Kemasygulan Dua Orang Pendeta

Kemasygulan Dua Orang Pendeta

Kawan-kawan, saya punya teman seorang pendeta. Dia lagi muring-muring.

Ceritanya begini. Ada sebuah bakal gereja Pentakostal di sebuah lereng gunung. Jamaahnya sebagian besar wong tani. Tibalah saatnya gereja tersebut didewasakan. Sudah barang tentu dengan kebaktian pendewasaan sekaligus penahbisan gembalanya yang pendeta muda menjadi pendeta. Tak jauh dari situ, hutan terbakar, dan seorang yang konon membakarnya bunuh diri.

Dalam pada itu, tema pendewasaan gereja tsb menyelusuri jejak iman dari Augustinus, Calvin, dan Francis Schaeffer. WTF! Geramlah teman saya itu. Semuanya teolog Barat. Augustinus Paulinis, Calvin Augustinian, dan Schaeffer Calvinis.

Lho, di mana teolog Pentakostalnya? Di mana teolog Asia, Indonesia, dan Jawanya? Tidakkah wong tani Jawa berhak mendengar suara tuhan dengan caranya sendiri, tanpa harus melalui saringan teologi Barat (yang konservatif pula)?

Reproduksi teologi dalam kehidupan wong tani Jawa! Wong tani Jawa di lereng gunung itu disuruh menyanyikan koor orang lain yang tidak pernah mengerti pergumulan mereka!

Tidakkah wong tani Jawa berhak berteologi seturut dengan konteksnya sendiri? Tidakkah wong tani Jawa di lereng gunung itu berhak memproduksi teologi yang memberanikan mereka melawan ancaman terhadap “dunia kehidupan” mereka?

Di mana gereja saat hutan di dekat mereka kebakaran? Di mana gereja saat orang yang dituduh membakar hutan (wong cilik pula!) bunuh diri karena merasa malu dan takut dikejar tuduhan? Gereja dengan pemimpin dan “teolog” yang terjajah mental bahkan mindset teologisnya?

Berteologi tidak sama dengan mereproduksi ajaran-ajaran hebat, melainkan memproduksi teologi yang memberanikan, memberdayakan, dan menggerakkan umat untuk menendang tuhan-tuhan palsu yang melestarikan penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi, dan mencitrakan tuhan yang menantang segala bentuk penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi!

Demikianlah temanku yang pendeta itu muring-muring. Aku tersenyum-senyum saja.
Soalnya
(1) itu kan urusan gereja tsb, terutama pemuka2-nya; kok repot2 ngurusi gituan?
(2) sama sekali aku tidak tertarik pada teologi, yang menurut pendapatku tak lebih dari upaya menciptakan tuhan menurut gambar dan rupa manusia. Tentu saja, ada ciptaan yang bermanfaat, ada ciptaan yang laknat mudharat karena melegitimasi penindasan, penghisapan, dan marginalisasi manusia oleh manusia atas nama ortodoksi. Ah, tuhan, tuhan…

Ah sudahlah, Pak, begitu kataku kepada temanku yang pendeta itu. Lebih baik Bapak menghirup udara segar dengan mencermati “teori dan praksis revolusioner proletariat” dan ikut serta dalam “pembebasan diri rakyat pekerja:mengakhiri kapitalisme dan mendirikan Sosialisme.” Tuhan-tuhan bikinan manusia akan sirna bila akar penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi tercabut, dan tunas kebenaran, keadilan, dan perdamaian tumbuh dan berbuah…

*ditulis oleh Rudolfus Antonius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: