Kritik Sastra Marxis

kritik-sastra-marxis.jpg.jpeg

Kritik Sastra Marxis adalah kritik sastra berdasarkan teori-teori sosialis dan dialektis. Kritik Marxis memandang karya-karya sastra sebagai cerminan-cerminan institusi-institusi sosial darimana mereka berasal. Menurut kaum Marxis, bahkan sastra itu sendiri adalah suatu institusi sosial dan memiliki suatu fungsi ideologis spesifik berdasarkan latar belakang dan ideologi penulisnya.

Terry Eagleton, seorang kritikus sastra Inggris dan pakar teori kebudayaan mendefinisikan kritik Marxis sebagai berikut:

“Kritik Marxis bukanlah sekadar ‘sosiologi sastra’ yang menaruh perhatian bagaimana novel-novel diterbitkan dan apakah mereka mencantumkan kelas buruh di dalamnya. Tujuannya adalah untuk menjelaskan karya sastra dengan lebih sepenuhnya; dan ini berarti mencurahkan perhatian sensitif terhadap bentuk-bentuknya, aliran-alirannya, dan makna-maknanya. Namun selain itu ini juga berarti menangkap dan memahami bentuk-bentuk, aliran-aliran, dan makna-makna tersebut sebagai produk dari suatu sejarah khusus.”

Tujuan-tujuan paling sederhana dari kritisisme sastra Marxis bisa menyertakan suatu penilaian terhadap ‘kecenderungan’ politis suatu karya sastra, menentukan apakah konten sosial atau bentuk sastranya bersifat ‘progresif’. Kritik sastra Marxis juga menyertakan analisis terhadap konstruksi kelas yang ditunjukkan dalam sastra tersebut.

Sejarah
Studi-studi yang dilakukan Karl Marx telah menyediakan suatu basis bagi banyak penelitian dan teori sosialis. Marxisme bertujuan merevolusi konsep kerja melalui pembangunan masyarakat tanpa kelas dimana alat-alat produksi dikuasai dan dikendalikan bersama. Marx meyakini bahwasanya Determinisme Ekonomi, Materialisme Dialektika, dan Perjuangan Kelas adalah tiga prinsip utama teori-teorinya. Kelas Borjuasi (kelas penguasa yang menguasai dan mengendalikan alat-alat produksi) dan Kelas Proletariat (Kelas tertindas yang tidak menguasai dan tidak mengendalikan alat-alat produksi) adalah dua kelas utama yang terlibat dalam hubungan yang bermusuhan. Marx meyakini bahwa semua sejarah merupakan sejarah perjuangan pertentangan kelas. Marx dan Friedrich Engels bekerjasama untuk memproduksi berbagai karya tentang kapitalisme, perjuangan kelas, dan gerakan-gerakan sosialis.

Teori-teori dan ideologi ini bisa ditemukan dalam tiga karya utama yaitu Manifesto Komunis, Pengantar Kontribusi Kritik Ekonomi Politik (1859), dan Kapital (1867).
Penerbitan pertama Manifesto Komunis (1848) menyatakan bahwa sejarah masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas. Karena perjuangan kelas adalah mesin sejarah, maka demi memahami alur sejarah, maka seseorang harus menganalisis hubungan-hubungan kelas yang mencirikan epos-epos sejarha yang berbeda, antagonisme-antagonisme, dan bentuk-bentuk perjuangan kelas yang terkandung dalam hubungan-hubungan kelas tersebut. Ini melibatkan pembangunan kesadaran kelas dan pengikutan terhadap gerakan-gerakan revolusioner yang menantang kelas-kelas penguasa. Hal ini merentang sampai menilai keberhasilan revolusi-revolusi ini dalam mengembangkan corak-corak produksi baru dan bentuk-bentuk organisasi sosial baru.

Namun berbeda dengan Manifesto Komunis, Pengantar Kontribusi Kritik terhadap Ekonomi Politik (1859) dan Kapital (1867) lebih berfokus pada pengupasan logika sistem kapitalis. Ini memberikan suatu ulasan tambahan terhadap perkembangan historis dan penekanan atas kontradiksi-kontradiksi serta hukum corak-corak produksi kapitalisme yang pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Pengantar Kontribusi Kritik terhadap Ekonomi Politik, Marx menyatakan bahwa ekonomi masyarakat terdiri dari suatu pola tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi yang khusus. Dari fondasi inilah berdiri suprastruktur politik dan ideologis yang kompleks dimana perkembangan ekonomi mempengaruhi kemajuan masyarakat.
Sementara itu Kapital lebih mencurahkan perhatian pada asal-usul dan dinamika kapitalisme. Sebagaimana yang dinyatakan Mclellan (1971), ‘acuannya terhadap perjuangan kelas pada utamanya berada dalam konteks perjuangan antara kapital dengan tenaga kerja, daripada sekedar penindasannya’. Kapital kurang memberi tempat dalam membahas atau memperkirakan bagaimana kapitalisme digulingkan serta lebih mengupas bagaimana kapiyalisme berkembang dan beroperasi. Kunci untuk memahami logika ini adalah bentuk ‘komoditas’ hubungan-hubungan sosial—suatu bentuk yang paling berkembang hanya pada masyarakat kapitalisme.

Ideologi
Melalui teori-teori ekonomi, politik, dan perjuangan kelas demikianlah kritik sastra Marxis muncul. Pemikiran di balik Kritik Sastra Marxis memandang karya sastra adalah produk sejarah yang bisa dianalisis dengan memandang kondisi-kondisi sosial dan material dimana karya tersebut disusun. Kapital karya Marx menyatakan bahwa ‘corak produksi kehidupan material menentukan semua proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, namun sebaliknya keadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka.’ Sederhananya, keadaan sosial penulis menentukan jenis karakter yang akan berkembang, pemikiran-pemikiran politik yang ditampilkan, dan pernyataan-pernyataan ekonomi yang dikembangkan dalam teks tersebut.

Perkembangan Kritik Marxis
Meskipun Marx dan Engels mengembangkan teori-teori Sosialisme yang terperinci di pertengahan abad 19, namun Teori Sastra Marxis sendiri baru disistematisasikan pada tahun 1920an. Daya pendorong terbesar terhadap standarisasi ini muncul setelah Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Peristiwa ini mendorong perubahan dalam kepercayaan terhadap cita-cita sosialis di pemerintah dan masyarakat. Sembari cita-cita ini berkembang, realisme sosialis kemudian diterima sebagai bentuk tertinggi sastra—suatu teori yang berbasiskan gerakan sastra yang menggambarkan dan mengagungkan perjuangan proletariat menuju kemajuan masyarakat. Pemikiran ini memandu baik kreasi sastra maupun kritisisme sastra di Uni Soviet dimana karya-karya berfokus pada hidup kelas-kelas yang berbeda. Dalam tahun-tahun kemudian, keyakinan beberapa aliran Marxis menyangkut teori sastra kemudian dimodifikasi untuk mengakui bahwa kreasi sastra adalah hasil dari baik inspirasi subjektif dan pengaruh objektif lingkungan sastrawan. Sistem keyakinan ini bersandar pad akelas-kelas sosial sekaligus perkembangan ekonomi politik masyarakat. Oleh karena itu teori-teori Marx saling jalin-menjalin dengan ideologi-ideologi yang bangkit di gerakan Rusia baru serta kemudian menyebar ke dunia.

Para penulis yang dipengaruhi oleh Kritik Marxis
Sebagai tambahan terhadap prinsip pemandu di balik karya-karya sastra komunis dan sosialis Rusia, Marxisme juga sangatlah mempengaruhi banyak penulis Barat. Richard Wright, Claude McKay, Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoi, dan Bertold Brecht adalah orang-orang yang sangat dipengaruhi teori-teori Marxis dan sosialis pada zamannya, dan banyak jenis cerminan ini kentara dalam karya-karya tulisan mereka.

*diterjemahkan dari Marxist Literary Criticism sebagaimana dipublikasikan Wikipedia berbahasa Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: