertindak sebagai kontra-tabu, ia melawan mitos buatan yang tidak disetujuinya, yang biasanya disematkan pada makanan-makanan kalengan. Tentu saja, di luar pengiklanan ini, penahanan bisa bersifat ideologis; bahkan hal ini, tidak diragukan lagi, merupakan fungsi utamanya; teks mengarahkan para pembaca di antara berbagai petanda gambar, menyebabkannya menghindari sebagian dan menerima lainnya; seringkali melalui pengiriman yang halus, ia memandunya dari jauh menuju suatu pemaknaan yang sudah dipilih jauh-jauh sebelumnya. Dalam semua kasus penahanan demikian, bahasa dengan jelas memiliki suatu fungsi penjelasan, namun penjelasan demikian bersifat selektif; ini merupakan persoalan bahasa metal diaplikasikan bukan pada keseluruhan pesan ikonis namun hanya pada tanda-tanda tertentunya; teks benar-benar merupakan hak inspeksi penciptanya sekaligus masyarakat terhadap gambar: penanaman adalah suatu cara untuk mengontrol, hal ini mengandung tanggung jawab, menghadapi kekuasaan yang diproyeksikan tokoh-tokoh tertentu, sebagaimana penggunaan pesan; dalam kaitannya dengan kebebasan petanda-petanda gambar, teks memiliki suatu nilai represif, dan kita bisa melihat bahwa suatu ideologi dan moralitas masyarakat pada pokoknya ditanamkan di tingkat ini.

Penanaman adalah fungsi paling sering dari pesan linguistik; kita seringkali menghadapinya dalam fotografi pers dan pengiklanan. Fungsi penyampaian lebih langka (setidaknya terkait gambar tetap); kita menemukannya utamanya di karikatur dan komik strip. Disini bahasa (umumnya suatu fragmen dari dialog) dan gambar berada dalam hubungan saling melengkapi; kata-kata merupakan fragmen-fragmen dari sintagma, sebagaimana pula gambar-gambar, dan kesatuan pesan muncul pada suatu tingkat lebih tinggi: dengan demikian, anekdot, diegesis (yang menegaskan bahwa diegesis harus diperlakukan sebagai suatu sistem otonom). Jarang dalam gambar tetap, kata-sebagai-penyampaian ini menjadi sangat penting di sinema, dimana dialog tidak memiliki fungsi penjelasan sederhana namun sebenarnya mengajukan tindakan dengan memasukkan, dalam rangkaian pesan, makna-makna tertentu yang tidak ditemukan dalam gambar. Dua fungsi pesan linguistik tentu saja bisa saling berada berdampingan satu sama lain dalam keseluruhan ikonis yang sama, namun dominasi satu atau lainnya jelas bukan merupakan persoalan tidak adanya perbedaan ekonomi umum dari karya; saat bahasa memiliki nilai diegetik penyampai, informasi menjadi lebih “berbiaya”, karena menuntut masa belajar terhadap suatu (bahasa) kode digital; saat hal itu memiliki nilai substitutif (penahan, pengontrol), gambar lah yang menjalankan tugas informasional, dan karena gambar bersifat analogis, informasi dalam beberapa hal menjadi “lebih malas”: dalam komik strip-komik strip tertentu yang dimaksudkan untuk dibaca dengan cepat, diegesis pada pokoknya ditanamkan pada kata-kata, gambar menghimpun informasi atributif dari tatanan paradigmatik (status stereotip dari karakter-karakter): pesan “berbiaya” dan pesan diskursif dibuat untuk bertepatan satu sama lain, agar pembaca yang buru-buru tidak terganggu oleh “deskripsi-deskripsi” verbal, yang disini disematkan pada gambar, dengan kata lain, sistem yang lebih tidak “melelahkan”.

Adorno di sisi lain memiliki pandangan yang lebih suram terhadap komik strip, sebagaimana juga pandangannya terhadap produk-produk budaya massa lainnya. “Hasrat untuk partikuleritas”, tulisnya dalam Minima Moralia “telah tertimbun padahal masih pada tahap kebutuhan, dan direproduksi di semua sisi oleh budaya massa, di atas pola komik strip. Apa yang dulunya disebut intelek kini telah digantikan oleh ilustrasi-ilustrasi.” Tentu saja disini ia mengacu pada gambar-gambar yang direpreduksi di skala sosial untuk konsumsi seketika. Bukan corat-coret.

Saya tinggalkan pembaca dengan karikatur-karikatur tentang para revolusioner dan intelektual radikal terkenal yang dibuat oleh almarhum David Levine, karikatur NYRB, ditambah beberapa sketsa menghibur dari August Bebel. Silakan dinikmati.

image

image

image

image

image

image

image

image

*diterjemahkan dari tulisan Ross Wolfe sebagaimana dipublikasikan The Charnel House. Diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: