Perlawanan Rakyat Jepang Anti Perang

Perlawanan Rakyat Jepang Anti Perang

Sejarah mengenai zaman perang di Jepang seringkali membingkai dalam suatu pandangan entitas monolitis dimana seluruh populasi berbaris mendukung tujuan militeristis negara. Pilot-pilot Kamikaze menyimbolisasikan perspektif ini dimana para pemuda berani mati untuk kaisar. Negara dan militer Jepang sangat membayangi masyarakat bahkan memaksakan keseragaman dari atas di mulai dari saat invasi ke Manchuria tahun 1931 sampai menyerahnya tahun 1945. Namun ada hal yang jarang diangkat dalam sejarah ini, yaitu perlawanan rakyat Jepang menentang ekspansi militer dan militerisasi masyarakat. Terdapat perlawanan individual dan juga perlawanan kolektif sekaligus karena perang agresi negara Jepang juga diarahkan bukan hanya terhadap negara lain namun juga terhadap rakyatnya sendiri. Para aktivis kiri, aktivis buruh, aktivis serikat, dan kaum minoritas seperti Korea dan burakujumin (etnis Jepang namun dianggap kaum terasing) merupakan sasaran penindasan rezim pemerintah Jepang. Namun pelarangan kelompok-kelompok kiri, penyatuan paksa serikat-serikat menjadi perhimpunan industri: Sanpo (Perhimpunan Industri Patriotis), serta intimidasi, represi, penangkapan, dan penyiksaan terhadap para aktivis, tidak menghentikan perlawanan. Terdapat contoh-contoh perlawanan individual dari militer, termasuk di antara anggota pilot-pilot Kamikaze, kaum Tani, orang-orang Korea yang dikenai kerja paksa di tambang-tambang, buruh-buruh, dan intelektual. Perlawanan ini berbentuk perjuangan keras, sabotase tempat kerja, bolos, dan juga dalam bentuk-bentuk dimana para aktivis menuangkan kegiatan perlawanan mereka dalam bentuk puisi, grafiti, humor, bahkan publikasi-publikasi.

Perlawanan di antara Masyarakat Umum

Meskipun terdapat represi terus-menerus terhadap aktivitas-aktivitas kiri, namun para intelektual dan seniman masih menemukan cara untuk protes. Jurnal-jurnal anti-pemerintah diterbitkan bulanan sampai perang berakhir. Salah satu pementasan di desa menyertakan komentar anti militeris, “Aku tidak paham dengan orang-orang yang mengirimmu berperang dengan sorak-sorai. Padahal tak ada yang kembali hidup-hidup. Daripada sorak-sorai lebih baik bacakan doa kematian Budha”. Sementara itu lingkar-lingkar budaya di pabrik-pabrik dan desa-desa memungkinkan kelompok-kelompok ilegal seperti Partai Komunis dan sayap kiri dari gerakan serikat buruh untuk beroperasi. Sebab ini menjadi wadah bagi mereka untuk menyebarkan pemikiran anti perang dan pemikiran revolusioner. Sebenarnya terdapat sentimen publik yang bermusuhan terhadap pemerintah dan kaisar. Catatan-catatan polisi dari tahun 1942 menunjukkan adanya orang-orang yang ditangkap karena menyatakan bahwa kaisar harus dilempar ke salju “seperti yang dilakukan para revolusioner Rusia terhadap Tsar”. Rakyat juga mengarahkan kemarahannya terhadap militer-terdapat para warga yang rumahnya dibakar kemudian mengejar mobil perwira militer sambil berteriak, “Kerusakan ini gara-gara kalian, orang-orang militer!”

Perlawanan Buruh

Saat perang, kurangnya pangan dan buruknya upah serta kondisi kerja kemudian memantik perlawanan. Pemogokan meluas. Tahun 1939 tercatat setidaknya 1.120 pemogokan. Meskipun menurun jadi 417 di tahun 1943, namun jumlah buruh dalam aksi mogok dan aksi perlawanan lainnya meningkat. Sabotase sering terjadi. Suatu laporan Juli 1944 memperkirakan 10% pesawat diproduksi di Jepang disabotase. Sabotase buruh di pabrik Hitachi menganjlokkan 30% produksi. Aksi perlambatan kerja juga umum terjadi. Aksi bolos juga tinggi–dari 10% di tahun 1943 naik jadi 15% di pertengahan 1944. April 1943 dilaporkan 44% buruh perempuan pabrik pesawat Kawasaki bolos kerja. Para mahasiswa dan pelajar yang diwajibkan bekerja di pabrik Tokyo membalas hukuman pencurian pangan dengan rotasi kelompok kerja sehingga satu kelompok selalu bolos, dan menjamin bahwa produk tak akan bisa dituntaskan.

Pembubaran Gerakan Buruh

Elemen-elemen gerakan serikat buruh aktif dalam menentang perang dan bangkitnya militerisme namun menginjak tahun 1937 banyak serikat buruh membatasi aksi-aksi industrinya dan berhenti berfungsi sebagai serikat buruh. Juli 1940 federasi serikat buruh dibubarkan begitupula dengan serikat-serikat lainnya yang tak berafiliasi. Serikat-serikat ini dipaksa jadi bagian Sanpo yang diawasi oleh aparat kepolisian. Sanpo menghimpun pabrik dengan tujuan memaksa buruh tunduk tanpa syarat untuk kerja paksa, kerja lembur, dan upah rendah. Melalui Sanpo, para buruh diindoktrinisasi dengan ideologi bahwa perusahaan-perusahaan adalah perpanjangan sistem keluarga istimewa Jepang. Namun tidak semua serikat menghilang. Salah satu serikat yang melawan pembubaran adalah Serikat Buruh Percetakan yang mengubah dirinya menjadi Klub Percetakan. Serikat Buruh Percetakan menyatakan ingin “menunjukkan kegigihan gerakan serikat buruh di seluruh Jepang”. Direktur klub itu, Shibata Keiichiro mengatakan: “Anggota-anggota kami berpikir tak peduli sekeras apapun kami ditekan, kami harus mempertahankan agar klub ini bertahan. Para pengurus serikat buruh kanan telah membubarkan organisasi-organisasi dan bekerjasama dengan militer. Mereka telah menjual kaum buruh ke musuh dan karenanya banyak organisasi lain dipaksa bubar…jika para buruh berdiri tegak bersama dan melawan kami pasti akan membangkitkan kesadaran kelas kami…” Polisi memerintahkan pembubaran klub pada Maret 1940 dan para anggota klub kemudian menggelar pembubaran palsu pada bulan Agustus. Bulan Oktober, klub kemudian menjalankan serangkaian aktivitas termasuk beperjalanan. Klub Percetakan terus mengadakan pertemuan, mencetak materi-materi, dan menjalankan pendidikan-pendidikan sampai seluruh anggota laki-laki yang memimpin ditangkap tahun 1942. Klub ini kemudian dijalankan oleh para anggota perempuan.

Perlawanan di dalam Militer

Pergolakan di antara para prajurit sebenarnya lebih signifikan dari yang disadari. Para prajurit mengembangkan trik-trik untuk melarikan diri dari pertempuran. Tahun 1939, para prajurit yang menahan para sandera di Tiongkok kemudian membentuk kelompok-kelompok menuntut peningkatan hajat hidup para prajurit. Mereka membagikan propaganda kepada para prajurit dan petani Tionghoa yang berisi aktivitas-aktivitas anti perang yang dilancarkan rakyat Jepang.

Buku-buku harian dan surat-surat menunjukkan banyak tokkotai–pemuda yang kena wajib militer, seringkali para mahasiswa, dari keluarga berada-membenci apa yang mereka lakukan dan kritis terhadap perang.

Hayashi Tadao, salah seorang pilot Jepang, mendesak saudaranya untuk meminjamkannya buku Lenin berjudul “Negara dan Revolusi” yang dilarang pemerintah Jepang. Ia membacanya diam-diam dan menyimpulkan bahwa perang Jepang adalah perang imperialis. Ia menulis di buku hariannya pada Oktober 1941: “Mati dalam perang, mati karena tuntutan negara–tak ada bagus-bagusnya untuk dipuja dan dipuji; ini adalah tragedi”. Seorang pelaut menulis dalam buku hariannya: “Perjalanan kami ini tidak ada artinya dari sudut pandang strategi militer dan tidak akan menimbulkan kerusakan kepada musuh. Tujuan kami terbukti tak ada artinya dan kami akan mati karena semua ini.” Kelompok-kelompok lain seperti Liga Rakyat Jepang Anti Perang, dibentuk tahun 1942, menyerukan para prajurit Jepang untuk menyerah, menolak bertempur, atau berpartisipasi dalam gerakan anti-perang. Contoh-contoh demikian membantah pandangan hegemonis yang menyatakan bahwa populasi Jepang di masa perang sepenuhnya mendukung perang. Kaum elit Jepang sepenuhnya ketakutan atas menyebarnya perlawanan demikian. Sebagaimana komentar menteri kelautan Jepang, Yonai Mitsumasa, “Alasan mengapa saya memperjuangkan diakhirinya perang bukan karena saya takut serangan musuh, bukan karena bom atom, atau karena masuknya Soviet dalam perang. Lebih dari segalanya yang saya takutkan adalah kondisi-kondisi domestik”.

*tulisan Kaye Broadbent dan Tom O’Lincoln yang dipublikasikan di redflag.org.au. Artikel ini berdasarkan suatu bab dalam buku Fighting on all fronts: popular resistance in the Second World War, dieditori oleh Donny Gluckstein. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: