Turki – Ribuan Demonstran Turun ke Jalan Seiring Semakin Parahnya Krisis Rezim Erdogan

wpid-turki-ribuan-demonstran-turun-ke-jalan.jpg.jpeg

Menyusul serangan teroris keji Sabtu 3 Oktober 2015 lalu, puluhan ribu rakyat turun ke jalan dalam gerakan massa terbesar semenjak gerakan Taman Gezi di tahun 2013. Namun cukup berkebalikan dengan maksud serangan tersebut, rezim Erdogan yang penuh krisis malah semakin terisolasi.

Setelah pengeboman arak-arakan demonstrasi damai di Ankara, yang menewaskan lebih dari seratus orang dan melukai hingga 500 orang, protes-protes semi spontan meletus di seluruh penjuru negeri. Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes rezim teror Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Recep Tayyip Erdogan.

Di Istanbul kemarin sekitar 10.000 orang memenuhi Jalan Istiklal di pusat kota. Beberapa orang mengusung plakat bertuliskan “negara adalah pembunuh” dan “kami tahu siapa pembunuhnya.” Di Alun-alun Taksim sekelompok demonstran mengorganisir aksi duduk dengan spanduk bertuliskan “Pembantaian-pembantaianmu tidak akan mengalahkan tuntutan kami atas perdamaian,” “Kau tidak bisa mengebom perdamaian”, dan “Bom dijatuhkan ke perdamaian.” Terdapat vergadering-vergadering spontan dan aksi-aksi pendudukan spontan di berbagai bagian kota metropolitan yang berbeda-beda. Di Ankara pula, ribuan orang berkumpul menggelar belasungkawa kepada para demonstran yang terbunuh. Di daerah-daerah Kurdi, lusinan demonstrasi terjadi, yang terbesar ada di Dutarbakir, dimana ribuan orang berkumpul sebelum diserang dengan brutal oleh polisi anti-huru-hara.

Empat serikat buruh, DISK, KESK, TMMOB, dan TTB telah menyerukan suatu pemogokan massa hari ini dan besok yang sudah mendapatkan dukungan partisipasi yang kuat. Partai HDP yang kiri telah mendukung pemogokan tersebut dan menyatakan, “Sebagai respon terhadap mereka yang membantai rakyat demi membungkam rakyat yang berhimpun untuk memperjuangkan perdamaian di Ankara, kita butuh menunjukkan dimana-mana bahwasanya suara untuk kehidupan dan perdamaian tak akan pernah bisa dibungkam. Kami memberikan dukungan penuh kepada Pemogokan Massa yang diumumkan oleh Konfederasi Serikat Buruh Progresif (DISK), Konfederasi Serikat Pekerja Sektor Publik (KESK), Serikat Kamar Insinyur dan Arsitek Turki (TMMOB), dan Asosiasi Medis Turki (TTB) juga telah mengorganisir Demonstrasi Damai di Ankara.

Pemogokan ini tampaknya mendapatkan dukungan kuat di seluruh penjuru negeri. Di Izmir, ribuan pekerja kotamadya mogok dari pagi dan menggelar momen mengheningkan cipta selama semenit di depat Kotamadya. Spanduk mereka bertuliskan “Kami tahu siapa pembunuhnya!”. Beberapa kerja metal dan bisnis lain berhenti beroperasi, slogan-slogan berbunyi “buruh menuntut perdamaian,” “wahai istana perang, rakyat ingin perdamaian,” yang ditujukan kepada istana kepresidenan yang baru dibangun, yang ukurannya 50 kali besarnya Gedung Putih. Lusinan pabrik di industri metal menjadi saksi pemogokan, penghentian kerja, dan pertemuan-pertemuan protes.

Seluruh penjuru negeri banyak kota yang menjadi medan pemogokan dan fakultas-fakultas di kampus-kampus juga ditutup. Sedangkan di pengadilan-pengadilan Istanbul sekelompok pengacara berkumpul, meneriakkan “Erdogan membunuh (mereka), kau akan diadili!”. Peristiwa-peristiwa serupa juga terjadi di berbagai pengadilan, dan 11 organisasi pengacara mengeluarkan seruan kepada kelompok-kelompok profesional dan pengacara untuk mendukung seruan pemogokan yang dikeluarkan serikat-serikat buruh.

Respon Pemerintah
Dalam putaran ganjil peristiwa-peristiwa, Perdana Menteri, saat menyampaikan pidato kenegaraannya di hari serangan terjadi, menghabiskan pidato 30 menit lamanya untuk menyiratkan bahwasanya para pengorganisir demonstrasi—yang merupakan partai kiri HDP dan empat serikat buruh utama—sendiri yang mengorganisir serangan teroris. Ia kemudian mengancam, “Kalau (Selahattin Demirtas, Ketua HDP) mengubah derita warga yang kehilangan nyawanya akibat teror hari ini menjadi seruan perang sipil, kalau ia mengatakan, ‘ini adalah kejahatan negara terhadap rakyat dan mengajak rakyat untuk berontak melawan negara, maka pendirian ini…akan disidik, diadili, dan dihukum.” Ia kemudian juga mengancam rakyat Kurdi dan para pendukung HDP seraya mengatakan, “Jika ada yang ingin membalas dendam, saya ada disini, saya ada di Diyarbakir, saya ada di Konya, saya ada dimana-mana di Turki”.

Selahattin Demirtas membalas ancaman Erdogan dengan menggelar konferensi pers yang kuat dimana dia menyalahkan serangan teroris tersebut sebagai ulah klik AKP. Demirtas yang jelas naik pitam mengatakan “Tak ada kontrol, tak ada keamanan. Seakan-akan belum cukup, setelah para pelaku bom bunuh diri meledakkan diri, mengakibatkan 500 orang luka-luka, aparat polisi malah memerintahkan menembakkan gas air mata dan meriam air. Alih-alih menjelaskan, ia (Davutoglu) malah menyalahkan HDP…bahkan mereka sampai memfitnah HDP membom rakyatnya sendiri. Dalam pidato 30 menitnya ini, ia menghabiskan 20 menitnya untuk menghina dan mengancamku, ini dilakukan setelah peristiwa dibunuhnya 100 kawan-kawanku dalam demonstrasi. Dalam pidato itu apakah kalian mendengar satu kalimatpun yang mengutuk Negara Islam Irak dan Levan (ISIL)?…Mereka mengirimkan pesan bahwa mereka bisa membunuh siapapun yang menentang AKP dan kemudian menutup-nutupinya.”

Demirtas kemudian membalas perdana menteri secara langsung dengan mengatakan: “Benar kami tidak memandangmu sebagai perdana menteri kami. Kami juga tidak membiarkanmu menjadi pembunuh kami dan kami juga tidak akan membiarkanmu mengancam kami.”

Serangan Ankara adalah kelanjutan kampanye teror yang telah dilancarkan terhadap angkatan-angkatan Kurdi dan kiri di periode lalu oleh klik AKP yang berkuasa. Serupa dengan itu, terlepas dari serangan-serangan bom mematikan yang dikerahkan terhadap pertemuan-pertemuan HDP dalam kampanye pemilu musim semi lalu. Serangan serupa yang jelas memiliki hubungan dengan pemerintah Turki terjadi di distrik Suruç bulan Juli, menewaskan 32 aktivis kiri. Sejak itu gelombang ratusan pembunuhan, penembakan, dan pengeboman terhadap kantor-kantor HDP dan Kurdi telah terjadi dengan perlindungan aparat-aparat negara. Terlepas besarnya serangan-serangan yang bahkan sering dilakukan di siang hari bolong, tak ada satupun pelaku yang diadili.

Sebaliknya, tiap serangan diikuti dengan peningkatan represi terhadap rakyat Kurdi dan kaum kiri. Dari sebanyak 2.000 orang yang ditangkap, hanya minoritas kecil yang punya hubungan dengan kaum Islamis, sementara mayoritas luasnya adalah kaum kiri dan aktivis Kurdi. Suatu kampanye kekerasan oleh militer Turki di area-area Kurdi juga telah berujung pada terbunuhnya 1.000 orang, dimana pemerintah telah memulai proses-proses hukum untuk memenjarakan para pimpinan HDP. Serangan bom Sabtu lalu juga berpola sama. Bahkan tidak repot-repot berpura-pura berupaya menangkap para pelaku aslinya, pemerintah malah terus-menerus menyerang para korban, HDP, dan gerakan Kurdi.

Langkah-langkah Frustasi

Namun semua ini berbalik. Sentimen di antara masyarakat Turki jauh lebih tegang daripada sebelumnya. Banyak lapisan masyarakat terbakar amarah terhadap rezim Erdogan, yang dipandangnya sebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab terhadap serangan. Mereka memandangnya sebagai langkah lain dalam upaya frustasi Erdogan untuk mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.

Sejak 2002 dan lebih dari satu dekade, partai AKnya Erdogan menguasai Turki tanpa jeda. Dengan menunggangi oposisi massa terhadap kekuasaan korup dan anti-demokratis gerakan Republiken dan angkatan darat selama dekade 80an dan 90an, serta booming ekonomi selama tahun 2000an, Erdogan melenggang dengan mudah. Dalam media borjuis ia digambarkan sebagai perpaduan sempurna antara demokrasi Barat dan tradisi Islamis.

Suatu ekonomi yang stagnan, korupsi yang meluas, dan otoriarianisme, bagaimanapun juga telah berujung pada meningkatnya oposisi dan perjuangan kelas di tahun-tahun terakhir. Saat yang bersamaan, Erdogan, berupaya menggalang dukungan, dan mempertahankan posisi yang semakin lama semakin Islamis, yang semakin mengalienasi lapisan-lapisan bangsa yang lebih sekuler. Tanda awal sentimen oposisi ini ditunjukkan tahun 2013 pada demonstrasi-demonstrasi Taman Gezi, yang, bagaimanapun juga, layu akibat kurangnya suatu program dan kepemimpinan yang jelas.

Tak mampu menemukan saluran keluar dalam politik tradisional, “semangat Gezi” menemukan ekspresinya di partai Kurdi sayap kiri, HDP. Dengan retorika radikal, program demokratik, dan koneksi ke gerakan demokratis Suriah-Kurdi anti Islamis (yaitu YPG—laskar Unit Perlindungan Rakyat), partai HDP memasuki parlemen dengan 13 persen dari total suara dan 80 deputi di bulan Juni tahun ini. Ini adalah peristiwa yang merupakan terobosan, karena ini adalah ekspresi politik pertama dari suatu persatuan gerakan berbasis kelas dari kaum buruh Kurdi dan Turki yang pertama kali berkembang selama gerakan Taman Gezi. Namun ini juga berarti AKP telah kehilangan mayoritasnya di parlemen untuk pertama kalinya semenjak 2002.

Erdogan bagaimanapun juga menolak menerima hasil tersebut. Sambil menyerukan Pemilu baru pada 1 November, ia mulai melancarkan kampanye serangan-serangan teror, pembunuhan-pembunuhan berencana, dan operasi-operasi militer. Tujuan utama kampanye ini adalah mengompor-ngompori histeria nasionalis sehingga bisa memecah-belah kelas buruh di atas garis kebangsaan. Dengan menyerang Kurdi, ia berharap bisa memprovokasi gerakan gerilya Kurdi, PKK (Partai Pekerja Kurdi), untuk kembali mengobarkan perang sipil nasionalis, yang diperhitungkannya, akan mendorong kelas buruh Turki mendukung Erdogan.

Dalam hal inilah pengeboman Sabtu merupakan hal yang signifikan, karena bertepatan dengan pengumuman rencana PKK atas gencatan senjata sepihak demi melindungi lingkungan aman agar pemilu bisa dijalankan. Ini semua berbanding terbalik dengan semua upaya Erdogan untuk menggambarkan PKK sebagai organisasi teroris haus darah di mata rakyat Turki. Ini juga merupakan ancaman bagi apa yang kemungkinannya salah satu pilihan utama yang dipikirkannya: yaitu, memicu perang sipil—dengan situasi dimana ia bisa memberikan pembenaran untuk tidak mengadakan pemilu-pemilu di daerah-daerah utama Kurdi dimana HDP meraih 70 hingga 90 persen suara. Dengan begini, ia bisa membenamkan suara HDP di bawah ambang batas parlemen sebesar 10 persen, yang akan berakibat mayoritas sebanyak 80an deputi jatuh ke tangan AKP; sehingga mereka menjadi mayoritas mutlak.

Rezim Krisis
Kampanye ini, bagaimanapun juga, tidak menimbulkan hasil yang diinginkannya. Menurut semua jajak pendapat, suara HDP bahkan tidak menurun sama sekali, sebaliknya malah meningkat. Bersamaan dengan itu, sentimen besar anti-Erdogan berkembang di semua lapisan masyarakat. Bahkan orang-orang yang dulunya anti-PKK menyalahkan provokasi-provokasi Erdogan yang sengaja dilakukannya yang mengakibatkan tewasnya ratusan prajurit dan aparat polisi Turki dalam kampanye anti-PKK.

Faktanya, demonstrasi yang diserang Sabtu lalu—bertajuk ‘Buruh, Damai, Demokrasi’ dan diorganisir oleh empat serikat buruh utama di Turki yang bekerjasama dengan HDP—merupakan masuknya pertama kali gerakan berbasis kelas buruh Turki ke medan perjuangan sebagai aktor aktif melawan teror nasionalis Erdogan.

Perpecahan di Kelas Penguasa
Gaye Usluer, deputi Partai Republiken Satu (CHP), menyatakan pada kantor berita Cihan hari Minggu bahwa pemerintah yang bertanggungjawab atas serangan itu. Dengan menghaturkan belasungkawanya pada para keluarga korban, Usluer mengatakan bahwasanya para pelaku asli pengeboman Suruç dan Diyarbakir belum diungkap, begitupula dengan para pelaku serangan terkini.

“Kami tahu siapa yang bertanggungjawab. Mereka yang bertanggungjawab adalah orang-orang yang tidak bisa melindungi perbatasan-perbatasan kita, yang membiarkan kekejaman di Suriah dan Irak, yang memberikan perintah untuk tidak melancarkan operasi-operasi melawan teroris, dan yang mengabaikan keamanan publik demi kepentingannya sendiri,” kata Usluer.

Partai MHP yang merupakan partai ekstrim kanan, yang memusuhi Kurdi dengan sengit, menolak bertemu dengan perdana menteri, dan mengatakan bahwa ia “harus membiasakan diri ditolak.” Salah satu anggota parlemennya, Süleyman Korkma, mengatakan bahwa rakyat tidak lagi memiliki keamanan hidup dan harta benda di Turki. Pimpinan partai itu menyalahkan dukungan Erdogan terhadap pasukan-pasukan Jihadis dan campur tangannya di Suriah sebagai penyebab utama serangan ini: “Turki telah membayar ongkos pendekatan teror dan pendekatan biasnya dalam kebijakan luar negeri. Baik Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Davutoglu harus secepatnya menunjukkan itikad yang diperlukan untuk membangun kembali keamanan nasional.”

Tindakan-tindakan Erdogan adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab bahkan dilihat dari sudut pandang kapitalis. Dengan membiarkan kelompok-kelompok fundamentalis Islam menancapkan akarnya di Turki dan mengobarkan prang sipil terhadap populasi rakyat Kurdi, ia menyiapkan apa yang akan menjadi disintegrasi negeri secara berdarah-darah. Lebih lanjut lagi, tindakan-tindakan ini mengisolasi negeri secara internasional dengan merusak hubungannya dengan AS, dengan Rusia, yang sama-sama berusaha memerangi pasukan-pasukan Islamis di Suriah yang sebaliknya didukung Erdogan dengan keras kepala.

Bagi para kapitalis Turki yang selalu memandang dirinya sebagai penjaga gerbang Timur Tengah dan koneksi ke Barat, ini adalah kemunduran besar-besaran. Mereka takut kalau posisi Turki di ekonomi dunia dan stabilitasnya bisa dilukai secara serius akibat kecerobohan Erdogan.

Paling penting, bagaimanapun juga, mereka takut bahwa tindakan-tindakannya bisa memicu bumerang revolusioner. Sentimen angkara dan frutasi di antara kaum buruh dan pemuda Turki tengah mencapai puncak baru. Dengan tiap malapetaka, pembantaian, pemburuan, dan krisis, para buruh menjadi semakin resah dan tidak sabar.

Serangan teror di Ankara semakin menempa sentimen ini. Pemogokan massa hari ini diterima rakyat dengan baik dan mungkin akan semakin besar bila berlanjut besok. Saat yang bersamaan, pemakan massa dan pertemuan-pertemuan politik telah diumumkan berlangsung secara harian selama minggu berikutnya. Situasi ini akan terus berlanjut sampai pemilu, yang akan, secara de facto, menjadi suatu referendum bagi atau melawan Erdogan. Dalam situasi sedemikian tegang, suatu provokasi atau upaya kudeta oleh Erdogan akan mengakibatkan reaksi yang meledak-ledak.

Turki ada di tepi jurang.
Erdogan telah menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah sukarela pergi. Tak ada suara maupun perundingan yang bisa membuatnya pergi. Ia lebih memilih menenggelamkan Turki dalam genangan darah daripada menyerahkan hak-hak istimewanya dan kroni-kroni parasitnya. Hanya dengan menyiapkan gerakan revolusioner untuk menggulingkannya maka massa Turki bisa mengakhiri barbarisme dan pertumpahan darah ini serta merebut takdir mereka ke tangan mereka sendiri.

*ditulis oleh Hamid Alizadeh dan diterbitkan di In Defence of Marxism pada Senin 12 Oktober 2015. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: