Kapitulasi Memalukan Tidak Akan Berhasil di Yunani

wpid-kapitulasi-memalukan-tidak-akan-berhasil-di-yunani.jpg.jpeg

image

Kesepakatan yang dipaksakan di Yunani pada awal 13 Juni setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Euro hanya bisa dideskripsikan sebagai kapitulasi memalukan. Yunani pada dasarnya telah menyerahkan kedaulatannya pada Troika dan menukarnya dengan rantai serta belenggu baru yang mengikat dana talangan dan pepesan kosong bahwasanya restrukturasi hutang (bukan penghapusan hutang) mungkin akan dipelajari kelak. Kesepakatan ini tidak akan berhasil. Ini secara politik hanya akan menghancurkan Tsipras dan SYRIZA serta secara ekonomi hanya akan semakin menjerumuskan Yunani ke resesi semakin dalam. Ini juga mengekspos gesekan-gesekan keras di Uni Eropa.

Enam bulan lalu, rakyat Yunani memvoting menolak pemotongan anggaran dengan memilih pemerintahan SYRIZA pada 25 Januari. Sepekan lalu mereka kembali menolak pemotongan anggaran secara tegas dengan 61,3% voting OXI (TIDAK) dalam referendum yang diserukan Perdana Menteri Tsipras pada 5 Juli. Sekarang TROIKA telah memaksakan suatu perjanjian yang lebih parah daripada yang divoting dalam referendum dan Tsipras menyetujuinya. Jika ada satu kesimpulan yang harusnya jelas bagi siapapun terkait pengalaman ini, adalah mustahil bebas dari pemotongan anggaran selama masih dalam penjara kapitalis Eropa yang penuh krisis.

Rincian-rincian kesepakatan yang ditandatangani sangatlah mengagetkan. Karena jauh lebih parah dibandingkan yang diajukan pemerintah Yunani Kamis 9 Juli lalu yang itu pun sudah merupakan kemerosotan memalukan. Dokumen yang dikerjakan bersama dengan para pejabat Prancis tersebut merupakan cerminan tekanan besar dalam kesepakatan untuk mencegah pengusiran Yunani dari zona Eropa.

Dalam hal ini, Prancis bertindak sebagai agen kepentingan-kepentingan AS dan IMF. Meskipun juga berlaku sebagai pengimbang kapital Jerman yang sangat kuat dalam Uni Eropa. Beberapa hari belakangan ini telah menunjukkan watak asli Uni Eropa yang sebelumnya ditutup-tutupi. Alih-alih suatu “proyek” untuk pembangunan persatuan Eropa yang kuat, kita malah menyaksikan pertengkaran antar negara anggota, dengan kepentingan nasional tiap negara yang mencuat.

Kita juga menyaksikan kedok “keberadaban dan kemasukakalan” para kapitalis merontok. Wajah monster yang bersembunyi di baliknya semakin tampak. Ini tampak jelas khususnya dalam kasus Wolfgang Schäuble, Menteri Keuangan  Jerman, yang telah menunjukkan kengototannya untuk memerah rakyat Yunani dan menghina siapapun sekutunya yang berusaha mencapai suatu kompromi untuk menghindari agar Yunani tidak diusir dari Euro. Ini adalah indikasi apa yang akan terjadi di masa depan dalam hal tekanan-tekanan antar negara Eropa yang lebih kuat dan akan menjadi pertanda buruk bagi masa depan Uni Eropa secara keseluruhan, baik dalam perannya yang secara global semakin berkurang maupun dalam hal kohesi internalnya yang semakin memburuk.

Amerika pada khususnya ketakutan atas dampak potensial kekacauan akibat kebangkrutan Yunani terhadap ekonomi dunia yang sudah rapuh. Sementara perhatian dunia terpusat pada Eropa, gelembung bursa saham Tiongkok mulai meletus. Situasi ekonomi dunia begitu genting sehingga tiap kejutan bisa mendoroknya ke bibir jurang resesi baru. Atas alasan inilah, AS memberikan tekanan besar agar tercapai kesepakatan. Kesepakatan demikian pasti akan menyertakan keringanan hutang yang substansial. Dalam kasus apapun, sebagaimana yang diakui dalam laporan resmi IMF, hutang Yunani sudah tidak bisa dikelola dan tidak akan pernah bisa dibayar sepenuhnya. Perlu suatu potongan.

Tentu saja, apa yang dituntut AS adalah agar kapital Jerman yang menanggung beban pengurangan hutang demikian, karena Jerman adalah negara terberat yang terekspos pada hutang Yunani. Gampang saja memang berlagak bijak dengan uang orang lain. Inilah makna sesungguhnya di balik proposal Yunani yang diajukan kepada Menteri-Menteri Keuangan Eropa.

Proposal itu sendiri sudah membuat pemerintah Yunani kehilangan mayoritas di Parlemen, dimana 17 anggota parlemen SYRIZA dengan satu atau cara lainnya menolak memvoting mendukungnya, sedangkan 15 lainnya memvoting di bawah protes. Pemerintah punya mayoritas sebesar 162 anggota parlemen (149 anggota parlemen SYRIZA dan 13 anggota parlemen ANEL). Dua anggota parlemen SYRIZA dengan terang-terangan memvoting TIDAK, delapan memilih abstain (termasuk Menteri Energi dan pimpinan Platform Kiri Panagiotis Lafazanis serta Menteri Keamanan Sosial Stratoulis), sedangkan tujuh lainnya memilih tidak hadir (dua diantaranya mendukung proposal) serta 15 anggota Platform Kiri memvoting mendukung namun mengeluarkan pernyataan terpisah mengekspresikan oposisi mereka terhadap langkah-langkah tersebut. Pemerintah harus bergantung pada suara voting dari partai-partai oposisi (PASOK, ND, To Potami) demi memenangkan voting pada 11 Juli September lalu. Ini adalah koalisi “persatuan nasional” secara de facto yang sedang terbentuk.

Voting tidak dilakukan berupa pemilihan terhadap proposal-proposal itu sendiri namun sebagai voting pemilihan untuk memberikan otoritas pada pemerintah untuk bernegosiasi dengan Eropa berlandaskan proposal-proposal tersebut. Ini adalah suatu cara untuk menggunakan tekanan terhadap anggota-anggota parlemen Platform Kiri yang kritis dengan argumen bahwa ini adalah voting untuk kepercayaan terhadap Tsipras. Kenyataannya Platform Kiri seharusnya lebih tegas, membuat blok voting, dan menyerukan mobilisasi melawan proposal-proposal ini yang secara langsung melanggar mandat referendum.

Saat proposal-proposal Yunani (Prancis) terbaru mencapai Brussel, Jerman langsung membantahnya habis-habisan. Schäuble menerbitkan penilaian tertulis yang menuntut Yunani menyerah secara unilateral. Ia menuntut lebih banyak pemotongan dan kontra-reforma agar segera diterapkan. Dengan menyalahkan Yunani atas kemungkinan gagalnya perundingan, ia menuntut agar aset-aset negara senilai 50 miliar Euro diletakkan di bawah kontrol dana berbasis Luxembourg agar diprivatisasi. Akhirnya ia menyampaikan gagasan bahwa Yunani harus diberi lima tahun periode keluar dari zona Eropa (baca: “harus diusir”).

Posisi kapital Jerman berdasarkan penilaian mereka bahwa Grexit (keluarnya Yunani dari Uni Eropa) akan kurang makan biaya (secara politik dan ekonomi) dibandingkan dana talangan baru. Alasan-alasan ekonomi sudah jelas. Daripada mengucurkan lebih banyak uang ke dalam jurang tak berdasar yang hanya akan mengembalikan lebih sedikit, lebih baik memotong kerugian-kerugiannya dan kabur, sembari mungkin melemparkan recehan kepada Yunani dengan bentuk bantuan kemanusiaan.

Alasan-alasan politik di balik ini sudah dijelaskan sebelumnya: Yunani tidak dibolehkan menyimpang dari pemotongan anggaran agar negara-negara lain tidak mengikutinya. Kalau SYRIZA diperbolehkan menyimpang dari pemotongan anggaran maka ini justru akan mendorong partai PODEMOS di Spanyol dan pemerintahan yang semakin terlemahkan di Spanyol, Portugal, Yunani, Prancis, Irlandia, dan lainnya akan mengikuti kebijakan-kebijakan ang saa persis. Terlebih lagi dengan adanya suatu partai di Jerman yang sinis terhadap Eropa yang semakin lama semakin bergerak ke sayap kanan, Merkel tidak sanggup dipandang lembek terhadap Yunani.

Terhadap hal ini kami harus menambahkan angkara mendalam yang mana campur tangan Prancis telah memprovokasi Jerman. Berani-braninya Hollande membantu Yunani meloloskan diri dari cekikan Jerman! Kapitalisme Jerman adalah yang terkuat di Uni Eropa dan karenanya berkuasa.

Tuntutan-tuntutan Jerman, sebagaimana terekspresikan dalam dokumen Schäuble, sangatlah arogan dan penuh skandal sehingga tampak didesain secara khusus untuk memprovokasi agar Yunani “walk out” atau meninggalkan perundingan. Dibantu oleh Finlandia, yang mana pemerintahnya tersandera kaum skeptis Euro sayap kanan ekstrim. Bukan hanya bahasa dalam dokumen, namun cara Tsipras diperlakukan dalam KTT. Beberapa jurnalis borjuis telah mengatakan bahwa ia “disalib”, sementara jurnalis-jurnalis lainnya mengatakan ia disiksa dengan “Mental water boarding”.

Isi “Kesepakatan” Kapitulasi


Akhirnya, dengan mengejutkan banyak pihak, kesepakatan dicapai dengan pada dasarnya menyertakan semua tuntutan Yunani.

Dokumen, yang ditandatangani Tsipras, penuh dengan skandal. Koyak-moyak sudah tiap kepura-puraan atas penghormatan terhadap kedaulatan nasional. Yunani, pada dasarnya, dijadikan salah satu jajahan TROIKA.

Yunani diperintahkan untuk secara hukum mengesahkan empat langkah, termasuk peningkatan VAT (Value Added Tax—pajak tambahan nilai), pemotongan-pemotongan lebih lanjut dalam sistem pensiun, dan “pemotongan pembiayaan quasi-otomatis dalam kasus penyimpangan-penyimpangan dari target-target surplus pokok ambisius”. Semua ini harus dilegislasikan dalam kurun 72 jam, sejak 15 Juli. Dua langkah lainnya harus diterapkan pada 22 Juli.

Hanya setelah langkah-langkah ini diterapkan dan “diverifikasi oleh Institusi-institusi dan grup Eropa”, maka suatu keputusan untuk memulai menegosiasikan Nota Kesepahaman (MoU) “bisa diambil” (catat tekanan kondisionalnya).

Bukan hanya ini, namun demi membuat suatu MoU baru, Yunani harus menerapkan pemotongan yang semakin dalam “untuk mempertanggungjawabkan posisi ekonomi dan fiskal yang semakin memburuk dari negeri itu”. Pemotongan ini menyertakan: pemotongan-pemotongan lebih lanjut dalam pensiun-pensiun, “reforma pasar produk yang lebih ambisius”, privatisasi perusahaan listrik (ADMIE). Di atas hal ini, pemerintah Yunani, dalam meninjau perundingan kolektif dan pemberhentian kolektif tidak boleh ‘kembali ke setting kebijakan masa lalu yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan mempromosikan…pertumbuhan’”. Ini artinya pemerintah harus melanggar janjinya untuk memperkenalkan kembali kesepakatan-kesepakatan perundingan kolektif yang dihapuskan oleh Memoranda sebelumnya.

Hal ini bukan satu-satunya kebijakan mandat ekonomi mikro-manajemen yang sangatlah menghinakan. Masih ada lagi. Dokumen tersebut juga menerima rencana Schäuble atas dana privatisasi 50 miliar Euro. Konsesi “mini” dari dana ini adalah dana ini tidak akan berbasis di Luxembourg tapi Athena. Bagaimanapun hal ini tidak ada perbedaan substansial karena akan “di bawah pengawasan institusi-institusi Eropa yang relevan”. Ini gila, bahkan dari sudut pandang kapitalis. Jika kita tambahkan dilanjutkannya semua kesepakatan privatisasi sampai yang sekarang sedang ditempuh, kita hanya akan mendapatkan sebesar total tujuh miliar Euro, dan ini sudah termausk aset-aset yang lebih bernilai. Mustahil meningkatkannya jadi tujuh kali jumlah itu dalam tiga tahun berikutnya.

Di atas hal ini, TROIKA menuntut hak veto atas semua undang-undang, legislasi, atau peraturan hukum di Yunani! Patut kita kutip kata-katanya secara harafiah: “Pemerintah perlu berkonsultasi dan setuju dengan Institusi-insitusi terkait semua rumusan legislasi di area-area yang relevan..sebelum mengajukannya untuk konsultasi publik atau ke Parlemen.”

Selain menerapkan kendalinya terhadap legislasi kelak, TROIKA juga mengukuhkan haknya untuk mengubah legislasi manapun yang sudah disahkan: “Dengan pengecualan rancangan undang-undang krisis kemanusiaan, pemerintah Yunani akan menelaah ulang dengan pandangan untuk mengamandemen legislasi-legislasi yang diterapkan untuk melawan perjanjian 20 Februari dengan membalikkan semua komitmen program sebelumnya”. Ini mengikat tangan dan kaki pemerintah Yunani, yang terpilih dalam Pemilu dengan landasan melawan Memoranda sebelumnya, untuk tunduk pada TROIKA dan mengubah undang-undang dan peraturan hukum manapun yang diterapkan untuk melawan prinsip tersebut. Ini akan diterapkan misalnya terhadap keputusan yang sangat simbolis untuk mengangkat kembali para pekerja kebersihan di Kementerian Keuangan.

Penerapan dikte-dikte ini bahkan tidak menjamin diberikannya dana talangan baru, sebagaimana yang dikatakan dokumen tersebut: “Komitmen-komitmen yang terdaftar di atas merupakan persyaratan-persyaratan minimum untuk memulai negosiasi-negosiasi…bagaimanapun juga…dimulainya negosiasi tidak berarti pasti ada kesepakatan final”.

Nilai dana talangan Mekanisme Stabilisasi Ekonomi (ESM) dikalkulasi sebesar 82 hingga 86 miliar Euro, termasuk 25 miliar Euro untuk rekapitalisasi bank.

Apa yang didapatkan Yunani sebagai ganti kapitulasi penuh dan penyerahan kontrol atas keuangannya ini? Terkait pertanyaan krusial yang mana selalu ditekankan pemerintah Yunani, peringanan hutang, dokumen ini sangatlah kosong. “Kelompok Euro siap mempertimbangkan, bila diperlukan, langkah-langkah tambahan yang memungkinkan (kemungkinan periode kelonggaran dan pembayaran yang lebih panjang)” atas hutang Yunani.

Kekosongan komitmen ini berbanding tajam dengan blak-blakkannya penolakan di baris berikutnya: “KTT Euro menekankan bahwa pemotongan nominal terhadap hutang tidak bisa dan tidak akan diberikan”, sementara “Para otoritas Yunani mengulangi pernyataan komitmen yang tidak samar untuk menghormati kewajiban-kewajiban finansialnya terhadap semua kreditur sepenuhnya dan dengan sikap tepat waktu”.

Dokumen ini diakhiri dengan melemparkan umpan tanpa komitmen kepada Yunani, dengan mengatakan bahwa Komisi Eropa “akan bekerja…untuk memobilisasi 35 miliar Euro…untuk mendanai investasi dan aktivitas ekonomi”.

Jelas, Jerman tidak memberikan konsesi apapun. Tsipras telah dipaksa menandatangani segalanya yang dulu dikecamnya. Banyak yang bertanya, bagaimana bisa begini? Bagaimana bisa Tsipras menandatangani kesepakatan yang sedemikian buruk, khususnya setelah menyerukan dan memenangkan referendum? Mustahil mengetahui apa yang ada dalam benak Tsipras. Bagaimanapun juga ada satu hal yang jelas. Seluruh basis strategi politik Tsipras dan kelompok pimpinan dominan di SYRIZA sudah terbukti bangkrut dalam praktik. Strategi mereka berdasarkan pemikiran bahwasanya mungkin untuk meyakinkan TROIKA untuk membikin suatu kesepakatan yang membolehkan SYRIZA menerapkan kebijakan non-pemotongan anggaran, yang pada akhirnya akan berujung pada pertumbuhan ekonomi dan kemudian akan memungkinkan pembayaran kembali hutang. Kenyataannya hal itu tidak terjadi sama sekali.

Saat ia menyerukan referendum, Tsipras bersikeras bahwa voting TIDAK akan memberikannya posisi perundingan yang lebih kuat dan memungkinkan kesepakatan yang lebih baik untuk dicapai. Kenyataannya sebaliknya.

Lebih lanjut lagi, kengototannya untuk terus berada dalam zona Eropa adalah satu-satunya opsi yang memungkinkannya dilucuti dalam negosiasi-negosias, memaksanya membuat semakin banyak konsesi yang semakin besar, dan berujung dengan kapitulasinya yang memalukan. Ia tampaknya tidak belajar sama sekali dari hal itu dan menjadi suatu penandatangan yang ikhlas atas perintah eksekusi atas dirinya sendiri.

Bagian terburuk dari kapitulasi ini adalah hal ini tidak akan berhasil. Dampak yang akan ditimbulkan pada ekonomi Yunani adalah malapetaka. Ketidakpastian negosiasi-negosiasi dan ultimatum-ultimatum dari TROIKA sudah membatalkan pemulihan lambat dan kembali mengirim negeri ke dalam resesi lagi. Kini dua minggu penutupan bank dan kontrol kapital (yang akan berlangsung selama berbulan-bulan), telah membuatnya terjerumus ke dalam depresi dalam, dengan sebagian besar aktivitas ekonomi macet.

Ini ditambah dengan Memorandum paket pemotongan anggaran lain maka akibatnya gampang diperkirakan. Kebijakan-kebijakan ini sudah diterapan di Yunani selama lima tahun terakhir dan gagal total. Bahkan negarapun gagal mengurangi hutang sesuai rasio hutang sesuai PDB. Sekarang besarnya melebihi 170%. Dengan langkah-langkah baru ini, akan segera melonjak melebihi 200%.

Kelihatannya skenarionya adalah “kesepakatan” terbaru ini (atau sebenarnya lebih layak disebut pemaksaan) hanya akan menjadi titik perhentian sementari di jalan menuju krisis baru yang akhirnya akan berujung gagal bayar dan Grexit.

Dari sudut pandang politis, kesepakatan ini berarti bunuh diri politik pemerintah saat ini dan SYRIZA itu sendiri. Beberapa tokoh pimpinan di kelompok Tsipras sudah mengincar leher para menteri dan anggota parlemen yang menentang kapitulasi ini. Pemerintah saat ini tidak bisa bertahan karena akan kehilangan mayoritasnya selama 48 jam berikutnya. Opsi-opsi berbeda sedang didiskusikan, termasuk suatu pemerintah teknokratis sementara yang dikepalai pihak “independen” (kemungkinan besar Gubernur Bank Yunani), suatu pemerintahan koalisi dengan To Potami, dan sebagainya.

Apapun bentuk spesifiknya nanti, apa yang kini tengah kita bicarakan, pada dasarnya, merupakan pemerintah persatuan nasional pelaksana pemotongan anggaran secara brutal. Ini akan menutup lingkaran, dimana partai yang terdorong oleh massa mencapai kekuasaan demi mengakhiri pemotongan anggaran, malah berakhir bersekutu dengan partai-partai yang dikalahkan untuk menjalankan program ketertundukan ini.

Tekanan dalam SYRIZA sedemikian besar sehingga kecil kemungkinannya Tsipras akan mengadakan pertemuan Komite Sentral karena dia tidak yakin akan mampu membela diri. Lagipula ia butuh meloloskan langkah-langkah tersebut di Parlemen dan untuk itu dia butuh persekutuan de facto dengan partai-partai borjuis.

Adakah Alternatif?

Ya, ada. Namun alternatifnya apa? Dalam kritiknya terhadap proposal pemerintah pekan lalu, Platform Kiri SYRIZA menulis garis besar pandangannya (Baca: https://www.jacobinmag.com/2015/07/tsipras-euro-debt-default-grexit/). Mereka menyatakan kembali kepada mata uang nasional, namun tetap berada dalam Euro (“suatu opsi yang sudah diajukan di engeri-negeri seperti Swedia dan Denmark”) demi menerapkan suatu program yang hanya bisa disebut sebagai kapitalisme nasional. Ini akan berdasarkan ekspor, produksi nasional, investasi negara dalam ekonomi dan “suatu hubungan produktif baru antara sektor-sektor publik dan swasta untuk memasuki suatu jalan pembangunan berkesinambungan.”

Kenyataannya, rencana demikian sama utopisnya dengan rencana Tsipras. Saat di satu sisi tidak ada alternatif terhadap pemotongan anggaran dalam Uni Eropa, justru bodoh untuk menganggap bahwa suatu Yunani independen yang tergerogoti krisis kapitalis bisa menuntaskan jalan keluarnya dari krisis dengan berhadapan dengan negara-negara kapitalis yang jauh lebih kuat. Tampaknya kawan-kawan ini menganggap bahwa pemotongan anggaran bersifat “ideologis”. Dengan kata lain pilihan para bankir dan kapitalis Jerman. Alih-alih konsekuensi tak terhindarkan dari krisis sistem kapitalisme. Pemotongan anggaran adalah upaya untuk membuat kaum buruh menanggung krisis kapitalisme. Itulah kenyataannya. Tidak pedulia di dalam atau di luar Euro.

Pendekatan politik keliru ini adalah salah satu kelemahan utama Platform Kiri. Rakyat pekerja di Yunani benar karena takut akan konsekuensi-konsekuensi ekonomi kacau gara-gara Grexit. Ketakutan yang pantas ini tidak bisa dikonter dengan argumen salah bahwasanya “segala sesuatu akan buruk untuk sesaat namun kemudian kita bisa mendevaluasi jalan keluar kita dan membangun kapitalisme nasional yang kuat”. Ini tidaklah menyelesaikan persoalan apparatus industrial yang lemah, kurang produktif, tidak mampu berkompetisi dengan industri maju yang sangat produkif dari negara-negara seperti Jerman. Tinggal atau keluar dari Uni Eropa masih ada masalah ini. Gagasan bahwa mengekspor jalan keluar dari krisis benar-benar utopis, karena krisis ini berskala dunia, dimana negara-negara dengan ekonomi lebih lemah yang pertama kali jatuh.

Satu-satunya jalan keluar adalah “pemecahan sosialis”. Yaitu mencampakkan hutang (yang menurut penyelidikan parlementer resmi sudah disimpulkan sebagai hutang bersifat “ilegal, tidak sah, dan keji”), nasionalisasi perbankan dan rebut aset-aset kapitalis Yunani. Saat ini “realisme” para pimpinan reformis SYRIZA sudah terekspos sebagai Utopia total. Saat inilah saat yang paling gampang untuk menjelaskan sosialisme, karena berkesesuaian dengan pengalaman praktis ratusan ribu, berjuta rakyat pekerja Yunani selama lima tahun terakhir.

Hanya penataan ulang masyarakat secara radikal di atas landasan kepemilikan bersama alat-alat produksi yang bisa menawarkan jalan keluar. Ini pun mustahil berlaku dalam batas-batas Yunani, suatu ekonomi periferal kecil di Yunani. Namun ini akan mengirimkan suatu pesan kuat kepada rakyat pekerja di seluruh penjuru Eropa, mulai Spanyol, Portugal, dan Irlandia.

Jika para pimpinan Platform Kiri mengadopsi suatu program sosialis sejati dan menawarkan suatu oposisi tegas dan jelas terhadap Memorandum. Tidak hanya dalam perkataan dan pernyataan. Namun juga dalam tindakan, maka mereka akan mampu menggerakkan oposisi yang sedang bertumbuhan.

Selanjutnya Apa?

Kapitulasi memalukan pemerintah yang dulunya dipercaya massa akan mengakhiri pemotongan anggaran akan menimbulkan dampak mendalam. Jumat lalu, proposal-proposal pemerintah bertemu dengan rasa kaget dan tak percaya yang kemudian dengan seketika menjelma menjadi angkara murka.

Pemogokan massa sudah diserukan untuk digelar hari ini, Rabu 15 Juli 2015 oleh Federasi Serikat Pekerja Sektor Publik (ADEDY). Secara signifikan, para aktivis serikat buruh yang berafiliasi dengan SYRIZA, dan serikat-serikat lainnya, juga memainkan peran kunci dalam voting eksekutif serikat. Demonstrasi-demonstrasi juga diserukan digelar pada hari yang sama untuk menentang Memorandum yang baru.

Adalah satu hal untuk meloloskan langkah-langkah di Parlemen, namun akan sulit untuk benar-benar menerapkannya. Para buruh di perusahaan listrik, di pelabuhan Piraeus, para pensiunan, para pemuda yang memvoting OXI secara masif…tidak akan terima dan tidak akan berpangku tangan. Yunani akan jadi pertempuran-pertempuran kelas utama. Kelas pengusa Eropa dan padanan-padanan Yunaninya bisa saja mencapai mayoritas besar di parlemen namun perimbangan kekuatan di masyarakat bergeser secara masif melawan mereka. Ini tak akan selesai lewat prosedur parlementer namun lewat perjuangan.

Akhirnya penting untuk menekankan bahwa krisis Yunani mengandung pelajaran-pelajaran berharga bagi semua partai dan gerakan di negara-negara lain yang punya ilusi bahwa mungkin untuk menentang pemotongan anggaran dan mencapai kesepakatan dengan kapital Eropa pada saat yang bersamaan. Memang mungkin untuk melawan pemotongan anggaran namun satu-satunya cara yang efektif untuk melakukannya adalah putus dengan kapitalisme.

*ditulis oleh Jorge Martin dengan judul “Greece: a humiliating capitulation which will not work” serta dipublikasikan In Defence of Marxism pada Senin 13 Juli 2015. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: