Mural di Belakang UIN Maulana Malik Ibrahim

wpid-mural-belakang-uin.jpg.jpeg

Seperti di kota-kota lainnya yang semakin membesar, keberadaan graviti atau mural semakin banyak bermunculan di berbagai dinding. Baik di jalanan Soekarno Hatta, pemukiman padat sekitar RSSA, maupun di dinding-dinding luar kampus. Para pejalan kaki atau pengendara di jalan belakang UIN niscaya tahu bahwa tembok-tembok putih kelabu kampus seperti kanvas-kanvas kosong yang minta disikat. Beberapa seniman jalanan berbaik hati menutup bata dan beton menjemukan disana dengan mural.

Berbeda dengan mayoritas mural pada umumnya yang lebih menampilkan identitas serta kaligrafi maupun tanda yang hanya bisa dibaca kelompok-kelompok tertentu, mural-mural di tembok-tembok belakang UIN sengaja dibuat dengan huruf dan gambar yang langsung bisa dibaca dan dipahami. Hampir semua mural disana secara eksplisit (bahkan keras) merupakan mural yang dibuat seniman-seniman dengan perspektif kiri.

Bila kita berangkat dari arah Jln. Veteran, kita bisa menemukan mural pertama di sebelah kanan jalan, yaitu mural Mayday. Dalam mural tersebut digambarkan orang berbadan besar tapi berwajah muram dengan tulang pipi menonjol memakai topi caping merah. Ia memunggungi gedung-gedung pencakar langit yang bersesakan dan pabrik-pabrik yang mengepulkan asap-asap hitam ke udara. Sedangkan di hadapannya terlukis tulisan Mayday dalam huruf kapital dengan ukuran besar dan diakhiri tanda seru. Semuanya dengan latar belakang langit berwarna kuning kemerahan.

Semakin mendekati gerbang belakang, mural dan corat-coret di dinding tidak sekaya warna dan sepenuh mural pertama yang tadi kita temukan. Boleh jadi karena mereka semakin dekat dengan pos penjagaan satpam. Meskipun demikian kata-kata yang dilontarkan justru jauh lebih tajam. Ada “Capitalism game is over”, “Palestina akan segera merdeka”, “Sedekah untuk melawan kapitalisme”, dan “Kemiskinan adalah kejahatan negara”. Dalam kedua seruan terakhir ini ada lambang-lambang Anarkisme. Apakah ini memang mewakili ideologi atau perspektif seniman mural yang bersangkutan? Kita hanya bisa bertanya-tanya.

Namun anehnya di dinding sebelahnya kita juga menemukan mural yang menyerukan “Tutup aurat lebih terhormat”. Apakah ini menunjukkan tendensi keIslaman sang seniman? Apakah seniman adalah mahasiswa/mahasiswi UIN yang dipengaruhi ajaran-ajaran di perkuliahannya? Lagi-lagi kita tidak bisa tahu pasti. Namun menariknya tulisan tersebut dilengkapi dengan tiga gambar stensilan warna oranye berupa perempuan berhijab. Dari sini kita bisa merenungkan mengapa aurat dan penutupan aurat diidentikkan atau diarahkan dengan para perempuan? Mengapa perempuan dengan kepala dan rambut terbuka (serta terkadang bagian torso juga) lebih sering diserukan untuk ditutupi sementara laki-laki yang bercelana pendek dan menampakkan lutut hampir tidak pernah diserukan menutup aurat? Bagaimana sebenarnya hubungan antara aurat dan kehormatan? Ini tentu pertanyaan-pertanyaan wajar yang bermunculan saat kita menyaksikan mural demikian. Walaupun begitu kalau kita melihat lebih dekat dan lebih cermat gambar stensilan perempuan berhijab tersebut maka kita mendapati bahwa ketiganya menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. Apakah ini berarti tulisan yang menyertainya lebih merupakan tulisan satiris?

Setelah gerbang belakang yang ada pos satpam di dalamnya, kita mendapati tembok-tembok berisikan mural atau corat-coret dengan nada yang lebih eksplisit dan bahkan keras. Pertama, corat-coret bertuliskan “Komunis vs Kapitai” dalam huruf kapital berwarna merah. Kedua, “Sistem Taek” dalam huruf besar warna hitam yang meluruh ke bawah. Ketiga, ini yang gampang luput dari pandangan mata, gambar warna coklat berupa labirin dengan bentuk paling dalam menyerupai botol cola.

(Kalau pembaca bingung memikirkan apakah sang/para seniman mural adalah orang anarkis, komunis, atau anarko-komunis, saya lebih bingung bagaimana makian-makian bisa menghiasi belakang mural kampus relijius? Bagaimana bisa muncul kontradiksi mencolok begini?)

Sebenarnya kata-kata kasar atau bahkan makian bukan barang baru atau bahkan barang langka dalam kritik-kritik politik dan protes-protes sosial. Dulu rakyat Nicaragua pernah menggelar aksi massa dengan membawa spanduk bertulisan “Nixon you’re son a bitch!” dalam huruf kapital. Zack de La Rocha menge-rap sambil mengumpat “Fuck you! I won’t do what you told me” dalam “Killing in The Name of” dan banyak lagu Rage Against The Machine lainnya. Bahkan Socialist Alternative di Australia memakai dan menjual kaos-kaos hitam bertuliskan “FUCK TONY ABBOTT!”.

Semuanya memang terdengar kasar sekali tapi tentu saja tidak ada apa-apanya dibandingkan kekasaran pemotongan anggaran besar-besaran dan perlakuan kejam terhadap pencari suaka, pasukan reaksioner Contras yang dibeking CIA dan Imperialis AS, serta invasi ke Irak dan Afghanistan. Apalagi kalau kita ingat bahwa toh kelas penguasa penindas juga tidak (sok) alim-alim amat. Mereka juga kerap kelepasan maki-maki dan misuh-misuh. Ingat bagaimana Reagan bilang “He is son of a bitch, but he is our son of a bitch!” untuk membalas kritikan wartawan yang menggugatnya mengenai berbagai pelanggaran HAM diktator-diktator antek AS di Timur Tengah.

Saya jadi ingat suatu malam, bapak saya pulang dari tempat kerjanya dengan mengendarai motor honda legendanya yang butut. Tapi kali itu di lampu depan kusamnya terpasang selotip yang merekatkan tulisan dari kertas print-printan dengan font arial black ukuran 16 berbunyi: BUSH ANCEN KEAT.

Sayangnya peristiwa itu berakhir dengan “Sad Ending”. Bapak malah dimarah-marahi Ibu. Ibu yang sama yang mengajar anak kelas dua SD dan menanamkan “bahasa menunjukkan bangsa” serta selalu menampar anak-anaknya setiap kali mereka mengumpat.

Saya harap para pembaca yang mengunjungi situs ini tidak terganggu, tetap menjalankan puasa dengan lancar, dan tidak tergoda untuk turut mengumpat. Tapi kalau toh terpaksa mengumpat, mengumpatlah dengan tepat guna. Mengumpatlah dengan baik dan benar.

image

image

image

image

image

Comments
One Response to “Mural di Belakang UIN Maulana Malik Ibrahim”
  1. musnahkan negara! mengatakan:

    saya kira itu dibuat juga untuk mengkritik remaja remaja labil yang hanya bisa corat coret tembok gk jelas juntrungannya cuma menampilkan tulisan tulisan nama komunitas atau apalah itu namanya tanpa makna dan perlawanan hanya sekedar gaya gayaan keren kerenan gak jelas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: