Lindungi Perjuangan, Bangun Laskar Rakyat dan Front Anti Fasis

Lindungi Perjuangan Bangun Laskar Buruh dan Front Anti-Fasis

73 copy2

PP Pengupahan No. 78 tahun 2015 yang merupakan bagian dari politik upah murah rezim Jokowi-JK untuk menyelamatkan keuntungan kaum kapitalis dengan semakin menindas hajat hidup rakyat pekerja telah menuai berbagai perlawanan balik dari kaum buruh di Indonesia. Berbagai aksi demonstrasi, tutup tol, perlawanan umum, hingga pemogokan kerja dikobarkan buruh untuk mencabutnya. Rezim dan kelas penguasa di Indonesia yang kelabakan mengerahkan berbagai cara untuk menghancurkan perlawanan buruh.

Dimulai dari represi terhadap demo di Istana Negara pada 30 Oktober 2015 dimana aparat kepolisian tidak hanya memukuli, menendangi, mementungi, tapi juga meluncurkan meriam air, menembakkan gas air mata, hingga menghancurkan mobil-mobil komando sekaligus menangkapi para aktivis buruh. Kemudian disusul dengan represi terhadap aksi damai mogok daerah buruh Jombang dimana aparat kepolisian secara agresif memukuli buruh dengan rotan. Disusul pembubaran paksa pemogokan ratusan buruh PT Mekar Armada Jaya (MAJ) di Tambun, Bekasi, pada 5 November 2015 oleh represi dan intimidasi aparat kepolisian dengan dalih tidak ada surat izin padahal surat pemberitahuan aksi sudah dilayangkan. Diperparah dengan teror terhadap Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dimana kaca belakang mobil istrinya dipecahkan. Ditambah penetapan kasus tersangka terhadap Sekretaris Jenderal (Sekjen) KSPI Muhammad Rusdi pada 20 November 2015 dengan dalih tindakan membangkang perintah aparat kepolisian yang mewajibkan aksi untuk bubar sehingga mengakibatkan bentrokan antara aparat dengan buruh. Tentu saja dalih ini adalah dalih yang mengada-ada karena seluruh rekaman aksi menunjukkan bahwasanya aparat kepolisian yang bertindak terlebih dahulu merepresi buruh. Apalagi kasus ini bukanlah bentrok sesungguhnya dimana kedua belah pihak sama-sama melakukan perlawanan. Sebaliknya justru kaum buruh dihajar sepihak oleh aparat tanpa melakukan perlawanan balik sama sekali.

Semua ini menunjukkan kenyataan bahwasanya aparat kepolisian adalah satuan kekerasan resmi untuk mengamankan kepentingan kapital. Leon Trotsky jauh-jauh hari sudah memperingatkan, “Aparat polisi yang bekerja mengabdi kepada pemerintahan kapitalis bukanlah termasuk kelas pekerja. Sebaliknya ia adalah polisi borjuis.” Ke(tidak)sadarannya terbentuk memusuhi gerakan revolusioner akibat selalu dihadapkan dengan rakyat pekerja. Kinerjanya dihargai bila mereka mampu membubarkan massa aksi, mampu meringkus pimpinannya, bahkan juga bila sukses menjalankan operasi infiltrasi. Aparat polisi dengan segala operasinya yang sistematis mewarisi kebencian sekaligus ketakutan kelas penguasa terhadap rakyat pekerja.

Karenanya merupakan tindakan yang salah bilamana merespon represi buruh dengan mengadu ke kantor polisi pula mengharap atasannya yang ‘bijaksana’ menindak bawahan-bawahannya di lapangan yang ‘khilaf’. Kenyataannya aparat kepolisian beroperasi memang untuk mengamankan kapital dan merepresi siapapun yang menghalanginya, khususnya gerakan buruh. Sama salahnya juga bilamana dalam situasi represi massa aksi malah diperintahkan untuk ‘menahan diri’, diam saja berusaha menahan hantaman-hantaman polisi, dengan alasan menghindari konflik horisontal. Ini bukan konflik horisontal! Ini adalah perang kelas, dengan massa aksi yang mewakili dan membela kepentingan kelas buruh di satu sisi, serta aparat polisi yang di mewakili dan membela kepentingan kapitalis di sisi lain.

Ini bisa kita saksikan kebenarannya dengan pemasangan spanduk polisi di Jombang yang memperingatkan buruh agar menghargai hak-hak pengusaha, pemasangan surat-surat peringatan di area-area Industri yang mewanti-wanti buruh bahwasanya mogok kerja adalah tindakan melanggar hukum, penyatronan aparat ke kontrakan buruh-buruh di Jakarta Utara disertai ancaman agar tidak mengikuti mogok nasional, masuknya aparat Brigade Mobil (Brimob) bersenjata lengkap ke dalam pabrik, dan sebagainya. Sikap reaktif agresif demikian tentu saja tidak kita temukan diterapkan aparat terhadap para majikan yang telat atau tidak membayarkan upah buruhnya selama berbulan-bulan seperti Prabowo. Semua ini dilengkapi dengan penyebaran surat edaran Bupati Bekasi, Kapolsek Cikarang Selatan, Kapolsek Cikarang, Dewan Pimpinan Kabupaten Bekasi Asosiasi Pengusaha Indonesia dan Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia. Terhadap hal ini tim Advokasi Buruh (TABUR) menyatakan, “Ada potensi besar pihak-pihak, baik dari unsur pemerintah, pengusaha, penegak hukum, dan kelompok-kelompok lainnya yang (akan) melanggar hak asasi dari kawan-kawan”, terang Maruli Tua Rajagukguk, kuasa hukum Tim Advokasi untuk Buruh dan Rakyat Tolak PP Pengupahan.

Tentu saja represi dan intimidasi aparat polisi, militer, dan sipil negara (borjuis) bukan hanya dilancarkan kepada kaum buruh namun juga terhadap rakyat tertindas pada umumnya. Ini ditampakkan dengan pengepungan aparat polisi bersenjata lengkap dan pembubaran paksa terhadap para anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan beberapa mahasiswa di Jayapura yang dengan damai menziarahi makam Theys Hiyo Eluay (seorang pejuang pembebasan nasional Papua Barat) pada Selasa, 10 November 2015. Bahkan sebelumnya Gubernur DKI Jakarta menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) 228 tentang Pembatasan Aksi Unjuk Rasa yang melarang demonstrasi di Istana Negara dan titik-titik keramaian lainnya setelah aksi buruh 30 Oktober lalu. Ini bukan saja merampas hak kebebasan berpendapat kaum buruh namun juga para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM yang tiap minggunya melakukan Aksi Kamisan. Begitu juga pembreidelan terhadap berbagai lembaga pers mahasiswa oleh birokrat kampus maupun aparat. Termasuk pembubaran pemutaran dan bedah film Senyap atau The Look of Silence dengan kolaborasi antara aparat bersama ormas-ormas lumpen fasis. Ini semua memperkuat bukti bahwasanya semakin dalam rezim dan kelas kapitalis terjerumus krisis maka semakin ngotot ia merampas hak-hak rakyat pada umumnya dan memberangus hak-hak demokrasi pada khususnya demi menyelamatkan sekaligus mengamankan sistem penindasan serta penghisapannya yang tengah sekarat.

Oleh karena itu tak ada pilihan lain untuk melindungi perjuangan kelas dan perjuangan demokratik selain membangun laskar rakyat dan front anti fasis. Sebagian organisasi buruh sebenarnya sudah memiliki milisi-milisi pertahanan buruh, seperti Barisan Merah Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (BARA KASBI), Barisan Maju Buruh Perempuan (BAMBU Perempuan) Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), GODAM Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Barisan Pelopor Logam Elektronik dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (BAPOR LEM SPSI) , Brigade Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dan Garda Metal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Mogok Nasional dan perlawanan umum terhadap PP Pengupahan yang sarat dengan represi aparat serta preman inilah momentum tepat untuk menyatukan mereka menjadi Laskar Buruh yang solid dan dengan menggandeng seluruh elemen rakyat tertindas menjadi Laskar Rakyat.

Namun pertama-tama, tentu saja apa yang paling penting dalam pembangunan Laskar Buruh bukanlah soal teknis melainkan Politik. Laskar Buruh perlu di bangun di atas fondasi politik perjuangan kelas revolusioner. Politik yang memahami bahwasanya represi dan intimidasi aparat memang merupakan elemen hakiki dari negara borjuis sebab pada hakikatnya negara adalah badan bersenjata kelas penindas yang berkuasa untuk menindas serta menghisap kelas-kelas lainnya. Politik yang memahami bahwasanya pada akhirnya dan pada hakikatnya, tugas untuk melindungi perjuangan kelas buruh hanya bisa diemban oleh buruh itu sendiri. Hanya kelas buruh yang bisa melindungi buruh dari penindasan. Hanya rakyat yang bisa membebaskan rakyat dari penghisapan. Politik yang menekankan bahwasanya seluruh kekerasan aparat penindas pada hakikatnya diakibatkan oleh keberadaan sistem penindasan oleh karenanya untuk juga menghapuskan represi serta intimidasi aparat maka kelas buruh pada akhirnya perlu merebut kedaulatan dengan memenangkan perjuangan kelas. Jadi pada akhirnya bukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang menjadi sandaran sekaligus kekuatan utama kelas buruh untuk melawan penindasan dan bukan konferensi pers serta petisi yang menjadi senjata ampuh untuk melawan kekejaman negara penindas.

Politik perjuangan kelas revolusioner inilah yang akan menghindarkan gerakan buruh pada penyakit-penyakit oportunisme. Dengan politik yang tepat ini, gerakan buruh akan menyadari betapa salahnya meminta restu dan dukungan pada kaum kapitalis birokrat, baik oposisi kapitalis birokrat maupun kapitalis birokrat yang menguasai pemerintahan eksekutif negara borjuis. Sebab kelas buruh yang berkacamatakan politik perjuangan kelas revolusioner ini bisa menyadari bahwasanya kaum kapitalis birokrat ini tidak pernah benar-benar mewakili apalagi memperjuangkan kepentingan kelas buruh. Sebaliknya kaum kapitalis birokrat ini pada pokoknya senantiasa mewakili kepentingannya sendiri dan kepentingan kelas borjuis. Sebab mereka juga merupakan bagian dari kelas borjuis dan atau disponsori kampanyenya oleh kaum borjuis, pengusaha, atau konglomerat.

Jadi sekali lagi, hanya dengan membangun kekuatan pertahanannya sendiri, hanya dengan membangun laskar buruh, kelas buruh bisa mengalahkan serangan preman, seperti yang ditunjukkan dengan digagalkannya serangan preman terhadap Omah Buruh. Begitu pula dengan mobilisasi besar-besaran yang dilakukan kaum mahasiswa yang mempersenjatai diri untuk mempertahankan pemutaran Senyap di UIN Yogyakarta yang akhirnya berhasil membuat ormas Forum Umat Islam (FUI) ciut dan tidak berani menyerang.

Politik Perjuangan Kelas Revolusioner (Juga) Harus Berbasis Massa dan Prinsip Organisasi Revolusioner

Politik perjuangan kelas revolusioner demikian juga harus berbasis massa rakyat pekerja dan menerapkan prinsip organisasi revolusioner. Berbasis massa rakyat pekerja artinya membuka partisipasi bagi seluruh massa rakyat pekerja tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, golongan, dan jenis kelamin. Politik perjuangan kelas revolusioner juga mensyaratkan pemakaian dan penerapan prinsip-prinsip organisasi revolusioner, yaitu prinsip-prinsip organisasi berlandaskan pada Sentralisme Demokrasi, dan Kepemimpinan Kolektif.

Pertama, Sentralisme Demokrasi pada pokoknya memberikan kebebasan demokrasi pada musyawarah untuk membahas persoalan agar bisa mengambil keputusan terbaik namun saat keputusan sudah diambil keputusan tersebut menjadi keputusan yang sentralistik atau terpusatkan dengan kata lain semua orang harus mematuhinya tanpa terkecuali. Tidak boleh membangkang, main telikung, atau menjalankan keputusannya sendiri yang tidak disepakati. Ini bertujuan agar organisasi memiliki kesatuan tindakan serta tidak terpecah belah dalam menjalankan tindakan nyata. Hanya organisasi yang solid dan tidak terpecah yang bisa kuat dalam melawan penindasan. Ingat slogan kita: rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Kemudian setelah keputusan tersebut dijalankan maka seluruh anggota kemudian mengevaluasinya, apakah keputusan tersebut tepat atau tidak, dan minoritas yang sebelumnya tidak setuju namun patuh menjalankan mufakat kolektif juga bisa mendapatkan kredibilitasnya bila ternyata pandangannya sebelumnya yang akhirnya terbukti benar. Ingat juga slogan: satu komando, satu perjuangan. Namun komando sentralistik tersebut berakar dari banyak suara dalam musyawah demokratis.

Kedua, kepemimpinan kolektif artinya metode kepemimpinan yang demokratis bukan kepemimpinan feodal yang bersandar pada hubungan patron-klien. Kepemimpinan ini menekankan bahwasanya organisasi massa bukan milik segelintir tokoh karismatik, senior, atau individu yang menonjol melainkan milik massa itu sendiri. Dengan demikian seluruh posisi pimpinan harus dipilih dan disahkan melalui forum-forum demokratis serta menggunakan sistem komite. Selain itu keputusan-keputusan tidak boleh diambil sendiri atau oleh klik-klik rahasia dalam forum-forum yang tertutup melainkan sebisa mungkin harus dibahas dan diputuskan secara demokratis oleh seluruh anggota. Pimpinan-pimpinan tersebut kemudian bertanggungjawab secara kolektif terhadap dijalankannya suatu keputusan pada khususnya maupun organisasi pada umumnya. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, secara rutin harus diadakan pembahasan tentang situasi kolektif pimpinan pada khususnya maupun perkembangan organisasi pada umumnya. Sehingga setiap orang bisa membantu menemukan solusi bersama di satu sisi serta di sisi lainnya setiap orang diasah kemampuannya untuk berpikir dan menyatakan pendapat agar terbangun keberanian sekaligus kepercayaan diri serta tidak ada ketergantungan terhadap salah satu individu karena kepemimpinan kolekif juga menerapkan kritik oto kritik. Setelah soal ini beres barulah kita menginjak persoalan teknis: membentuk milisi pertahanan buruh atau membentuk laskar rakyat.

Bagaimana Membentuk Laskar Rakyat dan Front Anti Fasis?

Banyak pelajaran yang bisa kita timba dari berbagai kelompok Trotskyis di berbagai zaman, mulai dari La Vérité yang bekerja melawan rezim pendudukan NAZI di Prancis, Socialist Workers Party (SWP) yang membangun Anti Nazi League (ANZ) atau Liga Anti NAZI yang sukses menghantam kaum fasis di Britania, hingga Socialist Alternative (SA) yang berkali-kali berhasil mengalahkan kaum fasis di Australia. Namun pada pokoknya, pembentukan laskar rakyat bisa dirangkum menjadi kerja inisiasi, konstruksi, ekspansi, aksi, dan evaluasi.

Pertama, inisiasi. Dalam tahapan awal pembentukan laskar rakyat (atau laskar buruh bila berbasiskan buruh), kita perlu melakukan kerja-kerja yang sifatnya menginisiasi, memprakarsai, atau mempelopori pembentukan laskar dengan mencari dua atau tiga orang untuk menyusun komite sementara Laskar di tempat-tempat kerja untuk buruh (atau di kampus-kampus dan sekolah-sekolah untuk mahasiswa dan pelajar, serta di lingkungan perkampungan atau pemukiman untuk tani dan rakyat jelata). Sebisa mungkin pilihlah orang-orang yang punya kesehatan prima, stamina tinggi, dan kemampuan beladiri. Badan besar bukanlah syarat utama karena yang paling penting mereka harus merupakan orang-orang dengan kesadaran dan pengabdian yang tinggi. Adakan musyawarah serta buatlah rencana secara demokratis dengan mereka untuk menjangkau semua buruh di tempat kerja agar mau masuk laskar. Namun harus digarisbawahi, laskar buruh harus menarik semua buruh yang mampu dan mau berjuang serta bertempur sekaligus mereka harus bukan buruh yang merusak pemogokan, tukang mengadu ke majikan, penjilat, apalagi berwatak kanan dan fasis. Setelah itu diskusikan bersama apa tugas-tugas Laskar Buruh di pabrik dan di lingkungan tempat tinggal buruh. Carilah tempat berkumpul dan berdiskusi yang aman ditambah dengan kawan-kawan yang pandai beladiri baik tangan kosong maupun bersenjata. Semua ini jelas harus dilakukan secara demokratis dan kepemimpinan harus dipilih berdasarkan mufakat dan dirotasi.

Kedua, konstruksi. Dalam tahapan ini laskar mulai dibentuk secara riil. Jangan menghimpun kawan secara serampangan namun perlu dihimpun berdasarkan tempat kerja. Dalam tempat kerja yang sama buruh mengenal satu sama lain dengan lebih baik dan bisa menggagalkan provokasi apapun. Bentuk kelompok yang terdiri dari minimal delapan hingga sepuluh orang yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok-kelompok ini bertemu tiap seminggu sekali membahas tugas-tugas laskar, aksi-aksi yang harus didukung (tuntutan para buruh, demonstrasi, aksi mogok, misalnya). Mereka merumuskan rencana aksi. Misalnya titik-titik mana yang vital untuk diduduki, diawasi, diwaspadai, atau bahkan diserang (markas-markas organisasi fasis, tempat-tempat strategis dan potensial untuk pertempuran jalanan, pom-pom bensin) serta menentukan mana lingkungan-lingkungan bersahabat dan mana lingkungan-lingkungan bermusuhan, dan sebagainya. Termasuk membahas kebutuhan latihan bela diri bahkan juga (kalau diperlukan), kebutuhan atas senjata.

Selain pertemuan-pertemuan yang sifatnya pendiskusian, para anggota juga harus bertemu minimal seminggu sekali, bahkan kalau bisa seminggu tiga kali atau bahkan tiap hari, untuk pelatihan fisik. Mengapa demikian? Sebab tentara profesional punya fisik yang keras dan siap bertempur sementara rata-rata orang pada umumnya fisiknya lunak dan tidak siap bertempur. Sementara buruh, terutama pekerja kerah biru atau buruh yang bekerja di industri berat seperti tambang, manufaktur, dan lainnya, punya kekuatan yang lebih besar akibat kerja fisik yang berat namun belum terbiasa untuk bela diri. Oleh karena itu latihan fisik penting untuk membentuk badan yang kondusif bagi bela diri dan pertempuran jalanan. Mencapai fisik yang kuat bukanlah proses yang terjadi dalam waktu sepekan apalagi semalam. Fisik harus melalui dua tahap. Tahap pertama adalah tahap pengerasan tubuh yang berlangsung selama dua minggu sementara fisik menyesuaikan diri dengan masa kejut akibat baru menjalani latihan fisik. Tahapan kedua adalah peningkatan yang bersifat perlahan tapi pasti. Dalam tahapan ini sirkulasi darah meningkat dan fisik menjadi lebih efisien. Nafas tidak lagi sengos-ngosan sebelumnya, sirkulasi darah meningkat, jantung dan paru-paru menguat, serta fokus dan refleks jadi lebih baik dari sebelumnya. Fisik manusia mencapai tingkat maksimum performa ini antara enam hingga sepuluh hari latihan harian. Setelah mencapai tingkat ini, latihan fisik tidak boleh kendur sama sekali.

Latihan fisik tersebut setidaknya terdiri dari lima jenis latihan fisik. Pertama, latihan fisik dasar seperti push up, back up, sit up, squat jump, planking, aerobik dasar, lari, lari halang rintang, dan sebagainya. Kedua, latihan bela diri. Tiap anggota wajib diajari bela diri, seperti Karate, Pencak Silat atau Krav Maga yang efektif untuk pertempuran jalanan. Kalau tidak ada yang bisa bela diri, maka harus mendatangkan pelatih bela diri dari luar. Ketiga, latihan bela diri bersenjata. Pencak Silat Setia Hati Terate mengajarkan keahlian bertempur menggunakan tongkat. Anggota laskar juga perlu belajar bertempur setidaknya menggunakan tongkat yang di demonstrasi-demonstrasi bisa disamarkan jadi tongkat bendera namun bisa diubah cepat menjadi senjata. Dalam situasi tak terlalu riskan dan menyesuaikan batasan-batasan hukum, latihan fisik bersenjata minimal harus fokus penguasaan keahlian bertarung memakai tongkat atau senjata tumpul. Namun bila perlu jangan ragu untuk mempelajari dan menggunakan senjata-senjata tajam bahkan senjata-senjata api. Keempat, latihan fisik yang berbasis simulasi aksi massa. Bagaimana menyusun barisan pelopor, bagaimana melawan polisi huru-hara, bagaimana menghadapi gas air mata, bagaimana mengenali dan meringkus polisi yang menyusup, dan sebagainya. Kelima, latihan fisik berbasis simulasi pertempuran jalanan. Pertempuran jalanan berbeda dengan aksi massa karena orientasi utamanya bukan mengawal aksi massa buruh tapi menghancurkan musuh, khususnya barisan lumpen fasis. Jadi lebih berfokus pada pertempuran.

Tentu saja latihan fisik tidak bisa dilepaskan dari penyediaan perlengkapan. Seorang anggota laskar paling tidak harus punya peralatan berikut. Atribut pakaian seperti sabuk dengan mata sabuk dari logam (bermanfaat sewaktu-waktu untuk dijadikan senjata maupun untuk mengikat musuh), sepatu boots (dua pasang)—beberapa buruh karena tuntutan industrinya sudah banyak yang memiliki sepatu boots apalagi boots dengan plat besi—ini berguna untuk menahan dan melawan balik polisi anti huru-hara, botol air minum. Masker (minimal) dan Topeng Gas (maksimal) untuk menghadapi serangan gas air mata. Pisau lipat (untuk berbagai kebutuhan). Perlengkapan kebersihan badan (sabun, shampoo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, dan lainnya) dan baju ganti secukupnya karena anggota laskar dituntut bermobilitas tinggi punya kemungkinan lebih tinggi untuk bermalam atau menginap di tempat lain. Jangan lupa juga tiap anggota laskar perlu membawa obat-obatan dasar seperti obat merah, plester, perban, pembalut ukuran lebar/besar (berguna juga untuk menyerap darah) obat sakit kepala, odol (untuk meminimalisir efek gas air mata) dan susu bear brand (bukan promosi. Karena berguna untuk menetralisir racun dalam tubuh). Ditambah alat komunikasi yang berfungsi dengan baik dan kalau perlu dilengkapi dengan persenjataan.

Ketiga, ekspansi. Persatukan kelompok-kelompok di pabrik-pabrik dan lingkungan-lingkungan buruh untuk menjadi satu barisan “tiga puluhan” (gabungan tiga kelompok) dan “ratusan” (gabungan tiga barisan tiga puluhan). Pimpinan tiap barisan harus kenal setiap anggotanya. Pemilihan pimpinan harus selalu dari bawah ke atas. Tidak boleh ada pimpinan yang di-“drop” dari atas. Laskar Buruh ini kemudian menghubungi sel-sel di pabrik-pabrik dan lingkungan pemukiman buruh serta membangun kelompok Laskar Buruh kalau disana belum ada. Ini dilakukan dengan menjalin kontak dengan serikat-serikat yang ada. Keempat, aksi. Jangan terlalu lama menunggu. Begitu Laskar dibentuk maka tindakan juga harus langsung diambil. Hanya dengan begitu Laskar akan bisa menarik perhatian massa dan berkembang membesar. Tugas utama Laskar Buruh adalah mengamankan demonstrasi, aksi, rapat akbar, dan pemogokan buruh. Namun tidak menutup kemungkinan, Laskar Buruh mengerahkan mobilisasi tandingan melawan mobilisasi fasis, membalas teror terhadap buruh, menghancurkan fasis, dan sebagainya. Kita sadar dengan semakin menajamnya perjuangan kelas buruh, semakin tajam pula serangan kapitalis. Ada pembentukan Garda Bima Sakti—pasukan Satpam swasta lintas perusahaan yang dilatih langsung oleh militer. Ada organisasi-organisasi lumpen fasis macam ASPELINDO, GIBAS, Pemuda Pancasila, FKPPI, dan lainnya, digerakkan sejak Mogok Nasional II lalu menghantam buruh. Mereka ini perlu dibalas. Bila tidak bukan saja aksi buruh akan kalah namun kepercayaan diri buruh akan runtuh dan demoralisasi menyebarluas.

Tentu saja semua ini menuntut strategi dan taktik pertempuran yang baik. Strategi gerilya yang efektif setidaknya memakai tiga prinsip pokok: Saat musuh maju, kita mundur. Saat musuh istirahat, kita ganggu. Saat musuh lelah dan lemah, kita serang. Kemudian taktik pertempuran pada pokoknya terdiri dari lima belas prinsip. Pertama, kenali lawan. Mulai dari jumlah pastinya dan kekuatan persenjataannya, bagaimana respon timing dari lawan dan jenis pendekatannya, apa saja keunggulan dan kelemahannya, bagaimana formasi musuh serta kendaraan dan komunikasi yang mereka pakai, termasuk pelajari semua peraturan hukum. Kedua, serang musuh di titiknya yang paling lemah. Barisan musuh tidak mungkin kuat di semua sisi dan segi. Selalu ada bagian paling kuat dan paling lemah. Bila barisan musuh mengonsentrasikan orang-orang terkuatnya di barisan depan maka barisan belakang adalah yang paling keropos dan lemah. Bila barisan musuh tidak rapi dan tersebar ke dalam beberapa titik maka bagi barisan laskar menjadi tim-tim serbu untuk memburu dan menghajar mereka serta menduduki posisi-posisi strategis. Ketiga, lancarkan serangan hanya kalau kita punya kemungkinan menang sebesar 95%. Barisan lebih besar, lebih kuat, lebih solid, lebih cepat, dengan senjata lebih lengkap dan medan yang lebih menguntungkan kita adalah beberapa indikator dasarnya. Keempat, jangan buat pola gampang dikenali lawan. Saat suatu metode bekerja atau terbukti ampuh maka metode itu harus digunakan. Namun jangan selalu memakai metode sama untuk tiap lawan dan tiap kesempatan. Kelima, lancarkan serangan di waktu dan kesempatan yang paling tidak diduga oleh musuh. Ini efektif karena saat target kita sedang lengah dan lemah, serangan kita bisa mencapai kesuksesan lebih tinggi. Keenam, jangan ragu untuk menggunakan serangan yang paling kuat. Keragu-raguan hanya menguntungkan lawan. Saat berada dalam pertempuran, semua keraguan harus dibuang. Sisakan atau tunda untuk di pendiskusian. Ketujuh, selalu perbanyak diri lebih banyak daripada musuh. Kelebihan kuantitas dibanding barisan lawan selalu menguntungkan kita. Namun harus disertai dengan kelebihan kualitas berupa barisan harus terorganisir dan kuat. Kedelapan, jangan beri kesempatan barisan musuh untuk meminta bala bantuan. Kesembilan, jangan pernah mengambil posisi defensif terlalu lama. Posisi defensif di sini artinya posisi terpojok. Ambil segera pilihan untuk menyerang atau mundur teratur. Terlalu lama bertahan barisan bisa dikepung dan dihancurkan. Kesepuluh, jangan biarkan musuh bebas bergerak atau mengambil keputusan. Mobilitas adalah nyawa bagi pasukan. Saat mobilitas sudah hilang mati maka mati pula pasukan yang bertempur. Kesebelas, jangan biarkan musuh mempersenjatai diri. Keduabelas, selalu siapkan pasukan dan kendaraan cadangan. Saat barisan lawan mulai lelah, kerahkan semua pasukan cadangan untuk menghabisi mereka. Ketigabelas, bersiaplah untuk hal-hal tak terduga. Laskar perlu fleksibel dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Keempatbelas, jangan sia-siakan personel atau sumber daya hanya menyerang sekedar menyerang. Perlawanan membutuhkan analisis secara keseluruhan dan merumuskan sasaran untuk dicapai. Seperti aksi, pertempuran haruslah terdidik, terpimpin, dan terorganisir.

Tahapan akhir adalah evaluasi. Semua tahapan perlu direncanakan hati-hati dan dievaluasi mempertimbangkan berbagai prasyarat baik legal maupun ilegal. Seiring semakin meningkatnya aksi-aksi Laskar Buruh maka kepercayaan diri Kelas Buruh secara keseluruhan juga semakin meningkat dan Laskar Buruh akan menjadi senjata tempur semua buruh. Bahkan juga mendorong elemen-elemen rakyat lainnya untuk membentuk laskar dan mengikuti kepemimpinan sekaligus teladan yang diberikan Laskar Buruh. Ini yang akan membentuk Laskar Rakyat dan Front Anti Fasis. (*)

 

 

Comments
One Response to “Lindungi Perjuangan, Bangun Laskar Rakyat dan Front Anti Fasis”
  1. red robusta mengatakan:

    dalam pertempuran kekerasan untuk melawan kekerasan kelas borjuis kedisiplinan, komunikasi yang efektif dalam barisan sangat menentukan setelah syarat kuantitas telah terpenuhi untuk memenangkan barisan di medan pertempuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: