Estetika Marxis

Estetika-Marxis

Estetika Marxis adalah suatu teori estetika yang berdasarkan atau diturunkan dari teori-teori Karl Marx. Hal ini melibatkan pendekatan dialektis dan pendekatan materialis atau pendekatan materialis dialektis dari Marxisme yang diterapkan ke ranah budaya, khususnya ke ranah-ranah terkait selera seperti seni, keindahan, dan sebagainya. Kaum Marxis meyakini bahwa kondisi-kondisi ekonomi dan sosial, khususnya hubungan-hubungan kelas yang melahirkannya, mempengaruhi setiap aspek dari kehidupan seseorang, dari kepercayaan-kepercayaan agama sampai sistem-sistem hukum hingga kerangka kerja budaya. Dari suatu sudut pandang marxis klasik, peran seni bukan hanya untuk mencermin kondisi-kondisi demikian secara sepenuhnya, namun juga untuk meningkatkan, memperbaiki, atau mengubahnya (pandangan realisme sosial/realisme sosialis), bagaimanapun juga ini masih merupakan objek perdebatan dari penafsiran terhadap tulisan-tulisan Marx dan Engels mengenai seni dan khususnya estetik yang meskipun sedikit tapi signifikan.Misalnya Nikolay Chernyshevsky, yang mempengaruhi seni pada masa-masa awal Uni Soviet dengan sangat besar, sebenarnya tidaklah mengikuti pernyataan-pernyataan Marx mengenai subjek tersebut seperti Ludwig Feurbach, sang humanis.

Estetika Marxis meliputi dan saling tumpang tindih dengan teori Marxis mengenai seni serta tidak ada pemisahaan tegas antara keduanya, meskipun terdapat pembedaan jelas dimana estetika merepresentasikan penanganan terhadap persoalan-persoalan yang lebih fundamental dan filosofis, serta dengan pendefinisian mengenai resep bagaimana seni seharusnya dan apa yang harus dilakukannya, secara sosial, daripada sekedar sebagai tindak penafsiran atau refleksi.

Tujuan ilmu pengetahuan atau sain juga penting bagi estetika Marxis, meskipun tidak tampak sebagai sasaran yang jelas bagi semua teoretikus, landasan-landasan ekonomi materialis dan sosial dari subjek menyiratkan bahwa ini dibutuh

kan agar sepenuhnya bisa bersifat Marxian secara layak dalam pengertian sosialisme Ilmiah.

Beberapa ahli estetika Marxis antara lain: Anatoly Lunacharsky, William Morris, Theodor W. Adorno, Bertolt Brecht, Herbert Marcuse, Walter Benjamin, Antonio Gramsci, Georg Lukács, Terry Eagleton, Fredric Jameson, Louis Althusser, Jacques Rancière, Maurice Merleau-Ponty dan Raymond Williams. Roland Barthes juga harus disebut disini.

Tidak semua tokoh tersebut hanya sepenuhnya mengurusi estetika—dalam banyak kasus estetika Marxis hanya membentuk sub bagian penting dalam karya mereka, tergantung bagaimana istilah tersebut didefinisikan; misalnya Brecht dikatakan memiliki suatu estetika Marxis yang ditunjukkannya melalui karya-karya seninya namun teori estetikanya dalam suatu cara sebenarnya berbeda dan tampak sebagai teorinya sendiri tentang produksi artistik, tentang seni pada umumnya, dan tentang persoalan selera serta perannya dalam masyarakat.

Salah satu perhatian pokok estetika Marxis adalah menyatukan teori sosial dan ekonomi Marx dan Engels, atau teori basis sosial, ke ranah seni dan budaya, suprastruktur, (teori Basis dan Suprastruktur menjadi bagian penting konsepsi Marxis semenjak karya Marx berjudul Ideologi Jerman). Terkait ini karya Marx yang lebih awal berjudul Manuskrip-manuskrip Ekoomi dan Filsafat 1844 selalu penting, karena mengangkat tema kepancainderaan dan keterasingan (alienasi). Penerbitannya yang terlambat (karena keputusan untuk membatalkan penerbitannya di tahun 1846 dan naskah pertamanya baru tersedia di tahun 1959) artinya, bagaimanapun juga, karya itu tidak tersedia bagi para ahli teori seni, misalnya, pada masa perdebatan yang seringkali bersifat antagonistik terkait seni di masa-masa awal Uni Soviet antara kaum konstruktivis avant garde dan realisme sosialis, dimana banyak hal yang dpertaruhkan, kontroversi terkait desain tidak biasa yang diciptakan Marx dengan dokumen-dokumen asli Manuskrip-manuskrip 1844 membuat hal ini semakin tajam (Lihat catatan Margaret Fay, Gary Tedman).

Banyak ahli teori menyentuh tema-tema penting estetika Marxis tanpa benar-benar menjadi estetikawan Marxis secara ketat, Joel Kovel, misalnya, telah memperluas konsep-konsep ekologi Marxis yang melibatkan estetika secara mendalam. Ia juga menjadi bagian dari upaya menjembati ruang antara Marx dan Freud, yang memiliki perhatian pokok terhadap estetika Marxis (lihat jurnal Capitalism, Nature, Socialism). Tema-tema terkini dalam ranah itu meliputi penelitian mengenai dampak dari materi-materi industri yang diproduksi secara massal untuk bidang panca indera, seperti cat dan warna (Singh 2007). Suatu aliran kuat di dalam ranah yang melibatkan linguistik dan semiotika, serta argumen-argumen mengenai strukturalisme, dan post-modernisme, termasuk teori feminis.

Seniman-seniman visual, seperti Isaak Brodsky atau Diego Rivera dan Kasimir Malevich atau Lyubov Popova, misalnya, yang teori tertulisnya meskipu bersifat sekunder, namun terhubung dengan estetika Marxis melalui produksi seninya, tanpa harus menyatakan diri sebagai estetikawan ataupun Marxis dalam menulis. Serupa dengan itu, yang memiliki semangat sama dengan itu adalah Oscar Wilde, Dziga Vertov. Sergei Eisenstein, Orson Welles, Jean-Luc Godard, Pablo Picasso, dan Richard Paul Lohse, misalnya. Pandangan demikian bisa diterapkan ke banyak seniman visual maupun seniman lainnya di banyak lapangan, bahkan mereka yang tidak memiliki hubungan secara jelas maupun menyuarakan politik Marxis atau bahkan yang menentangnya seperti Anton Webern misalnya.

Mungkin pantas untuk dikatakan bahwa dua tulisan paling berpengaruh dalam estetika Marxis di masa belakangan ini, selain karya Marx dan Lukacs sendiri adalah esai Walter Benjamin berjudul The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction dan One Dimensional Man karya Herbert Marcuse. Louis Althusser juga memberikan kontribusi kecil namun signifikan esai mengenai seni dan teorinya tentang ideologi juga mempengaruhi ranah ini (Lihat Ideology and Ideological State Apparatuses).

Pada akhirnya ranah ini tetap penuh polemik, dengan kubu-kubu kaum modernis, post-modernis, anti-modernis, avant garde, konstruktivis, realis sosial, dan realis sosialis semuanya mengacu pada teori estetika Marxis yang akan mendasari praktik-praktik seni mereka dengan membangun fondasi teori seni.

*diterjemahkan Bumi Rakyat dari Marxis aesthetics di Wikipedia berbahasa Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: