Front Nahdliyin Serukan Jihad Hijau dalam Muktamar NU 33

Front Nahdliyin Serukan Jihad Hijau dalam Muktamar NU 33

Front Nahdliyin Serukan Jihad Hijau dalam Muktamar NU 33

Korporasi mendominasi sumber konflik agraria dan lingkungan

Jombang, 04/08/2015, Front Nahdliyin untuk kedaulatan Sumberdaya Alam selama tiga hari ini mendiskusikan mendalam tentang isu-isu sumberdaya alam dan lingkungan. Front dahdliyin bersama, Sajogya Institute, Walhi, KontraS dan lembaga-lembaga non pemerintahan yang lain mendorong dalam Muktamar NU ke 33 ini ada bahasan dan agenda serius tentang peran Negara untuk membangun peradaban baru yang bebas imperalisme dan kolonialisme serta bebas dari warisan stelsel feodalisme. Kembalinya santri untuk melihat bahwa santri selain sebagai identitas keagamaan tetapi santri juga identitas yang paling genuin dari proses kemerdekaan indonesia. Muktamar ini harus disadarkan kembali pada peran santri diranah-ranah peran politik sosial kebangsaan.

Dalam perbincangan persoalan agraria – konflik agraria, maka bukan hanya konflik tersebut terletak pada definisi konflik dan klaim saja. Pertengtangan klaim atas wilayah satu wilayuah yang berakibat pada hilangnya satu hak. Konflik agraria seharusnya dilihat lebih komplek yaitu sebagai konflik agraria struktural karena jelas konflik agraria terjadi karena ada struktur yang memungkinkan terjadinya konflik seperti pemberian konsesi dan ijin.

Data konflik agraria dari Konsorsium Pembaruan Agria (KPA) tahun 2014 menyebutkan ada 472konflik, dengan luasaan area 860.977,07 Ha, yang melibatkan 105.887 KK. Sedangkan jika dilihat sumbangan konfliknya adalah sektor infrastruktur 45,55%, perkebunan 39,19%, Kehutanan 5,72%, pertanian 4,24%, pertambangan 2,97%perairan dan kelautan 0,85% dan konflik lainya 1,48%. Sedangkan Komnas HAM, pada tahun 2013, menyebutkan dari 6000 kasus diantaranya 70% kasus berbasis SDA. Pelaku pelanggar HAM adalah polisi, korporasi, pemerintahan daerah. Tiga aktor ini adalah trio macan yang mengancam Hak Asasi Manusia.

 

Menurut Eko Cahyono dari Sajogyo Institute menyatakan agraria literasi (melek agraria) penting untuk dimulai dari awal. Karena hubungan manusia dengan tanah bukan hanya hubungan ekonomi tetapi hubungannya sangat berlapis seperti hubungan sosial, budaya sampai hubungan religi. Agenda penataan ruang sumber-sumber agraria belum tuntas, rezim memaksa isu agraria timbul tenggelang menggantungkan pada kemauan kekuasaan politik yang saat itu berkuasa. Konflik agraria mesti dibaca secara historis, sebagai bagian dari endapan dan akumulasi dari persoalaan dasar bangsa. akibat belum tuntasnya reforma agraria;

Sedangkan Nurhidayati dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan yang terjadi di Indonesia saat ini masih tetap seperti dulu, kita hanya penghasil produk sumber mentah. Kemakmuran tidak ada di negara dengan hanya penghasil produk mentah. Saat ini kita malah berperan ganda yaitu sebagai sumber bahan mentah, dan sumber pasar. Dalam catatan 30% dari pendapatan negara masih didasarkan pada eksploitasi sumberdaya alam, anehnya semua itu bukan untuk melayani rakyat indonesia tetapi utk melayanai pasar, hal ini peran korporasi yang begitu dominan dalam pengusasaan sumber agraria. Pengelolaan hutan misalnya sebagian besar dikuasai oleh korporasi. Satu sampai dua juta orang per tahun di Indonesia hidup dalam kondisi tidak aman, dalam satu tahun tersebut mereka pasti mengalami bencana.

Roy Murtadho dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam, menyampaikan bahwa dalam empat hari ini kami mengumpulkan banyak ahli dalam bidang ilmu khusus baik yang tergabung dalam gerakan organisasi non pemerintah, Pemerintah, akademisi, santri sampai pada korban langsung untuk bersama mendiskusikan tentang kondisi saat ini yang dirasakan oleh warga NU. Kami akan terus berkonsolidasi dalam mengawal point-point penting yang dihasilkan dan kami akan memastikan bahwa poin hasil diskusi kita 4 hari ini akan kami bawa pada Ketua Umum PBNU yang baru terpilih nantinya, Tutup Gus Roy.

 

Kontak Person

 

Muhnur Satyahaprabu (Walhi 081327436437)

Roy Murtadho ( front nahdliyin 085784008002)

Eko Cahyono ( sajogya Institute/ 62 823-1201-6658)

Fatkhul Koir (KontraS/ 081230593651).

*dikirim oleh Djuir Muhammad. Dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: