Kemanusiaan Pilih Kasih Akibat Hegemoni Kelas Penguasa

Kemanusiaan Pilih Kasih Akibat Hegemoni Kelas Penguasa

Kemanusiaan Pilih Kasih Akibat Hegemoni Kelas Penguasa-Pembantaian Prancis

Hanya selang beberapa jam sejak meletusnya serangan teroris di Paris, Prancis, situs media sosial terbesar di dunia: Facebook, menerapkan aplikasi cek keselamatan dan aplikasi filter untuk mewarnai foto profil dengan corak bendera Tri Warna Prancis dengan tujuan mendorong para pengguna Facebook (FB) untuk memberikan empati sekaligus solidaritasnya terhadap para korban serangan teroris. Langkah serupa juga tidak hanya diterapkan di media sosial FB namun juga ditunjukkan dengan proyeksi lampu Merah Putih Biru, Tri Warna, di berbagai bangunan besar dunia. Seperti Gedung Putih dan Menara Liberty di AS serta gedung Opera Sydney di Australia.

Reaksi cepat demikian berbanding terbalik dengan minimnya atau nihilnya reaksi terhadap para korban serangan bom ISIS di Beirut-Lebanon dan para demonstran anti Erdogan di Turki yang dibom ISIS dalam suatu aksi massa maupun bagi para gadis Sudan yang diculik Boko Haram-ISIS. Tidak ada reaksi serupa juga bagi rakyat Kurdistan yang merupakan barisan terdepan dan paling progresif dalam melawan ISIS namun terus ditindas oleh rezim penguasa di Turki dan Suriah. Tidak ada reaksi serupa bagi rakyat Suriah yang dibombardir rezim kediktatoran Assad dan Imperialis Rusia di satu sisi serta ISIS dan Imperialis AS di sisi lain. Tidak ada reaksi serupa bagi rakyat Palestina yang dibombardir rezim pendudukan Zionis Israel. Tidak ada reaksi serupa bagi rakyat di Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lughanks yang dibombardir oleh rezim penguasa Ukraina. Bagi mereka tidak ada fitur filter foto profil FB.

Sama juga halnya dengan kaum kulit hitam yang tewas ditembaki kaum kulit putih fasis maupun dibunuh oleh aparat polisi, kaum pribumi Papua yang tewas dalam penembakan Paniai maupun dalam represi-represi dan intimidasi-intimidasi oleh aparat militer-kepolisian Indonesia. Bagi mereka FB tidak menyarankan #BlackLivesMatter atau #PapuaItuKita

Lebih parahnya lagi, demi menunjukkan ‘empati’ dan ‘solidaritas’ terhadap Prancis, bendera Aboriginal yang dikibarkan berdampingan dengan bendera Australia di atas jembatan Sydney, diturunkan untuk diganti dengan bendera Tri Warna Prancis.

SEBELUM Bendera Aborigin dan Bendera Australia SESUDAH Bendera Prancis dan Bendera Australia

Semua ini menunjukkan bahwa hegemoni kelas penguasa terhadap alat-alat produksi, dan khususnya dalam hal ini, terhadap media massa, termasuk media sosial FB, telah begitu dominan dalam mengontrol, menyetir, dan mengontrol solidaritas dan kemanusiaan para penggunanya, sehingga memunculkan kemanusiaan pilih kasih yang hanya menguntungkan rezim dan kelas penguasa. Kemanusiaan yang pilih kasih dengan demikian adalah kemanusiaan yang paling tidak manusiawi dan kemanusiaan yang paling kejam.

Jadi tidak seperti dalih dan kilah kaum moralis-liberal, humanis-universal, dan orang-orang yang abai, serta berusaha (ngotot) membenarkan tidak saja pemakaian filter tri warna terhadap foto profilnya namun juga membela Mark Zuckenberg serta FB habis-habisan, ini bukan sekedar persoalan nyinyir atau tidak nyinyir maupun persoalan ada aplikasi untuk memajang bendera lainnya atau tidak. Masalah kemanusiaan pilih kasih menguntungkan dan melayani kepentingan rezim sekaligus kelas penguasa karena bisa dijadikan dasar pembenaran penindasan yang lebih luas dengan mengatasnamakan perang melawan teror. Ini bisa dipakai pembenaran untuk pengeboman yang lebih parah terhadap Suriah. Padahal pengeboman itu juga menimpa banyak rakyat sipil dan anak-anak yang bukan pendukung ISIS namun daerah lingkungannya diduduki ISIS. Ini juga bisa dipakai dalih pembenaran untuk menerapkan sistem pengintaian (surveillance) yang lebih masif terhadap rakyat (padahal sudah kita saksikan kesaksian Edward Snowden yang mengungkap kerjasama negara-negara Imperialis dalam menyadap secara masif telepon, komputer, dan lalu lintas internet para pengguna di enam negara). Ini juga bisa dipakai dalih pembenaran terhadap pemberangusan demokrasi serta sentimen rasis sekaligus Islamophobia.

Gerakan pelaku terorisme di Prancis, yaitu fundamentalisme, memang merupakan suatu monster yang kejam. Tapi fundamentalisme itu sendiri adalah buah beracun dari pohon imperialisme, tanaman kapitalisme yang mencapai tinggi tertinggi, dan tumbuh subur di atas penghisapan terhadap buruh, penindasan terhadap rakyat, serta penjajahan terhadap berbagai suku bangsa di dunia. Oleh karena itu melawan fundamentalisme tidak bisa dilepaskan dari melawan imperialisme dan melawan imperialisme tidak bisa dilepaskan dari melawan kapitalisme.

Perlu kita bantah juga anggapan yang menyatakan bahwasanya serangan terorisme di Paris tempo hari merupakan pembunuhan dengan jumlah korban terbesar sejak Perang Dunia II. Kenyataannya di tahun 1961 Prancis membantai 1,5 juta rakyat Aljazair yang berjuang ingin merdeka. 200 di antaranya tidak tewas di daerah Aljazair melainkan dibunuh di jalanan Paris oleh aparat kepolisian. Sebesar inilah kemunafikan Imperialis Prancis dan penyangkalan terhadap genosida/pembantaian yang dilakukannya sendiri.

Tentu saja perjuangan melawan Imperialisme tidak boleh sedikitpun berkolaborasi dengan rezim-rezim yang mengaku ‘anti-imperialis’ namun ternyata pada intinya tetaplah rezim reaksioner penindas rakyat. Termasuk di antaranya adalah rezim kediktatoran Bashar Al-Assad yang berkuasa di Suriah. Selang beberapa waktu setelah serangan teroris terjadi di Prancis, Assad menyatakan bahwa semua ini adalah salah Prancis yang bersama negara-negara Imperialis Barat di bawah pimpinan AS dan sekutu-sekutunya, telah mendanai berbagai kelompok pemberontak dan jihadis di Suriah. Ia mengatakan, “Barat telah bersepakat dengan para teroris dengan cara yang paling munafik. Mereka menyebutnya revolusi, pembebasan, demokrasi, dan HM jika itu menghantam kami.” Assad memang benar tapi dia harus menambahkan bahwa rezim kediktatorannya juga termasuk para teroris tersebut. Seperti Qadhafi, saat pecah demonstrasi menuntut demokrasi, jauh sebelum pecah pemberontakan dan perang sipil atau perang saudara, pasukan Syrian Arab Army atau Pasukan Arab Suriah menembaki para demonstran tak bersenjata. Selain itu rezim kediktatoran di Suriah, sejak dipegang Hafiz Al-Assad (bapaknya Bashar Al-Assad), memiliki para aparat polisi rahasia yang secara rutin menculik, memenjarakan, dan menyiksa musuh-musuh politiknya, terutama yang berani mengkritik dan menentang rezim penguasa.

Patut diingatkan pula bahwa rezim penguasa di Suriah juga seringkali berkolaborasi dengan kaum sayap kanan reaksioner. David Duke, seorang tokoh Ku Klux Klan, kelompok fasis kulit putih di AS, diundang menjadi pembicara di siaran televisi nasional Suriah di tahun 2005. Georgy Shchokin, tokoh sayap kanan Ukraina sekaligus pembantah terjadinya Holocaust, diundang ke Suriah pada tahun 2006 dan dianugerahi medali kehormatan oleh partai Ba’ath. Selain itu Alois Brunner, seorang fasis anggota NAZI sekaligus seorang penjahat perang, ditampung di Suriah sejak rezim Hafiz Al Assad hingga rezim Bashar Al-Assad. Padahal Brunner adalah salah satu letnan Adolf Eichman salah satu perwira militer tinggi rezim Imperialis Fasis NAZI Jerman. Keberadaan Brunner dalam perlindungan Suriah diduga kuat karena ia merupakan otak pendidikan dan pelatihan teknik-teknik penyiksaan kepada para aparat rezim kediktatoran Assad. Brunner sendiri mati di tahun 2010 setelah menghabiskan sisa hayatnya dalam perlindungan pemerintah Suriah. Aman dari kejaran pengadilan terhadap kejahatan perang kaum fasis.

Oleh karena itu hari ini tanggung jawab untuk melawan fundamentalisme sekaligus mencabut akarnya: Imperialisme dan kapitalisme, hanya bisa ditunaikan oleh gerakan kelas buruh dan pemuda revolusioner bersama rakyat pekerja anti-penindasan di dunia. Tidak bisa dengan bersekutu apalagi bersandar pada kolaborasi pada rezim-rezim maupun kaum-kaum yang mengaku anti-imperialis melainkan pada kenyataannya sama-sama menindasnya walaupun berbeda kelompok dan benderanya. Jadi mari kita camkan lagi bahwasanya bagi kelas buruh dan rakyat pekerja sedunia, bendera kita bukanlah bendera Tri Warna. Bendera kita adalah bendera kaum buruh di Revolusi Komune Paris 1871. Bendera kita adalah bendera merah, dan sekali lagi pilihannya hanya dua: Sosialisme atau Barbarisme.(*)

Comments
One Response to “Kemanusiaan Pilih Kasih Akibat Hegemoni Kelas Penguasa”
  1. red robusta mengatakan:

    Pada kasus prancis kelas borjuis jelas ia tidak memiliki rasa kemanusiaan karena disebabkan oleh ia harus mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Didalam logika kapitalisme ia harus mermerampas hak kelas pekerja dan mengeksploitasi SDA. Maka dari ini kelas borjuis tidak bisa dikatakan ia memiliki rasa empati kemanusiaan. Kalaulah ia berempati ia hanya omongan tidak dalam tindakan. Ini hanya kenunafikan saja bahwa ia (kelas borjuis) berempati pada korban yang disebabkan oleh ulahnya sendiri, ulah borjuis lain. Karena ia berempati tidak dalam tindakan. Hanya omongan saja. Maka tidak tepat bila dalam berita ini kelas borjuis dapat berempati rasa kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: