Marxisme, Materialisme, dan Seni

karl-marx-friedrich-engels-en-la-imprenta-de-la-rheinische-zeitung-colonia-museo-marx-engels-moscc3ba-e29c86-e-chapiro-c2a9-c3b1c3a1ngara-marx1

Marxisme seringkali mendefinisikan diri sebagai sosialisme ilmiah. Hal itu akan membuatnya menjadi suatu ilmu terapan dengan tujuan politik yang spesifik. Misalnya, saat Engels menyampaikan orasi di pemakaman Marx, ia mengatakan bahwa Marx, di atas segalanya, adalah seorang revolusioner. Namun premis mendasar pandangan Marx menyatakan bahwa revolusi hanya bisa berhasil bila berdasarkan suatu pemahaman terhadap proses-proses kerja masyarakat secara keseluruhan.

Memang, dunia sosial rakyat hanyalah bagian dari kenyataan material yang lebih luas yaitu suatu jaringan luas interkoneksi (ketersalinghubungan). Itulah mengapa Marxisme, sebagai sains revolusi, tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari sains secara keseluruhan. Satu aspek dari pendekatan holistik ini menyatakan bahwasanya Marxisme harus mengusung suatu ketertarikan ilmiah dan praktis dalam seni, suatu fenomena yang terkadang bisa tampak sangat terpisah dari politik.

Mona_Lisa

Filsafat-filsafat idealis dan Filsafat-filsafat materialis Seni

Sains dan seni seringkali saling dipertentangkan sebagai dua karya manusia yang sepenuhnya terpisah. Memang sains pasti bukan seni. Namun sains juga bukan seks,, bukan cinta, atau bukan kedip-kedipan. Apa yang sama di anatra fenomena tersebut dengan seni adalah semuanya merupakan subjek pengalaman sadar manusia. Namun analisis sains bisa difokuskan pada apapun tanpa mengklaim mereduksinya ke seperangkat hukum-hukum ilmiah. Studi serius manapun terhadap seni menunjukkan bahwa meskipun seni bisa memiliki dinamikanya tersendiri, namun seni jelas berakar pada konteks historis yang lebih luas dan bahkan seni yang paling halus maupun abstrak juga menghasilkan suatu dampak terhadap dunia di sekitarnya. Namun terdapat suatu mitos keras kepala yang menekankan bahwa seni adalah cara ekspresi diri yang hanya mencerminkan jiwa seniman dan sejarah seni sebelumnya. Mitos ini adalah suatu aspek dari filsafat idealis borjuis, yang menekankan pandangan bahwasanya pemikiran-pemikiran manusia yang menciptakan dan menentukan sejarah padahal pemikiran-pemikiran itu sendiri dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran sebelumnya. Menurut pandangan sejarah demikian, seorang seniman besar bisa menghasilkan dampak terhadap sejarah sebagai akibat tindakan kejeniusannya yang berakar hanya pada semangat sang seniman sendiri. Penolakan untuk memahami basis seni dalam konteks materialnya menjelaskan mengapa filsafat idealis sendiri kesulitan mendefinisikan apa itu seni. Tanpa konteks yang lebih luas, setiap definisi demikian memang dalam tingkatan tertentu bersifat arbitrer.

Materialisme Dialektik menyatakan bahwa pemahaman dunia tidak bisa tanpa definisi-definisi tetap bagian-bagian yang menjadi komponennya. Kita harus mulai dengan konsep-konsep sebagai alat-alat untuk menelaah dunia. Namun konsep-konsep ini harus dipandang, setidaknya awalnya, sebagai hal yang bersifat sementara, dan perlu diperiksa serta diperbaiki dengan penerangan bukti material. Konsep-konsep yang lebih baik membuahkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik, yang bisa digunakan untuk menjelajah dunia riil. Interaksi penuh keberhasilan antara pemikiran dan dunia material yang mana pemikiran tersebut berada sebagai bagian-bagian di dalamnya, sangatlah diperlukan bila kita ingin memahami konsep yang sulit dipahami seperti seni itu sendiri.

Jadi mari kita mulai dengan definisi sementara sederhana tentang seni dan menggunakannya untuk menjelajahi dunia material. Tujuan kita bukanlah untuk mencapai definisi superior mengeni seni melainkan untuk memperoleh pemahaman mengenai bagaimana seni berkembang di dunia yang selalu berubah. Metode historis ini akan digunakan untuk merelativisasi pandangan konvensional borjuis terhadap seni. Tentu saja kita juga ingin menarik beberapa kesimpulan politik.

Keindahan dan Komunikasi

Seni seperti demikian adalah suatu konsep modern. Pandangan bahwasanya seni adalah karya yang bisa dikerjakan demi seni itu sendiri barulah berkembang di era borjuis. Namun masyarakat modern bisa mengenali seni, atau lebih tepatnya, keterampilan, dalam banyak hasil produksi budaya-budaya kuno. Sehingga dalam pengertian lebih luas, jelas terdapat suatu hal yang bersifat lintas-budaya dari seni, sesuatu yang bersifat universal bagi manusia. Namun produksi keterampilan memiliki banyak tujuan dalam sejarah dan ini masih berlaku hari ini. Misalnya suatu motif seni bisa digunakan untuk menimbulkan rasa takut. Ini bisa dilihat di dua artifak seni yang terpisah secara budaya seperti topeng upacara Dogon tradisional dari Mali dan lukisan seniman Spanyol Francisco Goya berjudul “Saturn Devouring his Son” atau “Saturnus Menelan Putranya” (1819-1823).

Traditional_dogon_masque

Francisco_de_Goya,_Saturno_devorando_a_su_hijo_(1819-1823)

Karya-karya mengerikan ini melambangkan dua aspek kunci seni pada umumnya. Pertama, mereka berhubungan dengan emosi-emosi, dalam kasus-kasus khusus ini, hubungannya dengan cara yang sangat jelas. Kedua, dampak yang ditimbulkannya datang dari kemampuan sang seniman untuk menarik rasa keindahan pemirsanya. Suatu tulisan cakar ayam anak kecil dengan subjek yang sama tidak akan menghasilkan dampak seperti lukisan Goya, seorang pelukis ulung yang dikagumi bangsawan Spanyol termasuk melalui lukisan-lukisan hidup seperti lukisan “Charles IV of Spain and his Family” berikut.

Francisco_de_Goya_y_Lucientes_054

Motivasi-motivasi khusus bagi produksi artistik bisa demikian beranekaragam sehingga satu-satunya maksud yang bisa disematkan kepada seni pada umumnya adalah komunikasi. Kita bisa secara terpisah mendefinisikan seni sebagai alat-alat komunikasi yang bersandar, setidaknya sebagiannya, pada keefektifannya falam menghubungkan dii dengan emosi-emosi audiensnya serta rasa keindahan—atau merasakan kurangnya keindahan. Ini tentu saja tidak mengecualikan kemungkinan bahwa produk-produk artistik memiliki tujuan-tujuan tambahan yang tidak ada hubungannya dengan komunikasi: arsitektur selter (tempat penampungan.penj), misalnya. Tentu saja definisi ini menimbulkan dua pertanyaan. Apa itu keindahan? Mengapa keindahan diasosiasikan dengan komunikasi? Pertanyaan pertama perlu dibahas dulu.

Jika kita tidak berhati-hati kita bisa berakhir dengan definisi berputar-putar dimana keindahan adalah sesuatu yang diproduksi seni dan seni adalah kerja manusia yang memproduksi keindahan. Namun kita tidak harus jatuh ke perangkap tersebut. Persepsi keindahan tidak dibatasi hanya pada karya tenaga kerja manusia. Manusia bisa melihat keindahan di pemandangan atau di wajah manusia. Mereka bisa mengecap, mencium, merasakan, melihat, dan terkadang mendengar keindahan (kerenyahan misalnya) dalam makanan yang baik.

Evolusi biologis dari kapasitas mengalami keindahan tidaklah dipahami dengan baik. Namun setidaknya kita bisa membuat saran-saran yang masuk akal. Keindahan adalah suatu jenis kenikmatan. Sama dengan semua binatang, manusia berevolusi untuk menemukan hal yang bisa dinikmati agar mereka bisa bertahan hidup dan bereproduksi. Contoh klasik atas hal ini adalah seks, tentu saja. Bukan hanya seks sebagai tindakan reproduktif secara fisik nikmat, namun seks juga diasosiasikan dengan keindahan dalam berbagai jenis. Misalnya, suatu wajah uang cantik pada dasarnya adalah wajah yang normal atau rata-rata. Setiap wajah yang menyimpang dari norma umum, misalnya asimetris atau timpang, bisa jadi bukti penyakit atau abnormalitas badan secara keseluruhan dan dengan demikian kurang layak bagi reproduksi. Nilai “survival” atau bertahan hidup dari pemandangan adalah bahwasanya hal tersebut cenderung menguak potensi-potensi kesempatan dan bahaya.

Jadi keindahan bisa dipandang sebagai suatu jenis kenikmatan yang hanya secara tidak langsung berhubungan dengan “survival” atau bertahan hidup. Saat kita mengagumi pemandangan hijau, kita tidak harus berniat memakan semua hal yang ada di pemandangan tersebut, sama dengan kita tidak berniat bersetubuh dengan siapapun yang cantik atau rupawan yang kita temui saat berpapasan. Namun orang-orang juga bisa menemukan bahwasanya suara air terjun dan suara gemerisik dedaunan yang terkena angin sebagai sesuatu yang indah. Lantas apa nilai “survival” atau bertahan hidup dari hal-hal tersebut? Dalam kasus demikian mungkin masih benar bahwa kita semata-mata menemukan sesuatu yang bermanfaat adalah sesuatu yang indah. Namun sesuatu itu mungkin adaah pengenalan pola, suatu kecakapan yang sangat mendasar namun sangat krusial. Pola bermakna regularitas yang bermakna prediktabilitas yang bermakna survivabilitas atau kemampuan bertahan hidup. Lebih spesifik lagi, pengenalan pola adalah kunci untuk menyelesaikan beberapa dari permasalahan-permasalahan yang paling mendalam. Penyelesaian masalah itu sendiri sepertinya contoh lain dari apa yang manusia telah berevolusi untuk menikmatinya, karena bagi manusia pemecahan masalah punya manfaat baik.

Lantas mengapa rasa keindahan atau kurangnya rasa keindahan memainkan suatu peran penting dalam komunikasi manusia? Para leluhur manusia-manusia modern, jauh sebelum menjadi manusia adalah binatang-binatang sosial. Komunikasi intra-spesies bersifat krusial bagi interaksi sosial dan produksi. Mudah bagi manusia untuk berasumsi bahwa bahasa adalah bentuk komunikasi paling penting. Namun para leluhur kita berkomunikasi satu sama lain selama berjuta-juta tahun sebelum bahasa sepenuhnya berkembang antara 200.000 dan 50.000 tahun silam. Lebih spesifik lagi, mudah bagi manusia modern untuk berasumi bahwa wacana rasional adalah bentuk komunikasi paling efektif. Namun bahkan hari ini, tidak selalu begitu, misalnya apa yang dipertunjukkan oleh teknik-teknik pengiklanan. Dengan daya tarik seni ke emosi dan betapa efektif daya tarik demikian bisa mencapai tujuan-tujuannya, tidaklah mengejutkan bahwa seni itu sendiri sama tuanya dengan manusia.

Karena seni adalah suatu cara berkomunikasi, kita bisa melihat mengapa karya seni terkadang secara sengaja memuat elemen-elemen buruk rupa, datar, atau bahkan dangkal. Dalam budaya-budaya tertentu, bentuk-bentuk seni seni mengembangkan sistem-sistem makna yang bersifat analog atau sejalan dengan bahasa. Elemen-elemen yang secara konvensional tidaklah indah bisa menyempurnakan komunikasi artistis dengan kontras yang mereka berikan. Karya-karya seni yang mengandung elemen-elemen ‘negatif’ demikian masih diakui sebagai seni dan memiliki dampak karena konteksnya. Mari kita lihat contoh ekstrimnya. “My Bed” atau “Kasurku” karya Tracey Emin, seniman Britania di tahun 1997 terdiri dari kasurnya yang tidak dirapikan dan barang-barang yang berantakan. Jika kita memasuki kamar tidur Emin suatu hari di tahun 18, tidak akan pernah masuk dalam bayangan bahwa bagian-bagiannya menyusun suatu karya seni. Terlepas dari manfaat-manfaat lainnya, bagian yang membuat “My Bed” sebagai suatu karya seni adalah Emin, seorang artis terkemuka disana, mengisolasi kasur dan objek-objek lain dari konteks aslinya, yaitu kamar tidurnya, dan mengklaim bahwa hal-hal tersebut memang menyusun suatu karya seni. Di tahun 1998 karya itu dipamerkan di Tate Modern, suatu museum seni modern terkemuka Britania, dan dinominasikan untuk Turner Award, suatu penghargaan seni tinggi di Britania: jelas suatu seksi kemapanan seni telah memutuskan bahwa ini bukan hanya karya seni namun juga karya seni yang sangat bagus. Pandangan ini mencerminkan nilai-nilai dan keasyikan para kolektor borjuis yang mendominasi pasar seni Britania saat itu; namun bagi publik lebih luas yang mengapresiasi seni, hal ini sempat dan masih kontroversial.

Emin-My-Bed

Memang apa yang dianggap indah dalam tingkatan tertentu bersifat subjektif. Keburukrupaan menakutkan hari ini bisa dianggap seni besar di hari esok. Tahun 1958, Ira Gitler, seorang kritikus yang menulis di majalah jazz Downbeat, menjelaskan permainan solo saxophone John Coltrane sebagai ‘lembar-lembar bunyi’. Ulasan Gitler jelas tidak bersimpati namun ini menunjukkan kebingungannya. Saat saya mendengarkan permainan solo Coltrane, ‘lembar-lembar bunyi’ tampak sebagai deskripsi yang tidak layak, seakan-akan tidak memiliki massa yang berbeda. Namun saat saya mendengar jeram-jeram nada yang deras dari Coltrane sebagai suatu aliran melodi intrik dari daya cipta yang mengejutkan, bagi telinga saya, ini adalah salah satu musik paling indah yang pernah ada.

coltrane

Seni Zaman Batu

Begitu manusia menjadi bintang kerja daripada sekedar binatang yang mengonsumsi, mereka secara sengaja memproduksi hal-hal yang indah pula selain juga indah dengan cara-cara yang lain. Bukti arkeologis lukisan-lukisan di gua dan manik-manik yang diukir di kuburan-kuburan menunjukkan bahwa seni sama tuanya dengan produksi itu sendiri. Sedangkan hari ini, banyak artifak zaman batu bersifat indah sekaligus fungsional. Simetri mata tombak batu bukan hanya membuat objek tersebut indah, namun juga lebih efektif sebagai suatu senjata. Hasrat untuk membuat objek-objek indah bisa saja telah membantu para penemu mata tombak sampai secara intuitif pada desain-desain yang lebih efektif. Namun lukisan-lukisan dinding gua, kalung-kalung, dan suling-suling tulang tidak punya nilai intrisik yang terpisah dari keindahannya, setidaknya dari sudut pandang orang-orang modern yang melihatnya di buku-buku dan museum-museum. Itulah mengapa orang-orang biasanya mengklasifikasikan objek-objek tersebut dan bukannya mata tombak sebagai seni zaman batu. Namun apakah kita percaya bahwa objek-objek tersebut diproduksi semata-mata untuk memuaskan hasrat abstrak untuk menciptakan keindahan? Kita tidak punya bukti langsung dari motivasi prasejarah, namun tampaknya tidak demikian, dalam beberapa kasus.

Suatu gambar bisa menceritakan suatu kisah dan suatu lagu bisa menyampaikan suatu pesan. Sehingga apa yang kita cari bukan hanya keindahan namun makna dalam seni zaman batu. Lagipula, beberapa dari objek-objek ini dibuat dengan upaya yang besar dan susah payah untuk diproduksi. Suatu kumpulan besar dari manik-manik batu yang diukir, yang ditemukan di kuburan seorang anak telah diperkirakan memakan ribuan jam untuk dibuat.

Demi menarik kawanannya, beberapa ekor burung menghabiskan banyak energi menumbuhkan bagian-bagian tubuh yang tak berguna seperti ekor Merak. Dalam teori evolusi, ini adalah seleksi seksual. Namun sangat sedikit perilaku demikian di antara mamalia. Orang-orang prasejarah di masa lalu dengan teknologi zaman batu telah menjadi objek studi dan penelitian oleh apra Antropologis yang menyimpulkan bahwa menarik kawanan (untuk kawin) hanyalah salah satu dari sekian banyak motif untuk produksi artistik oleh orang-orang tersebut. Jadi tidak mungkin kalau seni berevolusi melalui seleksi seksual.

AltamiraBison

Namun seni di masyarakat-masyarakat primitif selalu terhubung dengan praktik-praktik ritual yang diniatkan untuk menjamin kesejahteraan para praktisinya dan komunitas-komunitas mereka dalam berbagai cara. Ini beriringan dengan seni prahistoris yang secara kuat menunjukkan motivasi serupa di zaman itu. Misalnya, disiratkan bahwasanya seni gua dilakukan sebagai suatu praktik magis dalam upaya membuat para senimannya lebih baik dalam memburu binatang-binatang yang mereka gambar. Namun banyak binatang yang digambar adalah binatang-binatang pemangsa, bukan binatang mangsa. Penjelasan yang lebih baik soal ini bisa ditemukan di berbagai tiang totem pribumi Amerika di barat laut Pasifik. Tujuannya adalah agar orang-orang tersebut memperoleh sifat-sifat dari binatang yang digambarkan: kekuatan beruang, kegarangan singa, pengelihatan elang. Totem-totem juga membantu integrasi sosial dengan memberikan simbol-simbol bagi indentitas bersama di antara suku-suku dan sebagainya. Faktanya tidak ada seni primitif yang dibuat demi seni itu sendiri. Orang-orang primitif bahkan tidak punya kata untuk menyebut seni. Apa yang kita sebut sebagai produksi seni secara erat terkait dengan budaya secara keseluruhan, bagaimana orang-orang berhimpun bersama dan melakukan berbagai hal untuk bertahan hidup dan reproduksi. Jelas, pandangan bojuis yang konvensional mengenai seni sebagai sesuatu yang terpisah dari kenyataan, kalau dipahami menurut istilahnya sendiri, adalah sesuatu yang tidak masuk akal di semua peradaban tersebut.

Seni di Masyarakat-masyarakat Kelas Pra-Kapitalis

Dalam masyarakat-masyarakat kelas pra-kapitalis, seni memiliki hubungan-hubungan yang sama sekaligus hubungan-hubungan yang baru. Apa yang membedakan ekonomi politik dari semua masyarakat kelas ini dari ekonomi masyarakat bercorak produksi berburu dan meramu dan dari agrikulturalis awal serta pastoralis adalah keberadaan surplus ekonomi yang melimpah untuk mendukung para konsumen dari kelas penguasa yang ditopang dari kelas tertindas dan tereksploitasi yang memproduksi segala sesuatu. Kelas penguasa yang menikmati kemewahan punya waktu untuk memproduksi seninya sendiri atau punya kekuasaan untuk membuat orang-orang lain yang memproduksi atau mengerjakan karya seni demi dirinya. Ini memungkinkan produksi seni dalam skala yang jauh lebih besar dengan keindahan dan kesempurnaan melampaui yang dimungkinkan zaman-zaman atau masyarakat-masyarakat sebelumnya.

Ambillah contoh Eropa di masyarakat feodal atau di zaman feodal. Hampir semua pelukis dan musisi profesional bekerja untuk raja-raja, tuan-tuan bangsawan, dan khususnya gereja. Seni relijius pada khususnya dibuat bukan untuk ekspresi diri para seniman yang bersangkutan, sangatlah sedikit seniman yang dikenal karena melakukannya, melainkan untuk mendidik massa buta huruf untuk ditanamkan doktrin-doktrin gereja dan mengikat orang-orang yang beriman kepadanya sebagai suatu bagian dari ritual. Disini kita bisa melihat keberlanjutan dengan praktik-praktik ritual dari masyarakat-masyarakat yang lebih primitif. Namun seni juga membantu peran gereja sebagai kepala propagandis bagi kelas tuan tanah dimana monarki dan kebangsawanan disucikan.

Produksi seni bagi konsumsi kebangsawanan feodal dan bangunan-bangunan istana mulai mendekati penikmatan seni “untuk seni” yang merupakan idealisme dunia borjuis. Namun sebenarnya ada lebih banyak di balik itu. Raja-raja memberikan objek-objek bernilai bagi para tuan-tuan dan ksatria untuk membantu menjamin kesetian mereka. Ini penting karena kekuasaan cenderung terfragmentasi di suatu masyarakat dimana tuan-tuan baik besar maupun kecil bisa mengendalikan kesetiaan para ksatrian dan tuan-tuan yang lebih rendahan yang mendapatkan tanah sebagai imbalan pengabdian militernya. Kita bisa lihat bukti dimana keindahan artistik yang mencolok dari bangunan istana Kaisar Prancis Charlemagne di awal abad kesembilan, misalnya, secara sengaja didesain untuk mengesankan dan membuat orang terpana. Tak ada satupun yang mengunjungi istananya yang pernah mengalami pengalaman seperti itu, kecuali beberapa diplomat dan pedagang yang pernah mengunjungi istana Kaisar Bizantium di ujung Eropa yang jauh lebih indah.

Beriringan dengan produksi besar-besaran seni oleh atau untuk kelas-kelas penguasa di Eropa feodal, terdapat pula seni rakyat yang diproduksi kaum tani demi mereka gunakan sendiri. Ini umumnya mengandung tujuan-tujuan magis dan praktis seperti di ekonomi-ekonomi primitif. Sebagai seninya kaum tertindas, seni ini juga bisa mulai mengekspresikann elemen-elemen protes, biasanya diekspresikan dalam istilah-istilah agama, yang merupakan ideologi dominan saat itu. Dalam dunia pendeta John Ball, salah satu pimpinan pemberontakan tani Inggris tahun 1381, “Saat Adam dan Hawa hidup, adakah yang menjadi bangsawan?”

Dalam zaman pertengahan berikutnya terdapat surplus ekonomi yang cukup untuk memungkinkan para musisi dan aktor yang saat itu disebut kaum “mummer”, untuk mengumpulkan uang dengan mengamen ke kaum tani dan para pejalan kaki di kota-kota. Rakyat saat itu hanya punya sedikit uang untuk diberikan kepada kaum “mummers” ini sehingga para musisi dan aktor ini tidak bisa bertahan lama di satu kota atau desa karena mereka hanya dapat sedikit lebih banyak di atas para pengemis.

Seni di Dunia Borjuis

Hanya seni di dunia borjuis yang memiliki pemikiran yang menjadi norma bahwasanya tujuan-tujuan pokok seni adalah ekspresi diri sang seniman dan untuk menghibur publik. Basis material bagi ini adalah penjualan karya-karya dan penampilan-penampilan atau pertunjukan-pertunjukan para seniman dan musisi di pasar terbuka, yang menjadi cara utama bagaimana seni didanai. Musisi Joseph Haydn melambangkan suatu hidup dalam transisi antara produksi seni feodal dan produksi seni borjuis. Sebagian besar karirnya dihabiskan sebagai seorang pelayan di Istana putri Esterhazy Hungaria, meskipun ia diupah cukup dan menjadi pelayan yang dihormati karena menjadi penggubah dan direktur musik bagi Istana Esterhazy namun sisa hidupnya kemudian dihabiskan sebagai musisi mandiri, dengan menggelar pertunjukan-pertunjukan publiknya sendiri maupun memainkan karya-karya penggubah lainnya di banyak kota besar di Eropa. Jelas, sebagai musisi paling populer saat itu, ia memperoleh uang dalam jumlah jauh lebih banyak saat bekerja secara mandiri daripada saat bekerja ke Esterhazys. Ia bisa dipersamakan dengan bintang-bintang musik rock hari ini.

Joseph Haydn

Joseph Haydn

Dalam masyarakat borjuis, kita juga menyaksikan untuk pertama kalinya pembagian antara “fine art” atau seni rupa dengan hiburan, meskipun tentu saja ada keserupaan-keserupaan dengan pembagian seni abad pertengahan menjadi seni istana dan seni rakyat jelata. Dengan hiburan, para seniman mengompromikan ekspresi dirinya untuk menjadi kepanjangan dari selera-selera massa sehingga ia bisa mendapatkan nafkah untuk hidupnya. Saat yang bersamaan, dengan kontrol dari bisnis-bisnis besar terhadap sebagian besar media massa dimana para penghibur (“entertainer”) bergantung kepadanya, hiburan seringkali memainkan suatu peran reaksioner dalam membodohi pandangan dunia massa dan mendorong eskapisme sebagai alternatif terhadap perjuangan kelas.

Seni rupa, juga dikenal sebagai seni murni, meliputi lukisan, patung, dan musik klasik. Tunjuan dari seniman seni rupa adalah tetap asli kepada cita-cita ekspresi diri. Namun bahkan para seniman seni rupa yang paling berkomitmen juga harus bertahan hidup. Dalam sebagian besar era borjuis, seniman-seniman seni rupa kalau bukan merupakan anggota dari kelas kapitalis adalah orang-orang yang nafkah dan hajat hidupnya bergantung kepada patronase, perlindungan, atau langganan dari kelas kapitalis atau negara borjuis. Jadi meskipun cita-cita seni rupa adalah ekspresi diri, namun pada praktiknya ia cenderung mencerminkan selera dan kepentingan-kepentingan material kelas borjuis.

Bagaimanapun perlu ditekankan bahwa segaris dengan kultus borjuis terhadap individu, baik seni rupa borjuis maupun seni massa hiburan tidak selalu mutlak menjadi mesin-mesin propaganda monolitis seperti seni gereja di abad pertengahan. Beberapa seniman besar, pada khususnya, telah melampaui kepentingan-kepentingan sempit kelas kapitalis dan menciptakan karya-karya yang sangat kritis terhadap dunia pasar borjuis yang kanibalistis.

Perspektif-perspektif Seni

Hari ini, pembelahan atau perpecahan dua arah antara seni rupa atau seni murni dengan hiburan semakin lama semakin tergerus. Terlepas dari serbuan krisis ekonomi, semakin lama semakin banyak rakyat pekerja yang punya waktu dan sumber daya untuk membuat sendiri seninya dan semakin mampu mencapai audiens tanpa bergantung kepada konglomerat-konglomerat media dunia hiburan maupun majikan-majikan borjuis seni rupa. Basis material perubahan ini, seperti biasa, adalah perkembangan tenaga produksi. Bagi beberapa orang setidaknya, jam-jam kerja semakin pendek dan kurang bersifat fisik dibandingkan seabad lalu, meskipun perubahan itu bersifat lamban dan tidak konsisten. Ini membuat mereka bisa mencurahkan lebih banyak waktu dan energi untuk membuat seni. Semakin murahnya teknologi berarti bahwa alat-alat rekaman musik dan video yang berkualitas yang satu dekade lalu hanya mampu diakses bintang-bintang musik rock dan studio-studio film sekarang semakin mampu diakses oleh kaum buruh bahkan yang upahnya pas-pasan. Dan internet menyediakan bagi seni suatu platform dengan skala global yang hampir sepenuhnya gratis.

Konsekuensi kemampuan baru bagi kaum buruh untuk mengekspresikan diri melalui seni adalah suatu potensi revolusioner. Ini nyaris bisa langsung terlihat di ranah musik, bentuk seni yang sejauh ini paling diuntungkan oleh perubahan-perubahan ini. Ini juga menjadi tempat bersama baik bagi lirik-lirik maupun nada-nada musik untuk mengekspresikan kekecewaan terhadap dunia yang sekarang kita diami. Dengan kekosongan perjuangan kelas di tahun 1980an berikutnya serta absennya kutub sosialis yang menarik massa, kritik artistik dan musik ini seringkali punya rasa yang sangat pesimistis dan negatif. Dorongan besar kepada perjuangan kelas sedunia yang dipicu oleh krisis ekonomi yang dimulai tahun 2008 akan mentransformasikan kecenderungan pesimistis ini menjadi seni revolusioner yang lebih eksplisit di tingkatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan musik dan seni lainnya yang terinspirasi oleh gerakan-gerakan sosial di dekade 1960an dan 1970an. Seni revolusioner bangkit dari kondisi-kondisi material dan perjuangan kelas pada gilirannya akan memperkuat perjuangan kelas itu sendiri. Dalam cara yang paling praktis, ini sekali lagi akan menunjukkan bahwa seni memainkan suatu peran integral dalam perubahan sosial dan bukan sekedar suatu dekorasi indah.

*ditulis oleh Rupert O’Shea dan dipublikasikan pada 1 Oktober 2015 di situs In Defence of Marxism. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: