Film Horor—Kemerosotan Kapitalisme melalui Lensa Kamera

wpid-horor-copy.jpg.jpeg

image

Dalam suatu artikel tentang Perang Dunia I, Lenin pernah mengatakan, “Masyarakat kapitalis adalah horor tanpa akhir.” Marx pun saat mendiskusikan perkembangan awal kapitalisme dalam karyanya Kapital, mengatakan bahwa saat kedatangannya dalam sejarah “kapital datang dengan berlumuran darah dan kotoran dari ujung kepala sampai ujung kaki.” Dalam buku yang sama pula, Marx menyatakan, “Kapital adalah kerja mati, yang, seperti vampir, hanya hidup dengan menghisap kerja yang hidup, dan semakin hidup dengan semakin banyak kerja yang dihisapnya.” Dalam bab yang sama pula, Marx membandingkan dorongan kapitalis untuk mengumpulkan nilai lebih sama dengan “nafsu lapar serigala jadi-jadian”.

Mereka yang mempersenjatai diri dengan pemahaman Marxis terhadap masyarakat dan pengetahuan akan potensi besar atas perwujudan dunia yang lebih baik, memandang kapitalisme sebagaimana adanya, yaitu suatu horor. Keserupaan antara dongeng-dongeng kuno zaman Victoria berupa kisah-kisah vampir, serigala jadi-jadian, boogeymen, dengan kejahatan-kejahatan, ketidakadilan, dan penghamburan kapitalisme tidaklah mengejutkan—ini adalah suatu perasaan yang secara tidak sadar dirasakan secara bersama-sama oleh berjuta-juta orang dan tercermin dalam popularitas genre horor sejak masa awal sinema.

Apapun niatan dan maksud di balik produksi film-film ini, secara tak terelakkan film-film tersebut cenderung berperan sebagai sebilah cermin yang merefleksikan kegundahan dan ketakutan pada zaman itu. Film-film yang paling berhubungan dengan para pemirsa hampir semuanya merupakan film-film yang tampak paling familier dan merupakan film-film yang mana para pemirsa bisa paling merasa terhubung dengannya, tak peduli betapapun fantastis cerita yang tampak di permukaannya. Karena inilah tidaklah kebetulan anda bisa melacak berbagai poin dari sakratul maut kapitalisme selama satu abad terakhir melalui film-film horor populer.

Horor untuk Mengakhiri Semua Horor
Studio-studio atau rumah-rumah produksi film paling awal memang sudah memproduksi film horor, namun barulah setelah akhir Perang Dunia I genre itu benar-benar bergema di antara para pemirsa. Perang Dunia I mencerminkan suatu titik balik bersejarah dalam perkembangan kapitalisme. Saat di satu sisi kapitalisme telah mengembangkan alat-alat produksi ke tingkat-tingkat luar biasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya di masyarakat pra-kapitalis, kapitalisme juga mulai mencapai batas-batasnya pada pergantian abad 19 ke 20. Negara-neagra imperialis besar telah kehabisan pasar-pasar nasionalnya dan dengan nekad serta putus asa mati-matian mencari pasar-pasar baru untuk dieksploitasi. Negara-negara imperialis utama seperti Britania dan Prancis sudah membagi-bagi dunia jajahan diantara mereka dan membuat kapitalisme Jerman tidak punya pilihan lain selain menyerang negara-negara Imperialis tetangganya.
Inilah awal mula dari “perang untuk mengakhiri semua perang”, suatu horor nyata yang mengakibatkan dampak sangat mendalam terhadap perkembangan umat manusia berikutnya. Kapitalisme telah membuktikan pada seluruh dunia bahwa ia bukanlah lagi suatu sistem yang sehat melainkan sistem yang penuh dengan krisis yang mengancam menyeret semua manusia untuk turut hancur bersamanya. Perang ini berujung pada penghancuran sebagian besar daratan Eropa; kematian lebih dari 16 juta orang, separuhnya dari rakyat sipil; dan jutaan prajurit cacat baik secara jasmani maupun rohani akibat pembantaian tersebut.

Di Rusia, perang tersebut diakhiri dengan revolusi buruh yang berhasil merebut kemenangan di bawah pimpinan Partai Bolshevik. Sedangkan di Jerman, meskipun revolusi 1918, berhasil menghentikan perang, namun gagal dalam memenuhi tujuan historisnya untuk mendirikan pemerintahan buruh yang bisa memulai membangun masyarakat baru dan menyelamatkan Revolusi Rusia dari keterisolasiannya. Tahun-tahun berikutnya di Jerman akhirnya menjadi saksi ledakan produksi film, termasuk film horor.
Film ekspresionis Jerman terkemuka yaitu The Cabinet of Dr. Caligari (1920) dan Nosferatu (1922) mengusung psikologi ketidaknyamanan dan ketidakamanan Jerman pasca perang. Pergolakan-pergolakan revolusioner dan kemunduran-kemunduran kontrarevolusioner dikombinasikan dengan krisis-krisis ekonomi merupakan ciri-ciri babakan tersebut dalam sejarah Jerman. Mulai dari vampir yang berkeliaran membunuhi orang yang tengah tidur (Nosferatu) hingga orang yang berjalan dalam tidurnya yang dimanipulasi untuk melakukan pembunuhan demi kepentingan seorang dokter gila (The Cabinet of Dr. Caligari) sebenarnya merupakan unsur film yang menyoroti perasaan banyak buruh Jerman bahwasanya mereka telah ditipu dan ditakut-takuti oleh kelas penguasa Jerman—bahkan juga oleh para pimpinannya sendiri di Partai Sosial Demokratis Jerman—agar berpartisipasi dalam suatu pembantaian reaksioner.
Kerusakan fisik dan psikis yang ditorehkan perang terhadap para partisipannya juga digambarkan secara hidup oleh seniman Otto Dix yang mempublikasikan kumpulan sketsanya berjudul Der Krieg (Perang). Menyaksikan kebrutalan perang lewat mata kepalanya sendiri telah mengakibatkan para prajurit berjuang susah payah agar bisa menyesuaikan diri dengan “kehidupan normal” saat mereka kembali dari garis depan. Ini kemudian menemukan penyaluran ekspresinya dalam sejumlah film horor tahun 1920an yang berfokus pada monster-monster yang bergulat dengan setan dalam diri mereka. Tahun 1920 saja, ada dua film adaptasi dari novel Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang diproduksi di AS dan adaptasi Jerman lainnya berjudul The Head of Janus yang disutradarai oleh F.W. Murnau, sutradara yang sama yang menyutradarai Nosferatu.
Dekade itu kemudian menghasilkan film-film lain yang menampilkan tokoh-tokoh yang cacat secara fisik dan psikis seperti The Hunchback of Notre Dame (1923) dan The Phantom of the Opera (1925) yang keduanya diperankan oleh Lon Chaney, salah satu bintang film horor pertama.

Depresi Hebat
Stock market crash pada 24 Oktober 1929 meletuskan krisis kapitalisme dunia yang paling dalam dari yang pernah terjadi sebelumnya. Kesulitan hidup yang dirasakan berjuta buruh berujung pada meluasnya sinisme dan sikap mempertanyakan serta menggugat masyarakat. Di AS, Hollywood memainkan peran kecil dalam menggenjot kepercayaan terhadap masyarakat kapitalis, “Tak ada medium yang berperan lebih besar daripada film yang mempertahankan moral nasional selama periode yang dipenuhi dengan revolusi, kerusuhan, dan pergolakan poliik di negara-negara lain,” kata William Hays, kepala Asosiasi Produser dan Distributor Film. Namun popularitas film-film horor saat itu masih mencerminkan pandangan suram yang dicirikan oleh psikologi massa Amerika yang mendahului perlawanan buruh pada pertengahan 1930an. Periode ini juga mengantarkan horor menjadi produk mainstream atau umum yang menyaksikan produksi banyak sekuel.

Banyak film 1930an melanjutkan dari titik yang ditinggalkan film-film 1920an. Werewolf of London (1935) mengikuti jejak Dr. Jekyll and Mr. Heyde dan Dracula (1931) meneruskan Nosferatu. Bahkan White Zombie (1932) yang merupakan film zombie pertama, dalam banyak hal menggaungkan The Cabinet of Dr. Caligari. Bela Lugos, bintang film Dracula dan White Zombie, memulai karir seni perannya di Hungaria dimana dia berpartisipasi dalam Revolusi Hungaria 1919. Akibat radikalismenya ia terpaksa melarikan diri dalam periode kontra revolusi dan menuju Hollywood dimana ia memulai karirnya sebagai boogeyman pada tahun 1930an dan 1940an, bersama Boris Karloff.
Frankenstein (1931), yang dibintangi Karloff, dan Island of Lost Souls (1932) yang dibintangi Lugosi, memusatkan perhatian pada sejauh mana horor yang bisa melibatkan manusia. Dengan mengikuti plot novel klasik karya Mary Shelley secara tidak ketat, Frankenstein, merupakan film yang menggambarkan seorang monster yang dihidupkan oleh seorang dokter gila, dicampakkan, dan ditolak dunia padahal ia ingin keberadaannya diterima. Saat peluncurannya, tingkat pengangguran di AS hampir berlipat dalam satu tahun. Sebagai tambahan, fenomena buruh imigran dalam jumlah besar yang datang mencari nafkah menambah menyebarluasnya perasaan penolakan dan keterasingan.

Dalam Island of Lost Souls, suatu adaptasi dari The Island of Dr. Moreau, sang dokter mengubah binatang-binatang menjadi manusia, namun makhluk-makhluk tersebut tidak sempurna, tidak tuntas, dan menjadi makhluk setengah manusia dan setengah binatang. Dengan menggedor perasaan ketidaknyamanan kelas buruh di paruh awal dasawarsa, makhluk-makhluk Dr. Moreau mengalami kompleksitas emosional dan kognitif yang dirasakan manusia namun diperlakukan seperti hewan dan sekadar sebagai barang percobaan. Film ini diakhiri dengan matinya Dr. Moreau di tangan korban-korban siksaannya.

Film lainnya, The Most Dangerous Game (1932) mengekspresikan antagonisme kelas di masa itu dengan cara yang lebih blak-blakan, dengan menggambarkan seorang bangsawan Rusia yang menikmati olahraga berburu manusia. Film ini berakhir dengan getir dimana sang bangsawan dibantai oleh anjing-anjing pemburunya sendiri sementara para protagonis melarikan diri.

Tahun 1934, kelas buruh Amerika meraih kembali energi dan kepercayaan dirinya. Tiga pemogokan massa (Oakland, CA; Minneapolis, MN; Toledo, OG) berkobar dalam periode baru kelahiran gerakan buruh dalam bentuk Congress of Industrial Organizations atau Kongres Organisasi-organisasi Industri. Perasaan remuk redam digantikan dengan semangat perlawanan gagah berani dan ini yang mungkin menjelaskan mengapa film horor Hollywood bergeser ke kekonyolan dan komersialisasi genre horor yang berlangsung sampai dasawarsa-dasawarsa berikutnya.
Bride of Frankenstein (1935), Son of Frankenstein (1939), The Ghost of Frankenstein (1942), Frankenstein Meets the Wolf Man (1943), and House of Frankenstein (1944) melambangkan apa yang kemudian menjadi ciri khas genre horor: sekuel, remake, dan spin off dengan kualitas lebih buruk. Film-film lain seperti The Cat and the Canary (1939) dan Zombies on Broadway (1945) memperkenalkan komedi ke genre horor di masa horor dan kekejaman yang sangat nyata sekali lagi dialami dalam skala dunia dalam bentuk Perang Dunia II.

Horor di Zaman Nuklir
Sembari mempertahankan banyak kekonyolan dan komersialisasi di tahun 1940an, banyak film horor di tahun 1950an beralih ke fiksi ilmiah, mengangkat ketakutan mengenai dampak-dampak radiasi, monster-monster prasejarah, eksperimen-eksperimen yang berubah jadi malapetaka, dan penyerang-penyerang dari luar angkasa.

Godzilla (1954) yang diproduksi di Jepang mencerminkan dampak psikologis penjatuhan bom atom dan pembombardiran kota-kota di Jepang. Godzilla, sang monster prasejarah, dibangkitkan oleh eksperimen nuklir di Pasifik dan mengamuk, merusak Tokyo. Mungkin tak ada tempat lain yang bisa membayangkan seluruh kota dihancurkan dalam semalam selain di Jepang—film ini dibuat kurang dari satu dasawarsa setelah kejahatan perang berupa penjatuhan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, yang membumihanguskan kedua kota yang melenyapkan hampir seperempat juta orang. Dengan memantik rasa takut atas perang nuklir, film ini laris ditonton di skala internasional dan memicu serangkaian sekuel serta film-film “monster raksasa” seperti Them! (1954) dan Tarantula! (1955).
The Thing from Another World (1951) adalah salah satu film paling awal yang mengangkat tema serbuan alien, tema yang menjadi umum seiring dengan perlombaan ke luar angkasa antara AS dan Uni Soviet. Kemudian, The Blob (1958) menggambarkan makhluk alien yang mengganggu dan menyerang kota pinggiran 1950an.

Dalam Invasion of the Body Snatchers (1956) spora alien menghujani pinggiran Amerika, menciptakan kloning-kloning manusia hampa emosi. Saat itu film ini ditafsirkan oleh beberapa pihak dari politik sayap kanan sebagai film yang mencerminkan konformitas tanpa jiwa yang ada di Uni Soviet yang Stalinis. Namun sebaliknya banyak orang kiri memandangnya justru mencerminkan konformitas tanpa jiwa yang menghantui AS di masa McCarthy.

Horor-horor Supernatural
Saat booming kapitalisme pasca perang mencapai puncaknya di tahun 1960an terdapat pergeseran dalam film-film horor. Banyak film mulai mengangkat hantu-hantu, penyihir-penyihir, sekte-sekte pemuja setan, dan kesurupan. Pertengahan 1960an merupakan masa-masa puncaknya keyakinan relijius di AS sebab keimanan pada Tuhan dengan sengaja serta secara masif dipropagandakan untuk membedakan AS dari Uni Soviet yang ‘tak bertuhan’.

Banyak film juga mulai menyoroti konflik antar generasi, dengan hampir mendahului gerakan pemuda di akhir 1960an. Tema demikian terus muncul sampai kini. Psycho (1960) mungkin merupakan contoh pas dari hal ini. Film ini dimulai seperti film-film thriller Hitchcock lainnya, dimana seorang perempuan mencuri banyak uang dari majikannya dan kabur ke California. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Norman, seorang penjaga Motel Bates yang muda, sensitif, dan kikuk. Ibu Norman—yang kemudian ternyata sudah mati dan hanya hidup dalam benak Norman—sangatlah kasar dan pencemburu terhadap siapapun yang mungkin mengalihkan perhatian anaknya darinya.

The Haunting (1936) mengangkat kisah seorang gadis muda yang bergabung dengan para penyelidik paranormal di suatu rumah berhantu setelah meninggalnya ibunya yang lama sakit yang dirawatnya dengan patuh hampir seumur hidup—juga mencerminkan karakter Norman Bates.
Alfred Hitchcock kemudian membuat karya horornya lagi lewat The Birds (1963). Film ini memantik perasaan tidak nyaman lewat kurangnya musik latar. Namun film ini juga merupakan salah satu film pertama yang mengangkat tema fenomena-fenomena yang tak dapat diterangkan yang tampaknya menyiratkan konsekuensi-konsekuensi kiamat skala dunia, dan berlawanan dengan tema “monster teradiasi yang mengamuk merusak kota” di tahun 1950an.

Sekelompok orang membarikade diri di dalam rumah melawan teror dari luar, yang tergambar dalam The Birds, jelas merupakan inspirasi bagi karya klasik George Romero: Night of the Living Dead (1968). Banyak tema yang dimainkan di film ini menyoroti polarisasi politik saat itu. Dengan mengangkat topi terhadap gerakan Hak-hak Sipil, protagonis utamanya adalah seorang kulit hitam yang kuat dan tegas, Ben, yang seringkali bersinggungan dengan seorang kulit putih patriarkal, Harry, mengenai bagaimana membela diri melawan zombie-zombie di luar. Flm ini diproduksi hanya beberapa bulan setelah pembunuhan terhadap Martin Luther King, Jr., dan kematian Ben—yang bukan di tangan para zombie namun di tangan para aparat polisi yang salah menyangkanya sebagai zombie—nampaknya merupakan tribut terhadap hal tersebut.
Bersamaan dengan protes-protes anti Perang Vietnam dan Gerakan Hak-Hak Sipil, gerakan hak-hak perempuan juga mengangkat isu-isu seperti hak-hak reproduksi dan kekerasan rumah tangga—tema-tema yang diangkat dalam sejumlah film selama beberapa dasawarsa berikutnya. Roseary’s Baby (1968) mengusung kisah seorang ibu rumah tangga muda yang dihamili melalui ritual Satanisme yang diorganisasi oleh para tetangganya untuk memberikan keturunan pada Setan. Ia kemudian menjalani kehamilannya dengan rasa keterasingan, ketakutan, dengan tingkah polah orang-orang lain dan tersiksa oleh rasa sakit serta kesehatan yang buruk. Film ini istimewa karena mendorong para audiens untuk mengenali kesengsaraan sang tokoh perempuan.

Mengikuti alur yang sama, Carrie (1976) menggambarkan seorang gadis kesepian, remaja yang terasing, yang dijadikan bulan-bulanan oleh teman-teman sekolahnya dan diperlakukan dengan kejam serta kasar oleh ibunya yang merupakan seorang fundamentalis Kristen. Ia kemudian menemukan fakta bahwa ia memiliki kekuatan telekinetis dan kemudian menggunakannya untuk membalas dendam kepada para penyiksanya. Film ini istimewa karena membuat audiens mengenali dan merasakan permasalahan seorang gadis remaja.

Terdapat film-film terkemuka lainnya di tahun 1970an seperti The Omen (1976) yang mengisahkan seorang anak muda yang ternyata merupakan Antichrist atau Dajjal dan akhirnya diadopsi oleh Presiden AS serta ada The Exorcist (1973), suatu kisah tentang gadis kerasukan setan. The Exorcist didukung oleh Universitas Fordham (sekolah Yesuit) karena menyebarkan ajaran-ajaran takhayul gereja. Universitas membolehkan mereka menyuting di kampus dan menggunakan lantai bawah tanah sebagai set sserta sejumlah pendeta asli untuk berperan dalam film.

Akhir Booming Kapitalisme Pasca Perang
Tahun 1973, booming kapitalisme pasca perang telah mencapai batas-batasnya dan mengantarkan pada resesi dua tahun yang dampaknya terasa di seluruh dunia. Di AS dampaknya dicirikan dengan kembalinya tingkat pengangguran yang tinggi, staflasi, dan dirampasnya kembali capaian-capaian yang sebelumnya dimenangkan gerakan buruh dalam periode pasca perang.
Resesi pertengahan 70an juga kembali berdampak pada sejumlah film di akhir 1970an seperti Dawn of the Dead (1978) karya George Romero dimana empat orang berlindung dalam mall dimana semua kebutuhan mereka ada dalam jangkauan. Mall-mall dan pusat perbelanjaat saat itu adalah fenomena baru dan mencerminkan ketergantungkan baru kapitalisme terhadap kredit dan konsumerisme untuk secara semu menjaga ekonomi tetap hidup.

Dalam Texas Chainsaw Massacre karya Tobe Hooper yang dirilis tahun 1974 terdapat sejumlah gagasan yang kemudian diadopsi film-film slasher tahun 1980an. Film-film—yang seperti Psycho bertahun-tahun sebelumnya—berfokus pada sekelompok hippie muda dari kota yang mengunjungi pedesaan Texas. Di antara mereka ada Franklin, adik sang tokoh utama, yang berkursi roda dan dipandang tokoh-tokoh lainnya sebagai beban. Ini ditafsirkan banyak pihak bahwasanya Franklin dimaksudkan untuk mencerminkan para prajurit yang pulang dari Perang Vietnam dalam kondisi cacat.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan penumpang yang menjelaskan pada mereka mengenai keunggulan pembunuhan sapi dengan godam, alih-alih dengan mesin yang membuatnya jadi pengangguran. Kemudian diungkapkan bahwa ia adalah salah satu anggota dari keluarga pembunuh sadis yang sebelumnya bekerja di tempat penjagalan. Satu persatu hippie tersebut kemudian menemui akhir riwayatnya kecuali “gadis terakhir”, suatu motif yang menjadi ciri khas banyak film horor dari tahun 1980an sampai seterusnya.

Tobe Hooper menyusulnya dengan Poltergeist (1982) yang menggambarkan kehidupan sederhana keluarga pinggiran yang diusik dengan kasar oleh penculikan terhaap putri mereka oleh poltergeist yang menghantui rumah mereka. Alasannya kemudian terungkap: pengembang perumahan yang serakah membangun perumahan tersebut di atas kuburan—hanya memindahkan nisan-nisannya tapi tetap meninggalkan peti mati-peti matinya ditumpuki bangunan-bangunan.

Jaws (1975) karya Steven Spielberg menampilkan seorang petinggi polisi di pulau fiksi Amity Beach yang menghadapi hiu putih pembunuh yang telah menewaskan banyak warga lokal. Tegangan antara tokoh seperti Hooper, seorang biologis peneliti hiu yang makmur dan Quint, seorang pemburu hiu yang kasar jelas menyoroti tegangan antar kelas pada masa itu.

Film The Shining (1980) karya Stanley Kubrick, adaptasi lain dari novel Stephen King, merupakan karya brilian sepanjang masa. Film ini menampilkan suatu keluarga yang pindah ke dalam hotel berhantu dimana Jack, sang ayah, berencana menulis dan merampungkan novel di sana. Hantu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat kemudian menghantui keluarga tersebut dan membangkitkan kembali semua ingatan mengenai kecanduan alkohol sekaligus kekerasan rumah tangga yang dilakukan sang ayah.

The Shining dipandang beberapa orang sebagai alegori atas pembantaian Pribumi Amerika di tangan para pemukim dari Eropa. Acuan-acuan kepada konstruksi hotel selama serangan-serangan dari Pribumi Amerika, pilihan baju sang ibu, dan ucapan “the white man’s burden” atau “beban orang kulit putih” yang sepertinya di luar konteks tampaknya mengindikasikan kemungkinan ini, terutama saat perfeksionisme Stanley Kubrick yang tersohor turut dipertimbangkan.

Horor Italia
Periode pasca perang juga menyaksikan bangkitnya genre horor di Italia, dimana pergolakan politik mencirikan periode pra-revolusioner hampir selama satu dasawarsa. Sutradara-sutradara seperti Mario Bava dan Dario Argent memproduksi film-film yang mencerminkan genre giallo (kuning) yang mencampur misteri pembunuhan dengan elemen-elemen supranural. Sutradara-sutradara lainnya malah memproduksi film horor dengan nuansa politik yang lebih terang-terangan. Contohnya Pier Paolo Pasolini dengan filmnya berjudul Salò atau The 120 Days of Sodom, yang menggambarkan penghisapan, penindasan, dan penyiksaan mengerikan terhadap anak-anak tani di bawah rezim NAZI yang menduduki Salò di masa Perang Dunia II.

Tahun 1980, sutradara Italia, Ruggero Deodato merilis Cannibal Holocaust yang tampaknya merupakan kritik terhadap imperialisme. Film ini mengangkat kisah kru film dokumenter dari New York yang pergi ke hutan Amazon untuk menyuting perang antar suku kanibal. Kemudian diungkap bahwasanya perang tersebut diprovokasi secara sengaja oleh kru film yang dengan brutal membunuh salah satu anggota suku untuk memicu konflik. Deodato kemudian diatangkap dan diadili karena memproduksi film yang mencurigakan demikian—gosipnya film tersebut menampilkan pembunuhan nyata!

Slashers
Akhir tahun 1970an dan 1980an menyaksikan bangkitnya genre slasher di AS yang mengikuti jejak film-film giallo Italia dan film-film Amerika awal seperti Psycho dan Texas Chainsaw Massacre.
Halloween (1978) karya John Carpenter, Fridat the 13th (1980) karya Sean S. Cunningham, Nightmare on Elm Street (1984) karya Wes Craven, dan bahkan Alien (1979) dan Terminator (1984) merupakan contoh-contoh terkemuka dari film-film genre slasher. Tiap film ini juga menyertakan motif “gadis terakhir”, yang merupakan protagonis (perempuan) yang akhirnya menghabisi sang pembunuh.
Banyak dari film ini juga secara stereotipikal menggambarkan para pemuda dewasa dibunuh oleh seorang pembunuh, yang seringkali bertopeng, akibat penggunaan alkohol atau narkoba, atau karena melakukan seks pra-nikah. Banyak yang menunjukkan kemungkinan adanya “agenda konservatif” di balik produksi film ini, atau ini juga bisa secara mudah dipandang sebagai sesuatu yang diciptakan untuk mengiming-imingi para pemuda saat itu, yang merasakan tekanan dari orang tuanya di Amerika di masa Ronald Reagen—suatu kelanjutan dari konflik antar generasi yang lebih awal.
Kemudian ada The Evil Dead (1981) karya Sam Raimi yang bisa dipandang sebagai suatu penjungkirbalikan terhadap genre slasher, dimana seorang laki-laki sebagai protagonis utamanya melawan teman-temannya—sebagian besar perempuan—yang satu persatu dirasuki oleh kekuatan jahat. Ini juga merupakan salah satu film pertama yang memperkenalkan motif cabin in the woods atau “pondok di hutan”.

Ada film unik di awal 90an yaitu Candyman (1992) yang mengangkat kisah seorang mahasiswa yang mempelajari legenda kota terkenal dalam proyek perumahan Chicago—Candyman, yang digantung oleh gerombolan rasis dan rohnya bergentayangan bila namanya disebut tiga kali di depan cermin. Film ini menarik pembeda jelas antara kondisi mahasiswa—yang hidup di apartemen mewah yang ternyata bekas proyek perumahan yang direnovasi—dengan orang-orang yang tinggal di proyek perumahan Cabrini Green dimana kemiskinan dan kejahatan merajalela.
Film-film horor peralihan tahun 1980an ke 1990an dicirikan dengan serangkaian sekuel, mencerminkan semakin besarnya ketidakmauan Hollywood untuk berinvestasi dalam gagasan-gagasan baru. Salah satu contohnya adalah The Thing (1982) karya John Carpenter yang merupakan remake dari film The Thing from Another World (1951). The Thing karya John Carpenter menyimpang dari karya aslinya dimana alien tidak lagi mewujud dalam satu monster namun menjadi sesuatu yang bisa mengubah dirinya menjadi siapapun dari anggota kru di markas penelitian Antartika. Rasa keterasingan dan ketidakpercayaan yang memecahbelah para tokoh mungkin merupakan aspek paling mengerikan dalam film bersamaan dengan efek-efek spesial yang ngeri.

Periode yang sama juga mendatangkan film-film horor dengan genre campuran seperti The Lost Boys (1987), Ghostbusters (1984), dan The Frighteners (1996). They Live! (1988) yang disutradarai pula oleh John Carpenter dimaksudkan sebagai kritik terhadap konsumerisme dan konservatisme di era Reagan. Film ini terkenal karena adegan pertengkaran yang sangat panjang antara Keith David dan almarhum Roddy Piper, yang karakternya berusaha menyakinkan temannya bahwa dunia dikuasai oleh para alien yang hanya bisa dilihat melalui kacamata khusus.
Tahun 1996, Wes Craven, sang master horor,kembali dengan film Scram, suatu film slasher yang judulnya sendiri mencerminkan genre tersebut, dimana para pembunuhnya memainkan banyak motif dari film-film slasher sebelumnya. Kemudian film Behind the Mask:The Rise of Leslie Vernon mengangkat acuan diri ini ke tingkatan selanjutnya. Film ini menggambarkan seorang pembunuh yang diikuti oleh kru film dokumenter di dunia dimana para pembunuh seperti Freddy Krueger, Hason Voorhees, dan Michael Myers adalah tokoh nyata dan menjadi selebritis. Gagasan ini kemudian diangkat ke tingkatan yang lebih tinggi di film Cabin in the Woods, yang merupakan acuan cerdas terhadap elemen-elemen yang ada dalam banyak film horor.

Tahun 2000an terus memproduksi film-film yang sangat dikomersialisasi yang lebih sering merupakan turunan atau pengulangan dari film-film horor sebelumnya. Bagaimanapun juga, terdapat beberapa inovasi dalam genre horor yang patut disebut, salah satunya 28 Days Later (2002) yang kembali mempopulerkan film-film zombie, yang kemudian mendominasi genre horor dan kiamat, yang akan kita bahas dalam artikel lainnya.

Saw (2004) dan sekuel-sekuelnya—yang tampaknya terinspirasi dari Se7en (1997)—mendobrak dengan gagasan seorang pembunuh yang menjebak para korbannya dalam posisi-posisi mengerikan, dan menyodorkan pilihan membunuh atau dibunuh, atau berisiko cacat parah demi bertahan hidup. Ini tidaklah berbeda dengan moralitas saling telikung sana-sini yang diajarkan kapitalisme!

Hostel (2005) mengisahkan dua orang yang bepergian ke Eropa Timur pasca era Soviet dan berakhir di kamar bawah tanah yang digunakan para pebisnis kaya raya untuk menyiksa serta memutilasi orang sebagai hiburan. Pontypool (2008) dengan mengerikan menggambarkan kasus histeria masal yang tak bisa diterima akal sehat, dan tidak seperti wabah zombi, dari sudut pandang stasiun radio di pedesaan Kanada.

Dalam tahun-tahun terkini tampaknya terdapat renaisans kecil atas film-film horor yang dibuat dengan baik seperti Let The Right One In (2008), House of the Devil (2009), The Innkeepers (2011), Sinisters (2012), It Follows (2014), The Babadook (2014), dan sebagainya. Kita tinggal menunggu mana film yang akan mendefinisikan dekade ini bertahun-tahun berikutnya.

Mengatasi Horor
Genre film horor sudah menjadi bagian dari dongeng modern. Dalam masyarakat pra-kapitalis, kisah-kisah mitologis tentang hantu, roh gentayangan, iblis, dan dewa-dewi—baik yang baik maupun jahat—digunakan sebagai penjelas terhadap fenomena-fenomena alam yang tak dapat dimengerti dan dikendalikan manusia.

Longsor salju, kebakaran hutan, banjir, kekeringan, gunung meletus, dan wabah penyakit, dulu merupakan malapetaka-malapetaka yang menantang umat manusia. Adalah proses kerja yang membentuk kembali lingkungan kita untuk mengatasi kekuatan-kekuatan mendasar inilah yang membedakan kita sebagai suatu spesies di antara spesies-spesies lainnya. Bagaimanapun juga, kita hidup di suatu masyarakat yang tengah merosot, dimana kekuatan-kekuatan yang mana nasib umat manusia tergantung kepadanya tengah rusak dan lepas kendali. Apa lagi yang lebih horor dan mengerikan daripada ini?

“Masyarakat borjuis modern, dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan pertukaran dan propertinya, merupakan suatu masyarakat yang mendatangkan alat-alat produksi dan pertukaran raksasa, yang seperti seorang penyihir yang tidak mampu lagi mengendalikan alam gaib yang didatangkannya dengan mantera-manteranya.”

Kutipan dari Manifesto Komunis ini merangkum persimpangan-persimpangan yang mana umat manusia mendapati diri berada di dalamnya. Meskipun kapitalisme di sisi lain telah mengembangkan alat-alat produksi hingga tahapan yang bisa menyediakan hidup nyaman bagi semua orang dan alat-alat untuk menaklukkan semua halangan yang hadir di depan kita, kita (sekarang) terjebak pada situasi dimana booming dan krisis pasar saham menentukan nasib bermiliar-miliar rakyat. Satu-satunya cara untuk mengatasi kontradiksi ini adalah melalui transformasi revolusioner masyarakat dengan kelas buruh terorganisir yang memimpin dengan penuh kesadaran dan merebut kekuasaan demokratis terhadap kekuatan-kekuatan besar yang diciptakan spesies kita.
Ini akan mengantarkan kita pada berseminya ilmu pengetahuan, teknik, dan budaya manusia dalam skala yang tak pernah terbayangkan, memberi kita alat-alat untuk membangun masyarakat bebas dari kegundahan, ketidakamanan, dan horor atau kengerian yang secara psikologis melukai dan membuat cacat berjuta-juta rakyat. Suatu masyarakat yang bebas dari kekuatan-kekuatan buta yang mempengaruhi hidup kita akan pasti membuahkan turunya genre yang hampir secara pasti mencirikan masyarakat kelas secara keseluruhan dan merosotnya tahapan akhir kapitalisme pada khususnya.

*ditulis oleh Mark Rahman pada Senin 2 November 2015 di situs In Defence of Marxism. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: