Mengapa Rusia Campur Tangan di Suriah

wpid-mengapa-rusia-campur-tangan-di-suriah.jpg.jpeg

image

Senin 28 September 2015, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun lamanya, Presiden Rusia: Vladimir Putin menghadiri sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB), yang setelahnya ia mengikuti suatu pertemuan tertutup dengan Presiden Amerika Serikat (AS): Barack Obama. Hanya sebulan lalu pertemuan demikian akan terlihat sulit terjadi. Semenjak krisis Ukraina, hubungan antara pemerintah-pemerintah Barat dengan Rusia telah memburuk secara tajam seiring dengan sanksi-sanksi sengit telah dijatuhkan kepada Rusia dan Putin dijadikan pria yang paling dimusuhi media massa Barat.

Bagaimanapun juga, peningkatan signifikan kehadiran militer Rusia di Suriah selama bulan lalu telah mengubah situasi. Semakin tergerusnya dan terurainya apparatus negara Bashar Al-Assad membuat Putin tidak melihat ada pilihan lain selain bergerak masuk membantu rezim Suriah yang melemah di hadapan gelombang pasang Islamis.

AS dengan seketika mencela manuver tersebut namun situasi ini sebenarnya mengangkat kelemahan imperialisme AS di kawasan. Selama lebih dari setahun AS dan koalisinya membombardir daerah-daerah yang dikuasai Islamic State (IS) atau Negara Islam di Suriah dan Irak, dengan hasil yang kecil. Sekarang mereka terpaksa bersandar pada intervensi Rusia sebagai satu-satunya jalan keluar dari krisis. Ini menunjukkan kepada siapa sebenarnya Obama yang bicara di sidang umum PBB, berkata: “AS siap bekerja dengan negara manapun—termasuk Rusia dan Iran—untuk memecahkan konflik”.

PERTANYAAN KOALISI

Di Irak, perang terhadap IS dan direbutnya kembali kota-kota kecil di Irak telah berlangsung sangat lamban dan menyakitkan serta memakan ribuan korban jiwa. Sementara itu IS malah berhasil merebut daerah-daerah baru seperti Ramadi, ibu kota gubernuran Anbar. Ini akibat kelemahan negara Irak, yang seiring dengan ketidakmampuan AS untuk secara langsung mengoordinasi operasi-operasi dengan pasukan-pasukan yang telah memainkan peran penting dalam ofensif-onfensif, yaitu laskar-laskar yang terhubung dengan Iran. Saat yang bersamaan dengan itu, rekan-rekan AS dari negara-negara teluk telah secara aktif melobi suku-suku Sunni Irak untuk menahan dukungan mereka terhadap serangan-serangan anti IS sebagai kartu tawar terhadap pemerintahan pusat.

Sedangkan di Suriah, upaya AS langsung dijawab dengan pasukan-pasukan IS yang jumlahnya semakin besar, kecuali di daerah-daerah Kurdi dimana pasukan-pasukan kiri, yaitu Unit Perlindungan Rakyat (YPG)—kelompok yang dicap sebagai teroris oleh AS—telah memberikan hantaman-hantaman terhadap IS.

Bagaimanapun juga gerak maju Kurdi telah macet karena mereka sendiri ditarget oleh rezim Erdoğan di Turki, salah satu koalisi pimpinan AS. Faktanya rezim Erdoğan telah memulai kampanye serangan udara yang menarget laskar-laskar Partai Pekerja Kurdi (PKK) di Irak yang selama ini justru menjadi pasukan-pasukan paling efektif dalam melawan IS di darat.

Sementara itu, Erdoğan telah secara aktif mendukung IS dengan membiarkannya membangun jaringan perekrutan, transportasi, dan perdagangan di Turki. Faktanya justru intervensi habis-habisan Erdoğan yang mengakibatkan serbuan-serbuan YPG yang didukung AS berhenti sejenak dalam merebut perbatasan utama terakhir antara Turki dan Suriah yang dikuasai IS. Jadi sementara IS diserang oleh AS, salah satu sekutu utamanya justru sibuk menyuplai ulang dan menjaga aliran tentara ISIS masuk ke teritori-teritori terbukanya.

Front Selatan, yang merupakan satu-satunya kelompok signifikan yang tersisa yang secara formal merupakan bagian dari Free Syrian Army (FSA) atau Tentara Suriah Merdeka, belum mampu bersatu menjadi suatu tentara reguler dan upaya terkininya untuk merebut kota selatan Daraa dihalau oleh oeprasi-operasi gabungan CIA yang bermarkas di Yordania. Daerah-daerah dan pasukan-pasukannya secara gradual terus diserap oleh berbagai gerakan Islamis berbeda yang tampaknya menjaganya tetap hidup utamanya sebagai suatu sumber untuk menerima bantuan persenjataan dari Barat.

Upaya-upaya AS untuk membangun angkatan proksinya sendiri juga telah disabotase oleh sekutu-sekutu tradisionalnya sendiri. Misi pelatihan dan persenjataan yang dipublikasikan secara tinggi telah menjadi aib memalukan bagi seluruh institusi militer AS. Setelah menghabiskan ratusan juta dolar untuk membangun suatu angkatan yang memadai, tim pertama yang memasuki tanah Suriah langsung diserang oleh Jabhat Al-Nusra (JAN), kelompok Al-Qaidah yang dibekingi oleh Turki. Dari lima puluhan prajurit hanya segelintir yang bertahan hari ini. Diyakini bahwa posisi-posisi mereka dibocorkan ke JAN oleh intelijen Turki. Tim prajurit tempur kedua AS, dikirim beberapa minggu lalu, namun komandannya langsung membelot ke JAN dengan memboyong berjibun peralatan militer canggih, dan mencela upaya-upaya AS untuk menghalangi pasukan-pasukan dari memerangi rezim Assad. Oleh karena itu, hari Senin, semua upaya dibatalkan dan misinya hanya dibuat untuk persiagaan.

Semua peristiwa ini mengungkap kontradiksi-kontradiksi mendalam yang tak terpecahkan yang dialami AS. Mereka telah kehilangan sekutu-sekutu tradisional mereka yaitu Turki dan negara-negara teluk, yang kini mengejar kepentingan-kepentingan sempitnya sendiri dan lepas dari kendali AS Sementara itu Obama tidak punya pasukan-pasukan yang bisa diandalkan di darat. Kerjasamanya dengan YPG dibuat cacat oleh penentangan dari Erdoğan dan AS tidak bisa bekerjasama secara terbuka dengan Iran, Hizbullah, atau rezim Assad karena takut akan ditentang oleh sekutu-sekutunya maupun oleh partai Republiken di AS.

Rusia Memasuki Suriah

Masuknya Rusia ke medan perang karena rezim Assad semakin terseok-seok dalam perang sipil. Bagi Rusia ini merupakan suatu pukulan karena rezim Assad merupakan sekutu utama Rusia di Timur Tengah dan satu-satunya tempat markas fasilitas militer Rusia di bekas daerah Uni Soviet – pangkalan laut Tartus.

Jatuhnya Assad bukan hanya akan membuat Suriah dikuasai oleh organisasi-organisasi Islamis namun juga akan mengakibatkan destabilisasi Turki, Lebanon, dan Yordania, sekaligus negara-negara teluk. Ini akan menjadi suatu ancaman bsar bagi kepentingan Rusia di kawasan dan konsekuensi malapetaka bagi seluruh ekonomi dunia.

Ini juga akan menimbulkan dampak seketika di dalam Rusia, karena ada kelompok-kelompok Islamis yang tertarik ke IS di empat daerah Rusia di Kaukasus; Dagestan, Chechnya, Ingushetia, dan Kabardino-Balkaria.

Dengan masuk sebagai angkatan perang ke dalam perang sipil Suriah, Rusia bukan hanya memberikan dorongan moral yang dibutuhkan tentara-tentara Suriah yang sudah kelelahan berperang, namun juga dukungan teknis, intelijen, dan angkatan udara yang tidak diberikan AS kepada rezim AS. Ini akan sepenuhnya mengubah perimbangan kekuatan di medan pertempuran.

Saat yang bersamaan Rusia juga menjalin operasi-operasi gabungan dengan Irak, Iran, dan Suriah di Baghdad. Ini adalah pelanggaran langsung terhadap koalisi pimpinan AS yang mana Irak menjadi anggotanya.

Dalam suatu konferensi pers hari senin, Hakim Al-Zameli, kepala Komite Keamanan dan Pertahanan Nasional Irak mengatakan bahwa tim-tim Iran dan Rusia sudah tiba di Irak untuk memulai aliansi empat pihak.

Ia lanjut mengatakan, “Irak butuh bertukar pengalaman dan intelijen informasi dengan negara-negara khususnya setelah menjadi jelas bahwa AS tidak serius dan gagal dalam koalisi internasionalnya untuk memerangi organisasi IS.”

Dalam hal ini, Rusia berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan AS, yaitu menyiapkan kampanye militer serius bersama dengan angkatan-angkatan yang memerangi IS di darat.

Namun Putin punya alasan yang berbeda atas intervensi ini. Semenjak 2014, setelah krisis Ukraina, Rusia menjadi semacam paria di antara negara-negara besar dunia, khususnya Barat yang menjatuhkan sanksi-sanksi berat dan mengakibatkan ekonomi Rusia berada dalam krisis serius. Bagi Putin, intervensi di Suriah adalah suatu cara untuk menegaskan kembali dirinya di panggung dunia dan pada saat yang bersamaan menggapai Barat.

Pada sidang umum PBB, Putin menyerukan suatu aliansi di atas garis-garis yang sama yang mengalahkan Hitler selama Perang Dunia II. Terlepas dari petunjuk tersirat bahwa AS mendukung kaum NAZI dan fasis di Ukraina, Putin jelas menyiratkan kemampuan Uni Soviet di masa lalu dalam menumpas pasukan Hitler yang berujung pada lonjakan pesat dalam popularitas Uni Soviet di mata dunia dan masuknya mereka ke panggung dunia sebagai salah satu negara adikuasa.

Tak Ada Pilihan Lain Bagi Obama

Terlepas dari kemarahan dan kesewotannya, Obama dan Imperialisme AS tak punya pilihan lain selain menerima fait accompli Putin, yang merupakan satu-satunya jalan bagi stabilisasi Suriah. Satu persatu pejabat tertinggi di Barat mulai sepakat bahwa Barat butuh bekerjasama dengan Rusia. Memang, lantas mereka mau apa? Mereka selama ini menyeru agar semua negara bersekutu melawan IS dan saat Rusia menawarkan bantuannya, mereka sulit untuk menolaknya.

Tuntutan keras sebelumnya yang menghendaki bahwa rezim Assad harus turun juga mulai dikompromikan seiring dengan perlahan-lahan para pejabat tinggi Barat mulai secara resmi mengakui bahwa “mungkin ada ruang bagi Assad” dalam suatu rezim peralihan.

Jelas bahwa Assad, keluarganya, dan kroni-kroninya begitu terikat ke negara Suriah sehingga kalau mereka disingkirkan maka negara Suriah akan runtuh. Bahkan Obama, meskipun di waktu lalu mencela habis-habisan barbarisme rezim Suriah di PBB, harus mengakui bahwa “realisme mengharuskan bahwa kompromi diperlukan untuk mengakhiri pertempuran dan menumpas ISIL sepenuhnya.”

Putin menawarkan Obama suatu pertolongan, suatu jalan keluar dari kekacauan yang diakibatkan ulah AS sendiri di Suriah, namun pertolongan ini harus berdasarkan persyaratan yang ditentukan Putin sendiri yang disertai pengakuan terhadap Rusia sebagai negara adikuasa yang sah dan setara. Bagi Obama ini adalah kesempatan yang tak bisa dilewatkannya, meskipun ini akan membuatnya jadi mangsa empuk bagi kaum Republiken di dalam negeri.

Negara-negara Eropa juga sudah sepakat. Aliran pengungsi yang membanjir dari Suriah sudah mengakibatkan destabilisasi pada sistem politik Uni Eropa dan mengakibatkan perpecahan di antara kelas-kelas penguasa Eropa terkait persoalan siapa yang menanggung biayanya. Saat yang bersamaan, ekonomi Uni Eropa yang sudah rapuh, khususnya Jerman, sedang terhantam akibat sanksi-sanksi terhadap Rusia. Dus, banyak pejabat tertinggi negara-negara Uni Eropa sudah memberi sinyal perubahan sikap dan pada khususnya perubahan tuntutan mereka yang dulu menghendaki penggulingan Assad.

Pengecualian dalam hal ini ada pada Francois Hollande di Prancis, yang membuka kasus melawan Assad atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Bagaimanapun juga pidatonya di sidang umum PBB telah mengungkap kesendiriannya dalam menyeru kepada negara-negara Eropa agar tidak membiarkan krisis pengungsi mengubah pendirian mereka terhadap Suriah. Tentu saja ngomong memang gampang saat Prancis tidak begitu terkena krisis pengungsi dan sanksi-sanksi terhadap Rusia serta memiliki ikatan-ikatan lebih erat ke negara-negara Teluk dan para sponsor fundamentalisme Islam di Timur Tengah.

Jauh dari mengubah situasi di Timur Tengah secara kualitatif, manuver Rusia telah membuat kenyataan menjadi segaris dengan fakta bahwasanya rezim Assad dan Iran adalah satu-satunya angkatan yang bisa memerangi IS di Suriah dan Irak, berbeda dengan sekutu-sekutu tradisional Barat yang malah menjadi sumber-sumber instabilitas. Namun karena Amerika tidak mampu mengambil keputusan-keputusan sendiri, akhirnya malah Rusia yang bergerak dan AS tidak punya pilihan selain mengikuti dan menyesuaikan.

Bukan hanya mereka harus menerima fakta di lapangan, namun AS juga harus berhenti mendanai pasukan-pasukan di darat kalau mereka ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia.l Tentu saja mereka akan harus melakukan ini cepat atau lambat, karena ini memang tidak efektif, namun fakta bahwa Rusia yang menyeret AS adalah aib yang teramat memalukan.

Gayung Bersambut bagi Imperialis

Akar dari semua barbarisme di Suriah bisa dilacak ke intervensi-intervensi imperialisme AS dan semua sekutu busuknya di Turki dan negara-negara Teluk. Pertama-tama melalui destabilisasi Irak dan pemecah-belahannya di atas konflik sektarian melalui pendudukan AS yang mengakibatkan jutaan orang mati dan tersingkirkan. Kedua, melalui intevensi-intevensi imperialis di Suriah semenjak permulaan revolusi Suriah di tahun 2011.

Semenjak saat itu kekuatan-kekuatan itu telah menghamburkan milyaran dolar untuk mendanai oposisi Islamis agar menggulingkan Assad dan melemahkan Suriah. CIA sendiri menghabiskan hampir satu miliar dolar per tahun dalam apa yang menjadi misi-misi terbesar di sejarah dinas intelijen itu. Namun monster yang mereka ciptakan kini telah berbalik memusuhi AS dan sekutu-sekutunya sudah terlanjur mengeluarkan banyak uang dan merasa sayang untuk menyerah. Namun sebagaimana apa yang dikatakan Putin kepada Obama, dua hal itu tidak akan terjadi.

Tentu saja sementara Putin bisa memblejeti kemunafikan Barat, bukan berarti ia adalah orang yang punya itikad baik dan niat terluhur bagi Suriah. Bagi Putin, Suriah sendiri tidak berarti apa-apa. Faktanya, pangkalan laut Tartus bukanlah posisi penting bagi Rusia dibandingkan dengan permasalahan lain yang dimiliki Rusia. Bagi Putin, Suriah adalah kartu judi yang bisa digunakannya untuk merengkuh kembali posisi Rusia sebagai negara adidaya dunia dan sebagai kekuatan regional di Timur Tengah.

Keterlibatan Rusia bisa melemahkan kaum Islamis, namun ia tidak akan berujung pada penciptaan suatu Suriah yang merdeka, bebas, dan demokratis bagi rakyatnya. Pertama-tama sekali, mereka akan habis-habisan membela rezim Assad, yang merupakan rezim kediktatoran. Assad memang tampaknya merupakan lawan utama Islamisme hari ini, namun ia tidak punya masalah dengan Islamis-Islamis Suriah, termasuk Al-Qaidah, sepanjang ia bisa menggunakannya untuk menekan pendudukan AS di Irak. Ia juga tidak punya masalah saat menyaksikan mereka membajak revolusi Suriah. Sementara gerakan revolusioner mendapatkan banyak simpati di antara banyak orang Suriah di daerah-daerah yang dikuasai Assad, gerakan Islamis hari ini telah memperkuat dukungan Assad. Sepanjang menyangkut penghancuran revolusi, kaum Imperialis, kaum Islamis, dan Assad secara de facto seiya-sekata.

Bahkan hari ini proposal-proposal Iran dan Rusia (termasuk Assad) pada pokoknya setara dengan kesepakatan bagi-bagi kekuasaan melibatkan semua kelompok. Tapi apa yang dimaksud semua kelompok disini? Tidak lain adalah komplotan-komplotan kriminal yang beroperasi di bawah payung FSA, kaum demokrat neo-liberal bekingan Barat, milisi-milisi bekingan barat dan kelompok-kelompok Islamis berbagai bentuk yang dibekingi Turki dan Saudi. Kecuali pasukan-pasukan Kurdi, tak ada kelompok di Suriah yang merepresentasikan massa rakyat Suriah, dan semua kelompok ini pada gilirannya juga akan memusuhi Kurdi bahkan sebelum tinta perjanjian mengering.

Angkatan-angkatan revolusi Suriah sudah lama terbunuh, tersingkirkan, atau bahkan tergilas oleh burung-burung nazar imperialis di kawasan. Kesalahan mereka, yang harus mereka bayar mahal, adalah mencoba berjuang di dalam batasan-batasan kapitalisme dan meminta bantuan imperialisme AS. Tentu saja perjuangan tidak akan surut namun untuk saat ini keselamatan bagi massa rakyat Suriah hanya akan datang dari gerakan revolusioner lain di kawasan.

Bagaimanapun juga dalam kapitalisme tidak ada solusi bagi krisis Timur Tengah. Meskipun Rusia memerangi fundamentalisme Islam di Suriah, itu dilakukannya untuk mempertahankan masyarakat kelas dan eksploitasi kapitalis.

Satu-satunya kekuatan yang berkepentingan terhadap massa adalah massa sendiri. Namun di atas landasan kapitalis tak ada permasalahan massa yang bisa dipecahkan. Hanya melalui perjuangan revolusioner melawan kapitalisme, maka barbarisme sektarianisme, kemiskinan, dan penderitaan bisa dihapuskan dari kawasan.

*Ditulis oleh Hamid Alizadeh pada 30 September sebagaimana dipublikasikan marxist.com dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: