Buruh dan Mahasiswa Berdiskusi, Belajar, dan Bersolidaritas dengan Rakyat Yunani

wpid-img_8221.jpg

image

Selasa malam (7/7, 2015), buruh dan mahasiswa berpartisipasi dalam malam solidaritas dan diskusi “Krisis Yunani dan Jalan Keluarnya” yang diadakan Militan Indonesia di Joglo Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG), Surabaya.

Yohana Ilyasa dari Militan Indonesia membuka diskusi dengan memaparkan, “Seperti banyak negara lain, Yunani bisa dikatakan sebagai salah satu negara maju namun kita tahu bahwa watak kapitalisme adalah anarki dalam corak produksi. Kapitalisme kelihatannya telah menawarkan banyak perkembangan dalam peradaban manusia namun kapitalisme tidak bisa lagi diharapkan untuk mengembangkan tenaga-tenaga produktif jadi dimana banyak sekali kelimpahan justru di sisi lain bersanding dengan ketimpangan sosial tinggi.”

Pengelola Toko Buku Buruh Membaca ini melanjutkan, “Kita bisa lihat Yunani adalah salah satu negara yang menerima dana talangan. Seperti yang bisa kita lihat rupanya dana talangan tidak cukup mampu mengeluarkan Yunani atau negara manapun dari krisis. Krisis adalah watak internal kapitalisme. Tidak akan bisa dihindari. Itu niscaya akan terjadi dari waktu ke waktu.”

Sony Prasetyo, petugas penuh waktu Militan Indonesia kemudian memberikan pengantar diskusi. Ia menyatakan bahwa untuk memahami krisis di Yunani pada khususnya dan di Uni Eropa pada umumnya, kita perlu memahami latar belakang pembentukan Uni Eropa. Latar belakang ini bisa dilacak bahkan sejauh pasca Perang Dunia II dimana terjadi booming kapitalisme.

“Boom kapitalisme ini terutama karena Jerman hancur. Maka Prancis mendominasi Eropa. Kedua negara ini mencoba membangun dominasinya di Eropa pasca PD II. Ini watak Imperialisme Jerman dan Prancis pasca PD II. Namun karena PD II menghancurkan kekuatan produksi bangsa, pasar juga hancur, kita menyaksikan pembagian koloni baru. Permintaan baja yang meningkat pasca PD II membuat kerjasama ekonomi ini memungkinkan bagi kapitalisme saat itu. Pasar yang masih terbuka dan permintaan masih tinggi memungkinkan kerjasama ekonomi antar negara. Periode ini ditandai dengan persatuan, asosiasi, dan kerjasama perdagangan. Ini kemudian meluas menjadi European Community atau Masyarakat Eropa.”

“Banyak yang memandang bahwa ini tidak mungkin terjadi. Namun lebih banyak yang meyakini termasuk di Yunani. Bahwa inilah jalan keluar. Namun kapitalisme pada dasarnya memainkan kompetisi. Yang kuat memakan yang lemah. Basis penyatuan mata uang lemah karena kapitalisme bersiklus boom and slump. Tidak bisa mengatasi batasan-batasan sempit kapitalisme dalam negara bangsa. Selain itu juga karena negara-negara yang dibawahi Jerman dan Prancis cenderung lemah. Lemah kekuatan produksinya sehingga susah mendominasi pasar Eropa. Jerman menuntut lebih ke Yunani namun Jerman juga menutup diri dan mendominasi juga. Mustahil mendamaikan negeri-negeri yang kekuatan produksinya lemah dengan yang kuat. Pasti ada dominasi.”

“Sekarang kemajuan kapitalisme mungkin masih bisa mengatasi kontradiksi ini. Saat negara maju ingin mendominasi negara seperti Yunani pasti ada defisit neraca perdagangan. Yunani lebih sering mengimpor dari Jerman susah menutupi dengan ekspor ke Jerman. Lama kelamaan defisit ini menjadi hutang dan menelan Yunani pada 2008.”

“Disinilah kita menyaksikan apa yang digembar-gemborkan bahwasanya kapitalisme sebagai akhir sejarah adalah non sense. Kapitalisme hari ini terjerumus krisis dan para ekonom pesimis mengenai prospek akhir krisis. Jerman yang kuat dan mendominasi selama beberapa dekade di satu sisi juga mempertahankan upah murah. Inilah salah satu kunci kekuatan jerman: Upah murah. Sehingga punya cadangan uang untuk bail out negeri lainnya.”

“Pada periode saat ini ada ancaman bahwa hutang Yunani ke Jerman tidak terbayar. Pihak kreditor akan memberikan kredit dana talangan untuk meningkatkan ekonomi Yunani agar hutang Yunani bisa terbayar. Situasi berbalik arah. Yunani gagal membayar hutang bahkan SYRIZA sendiri sudah menolak bantuan dengan alasan tidak bisa diajak kerjasama. Krisis yang membawa pemerintahan kiri berkuasa di Yunani adalah manifestasi sejarah. Dalam periode damai kekuatan kiri adalah minoritas. Rakyat Yunani mempercayakan pada SYRIZA yang menentang pemotongan anggaran. Namun dalam perjalanannya SYRIZA sendiri tidak punya perspektif untuk menumbangkan kapitalisme. Sehingga akhirnya bergantung pada kapitalisme.”

“Saat ini Eropa memiliki tingkat pengangguran sangat tinggi. Dari 2008 sampai 2011 dari 8,2 jadi 13,3 persen. Secara keseluruhan di Zona Euro belum termasuk Yunani yang menderita pengangguran sebesar 45% dari total populasi usia produktif.”

“Sudah banyak yang mengeluh bahwa saat ini SYRIZA hanya bernegosiasi saja. Namun semakin terdesak SYRIZA maka semakin banyak kita saksikan program mereka dikhianati. Karena mereka tidak punya perspektif menggulingkan kapitalisme.”

“Posisi dominan di SYRIZA adalah sentrisme yang di antara reformisme dan sosialisme. Bahkan Varoufakis mundur dari SYRIZA akibat dianggap terlalu keras terhadap Troika. Kekuatan sayap kanan di SYRIZA cukup kuat bahkan ingin bernegosiasi dengan Troika. Bahkan referendum kemarin mayoritas mengatakan tidak merupakan langkah untuk renegosiasi selanjutnya untuk meningkatkan daya tawar mereka di hadapan Troika. Jadi sama sekali SYRIZA tidak mempunyai perspektif untuk melawan apalagi menggulingkan kapitalisme.”

“Sementara itu di satu sisi, kecenderungan kiri di SYRIZA seperti Tendensi Komunis SYRIZA berusaha kembalikan program awal. Bahkan dalam demonstrasi kemarin mereka banyak menjual koran dan mendapatkan kontak. Namun kekuatan Marxis disana kecil dan tidak dapat mempengaruhi. Kondisi krisis dan ekonomi dunia menjadi perdebatan penting Termasuk oleh Slavoj Zizek. Banyak yang menyatakan harus kembali ke Drachma. Keluar dari Uni Eropa. Namun kembali ke Drachma selama dalam batasan kapitalisme hanya akan mengantarkan pada jalan buntu. Pertama nilai tukar mereka akan sangat rendah dibanding negara lainnya sehingga akan melambungkan nilai likuiditas. Kedua, ini akan menciptakan inflasi tinggi. Rakyat semakin tercekik harga mahal, sulit mendapatkan makanan, dan ancaman lock out dari bank-bank.”

“Bahkan dalam referendum kemarin, banyak pihak perbankan dan sayap kanan berusaha sekuat tenaga mendorong “Yes” vote demi melindungi kepentingan borjuisnya. Mereka mempropagandakan bahwa akan pecah bencana kelaparan kalau rakyat Yunani memilih “tidak”. Bahkan pasca referendum para bankir sudah terbukti melakukan boikot kapital dimana hanya 40% dari total bank yang beroperasi. Pemerintah Yunani terpaksa memberikan dana talangan demi pembayaran pensiun rakyat Yunani.”

“Makanya referendum  memilih opsi tidak ini juga mencerminkan mood revolusioner dimana seluruh rakyat berpartisipasi. Khususnya lapisan pemuda dan rakyat pekerja. Ini adalah mood revolusioner. Kita mengamati suatu peristiwa penting yang dijadikan pelajaran. Kapitalisme bukanlah akhir sejarah.”

“Situasi di Yunani kemudian perlu semakin didorong ke arah revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme dan memimpin rakyat pekerja Yunani untuk berkuasa. Namun para pimpinan SYRIZA tidak berani menghadapi persoalan ini.”

“Jadi bilamana ada tekanan yang kuat, bilamana gelombang anti penghematan menang, maka akan menjadi preseden buruk bagi negara-negara Eropa lainnya. Seperti Italia, Spanyol, dan sebagainya. Bila Yunani pecah dari Kapitalisme dan mengadopsi Sosialisme, ini akan menyebarluaskan gelombangnya ke negara-negara lainnya dan mendapatkan dukungannya dari rakyat pekerja di negara-negara lain. Sebagaimana revolusi oktober, revolusi akan melebar dan menjadi virus ganas yang menyerang jantung kapitalisme di Eropa.”

“Periode revolusioner setiap saat pasti hadir, akibat kontradiksi kapitalisme itu sendiri. Apa yang tidak ada adalah faktor subjektif yaitu kepemimpinan revolusioner. Ini meneguhkan kembali bahwasanya tanpa kepemimpinan revolusioner itu maka potensi jalan keluar revolusioner dari krisis ini akan menguap begitu saja.”, pungkas Sony Prasetyo.

Yohana Ilyasa menanggapi, “Kita bisa lihat SYRIZA menawarkan referendum terima dana talangan atau tidak. Hasilnya 61,32% mengatakan tidak. Tentu kemenangan opsi ini bukan jawaban final. Setelah itu muncul pertanyaan-pertanyaan lagi. Apa yang harus dikerjakan berikutnya? Nasionalisasi atau renegosiasi? Kalau opsinya adalah meningkatkan daya tawar di hadapan Troika maka hanya berkutat di batasan kapitalisme dan imperialisme. Opsi kedua adalah nasionalisasi. Ini agaknya pilihan yang sulit dalam artian bila rakyat pekerja tidak mendorong SYRIZA melakukan nasionalisasi minimal untuk menyelamatkan dana nasabah-nasabah kecil maka akan terjadi pergolakan besar di antara rakyat pekerja Yunani. Kita bisa diskusikan kemungkinan-kemungkinan ke depan. Kawan-kawan bisa berpartisipasi dalam diskusi. Kalaupun kembali ke mata uang Drachma maka tidak akan ada jalan keluar. Bisa kita lihat di sejarah dalam banyak negara tidak ada sosialisme yang bisa berjalan tanpa adanya kepeloporan dari partai revolusioner. Dalam prospek revolusi, kondisi objektif sudah matang bahkan membusuk, namun faktor subjektif tidak ada.”

Leon Kastayudha, editor Bumi Rakyat membenarkan pernyataan Yohana Ilyasa. Ia kemudian menyatakan bahwa untuk memahami ketiadaan faktor subjektif perlu terlebih dahulu memahami peta gerakan kiri di Yunani dan dialektika posisi dan pandangannya terkait krisis
“Kondisi krisis Yunani yang hari ini benar-benar terpuruk dan terjerat hutang serta dipaksa menerapkan reforma struktural mendalam yang sebenarnya tidak lain adalah pemotongan anggaran secara brutal yang dibebankan kepada rakyat pekerja untuk menyelamatkan sistem kapitalisme yang saat ini sedang mengalami krisis. Patut kita pahami bahwasanya partai SYRIZA dalam posisi politiknya masih didominasi kaum Sentris. Kaum yang terombang-ambing antara posisi reformisme dan sosialisme revolusioner. Dalam perkembangan yang terbaru sebenarnya kita tidak bisa hanya bicara dari perkembangan terakhir berupa pengunduran diri Yanis Varoufakis, Menteri Keuangan Yunani, baik akibat tekanan internal maupun tekanan dari Troika (IMF, Bank Sentral Eropa, dan Komisi Eropa). Tapi kita bisa lihat agak jauh beberapa tahun ke belakang dimana sebenarnya puncak gelombang perlawanan tertinggi semenjak pecahnya krisis kapitalisme global pada tahun 2008, justru terjadi di Yunani pada tahun 2012 dimana demonstrasi, pemogokan, aksi massa, dari buruh kerah biru, dari pekerja galangan kapal, sopir bus, sampai cleaning service paling besar tahun 2012 dan banyak sekali bentrokan-bentrokan jalanan, mulai dari para pejuang kelas, aktivis buruh, sosialis, termasuk yang paling keras seperti anarkis yang melawan kaum fasis yang terhimpun dalam Golden Dawn. Saat itu rezim penguasanya adalah Antonis Samaras dari Partai New Democracy yang mendukung pemotongan anggaran yang dipaksakan Uni Eropa. Setelah itu ada sedikit kemunduran dari jumlah aksi massa, demonstrasi, dan pemogokan yang kemudian tersalurkan dari lapangan jalanan ke lapangan politik. Disinilah partai SYRIZA menemukan momentum dan dukungan yang besar. Karena waktu itu mereka mengusung sentimen menolak pemotongan anggaran. Sementara partai-partai lainnya termasuk partai yang punya basis massa buruh, yaitu PASOK, justru mendukung pemotongan anggaran.”

“Namun semakin dekat dengan kekuasaan, kepemimpinan SYRIZA yang banyak didominasi kaum reformis dan kaum sentris ini kemudian semakin mengambil posisi moderat. Jadi pada konferensi terakhir yang memutuskan transformasi SYRIZA dari koalisi kiri menjadi suatu partai utuh itu banyak terjadi perombakan besar-besaran. Khususnya dalam program minimum mereka terdapat penghapusan atas pasal-pasal yang radikal. Misalnya pasal nasionalisasi aset-aset strategis dihapus dan pasal soal penolakan membayar hutang—yang sebagian besar hanya dinikmati borjuasi Yunani—diganti jadi restrukturisasi. Jadi kesediaan untuk membayar hutang yang dianggap vital. Jadi dalam perjalanannya SYRIZA secara dominan lebih cenderung mengambil langkah-langkah lebih moderat.”

“Sementara dalam konstalasi politik kiri di Yunani terdapat dua kelompok yang lebih radikal. Pertama, ANTARSYA, front Kerjasama Kiri Anti Kapitalis untuk Penggulingan yang didirikan pada 22 Maret 2009. Bentuk awalnya juga sama seperti SYRIZA yaitu berbentuk koalisi seluruh kelompok kiri (mulai dari bekas KKE, Maois, hingga Trotskyis) dengan berbasis program seperti penolakan pemotongan anggaran, penolakan pembayaran hutang, nasionalisasi tanpa kompensasi bagi industri-industri besar, larangan PHK, upah minimum 1.400 Euro, pengurangan jam kerja menjadi 35 jam tanpa pengurangan upah, pelucutan kepolisian hak-hak politik dan sosial penuh bagi para imigran, serta solusi ekososialis bagi krisis ekologis. Kedua, partai kiri yang terkuat kedua setelah SYRIZA adalah KKE atau Partai Komunis Yunani. Secara basis massa KKE sebenarnya lebih kuat daripada SYRIZA. SYRIZA dominan pekerja-pekerja kerah putih seperti guru-guru, karyawan-karyawan, dan kantor. Memang SYRIZA punya banyak basis juga di buruh atau pekerja kerah biru. Tapi KKE punya basis di buruh yang lebih banyak. Dari buruh-buruh pabrik, buruh-buruh galangan kapal, buruh-buruh pelabuhan, nelayan-nelayan, dan sebagainya. Namun KKE itu sendiri memainkan politik sangat sektarian. Ini di pemilu sebelumnya membuat dia kehilangan basis dukungan politik dari para pemilih yang turun secara signifikan cukup besar.”

“Mereka masih menganut beberapa kesalahan politik yang sama. Pertama, Third Period atau Periode Ketiga. Dimana mereka menganggap setelah fasis maka giliran kita. Kedua, mereka menganut transisi damai ke kapitalisme. Dalam perseteruan Sino-Soviet, KKE mengikuti Kruschev. Jadi masih ngomong nasionalisasi tapi dengan jalan damai.”

“Nah, ke depannya situasi saling tarik menarik antar elemen massa rakyat di Yunani ini memang tidak bisa berlangsung terus menerus atau terlalu lama. Harus mencapai suatu kesimpulan final pada suatu titik. Di SYRIZA memang ada sayap kiri radikal yaitu Left Platform dan Communist Tendency of SYRIZA. Namun mereka masih terlalu kecil dibandingkan kekuatan kaum sentris yang dominan di SYRIZA. Kalau misalkan massa rakyat tidak bisa mendorong kabinet Tsipras untuk mengambil langkah radikal dan menerapkan sosialisme, kalau Left Platform dan Communist Tendency of SYRIZA tidak bisa mengambil alih kepemimpinan partai maka ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kalau situasi masih revolusioner bisa terjadi penguatan terhadap ANTARSYA atau KKE. Ada kemungkinan lebih besar bahwa KKE yang lebih menguat daripada ANTARSYA, karena dari pertama mereka jadi oposisi kiri yang paling keras. Meskipun dengan sangat sektarian, misalnya dengan menyatakan bahwa SYRIZA tidaklah memperjuangkan sosialisme, SYRIZA adalah sayap kiri dari kapital, dan lain sebagainya. Termasuk seperti dalam referendum kemarin mereka tidak menyerukan “OXI” melainkan menyerukan robek saja kertas suaranya. Kemungkinan mereka jauh lebih akan menguat daripada ANTARSYA, meskipun ANTARSYA yang punya program lebih dekat dengan SYRIZA pra-kapitulasi dan pra-moderasi. Kemungkinan lainnya, kalau ada kebuntuan seperti itu maka Left Platform dan Communist Tendency of SYRIZA pada waktu menentukan perlu mengambil alih kepemimpinan partai atau melakukan “split” dan pecah dengan sayap sentris dan reformis dari SYRIZA asalkan bisa merebut dan menguasai basis massa cukup signifikan. Terutama kalau kita lihat perkembangan di sektor buruh SYRIZA yaitu META saat ini sudah mengambil posisi yang jauh lebih kiri daripada kabinet Tsipras. Bahkan mengusulkan pemogokan umum untuk menerapkan sosialisme. Namun kalau dua kemungkinan ini tidak terjadi, maka massa rakyat bisa jadi akan terdemoralisasi, mereka kelelahan dengan berbagai aksi massa, demonstrasi, yang tidak kunjung memberikan hasil. Mereka secara gradual akan mengalihkan dukungannya kepada sayap kanan, kepada kelompok-kelompok rasis dan fasis, salah satunya partai Golden Dawn. Perlu kita perhitungkan bahwa sebelum represi dan penangkapan terhadap kelompok itu, Golden Dawn menduduki peringkat ketiga dalam Pemilu sebelumnya. Satu peringkat di bawah SYRIZA.”

“Jadi ada beragam kemungkinan yang akan terjadi. Bisa kemungkinan ke arah kiri ke perpecahan revolusioner atau malah ke arah kontra revolusioner.”

“Katakanlah ke depannya terjadi pergerakan kelas buruh untuk merebut kekuasaan di Yunani, maka ini akan merembet ke negara-negara lainnya. Perlu kita ingat juga bahwa Yunani menduduki posisi yang strategis, berada di antara benua Eropa, Asia, dan Afrika sekaligus. Di timur laut berbatasan dengan Albania, di barat laut berbatasan dengan negara-negara Balkan, di tenggara berbatasan dengan Turki, di selatannya menjembatani ke negara-negara Afrika. Jadi misalkan nanti ada pengambilalihan pabrik dan sektor-sektor vital industri maka ini akan merembet ke negara-negara sekitarnya. Khususnya di negara-negara Uni Eropa yang terpuruk ekonominya seperti Italia dan Spanyol. Namun tentu saja ini tergantung perkembangan situasi objektif dan faktor subjektif.”

Redy, salah satu peserta diskusi menimpali, “Jadi ketika kita bicara kemungkinan itu tidak bisa melepaskan dari analisis soal situasi revolusioner yang akan sangat menentukan apa yang akan dilakukan SYRIZA. Jadi ketika terjadi radikalisasi massa rakyat yang bergerak maka mereka bisa mendesakkan isu nasionalisasi perbankan, penghapusan hutang-hutang luar negeri, yang kemudian diadopsi menjadi salah satu butir dari Program SYRIZA yang dulu. Namun ini sudah berubah karena SYRIZA sudah memperlihatkan bagaimana melakukan kompromi-kompromi yang tidak menguntungkan rakyat pekerja. Artinya ia akan berkuasa dalam pemerintah, menaikkan upah buruh, tapi hanya dalam batasan kapitalisme. Ini bukan perjuangan kelas, ini sebatas perjuangan hak-hak normatif. Tidak ada nasionalisasi terhadap seluruh aset strategis. Tidak ada penghentian atau pengembalian terhadap sektor-sektor yang akan dan yang sudah diprivatisasi. Juga tidak ada lagi penghapusan hutang-hutang luar negeri Yunani.”

“Hutang ada dua macam. Hutang jangka pendek dan jangka panjang. Untuk hutang jangka panjang masih bisa dipikir dalam jangka panjang. Masalahnya banyak hutang Yunani adalah hutang jangka pendek, Yunani harus membayar 1,5 miliar Euro. Mau tidak mau, cepat atau lambat, ini akan mengantarkan Yunani pada kebangkrutan.”

Ia kemudian menarik perbandingan antara Yunani dengan Indonesia. “Hutang Indonesia memang di bawah Yunani. Dalam konferensi, Menkeu bilang tidak perlu kuatir dengan keadaan Yunani karena kondisinya berbeda dengan Indonesia. Namun masalahnya sebenarnya sama, Yunani gemar berhutang untuk menutupi defisit anggarannya. Menkeu sebenarnya juga masih waspada terkait ekonomi Indonesia. Ini permasalahan yang besar karena ketika Yunani mampu menasionalisasi aset-aset maka hal ini akan terdengar di Indonesia juga dan menimbulkan pengaruh. Karenanya kita bisa lihat meskipun Indonesia tidak terlalu mengikuti perkembangan ekonomi, politik, dan kebudayaan di Yunani, namun tiba-tiba seluruh media massa borjuasi di Indonesia memberitakan krisis di Yunani dengan sangat bias, negatif, dan mengambinghitamkan Alexis Tsipras dan Partai SYRIZA.”, ungkapnya.

Restu Bumi, seorang buruh dari Gresik dan anggota Barisan Merah (BARA) Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menyatakan sangat masuk akal bahwa borjuasi di Indonesia juga ketakutan dengan perkembangan di Yunani sebab perlambatan ekonomi juga sudah semakin dirasakan di Indonesia. “Ini terlihat dari meskipun harga minyak dunia turun tempo hari namun rezim penguasa di Indonesia malah kelabakan. Tentu saja yang paling merasakan dampak buruk dari ini adalah kelas buruh. Dari pengalaman yang saya temui di lapangan dan pengetahuan yang saya dapatkan, kalau dulu kelebihan jam kerja yang dihasilkan buruh bisa membuat buruh mendapatkan tambahan penghasilan, namun sekarang buruh tidak menerimanya. Saat ini di Gresik sendiri, terkait dengan kondisi ini ada sekitar 28 perusahaan yang mayoritas pekerjanya sudah memakai buruh-buruh outsourcing. Bahkan perusahaan-perusahaan seperti Adira, FIF, diprotes karena banyak yang ngawur. Dulu sebelum perlambatan ekonomi banyak aksi buruh bisa memenangkan tunjangan karena dulu pabrik-pabrik diuntungkan dengan ekspor ke luar negeri. Tapi dengan kondisi begini, mata uang rupiah semakin melemah dan krisis di Eropa juga membuat ekspor ke Eropa semakin menurun. Intinya penjualan komoditas-komoditas yang diproduksi di Indonesia menghadapi dilema: dijual di negeri sendiri tidak laku namun dijual di negara lain percuma karena tidak mendapatkan laba. Sedangkan di perbankan sendiri nasabah berkurang hampir 60%. Uang ada tapi yang berhutang sedikit. Sedangkan yang sudah berhutang tidak bisa mengembalikan hutang. Itu semua bagian dari krisis. Jadi sama sebenarnya dengan Yunani, Indonesia juga mendekati kolaps, meskipun dengan dinamika yang berbeda.”, simpulnya.

Anggota SPBI Gresik sekaligus anggota Militan Indonesia ini menambahkan, “Aksi-aksi buruh bisa memberi lebih kalau kondisi normal. Namun dengan krisis dan perlambatan ekonomi begini, kelas kapitalis sudah tidak bisa memberikan konsesi. Namun hajat hidup buruh akan terus menurun karena kelas buruh selalu yang paling dikorbankan untuk menyelamatkan sistem kapitalisme yang sekarat. Karenanya tidak ada pilihan lain selain melawan.”, tegasnya.

Diskusi dan malam solidaritas ini kemudian mencapai kesimpulan bahwasanya kelas proletar membutuhkan partai revolusioner untuk memobilisasi massa rakyat pekerja dan mengarahkan perjuangan yang berkecamuk saat momen revolusi tiba agar menempatkan buruh untuk berkuasa. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama para peserta diskusi yang menyampaikan solidaritasnya terhadap perjuangan kelas buruh dan rakyat Yunani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: